cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
TERPAAN BERITA TENTANG CADAR DI MEDIA DAN INTERAKSI PEER GROUP TERHADAP SIKAP KEPADA WANITA BERCADAR Lidya Dela Vega; Sunarto .
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.474 KB)

Abstract

Nowadays, the topic of the veil or niqab was rising. Media as a disseminator of information made some various reports about veil from positive tone news to negative tone news. Followed by that, the transition of various responses from the community began to reflect the dynamics of everyday life. From a positive attitude to the presence of a negative attitude that depends on the occasions, this attitude was do by individual or in groups. The purpose of this study was to study how much the effect of exposure to news about veil and peer group interaction towards society attitude to veil women .The study can be explained by social learning theory by Albert Bandura. This study was using probability sampling technique and multistage random sampling. The population in this study was the people of Semarang City who were expose the veil news around age 17-40 years old. Data analysis was using multiple linear regression. The results of this study show a hypothesis about the positive influence between news exposure about the veil and peer group interaction towards society attitude to veil women. With a strong level of adherence with 7,375 of significance and a large influence on exposure to the veil news and peer group interactions by 68% on people's attitudes.
Fenomena Gitaran Sore Sore Di PRO TV Dalam Mendidik Masyarakat Yuanisa Meistha; Adi Nugroho; Hedi Pudjo Santosa; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.605 KB)

Abstract

Sebagai sebuah acara hiburan yang mendidik, program acara “Gitaran Sore Sore” di ProTVdirasakan masih kurang mampu menarik minat masyarakat, khususnya di kalangan pelajar danmahasiswa sebagai targetnya. Hal ini dibuktikan walaupun Kota Semarang yang merupakan kotapelajar, namun animo pelajar dan mahasiswa untuk menonton acara “Gitaran Sore Sore” tergolongmasih rendah. Hasil survey suaramerdeka.com menegaskan fenomena yang serupa. Mengacufenomena di atas, peneliti tertarik untuk meneliti “mengapa acara Gitaran Sore Sore di ProTVkurang mampu menarik minat masyarakat?.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuikeunikan acara “Gitaran Sore Sore” di ProTV sehingga kurang mampu menarik minat masyarakat.Permasalahan penelitian di atas didekati melalui social learning theory dan model uses andgratification, di mana salah satu fokus dasarnya adalah adanya asumsi bahwa menarik tidaknyasuatu acara sangat tergantung dalam perseptual dan fokus dari penerima pesan. Model uses andgratification menekankan bahwa audiens akan cenderung mengkonsumsi suatu acara di mediamassa apabila sesuai dengan kepentingannya dan memperoleh kepuasan dari aktivitas konsumsiyang dilakukan terhadap media massa. Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian, makatipe deskriptif analitis yang digunakan, karena tujuan penelitian deskriptif analisis adalah untukmembuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifatpopulasi atau daerah tertentu. Narasumber yang digunakan sebanyak 5 (lima) orang yangdianggap mengetahui masalah penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian diketahui: 1) Terjadi penurunan minat menonton yang cukupsignifikan pada program acara yang edukatif dan menghibur di Pro TV, seperti; Made In Indonesia,Gitaran Sore Sore, Jejak Jelajah Wisata, Bio7 dan Cooking Show Dimarco, di mana pada saatyang sama mengalami penurunan pemasukan iklan, khususnya di tahun 2013 dan 2014. Kebijakanperubahan strategi programming yang kurang kondusif bagi segmentasi pasar yang dilakukanProTV diduga merupakan aspek dan faktor penting, yaitu sebagai determinasi pokok terhadapminat menonton ProTV; 2) Langkah strategis berupa perubahan strategi programming ke arahacara yang lebih edukatif dan menghibur yang ternyata belum mampu meningkatkan minatmenonton, dapat dijelaskan dengan uses and gratification model yang mengidentifikasi segmentasidan target audience-nya sebagai salah satu informasi dalam menentukan format dan programacara yang disajikan, melakukan berbagai promo on air dan off air, di samping urgensi tentangperlunya melakukan monitoring terhadap pasar; 3) Program–program yang ditayangkan ProTVseperti; Gitaran Sore-Sore, dan program in house yang ditayangkan cukup memberikan imagestation Pro TV karena sesuai dengan segmentasi dan target audience-yang dibidiknya, walaupunsecara kuantitatif belum mampu meningkatkan minat menonton secara umum; 4) Perluasan pasaryang dilakukan ProTV yang diikuti dengan program– program yang lebih variatif beserta segalastrategi programming-nya ini mampu meningkatkan audience share ProTV yang berimbas pulapada meningkatnya pendapatan melalui iklan karena rating yang tinggi.Keywords: Gitaran Sore Sore, Program acara hiburan yang Mendidik.
The Correlation of Watching Soap Opera “Anak Jalanan” Intensity and Perceived Reality with Antisocial Behavior Amalia, Emma; Herieningsih, MS, Dra. Sri Widowati
Interaksi Online Vol 5, No 1: Januari 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.647 KB)

Abstract

This research is based on the high number of soap operas that contain elements of violence, especially Anak Jalanan soap opera. Although the KPI has given warning repeatedly to the Anak Jalanan soap opera, but it does not provide a deterrent effect because Anak Jalanan soap opera is still live with violence content. This research aims to determine the correlation of watching soap opera “Anak Jalanan” intensity and perceived reality with antisocial behavior. The theories that are use to explain the correlation in this research are the Social Learning Theory and Model Psychology Comstock. The research used non probability sampling with purposive sampling technique, with 100 respondents. Analysis used was Kendall's Correlation Coefficient Tau_b with SPSS 16. The result of the first hypothesis test between watching soap opera Anak Jalanan intensity with antisocial behavior has a positive correlation. It is seen from the significant value of 0.000 or less than 0.01 and a correlation value of 0.541 which indicates a significant correlation between the two variables. The second hypothesis test results between perceived reality with antisocial behavior have a positive correlation. It is seen from the significant value of 0.000 or less than 0.01 and a correlation value of 0.541, indicates a significant correlation between the two variables.Conclusion test this hypothesis is the higher watching soap opera Anak Jalanan intensity, the higher the antisocial behavior and the higher the perceived reality that antisocial behavior will be higher. The researchers suggest is the authorized institution such as KPI should not extend broadcasting license if there is content that does not comply with the rules, KPAI to be more active in providing awareness and media literacy in the community to consume television wisely, and parental mediation to accompany children in consuming the content of television programs
Video Dokumenter Televisi “Ngesti Pandowo” Widyarini, Ira Yunani; Setyabudi, Djoko; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

I. Latar BelakangKebudayaan merupakan salah satu identitas suatu bangsa. Bangsa Indonesiasendiri memiliki banyak kebudayaan yang tersebar di setiap wilayahnya. Seiringberjalannya waktu, masuk dan tumbuh kebudayaan baru di Indonesia. Denganmasuknya kebudayaan baru ditakutkan menggeser kebudayaan tradisional yang sudahada. Terlebih lagi budaya modern yang lebih diminati banyak orang terutama anakmuda daripada budaya tradisional yang sudah ada. Kebudayaan tradisional di KotaSemarang sendiri sebenarnya masih ada, sampai sekarang masih ada tempat yangmengandung unsur budaya tradisional yang tidak kalah bersejarah dibanding wisataLawang Sewu dan Gereja Blenduk yang menjadi ikon kota Semarang. Tepatnya,terletak di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Tempat ini memiliki nilai budayatradisional yang tinggi, bukan karena bangunannya tetapi kegiatan yang dilakukan ditempat tersebut.Kegiatan yang dilaksanakan di gedung ini adalah pentas kesenian wayangorang. Kelompok kesenian wayang orang di Semarang yang ada sejak tahun 1937tampil setiap Sabtu malam di gedung TBRS. Kelompok ini mencoba untukmenampilkan kesenian tradisional kota Semarang dengan tujuan melestarikankesenian wayang orang di Kota Semarang, seperti yang diungkapkan Cicuk SastroSudirdjo selaku pemimpin dari kelompok seni wayang orang Ngesti Pandowo ini.Tidak banyak masyarakat yang menonton pentas wayang orang ini, dalam sekalipementasan Ngesti Pandowo hanya mendapat kurang lebih Rp 500.000,00 daripenjualan tiket seharga Rp 20.000,00 tiket per orang. Padahal biaya produksi dalamsekali pementasan berkisar Rp 3.500.000,00.(http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2011/11/01/872/Cicuk-Sang-Penunggu-Ngesti-Pandawa)Hal diatas menunjukan adanya keterkaitan dengan kebudayaan tradisionalyang semakin tidak dikenal masyarakat. Kegelisahan yang muncul dalam hal iniadalah apakah kesenian wayang orang dapat terus ada. Bagaimana cara untukmembuat kebudayaan tradisional wayang orang ini tetap hidup, dan menumbuhkankembali minat masyarakat agar dapat menikmati kebudayaan ini.Seiring kemajuan zaman yang semakin modern dari waktu ke waktu dandiikuti dengan perkembangan teknologi yang canggih, membuat komunikasi massamenggunakan media massa ikut berubah. Dahulu kala, komunikasi massa dilakukanhanya menggunakan sebuah kertas di dalamnya berisi informasi yang ditempelkan diruang publik, namun sekarang kegiatan komunikasi massa menggunakan mediamassa muncul dalam bentuk-bentuk baru. Seperti dalam bentuk audio pada radio,audio visual pada televisi dan internet. Kegiatan jurnalistik menjadi lebih mudahkarena adanya media massa. Isi pesan-pesan yang ingin disampaikan tepat sasaranpada khalayak yang dituju.
Mengidentifikasi Faktor-Faktor Motivasi yang Memengaruhi Perilaku Memainkan Game RPG (Role-Playing Games) Produksi Luar Negeri oleh Pemain Game di Kota Semarang Maulana Ocky Adhicondro; Turnomo Rahardjo; Nurist Surayya Ulfa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.202 KB)

Abstract

Game merupakan salah satu bentuk implementasi dari kemajuan teknologi di ranah media komunikasi. Game dapat digunakan sebagai media penyampai pesan dan memungkinkan adanya feedback dari pesan tersebut. Game juga didesain sebagai sarana hiburan untuk mengisi waktu luang yang dibuat universal. Namun kenyataannya, beberapa game yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia tidak dibuat universal. Dalam beberapa game beraliran role-playing game (RPG) memuat konten kekerasan, seksual dan nilai-nilai lain yang tidak sesuai dengan nilai kultur lokal khususnya Indonesia. Meskipun mengandung perbedaan, banyak dari kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di Kota Semarang masih tetap memainkan game RPG tersebut dengan berbagai motivasi atas dasar alasan dan tujuan tertentu.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor motivasi yang memengaruhi perilaku memainkan game RPG produksi luar negeri oleh pemain game Indonesia di Kota Semarang. Penelitian ekploratif kuantitatif ini menghimpun data primer dari 100 orang dengan kuesioner. Data dianalisis dengan teknik analisis faktor. Sebanyak 18 faktor telah diuji dengan KMO dan Bartlett’s Test diketahui nilainya 0,958 dengan signifikansi 0,000. Kemudian melalui perhitungan model Principal Component Analysis (PCA) diperoleh 4 kelompok faktor yang memuat 18 faktor yang diuji, dengan kata lain, seluruh faktor yang diuji lolos. Keseluruhan faktor tersebut memberikan kontribusi sebesar 65,367 persen terhadap motivasi memainkan game RPG asing tersebut.Social Factor adalah faktor motivasi yang paling berpengaruh. Diketahui faktor ini menyumbangkan sebanyak 40,663 %. Faktor ini dilabeli social factor karena terdiri dari motivasi untuk berinteraksi dan berkompetisi dengan pemain lain. motivasi ingin mengoptimalkan performa karakter dalam game motivasi ingin menjadi orang lain dan motivasi ingin memperoleh pengetahuan. Ketiga variabel utama dari faktor ini yakni teamwork, socializing dan relathionship termasuk dalam social gratification yaitu suatu bentuk gratifikasi yang mengarah pada keuntungan sosial apa yang didapatkan pemain game dengan memainkan game tertentu.
PENGARUH KETERLIBATAN DALAM CYBERBULLYING DI MEDIA SOSIAL DAN KONFORMITAS TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU BULLYING DI SEKOLAH Adyastuti Fitria Damayanti; Hedi Pudjo Santoso
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.274 KB)

Abstract

Masa remaja disebut sebagai suatu periode transisional, masa usia bermasalah, dan di masa ini terjadi perubahan sosial yang salah satunya meningkatnya pengaruh teman sebaya. Pengaruh teman sebaya sangat besar dan dapat memberikan dampak negatif yang dapat menjerumuskan seorang anak untuk berperilaku nakal, salah satunya perilaku bullying. Saat ini perilaku bullying yang sedang marak terjadi adalah cyberbullying di media sosial. Cyberbullying dapat diartikan sebagai aktivitas agresif yang dilakukan kepada orang lain dan terjadi secara berulang-ulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterlibatan dalam cyberbullying di media sosial dan konformitas teman sebaya terhadpa perilaku bullying di sekolah. Teori yang digunakan yaitu Theory of Reasoned Action dan konsep mengenai Konformitas Teman Sebaya. penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 78 siswa dan siswi di SMP Islam Hidayatullah Kota Semarang. Analisis data yang digunakan, yaitu analisis regresi linier sederhana dengan hasil terdapat pengaruh positif disetiap variabelnya.
Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa” Dinanti, Rizka Putra; Setiabudi, Djoko; Winata, I Nyoman
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.722 KB)

Abstract

iVideo Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa”Karya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikPenyusunRizka Putra Dinanti D2C607042JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013iABSTRAKVideo dokumenter merupakan salah satu produk jurnalistik dalam bentuk audio visual.Terdapat tim yang bekerja dari pra hingga pasca produksi untuk pembuatannya, dokumentarisdalam hal ini menjabat posisi sebagai produser. Pemilihan posisi tersebut merupakan kemauandan kemampuan jurnalis dalam menjalankan proyek dokumenter ini. Dokumentaris berkerjasesuai dengan naskah sekenario yang di buat oleh sutradara. Dokumenter Komunitas KomplotanBocah Wayang (Koboy) yang berjudul “Koboy Melukis Pusaka Jawa” menampilkansekumpulan anak muda yang gemar mengikuti kegiatan pewayangan di Sobokartti. Anak-anakmuda ini bersepakat untuk menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakat Semarangdan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan. Namun sayangnya tidakbanyak generasi muda yang tertarik kepada wayang kulit. Wayang kulit selama ini identikdengan generasi lama atau orang tua, kuno, serta kolot untuk anak muda saat ini, karena bahasapengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarikminat generasi muda pada wayang sebagai kesenian tradisional, akhirnya mereka berduaberusaha memberikan inovasi terhadap pewayangan dengan sentuhan kreatif yaitu denganmembuat sebuah wayang kreasi baru, yaitu dengan menggunakan fiber, tekson, kardus, serta ewayangyang bisa diaplikasikan menjadi komik, poster, video animasi, dan yang bersentuhandengan bidang digital teknologi agar bisa lebih mendekatkan dan menarik minat anak mudasekarang.Mereka sangat totalitas dalam menggelorakan semangat cinta wayang padamasyarakat semarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan,tergambar pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Koboy. Dari sekolah ke sekolah merekabawa tongkat estafet budaya wayang yang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengenalkankembali ke anak-anak muda saat ini, Koboy menjembatani dengan ketulusan mereka, ketekunanserta semangat dan upaya-upaya agar anak muda semakin mengenal dan bangga serta dapat ikutmenjaga kelestarian seni tradisional wayang dalam wadah komunitas Komplotan Bocah Wayangatau Koboy. Melalui Koboy, diharapkan wayang bisa lebih dekat dengan masyarakat khususnyaanak mudaKata kunci: jurnalis, produser, Wayang, KoboyiABSTRACTVideo documentary is one of audio-visual journalism product . There is a team workingfrom pre to post-production to production, documentary in this case serves as a camerapersonand a concurrent position as editor . The selection of these positions is the willingness and abilityof journalists to carry out this documentary project . Documentary work in accordance with thescenario script made by the director . Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) entitled“Koboy Draws Java’s Heritage” featuring a bunch of young people who love to take part inSobokartti puppet . They are agreed to foster a spirit of love puppets in Semarang and gatherpeople who are interested in the puppet world . But unfortunately not many young people areattracted to the shadow play . Wayang kulit is synonymous with the old generation or the old ,ancient , and old-fashioned for today's youth , because language introduction to the Javalanguage is no longer popular among the younger generation . To attract young people to thepuppet as traditional art , finally they both tried to deliver innovation to the puppet with acreative touch to create a new puppet creations , using fiber , tekson , cardboard , as well as e -puppets that can be applied into comics , posters , video animation , and is in contact with thefield of digital technology in order to get closer and attract young people today .They are very total in spreading spirit of love puppets in Semarang and raise public whoare interested in the puppet world , reflected in the activities undertaken by Koboy . From schoolto school they carry the baton puppet culture inherited by the ancestors to introduce back toyoung kids today, Koboy bridge with their sincerity , passion and perseverance as well as effortsto bring more young people to know and be proud of and care for preservation of traditional artpuppets Komplotan Bocah Wayang or Koboy gang. Through Koboy , puppet is expected to becloser to the public, especially young people .Keywords : Journalist , producer, wayang and Koboy .iBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKegiatan Jurnalistik sangat berkaitan erat dengan media massa cetak maupunelektronik, karena publikasi di media massa adalah salah satu syarat utama agar sebuahproduk tersebut dapat dikatakan sebagai produk jurnalistik. Media massa elektronik salahsatunya televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasisecara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktubersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minatpemirsanya , dan mampu membius pemirsanya untuk selalu menyaksikan berbagaitayangan yang disiarkan televisi. Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkantampilan melalui bentuk audio visual (suara dan gambar) sehingga tentunya membuatmasyarakat lebih tertarik kepada televisi daripada media massa lainnya. Banyaknyaaudien televisi mejadikannya sebagai medium dengan efek yang besar terhadap orang,kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisi adalah media massa dominan(Vivian, 2008:225).Beberapa jenis dan bentuk pengembangan documenter televisi meliputi expositorydocumenter (penutur tunggal narrator), documenter drama, news feature, reality showdan investigasi. Kami sebagai jurnalis ingin mebuat sebuah produk jurnalistik dalambentuk news feature dengan format documenter yang nantinya akan di publikasikanmelalui media televise. Alasan menggunakan format documenter karena kontenididalamnya lebih lengkap, yaitu seperti unsur informasi, ilmu pengetahuan, dan yangdominan unsure hiburan yang kreatif (fachrudin,2012:314).Kami ingin mengangkat salahsatu kesenian tradisional yang mulai terpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan oleh anakmuda khususnya adalah kesenian wayang.Wayang selama ini kita kenal sebagaikekayaan budaya jawa.Wayang telah menjadi etos dan pandangan hidup masyarakatjawa.Bahkan wayang menjadi esensi budaya jawa.Bagi masyarakat Jawa, wayangtidaklah hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan.Wayang bukan hanya sekedarsebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, media penyuluhan danmedia pendidikan.Wayang telah menjadi asset kebudayaan nasional, maka kewajiban ituberarti terletak di pundak masyarakat Indonesia seluruhnya.Tetapi tentulah masyarakatJawa khususnya yang harus merasa lebih terpanggil untuk nguri-uri kekayaan budayanyayang indah dan sarat nilai-nilai budaya yang adiluhung ini.Berbicara mengenai upaya pelestarian wayang masih terhitung sedikit terutamagenerasi muda. Salah satunya komunitas koboy (komplotan bocah wayang) yangberpusat di Sobokartti yang melakukan kegiatan pelestarian dan pengenalan wayangdengan pelatihan dalang bagi anak maupun remaja dan proses pembuatan wayang denganberbagai medium. Meskipun mereka bukan pelaku seni atau orang yang terlibat dalamkegiatan pewayangan namun kegiatan yang mereka lakukan dengan mengenalkanwayang melalui workshop ke sekolah-sekolah atau tempat-tempat umum, sudah menjadisalah satu cara pelestarian terhadap wayang. Meski hanya workshop, setidaknya kegiatanitu mampu memberi pesan untuk mengenalkan tentang wayang terlebih dahulu kepadaanak-anak dan orang tua, apabila kedepannya wayang tetap tidak diminatipun itu bukanmerupakan kegagalan para koboy, yang terpenting adalah masyarakat yang terutamaianak-anak mengetahui bahwa kita mempunyai peninggalan kebudayaan yang sangatbernilai yaitu wayang. Koboy sangat berperan dalam melestarikan wayang meski tidakmampu meneruskan kebudayaan sebagai pelaku, setidaknya koboy dapat meneruskantongkat estafet kepada generasi muda, yang seharusnya tongkat estafet tersebut dibawaoleh orangtua untuk anak-anaknya namun terbentur orang tua jaman sekarang banyakyang tidak peduli atau malah tidak mengenal tentang pewayangan, maka para orang tuasendiri tidak mampu berperan untuk mengenalkan wayang kepada anak-anaknya didalamsistem pelestarian kebudayaan wayang saat ini.1.2 Kerangka Pemikiran1. Jurnalistik dalam DokumenterJurnalistik didefinisikan sebagai seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan,mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-harisecara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya,sehingga terjadi perubahan sikap, sifat pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengankehendak para jurnalisnya. (Suhandang, 2004:21).Video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft news yangbertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secara menarik (Morrison,2008:211). Sehingga dokumenter pun menjadi salah satu dari sekian media yang dapatdigunakan untuk menyampaikan informasi, pendidikan, pengaruh dan sekaligus hiburanuntuk kahalayak atau cakupan massa. Video dokumenter dapat diputar dan dipertunjukankepada khalayak dan target audience melalui ruang-ruang komunitas maupun secaraimassive yaitu televisi. Televisi sendiri telah menjadi media komunikasi massa yang tidakterpisahkan dengan masyarakat. Masyarakat dari segala usia termasuk di dalamnyaadalah remaja yang sangat akrab dengan televisi. Menurut Vivian (2008:16) televisimerupakan salah satu media yang tidak menuntut audiensnya untuk terlalu aktif , bahkancukup pasif saja (cool media). Media seperti televisi, radio dan film yang diputar padatelevisi merupakan jenis-jenis media yang masuk kedalam kategori itu.2. Gaya Bertutur dan Strukur DokumenterDalam pembuatan dokumenter ini, kami para jurnalis memilih menggunakan gayarekonstruksi pada umunya bentuk ini dapat ditemui pada documenter investigasi dansejarah, termasuk pula pada film etnografi dan antropologi visual. Dalam tipe ini,pecahan-pecahan atau bagian –bagian peristiwa masalampau maupun masa kini disusunatau direkonstruksi berdasarkan fakta sejarah.Pada saat merekonstruksi suatu peristiwa,latarbelakang sejarah, periode, serta lingkungan alam dan masyarakatnya menjadi bagiandari konstruksi peristiwa tersebut.Konsep penuturan rekonstruksi terkadang tidakmementingkan unsur dramatic tetapi lebih terkonsentrasi pada pemaparan isi sesuaikronologi peristiwa (Ayawaila, 2008: 40-43). Diharapkan pembuatan documenter dengangaya rekonstruksi dapat membangunkan kembali pemahaman tentang wayang sebagaiseni tradsisi yang menjadi pusat tatanan nilai dengan nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya.Seperti halnya video documenter koboy ini yang membandingkan kondisikesenian wayang jaman dahulu yang banyak diminati, sertamerupakan sebagai pusatreferensi tatanan nilai dan tatanan hidup, namunberbeda pada saat sekarang ini, padahalwayang dahulu lebih rumit dibanding dengan wayang jaman sekarang yang sudahiberinovasi dari segi cerita dan bahasa agar dapat diterima. Perkembangan jaman denganmunculnya media-media baru, peran wayang sebagaipusat tatanan nilai tergeser olehmedia-media baru tersebut.1.3. Konstribusi KaryaNews feature ini dibuat sebagai tugas akhir untuk persyaratan kelulusan dalam ProgramStudi S-1 jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk :1. Media dalam mengenalkan kesenian wayang kepada generasi muda sehingga tumbuhrasa cinta dan bangga generasi muda terhadap kesenian wayang.2. Sarana untuk menumbuhkan kesadaran banyak pihak untuk terlibat dalam upaya menjagaeksistensi kesenian wayang.1.4 Konsep filmBentuk Dokumenter Tematis`Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objeklokasi yang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnyaPerkumpulan Koboy dimana merupakan sebagai tempat berkumpulnya para para pencintaatau penggiat kesenian wayang dikalangan anak muda dalam melakukan kegiatankegiatannya,yang berpusat di Sobokartti.Dalam “Koboy Melukis Pusaka Jawa” penceritaan diawali dengan pernyataan-pernyataandari ketiga narasumber mengenai permasalahan semakin terasingnya dan antusiasme yangkurang generasi muda terhadap kesenian wayang, kemudian upaya yang dilakukan olehkoboy untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga di generasi muda terhadap kesenianwayang dan diakhiri dengan pernyataan-pernyataan narasumber mengenai eksistensiikesenian wayang dan upaya-upaya yang dilakukan untuk menarik minat generasi mudaterhadap kesenian wayang.1.7. Personel dan Job DescriptionKarya bidang ini dibuat oleh tim yang terdiri dari 3 mahasiswa dalam sebuah sistem kerjayang dirancang sedemikian rupa untuk penilaian yang independen dalam laporan yangdisusun. Personil dan Job description tersebut sebagai berikut :1. Rizka Putra Dinanti (D2C607042) Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara Lobi dengan pihak stasiun televisi untuk penayangan Lobi Narasumber Penanggung jawab anggaran untuk produksi2. Wisnuadi Trianggoro (D2C009129) Juru Kamera (cameraman) : melakukan riset lokasi riset narasumber, riset stockshootkota semarang, melakukan pengambilan gambar wawancara, melakukanpengambilan gambar saat kegiatan objek dokumenter, memindahkan file untukeditor. Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio.3. Yuniawan Eko (D2C009136) Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalam mengarahkansuatu proses produksi acara radio atau televisi.i Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput atau pencari berita,menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu event atau peristiwa atau kejadianpada media radio tau televisi. Pra Produksi- Produser melakukan pengurusan izin dan lobi dengan televisi.- Produser melakukan pembuatan janji dengan narasumber dan pemilihan lokasipengambilan gambar.- Produser membuat anggaran biaya produksi.- Produser melakukan pengadaan peralatan produksi. Produksi- Produser mendampingi sutradara dan camera person dalam pengambilan gambar saatmelakukan produksi- Produser memastikan seluruh peralatan produksi sudah lengkap dan memastikankembali seluruh narasumber dapat diwawancarai sekaligus pengambilan gambarnya. Paska Produksi- Produser mempersiapkan seluruh kebutuhan proses editing.- Produser mendampingi sutadara,camera person dan editor selama proses editingberlangsung.iPENUTUPMembuat sebuah film baik itu fiksi ataupun non fiksi diperlukan riset yang matang.Dengan cara mengumpulkan data atau informasi melalui observasi mendalam mengenai subjek,peristiwa, dan lokasi sesuai tema yang akan diangkat. Riset secara mendalam sangat dibutuhkankarena news faeture tidak disajikan dalam sisi estetika saja tetapi juga kelengkapan informasiseusai dengan peristiwa nyata. Secara umum dalam sebuah news features terdapat fakta-faktayang ingin disampaikan dalam bentuk informasi kepada masyarakat. Dalam pembuatan videonews faeture ini mengalami tiga tahap, pra produksi, produksi, dan paska produksi. Berikutbeberapa kesimpulan yang dokumentaris dapatkan selama proses pembuatan news faeture“Koboy Melukis Pusaka Jawa”Kesimpulan1) Pemilihan KOBOY ( Komplotan Bocah Wayang) sebagai subjek utama dalamvideo ini disesuaikan dengan tema yang diangkat yaitu pengenalan wayang sebagaikesenian yang mulai jauh di kalangan generasi muda. KOBOY yang beranggotakananak- anak muda yang memiliki minat dan kepedulian besar terhadap eksistensi wayangdi tengah-tengah generasi muda .Mereka mempunyai komitmen kuat untukmenumbuhkan rasa cinta dan bangga pada generasi muda terhadap kesenian wayang.Pemilihan KOBOY didasarkan pada kesamaan visi yang sama dengan tujuan dibuatnyaivideo News Features ini yaitu berupaya mengenalkan wayang kepada generasi mudasehingga tumbuh rasa cinta dan bangga terhadap wayang.2) Pemilihan Cakra Semarang TV sebagai media yang akan mempublikasikanvideo News Features kami dikarenakan salah satu program di Cakra Semarang TV yaituProgram Sluman-Slumun yang mempunyai kesamaan dengan konten yang kami angkatyaitu upaya pengenalan keberagaman budaya salah satunya wayang. Program Sluman-Slumun sendiri merupakan tayangan yang bercerita mengenai tempat-tempat yangmemiliki history atau sejarah di Semarang dan menceritakan keberagaman budaya yangada di Semarang. Seperti Koboy yang merupakan salah satu komunitas wayang yangberpusat di Sobokartti.3) Pemilihan narasumber dan tokoh utama dalam video News Featuresmempunyai peranan penting. Pihak-pihak yang menjadi narasumber dalam NewsFeatures ini merupakan sosok-sosok yang mempunyai kepedulian yang besar terhadapperkembangan kesenian wayang dan memiliki pemahaman yang baik berkaitan denganupaya-upaya untuk menjaga eksistensi kesenian wayang. Dalam penentuan narasumberdiperlukan riset pendahuluan terlebih dahulu untuk mengetahui kapasitas dan kompetensipara narasumber dalam menjawab permasalahan yang kami angkat.4) Dalam pembuatan News Features ini bahasa yang digunakan bersifat formaldan informatif yang disesuaikan dengan karakteristik audience. Pemilihan bahasaitersebut diharapkan audience bisa memahami makna yang disampaikan dalam NewsFeatures ini
LGBTQ Children Narration in Tomboy Movie Kusumawardhani, Adinda; Dwiningtyas, S.Sos, MA, Dr. Hapsari
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.32 KB)

Abstract

Movie as a form of mass media has the capability to deliver a message to its audiences. Movie become an exact alternative to picture child sexuality. Tomboy is a movie that tries to present child sexuality issue which underrepresented, the story of LGBTQ child living in a conservative neighborhood. So far, LGBTQ child issue considered to be very taboo in society so not much discussed in various domains including movie. The lack of public understanding about LGBTQ child brings out negative speculation about that and finally give an effect of improper handling in the cases of child sexuality. This study aims to describe about LGBTQ children narration in Tomboy movie, using descriptive qualitative method with narrative analysis. This research used, Perspective in Homosexual Theory, Queer Theory, Children Film and Homosexual Theory, Narrative Theory and Film Narrative Analysis. The study found how LGBTQ child narrated in a movie. The findings were compiled in a few points: 1) Child in this movie narrated in the style of storytelling that flows properly as if everyday life with a progressive plot. 2) Child in this movie narrated has LGBTQ tendency (tomboy and lesbian tendency). 3) Child in this movie narrated has LGBTQ tendency because of her own desire not because of another factor. The idea is in line with homosexual theory perspective that claim in some cases, LGBTQ child has discomfort gender roles based on sex as he or she get from birth. 4) Child in this movie narrated performs some efforts and struggle to become a perfect boy. 5) Child in this movie narrated must experience some conflicts because she lives in a conservative neighborhood. 6) Child performativity in this movie does not create a new different gender category, but rather mimics the original which is boy. 7) Child in this movie narrated in the style of art cinema narration. The style provide space for the audience to better appreciate the atmosphere in the ongoing events because the duration of the scene is made longer. And because the style is based on art, the camera technique can be neatly framed the character detail expression and gesture in an event. 8) The power of narration lies in the expression of the main character. Close-up and medium close-up shot types in almost every scene help to potray it.
PENGARUH TERPAAN BEAUTY VLOG DI YOUTUBE DAN TINGKAT PENGETAHUAN BAHAYA MAKE UP TERHADAP PERILAKU PENGGUNAAN MAKE UP PADA ANAK Mayangsari Cantika Mutiara; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.574 KB)

Abstract

This research is motivated by the rise of the phenomenon of using makeup in children eventhough make up has a negative impact when used too early. Make up can have a negative impacton the physical, psychological, and even social life of the child. The closeness of children to theinternet makes it easy to access Youtube specifically accessing those who currently floodYoutube content, make up tutorial videos. This study aims to determine whether there is aninfluence of exposure to beauty vlogs and the level of knowledge of danger of make-up on theuse of make-up behavior in children.This research is a quantitative research with an explanatory type of research that causes causationbetween variables. The research took the subject of research of children who watched Youtubeand had watched beauty vlogs that were sitting in elementary schools in the city of Semarang.The study uses Multiple Linear Regression Analysis.The results of the study show that the exposure variables of Beauty Vlog on Youtube and theLevel of Knowledge of Danger of Make Up on the Behavior of Make Up on Children have acalculated F value <F table which is 2.053 <3.09 which means the hypothesis Make Up has aneffect on the Behavior of Using Make Up on Children "rejected. That is, the two variables X1and X2 together did not affect the variable Y. However, in the results of Regression Analysis, itwas found that the variable X1 had a positive effect of 0.049 on the Y variable, also that thevariable X2 had a negative effect of (-0,198 ) to variable Y.
PENGALAMAN KOMUNIKASI REMAJA YANG DIASUH OLEH ORANGTUA TUNGGAL Ulya Saida; Sri Widowati Herieningsih; Agus Naryoso; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.595 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus antara anak dengan orangtua tunggal yang mengalami kesulitan dalam hal pengasuhan anak. Di Indonesia sendiri terdapat tujuh juta perempuan yang yang menjadi kepala rumah tangga atau dengan kata lain mereka semua menjadi oragtua tunggal yang mengasuh anaknya seorang diri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pemaknaan pengasuhan anak di dalam keluarga yang dilakukan oleh orangtua tunggal. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Interactional View, Dialogue Theory, dan Teori Manajemen Privasi. Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada metode fenomenologi dari Clark Mustakas. Subjek penelitian ini adalah orangtua tunggal baik ibu maupun ayah serta anak remaja mereka (perempuan atau laki-laki) yang berusia 14-22 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga dengan orangtua tunggal tidak semua dapat dengan mudah bertahan dan beradaptasi terhadap kondisi keluarga yang dihadapinya saat ini terkait dengan pengasuhan anak yang dilakukan seorang diri tanpa adanya bantuan dari keluarga lainnya. Kedekatan hubungan yang terjalin antara anak dengan orangtua tunggal bergantung dari interkasi melalui percakapan yang dilakukan sehari -hari. Orangtua tunggal memiliki aturan-aturan tersendiri yang diterapkan di dalam keluarga, pola pengasuhan yang berbeda serta keluarga dengan orangtua tunggal tidak akan mendapatkan intervensi dari pihak ketiga atau dalam hal ini pihak luar seperti pasangan ataupun sanak saudara dalam pengasuhan terhadap anak. Dukungan yang diberikan orangtua tunggal terhadap anak memiliki dampak yang berbeda pada setiap anakPenelitian selanjutnya dapat mengkaji dengan menggunakan metoda penelitian yang lainnya seperti menggunakan pendekatan etnografi yang berusaha melakukan pengamatan dengan proses yang lebih panjang sehingga peneliti memahami betul bagaimana kehidupan keseharian subjek penelitian tersebut.Keyword: Hubungan Anak-Orangtua, Pengasuhan Anak, Orangtua Tunggal

Page 89 of 157 | Total Record : 1563