cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Representation of Racism Resistance on 12 Years a Slave Movie Ardian Widjaja; Dr. Sunarto, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.03 KB)

Abstract

Racism is one of the problem that will never end, from years ago that we knew as slavery era until now in the modern era where we have a lot of law that prohibit racism in the world but still based on data it’s exist. Almost the same with the current condition nowadays 12 Years a Slave is telling us about slavery era that happen in America when slavery is prohibited but in several parts of America number of slave and racism are increasing. A lot of Afro-America people is kidnapped and lost their freedom as a slave. But in the middle of this hard era of slavery so many people are fighting for their rights to be able to get a normal life and free like a normal people. The main objective of this research is to describe the resistance of Afro – American as the minority group in 12 Years a Slave movie to the racism from white people that is represented by sign both visual or linguistic in the movie. This research is a part of descriptive qualitative that is using Semiotic approach. The result of this research shown that the form of resistances are happening in so many form (closed, semi – open, and open). Started from conversation between slaves about their plan to run away, giving their opinion that explain and emphasize their opinions until their effort to run away by writing a letter that can help them to be a freeman if someone will read their letter. This movie shown how hard racism and discrimination that happen during slavery era at that time, but nothing is impossible and you can’t give up to fight for your rights and something that you suppose to get.
Pengaruh Terpaan Berita Satwa Laut yang Mati Akibat Sampah Plastik dan Kampanye Zero Waste terhadap Perilaku Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik Randyani Rarasati; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.895 KB)

Abstract

This study aims to determine the effect of news exposure about marine animals that killed by plastic pollution and zero waste campaigns toward the behavior of reducing the use of plastic bags. The theory used in this research is the effect of mass communication theory and Cognitive response theory. To determine the sample, this study uses a non-probability sampling technique by accidental sampling. The number of samples studied amounted to 60 people with the characteristics of men/women domiciled in the city of Semarang, aged 19-34 years, had heard and/or read news of marine animals killed by plastic pollution and had heard/known of the zero waste campaign. The results showed that the exposure of marine animals that killed by plastic pollutions to the behavior of reducing the use of plastic bags had no significance value, it showed that the hypothesis and the theory are rejected. Furthermore, the effect of zero waste campaign exposure on the behavior of reducing the use of plastic bags showed a significant influence with the positive regression, which means that the increase of zero waste campaign exposure directly proportional to the behavior of reducing the use of plastic bags.
REPRESENTASI PEMBISUAN WANITA DI DALAM RUBRIK OLAHRAGA “SPIRIT” PADA HARIAN UMUM SUARA MERDEKA Utomo, Dimas Herdy; Sunarto, Dr; Nugroho, Adi; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.616 KB)

Abstract

Surat kabar merupakan salah satu media massa yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. Artikel berita yang terdapat dalam surat kabar dapat menghasilkan representasi mengenai realitas yang sengaja di konstruksi-kan sesuai dengan kode-kode dan ideology yang dianut surat kabar tersebut. Rubrik olahraga “Spirit” pada harian umum Suara Merdeka adalah sebuah rubrik yang menggambarkan posisi wanita dalam hubungannya dengan dunia olahraga yang cenderung maskulin.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pembisuan wanita ter representasikan dari hal-hal yang terungkap dan terdapat dalam teks berita yang ditampilkan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Muted group yang dirintis oleh Antropolog Edwin dan Shirley Ardener dan teori representasi dari Stuart Hall. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika Rolland Barthes untuk meneliti kode-kode yang nampak dalam teks berita.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita dalam dunia olahraga hanya menarik khalayak dari segi fisiknya saja, wanita adalah Secondary Sex, dan budaya patriarki menjadi langgeng dengan stereotipe yang dikemukakan oleh media massa. Kesemua hasil penelitian yang ada dengan jelas telah merepresentasikan pembisuan yang ada dalam diri seorang wanita yang menjadi objek berita. Hal tersebut dapat dilihat dari ke-tujuh berita yang menjadi fokus penelitian. Saran dari penelitian yang dilakukan ini adalah arti penting dari jurnalisme media yang berprespektif gender.Keywords : Surat kabar, Representasi, Semiotika, Wanita
Pemaknaan Audiens terhadap Dollification Tokoh Utama Perempuan dalam Serial Drama Korea Goblin Umi Anizah, Nur; Dwiningtyas, Hapsari
Interaksi Online Vol 5, No 4: Oktober 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.328 KB)

Abstract

Goblin is one of the most popular South Korean drama series in the end of 2016 until the beginning of 2017. In the middle of its popularity, Goblin got several critiques for showing love story between a high school girl with an adult man and being judged strengthening the stigma of weak woman who needs man. Characterization of the heroine as high school student that is cute, young, and cheerful indicate the existence of dollification. This research focus on the use of fantasy theme analysis to see fantasy chain of Indonesian audience on the reception of dollification issue against heroine in Goblin drama.The main theory that being used in this research is Symbolic Convergence Theory. Collecting data technique was conducted by text analysis, focus group discussion, and indepth interview. The research was conducted to six audience of Goblin drama. The result of the research showed there are drawing and also losing fantasy chain on dollification theme. Drawing fantasy chain being identified through audience interpretation against appearance, youth soul, and sexuality of Ji Eun Tak as the heroine. On the appearance aspect, audience said that woman will be more attractive when physically looked young and thin. On the feminine appearance, female audience see femininity as value added of women’s beauty, meanwhile, male audience were not assume femininity as parameter of beauty. On the youth soul aspect, most of informants prefer the woman in a young demeanor so they can be protected by man in a relationship. While, on the sexuality aspect, informants interpret dollification of Ji Eun Tak as a form of power whose own by woman to decrease male domination. That power is interpreted positively by female audience, but it is interpreted negatively by male audience. Losing of fantasy chain happens when audience interpret text based on feminism perspective and the acceptance of dollification by male audience in this research. Drawing or losing of fantasy chain caused by several factors such as perspective of individual differentiation (sex, dating experience) and social category perspective of Korean drama fans group.
PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADA MAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIP Lia Faiqoh; Sunarto Sunarto; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.477 KB)

Abstract

PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADAMAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIPAbstrakKekerasan seksual sering kali muncul di sekitar kita, terutama seringmerugikan pihak perempuan. Namun, kebanyakan korban dari kekerasan tersebutjustru tidak banyak yang melaporkannya, salah satu bentuk yang paling seringdijumpai adalah pelecehan seksual. Pelecehan seksual diartikan sebagai suatukeadaan yang tidak dapat diterima, baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual danpernyataan-pernyataan yang bersifat menghina atau keterangan seksual yang bersifatmembedakan. Tindakan yang tidak diinginkan tersebut ternyata bukan saja terjadi diranah privat saja, melainkan sudah mengarah pada ruang publik dan dapat berasaldari orang-orang yang dikenal seperti teman-teman di lingkungan pendidikan.Fokus penelitian adalah untuk menggambarkan bagaimana maskulinisasidapat diterima oleh mahasiswi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Selain itu, untukmenjelaskan bentuk dan dampak pelecehan seksual yang terdapat dalam sebuahmaskulinisasi tersebut, dan ideologi yang digunakan di balik dominasinya.Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma kritis, dengan tipe penelitiandeskriptif. Manakala metode penelitiannya menggnakan Studi Kasus yang mengacupada Yin (2006). Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Teori utama penelitian iniadalah Muted Group Theory dari Cheris Kramarae.Hasil penelitian menggambarkan bagaimana pelecehan seksual dapat diterimadikalangan perempuan dalam sebuah dominasi kelompok, berkat hegemoni kelompokyang membuatnya semakin tersamar. Bentuk pelecehan yang dialami merekacenderung mengarah pada hostile environment, di mana berdampak terhadap keadaanpsikologis, berupa lontaran komentar-komentar maupun julukan seksis yangmendeskripsikan keadaan fisik mereka. Ideologi di balik dominasi mereka adalahPatriarki yang telah melebur dengan nilai-nilai di lingkungannya, sehinggamenjadikan suatu “kebiasaan laki-laki”, salah satunya pelecehan seksual yang telahdijadikan keadaan normal di kalangan perempuan.Kata kunci : Pelecehan Seksual, Dominasi, MaskulinisasiSEXUAL HARASSMENT: MASCULINIZATION OF FEMALE STUDENTIDENTITY ON ELECTRICAL ENGINEERING MAJOR OF DIPONEGOROUNIVERSITYAbstractSexual violence often appear around us, especially the often detrimental towomen. However, most of the violence victims didn’t make reports on it, one of themost common sexual violence is sexual harassment. Sexual harassment is defined asa situation that is unacceptable, whether verbal, physical or sexual cues andstatements that are sexually derogatory or discriminatory statements. The unwantedactions are apparently not only occur in the private sphere, but has led to the publicand can be derived from known people like friends in the educational environment.The focus of the research is to describe how the masculinization may beaccepted by the student in the Electrical Engineering Diponegoro University.Moreover, to explain the shape and impact of sexual harassment contained in a themasculinization, and ideology are used behind its dominance.This qualitative study using a critical paradigm, the descriptive type. Whereasthe research method is using the case study which refers to Yin (2006). Data obtainedfrom direct field observations and in-depth informant interviews to three informantsof the Electrical Engineering Diponegoro University students, by using the SnowballSampling technique. The main theory of this study is Muted Group Theory of CherisKramarae.The result of the research illustrates how sexual harassment is acceptableamong women in a group of domination, through to the hegemony group that make itmore subtle. The form of harassment experienced by women tends to lead to a hostileenvironment, where the impact on the psychological state, a burst of comments andsexist epithets describing their physical state. The ideology behind their dominance isPatriarchy which has merged with the values in the environment, making a "habit ofmen", one of which sexual abuse has become a normal state among women.Keywords: Sexual harassment, Domination, MasculinizationPendahuluanAkhir-akhir ini, pemberitaan mengenai kekerasan semakin marak diberitakan dimedia-media, baik cetak maupun elektronik. Bahkan tidak jarang media itu sendirijuga turut menjadi pelaku dari kekerasan. Di sini, kekerasan yang dimaksud tidakmelulu berkaitan dengan tindakan tembakan, pukulan atau dengan tetesan darah.Kekerasan adalah suatu penyerangan yang berakibat menyakiti seseorang, baikberupa verbal maupun non-verbal, dan dilakukan secara langsung maupun tidaklangsung. Jenis-jenis kekerasan juga dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satu yangsering menjadi sorotan adalah Kekerasan Berbasis Gender (KBG).Dalam sebuah seminar berjudul “Gender-Based Violence In A RomanticRelationship” (Anonim, 2012), Murnizam Halik PH.D, seorang Dekan Psikologi diUniversitas Malaysia Sabah (UMS) sekaligus narasumber seminar, mengungkapkanGender Based Violence atau Kekerasan Berbasis Gender merupakan serangkaianpenganiayaan yang dilakukan terhadap perempuan, yang berakar dari ketidaksetaraangender dan rendahnya status perempuan dibandingkan laki-laki. KBG dapat terjadi dimanapun, dari ruang privat hingga ruang publik, yang nyata diketahui banyak orang.Selain itu, KBG dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: kekerasan fisik, kekerasanpsikis dan kekerasan seksual. Akan tetapi, pembahasan dalam penelitian ini akanmengarahkan pembaca pada kekerasan dalam bentuk seksual, yang mana salahsatunya menyangkut pelecehan seksual. Sexual harassment atau pelecehan seksualsering kali terjadi disekitar kita, dengan atau tanpa disadari.Pelecehan seksual diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak dapat diterima,baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual dan pernyataan-pernyataan yang bersifatmenghina atau keterangan seksual yang bersifat membedakan, di mana membuatseseorang merasa terancam, dipermalukan, dibodohi, dilecehkan dan dilemahkankondisi keamanannya. Pada dasarnya, pelaku pelecehan dapat dilakukan oleh lakilakidan perempuan; baik laki-laki terhadap perempuan, perempuan terhadapperempuan, bahkan antar sejenis yaitu laki-laki terhadap laki-laki dan perempuanterhadap perempuan. Bentuknya dapat berupa verbal dan non-verbal, dan dapatdijumpai di manapun, kapanpun, kepada siapapun dan oleh siapapun, tanpa mengenalstatus atau pangkat. Richmond dan Abbott (1992:329) menyatakan, bahwa hanyasekitar satu per sepuluh kasus-kasus pelecehan seksual sesama jenis yang diberitakan.Pelecehan seksual sesama jenis biasanya dilakukan oleh pasangan homoseksual, atauseseorang yang mengidap kelainan seksual. Meski demikian, tidak dapat dipungkiribahwa pada kenyataannya perempuan sering menjadi korban kekerasan maupunpelecehan seksual oleh laki-laki, sehingga setiap harinya bahkan setiap saatperempuan harus merasa berwaspada terhadap serangan-serangan yang akanmenimpanya.Menurut data WHO 2006 (dalam artikel Kinasih, 2007:11), ditemukan adanyaseorang perempuan dilecehkan, diperkosa dan dipukuli setiap hari di seluruh dunia.Paling tidak setengah dari penduduk dunia berjenis kelamin perempuan telahmengalami kekerasan secara fisik. Bahkan, pelecehan ini telah terjadi di tempattempatumum dan tanpa disadari (oleh korban pelecehan). Misalnya, kasus pelecehanmenjadi mimpi buruk (terror) bagi kaum hawa, terutama di Ibu Kota, Jakarta.Berdasarkan sumber okezone.com, (wirakusuma, 2011) perempuan yang menaikijasa mobil angkutan kota di malam hari akan merasakan takut yang berlebih sehinggamereka harus menyamarkan penampilan mereka seperti seorang laki-laki. Seorangkaryawati asal Ciputat, bernama Tungga Pawestri (30) mengaku harus pulang kantorpada malam hari (di atas pukul 22.00 WIB). Sebelum menaiki angkot tersebut,Tungga harus memakai jaket tebal dan topi agar tampak seperti laki-laki, agar dapatterlepas dari tindak pelecehan seksual di angkot.Sebuah survei “YouGov” yang dilakukan oleh End Violence Against WomenCoalition (Evaw) juga memperkuat kenyataan tersebut, yaitu sebanyak 43 persen dari1.047 wanita berusia 18 – 34 tahun (yang disurvei) mengalami pelecehan seksual ditempat-tempat umum pada tahun 2011 (Anonim, 2012). Di Indonesia sendiri,menurut pantauan yang dilakukan oleh Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dalamkurun waktu 13 tahun terakhir (1998 – 2011) telah tercatat sebanyak 22.284 kasuskekerasan seksual terhadap perempuan di ruang umum dan menjadi urutan kedua dariseluruh kasus kekerasan seksual yang berjumlah 93.960 kasus (Hidayatullah, 2012).Pelecehan seksual ini merupakan latar belakang dari kekerasan, sehinggahukum di Indonesia pun menciptakan suatu undang-undang perlindungan perempuan,yang terdapat pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, yangmana merupakan pengaturan pasal-pasal pelecehan seksual: (a) KUHP Pasal 289 –296 merupakan pasal-pasal tentang pencabulan, (b) KUHP Pasal 295 – 298 dan pasal506 merupakan pasal-pasal tentang Penghubungan Pencabulan, dan (c) KUHP Pasal281 – 299, 532 – 533 dan lain-lain merupakan pasal-pasal tentang Tindak Pidanaterhadap Kesopanan (Laluyan, 2009).Meski terdapat aturan hukum mengenai pelaku pelecehan, kaum lelaki tetapmerasa lebih berkuasa dibanding perempuan dan konotasi perempuan menjadimakhluk yang lemah. Terbukti dari kasus-kasus pelecehan yang nyata ada di manamana.Bukan hanya di tempat-tempat umum, kasus-kasus pelecehan seksual jugadapat terjadi pada lingkup yang tertutup, seperti lingkungan akademis. Pelecehanseksual, baik guru/dosen terhadap murid/mahasiswa atau sebaliknya, serta antarguru/dosen dan antar murid/mahasiswa tidak dapat dipungkiri dalam duniapendidikan. Dalam hal ini, peneliti menyingkap kasus pelecehan seksual yang terjadidiantara mahasiswa-mahasiswi yang berada pada lingkungan dominasi laki-laki,tepatnya pada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Undip.Teknik Elektro Undip memiliki perbandingan mahasiswa (antara laki-laki danperempuan) yang signifikan yaitu sebanyak 87 persen laki-laki dan 13 persenperempuan dari jumlah 920 orang. Dengan dominasi maskulin (sifat laki-laki), makaakan dengan mudah mengambil alih sifat-sifat feminin dari seorang perempuan,inilah yang disebut dengan “Maskulinisasi” atau laki-laki dapat mengkonstruksikandiri perempuan. Proses maskulinisasi tersebut, salah satunya dapat berimbas dalamidentitas diri seseorang. Karakteristik macho sangat terkenal pada salah satu kampusteknik yang paling diminati tersebut. Dengan konstruksi penampilan laki-laki,mencerminkan sifat-sifat macho pada diri perempuan; make up yang jarangdigunakan dan tas ransel yang lebih menjadi pilihan para mahasiswi, akan seringditemui di Teknik Elektro.Suatu diskriminasi identitas, jika identitas seseorang tersebut harus diikutisecara “paksaan”. Oleh karenanya, peneliti akan menggali lebih dalam mengenaidominasi maskulin terhadap perempuan. Karenanya, peneliti mengambil judul“Pelecehan Seksual: Maskulinisasi Identitas Pada Mahasiswi Jurusan TeknikElektro Undip”, yang mana peneliti berusaha untuk mencari tahu bagaimanaperempuan (sebagai minoritas) dapat beradaptasi dengan lingkungan dominasimaskulin, dan dampak maskulinisasi identitas perempuan yang ditimbulkan daribentuk-bentuk pelecehan seksual. Selain itu, peneliti juga berusaha mencaritahuideologi di balik dominasi maskulin di lingkungan Teknik tersebut.MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian deskriptif.Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2010:4) mendefinisikan metodologi kualitatifsebagai prosedur penelitian yang menghasilkan kata-kata tertulis atau lisan dariorang-orang dan perilaku yang diamati. Untuk menjawab tujuan penelitian dilakukandengan paradigma kritis, karena peneliti menekankan pada konsep maskulinisasi, yangdominan di kalangan mahasiswa-mahasiswi Teknik Elektro Undip.Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Bungin (2007:108)menetapkan beberapa prosedur pada penggunaan teknik Snowball, yaitu dengan siapapeserta atau informan pernah dikontak atau pertama kali bertemu dengan penelitiadalah penting untuk menggunakan jaringan sosial mereka untuk merujuk penelitikepada orang lain yang berpotensi berpartisipasi atau berkontribusi dan mempelajariatau memberi informasi kepada peneliti.Analisis data terdiri atas pengujian, pengkategorian, pentabulasian, ataupunpengombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposi awal suatu penelitian(Yin, 2006:133). Strategi penjodohan pola dalam studi kasus deskriptif bersifatrelevan dan fleksibel, sehingga pola-pola spesifik dapat diprediksikan sebelumpengumpulan data (Yin, 2006:140).PembahasanRefleksi: Pelecehan Seksual Dalam Maskulinisasi Identitas Mahasiswi TeknikElektro UndipStrategi analisis data yang digunakan pada penelitian ini, dalam pendekatan studikasus adalah strategi penjodohan pola. Peneliti telah menetapkan asumsi di awalpenelitian, sehingga dapat menghasilkan sebuah perbandingan antara pra penelitiandan pasca penelitian. Asumsi peneliti pra penelitian menyatakan bahwa praktekpelecehan seksual yang dialami perempuan dalam dominasi maskulin merupakanakibat maskulinisasi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Laki-laki menggunakankelebihannya untuk menguasai perempuan. Posisi laki-laki menempatkan dirinyapada tatanan superior. Dengan demikian, laki-laki juga bebas menggunakankekuatannya dalam mengkonstruksi perempuan.Sedangkan pasca penelitian, peneliti menemukan beberapa temuan. Pertama,laki-laki menyisipkan praktek pelecehan seksual dalam maskulinisasi identitasperempuan di lingkungan dominasi, Teknik Elektro Undip. Dampak dari dominasimaskulin begitu terasa di lingkungan tersebut, sehingga memberi keleluasaan bagilaki-laki untuk menguasai perempuan. Mereka seakan harus mengikuti aturan(terutama dalam hal identitas gender) yang dibuat oleh laki-laki agar dapat diterimasebagai bagian di lingkungan kampus Teknik Elektro Undip. Paludi (1990:23)menegaskan, bahwa pelecehan seksual adalah perilaku seksual yang tidak diinginkan,permintaan atas kenikmatan seksual, dan segala tindakan verbal atau fisik yangmengarah pada seksual secara alamiah dalam berbagai situasi, salah satunya ketikasalah satu pihak mengarah pada ketundukkan yang dibuat secara emplisit (langsung)atau implisit (tidak langsung) oleh pihak lain.Kedua, peneliti menemukan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi dilingkungan Teknik Elektro, lebih berupa kata-kata (verbal), antara lain: memberikomentar negatif, memberi julukan yang tidak menyenangkan, dan pembicaraan yangmengarah pada hal-hal seksis. Bahkan Michigan Task Force (Richmond dan Abbott,328:1992) yang fokus menyoroti kasus pelecehan seksual, menyatakan bahwapelecehan seksual mencakup verbal abuse atau kekerasan verbal yang dilakukanberulang-ulang dari hasrat atau naluri seksual. Kekerasan verbal yang berulang-ulangitu sama seperti yang dialami oleh para informan penelitian, sehingga dapatmengakibatkan suatu ketidaknyamanan kondisi psikologis ketika berada dilingkungan kampusnya. Kondisi yang dialami oleh perempuan di lingkungantersebut, dalam pelecehan seksual lengkapnya termasuk jenis hostile environment,yaitu suatu keadaan seorang individu dijadikan subyek atas segala pengulanganseputar seksual yang tidak diinginkan, sehingga dapat menciptakan suasana yangtidak nyaman dilingkungan pekerjaan maupun pendidikan (Carroll, 2010:486).Ketiga, keadaan di mana laki-laki sangat ingin mengontrol perempuan samaseperti penjelasan dalam Budaya Patriarki. Patriarki lahir dari hasrat laki-laki untukmenguasai perempuan dan alam, yang merupakan suatu sistem hirarki yangmenghargai sebuah power-over (hasrat menghancurkan) (Tong, 81:2010). Praktekpraktekuntuk menaklukkan perempuan, sering kali dinormalisasi oleh laki-laki agardapat mencapai kekuasaan (power) yang diinginkannya. Oleh karenanya, konseppatriarki telah melebur menjadi landasan ideologis dibalik dominasi yang terdapat dilingkungan Teknik Elektro tersebut.“Muted Group theorists criticize dominant groups and argue that hegemonicideas often silence other ideas” (West dan Turner, 2007:516). Kalimat tersebutmenekankan bahwa MGT sangat kritis terhadap kelompok dominan yang seringmengontrol makna pada anggota-anggota kelompok lainnya. Perempuan hanya bisamengikuti aturan-aturan tersebut karena merasa tidak dapat memberikan sikapresponsif untuk menjelaskan pikirannya. Bahkan ketika subjek penelitian mengalamipelecehan, mereka cenderung pasif karena hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yangwajar serta konsekuensi yang harus diterima berada dalam lingkungan dominasimaskulin.Penggunaan teori MGT mampu menjelaskan sepenuhnya, mengapaperempuan mengalami ketidakberdayaan menghadapi pelecehan seksual dalampraktek maskulinisasi identitas perempuan. Dominasi laki-laki yang begitu kuatmampu menguasai kebiasaan interaksi lawan jenis, bahkan secara bawah sadar yangdikuasai dapat dengan mudah merasa patuh dan menerima begitu saja. Bagikelompok bungkam (muted group), apa yang dikatakan pertama kali harus bergeserdari pandangan mereka sendiri terhadap dunia dan kemudian diperbandingkandengan pengalaman-pengalaman dari kelompok yang dominan (West dan Turner,2007:517).Asumsi Muted Group Theory dalam sudut pandang perempuan, turutmenyatakan bahwa dalam berpartisipasi pada kelompok sosialnya, perempuan harusmentransformasi cara mereka menjadi cara-cara yang dapat diterima oleh laki-laki.Perempuan mengalami pelecehan seksual sebagai usaha pembungkaman diri karenamereka memahami bahwa dirinya akan selalu berada di bawah laki dan menjadimanusia sekunder. Kenyataan yang terdapat di lapangan, mahasiswi Teknik Elektromerasa harus menyesuaikan peran yang cocok dengan identitas kelompoknya, macho.Adapun, peneliti menemukan beberapa hal menarik dalam penelitian ini.Pertama, konstruksi identitas yang diciptakan oleh mayoritas anggota kelompoksendiri biasanya dapat saling mempengaruhi, apalagi jika hubungan tersebut berhasilmenciptakan rasa solidaritas yang tinggi. Ketidaksadaran kaum perempuan dalammematuhi aturan-aturan yang diciptakan kelompok dominan sama seperti penjelasandalam Teori Hegemoni. Secara umum, teori tersebut menjelaskan dominasi sebuahkelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya kelompok yang lebih lemah, dalamhal ini perempuan (West dan Turner, 2008:67).Arahan-arahan para penguasa kelompok sebenarnya telah menciptakan suatukesadaran palsu bagi kelompok tertindas. Kesadaran palsu atau false consciousness(dalam West dan Turner, 2008:68) adalah suatu keadaan di mana individu-individumenjadi tidak sadar mengenai dominasi yang terjadi di dalam kehidupan mereka.Identitas atau ciri khas macho yang melekat pada kelompok Teknik Elektro, terbuktitelah dibentuk oleh kelompok dominan yang ada di lingkungannya. Konsep machomenjadi sesuatu yang identik dengan Teknik Elektro secara terus-menerus dapatberpengaruh pada diri perempuan yang ada di lingkungan tersebut. Perempuan tidakakan pernah benar-benar yakin bahwa ia feminin, jika lingkungannya sendiri tidakmenerimanya sebagai seorang yang feminin.Kedua, yaitu berdasarkan pengakuan ketiga informan yang menjelaskanbahwa teman-teman lelaki yang terdapat di dalam dan di luar lingkungan KampusTeknik Elektro ternyata memiliki perbedaan cara pandang mengenai sosokpenampilan perempuan. Jika kelompok laki-laki yang dalam lingkungan kampustersebut cenderung memandang identitas feminin kurang pantas dikenakan olehmahasiswinya, teman-teman lelaki di luar lingkungan itu justru menganggappenampilan feminin bukanlah merupakan sesuatu yang terlalu berlebihan bagiperempuan.Perbedaan cara pandang tersebut sebenarnya terbentuk dari penerimaan suatukelompok di setiap lingkungannya. Mahasiswi yang berada pada lingkungandominasi maskulin tentu akan merasakan kadar kedekatan dan pengaruh yang lebihkuat, daripada kelompok lain atau out-groups. Dari sesama anggota kelompoksendiri, tentunya akan menimbulkan suatu harapan atas pengakuan, kesetiaan, danpertolongan (Horton dan Hunt, 1996:220). Ini pula yang dijadikan suatu kesempatanbagi kelompok dominan untuk menaklukan minoritas.Hal unik yang terakhir (ketiga), mengenai kurangnya pemahaman mendalamseputar pelecehan seksual, yang mengakibatkan para informan tidak dapatmenyatakan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan seksual. Hal ini serupa denganpernyataan Bourdieu dalam konsepnya “misrecognition” yaitu yaitu sebuah “bentukmelupakan” dari seseorang akan suatu hal. Korban tidak akan merasa bahwa dirinyaadalah seorang “korban pelecehan seksual” yang telah diperlakukan sebagai makhlukinferior yang kerap mengalami penolakan atas keinginannya, dan memilikiketerbatasan dalam berekspresi. (Webb, Schiratto, dan Danaher, 2002:24-25).SimpulanPara mahasiswi yang menjadi subyek penelitian menyadari kedudukannya sebagaikelompok minoritas di lingkungan Teknik Elektro Undip. Mereka seakan berhasil“dikostumkan” dengan segala persepsi maskulin dari kelompok dominan. Dengandemikian, melalui hegemoni, perempuan dapat dengan mudah dipengaruhi dandibentuk oleh keinginan laki-laki.Jenis pelecehan seksual yang dialami kelompok minoritas, termasuk ke dalamkondisi hostile environment, yaitu perempuan sebagai korban sebenarnya telahmencapai titik pertentangan terhadap lingkungan kampusnya, sehingga sering kalimenimbulkan dampak ketidaknyamanan (psikologis) bagi perempuan, yaitu rasatakut, terpaksa, kehilangan rasa percaya diri, kecewa dan risih. Nilai-nilai maskulinyang dominan seakan “mengurung” keinginan para mahasiswi untuk tampil lebihfeminin dengan berbagai berbagai tindakan yang cenderung mengarah pada verbalabuse, baik melalui ejekan-ejekan yang mengarah pada fisik perempuan dan beberapajulukan diskriminatif yang secara langsung ditujukan oleh mahasiswa laki-lakikepada mahasiswinya.Budaya patriarki telah melebur dibalik keadaan dominasi yang dialamiperempuan, sehingga sering tercipta suatu “kebiasaan lelaki”. Laki-laki melakukannormalisasi pada tindakan-tindakan pelecehan seksual, sehingga perempuan secaratidak sadar menganggapnya sebagai perilaku normal sehari-hari, yang dilakukan paralelaki.DAFTAR PUSTAKAAndaryuni, Lilik. (2012). To Promote: Membaca Perkembangan Hak Asasi Manusiadi Indonesia (Editor: Eko Riyadi). Yogyakarta: PUSHAM UIIBasuki, Sulistyo. (2006). Metode Penelitian. Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas Indonesia: Wedatama Widya SastraBourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta: JalasutraBulaeng, Andi. (2004). Metode Komunikasi Kontemporer. Yogyakarta: AndiBungin, Burhan. (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofisdan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PTRajaGrafindo PersadaBungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif (Edisi Kedua): Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroupCarroll, Janell L. (2010). Sexuality Now: Embracing Diversity (Third Edition).Amerika: Wadsworth PublishingDenzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S (Eds). (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka PelajarDenzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S. (1994). Handbook of Qualitative Research. London : SAGE Publications Djajanegara, Soenarjati. (2000). Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka UtamaEvans, Patricia. (2010). The Verbally Abusive Relationship: How To Recognize It andHow To Respond. USA: Adams MediaFakih, Mansour. (2008). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:Pustaka Pelajar OffsetFetterman, D.M. (ed). (1988). Qualitative Approaches to Evaluation in Education.The Silent Scientific Revolution. New York : PraegerGriffin, Em. (2011). A First Look At Communication Theory: Eighth Edition. NewYork: McGraw-HillGriffin, Ricky W. and O’Leary-Kelly, Anne M. (2004). The Dark Side ofOrganizational Behavior. USA: Jossey-BassHall, Calvin S. and Lindzey, Gardner. (1993). Psikologi Kepribadian 3: Teori-Teoridan Sifat Behavioristik. Yogyakarta: KanisiusHamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa: Sebuah StudiCritical Discourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta: GranitHamidi. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Malang: UMM PressHasan, Abdul Fatah. (2007). Mengenal Falsafah Pendidikan. Selangor, Malaysia:Yeohprinco Sdn. BhdHill, Catherine and Silva, Elena. (2005). Drawing The Line: Sexual Harassment OnCampus. United States: AAUW Educational FoundationHollows, Joanne. (2010). Feminisme, Feminitas dan Budaya Populer (terj.Ismayasari, Bethari Anissa). Yogyakarta: JalasutraHorton, Paul B. and Hunt Chester L. (1996). Sosiologi: Jilid 1, Edisi Ke-enam (terj.Ram, Aminuddin & Sobari, Tita). Jakarta: Penerbit ErlanggaIrianto, Sulistyowati (Ed). 2006. Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum YangBerperspektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia,anggota IKAPI DKI JayaLarkin, June. (1997). Sexual Harassment: High School Girls Speak Out. Canada:Second Story PressMoleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung:PT Remaja RosdakaryaNazir, Mohammad. (1988). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia IndonesiaNeuman, Lawrence W. (1997). Social Research Methodes : Qualitative andQuantitative Approaches. MA : Allyn & BaconNoor, Ida Ruwaida dan Hidayana, Irwan M. (2012). Pencegahan dan PenangananPelecehan Seksual di Tempat Kerja: Panduan Bagi Para Pemberi Kerja.Jakarta: APINDOPaludi, Michele A. (Ed). (1990). Ivory Power: Sexual Harassment On Campus.Albany : State University of New York PressRachmat, Jalaludin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RosdakaryaRaco, J.R. (2010). Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik danKeunggulannya. Jakarta: GrasindoRatna, Nyoman Kutha. (2004). Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra.Yogyakarta: Pustaka PelajarRichmond, Marie dan Abott. (1992). Masculine & Feminine: Gender Roles Over TheLife Cycle: Second Edition. Great Britain: Methuen & Co. LtdSendjaja, Sasa Djuarsa, dan kawan-kawan. (1994). Teori Komunikasi. Jakarta:Universitas TerbukaSoekanto, Soerjono. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindoSukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosda Karya.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan & Perempuan. Jakarta: Penerbit Buku KompasSunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Kedokteran EGCTong, Putnam. (2010). Feminist Thought:Pengantar Paling Komprehensif kepadaArus Utama Pemikiran Feminis (terj. Prabasmoro, Aquarini Prayitni).Yogyakarta: JalasutraUripni, Christina Lia, Untung Sujianto, Tatik Indrawati. (2002). KomunikasiKebidanan. Jakarta: Buku Kedokteran EGCWebb, Jen, Tony Schirato dan Geoff Danaher. (2002). Understanding Bourdieu.London: SAGE Publications LtdWest, Richard & Turner, Lynn H. (2007). Introducing Communication Theory:Analysis and Application. New York: McGraw-HillYin, Robert K. (2002). Studi Kasus: Desain & Metode. Jakarta: PT RajaGrafindoJurnal dan ArtikelIrianto, Jusuf. (2007). Perempuan Dalam Praktek Manajemen Sumber Daya Manusia.Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 – No. 4(Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2156&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Kinasih, Sri Endah. (2007). Perlindungan dan Penegakan HAM terhadap PelecehanSeksual. Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20– No. 4 (Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2162&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Laporan Independent NGO. (2007). Implementasi Konvensi Penghapusan SegalaBentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) di Indonesia (Dalamhttps://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CDAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fcedaw-seasia.org%2Fdocs%2Findonesia%2FIndpt_Report_Bahasa_Laporan_CEDAW.pdf&ei=R_fxUZjZH4jXrQfH9IDoCw&usg=AFQjCNEe363XZ4_SgVAWk6VU8W8RWaV7Ng&sig2=5ZAYf48Zvzrfc6iqt9sXaQ, diakses pada tanggal 27 Mei 2013 pukul 20.00)Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas. (2011). “Korban dan Kuasa” Di Dalam KajianKekerasan terhadap Perempuan. (online) Vol. 32 – No. 2 (Dalamhttp://ejournal.undip.ac.id/ index.php/forum/article/view/3153, diakses padatanggal 03 Juli 2012 pukul 20.00 WIB)Suryandaru, Yayan Sakti. (2007). Pelecehan Seksual Melalui Media Massa. ArtikelMedia Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 – No. 4 (Dalamhttp://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2157&med=15&bid=8,diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)SkripsiFarika, Ummi. (2009). Memahami Gaya Komunikasi Laki-Laki Dan PerempuanDalam KulturOrganisasi Berkeadilan Gender: Studi Kasus PergerakanMahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII). Skripsi. Universitas DiponegoroIsriyati. (2010). Studi Kasus: Kekerasan KomunikasiTerhadap Perempuan DalamRomantic Relationship. Skripsi. Universitas DiponegoroSoekmadewi, Rr. Mariza D. (2012). Perempuan Maskulin Dalam Sinetron (AnalisisResepsi Karakter Maskulin Tokoh Utama Perempuan Protagonis DalamSinetron “Dewa”. Skripsi. Universitas DiponegoroUtama, Yossi Indria. (2005). Konstruksi Identitas Perempuan Marjinal. Skripsi.Universitas DiponegoroWulandari, Wiwit Asri. (2007). Konstruksi Majalah Hai. Skripsi. UniversitasDiponegoroInternetAdidharta, Syaifud. (2011). Wanita Indonesia Antara Kegelapan dan MasaDepannya. Dalam http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/17/wanita-indonesia-antara-kegelapan-dan-masa-depannya-356224.html. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Dia Suka Pegang-Pegang Aku. Dalam http://remajadalamkliping.word press.com/2009/05/06/dia-suka-pegang-pegang-aku/. Diunduhpada tanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Profil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Dalamhttp://www.ft.undip. ac.id/index.php/profil.html. Diunduh pada tanggal 06 Julipukul 20.30 WIBAnonim. (2010). Latar Belakang. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/keadilanperempuan/index.php?option=com_content&view=article&id=20&Itemid=108. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul 20.00 WIB. Hal. 01Anonim. (2010). Profil. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2010/10/mekanisme-ham-nasional-bagi-perempuan-nasional-indonesia/. Diunduhpada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.30 pukul 21.00 WIBAnonim. (2010). Tabir Asap Kerusuhan Mei 1998 (1). Dalam http://sociopolitica.com/2010/05/13/tabir-asap-kerusuhan-mei-1998-1/. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 19.30 WIBAnonim. (2011). Perkembangan Feminisme Di Dunia. Dalam http://komahi.umy.ac.id/2011/05/perkembangan-feminisme-di-dunia.html. Diunduh pada tanggal 02Januari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Biografi R.A Kartini Biodata, Profil Raden Ajeng Kartini Lengkap.Dalam http://www.erabaca.com/2012/03/biografi-ra-kartini-biodata-profil.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Gender-Based Violence In A Romantic Relationship. Dalamhttp://pasca.mercubuana.ac.id/newsumb.php?mode=baca&pct_ no=738&l=.Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Guru Yang Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap Murid. Dalamhttp://www.suatufakta.com/2012/06/guru-yang-melakukan-pelecehan-seksual.html. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012 pukul 20.30 WIBAnonim. (2012). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Kekerasan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual#comments. Diunduh pada tanggal 05 Juli pukul19.30 WIBAnonim. (2013). Kekerasan Seksual Pada Mei 1998 Tak Boleh Disangkal. Dalamwww.pikiran-rakyat.com/node/235085. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Segerakan Perbaikan Sistemik untuk Tangani Kekerasan Seksual.Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2013/01/pernyataan-sikap-menanggapi-maraknya-kasus-kekerasan-seksual-dan-pernyataan-calon-hakimagung-yang-menyudutkan-perempuan-korban-perkosaan/. Diunduh padatanggal 03 Februari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Visi, Misi dan Peran. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/about/visi/. Diunduh pada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00Anonim. (Tanpa tahun). Pelecehan Seksual Di Tempat Kerja. Dalam http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/pelecehan-seksual. Diunduh padatanggal 04 Juli 2012 pukul 21.00 WIBAyub. (2009). Wanita-pun Bisa Di Elektro. Dalam http://www.elektro.undip.ac.id/?p=285. Diunduh pada tanggal 06 Juli pukul 19.00 WIBBohman, James. (2005). “Critical Theory”. In Edward N. Zalta (Ed.), The StanfordEncyclopedia of Philosophy. Spring 2005 Edition. Dalam http://plato.stanford.edu/archives/spr2005/entries/critical-theory. Diunduh pada tanggal03 September 2012 pukul 19.00 WIBHidayatullah. (2012). Banyak Wanita London Dilecehkan Di Jalan. Dalamhttp://www.al-khilafah.org/2012/05/banyak-wanita-london-dilecehkandi.html. Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBIS. (Tanpa tahun). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Pelecehan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 20.00WIBLaluyan, Joe. (2009). Pelaku Pelecehan Seksual Dapat Dihukum?. Dalamhttp://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&id=733:pelakupelecehan-seksual-dapat-dihukum&Itemid=94. Diunduh pada tanggal 04 Juli2012 pukul 19.00 WIBMariana, Anna. (2011). Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi (Kisah Gedung InspektoratSukabumi. Dalam http://etnohistori.org/tak-ada-rotan-akar-pun-jadi-kisahgedung-inspektorat-sukabumi.html. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul19.00 WIBPriliawito, E. dan Mahaputra, Sandy A. (2010). Pembunuh 14 Anak Jalanan HadapiTuntutan. Dalam http://metro.news.viva.co.id/%20news/read/179756-pembunuh-14-anak-jalanan-hadapi-tuntutan. Diunduh pada tanggal 11 juli 2012pukul 19.30 WIBPriliawito, Eko. (2009). Menolak Dilecehkan, Mata Kuliah Diulang 5 Kali. Dalamhttp://metro.news.viva.co.id/news/read/51030-menolak_dilecehkan_mata_kuliah_diulang_5_kali. Diunduh pada tanggal 12 Juli pukul 19.00 WIBPutra, Rama Narada. (2012). Ditegur KPI, Raffi Ahmad Menyesal. Dalamhttp://jogja.okezone.com/read/2012/06/27/33/654407/ditegur-kpi-raffiahmad-menyesal. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00 WIBPutro, Suwarno. (2013). Riwayat Singkat Pahlawan Nasional. Dalam http://smpn3kebumen.sch.id/berita-224-riwayat-singkat-pahlawan-nasional-radenadjeng-kartini.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.30 WIBRadius, Dwi B. (2012). Pelecehan Seks 10 Murid, Kepala Sekolah Ditahan. Dalamhttp://regional.kompas.com/read/2012/04/27/16175534/Pelecehan.Seks.10.Murid..Kepala.Sekolah.Ditahan. Diunduh pada tanggal 10 Juli 2012 pukul21.00 WIBRahadi, Fernan. (2013). Anak-anak Jadi Korban Pemerkosaan di AS. Dalamhttp://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/01/10/mge55y-anakanak-jadi-korban-pemerkosaan-di-as. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013pukul 20.00 WIBWahid, Muhammad N. (Tanpa tahun). Pelajar Ditelanjangi Di Dalam Kelas. Dalamhttp://www.indosiar.com/patroli/pelajar-ditelanjangi-didalam-kelas_78555.html. Diunduh pada tanggal 10 Juli pukul 20.00 WIBWidyarini, M.M. Nilam. (2011). Kekerasan Seksual, Mereka Mungkin SalingMengenal. Dalam http://www.henlia.com/2011/03/kekerasan-seksual-merekamungkin-saling-mengenal/. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00WIBWirakusuma, K. Yudha. (2011). Naik D 02 Malam Hari, Cewek Harus NyamarJadi Cowok. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/09/18/338/504005/naik-d-02-malam-hari-cewek-harus-nyamar-jadi-cowok. Diunduh padatanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBYuwono, Markus dan Trijaya. (2011). Dilecehkan Sesama Jenis Wanita Ini LaporPolisi. Dalam http://autos.okezone.com/read/2011/07/05/340/476201/dilecehkan-sesama-jenis-wanita-ini-lapor-polisi. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012pukul 19.30 WIB
Perilaku Berinternet dan Interaksi Sosial Remaja di Kota Semarang (Studi tentang Cyberbullying di Ask.fm) Debi Astari; Hedi Pudjo Santosa; Agus Naryoso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.698 KB)

Abstract

Ask.fm dengan fitur anonim memunculkan fenomena cyberbullying yang kini tengah dihadapioleh para remaja di kota – kota besar salah satunya Semarang. Media jejaring sosial yangawalnya dibuat untuk menjadi media yang saling menghubungkan individu dalam menjalinsilaturahmi, justru digunakan untuk kegiatan negatif seperti cyberbullying. Perubahan perilakuberinternet dengan media ask.fm menjadi masalah yang akan diteliti lebih jauh dalam penelitian.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap perilaku berinternetremaja pengguna ask.fm dikota Semarang dan dampaknya terhadap interaksi sosial mereka. Ask.fm digunakan sebagaiobyek penelitian karena Ask.fm merupakan sarana yang mendominasi bagi remaja dalam melihatdan mengalami cyberbullying.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Pendekatan yangdilakukan adalah fenomenologi. Subjek penelitian yaitu pelajar SMP – SMA di kota Semarangdengan rentang usia 13 – 18 tahun yang memiliki akun ask.fm dan terbilang aktif dalam artianmembuka secara rutin dalam sebulan – dua bulan terakhir. Pelajar SMP dan SMA yang akandiambil sebagai obyek penelitian adalah pelajar SMP 3, SMP 5, SMA 1, dan SMA 3.Pengumpulan data dari sumber data primer dilakukan melalui wawancara mendalam(indepthinterview) sedangkan sumber data sekunder dilakukan dengan cara eksplorasi. Metodeanalisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif.Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat diketahui bahwa kebanyakan remaja kini tengahmemiliki dua kehidupan yang mereka jalani setiap harinya, yaitu kehidupan di dunia maya dandunia nyata. Perbedaan perilaku mereka di dunia maya dan dunia nyata cukup signifikan dandapat dikatakan cara berkomunikasi mereka turut berbeda di setiap ‘dunia’ tersebut. Perilakuberinternet di kota Semarang saat ini telah mengalami perubahan paradigma dengan munculnyaberbagai media sosial yang menarik bagi remaja.Perubahan perilaku berinternet pada remaja saatini terutama pengguna ask.fm di kota Semarang biasanya akan memiliki dampak terkait denganinteraksi sosial remaja pengguna di dunia nyata. Ask.fm menjadi media yang memudahkancyberbullying, karena memiliki fitur anonim di dalamnya.
PENERIMAAN KHALAYAK TERHADAP OBJEKTIFIKASI SEKSUAL PEREMPUAN DI KOMIK INSTAGRAM @HASTAGBEBIH Ananto Adhy Prabowo, Patrik; ., Sunarto
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.74 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemaknaan yang dilakukan oleh khalayak pengguna instagram terhadap objektifikasi seksual perempuan yang ada di dalam komik Instagram @hastagbebih. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis. Metode analisis yang digunakan adalah analisis resepsi untuk mengetahui pemaknaan khalayak. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika lima kode pembacaan Roland Barthes untuk mengetahui makna-makna dominan yang muncul dalam teks komik instagram @hastagbebih. Teori utama yang digunakan adalah Standpoint. Teori ini menjelaskan bagaimana khalayak aktif memaknai teks yang memuat isu feminisme tergantung pada pengalaman dan pengetahuan yang ia miliki. Hasil yang didapatkan dari preferred reading yang dimunculkan oleh teks komik instargam @hastagbebih adalah terdapat objektifikasi seksual terhadap perempuan di konten komiknya. Hasil dari pemaknaan khalayak didapatkan bahwa khayalak memaknai bahwa ada objektifikasi terhadap perempuan di komik instagram @hastagbebih. Hasil ini menunjukkan bahwa beberapa informan mengetahui pesan dominan dalam teks komik instagram @hastagbebih namun mereka tetap menegosiasikan dan bahkan ada yang menolak satu pesan dominan
PRODUKSI PROGRAM KULINER PADA PROGRAM ACARA WISATA JALAN KULINER CAKRA SEMARANG TV (Peran dan Pertanggungjawaban sebagai Produser ) Rosmaningrum, Novi; Santosa, Hedi Pudjo; Winata, I Nyoman; Pradekso, Tandiyo; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.836 KB)

Abstract

Kuliner adalah segala hal yang berhubungan dengan konsumsi makanan seharihari.Kuliner adalah bagian dari gaya hidup dan untuk itu menarik untuk diangkatmenjadi sebuah tayangan televisi. Wisata Jalan Kuliner adalah salah satu programacara di stasiun TV lokal Cakra Semarang TV yang mengangkat tema ini. Acaraini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai kuliner yang enak dan menarikbaik dari sisi historis maupun cita rasa. Diharapkan acara ini mampu menjadireferensi bagi penonton yang ingin menambah wawasan dan pengalaman dalammenikmati makanan di Semarang. Untuk itu penulis beserta tim membuat newsfeature ini ke dalam acara tersebut. Dengan tujuan yang kurang lebih sama; untukmengemas informasi mengenai bagaimana cara menikmati, menampilkan prosespembuatan secara mendalam, serta nilai historis dari berbagai jajanan diSemarang.Jajanan klenyem, timus, lumpia, tahu isi rebung, wingko babat, gandos, wedangrempah, dan wedang kacang tanah merupakan jajanan di semarang yang masihdiminati oleh sebagian besar masyarakat. News feature ini dibuat dalam empatepisode, yang tayang sekali setiap minggunya selama empat minggu berturut-turutdan dibagi berdasarkan bahan dasar jajanannya. Di tiap episode penulis besertatim mewawancarai narasumber yang berkaitan dengan jajanan yang dibahas.Narasumber tersebut seperti penjual, pembuat jajanan, konsumen, maupunpendapat masyarakat umum.
Reception Analysis to Female Reader in Indonesia about Sadomasochism on Fifty Shades of Grey Novels Dhita Gracia Samosir; Dr. Hapsari Dwiningtyas, S.Sos, MA
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.651 KB)

Abstract

This research is used to see differences interpretation on female reader group about sadomasochism on novel Fifty Shades of Grey. Text on the media, on this case on novel Fifty Shades of Grey offering the reader to understand sadomasochism as a sexual activity which can give sexual pleasure as a preferred reading, the dominant meaning from text’s novel then compared to interview result’s analysis towards female reader, specifically in Indonesia. The research is aim to look the social values construction that offered from novel Fifty Shades of Grey and the interpretation of female reader group about sexual acitivity like sadomasochism. The research using method Reception Analysis, and other theories, like first, Concept of Symbolic Control on Women Sexuality from Bourdieu and Foucault, Domestic Violence Theory and The Male Control Theory from a journal by Bauminster. The teories is used to see the interpretation of female reader group have on sadomasochism that offered on preferred reading by text on Fifty Shades of Grey. The results is showed the differences interpretation on each female reader group. The diversity is influenced by age, educational level, marriage status, up to background of knowledge on each one female reader had on them. There are female reader who accept the dominant meaning on text that they interprete sadomasochism as a sexual activity that could give pleasure. There’s also a group that negotiate the dominant meaning with their internal values and there’s also a group of female reader that declining the dominant meaning on text Fifty Shades of Grey, that sadomasochism is not a pleasure. The dominant group, is the female reader group that declining the offer and not accepting sadomasochism as a sexual pleasure.
Resistensi dari Objektifikasi Terhadap Perempuan Dalam Novel The Sinden Karya Halimah Munawir Yuyun Octaviani Budiarti; Dr Sunarto; Hapsari Dwiningtyas; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.121 KB)

Abstract

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang memiliki struktur yang bermakna dan menggunakan bahasa sebagai medianya. Selain merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan sekaligus menyebarkan ideologi kepada masyarakat novel juga dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan perlawanan terhadap suatu konstruksi dominan di masyarakat. Stereotip pada sinden merupakan produk konstruksi sosial di masyarakat yang menempatkan sinden pada posisi subordinat. Melalui novel The Sinden, penulis Halimah Munawir ingin menunjukkan adanya sebuah perlawananterhadap konstruksi negatif dari sosok sinden.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk perlawanan dari objektifikasi terhadap perempuan sinden dalam novel The Sinden karya Halimah Munawir, serta mengungkap gagasan residual konstruksi dominan yang negatif di dalam novel. Teori yang digunakan adalah teori standpoint dan teori feminis radikal kultural dan teori resistensi. Metode yang digunakan adalah analisis semiotik naratif A.J Greimas, yaitu dengan analisis struktur cerita dan analisis struktur dalam untuk mendapatkan makna yang terdapat di dalam teks.Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk perlawanan yang dilakukan sinden dengan cara terbuka. Perempuan berusaha melawan opresi laki-laki dari objek tatapan dan objek seksualnya, dengan melarikan diri dan menolak menjadi seorang selir, menolak menjadi objek tatapan serta objek hasrat seksual laki-laki. Objektifikasi seksualitas perempuan mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan). Oleh karenanya, pembebasan perempuan dari opresi hanya dapat dilakukan melalui penghancuran ideologi patriarki yang menjadi gagasan residual di dalam novel. Gagasan residual masih menempatkan laki-laki berada di posisi dominan sehingga dapat melakukan kontrol seksualitas atas perempuan. Kata kunci: resistensi, objektifikasi, perempuan sinden, novel

Page 9 of 157 | Total Record : 1563