cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Produksi Program Acara “Pro 2 Activity” di Pro 2 RRI Semarang (Pengarah Kreatif) Antika Yolanza; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.357 KB)

Abstract

Radio Republik Indonesia is the oldest radio station in Indonesia and is the only radio owned by the Indonesian government. As a public broadcasting institution, RRI has a vision of realizing an Indonesian public broadcasting institution as a trusted and worldwide radio. RRI has a very wide network, from Aceh to Papua. However, there are still many young people who don’t know Radio Republik Indonesia. The number of private radios that have sprung up today causes the popularity of RRI decreased. In addition, the image of RRI as news radio and radio for parents in the society, so it is considered less attractive for young people who need entertainment and the latest things. In order to make RRI and its programs known to the public, especially young people, one solution that can be done is to re-concept or re-create the program "Pro 2 Activity" with a new concept by involving students and communities as resource persons in this program. By targeting the youth as target audience, it is hoped that this program will be able to increase radio listeners, especially in Pro 2 RRI Semarang. During the program’s excecution, the author served as a creative director, who is responsible for recreate "Pro 2 Activity" program by creating creative ideas. In "Pro 2 Activity" program, the creative director is responsible for making program scripts and package scripts such as earcatchers, radio dramas (paparazy), viral interludes (selvi), and voxpop. During 8 weeks, the writer and team succeeded in producing 24 episodes of the "Pro 2 Activity" program with a duration of 3 hours in each episode and presenting the youth and communities as resource persons with the concept of the program being packaged differently from before, successfully attract listeners to listen “Pro 2 Activity Program”. Through this program, the writer and team also succeeded in increasing the number of active listeners, which initially only 3 to 4 people in each episode, with a new concept, now the active listeners of "Pro 2 Activity” program is increased 8 to 10 active listeners in each episode.
Pengalaman Komunikasi Fans JKT48 dalam Fandom JKT48 Widya Nur Hidayati; Turnomo Rahardjo; Dr Sunarto; Hapsari Dwiningtyas
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.23 KB)

Abstract

Penelitian ini mendalami tentang pengalaman fans musik pop yang sedang marak di Indonesia. Umumnya masyarakat akan melihat fans musik sebagai sekumpulan orang-orang yang mempunyai dunia sendiri dan susah bergaul dengan orang yang tidak sekelompok dengan mereka. Fans JKT48 misalnya. Mereka dianggap sebagai kelompok yang unik di mata masyarakat karena kebiasaan-kebiasaan mereka yang terlihat berbeda dalam fans musik pop di Indonesia pada umumnya. Pengalaman komunikasi fans JKT48 dalam fandom JKT48 yang dibahas dalam penelitian ini akan menjawab kebiasaan mereka dan aktivitas mereka sebagai fans JKT48Pengalaman komunikasi yang dibahas dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya untuk menjelaskan pengalaman fans JKT48 dalam fandom JKT48. Didukung oleh Teori Musik Pop dan Fans dari Tim Wall, dan Teori Konsumerisme dari Matt Hills.Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa perilaku fans terhadap JKT48 bersifat obsesif dan kolektif. Fans merasa bahwa JKT48 adalah bagian dari semangat mereka dalam aktivitas keseharian, Perilaku konsumsi mereka terhadap JKT48 berupa konser, teater, atau hasil karya mereka yang berbentuk CD, DVD atau foto juga berlandaskan keinginan dasar mereka sebagai sifat fans sebagai kolektor dan sebagai pihak yang jatuh cinta terhadap JKT48. Fans JKT48 menjadi sebuah kelompok yang berperilaku konsumtif terhadap hal JKT48 Fans juga mempunyai kode etik antar fans yang harus dipatuhi untuk menjaga perasaan antar fans dan tidak menimbulkan kekacauan dalam fandom.
PARTICULAR OTHERS DAN PEER GROUP TEACHING PRIO UTOMO DALAM PROSES MEMOTIVASI PRIA UNTUK BERVASEKTOMI Dwinda Sekar Andrea; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 7, No 1: Januari 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.825 KB)

Abstract

Family planning is initiated by the government to control birthrate and improve people’s quality of life. It targets both women and men, but in fact there has been an imbalance participation between both genders. The less participation of men and stigmas in the society about vasectomy backgrounds this research. Prio utomo is a community based acceptor supprting group, created by the government, whose mission to motivate, educate and inspire people, so there will be no more stigmas towards vasectomy. This research desscribes how particular others and Prio Utomo in the process of motivation men to do vasectomy. Using case study as a research method, this research took place in Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Central Java, Indonesia, where the local Prio Utomo is one of the most successful and active compared to other regions. Analysis result based on Theory of Planned Behavior shows that several informants were motivated by the urge to provide a better life for their family and the raising concern about the wife’s health. More to that, Prio Utomo itself has been motivating men using both personal and interpersonal approach. According to Persuassive Communicaton Theory, motivating activity conducted by Prio Utomo is actually using two dominant appeal that is psychological appeal—in which is achievement motive—and credibility appeal. This research also found the fact that people in Kecamatan Getasan are very heterogeneous and have high level of tolerance. A high tolerance level initiates such an open atmosphere, as of this characteristic don’t allow stigmas to grow and affect people’s decision on family planning. The finding is also a uniqueness for this research. The result of this research shows that Prio Utomo's activities have contributed a significant role in promoting vasectomy. Yet support from government's family planning institution is imperative to ensure the sustainability of this program. Hence during such an awareness and motivation process, the motivator should consider using more interpersonal approach.
Performativitas Gender dalam Film The Kids Are All Right Karya Lisa Cholodenko Yohanes Erik Wibawa; Dr Sunarto; Hapsari Dwiningtyas; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.929 KB)

Abstract

Konsep heteronormativitas tidak memberikan ruang dan toleransi terhadap bentuk gender-gender lain kecuali laki-laki dan perempuan dan heteroseksual dianggap sebagai hubungan yang paling alamiah. Judith Butler, seorang pasca strukturalis, menolak dualisme gender tersebut yang secara sosial sangat sulit ditinggalkan. Film The Kids Are All Right karya Lisa Cholodenko ini mencoba keluar dari nilai-nilai heteronormatif tersebut dengan menampilkan pasangan lesbian yang telah berkeluarga lengkap dengan kehadiran anak-anak.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pembuat film dalam melakukan naturalisasi pasangan lesbian dalam konteks sosial keluarga dan mengungkap nilai-nilai dalam kultur dominan (heteronormatif) yang tidak bisa dilepaskan oleh film ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika model Roland Barthes melalui tahapan analisis sintagmatik dan paradigmatik dengan menggunakan lima kode pokok pembacaan teks. Strategi film dalam melakukan naturalisasi dengan menunjukkan bahwa pasangan homoseksual (lesbian) bisa memiliki anak sendiri, anak-anak yang diasuh oleh pasangan lesbian bisa berprestasi dan mempunyai tumbuh kembang yang baik, ikatan emosional anak-anak dengan orang tua maupun antar individu lesbian ketika sedang berkonflik (ditunjukkan melalui ekspresi menangis, marah, dan kecewa), adegan-adegan romantic relationship pasangan lesbian (berciuman, berpelukan, bergandengan tangan, dan bercinta), adanya transformasi nilai-nilai sosial dari orang tua ke anak-anak, dan orientasi seksual orang tuanya tidak mempengaruhi orientasi seksual anak-anaknya (walaupun masih menunjukkan adanya melancholic heterosexuality). Kecenderungan heteronormativitas terletak pada konstruksi praktek sosial dan kategori gender yang sifatnya tidak hanya dikotomis tetapi juga hirarkis melalui hadirnya simbol butch (dominasi maskulin)dan femme (peran domestik feminin). Film ini juga menunjukkan resistensi terhadap heteronormativitas dengan menampilkan kategori gender dan seksualitas yang cair. Performativitas gender disini adalah sesuatu yang kompleks karena bukan hanya sekadar imitasi bagaimana gender yang seharusnya ditampilkan oleh tokoh-tokoh dalam film, tetapi bukan usaha untuk menghindari pengulangan terhadap model heteronormativitas tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya.Kata kunci : gender, seksualitas, film
Interpersonal Communication Patterns and Intimate Relationship Motivation on Gay and Lesbian Dating Couple Fajar Ramadhan, Yusuf; Lukmantoro, S.Sos, M.Si, Triyono
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.5 KB)

Abstract

Communication pattern and intimate relationship motivation become one of interpersonal relationships increasing stimulus and the success in solving interpersonal problems or conflict which threaten the relationship. Status and role division in the relationship, such as top and bottom in gay community and butchy and femme in lesbian community, give an overview of how gay and lesbian camouflaged to become couple just like how straight people do in intimate relationships. This research is a qualitative research with phenomenology-critical constructive paradigm which focus on communication pattern and intimate relationship motivation and gay and lesbian dating couples that domiciled in Semarang City as the research subject. Refers to Joseph DeVito communication pattern and Baxter & Montgomerry praxis patterns theory, this research reveals how gay and lesbian use correct communication pattern to build relationship on the basis of the same gander and conflict resolution in their relationships. The usage of Duvall & Miller intimate relationship theory shows that the highest motivation of gay and lesbian to build a relationship is based on status and role which was explained in Queer theory from Judith Butler. The result shows that gay couples communications are dominated by the reverse balance pattern. Meanwhile, lesbians are more dominated by the balance pattern. Gays intimate relationships motivations are more than socialization, sexual needs, and entertainment mediums, different from lesbians who are more likely to avoid social criticism and searching for partner. Praxis patterns functionalist on balance category is more preffered by gays as the problem solving method, while lesbians are more preffers on spiraling alternation category. This communication pattern and intimate relationship motivation cannot be separated from status and role frame which are played in relationship with their partner, whether top or bottom for gay, and butchy or femme for lesbian. The pattern of gay couples more open communication both on the couple or the environment than a lesbian couple, it is influenced by the presence of several reasons like social sanction and family pride motivates gay and lesbian couples to establish intimate relationships. Lesbian couples assume that the boyfriend who is a girl is a person who is able to understand her well.
MEMAHAMI POLA ASUH DALAM KELUARGA BEDA AGAMA TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN ANAK MEMILIH AGAMA Prawitasari, Retno Dian
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat beberapa dampak sosial dalam pernikahan beda agama, salahsatunya adalah masalah pendidikan agama pada anak. Bukan sesuatu yang mudahbagi keluarga beda agama khususnya orang tua dalam menerapkan pola asuhdalam menanamkan nilai spiritual pada anak.Tujuan penelitian ini menggambarkan pengalaman orang tua-anak untukmendeskripsikan pola asuh yang diterapkan orang tua beda agama kepada anakuntuk memilih agamanya. Menggunakan Teori Skema Keluarga dari Fitzpatrick(1988), Teori Hubungan Dialektik dari Baxter (1960), dan Teori Etika Dialogisdari Martin Buber (1958). Penelitian bersifat deskriptif kualitatif denganparadigma konstruktivisme dan menggunakan pendekatan fenomenologi inidilakukan pada tiga keluarga informan dengan orang tua (pasangan suami istri)beda agama dan anak. Penelitian ini dilakukan di Kota Semarang. Pengambilandata dilakukan dengan menggunakan teknik sampling snowball serta wawancaramendalam.Hasil penelitian ini menunjukkan peran orang tua dalam pola asuhmenanamkan nilai-nilai agama pada anak cenderung kurang. Orang tua jugakurang berperan dalam keterlibatan pengambilan keputusan anak memilih agama.Pendidikan agama di sekolah dan pengaruh saudara sekandung justru menjadifaktor yang banyak memberi pengaruh bagi anak dalam memilih keyakinan. Darihasil temuan penelitian, juga diperlukan sikap mengalah serta kemampuan untukberadaptasi pada perubahan ketika anak sudah memutuskan memilih agama. Paraorang tua beda agama harus siap dengan konsekuensi menjadi pemeluk agamaminoritas dalam keluarga. Terdapat pula temuan unik yang didapat dari penelitianini yaitu komunikasi antar pribadi yang efektif mampu menciptakan suatuhubungan yang akrab dan harmonis tetapi belum mampu mengurangi konflikbatin yang dialami oleh informan anak sebagai anak dari pasangan orang tua bedaagama, selain itu keharmonisan hubungan tidak menjamin keberhasilan dankeefektifan anak dalam mengambil keputusan.Kata kunci: pola asuh orang tua, keluarga beda agama, pengambilan keputusan
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI INSTRUKSIONAL GURU DALAM MENGEMBANGKAN MINAT DAN BAKAT SISWA TUNAGRAHITA Yuanita Putri Melati; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihartini; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.707 KB)

Abstract

Siswa tunagrahita merupakan siswa dengan keterbatasan intelegensi. Keterbatasanintelegensi menyebabkan lemahnya kemampuan komunikasi siswa tunagrahita.Siswa tungarhita kerap dianggap “tidak berguna” dan memliki masa depan yangkelam. Namun, dengan pendidikan dan penanganan dari sekolah dan guru yangsesuai dengan kemampuan dapat melatih ketrampilan siswa tunagrahita sehinggamenjadi pribadi yang mandiri di tengah masyarakat. Keterbatasan komunikasiyang dimiliki siswa tunagrahita menjadi salah satu kendala guru dalam usahanyauntuk memberikan pengajaran kepada siswa tunagrahita.Penelitian yang bertujuan menjelaskan pengalaman komunikasiinstruksional guru dengan siswa tunagrahita ini menggunakan pendekatankualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Coordinated Management OfMeaning dariW. Barnett Pearce dan Vernon Cronen (1980), konsep mengenaikomunikasi instruksional, dan Teori Belajar Aperpesi menurut Johan F. Herbartdari abad 20. Teknik analisis yang digunakan adalah mengacu pada metodefenomenologi dari Von Eckartsberg, dan subjek penelitian adalah guru kelasketrampilan SLB Negeri Semarang yang mengampu siswa tunagrahita.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam memberikanpembelajaran kepada siswa tunagrahita, guru berusaha menjalin “ikatan” agardapat memahami karakter dan latar belakang siswa. Hal ini berguna untukmenentukan pola pembelajaran yang sesuai bagi masing-masing siswa. “Ikatan”tersebut dihasilkan melalui interaksi dan sharing yang dilakukan sehari-hari olehguru di sekolah kepada siswa tunagrahita. Melalui interaksi dan sharing, gurumendapat pemahaman tentang latar belakang dan karakteristik masing-masingsiswa. Pemahaman karakter siswa berpengaruh pada pola pembelajaran yangdigunakan guru untuk mengembangakan potensi siswa. Pola pembelajaran yangdigunakan oleh guru dengan memberikan demontrasi dan mengikuti imajinasisiswa. Hal ini juga untuk melatih kemampuan komunikasinya. Guru dituntut lebihaktif dalam berinteraksi dengan siswa di kelas. Hal ini bertujuan agar siswamerasa nyaman dan semangat belajar di kelas. Kendala yang dihadapi guru dalammengembangkan minat dan bakat siswa tunagrahita adalah keadaan siswa tersebutyang memiliki disabilitas intelektual serta orang tua siswa yang kurang memberidukungan. Guru aktif berdiskusi dengan keluarga dan orang tua siswa berkaitankelas ketrampilan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa tunagrahita.
Peran Koordinator Media Sosial dalam Pengelolaan Kanal Event di Website Phinemo.com Vania Malinda; S. Rouli Manalu
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.117 KB)

Abstract

Selain wisata alamnya yang tersohor, Indonesia sebenarnya mempunyai beragam jenis destinasi wisata lain yang dapat berpotensi menjadi destinasi wisata populer, contohnya event wisata. Potensi event wisata di Indonesia sangat besar, dimana Indonesia sendiri merupakan negara yang penuh dengan keberagaman. Sayangnya event wisata ini belum banyak diliput dan dipublikasikan oleh media online maupun platform pendukungnya seperti media sosial, sehingga jenis wisata ini tidak sepopuler wisata konvensional lain. Berdasarkan hal tersebut, Tim karya bidang melakukan kerjasama dengan Phinemo.com, sebuah media online yang membahas seputar traveling untuk membuat dan mengelola sebuah kanal bertema Event yang akan menyediakan informasi dan berita mengenai event-event pariwisata. Berita-bertita tersebut dikemas menjadi jenis berita feature. Menggunakan bahasa yang lugas dan santai, berita mengenai event wisata tersebut dibahas melalui berbagai sudut pandang. Usaha ini juga didukung dengan penggunaan media sosial agar dapat menjangkau lebih banyak orang untuk mengenal event wisata di Indonesia. Hasil yang didapatkan dari karya bidang ini ialah semakin terbukanya informasi mengenai event wisata di kalangan masyarakat. Serta menyadarkan para jurnalis akan pentingnya berfikir kreatif agar terus menghasilkan produk-produk jurnalistik yang bermanfaat bagi khalayak.
Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah Tangga IRAWATI, DEWI; Sunarto, Sunarto; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.006 KB)

Abstract

Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman KomunikasiPasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam Proses Penyelesaian KonflikRumah TanggaSummary PenelitianDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1PenyusunNAMA: DEWI IRAWATINIM: D2C309007JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013Nama :Dewi IrawatiNIM :D2C309007Judul :Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan PerkawinanJarak Jauh dalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah TanggaAbstraksiPenelitian ini dilatarbelakangi dengan maraknya pasangan yang menjalani perkawinanjarak jauh. Pada dasarnya setiap individu dalam hubungan perkawinan pasti pernah terlibat konflik.Terlebih lagi perkawinan yang masih dalam tahap-tahap rawan, seperti 5 tahun awal perkawinanyang masih dalam tahap awal penyesuaian dengan pasangan. Penyesuaian terhadap pasangan bagipasangan perkawinan jarak jauh mungkin akan dirasa sebagai suatu hal yang sulit karena masapenyesuaian tersebut harus dilakukan dengan saling berjauhan, sehingga tidak heran konflik seringmuncul diantara pasangan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana dialektikakonflik yang terjadi pada pasangan perkawinan jauh di fase awal perkawinan. Selain itu pula untukmemahami pengalaman komunikasi pasangan perkawinan jarak jauh dalam proses penyelesaiankonflik rumah tangga pada fase awal perkawinan.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakanteori dasar yaitu Teori Dialektika Relasional oleh Leslie A. Baxter. Data diperoleh dari indepthinterview terhadap 3 pasangan suami istri pelaku perkawinan jarak jauh. Metode analisis data yangdigunakan adalah pendekatan fenomenologi dari Van Kaam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantara pasangan perkawinanjarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antara keinginan untuk mendekatkan diriatau menjauhkan diri dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan karena kegiatan personal,aktivitas dengan lingkungan sosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemukeluarga, konflik pribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidak melakukan aksikeduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan. Kemudian adanya kontradiksi antarakeinginan untuk melakukan rutinitas atau spontanitas dengan pasangan dikarenakan kondisikeuangan yang semakin menipis, keinginan dalam hal seksualitas yang berbeda antara suami istri,rutinitas hobi yang melalaikan peran dalam rumah tangga, atau kehadiran anak-anak. Dalam halkontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakan hal yang unik terjadi dalam halpengambilan putusan karena sampai saat ini informan masih tinggal bersama orang tua mereka.Pengambilan putusan tetap dilakukan suami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orangtua masih ikut campur urusan rumah tangga. Sedangkan mengenai kontradiksi antara keinginanuntuk terbuka atau tertutup dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan informan mencobasaling terbuka namun tetap memiliki informasi yang dirahasiakan.Mengenai pengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik, strategi yangdigunakan oleh pasangan perkawinan jarak jauh adalah manajemen konflik efektif maupun tidakefektif. Dalam hal kendala, pasangan perkawinan jarak jauh cukup memiliki kendala yangmenghambat dalam proses penyelesaian konflik, baik itu kendala internal maupun eksternal.Disarankan bagi peneliti yang ingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauhlebih dapat mempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensipertemuan dengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflik dan dialektikayang terjadi.Kata kunci: dialektika, konflik, perkawinan jarak jauhNama : Dewi IrawatiNIM : D2C309007Judul : Understanding Dialectic of Conflict and Long Distance Marriage’s CommunicationExperience in Marriage Conflict Solving ProcessAbstractThis research is motivated by the rise of long-distance marriage couple. Basically everyindividual in the marriage relationship must have been involved in the conflict. Moreovermarriage that is still in the stages of cartilage, such as 5 years earlier marriage that is still in theearly stages of adjustment. Adjustments to the couple for marital couples might remotely beperceived as a difficult thing because the adjustment period should be done far from each other, sodo not be surprised conflicts often arise between this couple. The purpose of this research is tounderstand how the dialectic of conflict in a marriage partner away in the early phase of marriage.Besides that, this research to understand the experience of long-distance communication inmarriage couples conflict resolution process in the early phase.The basic theory of this research is Relational Dialectics Theory by Leslie A. Baxter. Datawas obtained from indepth interviews with three couples long distance marriage. Data analysismethods used are phenomenological approach of Van Kaam.The results showed that the dialectical conflict between long distance marriage partnerhappens quite varied. Contradiction between the desire to get closer to or distanced themselveswith couples or families and the environment due to personal activities, activities with the socialenvironment, busy work, time is less fit to meet the family, personal conflicts with other familymembers or awareness to limit ourselves because of the role in households. Also found one of theinformants who did not take action but only silence both couples. Then the contradiction betweenthe desire to perform routine or spontaneity with a partner because of dwindling financialcondition, the desire in terms of a different sexuality between husband and wife, routine of hobbiesrole in the household, or the presence of children. In terms of following the tradition of the oldcontradictions and creating unique things happen in terms of decision-making because until nowall of the informant was still living with their parents. Decision making remained was the husbandas head of household even though sometimes parents are still meddling household. Then for thecontradiction between the desire to be open or closed with a partner or family and neighborhood,informants tried to be open while still have a secret information.About the communication experience in the process of conflict solving process used bylong-distance marriage partner is an effective conflict management and ineffective. In terms ofconstraints, long-distance marriage partner has enough obstacles that hinder the conflict resolutionprocess, both internal and external constraints. It is recommended for researchers who want to takethe theme of research on long-distance marriage could consider a spouse profession, educationlevel and frequency of meetings with the couples when selecting informants to see conflict anddialectical variations that occur.Keywords: dialectic, conflict, long-distance marriage1. PENDAHULUANPasangan yang telah menikah sudah hakikatnya untuk hidup bersama dalam satuatap, dan berkomunikasi tanpa perlu perantara. Terbuka satu sama lain dan beranimenyampaikan perasaan hati, ide, gagasan atau pun segala hal yang menjadi ganjalansehingga meminimalisir terjadinya konflik. Bila sampai terjadi konflik, pasutri bisamengelola konflik tersebut dengan baik sehingga tidak perlu terjadi hal-hal buruk yangmengarah ke arah perusakan hubungan. Pasangan dapat dikatakan harmonis bila salahsatunya dapat mengelola konflik yang sudah terjadi dan melihatnya sebagai bagian normaldari proses perkembangan hubungan mereka.Umumnya pasangan suami istri menginginkan penyelesaian konflik denganberkomunikasi secara tatap muka, namun tidak demikian halnya dengan pasanganperkawinan jarak jauh yang memiliki keterbatasan waktu untuk bertemu. Jauhnya jarakantara pasangan yang terpisah pulau bahkan negara, serta keterbatasan waktu ketikabertemu, mengharuskan mereka untuk menyelesaikan konflik dengan bijak supaya tidakberkepanjangan. Dan ini tentunya bukan hal mudah, mengingat banyak kendala yang bisamenjadi noise untuk keberhasilan penyelesaian konflik itu sendiri. Apalagi bila yangmenjalani LDM ini adalah pasangan yang baru menjalani pernikahan kurang dari 5 tahun,bukan hal mudah bila harus berpisah dengan pasangan seiring dengan keharusan untukmenyesuaikan diri dengan sifat-sifat pasangan.Miskomunikasi yang dialami oleh Nia Angga menjadi salah satu pemicu konflikyang dialami pasangan perkawinan jarak jauh di masa awal perkawinan. Menurutpengakuannya, selama menjalani perkawinan jarak jauh hubungannya dengan suami tidakbaik-baik saja karena komunikasi yang tidak intens. Belum lagi, bila berkomunikasi viahp, intonasi melalui telepon atau tulisan sms yang kurang jelas tanda bacanya kadangmembuat salah penafsiran sehingga tidak jarang membuat mereka bertengkar.(http://anggania.blogspot.com/2011/11/long-distance-relationship-ldr.html, diakses 15Juli 2012, pukul 22.05).Konflik lain dalam perkawinan jarak jauh juga disebabkan karena kurangnyakepercayaan kepada pasangan, seperti yang dialami seorang suami berinisial A yang barumenjalani perkawinan jarak jauh karena istri bekerja di Hongkong dan dia di Korea.Sebelum menjalani perkawinan jarak jauh, mereka telah bertunangan selama 5 tahun danjuga menjalani hubungan jarak jauh. Istri selalu mencurigai suaminya mempunyaihubungan dengan wanita lain meskipun hal itu tidak benar. Menurut suami mereka seringbertengkar karena hal tersebut. Suami bahkan sampai merasa tidak kuat dengan kondisiini namun tidak ingin mengakhiri perkawinan. (http://log.viva.co.id/news/read/144808-pengantin_baru_kok_sering_bertengkar, diakses tanggal 31 Oktober 2012, pukul 21.00).Pemicu konflik bagi pasangan perkawinan jarak jauh lainnya berkaitan denganmasalah ekonomi dan kurangnya empati kepada pasangan. Seperti yang dialami oleh istri(tidak disebutkan namanya) yang telah menikah selama 5 tahun dan memiliki 1 anak. Siistri bekerja sebagai PNS dan tinggal di Jakarta bersama anaknya, sedangkan suamibekerja sebagai karyawan swasta dan tinggal di kota kecil bersama orang tuanya. Hal yangmenjadi masalah karena suami jarang sekali memberikan nafkah pada anak istrinya. Suamijuga pernah mendapat tawaran pekerjaan di Jakarta namun ditolah dengan alasan ingintetap hidup di daerahnya. Sudah setengah tahun belakangan mereka juga seringbertengkar. Si istri bahkan sempat terpikir untuk berpisah karena pada dasarnya diamemang sudah hidup sendiri atas biayanya sendiri, namun dia tidak tega dengan anaknya.(Kewajiban Suami terhadap Istri, dalam http://kawansejati.org/208-kewajiban-suamiterhadap-istri, diunduh 15 Februari, 2013, 10.50)Berbagai konflik pasangan perkawinan jarak jauh tersebut bukan tidak mungkinmengarah ke perceraian bila tidak dikelola dengan baik. Seperti yang terjadi di KabupatenPacitan sepanjang tahun 2012, jumlah perceraian yang disebabkan karena salah satu pihakpergi adalah 387 perkara dari jumlah 1028 perkara cerai yang diajukan. Itu artinya sekitar38% dari jumlah pengajuan cerai yang diajukan ke Pengadilan Agama Pacitan. Faktorpenyebabnya pun mayoritas karena putusnya komunikasi antar pasutri saat mereka tidakhidup bersama di satu kota. Tanpa komunikasi yang intens, pihak yang ditinggalkan diPacitan akhirnya memutuskan untuk mengajukan cerai.(http://www.lensaindonesia.com/2012/12/17/long-distance-relationship-jadi-penyebabtingginya-perceraian.html, diakses 15 Februari 2013, 10.53)Berdasarkan fenomena ini peneliti ingin mengetahui lebih detail mengenaidialektika konflik pasangan perkawinan jarak jauh dan cara komunikasi pasangan tersebutdalam proses penyelesaian konflik rumah tangga mereka sehingga dapat memahamidialektika konflik pasangan perkawinan jarak jauh pada fase awal perkawinan danpengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik pasangan tersebut.2. BATANG TUBUH2.1. TEORITeori utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Teori DialektikaRelasional oleh Leslie A. Baxter untuk menjawab permasalahan mengenai DialektikaKonflik pasangan perkawinan jarak jauh dan manajemen konflik oleh Devito untukmenjawab permasalahan mengenai pengalaman konflik pasangan perkawinan jarak jauhdalam proses penyelesaian konflik rumah tangga2.2. Subyek PenelitianSubjek dalam penelitian ini disesuaikan dengan judul penelitian, yakni pasangansuami istri perkawinan jarak jauh yang masih dalam fase awal perkawinan yang berjumlahtiga pasang dengan kriteria sebagai berikut: Pasangan suami istri perkawinan jarak jauhdimana jauhnya jarak tempat tinggal yang ditentukan sejauh minimal 300km, atau tempatyang harus ditempuh dengan memakan waktu perjalanan lebih dari 7 jam, atau frekuensiuntuk bertemu pasangan minimal satu bulan sekali; Umur perkawinan masuk dalamkategori fase awal perkawinan yaitu 1-5 tahun; dan Merupakan pasutri jarak jauh yangkeduanya bekerja atau hanya salah satu pasangan yang bekerja atau pasutri tersebut sudahmemiliki anak2.3. MetodologiPenelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif, dan metodologi kualitatifdengan pendekatan fenomenologi. Dalam Kuswarno (2009:1-2) Fenomenologimerefleksikan pengalaman langsung manusia, sejauh pengalaman itu secara intensifberhubungan dengan suatu objek. Fenomenologi mencoba mencari pemahaman bagaimanamanusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangkaintersubjektivitas. Intersubjektif karena pemahaman kita mengenai dunia dibentuk olehhubungan kita dengan orang lain. Dengan melakukan studi terhadap pengalaman parapasangan suami istri perkawinan jarak jauh diharapkan dapat membuka pemahamanmengenai konflik pasangan-pasangan tersebut. Dalam penelitian ini, informan berbagipengalaman konflik mereka, seperti konflik apa saja yang sering mereka hadapi, danbagaimana cara mereka menyelesaikan konflik tersebut.2.4. Analisis DataBerdasarkan jenis data, yaitu data kualitatif, maka teknik analisis data dilakukandengan pendekatan fenomenologi dari Van Kaam (oleh Moustakas dalam Basrowi danSuwandi, 2008:227)2.5. Temuan Penelitian dan Sintesis Makna Tekstural dan Struktural DialektikaKonflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauhdalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah Tangga2.5.1. Dialektika Konflik2.5.1.1.Integration – Separation (Connection – Autonomy) dan (Inclusion-Seclusion)Dalam hubungan perkawinan, menurut Mary Anne Fitzpatrick (Budyatna, 2011:166) meskipun ada kesamaan mengenai kebutuhan-kebutuhan yang nyata dalam mitraperkawinan, tidak ada cara perkawinan ideal yang tunggal. Pasangan-pasangan perkawinandapat dibedakan atas dasar mengenai ‘ketidaktergantungan” mereka pada tingkat dimanamereka berbagi perasaan satu sama lain. Pada pasangan perkawinan jarak jauh, kondisihidup yang terpisah dengan pasangan maupun keluarga dan menjadi mandiri adalahsemacam tuntutan yang harus dijalani. Untuk itu tidak heran, saat berjauhan, pasangan iniharus mengesampingkan keinginan untuk selalu berada dekat dan tergantung denganpasangan maupun keluarga namun tetap menjaga komunikasi supaya keintiman hubungantetap terjalin harmonis.‘Ketidaktergantungan’ pada pasangan ini dapat dikaitkan dengan kontradiksiintegration-separation yang merupakan kontradiksi antara otonomi dan keterikatan yangmerujuk pada keinginan-keinginan kita yang selalu muncul untuk menjadi tidak tergantungpada orang-orang yang penting bagi kita dan juga untuk menemukan keintiman denganmereka. (West & Turner, 2008: 237). Kontradiksi ini terjadi didalam hubungan denganpasangan atau diantara pasangan dengan komunitas. Dalam hal autonomy ataupuninclusion, masih berkaitan dengan teori dialog oleh Martin Buber (Littlejohn, 2009:302)dimana sesuai dengan salah satu karakteristik relasi I-It, yaitu mementingkan diri sendiri.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantara pasanganperkawinan jarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antara keinginan untukmendekatkan diri atau menjauhkan diri dengan pasangan (connection-autonomy) ataupunkeluarga dan lingkungan (inclusion-seclusion) karena kegiatan personal, aktivitas denganlingkungan sosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemu keluarga,konflik pribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidakmelakukan aksi keduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan.2.5.1.2.Stability – Change (Certainty-uncertainty) dan (Conventionality-Uniqueness)Fitzpattrick mengungkapkan salah satu dimensi dimana pasangan perkawinandapat dibedakan berdasarkan ideologi mereka. Ideologi merupakan keadaan dimana paramitra menganut sistem keyakinan tradisional dan nilai-nilai terutama mengenaiperkawinan dan peran seks, atau menganut keyakinan-keyakinan nontradisional dan nilainilaiyang toleran terhadap perubahan dan ketidakpastian dalam hubungan. (Budyatna,2011:166). Ideologi ini dapat menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya dialektikaantara Stability – Change yang merupakan kontradiksi antara hal yang baru dan hal yangdapat diprediksi merujuk pada konflik-konflik antara kenyamanan stabilitas dan keasyikanperubahan. Dialektik melihat interaksi antara kepastian dan ketidakpastian dalamhubungan. (West & Turner, 2008: 237).Dari hasil penelitian diketahui adanya kontradiksi antara keinginan untukmelakukan rutinitas atau spontanitas dengan pasangan (certainty-uncertainty) dikarenakankondisi keuangan yang semakin menipis, keinginan dalam hal seksualitas yang berbedaantara suami istri, rutinitas hobi yang melalaikan peran dalam rumah tangga, ataukehadiran anak-anak. Dalam hal kontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakanhal yang unik (conventionality-uniqueness) terjadi dalam hal pengambilan putusan karenasampai saat ini informan masih tinggal bersama orang tua mereka. Pengambilan putusantetap dilakukan suami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orang tua masih ikutcampur urusan rumah tangga.2.5.1.3. Expression – Non expression (Openess-Closedness) dan (Revelation-Concealment)Dialektika ini merupakan kontradiksi antara keterbukaan dan perlindunganberfokus yang pertama pada kebutuhan-kebutuhan kita untuk terbuka dan menjadi rentan,membuka semua informasi personal pada pasangan atau mitra hubungan kita, dan yangkedua untuk bertindak strategis dan melindungi diri sendiri dalam komunikasi kita. Posisidialektika mempunyai sifat baik/maupun (both/and) berkaitan dengan keterbukaan danketertutupan (West & Turner, 2008: 237). Openess – Closedness merupakan kontradiksiantara keinginan untuk terbuka dengan pasangan dan tertutup. Sedangkan revelationconcealmentmerupakan kontradiksi antara keinginan untuk mengungkapkan informasidengan keluarga ataupun komunitas dan menyembunyikan informasi.Seperti yang diungkapkan pula oleh DeVito (1997:57) bahwa pengungkapan dirisebagai bentuk komunikasi dimana kita mengungkapkan sesuatu tentang siapa kita, yangdapat dijelaskan dalam Jendela Johari (Johari Window) yang dibagi menjadi empat daerahatau kuadran pokok yang masing-masing berisi diri (self) yang berbeda. Daerah terbuka(open self), daerah buta (blind self), daerah gelap (unknown self), dan daerah tertutup(hidden self).Kontradiksi antara keinginan untuk terbuka atau tertutup dengan pasangan(openess-closedness) memiliki jawaban yang hampir mirip, dimana pasangan informanterbuka namun selektif karena memiliki daerah tertutup (hidden self) yang dirahasiakanuntuk menjaga perasaan pasangannya. Dan pasangan lain terbuka sepenuhnya. Selain ituketiga pasangan juga memiliki semacam keluhan kepada pasangannya namun tidak beraniatau belum sempat diutarakan kepada pasangannya. Seperti ketakutan pasangan selingkuh,keegoisan pasangan, kejujuran pasangan, dan cemburu yang tidak beralasan. Mengenaikontradiksi keinginan untuk terbuka pada keluarga dan lingkungan (revelationconcealment)memiliki jawaban yang serupa diantara informan. Ketiga pasangan memilikikeinginan yang sama untuk tidak terlalu terbuka kepada orang tua ataupun keluarga.Berkaitan dengan lingkungan sosial, hanya 1 pasangan informan yang mengungkapkanbahwa terkadang sharing dengan teman seprofesi atau teman lain.2.5.1.4.Kesediaan menjalani perkawinan jarak jauhKuntaraf (1999: 78) mengungkapkan, keinginan untuk dapat dimengerti olehorang lain merupakan keinginan yang umum bagi kita. Mungkin saja kita memiliki alasanyang tepat dengan penuh pengertian, serta tindakan atau kebiasaan kita yang benar, namuntidak ada gunanya untuk mengharapkan agar kita dapat dimengerti oleh orang lain, kecualikita sendiri dapat mengerti orang lain. Selain itu adalah sangat penting bagi masing-masinguntuk mengerti, bukan dimengerti karena latar belakang dan lingkungan setiap orangberbeda, dan latar belakang yang berbeda itu dibawa ke pernikahannya masing-masing.Dari hasil penelitian diketahui bahwa informan ada yang menerima dengan ikhlas dan adapula yang terpaksa menerima kondisi perkawinan jarak jauh untuk memenuhi kebutuhanekonomi.2.5.2. Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam ProsesPenyelesaian Konflik Rumah Tangga2.5.2.1. Persepsi tentang KonflikPersepsi mengenai konflik itu menjadi hal yang penting karena akanmempengaruhi solusi dari penyelesaian konflik. Konflik dapat memiliki efek negatif bilatidak dikelola dengan baik. Konflik juga bisa memiliki manfaat positif bagi hubungan kitadengan orang lain bila dikelola secara konstruktif. Ada beberapa manfaat konflik,diantaranya konflik dapat: menjadikan kita sadar bahwa ada persoalan yang perludipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain,dll (Supratiknya, 1995: 95-96)Dalam penelitian ini, konflik dianggap memiliki manfaat positif. Konflik dianggapsebagai proses pembelajaran karena dapat memperjelas keinginan dari kedua pasanganagar dicapai jalan penyelesaian yang cepat dan tidak berlarut lama. Selain itu konflik dapatmembuat informan mengerti dan mengenal sifat pasangan, mengetahui kelebihan sertakekuarangan masing-masing serta menguji kesabaran. Konflik juga dianggap sebagaiproses adaptasi dengan pasangan karena masing-masing individu berasal dari 2 keluargayang cara pemikirannya berbeda, dan juga sebagai anugerah, ekspresi kasih sayang kepadapasangan2.5.2.2. Peran dalam Konflik. Ada empat peranan yang terungkap dalam konflik: a mover, merupakanpasangan yang mendefinisikan atau memulai aksi; a follower merupakan pasangan yangmenyetujui, mendukung dan melanjutkan aksi; an opposer adalah pasangan yangmenentang dan selalu melawan aksi; dan a bystander merupakan pasangan yangmengamati apa yang terjadi tetapi tetap tidak bergeming, Sadarjoen (2005:51).Terkait peran dalam konflik, ada 3 peran dalam konflik yang terungkap dari hasilwawancara ketiga pasang informan. A mover, follower dan opposer. Ketiga pasanginforman memiliki peran yang sama yaitu sebagai a mover dan a follower.2.5.2.3. Situasi Tahap Awal Konflik (ekspresi pertentangan dan respon yangditunjukkan)Daya ekspresi atau ekspresi pertentangan menurut DeVito (1997:266) mengacupada keterampilan mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam interaksi antarpribadi.Daya ekspresi sama dengan keterbukaan dalam hal penekanannya pada keterlibatan, danini mencakup, misalnya, ekspresi tanggung jawab atas pikiran dan perasaan, mendorongdaya ekspresi atau keterbukaan orang lain, dan memberikan umpan balik yang relevan danpatut. Kualitas ini juga mencakup pemikulan tanggung jawab untuk berbicara danmendengarkan, dan dalam hal ini sama dengan kesetaraan.Respon merupakan tanggapan terhadap pesan mengenai apa yang telahdiputuskan oleh penerima. Respon dapat bersifat positif, netral, maupun negatif. Responpositif apabila sesuai dengan yang dikehendaki komunikator. Netral berarti respon itutidak menerima ataupun menolak keinginan komunikator. Dikatakan respon negatifapabila tanggapan yang diberikan bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator.Pada dasarnya respon merupakan informasi bagi sumber sehingga ia dapat menilaiefektivitas komunikasi untuk selanjutnya menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.(Suranto: 2011:8).Dari penelitian ini terungkap bahwa ekspresi pertentangan berupa marah,menangis, terus terang, bertindak tanpa pemikiran yang matang, dan memberikan nasehat.Sedangkan respon yang ditunjukkan adalah mengimbangi, tidak peduli, protes, menangis,dan menerima masukan.2.5.2.4. Strategi KonflikMenurut Devito (1997: 270) ada beberapa strategi konflik yang sering digunakantetapi tidak produktif. Dan ada beberapa prinsip manajemen konflik yang efektif danproduktif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa strategi yang digunakan oleh pasanganperkawinan jarak jauh adalah manajemen konflik efektif maupun tidak efektif atau tidakproduktif. Manajemen konflik efektif adalah I messages dan bertengkar aktif sedangkanmanajemen konflik tidak produktif diantaranya menyalahkan, peredam, dan karung goni.Alan Sillar dalam teorinya an Attribution Theory of Conflict menyaring kembaliskemanya yang terdahulu mengenai atribusi teori dan menghubungkan pada ketigakategori resolusi konflik ini: avoidance behaviors, competitive behaviors, dan cooperativebehaviors. Avoidance behaviors merupakan perilaku menghindari menggunakankomunikasi, atau komunikasi tidak langsung. Competitive behaviors melibatkan pesannegatif. Dan cooperative behaviors yang memerlukan komunikasi yang lebih terbuka danpositif. (lLittlejohn, 1999: 277)Pada penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa pasangan informan 1merupakan pasangan yang memiliki cooperative behaviors, sedangkan pasangan informan2 merupakan pasangan yang memiliki competitive behaviors, dan pasangan 3 memilikicompetitive behaviors dan istri pasangan 3 memiliki avoidance behaviors, individu yangmenghindari komunikasi untuk menyelesaikan konflik.2.5.2.5.Proses mencari solusi (kebebasan menyampaikan pendapat, kesediaanmendengar pasangan,mempertimbangkan situasi kondisi pasangan )Dalam penelitian ini terungkap bahwa pada dasarnya setiap informan ingin selaluberinteraksi dengan pasangan dengan cara mengungkapkan pendapat kepada pasangan.Mengungkapkan pendapat sangat diperlukan supaya pokok permasalahan menjadi jelassehingga mudah dicari solusi dan juga mengungkapkan bahwa informan ingin dimengertioleh pasangannya. Mengungkapkan pendapat dapat menjadi indikator keterbukaan kepadapasangan karena tidak ada yang ditutup-tutupi. Namun meskipun sudah menyatakanpendapat, ada informan yang menyadari bahwa pendapatnya pada akhirnya tidak terlaludianggap oleh pasangannya. Seperti yang diungkapkan oleh Johannesen (1971) dalamLiliweri (2011: 408) bahwa salah satu karakteristrik hubungan Aku-Engkau adalah mutualopenness, yaitu adanya pola-pola perilaku dan sikap `yang memiliki sifat-sifat sepertihubungan timbal balik, membuka hati, gamblang dan terus terang, kejujuran danspontanitas, keterbukaan, berkurangnya sikap kepura-puraan, tidak bersikap manipulatif,persekutuan, intensitas, dan cinta dalam arti tanggungjawab satu sama lain.Mendengarkan pasangan juga menjadi salah satu syarat terjadinya komunikasiyang dialogis. Tanpa adanya kesediaan kedua pasangan saling mendengar secara aktif satusama lain, maka tidak akan terjadi dialog diantara pasangan tersebut. Menurut Kuntaraf(1999: 79) setiap pasangan suami istri yang mengambil waktu berhenti sejenak untukmendengar akan meningkatkan harga diri pasangannya. Hal ini perlu dihayati sebab padahakikatnya adalah lebih mudah untuk berbicara daripada mendengar. Kemampuanmendengar pasangan informan dalam penelitian ini cukup bervariasi. Ketiga pasanganinforman memang sama-sama mencoba untuk mendengarkan pasangan saat terjadikonflik. Bagi pasangan perkawinan jarak jauh, kemampuan mendengarkan mutlak harusdiasah lebih baik karena mereka lebih sering berkomunikasi melalui perantara yangcenderung rentan terhadap gangguan.Mempertimbangkan situasi dan kondisi pasangan dapat menjadi bentuk empatiyang merupakan kunci terjadinya komunikasi yang dialogis. Menurut Fisher dalamSadarjoen (2005:85) empati adalah kemampuan mengidentifikasi status emosional dariorang lain manakala orang tersebut tidak mampu mengaktualisasikannya dengan perasaanyang sama dan merupakan prasyarat bagi kekuatan pasangan dalam menjalin komunikasisatu sama lain. Dari hasil penelitian diketahui pada dasarnya adalah keharusan bagiinforman suami untuk memahami kondisi istri sebagai perempuan yang memiliki masamasalabil setiap bulannya yang mempengaruhi dalam proses penyelesaian konflik.Sedangkan istri pun mencoba memahami situasi dan kondisi suami dengan memahamikesibukan mereka bekerja, terutama pelaut yang kadang terhambat oleh cuaca burukseperti badai ekstrem. Bagi istri, meskipun sudah memahami suami terkadang merasasuaminya yang tidak memahaminya karena selalu menuntut untuk diutamakan.2.5.2.6. Persepsi mengenai solusiKuntaraf (1999: 102) mengungkapkan bahwa dalam berbagai konflik yangdihadapi, ada beberapa pemecahan konflik yang biasa terjadi. Beberapa contoh pemecahankonflik terdiri atas: akomodasi (kalah-menang), menghindar (kalah-kalah), kompetisi(menang-kalah), kompromi, dan kolaborator (menang-menang).Dari hasil penelitian terungkap bahwa terdapat tiga persepsi mengenai solusi yangdiambil. Solusi yang memuaskan, kadang memuaskan dan tidak memuaskan. Solusi tidakmemuaskan, merupakan kondisi dimana salah satu informan istri mencoba untuk mengalahdengan hasil keputusan suami. Mengalah demi perdamaian menandakan bahwa informanistri menggunakan cara akomodosi sebagai bentuk pemecahan konflik.2.5.2.7. Kendala atau HambatanKomunikasi interpersonal dalam prosesnya terdapat komponen-komponenkomunikasi yang secara integratif saling berperan sesuai dengan karakteristik komponenitu sendiri (Suranto, 2011:7). Diantara beberapa komponen tersebut ada 2 komponen yangberkaitan dengan kendala atau hambatan dalam penyelesaian konflik, yaitu gangguan(noise) dan konteks komunikasi.Gangguan atau noise merupakan apa saja yang mengganggu atau membuatkacau penyampaian dan penerimaan pesan, termasuk yang bersifat fisik dan phsikis.Sementara komunikasi selalu terjadi dalam konteks tertentu, paling tidak ada tiga dimensiyaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang menunjuk pada lingkungan konkrit dan nyatatempat terjadinya komunikasi. Konteks waktu menunjuk pada waktu kapan komunikasitersebut dilaksanakan. Konteks nilai meliputi nilai sosial dan budaya yang mempengaruhisuasana komunikasi seperti adat istiadat, situasi rumah, norma sosial, norma pergaulan,etika, tata krama dan sebagainya.Dari hasil penelitian terungkap kendala internal dialami oleh sebagianinforman. Kendala internal atau dapat dikatakan noise yang bersifat phsikis yangterungkap dari penelitian ini adalah sifat egois yang dimiliki informan saat membahassuatu konflik dengan pasangannya. Ada pula informan yang kesulitan berkomunikasidengan pasangannya dikarenakan dirinya merasa kurang ekspresif.Kendala eksternal meliputi saluran, maupun konteks ruang, waktu, dan nilai. Noisepada saluran terjadi saat seringnya errorr pada teknologi komunikasi yang mereka gunakanataupun terlambat penyampaiannya. Sedangkan kondisi yang berjauhan dari pasangan jugamembuat penyelesaian konflik terhambat bagi ketiga pasangan informan ini. Kondisi disinitermasuk kondisi di lingkungan kerja dan kondisi jarak yang berjauhan diantara pasangan,bahkan kondisi tempat tinggal yang serumah dengan orang tua. Ada pula informan yangterpengaruh oleh kesibukan kerja dan kesibukan mengurus rumah tangga sehingga tanpasadar menghambat penyelesaian konflik. Orang tua dan lingkungan sosial (teman-teman)juga terkadang menjadi penghambat dalam proses penyelesaian konflik karena ada yangsuka memanas-manasi, sedangkan orang tua terkadang ikut campur masalah denganpasangan.3. PENUTUP3.1. SimpulanDialektika konflik diantara pasangan perkawinan jarak jauh terjadi cukupbervariasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantarapasangan perkawinan jarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antarakeinginan untuk mendekatkan diri atau menjauhkan diri dengan pasangan ataupunkeluarga dan lingkungan karena kegiatan personal, aktivitas dengan lingkungansosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemu keluarga, konflikpribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidakmelakukan aksi keduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan. Kemudianadanya kontradiksi antara keinginan untuk melakukan rutinitas atau spontanitasdengan pasangan dikarenakan kondisi keuangan yang semakin menipis, keinginandalam hal seksualitas yang berbeda antara suami istri, rutinitas hobi yangmelalaikan peran dalam rumah tangga, atau kehadiran anak-anak.Dalam hal kontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakan halyang unik terjadi dalam hal pengambilan putusan karena sampai saat ini informanmasih tinggal bersama orang tua mereka. Pengambilan putusan tetap dilakukansuami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orang tua masih ikut campururusan rumah tangga. Sedangkan mengenai kontradiksi antara keinginan untukterbuka atau tertutup dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan informanmencoba saling terbuka namun tetap memiliki informasi yang dirahasiakan.Mengenai pengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik,strategi yang digunakan oleh pasangan perkawinan jarak jauh adalah manajemenkonflik efektif maupun tidak efektif. Dalam hal kendala, pasangan perkawinanjarak jauh cukup memiliki kendala yang menghambat dalam proses penyelesaiankonflik, baik itu kendala internal maupun eksternal. Disarankan bagi peneliti yangingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauh lebih dapatmempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensipertemuan dengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflikdan dialektika yang terjadi.3.2. SaranSecara teoritis, penelitian ini berusaha memberikan gagasan ilmiah, terutama padaTeori Dialektika Relasional, dimana ketegangan-ketegangan yang terjadi tidak selaludiantara 2 hal yang bertentangan. Salah satu contoh seperti temuan penelitian dimanaterdapat aksi diam yang dilakukan oleh pasangan diantara dialektika untuk mendekatkandiri atau menjauhkan diri dari pasangan. Peneliti juga menyarankan bagi peneliti lain yangingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauh lebih dapatmempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensi pertemuandengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflik dan dialektikayang terjadiSecara praktis, bagi pasangan perkawinan jarak jauh ada beberapa hal yang harusdiperhatikan untuk menjaga keharmonisan dengan pasangan, seperti lebih seringmelakukan aktivitas spontanitas bersama pasangan supaya hubungan tidak membosankan.Selain itu lebih terbuka dan ekspresif dalam segala hal, termasuk menyampaikan keluhankeluhanyang selalu dipendam, dan tetap ber empati kepada pasangan. Perlu ditekankanjuga bahwa konflik tidak selalu berkaitan dengan hal negatif asalkan dikelola dengan carayang efektif.Secara sosial, ada baiknya pasangan yang akan menjalani pasangan perkawinanjarak jauh, mempertimbangkan kesiapan diri, karena cukup banyak kendala yang dialamipasangan ini saat berkomunikasi dengan pasangan.4. DAFTAR PUSTAKABasrowi dan Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka CiptaDenzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarDeVito, Joseph A. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Professional BooksGriffin, Emory A. (2011). A first look at Communication Theory-8ed. NY: McGraw HillJamil, M. Mukhsin. (2007). Mengelola Konflik Membangun Damai: Teori, Strategi danImplementasi Resolusi Konflik. Semarang: Walisongo Mediation CenterKuntaraf, Kathleen H Liwijaya dan Jonathan Kuntaraf. (1999). Komunikasi Keluarga:Kunci Kebahagiaan Anda. Bandung: Indonesia Publishing HouseKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi,Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya PadjadjaranLepoire, Beth A. (2006). Family Communication, Nurturing and Control in a ChangingWorld. California: Sage Publications, IncLiliweri, Alo. (2011). Komunikasi: Serba Ada Serba Makna. Jakarta: KencanaLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication sixth edition.USA:Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories Of HumanCommunication. Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: SagePublications, IncSadarjoen, Sawitri Supardi. (2005). Konflik Marital: Pemahaman Konseptual, Aktual danAlternatif Solusinya. Bandung: Refika AditamaSoyomukti, Nurani. (2010). Pengantar Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Ar-RuzzSupratiknya, A. (1995). Komunikasi Antar Pribadi, Tinjauan Psikologis. Yogyakarta:KanisiusSuranto, AW. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha IlmuWalgito, Bimo. (2004). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Andi OffsetWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis danAplikasi,edisi 3. Jakarta: Salemba HumanikaSumber dari InternetA. Pengantin Baru Kok, Sering Bertengkar. (2012) dalamhttp://log.viva.co.id/news/read/144808-pengantin_baru_kok_sering_bertengkar,diakses tanggal 31 Oktober 2012, pukul 21.00Kewajiban Suami terhadap Istri. (2007). dalam http://kawansejati.org/208-kewajibansuami-terhadap-istri, diakses 15 Februari 2013, 10.50)Nia Angga. (2011). Long Distance Relationship (LDR). dalamhttp://anggania.blogspot.com/2011/11/long-distance-relationship-ldr.html , diaksestanggal 15 Juli 2012, pukul 22.05Oom Komarudin. (2009). Bila Suami Jauh dari Istri, dalamhttp://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=14636, diakses 15 Februari2013, 10.45).Mohammad Ridwan. (2012). Long Distance Relationship Jadi Penyebab TingginyaPerceraian. http://www.lensaindonesia.com/2012/12/17/long-distance-relationshipjadi-penyebab-tingginya-perceraian.html, diakses 15 Februari 2013, 10.53Supriyono Sarjono. (2009). The Dissolution Of Marriage-Tahun-tahun Rawan Perceraiandalamhttp://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=590:the-dissolution-of-marriage-tahun-tahun-rawan-perceraian&catid=43:rumahtangga&Itemid=63, diakses tanggal 16 juli 2012, pukul 20.10
“Pranala” Website Magazine Making in Collaboration with Ekspresi Suara Remaja Nugroho, Didit Sarwo Edi; ., M. Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.492 KB)

Abstract

ABSTRACT Website magazine become one source of information in this digital age. Music becomes commodities social exchange of teenager and young adult, especially in Semarang. Teenager and young adult looking for music information on the website magazine to the needs of their social exchange. This final project is intended to create website magazine which presents information about local music of Semarang city. This final project is a journalism product based on the theory of online journalism from book by Asep Syamsul M. Romli (2012) called Online Journalism. “Pranala” also became one of local movement that supports local wisdom. From the results of this final project , it is known that the visitors of “Pranala” is reach the target. The website visitors are always new every day and “Pranala”s social media followers also help spreading articles. It’s a prove that website magazine which presents music information of Semarang is required by teenager and young adult of the city. From the results of this final project, it is known that music theme-website magazine having influence on social exchange of teenager and young adult. Music theme-website magazine also can be a promotional medium for musicians for the better known work.

Page 88 of 157 | Total Record : 1563