cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Pengelolaan Hubungan Antarpribadi Pada Pasangan Berpacaran Long Distance Relationship (LDR) Untuk Pengembangan Hubungan Berkomitmen Serius Fatraya, Denisa; Noor Rakhmad, M.I.KOm, Wiwid
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.226 KB)

Abstract

LDR relationship is prone to conflict and separation. Frequent conflicts due to poor communication such as low intensity and frequency of communication, misunderstandings, unresolved conflicts, high suspicion, spouse bustling, low confidence in spouses, fewer meetings with partners. But there is a long-distance relationship and stay afloat until so long can even commit seriously with his partner. This study uses the theory of relational dialectics theory (RDT) or dialectical theory of relationship as the main theory, as well as privacy management theory, social penetration theory and model of relationship development as a supporting theory. These theories to explain the management of communication on long-distance relationships to be able to commit seriously. The results of research that is managed in the development of interpersonal communication relationship is the feeling of mutual love and love that underlies them to continue to survive long distance relationships that are vulnerable by conflict and the breakdown of relationships. it is marked by how often they express their feelings to their partner. And the mutual trust and understanding of each other and open to the couple to be a supporting factor to deliver the relationship to a serious stage. The next result is how the management of communication in interpersonal communication to develop the relationship to the stage of serious commitment is the existence of self-disclosure of the couple as told about the problems experienced even the privacy of the couple, find out the things favored and disliked partner, explain to the couple what is meant when misunderstanding occurs. Informants share private information with a partner who is a higher stage in the relationship because they already trust and comfortably share the story with their partner. These are the ways in which they manage communication so that relationships can develop more intimately.
OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (Analisis Semoiotika Foto pada Majalah For Him Magazine Indonesia) Annisa Arum Putri; Sunarto Sunarto; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.491 KB)

Abstract

OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (Analisis Semoiotika Foto pada Majalah For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum Putri1ABSTRAKSIMajalah merupakan media massa yang kini hadir sesuai dengan segmentasi pembacanya. Salah satunya adalah ‘For Him Magazine’ (FHM) Indonesia, yang merupakan majalah dengan segmentasi pembaca pria dewasa. FHM Indonesia pada setiap edisinya menampilkan foto-foto perempuan dengan menonjolkan sisi sensualitasnya. Jika dicermati secara kritis, perempuan dalam majalah ini dijadikan objek. Lantas bagaimana bentuk-bentuk objektivikasi perempuan dalam majalah ini dan apa ideologi yang tersembunyi yang melatarbelakanginya?Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah FHM Indonesia melalui foto-foto perempuan yang terdapat di dalamnya dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya. Teori yang digunakan adalah teori standpoint dan teori feminis radikal kultural. Metode yang digunakaan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika Roland Barthes, yaitu dengan analisis leksia dan lima kode pembacaan.Temuan dalam penelitian ini adalah pada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi seksual perempuan. Pertama, perempuan dijadikan “objek santapan” atau komodifikasi seksual yakni perempuan dan nilai seksualitasnya dijadikan komoditas yang dijual pada pembaca majalah ini. Kedua, perempuan dijadikan “objek tatapan“ atau objek hasrat seksual laki-laki pembaca majalah ini. Objektivikasi perempuan dalam majalah ini dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki, dimana laki-laki memiliki posisi yang lebih berkuasa sehingga dapat melakukan kontrol seksualitas pada perempuan. Praktik objektivikasi perempuan agaknya disadari oleh masyarakat, namun praktik ini masih dianggap alami dan seolah dibiarkan saja.Kata kunci : majalah pria dewasa, objektivikasi, perempuan,1 Penulis merupakan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoroannisaarumputri@gmail.comOBJECTIFICATION OF WOMEN IN MEN'S MAGAZINES (Semiotic Analysis Photos on the For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum PutriABSTRACTMagazine was one of the mass media that present in accordance with the intended audience segmentation. One of them was For Him Magazine (FHM) Indonesia, which was the magazine with the adult male readership segmentation. FHM Indonesia, on each publication, features pictures of women with accentuated their sensuality side. In critically observed, women in this magazine became an object. Hence, what were the manifestations of women objectification in this magazine and what were the hidden dominant ideology that exist in this situation?The purpose of this study was to see the position of women as objects in FHM Indonesia through photographs of women contained in it and explain the background ideology of it. This study used standpoint theory and radical cultural feminist theory. The method in this study was semiotic analysis by Roland Barthes, include the lexias analysis and five major codes.The results of this research was there was duality of sexual objectification of women on FHM magazine Indonesia. First, commodification of women and their sensuality. The women became commodity which was sold on readers. Second, the women became object of sexual desire male readers of this magazine. Objectification of women in the FHM Indonesia distributed by patriarchal ideology, where men had a more powerful position, so they can control women including their sexuality. The practice of objectification of women presumably realized by the public, but the practice was still considered to be natural and seemed to be left alone.Key words: men’s magazine, objectification, women1. PendahuluanKonten majalah hadir mengikuti segmentasi pembacanya. Demikian pula dengan majalah For Him Magazine (FHM) Indonesia yang menjadi fokus bahasan penelitian ini. Konten majalah ini mengikuti segmentasi pembaca pria dewasa, yakni seputar gadget, gaya hidup, pengetahuan, karier, seks, dan perempuan. Namun, di dalamnya, FHM Indonesia menampilkan foto-foto perempuan berbusana minim dan artikel-artikel yang menngarah pada sensualitas dari perempuan.Perempuan dalam majalah ini adalah komoditas yang disajikan bagi pembacanya yang merupakan laki-laki dewasa berusia 21 tahun ke atas. Foto-foto perempuan berbusana minim merupakan bagian dari objektivikasi perempuan. Objektivikasi terjadi ketika seseorang melalui sarana-sarana sosial direndahkan derajatnya, dijadikan benda atau komoditas, dibeli atau dijual (Syarifah, 2006: 153).Laki-laki menonton perempuan dan perempuan disajikan sedemikian rupa untuk kesenangan laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa wanita adalah pihak inferioritas sedangkan pria ada di posisi superior. Kondisi ini berbenturan dengan apa yang tertuang dalam pasal 5 (a) UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita disebutkan: “Negara-negara peserta wajib melakukan langkah-tindak yang tepat untuk mengubah pola tingkah laku sosial budaya pria dan wanita dengan maksud untuk mencapai penghapusan-penghapusan prasangka dan kebiasaan dan segala praktek lainnya yang berdasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasar peranan stereotip bagi pria dan wanita”. Secara garis besar, penelitian ini bertujuanuntuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah ini dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya.2. MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta menggunakan metode analisis semiotika milik Roland Barthes, yakni analisis sintagmatik melalui analisis leksia dan analisis paradigmatik melalui lima kode pembacaan. Lima kode pembacaan tersebut adalah kode hermeneutika, kode proairetik, kode simbolik, kode kultural, dan kode semik. Unit analisis dalam penelitian ini adalah: FHM Indonesia Mei 2011 halaman 44 dan 46, FHM Indonesia April 2011 halaman 46 dan 42, dan foto dengan subjek bernama Sitha Destya pada FHM Indonesia Januari 2012.3. Hasil Penelitian3.1 Analisis SintagmatikBerdasarkan analisis yang telah dilakukan, semua unit analisis menggunakan konsep glamour photography, yang menurut Pegram (2008: 90-93) adalah konsep fotografi yang memfokuskan pada keindahan tubuh subjek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa foto-foto yang terdapat pada majalah FHM Indonesia di berbagai edisi memiliki fokus untuk menonjolkan keindahan tubuh subjek semata.3.2 Analisis Paradigmatik: Adanya Objektivikasi Perempuan dalam Majalah FHM Indonesia3.2.1 Kode HermeneutikaKode hermeneutika pertama dari teknik pengambilan gambar. Berdasarkan teknik pengambilan gambar yang digunakan dapat memperlihatkan detail subjek sepertilekukan tubuh subjek, detail kostum subjek, ekspresi subjek, dan setting foto.Kode hermeneutika kedua yang muncul selanjutnya adalah pose subjek. Gestur-gestur yang ditampilkan oleh subjek dalam majalah ini banyak diantaranya yang tergolong dalam isyarat-isyarat yang menggoda laki-laki. Kemudian dari aspek kostum, subjek pada kelima unit analisis dalam penelitian ini semuanya diarahkan untuk menggunakan kostum tertentu oleh majalah ini. Hal ini terlihat dari keterangan foto yang menyebutkan bahwa terdapat pengarah kostum dalam foto ini. Selanjutnya, kostum yang banyak digunakan adalah bra. Kemudian asesoris yang sering ditemukan adalah sepatu hak tinggi.Menurut Danesi (2012: 216), dalam representasi seksual pakaian memainkan peranan sentral dalam menekankan seksualitas. Sehingga disini bra dan celana dalam yang dikenakan subjek dapat dipahami sebagai penegasan seksualitas perempuan yang dapat merangsang laki-laki secara visual. Secara keseluruhan, perempuan pada unit-unit analisis di atas digambarkan sebagai sosok yang sensual dan berusaha mengundang gairah pembaca.3.2.2 Kode ProairetikHasil dari analisis kode proairetik menyebutkan bahwa pada foto-foto kelima unit analisis penelitian ini, terdapat 3 jenis implikasi yang tidak berpihak pada perempuan yang berada di dalamnyaImplikasi pertama yang muncul adalah eksploitasi bagian tubuh subjek dan kualitas fisik subjek. Kemudian implikasi kedua dari tindakan-tindakan pada kelima unit analisis ini adalah merupakan lanjutan dari implikasi pertama, dimana eksploitasi tubuh subjek dapat berlanjut pada memunculkan fantasi erotis bagi laki-laki ataumemberikan rangsangan secara visual bagi laki-laki.Implikasi ketiga yang kemudian berkaitan dengan perempuan dalam foto ini adalah ia dapat dipersepsikan sebagai perempuan “tidak baik”. Menunjukkan hasrat seksual atau bahkan pengalaman seksual ini berarti menjebloskan diri perempuan itu sendiri ke dalam kategori “perempuan jalang”. (Prabasmoro, 2006:53).3.2.3 Kode SimbolikKesimpulan dari kode simbolik yang ditelaah dalam kelima unit analisis di atas adalah terdapat simbol-simbol yang menyatakan bahwa perempuan adalah objek seksual bagi pembaca laki-laki majalah FHM Indonesia.Pada akhirnya, simbol-simbol perempuan yang ada merujuk kepada suatu simbol dominan yaitu simbol dominasi laki-laki. Perempuan ini diarahkan oleh majalah ini untuk menarik di mata laki-laki dan merangsang secara visual bagi laki-laki. Kostum seksi yang digunakan, pose yang merangsang hasrat seksual, kemudian bagian-bagian tubuh subjek yang ditonjolkan, kesemuanya itu diarahkan mengikuti selera atau kesukaan laki-laki.3.2.4 Kode KulturalSetelah menganalisis kode kultural dari masing-masing unit analisis dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa lima foto yang diambil dalam majalah FHM Indonesia tidak mencerminkan kultur Indonesia. Kesimpulan ini didasarkan pada dua aspek yang dianggap mampu mengarahkan peneliti pada kode kultural tersembunyi, yakni kostum subjek dan pose subjek.Kostum subjek secara eksplisit dapat dikatakan terbuka atau memamerkan bagian-bagian tubuh tertentu dan menonjolkan keindahannya. Keadaan ini tentu tidaksesuai dengan kultur masyarakat Indonesia dimana dijelaskan Hidayana (2013: 60) dalam Jurnal Perempuan No.77 bahwa perempuan yang berpakaian mengumbar aurat, terbuka, dan seksi dapat diberi label perempuan ‘tidak baik’. Dengan begitu, subjek sebagai perempuan Indonesia yang tampak mengenakan pakaian yang ‘terbuka’ dapat dianggap sebagai ‘perempuan tidak baik’.Tidak hanya itu, perempuan dalam kelima unit analisis ini terlihat mengekspresikan seksualitasnya melalui beberapa bentuk gestur dan ekspresi yang diterjemahkan menjadi isyarat-isyarat merangsang laki-laki. Keadaan ini bertolak belakang dengan kultur masyarakat Indonesia. Perempuan dituntut untuk membendung dan mengontrol hasrat seksualnya. Setiap gerak tubuh perempuan seperti kerling mata, senyuman, cara duduk, dan lainnya selalu diawasi dengan ketat (Hidayana, 2013: 61).Perempuan yang menjadi subjek foto memang perempuan Indonesia, namun bagaimana majalah ini merepresentasikannya jelas bukan menggunakan kultur Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perempuan Indonesia pada majalah waralaba asal Britania Raya ini dikontruksi menggunakan kultur barat.3.2.5 Kode SemikSetelah melakukan analisis pada kelima foto yang menjadi unit analisis penelitian ini, penulis melihat bahwa perempuan yang menjadi subjek foto dalam majalah FHM Indonesia digambarkan sebagai objek seksual bagi pembacanya yang merupakan laki-laki. Dengan begitu FHM Indonesia turut melanggengkan mitos bahwa perempuan adalah objek seksual bagi laki-laki.Pada saat pembaca laki-laki melihat foto-foto ini maka terjadi sebuah alur yakni: memandang foto secara keseluruhan, mengidentifikasi aspek-aspek yang ada dalam foto, memandang bagian-bagian tubuh subjek sekaligus nilai-nilai sensualitasnya (berupa kualitas fisik, pose, dan lainnya), kemudian terjadi stimulasi seksual. Dengan begitu, terciptalah suatu konsep dimana perempuan dalam majalah ini adalah objek ‘tatapan’ laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ‘tatapan’. Konsep ini meminjam konsep Laura Mulvey, bahwa perempuan dipajang sebagai objek seksual yang berfungsi secara simultan bagi khalayak laki-laki yang dapat memperoleh kepuasan scopophilis dari kehadiran mereka.4. PembahasanGambaran perempuan dalam foto-foto yang ada pada majalah FHM Indonesia ini merupakan perwujudan dari objektivikasi perempuan. Terkait dengan objektivikasi, Star menguraikannya sebagai berikut:Objektivikasi adalah analisis yang digunakan untuk menjelaskan perlakuan-perlakuan terhadap perempuan (seringkali citra perempuan) yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya. Gagasan yang berhubungan dengan objektivikasi antara lain: tatapan (gaze), stereotip, komodifikasi, tontonan (spectatorship), dan pembelajaran peran-peran gender (Sunarto, 2009:163).Pada lima foto yang dianalisis terdapat indikasi adanya dualitas objektivikasi perempuan, dimana perempuan dijadikan “santapan“ dan “tatapan“ pada majalah FHM Indonesia. “Santapan“ disini merujuk pada posisi perempuan sebagai objek komodifikasi yang dijual oleh FHM Indonesia kepada pembaca laki-laki. Kemudian “tatapan“ yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek seksual bagi pembaca laki-laki.Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai “objek santapan“, dimana perempuan dijadikan komoditas yang dijual kepada para pembaca. Hal ini merupakan perwujudan dari gagasan dalam objektivikasi yang diutarakan diatas, yakni komodifikasi perempuan. Majalah FHM Indonesia adalah majalah dengan segmentasi pembaca utama laki-laki dewasa atau berusia 21 ke atas, atau yang dikenal sebagai ‘majalah pria dewasa‘.Kemudian berbicara mengenai motif media dengan tema seperti ini. Hal ini pernah dideskripsikan Yasraf Amir Pilliang bahwa penggunaan unsur seks dan sensualitas di dalam berbagai media akibat diterapkannya prinsip ‘Libidinal Economy‘ atau merangsang hasrat setiap konsumen melalui strategi sensual komoditas (Syarifah, 2006: 7). Perempuan merupakan hal yang disukai laki-laki, majalah pria dewasa kemudian mengusung tema sensualitas untuk meraup lebih banyak keuntungan dari pembaca laki-laki yang menghasrati perempuan sensual.Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai “objek tatapan“ yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Subjek pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze). dimana perempuan adalah objek ‘tatapan’ laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ‘tatapan’.Namun terdapat temuan yang menarik disini. perempuan dalam kelima foto ini juga terlihat secara aktif mengekspresikan seksualitasnya dalam berpose. Penulismenyimpulkan bahwa perempuan dalam foto ini merupakan objek seksual aktif, yang berarti suatu kondisi dimana perempuan dalam majalah ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan male gaze, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Namun ia sendiri tidak bersifat pasif, melainkan memiliki keterlibatan aktif dimana ia terlihat secara sadar melakukan pose-pose yang kerap disebut “pose syur”.Terdapat suatu pola dimana semua berpusat pada pembaca laki-laki, termasuk pendefinisian seksualitas perempuan yang ada dalam majalah ini. Prabasmoro (2006: 293) menyebutnya dengan pemusatan seksualitas pada seksualitas laki-laki menyebabkan seksualitas perempua dimaknai dan ditandai sebagai sesuatu untuk seksualitas laki-laki .Laki-laki terkesan superior dan perempuan sebagai pihak dibawahnya. Hal ini yang kemudian sejalan dengan konsep penting teori standpoint, bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang bergantung pada konteks dan keadaan tertentu dimana perbedaan lokasi dalam kedudukan sosial akan menghasilkan standpoint yang berbeda, tergantung dari pengalaman masing-masing.Melalui posisi superior, laki-laki dapat melanggengkan kekuasaannya atas seksualitas perempuan. Salah satu bentuk kontrol laki-laki dalam seksualitas perempuan adalah objektivikasi seksual, yaitu perlakuan-perlakuan yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya (Sunarto, 2009:163). Namun perempuan yang berada di posisi marjinal hanya bisa mengikutisudut pandang bentukan laki-laki bahkan terlibat aktif agar biasa diterima di lingkungan sosial. Feminis radikal kultural memandang bahwa objektivikasi seksual dimana laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek merupakan suatu bentuk opresi seksualitas.Objektivikasi perempuan dalam majalah FHM Indonesia terjadi karena adanya ideologi besar yang tersembunyi di dalamnya, yakni patriarki yang dianut oleh majalah ini dan masyarakat pada umumnya. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan.Patriarkisme menurut Bhasin (dalam Sunarto, 2009: 38), merupakan suatu pandangan yang menempatkan kaum laki-laki lebih berkuasa dibanding kaum perempuan. Pada penerapannya, seperti yang dijelaskan Soemandoyo (1999: 63) posisi laki-laki yang lebih dominan, lebih menentukan. Sedangkan posisi perempuan yang sub-ordinat, dalam beberapa hal, ditentukan dan dikuasai oleh laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5. Penutup5.1 SimpulanPada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi perempuan. Objektivikasi perempuan yang terjadi dalam majalah FHM Indonesia terdiri dari 2 poin. Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan “objek santapan“ atau komoditas yang dijual kepada para pembaca. Ini merupakan perwujudan dari salah satu gagasan dalam objektivikasi, yakni komodifikasi seksual perempuan. Majalah ini mengusung tema sensualitas perempuan untuk meraup keuntungan daripembaca laki-laki. Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan “objek tatapan“ atau objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Perempuan pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze).Objektivikasi perempuan berkaitan dengan struktur yang tanpa disadari telah lama tertanam di masyarakat yakni dominasi laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5.2 RekomendasiSecara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan atau refrensi bagi peneliti-peneliti lainnya untuk dilakukannya penelitian yang lebih lanjut, detail dan komprehensif tentang objektivikasi perempuan. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi pemahaman bagi para praktisi industri media massa, mengenai ketimpangan relasi gender yang terjadi melalui penggambaran perempuan dalam media massa khususnya majalah. Para praktisi diharapkan dapat memperhatikan kepentingan kaum perempuan agar dapat melakukan pemberitaan atau penggambaran yang layak dan berimbang mengenai perempuan. Dengan demikian, tidak semakin mengecilkan posisi perempuan dalam struktur masyarakat.Secara sosial, penelitian ini berusaha mengungkap objektivikasi yang dialami perempuan dalam masyarakat sebagai implikasi dari ideologi dominan patriarki. Khalayak diharapkan dapat berpikir kritis dan terus mempertanyakan ketimpanganyang terjadi pada perempuan, sebagai berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat. Sehingga terwujudnya masyarakat yang berkeadilan gender.6. Daftar RujukanSumber Buku:Barthes, Roland. (2010). Imaji, Musik, dan Teks. Yogyakarta: Jalasutra.Brooks, Ann. (2011). Posfeminisme & Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: JalasutraBudiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isi, dan Problem Ikonitas. Yogyakarta: Jalasutra.Danesi, Marcel. (2012). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Ibrahim, Idi Subandy, (2011), Kritik Budaya Komunikasi, Yogyakarta: Jalasutra.Kurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha IlmuPegram, Billy. (2008). Posing Techniques: For Photographing Model Portfolios. New York: Amherst Media.Prabasmoro, Aquarini Priyatna. (2006). Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Soemandoyo, Priyo. (1999). Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan dalam Pemberitaan Televisi Swasta, Jakarta, Yayasan Galang.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan dan Perempuan. Jakarta: KompasSyarifah. (2006). Kebertubuhan Perempuan dalam Pornografi. Jakarta: Yayasan Kota Kita.Sumber JurnalApsari, Diani. (2010). “Visualisasi Wanita Indonesia dalam Majalah Pria Dewasa”. Wimba Jurnal Komunikasi Visual dan Multimedia Vol. 2 No. 1: hal 65-79.Hidayana, Irwan. M. (2013, Mei). “Budaya Seksual dan Dominasi Laki-Laki dalam Perikehidupan Seksual Perempuan”. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 57-67.Muhammad, Husein. (2013, Mei). “Bukan Soal Tubuh tetapi Ruh”. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 103-115.
Understanding The Communication Behaviour Differences Between Father and Son in Divorced and Intact Families Muhammad Iman Adi Perkasa; Drs. Hj. Sri Widowati Herieningsih, MS
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.82 KB)

Abstract

Intact families have a strong structure bond in legal marital status or religion, as well as consisting of father, mother, and children. Conflict within both parents frequently make the intact structure could not sustain the marriage. On divorced and intact families, the relationship between father and son was always in the spotlight, partly because of the communication competence father tend to be lower than the mother. However, relationship between father and son on intact family rated have more effective communication behavior than in divorced families. This is reinforced by the data which states the existence significant association between divorced and juvenile delinquency figures dominated by sons. This study aims to determine and describe the subjective experiences of the communication differences between father and son in divorced and intact families, using descriptive qualitative method with phenomenological analysis. This ressearch used, Self-Concept Theory, Family Patterns Theory, Relational Dialectics Theory, Communication Relational Theory and Gender Stereotype Theory. The study found in divorced family : 1) Self disclosure tend to be low, thereby affecting son’s to unlock the difficulties in communication between fathe and son whereas not up to the private sphere as friendship and romantical communication. 2) The low communication intensity between father and son, causes the uncomfortable feel in every son to every communication process they do. 3) The low communication intensity also resulted depth and not exhaustive discussion or dialogue and covering only a simple daily communication between them. 4) Dialogue between father and son which tend directly to the subject matter, resulted content significance levels concept, influenced by low context culture.
ANALISIS ISI BERITA KASUS PENGEROYOKAN HARINGGA SIRLA PADA PORTAL BERITA ONLINE DETIK.COM Moghni Labib, Ridho; Manalu, S. Rouli
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.502 KB)

Abstract

Kasus pengeroyokan Haringga Sirla merupakan peristiwa yang terjadi menjelang pertandingan sepakbola antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta. Kasus tersebut menyedot perhatian publik yang tinggi, hingga berbagai pemberitaan muncul memberitakan peristiwa tersebut. Pemberitaan yang muncul terkait kasus tersebut menyajikan realitas melalui berbagai sudut pandang. Salah satu media yang memberitakan kasus pengeroyokan Haringga Sirla adalah portal berita online Detik.com.. Terkait kasus pengeroyokan Haringga Sirla, kasus ini dipilih karena kasus tersebut menarik perhatian publik yang tinggi, seiring dengan tingginya antusiasme masyarakat Indonesia mengenai perkembangan sepakbola Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsipsikan isi berita pada portal berita online Detik.com terkait dengan kasus pengeroyokan Haringga Sirla. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis isi kepada 75 berita yang dirilis Detik.com. Portal berita online Detik.com dipilih dalam penelitian ini, karena Detik.com merupakan salah satu portal berita online dengan arus distribusi pengunjung di internet yang tertinggi di Indonesia. Hasil analisis isi yang dilakukan dengan teori konstruksi realitas sosial menunjukkan bahwa, Detik.com melakukan pembingkaian terhadap peristiwa pengeroyokan Haringga Sirla sehingga pembaca memaknai peristiwa tersebut bukan bagian dari pengelolaan sepakbola melainkan, peristiwa hukum pada umumnya. Detik.com berusaha membangun kredibilitas melalui pemilihan narasumber dan proses memperoleh informasi mengenai kasus pengeroyokan Haringga Sirla, yang ditunjukkan melalui pencantuman sumber berita berupa pihak-pihak tertentu yang terlibat langsung dalam proses hukum dan peradilan terhadap para tersangka. Foto berita yang dimuat pada pemberitaan kasus pengeroyokan Haringga Sirla, berusaha untuk melakukan konstruksi sosial mengenai bagaimana proses yang dilalui oleh individu yang melakukan pelanggaran hukum dengan menunjukkan bagaimana para tersangka mengikuti proses hukum dalam mempertanggungjawabkan tindakan pengeroyokan yang dilakukan. Disarankan kepada Detik.com untuk meningkatkan keragaman isi berita, baik itu tema berita yang diangkat, sumber berita yang dipilih, maupun gambar atau foto berita dalam pemberitaan, yang akan meningkatkan kelengkapan realitas atas sebuah peristiwa yang terjadi, agar pembaca dapat memaknai sebuah peristiwa yang terjadi secara lengkap dan utuh serta dapat meminimalisir terjadinya bias makna, sehingga berita yang dirilis dapat menjadi rujukan dan memberikan pemahaman yang jelas kepada pembaca.
PERILAKU IMITASI FASHION SNSD OLEH SONE SEBAGAI BENTUK PRESENTASI DIRI DAN IDENTITAS SONE (ANALISIS FENOMENOLOGI PERILAKU FANS TERHADAP ARTIS IDOLANYA) Dewanti, Siska Ratih; Santosa, Hedi Pudjo; Widagdo, M Bayu; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.982 KB)

Abstract

Skripsi ini melaporkan hasil penelitian dari analisis fenomenologi terhadap fashion komunitas penggemar girls band korea SNSD ,yaitu SONE di Kota Tegal. Fashion SONEmenunjukkan bahwa ada pesan yang ingin disampaikan oleh mereka. Dengan pengamatan terhadap atribut fashion yang mereka gunakan, penelitian ini ingin memaknai bagaimana fashion bisa dijadikan sebuah sarana untuk mempresentasikan diri dan sebagai identitas SONE. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan kajian fenomenologi komunikasi dan memberikan pengetahuan bahwa komunitas fashion SONE mempunyai sisi yang unik dan tidak selalu identik denganperilaku yang melanggar norma . Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengungkapkan adanya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, studi pustaka, dan wawancara. Analisa data dilakukan bersamaan ketika peneliti mengumpulkan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku imitasi yang terjadi pada kelompok SONE terjadi dalam hal simbolik saja. Dimana mereka menggunakan pakaian yang sama dengan apa yang kerap digunakan oleh anggota SNSD untuk menunjukan pada masyarakat bahwa mereka merupakan bagian dari kelompok SONE. Kelompok SONE sendiri dikenal sebagai kelompok fandom k-pop “eksklusif”di kota Tegal ,selain itu mereka ingin membuat kesan dengan menyampaikan pesan nonverbal melalui perantara fashion yang mereka gunakan ,bahwa dengan menggunakan SNSD style yang notabene berbeda dari kebiasaan pakaian yang digunakan oleh kebanyakan orang di lingkungan mereka dankerap kali dianggap “aneh” mereka justru bisa tampil lebih modis dan akhirnya membuat orang tertarik dengan apa yang mereka gunakan.Kata Kunci : Kpop , SNSD , SONE , Imitasi , Fenomenologi
The Role of Multimedia Coordinator and Reporter in Management of Enjoy Semarang Section in Tribun Jateng Website Muhammad Irzal Adiakurnia; S. Rouli Manalu, Ph.D
Interaksi Online Vol 5, No 2: April 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.354 KB)

Abstract

In the era of advance technology, Indonesia participates as one of the countries that has a great number of internet users with 88,1 million active users in 2016. Yahoo and Daylysocial.net also said that Indonesian internet users prefer to access information through internet rather than radio or newspaper. This phenomenon indicates that various mass media must be converged with online in order to be easily accessed by the users. Tribun Jateng as one of the media incorporated in Group of Regional Newspaper, Kompas Gramedia, has done its convergence with online media. Tribun Jateng has a website called jateng.tribunnews.com. There is a section in the website called Enjoy Semarang, but does not become a priority for Tribun Jateng editorial staff. That phenomenon can be seen from several evidences: the travel news which was not updated and some of them which were adapted from other media. Moreover, the number of its visitors is less than other sections in Tribun Jateng website. We, as the team of the research study, have evaluated that Enjoy Semarang is potential to share information and support the business of Tribun Jateng. This is supported by two reasons: the huge interest of travel news and the rapid evolving of tourism industry in Indonesia. We have worked together with Tribun Jateng to build Enjoy Semarang section, which then changed into travel section. We have applied a lot of innovations with regard to the concept of covering news, multimedia integration (infographic, travel videos, map, and photo gallery), new integration of social media, marketing, and business for the sections. For two months and 21 days, the result is the increase of page view until 12,263. There were 310 news, four infographics, 22 photo galleries, four videos, nine maps, 800 followers of Instagram and Line, and more than 1,000 comments on social media. As for business, we got two advertorials. We made a series of online and offline events to increase the awareness of the travel section from 27% to 75%. Today, online media has become the reference of the readers. High competition makes each media cannot ignore the technology updates because it can build the innovation of technology and the special characteristics of the media. In the implementation, the competition has pulled the journalistic practice so that it has shifted from its own ideal values. The essence of journalism as the resources and the educators has changed, and it more concerns with the entertainment. This has led to the large number of the readers so that the business profit becomes bigger.
MEMAHAMI PENGATURAN PRIVASI KOMUNIKASI SANTRI PONDOK PESANTREN MODERN ISLAM TERKAIT DENGAN AKTIFITAS DALAM MEDIA JEJARING SOSIAL FACEBOOK Erva Maulita; Turnomo Rahardjo; Dr. Sunarto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.834 KB)

Abstract

MEMAHAMI PENGATURAN PRIVASI KOMUNIKASI SANTRI PONDOK PESANTREN MODERN ISLAM TERKAIT DENGAN AKTIFITAS DALAM MEDIA JEJARING SOSIAL FACEBOOKErva Maulita1, Turnomo Rahardjo2, Sunarto3erva_maulita@yahoo.comInformasi privat adalah sebuah informasi yang sangat berharga dan dapat mempengaruhi eksistensi seseorang di tengah lingkungannya. Salah satu informasi privat yang dimiliki oleh santri pondok pesantren modern Islam adalah informasi tentang aktifitas yang dilakukannya di dalam media jejaring sosial facebook. Aktifitas tersebut menjadi sebuah aktifitas privat karena sangat penting bagi keberadaan santri di pondok pesantren modern Islam dimana ketika aktifitas tersebut diketahui oleh pengurus pesantren, maka santri tidak akan terlepas dari hukuman. Di sisi lain santri memiliki keinginan untuk menceritakan aktifitasnya di media jejaring sosial facebook tersebut kepada teman-temannya. Untuk mengatur batasan kepemilikan informasi privat tersebut, maka diadakan pengaturan privasi komunikasi yang di dalamnya terdapat sebuah perjanjian tentang hak dan larangan yang telah disepakati oleh seseorang dengan orang lain sebagai pihak kedua pemilik informasi tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaturan privasi komunikasi yang dilakukan oleh santri dengan sahabatnya dalam menyembunyikan atau membuka informasi privat yang dimilikinya terkait dengan aktifitas dalam media jejaring sosial facebook.Kata kunci: pengaturan privasi, dialektis, informasi privatPendahuluanKehidupan di dalam pondok pesantren modern Islam sangat identik dengan peraturan yang ada di seluruh aspek kehidupan masyarakat pesantren termasuk santri. Adanya peraturan tersebut merupakan suatu pembentuk identitas dari masyarakat pesantren itu sendiri. Dalam Littlejohn disebutkan bahwa identitas adalah sebuah rupa serta usaha apa yang kita lakuka untuk membentuk rupa kita. (Littlejohn, 2009: 295)Adanya berbagaimacam peraturan tersebutt menimbulkan adanya ketakutan komunikasi dimana santri merasa dirinya diawasi oleh keberadaan aturan yang dapat menempatkannya pada posisi bersalah apabila diketahui melanggar aturan tersebut. Ketakutan komunikasi adalah bagian dari kelompok konsep yang terdiri atas penghindaran sosial, kecemasan sosial, kecemasan berinteraksi, dan keseganan. (Vivian, 2008; 99)Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dampaknya turut masuk ke dalam pondok pesantren modern Islam, santri mendapat sebuah jalan keluar dengan adanya keberadaan internet di lingkungan pesantren. Internet tersebut dapat diakses dengan mudah oleh santri tanpa adanya pengawasan yang ketat dari pengasuh pesantren terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan santri dengan memanfaatkan teknologi internet tersebut. Menurut John Vivian (Vivian, 2008; 262) internet adalah jaringan dasar yang membawa pesan. Sedangkan web adalah struktur kode-kode yang mengizinkan pertukaran bukan hanya antar teks tetapi juga grafis, video, dan audio. Komunikasi web menggeser banyak dari kontrol komunikasi melalui media massa ke penerima, membalikkan proses komunikasi tradisional. Penerima tidak hanyamenerima pesan, seperti biasa kita jumpai dalam siaran berita televisi. Penerima kini bisa berpindah ke lusinan alternatif melalui jaringan yang mirip jaring laba-laba.Salah satu situs yang sering diunduh oleh santri dalam memanfaatkan fasilitas internet di pesantren adalah situs jejaring sosial facebook. Melalui facebook, seseorang bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapa saja. Bagi seorang santri, facebook bisa digunakan sebagai sebuah jalan keluar untuk mengurangi ketakutan komunikasi. Oleh beberapa santri, facebook juga digunakan sebagai salah satu sarana untuk terbebas dari aturan yang melarang santri bergaul dan berinteraksi dengan lawan jenis.Kajian TeoriSetiap orang memiliki informasi privat dan informasi publik terkait eksistensi dirinya di tengah lingkungannya. Informasi privat adalah informasi mengenai hal-hal yang sangat penting bagi seseorang. Oleh karena itu, proses mengkomunikasikan informasi privat tersebut kepada orang lain disebut dengan pembukaan pribadi (private disclosure). (Turner, 2008;256). Menurut Petronio dalam Littlejohn (2009,307) seorang individu yang terlibat di dalam sebuah hubungan akan terus mengatur batasan-batasan antara apa yang umum dan pribadi, antara berbagaimacam perasaan-perasaan yang ingin dibagikannya kepada orang lain atau tidak ingin mereka bagikan.Dalam mengatur privasi komunikasinya, seseorang dihadapkan kepada dua pilihan antara kebutuhan untuk berbagi informasi tentang dirinya dengan kebutuhan untuk melindungi diri. Hal tersebut mengharuskan seseorang untuk menegosiasikan dan menyelaraskan batasan-batasan yang dijalinnya bersama orang lain. Hal inilah yang menjadi latar belakang ditemukannya Teori Pengaturan Privasi Komunikasi (Communication Privacy Management) oleh Sandra Petronio.Asumsi pertama dari teori ini adalah informasi rahasia tentang diri seseorang disebut dengan informasi privat. Teori pengaturan privasi komunikasi memberikan penekanan pada substans dari proses pembukaan pribadi atau pada hal-hal yang dianggap pribadi. Teori ini juga mempelajari bagaimana orang melakukan pembukaan melalui sistem yang didasarkan kepada aturan. (Turner, 2008: 256)Asumsi kedua adalah batasan privat. Batasan privat merupakan demarkasi informasi privat dan informasi publik. Dengan batasan ini, seseorang memberikan tanda informasi tentang dirinya yang bersifat privat maupun informasi yang bersifat publik. Ketika sebuah informasi diceritakan kepada orang lain, maka batasan disekelilingnya menjadi batasan kolektif dan informasi tersebut bukan hanya milik seorang diri namun sudah menjadi milik bersama (kolektif). (Turner, 2008; 257)Pengaturan privasi ini terdiri dari dua hal: pengembangan pengaturan privasi dan atribut pengaturan privasi. Pengembangan aturan privasi dipandu oleh beberapa kriteria yang ditetapkan oleh beberapa orang untuk mengungkapkan atau menyembunyikan informasi pribadi. Lima kriteria tersebut adalah: (1) kriteria budaya, (2) kriteria gender, (3) kriteria motivasi (4) kriteria kontektual, (5) kriteria biaya-manfaat (risk-benefit rasio).Menegosiasikan aturan dengan orang lain untuk kepemilikan informasi pribadi menjadi sebuah informasi bersama membutuhkan koordinasi dan menyelaraskan perilaku mereka yang terlibat di dalamnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: (1)aturan mengenai sifat tembus pandang (boundary permeability), (2) aturan tentang hubungan batasan (boundary linkage), (3) aturan mengenai kepemilikan informasi (boundary ownership). Ketika aturan-aturan tersebut dilanggar mungkin akan ada sanksi yang dijatuhkan. Petronio menyebutkan moment ini sebagai kekacauan batasan (boundary turbulance).Internet merupakan jaringan dasar yang membawa pesan. Sedangkan satu hal yang sangat dekat dengan internet adalah web, yang mengandung pengertian struktur kode-kode yang mengizinkan pertukaran bukan hanya antar eks tetapi juga grafis, video, dan audio (Vivian, 2008; 262). Vivian menyebutkan beberapa kekuatan internet: (1) dari segi isi, internet memuat banyak hal dari berbagaimacam bentuk file, (2) internet mempunyai ciri khas yang biasa disebut dengan daya navigasi yaitu link internal sehingga pengguna dapat dengan mudah berpindah halaman, (3) link eksternal merupakan ciri unik internet dimana dapat melakukan konektifitas antar situs secara global, (4) waktu menungu (loading) yang relatif cepat sehingga pengguna tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan informasi yang diinginkan (Vivian, 2008; 277)MetodeTipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan pengaturan privasi komunikasi yang dilakukan santri pondok pesantren modern Islam terkait dengan aktifitas yang dilakukannya dalam media jejaring sosial facebook.Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi, dimana peneliti akan mengkaji fenomena dari sudut pandang santri sebagai orang pertama yang mengalami secara langsung pengaturan privasi komunikasi yang dilakukannya terkait dengan aktifitas dalam media jejaring sosial facebook. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna dan hakikat dari pengalaman pengaturan privasi komunikasi santri pondok pesantren modern Islam, tidak hanya mencari penjelasan mengenai suatu realitas, mendapatkan gambaran yang berasal dari orang pertama yaitu santri pondok pesantren modern Islam melalui wawancara formal dan informal.Situs penelitian ini adalah santri Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta dengan alasan bahwa PPMI Assalaam Surakarta memiliki keterbukaan terhadap media internet. Subjek penelitian adalah santri PPMI Assalaam Surakarta yang duduk di kelas Madrasah Aliyah atau yang setingkat.Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam (indepth interview) dan kajian kepustakaan. Analisis interpretasi data menggunakan modifikasi dari Van Kaam (Moustakas, 1994: 120) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) listing and preminary grouping, (2) reduction and elimination, (3) clustering and thematizing the invariant constituens, (4) final identification of the variant constituent and themes by application: validation, (5) individual textural description, (6)individual struktural description, (7) textural-struktural description.PembahasanPondok pesantren modern Islam dekat dengan banyaknya aturan dan sistem punishment dan reward bagi siapa saja yang melanggar dan berprestasi. Aturan tersebut sebenarnya alat pembentuk identitas masyarakat pesantren. Dimana identitas terbentuk dari proses konstruksi makna yang dilatarbelakangi oleh atribur budaya atau sumber-sumber lain yang dapat dijadikan prioritas. Dan identitas tersebut mengacu kepada pelaku sosial. (Castell.2004:6)Proses pembentukan identitas berasal dari dua hal. Proses pembentukan identitas yang berasal dari dalam diri seseorang disebut dengan subjective dimension sedangkan proses pembentukan identitas yang berasal dari apa yang orang lain katakan tentang diri anda disebut dengan ascribed dimension. (Littlejohn, 2009: 131). Penegakan kedisiplinan dan aturan yang ada di pesantren merupakan sebuah upaya subjective dimension. Sedangkan ascribed dimension sangat tergantung dari bagaimana proses subjecive dmension belangsung. Apabila proses “penggemblengan” yang dilakukan oleh pihak pengasuh pesantren sukses dan dapat tercermin dalam perilaku sehari-hari santri maka masyarakat luar akan dapat menilai sendiri tentang identitas seorang santri.Namun tidak semudah itu dalam membentuk identitas seorang santri. Santri sebagai subjek sekaligus objek dalam pembentukan identitas tersebut memiliki karakteristik yang berbagaimacam. Lebih jauh disebutkan ada empat tahapan pembentukan identitas:Pada tingkat personal layer, santri dihadapkan kepada rasa keberadaan mereka menjadi bagian dari lingkungan pesantren. Dimana identitasnya sebagai seorang santri terkadang berbeda dengan identitasnya sebagai seorang individu. Tingkata kedua adalah enactmen layer dimana dalam tingkatan ini pengetahuan seseorang tentang seorang santri diperoleh dari apa yang dilakukannya, apa yang dimilikinya, dan bagaimana dia bertindak. Tingkatan ketiga adalah relational. Hal ini berkaitan dengan siapa diri anda dalam interaksi dengan orang lain. Identitas dalam tingkatan ini mengacu kepada hubungan seseorang dengan orang lain. Tingkatan keempat adalah communal dimana pada tingkatan ini sebuah identitas diikat pada kelompok atau budaya yang lebih besar.Pada tingkatan communal tersebut muncul adanya ketakutan komunikasi dalam diri santri. Menurut John Vivian, ketakutan komunikasi adalah bagian dari kelompok konsep yang terdiri atas penghindaran sosial, kecemasan sosial, kecemasan interaksi, dan keseganan. (Vivian, 2008:99) ketakutan komunikasi ini ditunjukkan pada saat-saat tertentu, diantaranya ketika santri memutuskan untuk melanggar sebuah aturan, maka secara otomatis terdapat gesture tubuh yang aneh untuk sebisa mungkin menyembunyikan apa yang dilakukannya tersebut.Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa identitas yang dibebankan kepada seseorang sebagai seorang santri yang diharuskan untuk taat dan patuh terhadap peraturan pesantren yang akan membentuknya menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti dan menggunakan ilmu agama pada setiap kegiatannya hanya berlaku sementara ketika santri tersebut berada di lingkungan pesantren. Ketika berada di luar lingkungan pesantren, maka identitasnya kembali menjadi identitas pribadi. Demikian pula ketika sedang berinteraksi dengan media jejaring sosial facebook.Berbagaimacam aktifitas yang dilakukan oleh seorang santri dalam media jejaring sosial facebook ternyata menjadi aktifitas yang dapat dikategorikan sebagai aktifitas pelanggaran peraturan pesantren. Namun santri berusaha untuk menyembunyikannya agar tidak diketahui oleh pengurus pesantren. Aktifitas-aktifitastersebut menjadi sebuah informasi privat yang aan dijaga dengan sebaik-baiknya oleh seorang santri. Informasi privat adalah informasi mengenai hal-hal penting yang sangat berarti bagi seseorang. Karena pentingnya hal ini bagi konsepsi seseorang akan dirinya dan bagi hubungannya dengan orang lain, maka sangat penting untuk mengkomunikasikan informasi privat ini kepada orang lain (Turner, 2008: 256)Pembukaan diri merupakan proses bercerita dan merefleksikan isi informasi privat seseorang kepada orang lain. Dalam melakukan pembukaan diri, seseorang dihadapkan dengan sebuah ketegangan apakah akan menceritakan informasi privat tersebut kepada orang lain dan menjadi rawan atau tidak. Dalam hal ini seseorang akan mengalami adanya pertentangan. Dimana yang dimaksud dengan pertentangan adalah dua hal yang berbeda dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya dalam diri seseorang dan mampu memberikan tekanan kepada orang tersebut. (Griffin, 2009: 155)Dalam membuat keputusan apakah hendak menceritakan informasi privat tersebut kepada orang lain atau tidak, seseorang membutuhkan orang yang dapat dipercaya untuk berbagi informasi privat tersebut. Dalam hal ini, santri mempercayakan kepada sahabatnya untuk menjadi pemilik kedua informasi privatnya. Yang dimaksud dengan hubungan persahabatan adalah sebuah hubungan yang didalamnya terdapat kegiatan saling mencari, saling memiliki, dan saling menunjukkan keterikatan yang kuat antara satu orang dengan yang lainnya. Persahabatan juga saling menerima, saling berbagi rahasia dan saling mempercayakan rahasia antara satu dengan yang lainnya, saling berbagi ketertarikan terhadap sesuatu, saling mendukung secara emosional, dan dalam hubungan persahabatan tersebut terdapat sebuah harapan untuk dapat mempertahankan hubungan itu sampai akhir. (Gambel. 2005: 266)Berkaitan dengan pembukaan diri yang dilakukan santri terhadap sahabatnya, kedua belah pihak memerlukan adanya aturan yang dapat mengatur kepemilikan informasi bersama tersebut. Aturan tersebut disepakati secara tidak tertulis dimana santri melakukan perjanjian dengan sahabatnya selaku pemilik kedua informasi privatnya untuk tidak menceritakan kepada pengasuh tentang informasi privat tersebut dalam kaitannya dengan interaksi dan aktifitas di media jejaring sosial facebook.Batasan kepemilikan informasi terdiri dari tiga hal: (1) boundary permeability (batasan mengenai sifat tembus aturan), (2) boundary linkage (aturan tentang hubungan batasan) dan (3) boundary ownership (aturan tentang kepemilikan batasang). (Littlejohn, 2009: 309)Selain melakukan perjanjian tidak tertulis dengan sahabatnya, hal lain yang dilakukan oleh seorang santri adalah mengatur batasan pertemanan. Santri tidak sembarangan menerima permintaan pertemanan. Santri akan menerima permintaan pertemanan oleh seseorang ketika mutual friend lebih dari dua puluh orang.Simpulan dan saranDari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa santri menggunakan media jejaring sosial facebook sebagai suatu upaya untuk terlepas dari adanya aturan yang mengikatnya dalam kehidupan sehari-hari di pesantren. Kegiatan di dalam facebook tersebut merupakan sebuah informasi privat yang di dalamnya terdapat sebah pengaturan privasikomunikasi yang dilakukan oleh santri bersama dengan sahabatnya sebagai pemilik kedua informasi privatnya tersebut. Santri memutuskan untuk membuka informasi privatnya tersebut dilatar belakangi oleh dua hal: (1) pemilik kedua informasi privatnya adalah orang yang memiliki kedekatan hubungan dan dapat dipercaya, (2) santri melakukan perjanjian berupa batasan-batasan kepemilikan untuk mencegah agar informasi privat tersebut tidak diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu peneliti menyarankan agar pihak pengasuh pesantren lebih aktif dalam mengawasi aktifitas santri dengan menggunakan media internet terlebih lagi jejaring sosial facebook untuk terciptanya pribadi santri yang sesuai atau mendekati visi misi pesantren. Bila mana perlu, penulis menyarankan agar pengasuh pesantren memblokir situs facebook agar tidak dapat diakses oleh santri ketika berada di lingkungan pesantren. Hal ini untuk meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan santri dan dapat mempengaruhi identitasnya sebagai seorang santri yang diharapkan mempunyai akhlak dan kepribadian yang baik.Daftar PustakaCastell, Manuel. (2004). The Power Of Identity (2nd ed). Victoria: AustraliaDenzin, K., dan Lincoln, Y. (2009). Handbook of Qualitative Researh. Jogjakarta:Pustaka Pelajar.Devito, Joseph. (2009). Human Communication The Basic Course (11th ed).United States of Amerika: Pearson Education, Inc.Flew, Terry. (2005). New Media. Oxford: Oxford University PressGambel, M., dan Gambel, T. (2005). Communication Works (8th ed). New York:Mc Graw HillGriffin, EM. (2009). A First Look At Communication Theory (7th ed). New York:Mc Graw HillLittlejohn, S., dan Foss, K. (2009). Teori Komunikasi. Jakarta: SalembaHumanikaMartini, Rina dan kawan-kawan. (2010). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.Semarang: Undip PressMoleong, Lexy J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Pesearch Methods. California:Sage PublicationNazir,Moh. (2009). Metode Penelitian (7th ed). Bogor: Ghalia IndonesiaSuswono, Sarlito. (2011). Psikologi Remaja (ed rev). Jakarta: Rajawali PressTata Tertib Dasar Santri (TIBSAR). 2012. Sukoharjo.Assalaam PublisherVivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed). Jakarta: KencanaWest, R., dan Turner L. (2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis danAplikasi (3th ed). Jakarta: Salmeba HumanikaSumber dari InternetIshaq, Muchammad. (2008). Pengertian Jejaring Sosial. Dalam http://ml.scribd.com/doc/78363152/Pengertian-Jejaring-Sosial diakses tanggal 06/09/2012 pukul 06.00.Darmasih, Ririn. (2009). Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sex Pra Nikah Pada Remaja SMA di Surakarta. Dalam http://id.scribd.com/doc/69586907/11/Karakteristik-remaja diakses tanggal 24/10/2012 pukul 06.07Admin. (2012). Laboratorium Komputer. Dalam http://www.assalaam.or.id/live-streaming/laboratorium-komputer diakses tanggal 19/03.2013 pukul 13.00Admin. (2012). Lapangan Futsal. Dalam http://www.assalaam.or.id/live-streaming/lapangan-futsal diakses tanggal 19/03/2013 pukul 13.01Admin. (2012) Ruang Belajar. Dalam http://www.assalaam.or.id/live-streaming/ruang-belajar diakses tanggal 10/3/203 pukul 13.02
KARYA BIDANG PEMBUATAN DAN PENGELOLAAN WEBSITE “WAWASAN.CO” (REPORTER 2, ADMIN 2, DAN VIDEOGRAPHER) Hikmandika, Trian Kurnia; Widyatmoko, Agus Toto; Lukmantoro, Triyono; Ayun, Primada Qurrota
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.235 KB)

Abstract

Saat ini, industri media di Indonesia saling terintegrasi antara media cetak dengan media online. Portal berita online digunakan untuk mempublikasikan berita yang dihasilkan oleh media cetak. Karya bidang jurnalistik ini berawal dari keresahan karena tidak dikelolanya portal berita online milik Harian Wawasan. Kami bekerjasama dengan Harian Wawasan untuk membuat dan mengelola portal berita online www.wawasan.co. Tujuannya yaitu menyediakan dan membagikan informasi seputar Jawa Tengah. Segmentasi dari www.wawasan.co yaitu anak muda yang hidup di Jawa Tengah khususnya Semarang.Dalam proses pengelolaanya, penulis berperan sebagai reporter 2, admin 2, serta videographer. Sebagai reporter 2, penulis melakukan penulisan artikel dan pengambilan foto/gambar pada rubrik Komunitas, Pesona, Musik & Film, Galeria, dan Kuliner. Sebagai admin 2, penulis bertanggung jawab mengunggah berita pada rubrik Semarang dan membagikannya melalui akun sosial media Twitter, Facebook, dan Fanpage Facebook. Sebagai videographer, penulis mengambil gambar dan melakukan proses editing.Selama proses pengelolaan website, Wawasan.co berhasil memenuhi target sebanyak 6.856 visitors, dengan rincian 258 visitors per hari, dan 1.500 visitors per bulannya dengan target awal 50 visitors per hari. Tim Wawasan.co juga berhasil mengunggah 69 artikel dan 7 video dari target 60 artikel selama project berlangsung.Dari hasil evaluasi diketahui bahwa sebesar 93% khalayak tahu keberadaanWawasan.co dan 95 % berminat untuk mengunjungi Wawasan.co.
Efektifitas Gaya Kepemimpinan Dan Iklim Komunikasi Kepegawaian Terhadap Motivasi Kerja Pegawai Kepolisian Bidhumas Polda Jawa Tengah Roseana, Brilianti; Noor Rakhmad, Wiwid
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted to know the effectiveness of leadership style and climate of employee communication to work motivation of police officer of bidhumas of Central Java Police. Definition of theory of X-efficiency by Leibenstein a good leadership style is a leadership style that can control their subordinates by adjusting to the situation. The purpose of this study is to provide an overview to the agency and become input for Bidhumas Polda Central Java, to keep motivating its members in carrying out the tasks in order to achieve maximum results. Sampling in this research is total sampling. The population in the study were all employees of BidHumas Polda Central Java. The number of samples studied were 34 respondents.Based on the hypothesis test conducted using multiple linear regression analysis. There is influence of leadership style and climate of employee communication to work motivation of BidHumas Polda Jateng staff. This is indicated by multiple linear regression test conducted on leadership style (X1) variable, and employee communication climate (X2) on employee work motivation (Y) got significance value 0,000 (<0,05) variable Y. In the hypothesis test obtained coefficient value direction regression leadership style of 0.368, communications climate of 0.207. Suggestion given that is expected able to give description to institution and become input for Bidhumas Polda Central Java, to keep motivating its member in carrying out duty in order to achieve maximum work result.This research was conducted to know the effectiveness of leadership style and climate of employee communication to work motivation of police officer of bidhumas of Central Java Police. Definition of theory of X-efficiency by Leibenstein a good leadership style is a leadership style that can control their subordinates by adjusting to the situation. The purpose of this study is to provide an overview to the agency and become input for Bidhumas Polda Central Java, to keep motivating its members in carrying out the tasks in order to achieve maximum results. Sampling in this research is total sampling. The population in the study were all employees of BidHumas Polda Central Java. The number of samples studied were 34 respondents.Based on the hypothesis test conducted using multiple linear regression analysis. There is influence of leadership style and climate of employee communication to work motivation of BidHumas Polda Jateng staff. This is indicated by multiple linear regression test conducted on leadership style (X1) variable, and employee communication climate (X2) on employee work motivation (Y) got significance value 0,000 (<0,05) variable Y. In the hypothesis test obtained coefficient value direction regression leadership style of 0.368, communications climate of 0.207. Suggestion given that is expected able to give description to institution and become input for Bidhumas Polda Central Java, to keep motivating its member in carrying out duty in order to achieve maximum work result.
WISATA KELUARGA DALAM PROGRAM ACARA JATENG EXOTIC DI CAKRA SEMARANG TV Adityo Cahyo Aji; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo; I Nyoman Winata; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.282 KB)

Abstract

Media massa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam era teknologi seperti saat ini. Salah satu fungsi pers atau media massa adalah sebagai sumber informasi bagi masyarakat. Dalam hal ini media massa televisi menjadi media untuk menyampaikan pesan berupa informasi yang dikemas berbentuk berita feature wisata keluarga. Disinilah peran komunikasi berlangsung, yaitu sebagai penyampai pesan yang ingin disampaikan dari komunikator kepada komunikan. Pada karya bidang ini membuat sebuah program feature dengan format audio-visual pada televisi dengan tema Wisata Keluarga di Semarang dan Sekitarnya. Karya ini disuguhkan dengan konsep tayangan yang menarik dan kreatif. Konsep tayangan berita feature ini berbeda dengan konsep tayangan yang saat ini banyak digunakan oleh media televisi lain, yakni dengan mengajak satu buah keluarga untuk berwisata ke beberapa tempat dalam satu hari penuh dengan tanpa harus menginap dan memakan banyak waktu. Tempat wisata yang diangkat disini antar lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Kuliner Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea Pantai Cahaya, Kuliner Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Wisata Air Water Blaster Semarang, Pusat Oleh-Oleh Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Kuliner Toko Oen, Wisata Sejarah Kota Lama, Kuliner Malam Pasar Semawis Semarang. Tema tersebut dikerjakan melalui 3 tahap, yaitu tahap pra produksi, tahap produksi, dan tahap paska produksi. Setelah melalui 3 tahap tersebut, terciptalah sebuah karya program fature yang siap untuk di publikasikan melalui media televisi. Merupakan suatu kesempatan, karena saya mendapatkan ijin tayang pada media televisi lokal Cakra Semarang TV. Karya ini dapat di tampilkan pada suatu spot program acara mengenai pariwisata bernama Jateng Exotic. Setelah melalui berbagai proses kerja, karya ini bertujuan untuk memperkenalkan, memberitakan, menginformasikan tempat pariwisata di Kota Semarang dan sekitarnya. Berupa tempat wisata bersejarah, tempat rekreasi, dan wista kuliner. Disuguhkan dengan kemasan atau cara penayangan yang inovatif, unik, dan menarik. Karya Bidang ini tayang pada hari Minggu, 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014 pukul 14.30 WIB di Cakra Semarang TV.  Kata kunci: feature, jateng exotic, wisata, jurnalistik, program televisi

Page 8 of 157 | Total Record : 1563