cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA KOREA DAN INTENSITAS KOMUNIKASI DALAM PEER GROUP DENGAN INTENSITAS KHALAYAK MENONTON DRAMA SERI KOREA Oktavyana, Azizah; Herieningsih, Sri Widowati; Setiabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA KOREA DANINTENSITAS KOMUNIKASI DALAM PEER GROUP DENGANINTENSITAS KHALAYAK MENONTONDRAMA SERI KOREAABSTRAKJudul : Hubungan Motivasi Belajar Bahasa Korea dan Intensitas Komunikasi dalamPeer Group dengan Intensitas Khalayak Menonton Drama Seri KoreaNama : Azizah OktavyanaNim : D2C006015Fenomena Korean wave di Indonesia ditandai dengan kepopuleran drama seriKorea dan juga kebudayaan dan bahasa Korea. Permasalahannya adakah keterkaitanantara motivasi belajar bahasa Korea dan juga intensitas komunikasi dalam peergroup dengan intensitas khalayak menonton drama seri Korea.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara motivasibelajar bahasa Korea (X1) dan intensitas komunikasi dalam peer group (X2) denganintensitas khalayak menonton drama seri Korea (Y).Upaya menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan teoriDependensi (Dependency Theory) dengan menggunakan teori pendukungAchievement Motivation Theory dan juga Teori Kelompok Rujukan. Penelitian inimenggunakan metoda eksplanatori dengan perhitungan mengunakan uji KonkordansiKendall yang mengukur hubungan antara ketiga variabel.Hasil penelitian menemukan bahwa variabel motivasi belajar bahasa Korearesponden tergolong rendah sedangkan variabel intensitas komunikasi dalam peergroup dan juga intensitas khalayak menonton drama seri Korea tergolong tinggi.Hasil penelitian tersebut dilakukan uji hipotesis menghasilkan bahwa ada hubunganantara motivasi belajar bahasa Korea dan intensitas komunikasi dalam peer groupdengan intensitas khalayak menonton drama seri Korea. Hal tersebut dibuktikandengan nilai chi-square hasil perhitungan yaitu 73,266 lebih besar dari r tabel yaitu5,991. Nilai tersebut berarti bahwa Ha (ada hubungan di antara ketiga variabel)diterima dan H0 (tidak ada hubungan antara ketiga variabel) ditolak.Kesimpulan dari hasil uji hipotesis adalah ketika motivasi belajar bahasa Koreadigabungkan dengan intensitas komunikasi dalam peer group akan memilikihubungan yang kuat dan signifikan dengan intensitas khalayak menonton drama seriKorea.Kata Kunci : Belajar Bahasa Korea, Komunikasi dalam Peer Group, Drama SeriKoreaABSTRACTTitle : The relationship of motivation in learning Korean and the intensitycommunication in peer groups with the audience intensity of watching Koreandrama seriesNama : Azizah OktavyanaNIM : D2C006015The Korean wave phenomenon in Indonesia can be seen with the popularity ofKorean drama series and also Korean culture and language. The problem is whetherthere is realtionship between motivation in learning Korean and the intensitycommunication in peer group with the intensity of watching Korean drama series.The objectives of this research is to examine the relationship betweenmotivation in learning Korean (X1) and the intentisty communication in peer group(X2) with the intensity of watching Korean drama series (Y).In accordance with the research problem above, researcher applies DependencyTheory supported with some theories which are Achievement Motivation Theory andReference Group Theory. This research uses explanatory methods that calculatesusing Kendall concordance test that measures the relationship of those threevariables.The result of this research shows that the variable of motivation in learningKorean values low. But the other variables, the intensity communication in peergroup and the intensity of watching Korean drama series values high. The hypothesistest of the result shows that there is a relationship between motivation in learningKorean and the intensity communication in peer group with the intensity of watchingKorean drama series. It is statistically tested by the chi-square value that shows73.266 which is higher than r-table which value is 5.991. The value shows that thatHa (there is relationship between three variables) accepted and H0 (there is norelationship between three variables) denied.The conclusion of the the hypothesis test is when motivation in learning Koreancombine with the intensity communication in peer group will significantly have astrong relationship with the intensity of watching Korean drama series.Keywords: learning Korean, intensity communication in peer group, watching koreandrama seriesPENDAHULUANTayangan asal Korea, khususnya yang berbentuk drama seri semakin banyakmemadati program-program yang ada di stasiun televisi di Indonesia. Drama seriKorea menjadi salah satu elemen penting dalam sejarah pertelevisian Indonesia.Semenjak awal penayangannya di tahun 2002, hingga saat ini drama seri Korea masihmenjadi salah satu andalan stasiun televisi untuk menjaring pemirsa (Bintang Online,2011).Penayangan drama seri Korea di stasiun TV Indonesia memang cukupmendapatkan tempat tersendiri pada pemirsanya. Perolehan rating dari drama seriKorea tersebut juga tidak mengecewakan. Pada Juli 2011, serial Naughty Kiss danDongyi yang ditayangkan di stasiun TV Indosiar pada jam tayang siang hari berhasilmeraih rating 3 dengan share lebih dari 20 (Bintang Online, 2012).Penayangan drama seri Korea yang cukup digemari oleh pemirsa Indonesiamembuat pihak stasiun TV bahkan menayangkan kembali beberapa judul drama seriKorea. Boys Over Flowers misalnya, drama seri Korea yang diadaptasi dari animasiJepang ini memang sangat terkenal di negara asalnya. Demam Boys Over Flowersyang melanda Indonesia dimanfaatkan oleh stasiun TV Indosiar yang menayangkankembali drama seri tersebut di layar kaca Indonesia beberapa kali. Tercatat oleh AGBNielsen rating pada minggu kedua Juli 2010, Boys Over Flowers mendapatkan rating3,1 dengan share 23,8. Perolehan rating tersebut cukup tinggi mengingat jam tayangyang bukan di jam tayang utama (Lautan Indonesia Forum, 2010).Maraknya penayangan drama seri Korea di Indonesia merupakan salah satubentuk dari suatu fenomena Korean wave atau yang juga biasa disebut Hallyu wave.Korean wave merupakan suatu fenomena tersebarnya budaya pop Korea secaraglobal. Drama seri dan musik populer asal Korea yang sering disebut K-Popmerupakan konten utama dari fenomena Korean wave. Selain mempopulerkanbudaya-budaya pop asal Korea, Korean wave juga memperkenalkan masyarakatdunia dengan bahasa Korea dan budaya tradisional Korea(http://id.wikipedia.org/wiki/Hallyu).Pada penelitian yang pernah dilakukan oleh Nuri Hidayati (2011) mencobamenjelaskan pengaruh drama seri Korea terhadap minat mempelajari budaya danbahasa Korea. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya komunitas yang menaungipara pecinta kebudayaan Korea di Indonesia, salah satunya Hansamo yang berbasis diKota Bandung. Komunitas yang berdiri pada 10 September 2006 itu pada tahun 2012memiliki anggota kurang lebih sekitar 1.500 orang yang sebagian besar adalah kaumremaja (Wanita Indonesia, 2012). Dengan rasa keingintahuan yang sedangberkembang, remaja menjadi sangat mudah tertarik pada hal-hal baru yang atraktifdan menarik minat mereka.Munculnya ketertarikan khalayak pada budaya dan bahasa Korea merupakansalah satu wujud dari pengaruh dari media massa. Namun, pengaruh kuat dari mediamassa sudah tidak dapat diaplikasikan lagi dalam perkembangan teknologi yangsemakin maju. Dengan adanya teknologi, segala keputusan beralih kepada individu.Begitu pula dalam menggunakan media. Individu mulai mempertimbangkankebutuhannya sebelum mengonsumsi media. Aspek kebutuhan pribadi seorangindividu menjadi salah satu faktor yang menentukan keputusan dalam mengonsumsimedia. Bagi para individu yang sedang mempelajari bahasa Korea, mereka akancenderung mengonsumsi media yang akan memberikan mereka pengetahuan yangdapat membantu mereka dalam kegiatan belajar yang sedang mereka lakukan.Remaja sebagai sosok yang memiliki emosi yang kurang stabil membutuhkanpihak lain yang dapat memberikan motivasi lebih kepada mereka terutama untukmengambil keputusan, dalam hal ini menentukan tayangan apa yang akan merekatonton. Salah satunya yaitu peer group. Peer group sebagai kelompok utama dalamkehidupan remaja menjadi role model utama remaja dalam berperilaku. Salah satunyadalam menentukan tontonan yang mereka tonton.Dari uraian di atas muncul pertanyaan apakah terdapat hubungan antaramotivasi belajar bahasa Korea dan intensitas komunikasi dalam peer group denganintensitas khalayak dalam menonton drama seri Korea. Dan bagaimana relasihubungan yang terjadi di antaranya?ISIHubungan antara ketiga variabel yaitu motivasi belajar bahasa Korea, intensitaskomunikasi dengan peer group dan intensitas khalayak menonton drama Koreadijelaskan oleh DeFleur dan Ball-Rokeach (1976) dalam teori Dependensi yangmelihat pertemuan khalayak dengan media berdasarkan tiga kerangka teoritis yaitu1. Perspektif perbedaan individual,Perspektif perbedaan individual memandang bahwa sikap dan organisasi personalpsikologisindividu akan menentukan bagaimana individu memilih stimuli darilingkungan, dan bagaimana ia memberi makna pada stimuli tersebut.2. Perspektif kategori sosial,Perspektif kategori sosial berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompokkelompoksosial yang reaksinya pada stimuli tertentu cenderung sama.3. Perspektif hubungan sosial.Sedangkan perspektif hubungan sosial menekankan pentingnya peranan hubungansosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa(Rahmat, 2007:203-204).Teori tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media oleh individudipengaruhi oleh tiga hal yaitu perspektif individu, kategori atau kelompok sosial danhubungan sosial. Dalam penelitian ini perspektif individu merupakan motivasi belajarbahasa Korea yang dapat mengarahkan individu dalam menggunakan media yaitudrama Korea. Sedangkan perspektif kategori sosial dan hubungan sosial terdapatdalam variabel lain dalam penelitian ini yaitu komunikasi dalam peer group. Individusebagai anggota dari peer group akan cenderung berperilaku sama dengan individuindividulain yang ada di dalam peer group tersebut.Tipe penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah tipe eksplanatif,yaitu tipe penelitian yang menjelaskan hubungan atau korelasi antara motivasi belajarbahasa Korea sebagai variabel pertama, intensitas komunikasi dengan peer groupsebagai variabel kedua, dan intensitas khalayak menonton drama seri Korea sebagaivariabel ketiga. Populasi dalam penelitian ini adalah Korean Studies Centre (KSC)Universitas Diponegoro. Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalahmahasiswa anggota Korean Studies Centre Universitas Diponegoro yang berusiaantara 17-23 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik TotalSampling. Saat ini anggota KSC yang hanya ada 40 orang yang terdiri dari 35 orangmahasiswa UNDIP dan 5 orang mahasiswa universitas lain.Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis Konkordansi Kendallmenggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS) release 16.Berdasarkan hasil uji SPSS di atas dapat dilihat bahwa koefiensi konkordansi Kendallsebesar 0,916. Sedangkan untuk menguji signifikansi konkordansi Kendall tersebutdiadakan tes dengan menggunakan rumus chi-square. Dari perhitungan SPSS di atasdapat diketahui nilai chi-square (X2) sebesar 73,266. Dalam table chi-square untukderajat kebebasan (df) 2 dan signifikansi 0,05 didapatkan nilai X2 pada tabel yaitu5,99. Maka 73,266 > 5,99 berarti hubungan antara ketiga variabel dapat dikatakansignifikan dan H0 (tidak ada hubungan antara ketiga variabel) ditolak dan Ha (adahubungan antara ketiga variabel) diterima.Hasil uji hipotesis penelitian ini menghasilkan bahwa motivasi belajar bahasaKorea, intensitas komunikasi dalam peer group dan intensitas khalayak menontondrama seri Korea memiliki hubungan yang simultan dan signifikan. Uji hipotesisyang menghasilkan hubungan yang simultan dan signifikan tersebut menandakanbahwa apabila kedua variabel independen yaitu motivasi belajar bahasa Korea danintensitas komunikasi dalam peer group digabung maka akan memiliki hubunganyang kuat dengan variabel dependen yaitu intensitas khalayak menonton drama seriKorea.Hasil uji hipotesis menjelaskan bahwa motivasi belajar bahasa Korea yangtinggi bersama dengan tingginya intensitas komunikasi dalam peer group makaintensitas khalayak menonton drama seri Korea juga akan tinggi. Hal ini sejalandengan Dependency Theory yang dikemukakan oleh Melvin De Fleur dan SandraBall Rokeach yang menjelaskan bahwa adanya hubungan integral antara khalayak,media dan sistem sosial (Littlejohn, 2004:267). Hal itu berarti bahwa khalayakmenggunakan media untuk memuaskan kebutuhan dan meraih tujuan mereka. Dalampenelitian ini, media, yaitu drama seri Korea, digunakan oleh khalayak sebagai salahsatu sumber referensi yang digunakan dalam memahami bahasa Korea yang sedangmereka pelajari dan juga digunakan sebagai salah satu sarana untuk melebur dalamkelompok sosialnya yaitu peer group.PENUTUPSimpulan1. Terdapat Hubungan Antara Motivasi Belajar Bahasa Korea (X1) dan IntensitasKomunikasi dalam Peer Group (X2) Dengan Intensitas Khalayak MenontonDrama Seri Korea (Y)Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan Konkordansi Kendall danjuga uji Chi-Square didapatkan bahwa nilai signifikansi yang dihasilkan lebihbesar dari r tabel yaitu 73,266 > 5,991. Hal ini berarti bahwa ada hubungan yangsimultan dan signifikan di antara ketiga variabel. Variabel independen yaitumotivasi belajar bahasa Korea dan intensitas komunikasi dalam peer groupdigabung dan menghasilkan hubungan yang simultan dan signifikan denganvariabel dependen yaitu menonton drama seri Korea. Motivasi belajar bahasaKorea yang rendah apabila digabungkan dengan intensitas komunikasi dalam peergroup yang tinggi akan menghasilkan hubungan yang simultan dan signifikandengan intensitas khalayak menonton drama seri Korea yang tergolong tinggi.Saran1. Saran AkademisBerdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa ada hubungan antara faktorinternal dan eksternal seorang individu dalam mengonsumsi tayangan televisidalam hal ini drama seri Korea. Untuk penelitian selanjutnya diharapkanpenggunaan metode lain seperti metode kualitatif untuk meneliti lebih dalam.Metode studi kasus dapat digunakan untuk memahami lebih dalam tentangfenomena Korean wave yang sedang melanda Indonesia. Metode analisis resepsijuga dapat digunakan dalam mengetahui proses penerimaan dan persepsi khalayakmengenai fenomena Korean wave. Penelitian ini menggunakan drama seri Koreasebagai salah satu aspek Korean wave, diharapkan juga bahwa ada penelitianmengenai aspek-aspek lain seperti K-Pop, film Korea, ataupun penelitian tentangpenggemar Korean wave yang jumlahnya di Indonesia semakin bertambah.2. Saran PraktisSaran ini ditujukan pada praktisi media di bidang televisi, yaitu stasiun televisi.Adanya fenomena Korean wave yang masih melanda Indonesia dapatdimanfaatkan dengan menambah banyaknya tayangan dari Korea Selatan,khususnya drama seri Korea. Penayangan drama seri Korea tidak hanyamemberikan hiburan bagi pemirsanya tetapi juga dapat memberikan wawasan barukepada pemirsa mengenai budaya Korea.3. Saran SosialAdanya penelitian ini diharapkan dapat melihat sisi positif dari fenomena Koreanwave. Bahwa Korean wave bukan hanya fenomena yang terjadi di dalam industrihiburan tetapi juga dapat menyentuh aspek edukasi. Fenomena Korean wave dapatmenambah wawasan global tetapi juga dapat menambah wawasan pribadi seorangindividu. Selain itu, peer group sebagai salah satu pihak terdekat dari seorangremaja, tidak hanya dapat memberikan pengaruh buruk terhadap remaja tetapi jugapengaruh positif dalam perkembangan remaja.DAFTAR PUSTAKAReferensi Buku :Ajzen, I. & M. Fishbein. 1975. Belief, Attitude, Intention, and Behavior: AnIntroduction to Theory and Research. Reading: Addison-Wesley.Ardianto, Elvinaro dan Lukiati Komala E. 2004. Komunikasi Massa : SuatuPengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.Devito, Joseph. 1997. Komunikasi Antarmanusia Edisi 5. Jakarta : ProffesionalBooks.Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.Gerungan, W.A. 2000. Psikologi Sosial. Bandung : Refika Aditama.Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Harris, Richard Jackson. 2004. A Cognitive Psychology of Mass CommunicationFourth Edition. New Jersey : Lawrence Erlbaum Associates.Korean Culture and Information Centre Ministry of Culture, Sports, & Tourism.2011. K-Pop:A New Force in Pop Music. Seoul:Korean Culture andInformation Service.Kriyantono, Rahmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss. 2005. Theories of Human CommunicationEight Edition. Toronto : Thomson Wadsworth.Makmun, Abin Syamsuddin. 2003. Psikologi Pendidikan. PT Rosda Karya Remaja,Bandung.Santoso, Slamet. 2009. Dinamika Kelompok. Jakarta : Bumi Aksara.Severin, Wener J. & James W. Tankard. 2005. Teori Komunikasi Sejarah, Metode,dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta : Prenada Media.Santrock, John W. 1996. Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga.Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta : Prestasi Pustaka.Wiryanto. 2006. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Grasindo.Referensi Skripsi :Alfitriarso, Koeshanindyo Suryo. (2007). Pengaruh Terpaan Tayangan Basket danIntensitas Komunikasi dalam Kelompok Referensi Terhadap MotivasiBerprestasi Basket Mahasiswa UNDIP. Skripsi. Universitas Diponegoro.Hidayati, Nuri. (2011). Pengaruh Tayangan Drama Korea di Televisi Terhadap MinatMahasiswa Mempelajari Budaya dan Bahasa Korea. Skripsi. Universitas BinaNusantara.Stephanie, Brian. (2009). Studi Mengenai Faktor-Faktor Preferensi KonsumsiTelevisi Lokal di Kota Semarang. Skripsi. Universitas Diponegoro.Referensi Internet :AGB Nielsen. (2007). Newsletter Edisi November 2007. Dalamhttp://cs.agbnmr.com/Uploads/Indonesia/AGB%20Nielsen%20Newsletter%20Nov-Ind.pdf. Diunduh pada 2 Januari 2013 pukul 19.00 WIB.AGB Nielsen. (2010). Newsletter Edisi Maret 2010. Dalamhttp://www.agbnielsen.com/Uploads/Indonesia/AGBNielsenNewslettermarch2010-Eng.pdf. Diunduh pada 2 Januari 2013 pukul 18.58 WIB.Anggie, Hernowo. (2012). Winter Sonata dan Endless Love Hadir Lagi di antv.Bintang Online. Dalam http://www.tabloidbintang.com/film-tvmusik/kabar/59459-winter-sonata-dan-endless-love-kembali-hadir-di-antv.html.Diunduh pada 2 Januari 2013 pukul 20.31 WIB.Anonim. (2010). Diskusi Rating Televisi. Lautan Indonesia Forum. Dalamhttp://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=69555.290. Diunduhpada 10 Januari 2013 pukul 10.00 WIB.Anonim. (2013). Hallyu. Wikipedia. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Hallyu.Diunduh pada tanggal 3 Januari 2013 pukul 22:10 WIB.Irwansyah, Ade. (2011). Apa Yang Mengawali Booming Drama Korea di TV?(Bukan Endless Love, lho). Bintang Online. Dalamhttp://www.tabloidbintang.com/extra/wikibintang/17961-apayangmeng%20awali-booming-drama-korea-di-tv-bukan-endless-love-lho.html.Diunduh pada tanggal 2 Januari 2013 pukul 20:01 WIB.Rayendra, Panditio. (2012a). Drama Korea di TV Nasional Mulai KehilanganPamor?. Bintang Online. Dalam http://www.tabloidbintang.com/film-tvmusik/ulasan/54641-drama-korea-di-tv-nasional-mulai-kehilangan-pamor.html.Diunduh pada 11 Januari 2013 pukul 07:39 WIB.Rayendra, Panditio. (2012b). Ini Serial Korea yang Ceritanya Paling Memorable.Bintang Online. Dalam http://www.tabloidbintang.com/hasil-polling/52097-polling-report-ini-serial-korea-yang-ceritanya-paling-memorable.html. Diunduhpada 11 Januari 2013 pukul 08.03 WIB.Wardani, Pipit Ayu. (2012). Kian Cinta Budaya Anak Negeri dengan Hansamo.Tabloidwanitaindonesia.net.Dalamhttp://www.tabloidwanitaindonesia.net/CMpro-v-p-443.html. Diunduh pada 3Januari 2013 pukul 20:55 WIB.
Representasi Kecantikan Perempuan Berhijab pada Akun Instagram Selebgram Hijab (Analisis Wacana Sara Mills) Dina, Nisa Bela; S, Hapsari Dwiningtyas; Gono, Joyo NS; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.571 KB)

Abstract

The aim of this observation is to explain how beauty is being represented through instragram accounts of veiled selebgram. This observation uses three instragram accounts of Indonesian veiled selebgram which comprises stylish veiled selebgram, syar’i veiled selebgram, and niqab selebgram. This thesis is a qualitative observation by using Sara Mills analysis discourse method to examine the text of instagram account of veiled selebgram and to reveal ideologies within. Beauty myth theory and body disciplining by Naomi Wolf is used to unload the myth that enfolds body. The result of this observation shows that beauty myths are still exist, but in a different kind of strategy. Disciplinary in the form of body discipline is done and showed up through body posture, skin, and make up. In the end, veiled women in this text are remain unchained from beauty myth. Religious norm which is compromised with modernity and commercial cannot remove the existing myth.
Korean Male Celebrity Masculinity Reception in Running Man Rendy Ardian Muhammad; Dr. Hapsari Dwiningtyas, S.Sos, MA
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.034 KB)

Abstract

This research discussing about Korean male celebrity who have different masculinity when they act in drama and when they are in variety show. When they act in drama, masculine character which shown in the cold-but-care act seems to be stood out. But, when they are in variety show that is shown their real life, male celebrity tend to be feminime, such as disciplining the body. Male celebrity who can represent this masculinity is Song Joong Ki. The aim of this research is to find audiences‟ reception towards Korean male celebrity in Running Man variety show. The reception process covers the text content to search the dominant meaning through preferred reading by using semiotics analysis to find the audiences‟ reception category in dominant, negotiate, and opposition position. This research results show that Song Joong Ki masculinity in his cold-but-care drama character seems to be dominate the audience and even make it as part of important male character in the real life. This result came from the informants‟ reasons to love Korean drama because of the story which reflected the daily life. Then there are three tipe of masculinity which was intepreted by the informants, which is gentleman, ruler, and warrior masculinity. But, the gentleman type is still considered as the masculinity that dominate women. Most of informants interpret Song Joong Ki‟s masculinity on Running Man variety show in dominant position. The informants who are placed in the dominant position thought that Song Joong Ki should treat women well, have a firm body movement, have great general and cooking knowledge, groom his hair, have a soccer hobby, and have fashion appearance that doesn‟t look feminine, because those elements are rigid or have to be owned by men. Informants also interpret other masculinity elements, such as Song Joong Ki‟s make up and weak physical ability in negotiation position. It means that audience can negotiated men who wear make up and don‟t have great physical strength as long as in the suitable context
Komunikasi untuk Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini Dyah Woro Anggraeni; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.33 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya angka kekerasan seksual pada anaksetiap tahunnya. Salah satu hal yang mempengaruhi fenomena tersebut adalah kurangnya pengetahuan anak mengenai topik seksualitas, sehingga anak sulit mengenali bahwa yang terjadi padanya merupakan bentuk kekerasan seksual. Kekerasan seksual yang terjadi pada anak dapat dicegah dengan cara melakukan komunikasi mengenai pendidikan seks pada anak sedari dini. Orangtua sebagai anggota keluarga yang berkewajiban menumbuhkan nilai-nilai anak, seharusnya lebih memiliki peran dalam melakukan komunikasi tersebut. Realitas yang t erjadi, beberapa orang tua yang masih merasa tabu dalam membicarakan topik-topik seksualitas pada anak, menjadikan hambatan tersendiri bagi komunikasi dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan komunikasi antara orangtua dan anak usia dini dalam kaitannya dengan pendidikan seks. Peneliti menggu nakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dialogue Theory, Rule’s Theory, Role’s Theory dan Family Communication Patterns Theory.Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada metode fenomenologi dari Von Eckartsberg. Subjek penelitian ini adalah informan yang memiliki anak usia dini (0-5 tahun).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga memiliki aturan-aturan terutama dalam melakukan pendidikan seks. Aturan dibedakan menjadi dua yaitu secaraeksplisit dan implisit, aturan secara eksplisit berupa kegiatan diskusi antara orang tua dan anak mengenai topik-topik seksualitas, sedangkan secara implisit berupa aturan yang tidak tampak jelas, seperti mengatur pakaian yang digunakan anak untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual. Perasaan tabu menjadi hambatan bagi orang tua untuk melakukan pendidikan seks pada anak usia dini. Orang tua yang merasa tabu dalam membicarakan seksualitas pada anaknya, mereka cenderung menghindari dalam membicakan topik-topik seperti pemerkosaan, pencabulan dan bentuk-bentuk hubungan intim lainnya. Sedangkan orang tua yang tidak merasa tabu melakukan pendidikan seks, tidak memiliki batasan dalam membicarakan topik seksualitas pada anak. Eufemisme dapat digunakan untuk meminimalisir adanya hambatan komunikasi berkaitan dengan perasaan tabu dalam membicarakan seksualitas.Keyword: Komunikasi keluarga, Pendidikan Seks, Dialog
Pengaruh Terpaan Bermain Boardgame Waroong Wars dan Tingkat Pendapatan Terhadap Minat Beli Kuliner Tradisional Ahda Hanif Fauzi; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 8, No 2: April 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.948 KB)

Abstract

Boardgame currently continues to grow in Indonesia, as seen from the many local boardgame popping up and the player community itself. This is a potential that can be used by both governments and entrepreneurs in terms of promoting their products. And on the other hand Indonesia's per capita income continues to increase every year and its people eat at least once a day outside the home, still inferior when compared to neighboring countries, even though the increasing number of people dining outside can encourage economic growth through the culinary field. Thus this study aims to determine the effect of exposure to Waroong Wars board games and the level of income on buying interest in traditional culinary. Theories used in this research are Social Learning Theory and Information Consumption Theory. This research is a quantitative research with explanatory type. This study uses a non random technique with a total sample of 50 people aged 15 years and over who have played the Waroong Wars board game.. The results of a simple linear regression analysis show that exposure to playing Waroong Wars boardgame has no influence on traditional culinary buying intentions, indicated by a significance value of 0.101 which is greater than 0.05, and the level of income has no influence on traditional culinary buying interest. This can be seen from the test results obtained a significance value of 0.394 which is greater than 0.05. from the results obtained by exposure to playing the Waroong Wars board game and the level of income does not have an influence on buying interest in traditional culinary, it is recommended for culinary entrepreneurs to look for other alternative media to increase consumer interest in traditional culinary such as social media or food reviewers both in television media and Internet. As for the government, it is suggested to encourage the interest of buying traditional culinary through television and internet media as well as increasing the holding of traditional culinary festivals from various regions in Indonesia.
Proses Gatekeeping Pemberitaan RUU Pilkada pada Koran Tempo Dian Kurniati; Hedi Pudjo Santosa; Much Yulianto; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.201 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap proses gatekeepingyang berlangsung di redaksi media massa dalam menyeleksi berita. Mekanisme kerja mediayang memiliki fungsi sebagai alat kontrol kebijakan pemerintah akan menarik ditelititerutama saat memuat berita tentang isu yang berkaitan dengan hak-hak publik, sepertiRencana Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah di Koran Tempo.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatifdengan menggunakan teori di antaranya teori gatekeeping (Shoemaker: 1996) dan teoripolitik media massa (McNair: 2011). Untuk mengetahui proses gatekeeping pemberitaanRUU Pilkada di Koran Tempo, peneliti mewawancarai pihak yang terlibat secara langsungdalam proses penerbitan berita RUU Pilkada di Koran Tempo meliputi reporter, redaktur,redaktur pelaksana, dan pemimpin redaksi.Hasil penelitian ini menunjukkan Koran Tempo mendorong demokrasi deliberatifberjalan di Indonesia sehingga menolak RUU Pilkada. RUU Pilkada yang mewacanakanpengembalian wewenang memilih kepala daerah kepada DPRD dinilai akan mencederaisemangat demokrasi di Indonesia. Publik memiliki hak untuk berpartisipasi dalammemberikan suara politiknya melalui pemilu, sehingga pemilihan kepala daerah harusberjalan secara langsung. Koran Tempo sebagai media massa yang bertugas untukmengontrol kebijakan pemerintah merasa wajib untuk mengawal, mengkritik, danmenggagalkan pengesahan RUU Pilkada.Iklim demokrasi juga didorong di redaksi Koran Tempo dengan mempersilakan setiaporang untuk berpartisipasi dalam rapat perencanaan pemberitaan. Rapat adalah aktivitas rutindi redaksi untuk menentukan materi pemberitaan yang akan disampaikan kepada khalayak.Rapat inilah yang menjadi penentu berita mana yang layak dimuat dan ditonjolkan, termasuksudut pandang yang akan diambil saat menuliskannya. Dengan demikian, proses gatekeepingyang paling dominan di Koran Tempo adalah level rutinitas media.
Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Stand Up Comedy dan Faktor Demografi (Usia dan Jenis Kelamin) dengan Perilaku Kekerasan Verbal pada Remaja Dwi Wahyuni, Desi; Herieningsih, sri
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.703 KB)

Abstract

Penelitian ini berangkat dari maraknya kasus kekerasan verbal yang terjadi di kalangan remaja serta banyaknya unsur kekerasan yang dibalut dengan hiburan dalam program stand up comedy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan intensitas menonton tayangan stand up comedy, usia dan jenis kelamin dengan perilaku kekerasan verbal pada remaja. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) dari Albert Bandura dan Teori Kategori Sosial dari DeFlleur dan Ball Rokeach. Hasil penelitian menyatakan bahwa baik intensitas menonton tayangan stand up comedy, usia, dan jenis kelamin tidak memiliki korelasi dengan perilaku kekerasan verbal remaja.
Adaptasi Budaya dan Harmoni Sosial ( Kasus Adaptasi Budaya Ikatan Mahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta ) Fitria Purnama Sari; Taufik Suprihatini; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.835 KB)

Abstract

Adaptasi Budaya dan Harmoni Sosial( Kasus Adaptasi Budaya Ikatan Mahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta )AbstrakMahasiswa perantauan merupakan pendatang di sebuah daerah dengan latar belakang budaya yangberbeda dari daerah asalnya. Saat berada di daerah baru, biasanya mahasiswa perantauan akan bergabungdalam sebuah ikatan mahasiswa berbasis etnisitas. Ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini bertujuan untukmenyatukan mahasiswa perantauan. Namun, ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini terkesan eksklusif,tertutup dan tidak mau berinteraksi dengan budaya di luar ikatan mahasiswa berbasis etnisitas. Kesaneksklusif dan tertutup rentan terhadap konflik dengan host culture. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui cara beradaptasi mahasiswa perantauan yang tergabung dalam ikatan mahasiswa berbasisetnisitas, kendala yang dihadapi mahasiswa perantauan selama beradaptasi dan memahami penerimaanhost culture terhadap budaya minoritas mahasiswa perantauan. Upaya menjawab permasalahan dan tujuanpenelitian dilakukan dengan paradigma interpretif dengan menggunakan metode analisis fenomenologi.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Anxiety/Uncertainty Management Theory (Gudykunst,William : 2005 ), Interaction Adaption Theory ( Gudykunst, William : 2005 ). Subjek penelitian adalahenam mahasiswa perantauan yang tergabung dalam tiga ikatan mahasiswa berbasis etnisitas serta tigaorang host culture yang berstatus mahasiswa. Sedangkan lokasi penelitian ini berada di Yogyakarta.Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa perantauan harus beradaptasi dengan budaya di Yogyakarta,seperti bahasa, adat istiadat dan cita rasa makanan. Mahasiswa perantauan akan menggunakan tigastrategi untuk beradaptasi dengan bahasa, yaitu strategi aktif, pasif dan interaktif. Sedangkan untukberadaptasi dengan adat istadat di Yogyakarta, mahasiswa perantauan mempelajari saat berinteraksidengan host culture. sedangkan untuk beradaptasi dengan cita rasa makanan, mahasiswa perantauancenderung untuk memilih makanan yang cocok dengan selera mereka. Meskipun mereka tergabung dalamikatan mahasiswa berbasis etnisitas, mereka dapat menjalin hubungan baik dengan host culture. Haltersebut dapat dilihat dari kegiatan – kegiatan yang dilakukan mahasiswa perantauan bersama hostculture. Di sisi lain, host culture masih memiliki persepsi negatif terhadap mahasiswa perantauan.Meskipun begitu, host culture dapat menerima keberadaan mahasiswa perantauan selama mereka dapatmenjaga hubungan baik dengan masyarakat Yogyakarta. Ketika mahasisa perantauan dan host culturesaling beradaptasi, pada akhirnya mereka memiliki kompetensi komunikasi. Adanya sikap mindful antaramahasiswa perantauan,penerimaan host culture serta kompetensi komunikasi antara keduanya dapatmenciptakan harmoni sosial di tengah – tengah keberagaman budaya yang ada. Implikasi akademis yangdapat menambah pengetahuan mengenai proses interaksi antarbudaya terutama Anxiety / UncertaintyManagement Theory dari Gudykunst. Cakupan teoritis mengenai komunikasi antarbudaya yang mindfulperlu diperluas dengan memasukkan faktor tingkat pendidikan yang bisa mempengaruhi terciptanyasituasi komunikasi yang mindful.Kata kunci : adaptasi budaya, etnisitas, harmoni sosialCulture Adaptation and Social Harmony( The Adaptation Culture Case of Student BondsBased On Ethnicity in Yogyakarta )AbstractMigrant students are newcomer in a region with different culture background of their region original.When the migrant student in a new region, they join in a student bonds based on ethnicity. The aim of thisstudent bonds based on ethnicity is bringing them together. However, the student bonds based onethnicity is exclusive, enclosed impressed and do not want to interact with the culture outside the studentbonds based on ethnicity. This exclusive and enclosed impressed is conflict vulnerable with host culture.The goals of this research are understand how the migrant student who joined in student bonds based onethnicity can be adapted, obstacles when migrant student are adapted and understand the acceptance ofhost culture to migrant students’ minority culture. Attempting to answer the issue and the goals byinterpretive paradigm and using phenomenological analysis method. The theories in this research areAnxiety/Uncertainty Management Theory (Gudykunst, William : 2005 ), Interaction Adaption Theory (Gudykunst, William : 2005 ). The subject of this research are six migrant students who joined in studentbonds based on ethnicity and three student of host culture. This research’s location in Yogyakarta.The outcome of this research shows the migrant student must be adapted with culture in Yogyakarta, suchas language, custom and the taste of food. The migrant students will use three strategies to languageadapted, such as active, passive and interactive strategy. While adapted with the custom is learning whenthe migrant student interact with host culture. while adapted with the taste of food, the migrant studentstend to choose the food which suited to their taste. While the migrant student joined in student bondsbased on ethnicity, they can have a good relation with host culture. This can be seen from the activitieswhich done by migrant students with host culture. In the other hand, host culture still having a negativeperception toward the migrant students. Nevertheless the host culture can accept the existence of migrantstudent during they keep the good relation with the people of Yogyakarta. When the migrant student andhost culture having an adaptation with each other, they have a communication competence. A mindfulattitude from migrant student, acceptance from host culture and communication competence betweenmigrant student and host culture can create social harmony in the diversity of culture. Academicimplication which can increase the knowledge about the process of intercultural interaction especiallyAnxiety / Uncertainty Management Theory from Gudykunst. Theoretical coverage of the mindfulintercultural communication needs to be expanded to include education level factors that can affect thecreation of mindful communication situations.Key word: culture adaptation, ethnicity, social harmonyAdaptasi Budaya dan Harmoni Sosial ( Kasus Adaptasi Budaya IkatanMahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta )SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Fitria Purnama SariNIM : D2C 009 067JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangSebagai mahasiswa yang menuntut ilmu di daerah dengan latar budaya baru, yang kemudianakan disebut sebagai mahasiswa perantauan, mereka akan merasa asing ketika berada di daerahtersebut, terutama daerah yang memiliki latar budaya yang berbeda dari daerah asalnya.Kehadiran mereka pun sangat mudah dikenali, misalnya saja dari bahasa dan logat yangdigunakan berbeda dengan host culture.Sebagai mahasiswa perantauan, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan barumereka. Bentuk adaptasi para mahasiswa perantauan dengan host culture dapat berupa adaptasidengan bahasa, adat istiadat, norma, kepercayaan bahkan makanan. Bagaimana paramahasiswa perantauan ini dapat beradaptasi sangat mempengaruhi hubungan dengan hostculture kedepannya.Mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta atau mahasiswa perantauan ini biasanyaakan membentuk satu paguyuban berdasarkan kesamaan latar budaya atau yang biasa disebutdengan ikatan mahasiswa. Ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini bertujuan untukmempersatukan mereka selama mereka berada di Yogyakarta.Hal itulah yang memberikan kesan ekslusif yang seolah – olah paguyuban seperti ikatanmahasiswa berbasis etnis ini “ berbeda “ dengan budaya host culture dan tidak mauberinteraksi dengan budaya di luar paguyuban. Tidak mau berinteraksi dengan budaya di luarpaguyuban memiliki arti yaitu budaya yang ada dalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitastersebut tidak bisa melebur menjadi satu dengan budaya sekitar yang berbeda sehingga tidakdapat menghargai perbedaan antara satu budaya dengan budaya lain. Selain itu, ikatanmahasiswa berbasis etnisitas ini dapat menimbulkan solidaritas sempit antar anggotanya.Hal itu juga berbeda dengan semboyan bangsa Indonesia “ Bhinneka Tunggal Ika “ yangmemiliki arti “ Berbeda – beda tetapi tetap Satu Jua “. Berbeda – beda disini merujuk padakebudayaan bangsa Indonesia yang beragam namun tetap harmonis demi terciptanya persatuandan kesatuan bangsa. Harmoni sosial dapat tercipta apabila budaya yang beragam tersebut dapatmelebur menjadi satu dan kelompok antar etnis yang mengusung setiap budaya dapat salingmenghargai tanpa ada pengkotak – kotakan budaya.1.2 Rumusan MasalahRumusan masalah dalam penelitian ini adalah:1. Bagaimanakah cara beradaptasi mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswaberbasis etnisitas dengan host culture?2. Apa sajakah kendala yang dihadapi oleh mahasiswa yang tergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas selama beradaptasi dengan host culture?3. Bagaimanakah penerimaan host culture dengan budaya minoritas, dalam hal iniadalah budaya dari ikatan mahasiswa berbasis etnisitas?1.3 Tujuan PenelitianDari penjelasan – penjelasan di atas peneliti di sini berusaha untuk:1. Memahami cara beradaptasi mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswaberbasis etnisitas dengan host culture.2. Memahami kendala yang dihadapi oleh mahasiswa yang tergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas selama beradaptasi dengan host culture.3. Memahami penerimaan host culture dengan budaya minoritas, dalam hal ini adalahbudaya dari ikatan mahasiswa berbasis etnisitas.1.4 Signifikansi Penelitian1.4.1 Kegunaan TeoritisPenelitian ini secara teoritis atau akademis diharapkan dapat memberikan kontribusiterhadap intercultural adaptation saat ini dalam melihat fenomena antara paguyuban sepertiikatan mahasiswa berbasis etnisitas khususnya etnis luar Jawa di Yogyakarta dalam konteksadaptasi dengan host culture.1.4.2 Kegunaan PraktisSecara praktis penelitian ini diharapkan paguyuban – paguyuban seperti ikatanmahasiswa berbasis etnisitas khususnya etnis luar Jawa di Yogyakarta dapat menciptakanharmoni sosial mengingat Indonesia memiliki keberagaman budaya.1.4.3 Kegunaan SosialHasil penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan kepada masyarakat mengenaibagaimana cara mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswa beradaptasi danmenciptakan harmoni sosial dengan host culture.1.5.Kerangka Pemikiran Teoretis1.5.1 State of Art1.5.2 Paradigma InterpretifStudi tentang mahasiswa yang tergabung sebagai anggota ikatan mahasiswa berbasis etnisitasdalam menciptakan harmoni sosial dengan host culture, secara teoritik didekati denganmerujuk pada gagasan genre interpretif, yaitu pemikiran – pemikiran teoritik ( komunikasi )yang berusaha menemukan makna dari suatu tindakan dan teks ( Littlejohn, 1999 : 15 )1.5.3 Pendekatan FenomenologiMenurut Littlejohn ( dalam Rahardjo, 2005 : 44 ), sejalan dengan genre interpretatif yangdigunakan sebagai basis berpikir dalam penelitian ini, maka gagasan teoritik yang memilikiketerkaitan dengan genre interpretatif adalah fenomenologi.1.5.4 Teori Manajemen Ketidakpastian ( Uncertainty ) dan Kecemasan ( Anxiety )1.5.5 Teori Interaksi Adapatasi1.6 Operasionalisasi Konsep1.7 Metoda Penelitian1.7.1 Desain PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor ( 1975 :2 ) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan datadeskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapatdiamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan inidvidu tersebut secara holistik ( utuh ).1.7.2 Situs PenelitianLokasi yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah lingkungan tempat berkumpulnyaikatan mahasiswa berbasis etnisitas yang ada di Yogyakarta.1.7.3 Subjek PenelitianSubjek penelitian adalah mahasiswa – mahasiswa perantauan di Yogyakarta yang tergabungdalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitas seperti BAMANA ( Barisan Mahasiswa Kaimana ),FORMASY ( Forum Mahasiswa Sula Yogyakarta ) dan Forum Keluarga Mahasiswa NTT –Bersatu Yogyakarta serta host culture yang merupakan warga yang berasal dari Yogyakarta yangpernah berinteraksi langsung dengan mahasiswa perantauan yangtergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas.1.7.4 Sumber DataJenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah :1. Data Primer2. Data Sekunder1.7.5 Teknik Pengumpulan DataData dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam dari subyek penelitian.1.7.6. Analisis dan Interpretasi DataBAB IIDESKRIPSI TEKSTURAL DAN STRUKTURALADAPTASI BUDAYA DAN HARMONI SOSIAL2.1 Deskripsi Tekstural Individu ( Mahasiswa Perantauan )2.1.1 Informan 12.1.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.1.2 Interaksi Antarbudaya2.1.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.2 Informan 22.1.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.2.2 Interaksi Antarbudaya2.1.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.3 Informan 32.1.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.3.2 Interaksi Antarbudaya2.1.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.4 Informan 42.1.4.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.4.2 Interaksi Antarbudaya2.1.4.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.5 Informan 52.1.5.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.5.2 Interaksi Antarbudaya2.1.5.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.6 Informan 62.1.6.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.6.2 Interaksi Antarbudaya2.1.6.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2 Deskripsi Tekstural Individu ( Host Culture )2.2.1 Informan 12.2.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.1.2 Interaksi Antarbudaya2.2.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2.2 Informan 22.2.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.2.2 Interaksi Antarbudaya2.2.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2.3 Informan 32.2.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.3.2 Interaksi Antarbudaya2.2.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3 Deskripsi Struktural Individu ( Mahasiswa Perantauan )2.3.1 Informan 12.3.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.1.2 Interaksi Antarbudaya2.3.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.2 Informan 22.3.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.2.2 Interaksi Antarbudaya2.3.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.3 Informan 32.3.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.3.2 Interaksi Antarbudaya2.3.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.4 Informan 42.3.4.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.4.2 Interaksi Antarbudaya2.3.4.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.5 Informan 52.3.5.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.5.2 Interaksi Antarbudaya2.3.5.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.6 Informan 62.3.6.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.6.2 Interaksi Antarbudaya2.3.6.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4 Deskripsi Struktural Individu ( Host Culture )2.4.1 Informan 12.4.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.1.2 Interaksi Antarbudaya2.4.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4.2 Informan 22.4.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.2.2 Interaksi Antarbudaya2.4.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4.3 Informan 32.4.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.3.2 Interaksi Antarbudaya2.2.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.5 Deskripsi Tekstural Gabungan ( Mahasiswa Perantauan )2.6 Deskripsi Tekstural Gabungan ( Host Culture )BAB IIISINTESIS MAKNA TEKSTURAL DAN STRUKTURAL3.1 Proses Adaptasi AntarbudayaSebagai pendatang di Yogyakarta, informan ( mahasiswa perantauan ) mengalami perbedaanbudaya. Perbedaan budaya yang dapat mereka rasakan secara jelas adalah bahasa, cara berbicara,kebiasaan dan cita rasa makanan. Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang selalu digunakanoleh masyarakat Yogyakarta dalam kesehariannya, terutama bagi warga Yogyakarta yang sudahberusia lanjut, mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa Jawa dibanding bahasa Indonesia.Informan ( mahasiswa perantauan ) perlu beradaptasi terhadap penggunaan bahasa Jawa olehhost culture.Informan ( mahasiswa perantauan ) juga perlu beradaptasi dengan kebiasaan host culture.Informan ( mahasiswa perantauan ) perlu memahami kebiasaan host culture seperti menyapadengan anggukan sambil tersenyum yang diikuti dengan sapaan monggo atau bahasa tubuhmenyilakan masuk menggunakan tangan ketika mempersilakan seseorang masuk terlebih dahuluyang terkadang juga diikuti dengan kata monggo. Kebiasaan host culture seperti itu merupakanbentuk dari komunikasi non verbal.Proses adaptasi informan 1, 2, 3 dan 6 ( mahasiswa perantauan ) terhadap cita rasamakanan di Yogyakarta cukup lama. Pada awal proses adaptasi, mereka makan hanya untukmemenuhi kebutuhan perut yang lapar tanpa mempedulikan rasa yang menurut mereka tidakenak. Bahkan menurut informan 2 dan 6 ( mahasiswa perantauan ) benar – benar menganggapmakanan di Yogyakarta “ tidak bisa dimakan “, sehingga selama proses adaptasi, mereka hanyamemakan makanan instan saja.Ellingsworth ( dalam Liliweri, 2001:63 ) mengemukakan bahwa setiap individudianugerahi kemampuan untuk beradaptasi antarpribadi. Oleh karena itu maka setiap individumemiliki kemampuan untuk menyaring manakah perilaku yang harus atau yang tidak harusdilakukan. Adaptasi nilai dan norma antarpribadi termasuk antarbudaya sangat ditentukan olehdua faktor, yakni pilihan untuk mengadaptasi nilai dan norma yang fungsional atau mendukunghubungan antarpribadi. Atau nilai dan norma yang disfungsional atau tidak mendukunghubungan antarpribadi.3.2 Interaksi AntarbudayaInforman ( mahasiswa perantauan ) dapat mempelajari hal – hal yang perlu diadaptasi ketikamereka berinteraksi dengan host culture. Interaksi informan ( mahasiswa perantauan ) denganhost culture banyak terjalin dalam kegiatan ruang publik seperti di kampus, organisasi, gereja,dan lingkungan tempat tinggal. Kampus, organisasi, gereja dan lingkungan tempat tinggalmerupakan wadah bagi informan ( mahasiswa perantauan ) serta host culture untuk dapat salingbertatap muka dan mengenal satu sama lain lebih dekat, sehingga proses adaptasi dapat terjalindiantara mereka.Cara untuk memahami penyesuaian antar budaya adalah dengan bersikap sesuai denganpergaulan dan efektif antar individu dalam host culture. Dalam pandangan ini, stranger telahmenyesuaikan diri saat mereka telah belajar untuk berinteraksi secara efektif dengan host culturedan perilaku mereka sesuai dengan host culture. ( Furnham and Bochner; Grove and Torbiorn;Torbiorn dalam Gudykunst 2005:424 ).3.3 Kendala ketika Berinteraksi serta Cara MengatasinyaPerbedaan bahasa membuat sebagian besar informan ( mahasiswa perantauan ) mengalamiketidakpastian ( uncertainty ) dan kecemasan ( anxiety ). Ketidakpastian ( uncertainty ) dankecemasan ( anxiety ) merupakan salah satu kendala mahasiswa perantauan saat berinteraksidengan host culture.Jika informan 1 ( host culture ) mengalami kendala dalam pemahaman bahasa olehmahasiswa perantauan, bagi informan 2 dan 3 ( host culture ) kendala yang dirasakan selamaberinteraksi dengan mahasiswa perantauan adalah karakteristik masing – masing individu.Setiap mahasiswa perantauan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga perlu adanyapemahaman karakteristik dari masing – masing individu agar dapat terjalin komunikasi yangefektif.Ketika kedua informan yaitu informan mahasiswa perantauan dengan informan hostculture dapat melakukan adaptasi dan meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi,makan informan mahasiswa perantauan dan informan host culture memiliki kompetensikomunikasi.BAB IVPENUTUP4.1 KesimpulanPenelitian ini merupakan studi yang mengkaji mengenai pengalaman proses adaptasi mahasiswaperantauan yang tergabung dalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitas dengan host culture untukmenciptakan harmoni sosial di Yogyakarta. Penelitian ini didasarkan pada fenomena adanyaikatan mahasiswa berbasis etnisitas dalam menciptakan harmoni sosial. Sebagai kaum minoritasdi sebuah kota perantauan, informan ( mahasiswa perantauan ) diharapkan dapat beradaptasi danberinteraksi dengan host culture.Cara beradaptasi informan ( mahasiswa perantauan ) dapat dilakukan saat berinteraksidengan host culture. Interaksi dengan host culture dapat terjadi saat informan ( mahasiswaperantauan ) melakukan suatu kegiatan secara bersama – sama. Dari proses interaksi tersebut,informan ( mahasiswa perantauan ) dapat mempelajari budaya di daerah perantauannya.Dalam beradaptasi dengan perbedaan budaya, individu informan ( mahasiswa perantauan) menghadapi kendala bahasa. Namun, mereka dapat mengatasinya dengan bertanya kepadalawan bicara maupun orang lain yang lebih fasih berbahasa daerah. Selain bertanya, informan (mahasiswa perantauan ) juga dapat mengatasi kendala bahasa dengan cara memperhatikan danmempelajari bahasa non verbal dari lawan bicara. Setelah bertanya maupun mempelajari bahasanon verbal, informan ( mahasiswa perantauan ) memiliki pengetahuan baru mengenai budaya didaerah perantauannya. Pengetahuan barunya itu dapat meminimalisir rasa ketidakpastian dankecemasan saat berinteraksi dengan host culture yang lain.Meskipun informan ( host culture ) masih memiliki stereotipe terhadap informan (mahasiswa perantauan ), namun host culture dapat menerima keberadaan mereka selama merekadapat menjalin hubungan yang baik dengan host culture.Sedangkan informan ( mahasiswa perantauan ) yang menerima perlakuan kurangmenyenangkan yang disebabkan oleh stereotipe host culture bersikap mindful. Informan (mahasiswa perantauan ) memahami stereotipe tersebut sebagai pengetahuan agar dapatmengantisipasi perilaku host culture yang lainnya.Ketika kedua informan yaitu informan mahasiswa perantauan dengan informan hostculture dapat melakukan adaptasi dan meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi, makaninforman mahasiswa perantauan dan informan host culture memiliki kompetensi komunikasi.Tiga komponen kompetensi komunikasi tersebut adalah motivasi, pengetahuan, keterampilan.Sikap mindful informan ( mahasiswa perantauan ), penerimaan dari informan ( hostculture ) serta kompetensi yang dimiliki informan ( mahasiswa perantauan ) dan informan ( hostculture ) dapat menciptakan harmoni sosial di tengah – tengah keberagaman budaya yang ada diYogyakarta.DAFTAR PUSTAKABogdan, Robert C. And Steven J. Taylor. Introduction to Qualitative Research Methods: A.Phenoinenological Approach in The Social Sciences. 1975. John Wiley and Sons – alihbahasa Arief F. Surabaya: Usaha Nasional.Gudykunst, William. Theorizing About Intercultural Communication. 2005. California: SagePublication, Inc.Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication ( Sixth Edition ). 1999. Belmont,California: Wadsworth Publishing Company.Liliweri, Alo. Gatra – gatra Komunikasi Antarbudaya. 2001. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Rahardjo, Turnomo. Menghargai Perbedaan Kultural: Mindfulness dalam KomunikasiAntaretnis. 2005. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hubungan Motivasi dan Intensitas Penggunaan LinkedIn dengan Kepuasan yang Didapatkan Pengguna LinkedIn Eva Wijiyanti Hidayat; Wiwid Noor Rakhmad; Dwi Purba ningrum; Nurriyatul Lailiyah M.I.Kom
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.906 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya ketertarikan terhadap model teori uses and gratification dan meningkatnya jumlah pengguna LinkedIn di kalangan mahasiswa dan fresh graduates berdasarkan data dari LinkedIn. Dalam perspektif teori uses and gratifications, audiens dipandang sebagai partisipan yang aktif dalam proses komunikasi, namun tingkat keaktifan setiap individu tidaklah sama (Morissan, 2013: 264). Perilaku komunikasi audiens mengacu pada target dan tujuan yang ingin dicapai serta berdasarkan motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara motivasi dan intensitas penggunaan LinkedIn dengan kepuasan yang didapatkan pengguna LinkedIn di kalangan mahasiswa yang turut menjadi kelompok pemegang kendali pertambahan jumlah pengguna LinkedIn. Metode penelitian meliputi kajian kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menjelaskan hubungan antara motivasi dan intensitas penggunaan LinkedIn dengan kepuasan yang didapatkan pengguna LinkedIn di kalangan mahasiswa. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner sebagai instrumen penelitian yang telah melewati uji validitas dan reliabilitas. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 96 yang ditentukan secara non acak dengan metode quota dan accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat motivasi dan intensitas penggunaan LinkedIn yang berbeda di antara responden. Motivasi dan intensitas penggunaan LinkedIn secara simultan memiliki hubungan yang positif dengan kepuasan yang didapatkan pengguna LinkedIn. Nilai koefisien korelasi antara motivasi dan intensitas penggunaan LinkedIn dengan kepuasan pengguna LinkedIn sebesar 0,736 yang menunjukkan adanya korelasi positif yang sangat kuat.
Hubungan Antara Terpaan Promosi Penjualan dan Tingkat Kepercayaan dengan Minat Beli di Situs Belanja Online Lazada Iva Devi, Marita; Widowati Herieningsih, Sri
Interaksi Online Vol 7, No 2: April 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.707 KB)

Abstract

The development of technology and information is growing rapidly and it has an impact on business people to develop their company into an online business. The existence of sales promotion and consumer trust factors become the basis for forming consumer purchase intention. The purpose of this study was to determine the relationship between exposure to sales promotions and the level of trust with purchase intention in Lazada's online shopping site. In determining the hypothesis to be used, this study uses behavioral learning theory and planned behavior theory. The study population was women aged 15-34 years in Semarang City who were exposed to Lazada sales promotion exposure and within the last 1 month had not made a transaction at Lazada. Hypothesis test results (H1) obtained a significance value of 0.001 and a correlation coefficient of 0.352. While the results of hypothesis testing (H2) obtained a significance value of 0.000 and a correlation coefficient of 0.442. From the results of these studies, it is recommended to increase consumer purchase intention to combine sales promotions with advertisements.

Page 91 of 157 | Total Record : 1563