cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
HUBUNGAN FUNGSI KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KARYAWAN TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN PADA RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Roy Bagus Royyani; Drs. Wiwid Noor Rakhmad, M.I.Kom
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.736 KB)

Abstract

Communications committed to leadership and motivation of subordinates who provided the leadership to the subordinate is essential in the achievement of the objectives of the institution or organization, so as to increase the job satisfaction of subordinates, who were later promoted to the discipline and their work. This also applies at Regional psychiatric hospital Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Note that never happened because the employee demo leadership there is no transparency regarding the recruitment of manpower from BLUD demo several times occurred in 2008, 2010, and 2011. Then the leader should always attempt to direct, motivate them and behave as well as possible, so that their efforts can increase the individual satisfaction of his subordinates. The theory used in this research there are three, namely (1) transformational leadership theory , (2) Theory of hierarchy, and (3) a theory of Justice (Equity Theory). This research is a explanatory research that will explain the relationships between variables. The sample of this research is the mental hospital employee Area of Dr. Amino Gondohutomo Semarang, with the number of respondents i.e. 100 people that is divided into two, the nurse (medical) employees and non-medical employees. The analysis of the data used is cross-table test, test the correlation of spearman rho, and test the R Square. Hypothesis test results found that the leadership function variables have a strong link between employee job satisfaction, variable with the value of the coefficient of correlation with the level correlation 0.48 strong relationships. When both variables are functions of leadership and employee job satisfaction variables controlled with variable motivations of employees found that the original function of the leadership has strong relationships with employee job satisfaction, the relationship becomes weak. This means that functions that do the leadership is very high but employee motivation is weak, this making the job satisfaction of employees owned employees become weak. Overall job satisfaction not only can be measured from effectively functions done leadership but employee motivation can give impact on the level of job satisfaction of employees. That generates the view that to improve employee job satisfaction not only of effectively functions done leadership but also need to see from employee motivation, since employee motivation also has a large role towards increasing employee satisfaction.
Penerapan Standar Program Siaran Dalam Tayangan Pesbukers Pratiwi, Rifki Nur; Rahardjo, Turnomo; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.993 KB)

Abstract

JUDUL : Penerapan Standar Program Siaran dalam TayanganPesbukersNAMA : Rifki Nur PratiwiNIM : 14030110151007ABSTRAKSITelevisi dan penyiaran merupakan dua kata yang tidak dapat dipisahkandalam kehidupan manusia modern. Konsumsi akan kotak ajaib menjelma sebagaikebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat. Sayangnya, hiruk pikukperkembangan dunia pertelevisian mengalami sedikit permasalahan. Penyiarandianggap sebagai industri yang sangat menguntungkan hanya apabila mampumenuruti keinginan pasar. Market oriented menjadi sebuah isu yang krusialkarena mampu menggeser fungsi ideal media massa. Di sisi lain, KomisiPenyiaran Indonesia sebagai lembaga yang berwenang atas regulasi penyiaran diIndonesia, dianggap belum memiliki peran yang optimal dalam fungsipengawasan penyiaran. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya program siaranyang memperoleh sanksi administratif KPI, namun tidak menunjukkan perbaikandalam tayangannya, seperti tayangan Bukan Empat Mata, Silet, dan Pesbukers.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pelanggaran yang dilakukantayangan Pesbukers terhadap Standar Program Siaran, sehingga akan diketahuibagaimana penerapan SPS dalam sketsa reality tersebut. Analisis dilakukandengan metode analisis isi terhadap tayangan Pesbukers periode 1-31 Agustus2012, menggunakan sepuluh (10) kategori berdasarkan peraturan yangdikeluarkan KPI pada tahun 2012. Sebagai perbandingan, analisis juga dilakukanterhadap sanksi administratif yang dikeluarkan KPI sepanjang periode yang sama.Hasil penelitian menemukan bahwa tayangan Pesbukers melakukanbanyak pelanggaran. Dalam setiap episode ditemukan sedikitnya tiga kategoripelanggaran, yakni pelanggaran terhadap norma kesopanan dan kesusilaan,pelanggaran terhadap perlindungan orang tertentu, serta pelanggaran terhadapadegan kekerasan, ungkapan kasar, dan makian. Pelanggaran lain yang ditemukanadalah pelanggaran terhadap privasi, pelanggaran terhadap pembatasan adeganseksualitas, pelanggaran terhadap perlindungan anak, pelanggaran terhadaplingkungan pendidikan, serta pelanggaran terhadap pembatasan tayangan mistikdan supranatural.Penelitian ini juga menemukan bentuk inkonsistensi KPI dalampelaksanaan pengawasan isi siaran, ditunjukkan dari pelaksanaan sanksipemberhentian sementara tayangan Pesbukers yang baru dijalankan 6 bulansetelah sanksi dikeluarkan. Selain itu, KPI tidak konsisten dalam pemberiansanksi administratif. Selama bulan Agustus 2012 ditemukan 5 teguran terhadapprogram yang melakukan pelanggaran identik dengan Pesbukers, namun tidakditemukan satu pun teguran terhadap tayangan ini.Kata kunci: penyiaran, analisis isi, Pesbukers, KPITITLE : The Implementation of The Broadcasting Program Standardin Pesbukers ProgramNAME : Rifki Nur PratiwiNIM : 14030110151007ABSTRACTTelevision and broadcasting are inseparable words in the modern life. Theconsumption of this “magic box” become primary needs for almost human being.Unfortunately, television development has a little problem. As a form of marketindustry, broadcasting is considered to give benefit only if it can follow themarket. This issue becomes a crucial one that able to replace the ideal function ofmass media. On the other hand, the Indonesian Broadcasting Commission (KPI)as an independent institution who makes the regulation of broadcasting inIndonesia, is considered do not have optimal role in the supervision function ofbroadcasting. There are many broadcast programs that gain administrativesanctions, but never make a better improvement, such as Bukan Empat Mata,Silet, and Pesbukers.This research aims to study the violations in Pesbukers program based onBroadcasting Program Standard (SPS), and to know the application of SPS in thissketch reality. The analysis used in this research was content analysis fromAugust 1st until 31st of 2012 period, using ten (10) categories based on theregulations of KPI which issued on 2012. For comparison, this research alsoanalized the administrative sanctions which was released by KPI during the sameperiod.The final results of the research find out that there are a lot of violationsvary in Pesbukers program. In every episode, at least three forms of violationfound, they are the violation to the norms of decency and morality issue, violationto the protection of special people, and violation to the scenes of violence, coarseexpressions, and invective issues. Other forms of violation found in here areviolation to human privacy issue, violation to the control of scene of sexualityissue, violation to child protection issue, violation to environmental educationissue, and violations to the control of impressions mystical and supernatural issue.This research also found the inconcistencies role of KPI about thesupervision of the broadcasting contents. It shown by implementations of lay-offsanctions that delayed for almost 6 months after it was released. Other form of itsinconcistencies was in granting administrative sanction. During August 2012,there are 5 warnings gave to several programs that showed forms of violationsimilar to Pesbukers programs, but there are no warning against these programs.Key words: broadcasting, content analysis, Pesbukers, KPIPenerapan Standar Program Siaran Dalam Tayangan PesbukersPENDAHULUANKebutuhan akan media televisi bagi masyarakat modern merupakankebutuhan primer yang tak terelakkan. Konsumsi akan media ini berawal saatbangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Sayangnya, besarnya kebutuhanakan media tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas isi siaran. Produsenprogram siaran lebih mementingkan rating dan pasar tanpa mempertimbangkandampak siaran mereka bagi konsumen. Mengutip pernyataan yang digunakanMorissan dalam buku Jurnalistik Televisi Mutakhir, walaupun banyak televisiswasta bermunculan di Indonesia, namun belum satu pun yang menunjukkanprofesionalismenya (Morissan, 2004:3).Data yang dihimpun oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) JawaTengah menyatakan bahwa “sedikitnya 30% acara di televisi nasional dan radiomengandung unsur pornografi dan pornoaksi”. (http://tvku.tv/v2010b/index.php?page=stream&id=4883, diakses pada 27 Juni 2012 pk 22.01). Disampingpornografi, terdapat masalah lain yang muncul dalam dunia penyiaran Indonesia.Problematika tersebut antara lain: tayangan sinetron, drama dan varietyshow yang menonjolkan unsur kekerasan, umpatan kasar, kalimat tidak sopan danalur cerita tidak masuk akal; tayangan infotainment yang tidak mendidik danhanya mencari aib seseorang; liputan jurnalistik yang cenderung menguntungkankepentingan pihak tertentu, terkesan provokatif dan kurang memenuhi standaretika jurnalistik, serta tayangan yang menonjolkan sisi dunia mistis dan gaib yangtidak rasional.Untuk mengawasi isi siaran, Indonesia sudah memiliki lembaga yangmemiliki fungsi dan wewenang khusus dalam dunia penyiaran, yakni KomisiPenyiaran Indonesia (KPI). Namun, peran KPI saat ini bisa dikatakan kurangoptimal. Beberapa program siaran, meskipun mendapat berkali-kali teguranbahkan hingga dihentikan penayangannya, masih tetap ditayangkan oleh lembagapenyiaran yang bersangkutan. Sebut saja Bukan Empat Mata, infotainment Silet,dan Pesbukers.Banyaknya program penyiaran yang mendapat teguran KPI membuktikanjika kelayakan isi siaran di Indonesia sebenarnya masih relatif rendah.Permasalahan baru muncul karena meskipun teguran sudah dilayangkan, tayanganyang disediakan masih relatif sama tanpa perubahan yang cukup signifikan.Tayangan Pesbukers misalnya, dalam sebulan pertama penayangannya sudahmemperoleh teguran KPI. Tidak sampai setahun kemudian, setelah beberapa kaliteguran tertulis, KPI memutuskan untuk memberi sanksi administratif berupapenghentian sementara.Berdasarkan fakta di atas, permasalahan dalam penelitian ini merumuskantentang penerapan Standar Program Siaran dalam program acara Pesbukers.ISIPenelitian ini menggunakan metode analisis isi, untuk memperolehinformasi yang detail berkaitan dengan penerapan SPS dalam tayangan Pesbukers.Analisis dilakukan terhadap acara ini selama satu bulan penuh, yakni episode 1hingga 31 Agustus 2012. Di periode yang sama, juga dilakukan analisis terhadapteguran yang dikeluarkan oleh KPI. Keduanya kemudian digabungkan dandikaitkan untuk memperoleh deskripsi tentang peran KPI dalam pengawasan isisiaran di Indonesia.Definisi siaran sesuai Pasal 1 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dangambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupuntidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran. Sedangkan isisiaran merupakan seluruh materi program siaran yang disiarkan melalui lembagapenyiaran. Isi siaran mencakup segala bentuk siaran, baik berupa gambar, suara,maupun teks. Dalam hal ini, iklan juga tercakup dalam isi siaran.Regulasi tentang konten penyiaran sudah diatur secara rinci dalam UUtersebut, antara lain dalam pasal 36 sebagai berikut: Ayat 1: Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, danmanfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan,kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkannilai-nilai agama dan budaya Indonesia. Ayat 4: Isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakankepentingan golongan tertentu. Ayat 5: Isi siaran dilarang: a. bersifat fitnah, menghasut, menyesatkandan/atau bohong; b. menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian,penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang; atau c. mempertentangkansuku, agama, ras, dan antargolongan. Ayat 6: Isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/ atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, ataumerusak hubungan internasional.Televisi idealnya berperan sebagai ruang pemberian informasi dan sebagaimedia jalinan komunikasi antar sesama warga dan sesama komponen dalammasyarakat (Wahidin, dkk, 2006: 4). Dalam prakteknya, fungsi penyiaran taklebih dari sekedar media untuk mencari keuntungan komersial. Perkembangantelevisi lebih banyak memberikan efek negatif bagi kehidupan, terutama ketikabanyak program siaran yang melakukan pengabaian terhadap kepatutan sosial.Surbakti dalam bukunya Awas Tayangan Televisi menyebut jika saat ini banyakprogram siaran yang bermutu rendah (2008:64).Permasalahan ini bukan satu-satunya problem yang dimiliki media.Menurut Paul Johnson (Dahlan, 2008 :469), ada tujuh „dosa besar‟ apabila sebuahmedia tidak dikelola secara hati-hati, yakni: distorsi informasi, dramatisasi faktapalsu, mengganggu privacy, pembunuhan karakter, eksploitasi seks, meracunipikiran anak-anak, serta penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).Besarnya efek yang mampu ditimbulkan media penyiaran menjadi landasanpentingnya keberadaan kontrol negara atas sistem penyiaran yang berlaku. PeranKomisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga pengawas penyiaran sangatdiperlukan untuk menjamin khalayak memperoleh tayangan yang layak. KPI padahakikatnya merupakan jembatan di antara lembaga penyiaran dengan masyarakatyang memerlukan media untuk saling berkomunikasi (Wahidin dkk, 2006:4).Keberadaan KPI dan KPID merupakan fasilitator dalam menjembatani apayang disampaikan lembaga-lembaga penyiaran dengan aspirasi masyarakat.Lembaga ini memiliki peran dan kewenangan khusus dalam regulasi penyiaranyang diatur dalam Undang-undang. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002menyatakan bahwa KPI dibentuk untuk menciptakan sistem penyiaran nasionalyang dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kepentinganmasyarakat serta industri penyiaran di Indonesia.Sesuai Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 01/P/KPI/05/2009tentang Kelembagaan KPI, tugas KPI di bidang pengawasan isi siaran mengaturbeberapa poin sebagai berikut:a) penyusunan peraturan dan keputusan KPI yang menyangkut isi penyiaran;b) pengawasan terhadap pelaksanaan dan penegakan peraturan KPImenyangkut isi penyiaran;c) pemeliharaan tatanan informasi nasional yang adil, merata, seimbang;d) menampung, meneliti dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, kritik, danapresiasi masyarakat terhadap penyelenggaran penyiaran;Hasil analisis isi terhadap 10 (sepuluh) kategori dalam SPS selama periode1-31 Agustus 2012 menunjukkan bahwa dalam setiap episode, Pesbukersmengandung paling sedikit tiga kategori pelanggaran terhadap SPS. Yaitupelanggaran terhadap norma kesopanan dan kesusilaan, pelanggaran terhadapperlindungan orang dan masyarakat tertentu, serta pelanggaran terhadappembatasan adegan kekerasan, ungkapan kasar dan makian.Pelanggaran lain yang ditemukan yaitu pelanggaran terhadap privasi(74,07%), pelanggaran terhadap perlindungan anak (7,40%), pelanggaran terhadaplingkungan pendidikan (3,70%), pelanggaran terhadap adegan seksualitas(55,55%), serta pelanggaran terhadap pembatasan tayangan mistik dansupranatural (3,70%). Hanya terdapat dua kategori yang tidak terdapatpelanggaran, yaitu kategori penghormatan terhadap nilai SARA serta kategoripembatasan terhadap materi rokok dan NAPZA.Hasil analisis terhadap teguran sepanjang bulan Agustus 2012, menemukanjika KPI mengeluarkan 24 peringatan, dengan perincian satu imbauan, limaperingatan tertulis, 15 (lima belas) teguran tertulis, serta tiga teguran tertuliskedua. Jenis tayangan yang memperoleh sanksi terbanyak adalah iklan (37,5%)atau sebanyak sembilan iklan, diikuti tayangan Ramadan sebesar 29,17%.Program tayangan asing berada di urutan ketiga dengan jumlah teguran sebanyaktiga acara (12,5%), program jurnalistik sebesar 8,33%. Sementara acara musikyaitu inbox, tayangan talkshow Bukan Empat Mata, dan tayangan Jendela duniamasing-masing mendapat satu buah sanksi administratif.Sebagai bentuk implementasi otoritas dalam pelaksanaan pengawasanpenyiaran di Indonesia, KPI memiliki hak untuk memberikan sanksi administratifbagi tayangan yang melanggar Standar Program Siaran. Dalam kenyataannya,fungsi pengawasan KPI terhadap materi dan substansi dari isi siaran sangatterbatas. Terlihat dari wewenang maksimal KPI yang hanya sebatas sanksipemberhentian sementara untuk pelanggaran berkaitan dengan isi siaran. Artinya,jika sebuah program siaran yang dinyatakan melanggar SPS sudah melaksanakansanksi administratif yang dikeluarkan, program tersebut bebas untuk tayang lagi.Padalah, sanksi terberat berupa penghentian sementara dijatuhkan setelah melaluibeberapa tahap, seperti teguran tertulis, peringatan tertulis pertama, sertaperingatan tertulis kedua.Di sisi lain, KPI sebenarnya memiliki wewenang untuk memberikan sanksiberupa denda, pembekuan ijin siaran, hingga pencabutan ijin siaran. Namun haltersebut hanya diberikan kepada pelanggaran yang berkaitan dengan iklan niaga.Keterbatasan inilah yang menyebabkan banyaknya program siaran merasa tidaksungkan untuk melakukan pelanggaran berulang kali. Lembaga penyiaran sepertimendapat celah untuk tetap menjalankan program siaran andalan merekameskipun telah mendapatkan sanksi berulang-ulang.Kasus ini terlihat jelas dalam tayangan Pesbukers. Meskipun teguranberulang kali diberikan, tidak membuat acara ini memperbaiki konseptayangannya. Disinilah bukti adanya dominasi faktor ekonomi dalam penyiaran -menjadikan media sebagai capitalist venture (Sudibyo, 2004:7). Iklan menjadisatu-satunya target industri televisi. Observasi yang dilakukan menemukan jikaporsi iklan dalam tayangan ini terbilang sangat besar. Selama 90 menit mengudarayang terbagi dalam empat segmen, jumlah slot iklan bisa mencapai 20 hingga 25per segmen.Jumlah slot iklan di atas belum termasuk promosi dalam bentuk productplacement. Product placement adalah jenis advertising yang menggabungkansebuah produk atau brand ke dalam sebuah film atau serial televisi (Lehu,2007:1). Penempatan product placement dalam tayangan Pesbukers terbilangcukup besar. Di setiap episode, dapat ditemukan 2 hingga 4 bentuk promosi ini.Banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh tayangan Pesbukers ternyatabukan satu-satunya permasalahan yang ditemukan. Dalam kenyataannya,pelaksanaan sanksi administratif ternyata tidak benar-benar dipatuhi oleh programyang ditayangkan stasiun ANTV ini. Karena pemberhentian sementara bulan Juli2012 baru dijalankan oleh stasiun televisi ANTV pada bulan Januari 2013.Meskipun pelaksanaan sanksi berjarak sekitar 6 (enam) bulan daridikeluarkannya peraturan, pihak ANTV merasa hal tersebut merupakan sesuatuyang wajar. Grand Manager Corporate Communications ANTV, Zoraya Peruchabahkan mengatakan jika selama ini pihaknya selalu mematuhi peraturan KPItentang SPS. (Sumber: http://celebrity.okezone.com/read/2013/01/04/533/741594/antv-stop-tayangkan-pesbukers-mulai-besok diakses pada 3Mei 2013 pukul 11.03).Disamping pelaksanaan sanksi administratif yang molor selama 6 bulan,penelitian ini juga menemukan bentuk inkonsistensi KPI terhadap pemberiansanksi terhadap beberapa tayangan. Selama bulan Agustus 2012 ditemukanbeberapa teguran terhadap acara dengan pelanggaran yang identik denganpelanggaran Pesbukers. Namun, tidak ditemukan satu pun teguran terhadaptayangan yang diproduksi Ekomando selama periode tersebut.PENUTUPIndustri televisi dikenal sebagai industri yang mengutamakan pasar danrating. Kenyataan ini menggiring kepada pemikiran yang menganggap iklansebagai „Tuhan‟ bagi bisnis tersebut. Karena orientasinya hanya pada keuntunganekonomis, banyak tayangan yang pada akhirnya mengesampingkan nilai dannorma yang dianut dalam masyarakat.Selama ini media massa dikenal memiliki pengaruh besar dalamkehidupan bermasyarakat. Ironisnya, kepentingan pemilik modal memaksa mediauntuk mengabaikan sistem dan tatanan sosial, dan beralih kepada kepentingansegelintir pihak yang hanya berharap memperoleh untung besar. Standar ProgramSiaran yang seharusnya menjadi pedoman dalam penyelenggaraan duniapenyiaran tidak dilaksanakan secara maksimal.Berdasarkan hasil analisis isi yang dilakukan terhadap tayangan Pesbukers,terlihat bahwa penerapan SPS dalam acara ini masih rendah. Kesimpulan inidiambil karena dalam setiap episode-nya, Olga dkk minimal melakukan tiga jenispelanggaran. Pelanggaran tersebut adalah pelanggaran terhadap norma kesopanandan kesusilaan, pelanggaran terhadap perlindungan orang tertentu, sertapelanggaran terhadap adegan kekerasan, ungkapan kasar, dan makian.Berdasarkan fakta tersebut, penulis merumuskan beberapa saran gunaperbaikan dalam dunia penyiaran tanah air. Saran pertama adalah menggantisanksi pemberhentian sementara dengan denda administratif. Sanksi ini berlakubagi program siaran yang telah memperoleh lebih dari dua kali teguran dalamjangka satu tahun. Pemberian denda ini lebih kepada jalan tengah bagi programsiaran “bandel” yang tidak mungkin merelakan programnya diberhentikan secarapermanen, namun akan cukup memberikan efek jera karena pihak pemilik modaldiwajibkan mengeluarkan sejumlah materi tertentu.Disamping sanksi denda, pemerintah sebaiknya memberikan otoritaspenuh bagi KPI untuk memberhentikan secara permanen program siaran yangmemperoleh lebih dari 1.000 (seribu) aduan masyarakat. Sejauh ini programyang memperoleh banyak complain dari pemirsa hanya diberikan sanksi berupateguran dan peringatan. Padahal banyaknya keluhan yang masuk merupakanindikasi jika masyarakat tidak nyaman dengan tayangan tersebut. Dengan adanyarevisi pada poin ini, KPI akan lebih leluasa dalam menjalankan fungsinya dalamrangka menjamin khalayak memperoleh tontonan yang layak dan berkualitas.Saran terakhir adalah mendirikan LSM yang berfungsi sebagai „mediawatch’ atau pengawas penyiaran, yang mampu berperan aktif dari dua sisi.Disamping mengawasi konten penyiaran, lembaga ini juga sekaligus mengawasiKPI dalam pelaksanaan perannya. Dengan keberadaan lembaga ini, KPI akanmerasa termotivasi sehingga dapat melaksanakan peran dengan maksimal.DAFTAR PUSTAKADahlan, M. Alwi. 2008. Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia. Jakarta:Kompas Media NusantaraLehu, Jean-marc. 2007. Branded Entertainment Product Placement & BrandStrategy in the Entertainment Busuness . London: MPG BooksMorissan. 2004. Jurnalistik Televisi Mutakhir. Bogor: Ghalia IndonesiaSudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta: LkiS.Surbakti, EB. 2008. Awas Tayangan Televisi – Tayangan Misteri dan KekerasanMengancam Anak Anda. Jakarta: Elex Media KomputindoWahidin, Samsul dkk. 2006. Filter Komunikasi Media Elektronika. Yogyakarta:Pustaka PelajarSumber Undang-undang dan Peraturan PemerintahRepublik Indonesia. 2002. Undang-undang-undang Nomor 32 Tahun 2002Tentang Penyiaran. JakartaRepublik Indonesia. 2012. Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor01/P/KPI/05/2009 Tentang Kelembagaan KPI. JakartaSumber InternetDhanang Setyana. 2012. KPID Jateng: 30% Siaran TV – Radio BermuatanPornografi. Dalam http://tvku.tv/v2010b/index.php? page=stream&id=4883 diakses pada 27 Juni 2012Edi Hidayat. 2013. ANTV Stop Tayangkan Pesbukers Mulai Besok. Dalamhttp://celebrity.okezone.com/read/2013/ 01/04/533/741594/antv-stoptayangkan-pesbukers-mulai-besok diakses pada 3 Mei 2013
Manajemen Konflik dan Negosiasi Wajah dalam Budaya Kolektivistik (Konflik Pembangunan Bandara di Kulon Progo) Yuni Pamungkas, Anjar Mukti; Rahardjo, Turnomo; Dwiningtyas, Hapsari; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.052 KB)

Abstract

Pembangunan diartikan sebagai usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat dan warganya. Seringkali, pembangunan yang ada di daerah menyebabkan konflik dengan masyarakat daerah tersebut, contohnya yaitu konflik pembangunan bandara internasional Kulon Progo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab konflik, kendala untuk mengurangi konflik dan manajeman konflik.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan paradigma intrepretif. Cara pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (in-depth interview). Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Face Negotiation Theory dan Standpoint Theory.Dari hasil penelitian diketahui bahwa pemicu konflik yaitu program pembangunan bandara, perbedaan pandangan antara dua kubu, adanya provokator dan anggapan bahwa pembangunan menyengsarakan kehidupan. Kendala dalam mengurangi konflik yaitu perbedaan pandangan antarkubu, adanya provokator dan anggapan pembangunan menyengsarakan kehidupan.Dari hasil penelitian diketahui bahwa masyarakat pro pembangunan yang memiliki kekuasaan melakukan intimidasi kepada masyarakat kontra yang tidak memiliki kekuasaan. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi konflik melalui penghindaran (avoiding) dan pengungkapan emosi (emotional expression). Perlu dilengkapi dengan bantuan pihak ketiga (third party help) untuk mengurangi konflik di masyarakat.
PERILAKU HUMBLEBRAG SEBAGAI PENYAJIAN DIRI DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM (STUDI SEMIOTIKA PADA AKUN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM) Ajeng Gendari Sayang; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.548 KB)

Abstract

Instagram adalah media sosial yang memungkinkan para penggunanya untuk saling berinteraksi dan berbagi informasi termasuk juga menyediakan kesempatan baru untuk penyajian diri. Humblebrag merupakan strategi yang dilakukan seseorang untuk menyajikan dirinya di media sosial. Gaya online performance tersebut mendorong munculnya micro-celebrity di media sosial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana humblebrag dilakukan oleh micro-celebrity pada akun media sosial Instagram dalam pemilihan, pengombinasian, penggunaan tandatanda tertentu, sehingga mempunyai makna dan menggambarkan citra diri. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika dan teori yang digunakan adalah Perencanaan. Hasil dari pemaknaan menunjukkan terdapat beberapa bentuk humblebrag yang dilakukan sebagai strategi penyajian diri lewat konten foto dan teks yang diunggah oleh akun media sosial Instagram micro-celebrity.
Representasi Perempuan dalam Budaya Patriarki (Studi Semiotika pada Film Sang Penari) Jenny Putri Avianti; Hedi Pudjo Santosa; Turnomo Rahardjo; M Bayu Widagdo; Hapsari Dwiningtyas
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.024 KB)

Abstract

Film merupakan media massa yang paling efektif untuk menyebarkan ideologi-ideologi baru pada masyarakat. Sekarang ini, sebuah film dapat berpengaruh terhadap perilaku sosial dalam masyarakat, tentunya sesuai dengan pesan apa yang di dapat dari sebuah film yang mereka nikmati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika untuk menganalisa obyek audio-visual yang diteliti. Teknik analisa data menggunakan teori John Fiske “the codes of television”. Film Sang Penari diuraikan secara sintagmatik pada level realitas dan level representasi. Sedangkan penguraian level ideologi menggunakan analisa secara paradigmatik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perempuan di representasikan dalam film Sang Penari. Film ini menggambarkan budaya patriarki yang sangat lekat dengan budaya Jawa. Ketimpangan gender dan penindasan terhadap perempuan penari ronggeng memunculkan wacana yang berkembang di masyarakat bahwa ronggeng identik dengan kekerasan dan praktik pelacuran terselubung. Penggunaan istilah “tradisi” menjadikan penari ronggeng sebagai wanita terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di masyarakat. Akan tetapi, status terhormat tersebut hanya untuk melegalkan proses pelacuran terselubung pada penari ronggeng. Hasil dari penelitian ini yakni perempuan pekerja seni terutama penari ronggeng dalam film Sang Penari hanya dianggap sebagai penghibur laki-laki bukan perempuan yang memiliki bakat bernyanyi dan menari. Film ini juga menunjukkan kemandirian dan kemampuan perempuan penari ronggeng sebagai seorang penghibur atau seniman. Kata kunci : Film, Perempuan, Patriarki
Strategy Marketing Communications Department of Tourism and Cultural district of Jepara In Ascending The number of visitors Tirta Samudra Beach Dwi Ratnasari, Yusniar; Setyabudi, S.Sos, MM, Djoko
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.439 KB)

Abstract

The research is based on the phenomenon occurred, ie an increase in the number of tourists significantly in 2011 to 2014 to the area attractions Tirta Beach Samudra.Permasalahan this study is how the Strategic Marketing Communications Department of Tourism and Culture District of Jepara in Increasing Number of Visitors Tirta Samudra Beach , This study aims to determine the marketing communication strategy that used the Department of Tourism and Cultural district of Jepara in increasing the number of visitors Tirta Samudra Beach in Jepara. The method used in this research is descriptive qualitative case study method in the marketing communication strategy of Tourism and Culture to Tirta Samudra Beach. Data collection techniques used were interviews with research subjects and informants as well as documentation from the archives of the Department of Tourism and Cultural district of Jepara. Based on the results of research and discussion as well as using data analysis techniques using pairing pattern of the theory that predicted the pattern found in lapanganyaitu with the object of research is the communication strategy Department of Tourism and Cultural district of Jepara in increasing the number of visitors Turkish Tirta Samudra, it can be concluded that 1) Communicating program or a new thing in a variety of attractions as a form of publicity and promotion. 2) Establish communication with internal and external public. 3) Increase the events of Tourism and Cultural district of Jepara. 4) Promotion through media publications; internet, outdoor media, sales trip dll..5) Establish communication with mass media and the press in order to establish a good relationship.
BINGKAI MEDIA TENTANG PEMBERITAAN JATUHNYA PESAWAT SUKHOI SUPER JET (SSJ) 100 DI GUNUNG SALAK (Analisis Framing Harian Kompas dan Suara Merdeka) Prastiwi, Krisna
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.628 KB)

Abstract

Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa media memberitakan secara berbeda peristiwa yang sama. Perbedaan itu terjadi karena peristiwa tersebut dipahami dan dikonstruksi secara berbeda oleh media. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bingkai yang dilakukan oleh media Nasional (Kompas) dan media lokal (Suara Merdeka) dengan kasus yang diteliti yaitu peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak Bogor Jawa Barat. Media massa yang dijadikan objek penelitian adalah harian Kompas dan Suara Merdeka pada tanggal 10 - 24 Mei 2012. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah analisis framing, yaitu analisis yang digunakan untuk melihat bagaimana pesan atau peristiwa dikonstruksi oleh media dan disajikan kepada khalayak, dengan mengembangkan analisis framing dari Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki (2007). Model ini membagi perangkat framing dalam empat struktur besar, yaitu struktur sintaksis, struktur skip, struktur tematik, dan struktur retoris.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan Kompas dan Suara Merdeka dalam peristiwa tersebut menuju pada tujuan yang sama yaitu untuk memberitakan mengenai perkembangan yang terjadi mengenai jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak. Tetapi, Kompas dalam hal ini lebih menyoroti pada sisi ekonomi, yakni mengenai kerugian yang ditanggung oleh Sukhoi pasca jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak. Selain itu, model pemberitaan yang mendukung sikap Kompas dengan menonjolkan sisi humanisme transendental yakni dengan mengarahkan fokus dan tujuan pada nilai transenden atau mengatasi kepentingan kelompok. Sedangkan pada Suara Merdeka, lebih berani dalam memberitakan jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet100. Suara Merdeka berusaha sedetail mungkin dalam melakukan pemberitaan mengenai Sukhoi dari evakuasi korban, identifikasi korban , hingga menuliskan beberapa dugaan sabotase pada jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100. Selain itu Suara Merdeka juga memfokuskan pemberitaan pada sisi politik seperti dengan memberi pemberitaan berlebih pada Suharsono Monoarfa. Selain sikap dan frame yang berbeda, dari pemberitaan Kompas dan Suara Merdeka ada fakta yang terbentuk yaitu berita-berita mengenai kecelakaan bisa disikapi berbeda walaupun kejadian tersebut diberitakan sama oleh dua media. Perbedaan frame yang digunakan kedua media tersebut dalam pemberitaan mengenai jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak Bogor, Jawa Barat secara umum dipahami sebagai akibat dari faktor kebijakan yang ada dalam media yang mempengaruhi pemberitaan media tersebut dalam memandang suatu peristiwa.Kata kunci : framing, bingkai, Sukhoi, Kompas, Suara Merdeka
REPRESENTASI ORIENTALISME ASIA DALAM FILM CRAZY RICH ASIANS (Am I really Asian if I'm not Chinese?) Koesni Jannah, Soraya; Budi Lestari, Sri
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.546 KB)

Abstract

Film as a cultural product not only has inherited values and meanings, but also in the same time able to provide a picture of the culture and the role of each character that emerges. The formation of stigma about Asian characters that have been displayed often only looks at some viewpoints and does not generally represent the meaning of Asia itself. The aims of this research are to find out and analyze the narrative structure in Crazy Rich Asians movie’s and see how Asia is represented through Western point of view. Using a qualitative approach and a semiotic research method that refers to the semiotic theory of The Codes of Television by John Fiske who sees signs through three levels; reality, representation and ideology. Data was conducted by observing and interpreting the signs and symbols that was contained in the film of Crazy Rich Asians. The unit of analysis in this study is in the form of paradigms and syntagsm found at the level of reality, the level of representation, the level of ideology. The study concluded that Crazy Rich Asians film still used Western Orientalism`s point of view to identify the East by depicting Asian characters as Chinese ethnics, where there is still an assumption that Western culture is superior to Eastern culture which considered traditional and conservative. Like other Hollywood films, the director seems to agree with Asian stereotypes such as yellow skin, speaking using "Singlish" (Asian-English). Crazy Rich Asians use orientalism as commercialization, where the film can enter the world capitalist system by providing support for capitalism, especially transnational corporations such as Hollywood. Orientalism itself is used by directors to increase the sale value of films to audiences targeting Asian, Asian-American, and American (Western), by presenting Crazy Rich Asians from a Hollywood perspective.
MEMAHAMI PEMELIHARAAN HUBUNGAN ANTAR PRIBADI DALAM HUBUNGAN SUAMI DAN ISTRI YANG MEMILIKI PERBEDAAN TINGKAT PENGHASILAN Asri Rachmah Mentari; Sri Widowati Herieningsih; Agus Naryoso; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.564 KB)

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada ketidakmampuan seorang suami untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga mendorong istri untuk ikut bekerja menafkahi keluarga. Seorang istri yang bekerja dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi menimbulkan perubahan pembagian tanggung jawab dan peran dari masing-masing pasangan, perubahan tersebut memberikan dampak pada proses pemeliharaan hubungan, keseimbangan dan kepuasan hubungan diantara suami dan istri sebagai upaya menjaga keharmonisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman hubungan antar pribadi suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan terkait dengan proses pemeliharaan hubungan, dan untuk mengetahui kepuasan dan keseimbangan hubungan yang diperoleh pasangan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Relational Dialektic Theory (RDT), Equity Theory, dan konsep mengenai peran dalam keluarga, aspek-aspek pemeliharaan hubungan antar pribadi, dan aspek-aspek kepuasan hubungan antar pribadi. Teknik analisis yang digunakan adalah mengacu pada metode fenomenologi dari Von Eckartsberg, dan subjek penelitian adalah pasangan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam hubungan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan mengalami ketidakseimbangan pembagian tanggung jawab sehingga mengarahkan pada perubahan peran, selain itu pasangan suami dan istri merasakan adanya kontradiktif dalam diri mereka antara harapan dengan realita hubungan yang dijalani. Upaya pemeliharaan hubungan yang dilakukan masih pada tahap keakraban yaitu pasangan hanya saling terikat, berkomitmen dan membina primary relationship. Pasangan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan masih dimungkinkan memperoleh keseimbangan dan kepuasan hubungan, selama keduanya menilai perbedaan sebagai suatu hal yang konstruktif dan menerapkan sistem sharing. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode penelitian lain seperti metode studi kasus, dan dapat menemukan variasi pengalaman pada hubungan suami dan istri yang memiliki perbedaan tingkat penghasilan.
Produksi Program Radio “Jateng Pagi” di RRI PRO 1 Semarang (Pengarah Acara) Josinita Endah Juniarlin; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.655 KB)

Abstract

Radio Republik Indonesia merupakan radio tertua di Indonesia dan satu-satunya radio milik pemerintah yang memiliki visi mewujudkan lembaga penyiaran publik Indonesia sebagai radio berjaringan terluas, pembangun karakter bangsa, berkelas dunia. RRI memiliki jaringan yang sangat luas dari Aceh hinga Papua. Namun, masih banyak anak muda yang belum mengetahui Radio Republik Indonesia. Banyaknya radio-radio swasta yang bermunculan membuat popularitas RRI berkurang. Alasan utamanya adalah citra RRI sebagai radio berita dan radio untuk orang tua, sehinga kurang menarik bagi anak muda yang haus akan hiburan dan hal-hal terkini. Salah satu solusi adalah mengonsep kembali atau re-create program talk show “Jateng Pagi” dengan konsep yang baru dengan melibatkan mahasiswa sebagai narasumber dalam program ini dan menyasar anak muda sebagai target pendengarnya, sehinga diharapkan dapat kembali meningkatkan pendengar radio khususnya RRI PRO 1 Semarang. Selama pelaksanaan program ini, penulis bertugas pengarah kreatif yang bertugas merancang kembali “Jateng Pagi”. Hasil kuisioner paska produksi menunjukkan melalui produksi program talk show “Jateng Pagi”, tim karya bidang berhasil meningkatkan jumlah pendengar program “Jateng Pagi” RRI PRO 1 Semarang menjadi 81 pendengar. Begitu pula dengan pendengar aktif, yang setiap episodenya hanya 3 orang, dengan konsep yang baru kini “Jateng Pagi” berhasil meningkatkan 8 – 19 pendengar aktif di setiap episodenya.

Page 90 of 157 | Total Record : 1563