cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Hubungan Terpaan Iklan dan Persepsi pada Karakteristik Celebrity Endorser dengan Minat Beli Kartu Perdana XL Tania Dira Harucky; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.635 KB)

Abstract

In competition among these competitors, XL looks decline from year to year starting from 2014 until 2016. So indirectly XL in terms of product quality has experienced a pretty good development, especially in this period of 3 years, but still despite XL has been trying to increase the quality of the network through ads that are displayed with celebriti endorsernya, can not be said to succeed because in terms of sales alone the decline always occurs in this brand. The purpose of this study is to determine the relationship of advertising exposure and perception on the characteristics of celebrity endorser with the interest to buy XL starter pack. Sampling in this research is accidental sampling. The population in this study is people who have seen TV commercials XL starter. The number of samples researched were 100 respondents aged 18-50 years by using accidental sampling technique. Based on the hypothesis test conducted using data analysis Kendall's Tau-b correlation analysis. The results showed that there was a positive correlation between exposure of advertisement with buying interest of XL starter with significance value 0.000 (<0,01) and Kendall Tau-b correlation of 0.495. It shows that the higher the exposure of advertisement, the higher the interest to buy XL starter pack. Furthermore, there is a positive relationship between the perception on the celebrity endorser characteristic with the interest of buying XL starter with a significance value of 0,000 (<0.01) and the correlation coefficient of 0,529. It shows that the more support the perception on the characteristics of celebrity endorser, the higher the interest to buy XL starter pack. The suggestion is that celebrity endorser should be more emphasized on tagline pronunciation "Now, Can!" In some parts of ad scene then add duration to advertisement with logo and tagline "Now, Can!" In final impressions then respondents still think that celebrity endorser less famous and popular. For that, the company in order to find celebrity endorser famous and in accordance with product targets.
KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012 Rizky Amalya Hadiningtyas; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.098 KB)

Abstract

KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstrakKondisi masyarakat yang dinamis dan semakin kritis dengan perkembangan politik membawa dampak perubahan cara atau pola yang biasanya dilakukan oleh partai politik untuk memenangkan perhatian masyarakat sebagai pendukung partai. Untuk itu, institusi politik membutuhkan metode dan konsep baru sebagai sarana pendekatan alternatif guna membangun hubungan yang lebih efektif dengan konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan masyarakat non partisan yang menjadi target audiens kontestan, yakni marketing politik. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya dalam pertarungan politik pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran.Berawal dari situlah maka, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara komprehensif pelaksanaan komunikasi strategis dalam konteks politik pada kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam memenangkan pemilihan umum kepala daerah secara langsung di wilayah DKI Jakarta tahun 2012. Konsep dasar yang digunakan untuk menganalisis data adalah Marketing Politik (Firmanzah) dan Handbook of Political Marketing (Newman). Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, rekaman arsip, dan perangkat fisik.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan politik dan pembentukan image politik kandidat dalam menciptakan, membentuk dan memperkuat persepsi target pemilih kontestan untuk memenangkan pertarungan politik yang ketat dengan menggunakan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien pada target pemilih.Kata kunci: strategi pemasaran, bauran pemasaran, persepsiTHE STRATEGIC COMMUNICATION OF JOKOWI IN PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstractThe condition of society, nowadays, become more dynamic and more critical in the political development. It is make a changes for the impact of the way or the pattern, that is usually use by the political party to win attention of the society as a supporter of the party. For that, the political institutions need a new methods and concepts as a means of alternative approaches to build more effective relationship with constituents candidate, contituents other party, and non partisan as a public target audience, it is called a political marketing. The campaign team of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama used concepts and methods in Newman’s political marketing to achieve their communication goals with his victory in the Pemilukada DKI Jakarta 2012 which held two rounds.This research aims to describe implementation of strategic communication of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama to win in Pemilukada DKI Jakarta 2102. The basic concepts which used to analyze the data is the Political Marketing by Firmanzah and the Handbook of Political Marketing by Newman. The research method is descriptive qualitative research with the case study approach. The data was collected through in depth interviews, documentation, archival footage, and physical tools.Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama’s campaign team is very concerned about the marketing strategy especially segmentation. Because the accuracy of segmentation voters market, played a major role in accuracy of political message and image of political candidate for creating, shaping and strengthening the perception of the target audiences to win the election used marketing communication mix for more effective and more efficient.Keywords: marketing strategic, marketing mix, perceptionPENDAHULUANPerubahan pemilihan kepala daerah dari dipilih oleh DPRD secara bersamaan menjadi dipilih langsung oleh rakyat membawa situasi politik terutama di tataran lokal (daerah) menjadi semakin dinamis. Pemilukada secara langsung yang menjadi bagian integral dari akselarasi demokratisasi di tingkat nasional dinilai dapat mengakomodasi sistem seleksi terpadu yang saling melengkapi untuk melahirkan kepala daerah terpilih yang berkualitas, mulai dari seleksi sistem kenegaraan, partai politik, administratif, hukum administratif sampai seleksi politis.Di sisi lain, sistem multipartai menjadikan kompetisi antar kandidat di daerah semakin tinggi dalam era globalisasi dengan kondisi masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan politik Indonesia. Untuk itu, politisi yang ikut serta dalam persaingan politik yang ketat tidak hanya semata – mata menonjolkan kemampuan kandidat atau kapasitas organisasional dari politisi tetapi juga membutuhkan dukungan dan jaringan dari pihak lain. Kondisi ini menuntut politisi untuk menerapkan cara – cara yang lebih tepat dan relevan dengan melakukan pendekatan yang lebih persuasif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik.Marketing politik yang merupakan komunikasi strategis dalam kajian komunikasi politik ialah perencanaan yang matang dalam menggunakan elemen – elemen yang terkandung pada strategi pemasaran dan bauran pemasaran sehingga dapat menghasilkan sebuah komunikasi yang efektif dan efisien. Keberhasilan marketing politik dalam berkomunikasi akan menciptakan dampak yang lebih tinggi kadarnya dibanding dengan komunikasi informatif, meliputi dampak kognitif, dampak afektif, dan dampak behavioral.Sebagaimana dengan komunikasi strategis yang berperan membujuk, menggerakkan, dan meyakinkan target audiens dalam mencapai tujuan, metode dan konsep dalam marketing politik juga memiliki peran membantu partai politik dan kandidat membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat agar menjadi lebih baik dalam mengenal masyarakat terutama yang menjadi target audiens sehingga dalam pengembangan program kerja partai sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.Terdapat fenomena menarik di antara Pemilukada yang terjadi sepanjang tahun 2012, yakni Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang diikuti oleh enam pasangan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur, dimana Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah Gubernur – Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih dengan masa jabatan 2012 – 2017 menjadi bukti bahwa penggunaan metode kampanye yang tepat, relevan, dan sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang ini akan menentukan kalah – menang kontestan pemilihan umum.Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012 sesuai dengan konsep marketing politik yang disampaikan oleh Newman (1999: 8) bahwa terdapat enam langkah, meliputi: (1) environmental research; (2) internal & external assessment analysis; (3) strategic marketing; (4) goal setting & campaign strategy; (5) communication, distribution, and organization plan; (6) key markets & outcomes.Keberhasilan marketing politik yang diterapkan tim kampanye dalam berkomunikasi dengan masyarakat Jakarta terutama yang menjadi target audiens mampu menciptakan dampak behavioral. Salah satunya adalah menggiring Addie MS, seorang konduktor ternama di Indonesia, menjadi salah seorang simpatisan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melalui kicauan tweet-nya yang menjadi virus liar positif dengan pengaruh yang sangat kuat dalam perang media sosial antara kubu Fauzi Bowo dengan kubu Joko Widodo, antara lain terkait slogan Fokoke Jokowi dan hastag JOKOWINNERS (Leinad, 2012).Partisipasi yang tinggi dari masyarakat Jakarta dalam keikutsertaan kegiataan pengadaan baju kotak – kotak yang menjadi ikon Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama hingga mampu berubah menjadi trend di semua kalangan masyarakat Jakarta yang menghiasi di setiap sudut jalan di wilayah DKI Jakarta (Rizal, 2012). Adapula eksposure yang tinggi dari media massa terkait pemberitaan aktivitas komunikasi Joko Widodo. Pasalnya Joko Widodo menjadi sosok media darling bagi media massa nasional karena kampanye yang menarik dari kandidat sehingga membuat audiens mencari – cari berita tentang kandidat. Untuk itu, semua pemberitaan mengenai kandidat adalah pemberitaan dengan nilai berita yang tinggi bagi media (Saut, 2012).PEMBAHASANMarketing politik merupakan sebuah perencanaan dan pelaksanaan kampanye untuk mengatasi isu tertentu yang akan menghasilkan suatu rencana komunikasi yang saling terkait satu sama lain. Rencana komunikasi tersebut dalam wujud strategi komunikasi yang dibuat secara hati – hati berdasarkan tujuan yang dikembangkan disertai dengan sasaran audiens yang spesifik, kebutuhan akan informasi yang telah diidentifikasi secara cermat dan ketat, dan penggabungan secara optimal strategi pemasaran dan komunikasi pemasaran yang dibuat dengan biaya yang efektif dan efisien dengan hasil yang diinginkan.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama merupakan tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran. Melalui berbagai langkah strategis dalam marketing politik, timkampanye sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan dan pembentukan image politik dalam menciptakan, membentuk, dan memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta, yang didukung dengan penggunaan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien.Tentu saja, sebelum menerapkan metode dan konsep strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam marketing politik, tim kampanye telah lebih dulu mengenal publik terutama target audiens baik secara internal maupun eksternal melalui riset pasar dan analisis situasi. Hasil riset pasar melalui kunjungan langsung tersebut, memberikan pertimbangan bagi tim dan kandidat sebagai aktivitas monitoring pencarian dan pengumpulan informasi atas perkembangan isu – isu dalam opini publik salah satunya terkait kandidat yang diajukan dalam pemilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atas figur pemimpin yang mampu membawa perubahan kota dan kehidupan masyarakat khususnya keadaan ekonomi. Selain itu, riset pasar juga berperan membantu tim untuk memahami masyarakat dalam identifikasi kondisi heterogenitas masyarakat Jakarta. Kemudian berdasarkan identifikasi masyarakat dalam riset pasar tersebut, tim melakukan segmentasi pasar pemilih pada masyarakat Jakarta guna mengidentifikasi khalayak mana yang sanggup dilayani dan menguntungkan bagi kandidat dalam memperoleh dukungan suara saat pemilihan umum. Tim melakukan pembagian pasar berdasarkan pengembangan pendekatan etnis Jawa, etnis China, dan non muslim pada konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan. Berdasarkan segmen pemilih tersebut, kemudian tim melakukan pembidikan dan pemilihan pada masing – masing wilayah yang meliputi wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan.Pemilih dibanjiri oleh informasi politik dalam jumlah besar dan beragam yang berasal dari masing – masing kandidat pada Pemilukada DKI Jakarta 2012. Kondisi tersebut menyulitkan pemilih untuk memilah – milah informasi guna membuat keputusan perilaku pemilih saat pemilihan umum karena adanya kesamaan pada masing – masing informasi politik dari kandidat. Untuk itu, tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan upaya untuk memposisikan kandidat pada tempat yang jelas, berbeda, dan diinginkan dalam benak pemilih dibandingkan dengan tempat kandidat lain. Tim kampanye melakukan upaya memposisikan kandidat yang memberikan keunggulan paling besar dalam benak pemilih dengan menempatkan image politik kandidat dan produk politik yang sesuai dengan masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audienskandidat. Tim yang memiliki tujuan komunikasi strategis, yakni mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta, melakukan upaya positioning pada segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat melalui image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang menjunjung tinggi empat pilar kebangsaan yang menjamin keberagaman dan sosok pemimpin yang jujur dan amanah dalam kepemimpinannya. Untuk memperkuat persepsi dalam pembentukan image politik tersebut, tim mewujudkannya dalam dua tahapan produk politik, yakni core product bahwa kelayakan kandidat tersebut karena kandidat memimpin Jakarta dengan menjamin keberagaman dalam kebersamaan pada heterogenitas masyarakat Jakarta dengan didukung actual product kandidat melalui hasil kinerja Joko Widodo selama menjabat sebagai wali kota Solo yang mendapat peringkat ketiga sebagai walikota terbaik tingkat internasional. Pembentukan image politik yang diperuntukkan segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat yang berperan memperkuat persepsi yang diwujudkan dalam bentuk dua tahapan produk politik tersebut memiliki keterkaitan dengan past records kandidat yang terekam dalam benak pemilih (Nursal, 2004: 153).Tim kampanye juga membentuk image politik yang sama dengan konstituen kandidat pada konstituen partai lain dan non partisan sebagai langkah awal mengenalkan sosok kandidat dalam benak pemilih tersebut. Karena, kondisi kognitif dan afektif pada segmen kelompok masyarakat konstituen partai lain dan non partisan yang berbeda dengan konstituen kandidat maka tim perlu melakukan aktivitas positioning dengan membentuk image politik kandidat secara bertahap. Setelah konstituen partai lain dan non partisan berusaha mengenali sosok Joko Widodo melalui image politik sebelumnya, tim kembali membentuk image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang mewakilkan diri setiap individu dalam masyarakat Jakarta terutama individu yang tergolong konstituen partai lain dan non partisan. Pembentukan image politik ini diperkuat dengan karakter Joko Widodo sebagai pribadi yang sederhana, apa adanya, tulus, ikhlas, dan mengutamakan komunikasi yang humanis dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Karakter tersebut dibangun dan ditunjukkan ketika kandidat melakukan kunjungan langsung ke pasar, kawasan tua/kawasan padat, cagar budaya maupun rumah penduduk yang telah ditetapkan sebagai tempat kampanye guna berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengenal maupun hanya sekedar memperkenalkan diri Joko Widodo kepada basis pemilihnya. Kemudian, tim membentuk image politik selanjutnya bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin pendengar dan dibutuhkan Jakarta saat itu. Terbentuknya image politik tersebut semakin memungkinkan konstituen partai lain dan nonpartisan mengenal kandidat yang memungkinkan pula terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak mereka.Positioning politik tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya proses penciptaan dan komunikasi politik. Karenanya, ketepatan dan konsistensi yang jelas pada elemen branding, produk politik, dan pesan politik akan membantu tim dalam pembentukan identitas politik kandidat yang kuat dan jelas guna membentuk persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih kandidat yang telah ditetapkan sebagai target audiens. Pesan politik bukan hanya sekedar jargon politik melainkan di dalamnya berisikan tujuan dan harapan yang diberikan kandidat sebagai daya tarik bagi basis pemilih. Dalam marketing politik, strategi pengelolaan dan perancangan pesan merupakan faktor yang perlu diperhatikan oleh tim kampanye dalam melakukan aktivitas branding dengan menonjolkan image politik kandidat sehingga menjadi pembeda dibanding pesaing. Image politik yang bagus di benak basis pemilih akan memberikan efek positif bagi pemilih guna memberikan prioritas keputusan perilaku politik mereka dengan memberikan dukungan suara pada kandidat saat pemilihan umum.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama membentuk dan menyampaikan konsistensi pesan politik, yaitu Jakarta membutuhkan perubahan yang dapat diwujudkan dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Untuk mempercepat dan memperkuat penyampaian pesan politik dalam benak basis pemilih, tim kemudian mewujudkannya dalam tiga produk politik. Core product berupa penjaminan hak masyarakat atas penyelesaian problema Jakarta dan penjaminan keberagaman dalam kebersamaan masyarakat Jakarta, didukung dengan actual product berupa sembilan unggulan dan enam puluh delapan ribu kegiatan pemerintah daerah (PemDa) DKI Jakarta serta augmented product berupa perwujudan perubahan Jakarta dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama dengan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama.Komunikator sebagai orang yang menyampaikan pesan politik juga memiliki peran dan ikut andil pada proses positioning dengan membentuk image politik dan produk politik yang sesuai dengan harapan pemilih. Faktor komunikator yang meliputi kredibilitas dan daya tarik komunikator yang diperoleh dengan adanya etos dan sikap komunikator sangat berperan dalam pembentukan image politik di benak basis pemilih (Effendy, 2007: 38-39). Karena, pemilih akan tertarik dengan suatu hal yang ditawarkan secara politik jika hal tersebut memiliki kedekatan ideologi dengan diri pemilih, yang kemudian dibangun oleh tim dengan merepresentasikan kedekatan ideologis pemilih pada diri Joko Widodo selaku komunikator.Terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta di benak basis pemilih menciptakan daya tarik baru sendiri bagi basis pemilih terhadap aktivitas komunikasi tim atas penawaran solusi alternatif penyelesaian problema Jakarta. Daya tarik tersebut dibentuk dan diperkuat tim hingga mampu menciptakan komitmen dalam benak basis pemilih untuk mendukung dan memilih kandidat saat pemilihan umum. Pembentukan komitmen tersebut merupakan bentuk konsistensi image politik, pesan politik, dan produk politik kandidat sehingga mampu meminimalisasi bauran pemasaran price untuk berkomitmen memilih Joko Widodo saat pemilihan oleh basis pemilih, yang kemudian tim dapat meningkatkan manfaat yang diperoleh pemilih atas price tersebut dalam kegiatan pengadaan baju kotak – kotak. Hal ini karena kegiatan pengadaan baju kotak – kotak menciptakan wirausahawan dari masyarakat Jakarta kalangan menengah ke bawah yang ikut serta dan menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Kegiatan pengadaan baju kotak – kotak semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta. Kelayakan tersebut salah satunya bahwa kandidat adalah pemimpin yang bisa dan mampu membawa perubahan Jakarta khususnya keadaan ekonomi masyarakat Jakarta terutama rakyat kecil sehingga semakin memperkuat terbentuknya bauran pemasaran price di benak pemilih, hingga mampu menciptakan arus besar masyarakat Jakarta akan solidaritasnya mendukung kandidat di setiap kawasan di DKI Jakarta, yang menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat.Semua kegiatan yang dilakukan tim guna mengubah opini publik menjadi persepsi publik juga diperlukan perancangan kegiatan promosi dengan penetapan bauran komunikasi pemasaran yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan image politik, produk politik, dan pesan politik pada pemilih. Pemilihan media perlu dipertimbangkan karena tidak semua media tepat sebagai sarana untuk melakukan promosi. Kandidat perlu memerhatikan dengan seksama dan bijak atas media yang paling efektif dalam mentransfer pesan politik pada masing – masing segmen konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan promosi terbagi menjadi dua media, yakni above the line dan below the line. Above the line adalah media komunikasi yang digunakan tim kampanye untuk menjangkau basis pemilih terutama masyarakat non partisan, seperti kalangan elit, kalangan profesional, dan sebagainya yang tergolong dalam kalangan menengah ke atas. Tim kampanye menggunakan media massa televisi untuk berkomunikasi dalam penyampaian pesan dengan jangkauan luasnya sehingga komunikasi antara komunikator dan komunikan menjadi lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan komunikasi strategis. Adapula mediasosial facebook dan twitter yang digunakan tim untuk mengenalkan kandidat dan berbagi informasi terkait dengan kandidat dan produk politik. Sedangkan below the line adalah media komunikasi yang menggunakan personal selling melalui kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan oleh kandidat untuk berkomunikasi dengan basis pemilih yang terdiri dari tiga kelompok masyarakat, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan di pasar, kawasan padat/kawasan tua, dan cagar budaya dengan diskusi dan kumpul bersama untuk bersilaturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya. Kunjungan langsung kandidat yang dilakukan secara berkala dan terus menerus semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih. Terbentuknya persepsi publik yang semakin kuat, semakin menciptakan dan memperluas arus besar masyarakat Jakarta untuk mendukung dan memilih kandidat yang kemudian menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Relawan kandidat berperan sales promotion kandidat yang ikut serta menyampaikan pesan politik kepada basis pemilih kandidat. Adapula stiker merupakan media yang digunakan tim melakukan evaluasi terhadap setiap aktivitas komunikasi strategis yang membantu pemilih untuk menentukan prioritas yang besar di benak basis pemilih atas perilaku politik. Media stiker dipasang pada lingkungan basis pemilih yang telah berkomitmen untuk memilih Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama pada Pemilukada DKI Jakarta 2012.PENUTUPDinamika politik modern dengan masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan dunia politik menuntut politisi untuk menerapkan cara yang lebih efisien dan efektif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik. Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012, membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat Jakarta yang memungkinkan tim untuk mengenal masyarakat dengan baik terutama kantong pemilih. Hubungan tersebut membantu tim dalam proses penyampaian pesan politik dengan menggunakan pengelolaan dan perancangan pesan yang memiliki konsistensi dengan image politik dan produk politik pada masing – masing segmen basis pemilih tim.Marketing politik yang digunakan tim kampanye berperan pada proses membangun dan menciptakan citra politik kandidat melalui tahapan strategi pemasaran dengan konsistensi pada proses branding yang diwujudkan dalam bauran pemasaran. Langkah awal dalam proses strategi pemasaran; segmentasi, membantu tim melakukan pembagian pasar pemilih ke dalamkelompok pemilih yang sesuai etnis pada kelompok masyarakat Jakarta, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non muslim untuk dibidik dan ditetapkan tim sebagai kantong pemilih (target audiens). Penetapan audiens mempermudah dalam proses positioning yang berbeda pada masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audiens tersebut guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim, yaitu mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta. Penyampaian produk politik tim yang terbagi menjadi tiga tahapan; core product, actual product, dan augmented product memungkinkan adanya diferensiasi produk di benak pemilih dibanding produk politik lainnya yang akan semakin memperkuat terbentuknya persepsi publik.Marketing politik membantu tim dalam proses pencapaian tujuan komunikasi tim dengan merancang kegiatan promosi yang diakhiri penetapan bauran komunikasi pemasaran, meliputi personal selling tim kampanye dan kandidat melalui kunjungan langsung pada lingkungan kantong pemilih yang hanya sekedar untuk bersialturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya, relawan kandidat sebagai sales promotion yang berperan serta dalam membentuk persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta pada benak basis pemilih, serta media massa televisi dan media sosial facebook dan twitter sebagai media komunikasi antara kandidat dengan masyarakat Jakarta guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. (2003). Komunikasi Politik. Jakarta: PT. Balai Pustaka.Baxter, Leslie A., and Earl Babbie. (2004). The Basics of Communication Research. Wadsworth: Thomson.Bryman, Alan. (2008). Social Research Methods (3rd ed.). Oxford University Press.Cangara, Hafied. (2009). Komunikasi Politik. Jakarta: Rajawali Pers.Denzin, Norman K., and Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (4th ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Effendy, Onong Uchjana. (1999). Hubungan Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Effendy, Onong Uchjana. (2007). Ilmu Komunikasi & Teori. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Firmanzah. (2007). Marketing Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Firmanzah. (2008). Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning Ideologi Partai di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Griffin, EM. (2011). A First Look at Communication Theory (8th ed.). New York: McGraw-Hill.Heryanto, Gun Gun., and Irwa Zarkasy. (2012). Public Relations Politik. Bogor: Ghalia Indonesia.Kennedy, John E., dan R. Dermawan Soemanagara. (2009). Marketing Communication: Taktik & Strategi. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid I (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid II (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Littlejohn, Stephen W., and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi (9th ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (1991). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Nimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Newman, Bruce I. (Eds.). (1999). Handbook of Political Marketing. London: SAGE Publications Ltd.Nursal, Adman. (2004). Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Percy, Larry. (2008). Strategic Integrated Marketing Communication: Theory and Practice. USA: Elsevier.Perpustakaan Nasional RI Data Katalog Dalam Terbitan (KDT). (2012). Demokrasi Lokal: Evaluasi Pemilukada di Indonesia. Jakarta: Konstitusi Press.Ruslan, Rosady. (2008). Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Severin, Werner J., and James W. Tankard, Jr. (2009). Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan Di Dalam Media Massa (5th ed.). Jakarta: Kencana.Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communications. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Upe, Ambo. (2008). Sosiologi Politik Kontemporer. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.Yin, Robert K. (2006). Studi Kasus. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.West, Richard., and Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi (3rd ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Skripsi, Tesis, dan JurnalAttia, Ashraf M. et al. (2011). Commentary: The Impact of Social Networking Tools on Political Change in Egypt’s “Revolution 2.0”. Electronic Commerce Research and Applications, 10 (June): 369-374. New York: Elsevier B.V.Chu, Chih-Chung et al. (2012). The Effect of Advertisement Frequency on the Advertisement Attitude-The controlled Effects of Brand Image and Spokesperson’s Credibility. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 57: 352-359. Elseiver Ltd.Lariscy, Ruth Ann Weaver and Spencer F. Tinkham. (1996). Use and Impact of Direct Mail in the Context of Integrated Marketing Communications: U.S. Congressional Campaigns in 1982 and 1990. Journal of Business Research, 37: 233-244. New York: Elsevier Science Inc.Nuriyatul Lailiyah. (2011). Komunikasi Strategis Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah, Studi Kasus: Kampanye Pasangan Widya Kandi – M. Mustamsikin dalam Pemilihan Bupati Kendal 2010. Tesis. Universitas Diponegoro.Seravica Molasita Mahu. (2010). Marketing Politik Partai Demokrat Dalam Pemilu Legislatif 2009. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetAnggadha, Ary., dan Fajar Sodiq. (2012). Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/342548-ibunda-jokowi--bang-haji-rhoma-mungkin-khilaf. Diunduh pada 8 Oktober pukul 22.15 WIB.Febriyan. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391119/Nasib-Ahok-Dampingi-Jokowi-Masih-Tunggu-Mega. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.21 WIB.Fokoke Jokowi Mantra Ampuh di Jagat Maya. (2012). Dalam http://ahok.org/berita/news/fokoke-jokowi-mantra-ampuh-di-jagat-maya/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Hartawan, Tony. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391063/Pertemuan-Rahasia-Foke-dan-Calon-Gubernur-Lain. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 22.30 WIB.Leinad, Sam. (2012). Jokowi Menang Lagi di Twitter. Dalam http://media.kompasiana.com/new-media/2012/09/20/jokowi-menang-lagi-di-twitter-494958.html. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Noviansyah, Aditia. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/07/16/078417190/Dana-Kampanye-Foke-Tujuh-Kali-Lipat-dari-Jokowi. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 23.00 WIB.Rizal, Ade. (2012). Dalam http://jogja.tribunnews.com/2012/04/05/baju-kotak-kotak-jokowi-jadi-trend/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Saut, Prins David. (2012). Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/21/013101/2028702/10/jokowi-menangkan-pilgub-dki-karena-jadi-kesayangan-media. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Sodikin, Amir. (2012). Addie MS Ternyata Pemicu “Fokoke Jokowi”. Dalam http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/26/10010016/Addie.MS.Ternyata.Pemicu.Fokoke.Jokowi. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Wiwoho, Laksono Hari. (2012). Dalam. http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/09/19/02371093/Peta.Kekuatan.Foke.Versus.Jokowi.2. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.30 WIB.www.lsi.or.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.00 WIB.www.lsi.co.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.30 WIB.
PENGARUH USIA PEMAIN ADVERGAMES TERHADAP LEVELS OF COMPREHENSION (TINGKAT PEMAHAMAN) DARI BRAND MESSAGE (PESAN MEREK Dewi Luqmania .; Djoko Setyabudi S.Sos, MM
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.669 KB)

Abstract

Advergame, sebagai sebuah medium komunikasi pemasaran yang mulai popular di Indonesia akhir-akhir ini sangat menarik untuk diteliti. Berbeda dengan media untuk beriklan lainnya, seperti Koran, majalah, televisi, dan radio dimana informasi disampaikan dalam bentuk narasi, advergame memiliki keunikan tersendiri dalam menyampaikan informasinya yaitu dengan membuat konsumen berpartisipasi (aktif). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh usia pemain advergame terhadap levels of comprehension (tingkat pemahaman) dari brand message (pesan merek). Pendekatan yang menggunakan pendekatan positivistik ini mengujikan relasi 2 variabel, dengan total 24 indikator. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan teknik one shot case study dengan total sampel 45 orang yang terbagi dalam tiga kelompok eksperimen menurut usia. Pengambilan data dilakukan dengan diberikannya kuesioner pada partisipan setelah bermain advergame. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan uji perbedaan one-way ANOVA dengan pemenuhan asumsi independensi sampel, uji normalitas Kolomogrov Smirnov dan uji homogenitas variansi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa usia pemain advergame berpengaruh secara positif terhadap levels of comprehension (tingkat pemahaman) dari brand message (pesan merek). Ditemukan perbedaan nilai rata-rata levels of comprehension di antara ketiga kelompok eksperimen. Kelompok usia yang paling tua mendapatkan rata-rata nilai tertinggi dan kelompok anak-anak mendapat rata-rata nilai terendah. Ada perbedaan yang signifikan antara pemain anak-anak dan pemain dewasa. Berbeda dengan anak-anak, pemain dewasa mampu mencapai level pemahaman tertinggi yaitu deeper level comprehension.
HUBUNGAN KONDISI IKLIM ORGANISASI, TINGKAT SELF DISCLOSURE ANTARA PEMAIN DAN PELATIH DENGAN TINGKAT PRESTASI PEMAIN TERANGBANGSA FC U-18 Irvian Izhar Fadilla; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.414 KB)

Abstract

To achieve a good achievement in an organization or a football club, a good organizational climate condition and interpersonal communication between players and players, players with coaches are also needed, one of that is self disclosure. Players in a team always need good organizational climate conditions, because when players feel comfortable in a team, players will be more free to show the abilities that they have so the team achievements will be achieved. Likewise with self disclosure, when players and coaches are open to each other about things on the field or outside the field, players will feel comfortable in a team so they are able to achieve achievements and targets that given by the team. This study aims to determine the relationship of organizational climate conditions, the level of self disclosure with the level of achievement of Terangbangsa FC U-18 players. In determining the hypothesis to be used, this study uses McClelland's Needs Theory and Personality Theory from several previous research journals. To determine the sample, this study uses a random sampling technique by means of simple random sampling. The number of samples studied amounted to 38 people with the characteristics of players who were officially registered with the club Terangbangsa FC U-18. The analysis of the data that used in this study is Kendall's tau-b. The results of the first hypothesis test show that there is a relationship between organizational climate conditions and the level of achievement of Terangbangsa FC U-18 players with a significance value of 0.033. The results of the second hypothesis test show that there is a very significant relationship between the level of self disclosure and the level of achievement of the Terangbangsa FC U-18 players with a significance value of 0,000 with a correlation coefficient of -0.126. This, in line with the personality theory used, where self disclosure has a relationship with player achievment.
Pemaknaan Khalayak terhadap Penggambaran Orang Jawa Semarang dalam Rubrik Rame Kondhe di Harian Suara Merdeka Mirtsa Zahara Hadi; Hedi Pudjo Santosa; Taufik Suprihartini; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.178 KB)

Abstract

ABSTRAKNama : Mirtsa Zahara HadiNIM : D2C009069Judul : Pemaknaan Khalayak terhadap Penggambaran Orang Jawa Semarang dalam Rubrik Rame Kondhe di Harian Suara MerdekaRubrik opini di dalam surat kabar merupakan rubrik yang memaparkan opini redaksi tentang suatu pemberitaan. Rame Kondhe merupakan salah satu rubrik opini yang diterbitkan oleh Harian Suara Merdeka yang disajikan dalam format feature dengan menggunakan bahasa Jawa dialek Semarang. Hal unik lain dari rubrik ini adalah penggunaan tokoh-tokoh atau karakter yang berbincang dalam bahasa Jawa dialek Semarang yang jika dibaca sekilas akan timbul pemahaman pembaca bahwa tokoh-tokoh di dalam rubrik tersebut merupakan penggambaran orang Jawa Semarang asli.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemaknaan khalayak terhadap penggambaran orang Jawa Semarang dalam rubrik Rame Kondhe. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Teori yang digunakan adalah teori interpretif dan teori encoding-decoding Stuart Hall yang menjabarkan tiga posisi pemaknaan audiens. Perbedaan posisi pemaknaan audiens dikarenakan perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, agama, budaya, pendidikan, usia, dan gender. Hasil penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan informan yang berbeda secara etnis, usia, gender, dan latar belakang sosial dan ekonomi.Preferred reading dari rubrik Rame Kondhe adalah khalayak akan diarahkan untuk menyetujui penggambaran tokoh-tokoh yang ada di dalam rubrik Rame Kondhe merupakan pencerminan orang Semarang asli. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi tiga posisi pemaknaan, dominant-hegemonic position yang menempatkan khalayak membaca teks sesuai dengan makna dominan, negotiated position yang menempatkan khalayak membaca teks sesuai dengan makna dominan, namun menegosiasikan beberapa hal yang tidak sesuai dengan keadaan audiens, dan oppositional position yang menempatkan khalayak membaca teks tidak sesuai dengan makna dominan dan memberikan alternatif jawaban. Kesimpulan hasil penelitian menempatkan sebagian besar informan berada pada posisi hegemoni dominan yang menyetujui bahwa karakteristik tokoh -tokoh yang ada di dalam rubrik Rame Kondhe merupakan pencerminan orang Semarang asli.Kata kunci : bahasa Jawa, dialek, orang Jawa, orang Semarang, analisis resepsi
Indosat’s Rebranding According to Stakeholders' View Pambayun Galih Waskitha; Nuriyatul Lailiyah, S.Sos, M.I.Kom
Interaksi Online Vol 5, No 2: April 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.129 KB)

Abstract

Rebranding, an attempt or enterprise which is undertaken by the company or institutions to completely change or renew an existing brand to make it better. Rebranding is not just a logo change, but also includes; the change of messages, change of how aprroaching consumers, providing new services, or even changes about what has promised to the consumers. One of the reasons why Indosat conducted a rebranding due to the change of management / strategy occurs in the company, such as changes in leadership or merger; or it can be purchased of a company through the other hand, became one of the strong reason to conduct a rebranding. Therefore, the aim of this study is to describe how to think about stakeholders responding the rebranding conducted by Indosat, especially the external stakeholders. All forms of information and new services, obtained by the community during the Indosat’s rebranding process, those are divided into several stakeholders experienced the difference in the admission process and ways of thinking about rebranding information. According to Elaboration Likehood Models related with the persuasive message. Indosat’s rebranding information was received by the stakeholders as a new message. In accordance with the Elaboration Likehood Models’s stages, the results of this study indicate that Indosat’s rebrandring message information is processed only at the stage “ability to process” by the most of the stakeholders. They choose to take the peripherals path as low motivation of the persuasive message, because they consider the communication needs, include in the low-involvement. The stakeholders consider that communication is an important requirement, but not considered as a necessity that requires high attention and involvement in making a purchasing decision. The rest, the other stakeholders also appreciate that Indosat’s decision is appropriate and successful, seen from the mutual cooperation that they can build in their attempt for being the best provider in Indonesia.
HUBUNGAN TERPAAN PEMBERITAAN KASUS DUGAAN KORUPSI PENGADAAN AL QURAN PADA KEMENTERIAN AGAMA DI MEDIA MASSA DENGAN CITRA KEMENTERIAN AGAMA DI MASYARAKAT Maulana Danang Adhi Prakosa; Muchammad Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RELATIONSHIP BETWEEN NEWS EXPOSURE TO THE ALLEGED CORRUPTION CASE OF QUR’AN PROCUREMENT IN THE MINISTRY OF RELIGION IN MASS MEDIA WITH IMAGE OF THE MINISTRY OF RELIGION IN SOCIETYABSTRACTCorruption practices in Indonesia for a long time and has penetrated into various aspects of human life. Both newly revealed and in the investigation stage, and in the case of the deepening phase at one point towards the end. Corruption rife in government institutions not to mention dealing with religion though. As happened to the Ministry of Religion Affairs was lodged cases of alleged corruption in the procurement of the Quran 2011-2012 budget. Even the institutions that govern religious life in Indonesia, caught by the alleged corruption case and also involving scripture. News in the media that can be obtained with ease every day, we can see the development of cases of alleged corruption procurement Qur'an.This study aimed to investigate the association between exposure to reporting cases of alleged corruption in the procurement of Qur’an at the Ministry of Religious Affairs in mass media with the image of the Ministry of Religious Affairs in society. Researchers used a quantitative approach with the method of explanation (explanatory research) where the researchers explain causal relationships between variables through hypothesis testing, which describes the relationship or correlation between the reporting of cases of alleged corruption in the procurement of Qur’an at the Ministry of Religious Affairs in mass media (X) on the image of the Ministry of Religious Affairs (Y). Data obtained directly from respondents to the questionnaire and use the stuffing questions.The results of this study showed no association between exposure to news of alleged corruption cases procurement Quran with the Ministry of Religious Affairs in the image. News about cases of alleged corruption in the procurement of Qur’an at the Ministry of Religious Affairs was not a major news in the media were used as an example in this study. This resulted in a low level of exposure obtained by respondents about cases of alleged corruption in the procurement of the Ministry of Religious Affairs Quran. Seeing the reality on the ground, should we follow the mass media as a whole.Keyword: Media Exposure, Explanatory, ImagePENDAHULUAN Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu hal yang sangat penting didalam kehidupan kita. Keseluruhan interaksi yang dilakukan oleh manusia didasari oleh komunikasi. Komunikasi dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikasn melalui sebuah media. Pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikastor pasti memiliki tujuan yang berbeda-beda. Komunikasi dikatakan berhasil apabila komunikan dapat menerima dan mengartikan pesan yang disampaikan oleh komunikator. Salah satu bentuk dari komunikasi adalah komunikasi massa, yang diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak, atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat ( Rahmat, 2005 ; 189 ).Memahami komunikasi massa tidak akan terlepas dari media massa, karena objek kajian terbesar adalah pada peran dan pengaruh yang dimainkan media massa. Media massa merupakan salah satu saluran komunikasi dimana sumber komunikasi (source) menyampaikan pesan-pesan (messages) kepada penerima (receiver). Saluran ini dianggap sebagai penerus atau penyampai pesan yang berasal dari sumber informasi kepada tujuan informasi. Saluran media massa adalah semua penyampai pesan yang melibatkan mekanisme untuk mencapai audience yang luas dan tak terbatas.Media massa sebagai salah satu fungsinya sebagai pemberi informasi kepada masyarakat memiliki keterikatan yang tinggi dengan masyarakat selakukonsumen media massa. Adanya kebutuhan masyarakat akan informasi mengakibatkan ketergantungan masyarakat pada media. Termasuk kebutuhan untuk mengetahui adanya peristiwa-peristiwa baru yang terjadi akhir-akhir ini atau untuk mengetahui perkembangan terhadap sebuah peristiwa.Di pertengahan tahun 2012, mencuat pemberitaan tentang adanya dugaan kasus korupsi pengadaan Al Quran yang diberitakan oleh media massa. Sampai sekarang ini kita masih dapat melihat perkembangan mengenai kasus ini di media massa. Dugaan adanya korupsi pengadaan Al Quran ini telah menyeret nama Zulkarnaen Djabar selaku anggota Komisi VIII DPR RI dari Partai Golkar yang sekaligus sebagai anggota Badan Anggaran DPR RI yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.Kasus ini muncul di media massa di pertengahan tahun 2012. Pada 29 Juni 2012, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Zulkarnaen Djabar sebagai tersangka beserta Dendy Prasetya selaku Direktur PT. Karya Sinergy Alam Indonesia (KSAI) yang merupakan rekanan dalam pengadaan Al Quran ini. Ironisnya, keduanya adalah ayah-anak. Selain anggota Badan Anggaran DPR, Zulkarnaen tercatat sebagai anggota Komisi VIII DPR yang membidangi keagamaan. KPK menjerat Zulkarnaen, dan anaknya atas 3 kasus korupsi. Pertama, dugaan suap proyek pengadaan Al Quran tahun anggaran 2011 di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Kedua, dugaan korupsi pengadaan laboratorium komputer Madrasah Tsanawiyah tahun anggaran 2011 di Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Ketiga, dugaan suap proyek pengadaan Al Quran tahun anggaran 2012. KPK mendugaZulkarnaen memberi imbalan atau suap kepada penyelenggara negara terkait pembahasan anggaran pengadaan Al Quran senilai Rp35 miliar itu. Modusnya adalah dengan memerintahkan dan mengarahkan pejabat di Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama untuk memenangkan PT Adhi Aksara Abadi Indonesia sebagai pemegang proyek tersebut (http://fokus.news.viva.co.id/news/read/332350-ketika-proyek-pengadaan-quran-ikut-dikorupsi).Dalam pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran, media massa menunjukkan kekuatannya dalam menciptakan gagasan melalui berita. Hal ini dapat dilihat dengan selalu adanya penyebutan kata Kementerian Agama dalam berita yang memuat kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran. Kementerian Agama mendapatkan sorotan yang tajam. Salah satunya di institusi pemerintah yang mengurusi mengenai keagamaan di Indonesia yaitu Kementerian Agama diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran. Dalam kasus dugaan korupsi ini yang, salah satu yang menjadi tersangka merupakan anggota Badan Anggaran DPR RI periode 2009-2014 dan sekaligus merupakan anggota Komisi VIII DPR RI yang membidangi agama yang kerap kali bersinggungan dengan pihak Kementerian Agama. Pemberitaan tentang kasus korupsi ini dapat dengan mudah dikonsumsi oleh masyarakat. Masyarakat dapat mengetahui perkembangan terkini tentang kasus ini di media massa. Pemberitaan ini memberikan pandangan pada masyarakat terhadap realitas yang telah diciptakan oleh media tentang adanyakasus dugaan korupsi yang telah menyeret nama Kementerian Agama sebagai lembaga negara yang mengurus tentang keagamaan di Indonesia.PEMBAHASANBerita yang ditampilkan, diseleksi dari sejumlah realitas. Dengan adanya pemberitaan yang terdapat dalam media massa, maka akan muncul suatu kondisi yang disebut dengan terpaan media. Terpaan (exposure) merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang terjadi pada individu dan kelompok (Kriyantono, 2008:205).Menurut Steven M. Chaffee dalam melihat efek yang ditimbulkan oleh pesan media massa adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa, yaitu:1. Efek Kognitif, efek ini terjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau pun dipersepsi oleh khalayak. Kognitif berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, dan informasi.2. Efek Afektif, efek ini terjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi ataupun dibenci oleh khalayak. Perubahan pada segi afektif ditunjukkan dengan perubahan perasaan, emosi, sikap ataupun nilai.3. Efek Behavioral, efek behavioural merujuk pada perubahan perilaku nyata yang dapat diamati. Seperti pola-pola tindakan, kegiatan, dan kebiasaan berperilaku. (Rakhmat, 2007: 219)Dari penjelasan diatas, dapat terlihat bahwa media massa memiliki efek yang sangat kuat dalam penyampaian informasi dan pemenuhan kebutuhan khalayak. Dalam hal ini terlihat bahwa pemberitaan di media massa mengenai kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama telah memberikan lebih banyak efek kognitif kepada para khalayak. Apa yang mereka peroleh dari media massa, telah memberi banyak pengetahuan baru.Jalaludin Rakhmat (2007:53) menambahkan bahwa efek media dikuatkan atas hasil ekspos pengulangan suatu berita. Pengulangan pesan yang berkali-kali di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, dapat memperkokoh dampak media massa itu sendiri. Masyarakat akhirnya tidak mempunyai alternatif lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya melalui media massa. Dengan adanya terpaan dari media massa dapat menyebabkan masyarakat menerima beberapa informasi baru yang mungkin tidak diinginkan oleh masyarakat itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam seringnya pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran Kementerian Agama diberbagai media massa yang menceritakan tentang perkembangan kasus tersebut yang menyeret nama lembaga tinggi negara yaitu Kementerian Agama. Pemberitaan tersebut dapat mempengaruhi citra Kementerian Agama yang banyak disorot dalam kasus ini.Citra (image) diyakini sebagai realitas yang tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Citra adalah kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Pemahaman itu sendiri timbul karena adanya informasi (Kasali, 2003:30). Media massa bekerja untuk menyampaikan informasi, bagi khalayak,informasi tersebut dapat membentuk, mempertahankan atau mendefinisikan citra. Persepsi dihasilkan dari bagaimana masyarakat menerima dan mengolah informasi yang diterimanya. Jika informasi buruk, maka persepsi akan buruk, demikian sebaliknya. Informasi itu dapat membentuk, mempertahankan atau meredefinisikan citra (Rakhmat, 2007: 224).Cumulative Effects Theory dari Elisabeth Noelle-Neuman menyimpulkan bahwa media tidak punya efek langsung yang kuat tetapi efek itu akan terus menguat seiring dengan berjalannya waktu. Cumulative Effects Theory menyatakan bahwa tidak ada yang bisa menghindari media, karena sudah ke mana-mana, atau pesan media (Vivian, 2008: 472). Informasi tentang pemberitaan kasus korupsi pengadaan Al Quran Kementerian Agama secara perlahan-lahan terangkai dan membentuk sebuah realitas secara utuh yang dikonsumsi oleh masyarakat. Perulangan melalui berbagai macam media seperti media cetak, elektronik, dan digital yang memuat kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran ini juga dapat berpengaruh pada citra Kementerian Agama di masyarakat.Hubungan Terpaan Pemberitaan Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di Media Massa (X) dengan citra Kementerian Agama di Masyarakat (Y)N=96 Terpaan Pemberitaan Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di Media Massa (X) Citra Kementerian Agama di Masyarakat (Y) Total Tinggi Cukup Rendah Tinggi 5 (55,55%) 4 (44,44%) 0 (0%) 9 (100%) Cukup 9 (33,33%) 10 (37,03%) 8 (29,62%) 27 (100%) Rendah 8 (13,33%) 44 (73,33%) 8 (13,33%) 60 (100%)Dari tabel di atas menunjukkan bahwa dari 9 responden, 55,55% yang terkena terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama tinggi memberi nilai tinggi untuk citra Kementerian Agama di masyarakat. Sedangkan sisanya sebesar 44,44% memberi nilai cukup.Dapat dilihat pula sebanyak 37,03% dari 27 responden yang cukup mendapat terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama memberi nilai cukup untuk citra Kementerian Agama di masyarakat. Sedangkan 33,33% memberi nilai tinggi dan 29,62% yang memberi nilai rendah.Kemudian dapat dilihat pula sebanyak 73,33% dari 60 responden yang mendapat terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama rendah memberi nilai cukup untuk citra Kementerian Agama di masyarakat. Sedangkan yang memberi nilai tinggi dan rendah sama-sama 13,33%.Penjelasan di atas menunjukkan bahwa tidak ada kecenderungan hubungan antara terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di media massa denga citra Kementerian Agama di masyarakat. Sebab, responden yang terkena terpaan rendah menilai cukup pada citra Kementerian Agama. Responden dengan terpaan cukup juga menilai cukup terhadap citra Kementerian Agama. Dan responden dengan terpaan tinggi memberikan nilai yang tinggi terhadap citra Kementerian Agama. Hal ini menunjukkan citra Kementerian Agama di masyarakat tidak dipengaruhi oleh pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama. Dengan demikian, hipotesis hubungan positif yang sebelumnya dibentuk tidak terbukti.PENUTUPMedia massa memiliki pengaruh dalam membentuk citra suatu lembaga, individu, ataupun fenomena yang terjadi di masyarakat. Dari pemberitaan negatif yang mendominasi media mengenai kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama dapat menimbulkan pengaruh kepada penilaian masyarakat yang mengikuti peristiwa tersebut. Citra Kementerian Agama yang dalam hal ini merupakan pemilik program pengadaan ikut terseret dalam pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran tentu dipengaruhi oleh pemberitaan di media massa. Ada juga beberapa masyarakat yang tidak mengetahui adanya campur tangan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan anggaran terhadap program pengadaan yang selama ini sudah dilakukan oleh Kementerian Agama sejak tahun 2009 ini.Hipotesis penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di media massa dengan citra Kementerian Agama di masyarakat. Artinya semakin tinggi terpaan berita kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama maka semakin tinggi pula citra Kementerian Agama di masyarakat.Namun, hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran dengan citra Kementerian Agama di masyarakat. Hal ini dilihat dari hasil tabulasi silang, dimana citraKementerian Agama menunjukkan nilai cukup baik dari mayoritas responden dengan terpaan rendah, cukup, dan citra tinggi untuk terpaan berita yang tinggi. Jadi disimpulkan bahwa hipotesis awal dari penelitian ini tidak terbukti.DAFTAR PUSTAKAKasali, Rhenald. 2003. Manajemen Public Relations: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kriyantono, Rakhmat. 2008. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.http://fokus.news.viva.co.id/news/read/332350-ketika-proyek-pengadaan-quran-ikut-dikorupsi diakses pada 15 September 2012.
Strategic Communication Museum Kereta Api Ambarawa Sebagai Area and General Affairs Manager Indra Septia BW; Djoko Setyabudi; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.505 KB)

Abstract

Museum Kereta Api Ambarawa merupakan salah satu peninggalan di Indonesia yang memilkipotensi pariwisata yang sangat besar. Maka dari itu melalui rangkaian kegiatan promosiStrategic Communication Museum Kereta Api Ambarawa bertujuan untuk mengangkat potensimuseum ini menjadi sebuah objek yang dikenal oleh masyarakat luas .Kegiatan Strategic Communication Museum Kereta Api Ambarawa tak lepas dari peran dariArea and General Affairs Manager . Area and General Affairs Manager adalah orang yangbertanggung jawab atas seluruh kebutuhan operasional tim dan kebutuhan operasionalkegiatan.Keberhasilan kinerja dari Area and General Affairs Manager dapat diukur dari terpenuhi atautidaknya seluruh kebutuhan operasional dan perijinan kegiatan. Dalam kegiatan ini.Kelancaran seluruh rangkaian kegiatan Strategic Communication Museum Kereta ApiAmbarawa sangat ditentukan dengan kinerja dari Area and General Affairs Manager
Strategi Komunikasi Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus dalam Meningkatkan Jumlah Pengunjung Museum Kretek Reski Rosalia; Hedi Pudjo Santoso
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.15 KB)

Abstract

The research is based on the phenomenon that happened at Museum Kretek. In 2017, Museum Kretek has decline the number of the visitors, and in 2014 to 2017 Museum Kretek can’t reach the target which has been determined. The problem of this research is how can the strategy of the marketing communication that used by culture and tourism office increase the number of visitor in at museum kretek. the aim of the research is to know and evaluate the strategy of marketing communication that used by culture and tourism office in Kudus in increasing the number of visitor at museum kretek. The method that used in this research is qualitative descriptive with research method study case on the strategy of the marketing communication at Museum Kretek wich done by culture and tourism office in Kudus. To collect the data, the writer uses interview with the subject of the research and the informan and she also uses the documentation from the archives of culture and tourism office in Kudus. Based on the result and the analysis of the research with using analysis data technique, wich is matching pattern and strategy communication done by culture and tourism office in Kudus in inceasing the number of the visitor at Museum kretek can be concluded that. 1. Communicating thhe program or a near thing in the some of media as a publication and promotion. 2. Establish cooperation with internal public and external. 3. Build many communication program to make the visitor more interested. 4. Doing innovation and improvement to infrastructure at Museum Kretek. 5. Improving the human resources for better service..
Facebook sebagai Media Personal Branding Danieta Rismawati; Agus Naryoso; Hedi Pudjo Santosa; Wiwied Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Facebook telah menjadi media sosial yang sangat popular digunakan saat ini. Media sosial ini memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk menjalin komunikasi interpersonal dengan pengguna lain baik yang sudah dikenal maupun orang asing. Hal ini membuat banyak orang tertarik menggunakannya. Hampir bisa dipastikan bahwa setiap manusia modern yang tidak asing dengan teknologi internet memiliki akun di Facebook. Update status menjadi fitur yang paling digemari pengguna Facebook karena melalui fitur ini pengguna dapat memposting apapun yang ada di dalam pikiran mereka. Dalam setiap posting yang dibuat di Facebook, seorang pengguna tengah melakukan pengungkapan diri. Pengungkapan diri yang dilakukan sengaja diatur agar dapat memunculkan kesan tertentu agar orang lain memiliki persepsi seperti yang diharapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengalaman komunikasi pengguna Facebook sebagai media personal branding. Penelitian ini menggunakan konsep Computer Mediated Communication (Beebee, 2005), pengungkapan diri atau self disclosure (Joe Luft dalam Devito, 2007), personal branding (Rampersad, 2008), dan konsep dramaturgi dalam teori interaksionisme simbolik (Goffman, 1959 dalam Mulyana, 2002). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam kepada dua orang informan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Facebook digunakan sebagai ajang pengungkapan diri oleh penggunanya. Dalam proses pengungkapan diri ini, pengguna dengan sengaja melakukan pengaturan atau manajemen kesan sebagai cara mereka membangun personal branding di lingkungannya. Tidak semua hal diungkapkan di Facebook. Hal-hal yang dapat merusak personal branding dan mempengaruhi kesan yang tampak di depan khalayak sengaja disembunyikan oleh pengguna. Personal branding dilakukan untuk membentuk kredibilitas agar khalayak memiliki kepercayaan terhadap pengguna dalam situasi tertentu, baik di dunia maya maupun di kehidupan nyata. Kata kunci: komunikasi interpersonal, CMC, pengungkapan diri, dramturgi, personal branding

Page 86 of 157 | Total Record : 1563