cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
KEBERHASILAN COMMUNITY BASED TOURISM DI DESA WISATA KEMBANGARUM, PENTINGSARI DAN NGLANGGERAN Novia Purbasari; Asnawi Asnawi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.803 KB)

Abstract

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Pulau Jawa, namun memiliki potensi pariwisata yang tinggi. Hal ini dikarenakan DIY memiliki faktor yang berkenaan dengan keanekaragaman objek, dan ragam spesifikasi objek dengan karakter yang mantap dan unik. Hal ini memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat lokal. Sehingga munculah desa –desa wisata yang berada di sekitar DIY yang dikelola oleh masyarakat lokal yang bergerak di bidang pariwisata yang sering disebut community based tourism (pariwisata berbasis masyarakat). Melalui pariwisata berbasis masyarakat, pemerintah menanggapinya dengan suatu program yaitu PNPM Mandiri Pariwisata. Namun tidak semua desa wisata mampu membawa desa wisata menuju keberhasilan. Desa Kembangarum, Pentingsari dan Nglanggeran mampu menunjukkan keberhasilan community based tourism. Hal itu dilihat dari banyaknya penghargaan yang mereka terima. Hal ini memunculkan pertanyaan penelitian yaitu bagaimana keberhasilan community based tourism di Desa Kembangarum, Pentingsari dan Nglanggeran? Dari pertanyaan di atas maka terumuskanlah tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi ukuran keberhasilan dari Desa Wisata Kembangarum, Pentingsari dan Nglanggeran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik purposive dan mengadopsi snowball sampling. Hasil akhir dari penelitian ini Desa Wisata Pentingsari dan Nglanggeran berhasil melalui upaya pemberdayaan masyarat sedangkan Desa Wisata Kembangarum berhasil melalui pelibatan masyarakat secara tidak langsung.
Alternatif Lokasi Perumahan oleh Pengembang untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Sekitar Kawasan Industri Ngaliyan Adiyanti Annisa Istikhomah; Asnawi Manaf
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1874.229 KB)

Abstract

As the main city in the province of Central Java, Semarang under pressure due to population growth is increasing very rapidly. Rapid population growth can lead to the development of the city. Based on research that has been done, the tendency today is the housing development of small-scale housing development undertaken by the developer thus causing inefficiency of land use and waste of public services (Apriani, 2015). The emergence of small-scale housing development undertaken by developers led to urban sprawl. Unfortunately the construction is striking among the people, especially low-income people. This if allowed to continue would be a complex problem, especially on the issue of spatial planning. Ngaliyan district is a district that has an industrial area, so that with the urbanization due to an industrial area and coupled with the rapid population growth, it could trigger an increased demand for high occupancy. Based on this, it is necessary to research related to the procurement of the house footprint for low-income communities are integrated. The purpose of this study is to formulate procurement sole houses for low-income communities in an effort to overcome urban sprawl in District Ngaliyan. The method used in this study is the survey method. The collection of data used in this study is the collection of primary data in the form of observations and interviews, as well as secondary data collection study document. The end result of this study is selected locations procurement sole houses for low income people in the village Boja.
PARIWISATA KEAGAMAAN DI MASJID AGUNG JAWA TENGAH Shindy Taftia Ramadhani; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.945 KB)

Abstract

Masjid Agung Jawa Tengah merupakan salah satu obyek wisata keagamaan di Kota Semarang yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan dan aset wisata Jawa Tengah.  Masjid ini memiliki keunikan atraksi wisata yang dapat mengundang wisatawan untuk datang. Pertanyaan penelitian ini adalah Bagaimana kondisi pariwisata keagamaan di Masjid Agung Jawa Terngah berdasarkan kelima elemen sistem pariwisata? Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pariwisata keagamaan di Masjid Agung Jawa Tengah berdasarkan lima elemen sistem pariwisata diantaranya atraksi wisata, akomodasi, aksesibilitas, promosi, dan wisatawan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Temuan penelitian ini mengemukakan bahwa tidak hanya keunikan atraksi wisata keagamaan yang mampu menjadi daya tarik wisatawan, tetapi atraksi wisata bukan keagamaan juga menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke masjid ini. Akan tetapi, jumlah wisatawan yang berkunjung ke masjid ini mengalami pasang surut, dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan yang mengalami penurunan pada tahun 2010. Hal ini dikarenakan belum ada penambahan atraksi wisata, masih kurang terawatnya akomodasi serta aksesibilitas dan promosi yang dilakukan masih terbatas. Rekomendasi penelitian ini lebih difokuskan terhadap elemen yang memiliki pengaruh dan kekuatan rendah dan sedang untuk menarik wisatawan datang diantaranya lebih difokuskan untuk memperbaiki dan lebih mengembangkan elemen akomodasi, aksesibilitas, dan promosi. Sedangkan elemen atraksi wisata sudah memiliki pengaruh dan kekuatan tinggi untuk menarik wisatawan, hanya dipertahankan dan lebih ditambah jenis-jenis atraksinya. Rekomendasi ini ditujukan kepada pihak pengelola Masjid Agung Jawa Tengah dan Dinas Pariwisata untuk ikut serta mengembangkan Masjid Agung Jawa Tengah sebagai pariwisata keagamaan berdasarkan 5 elemen sistem pariwisata
PEMETAAN TIPOLOGI DAYA TARIK WISATA DALAM KERANGKA PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA DESA BONDO KABUPATEN JEPARA Tita Widyawati; Samsul Ma’rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.352 KB)

Abstract

Sektor pariwisata saat ini menjadi salah satu prioritas utama dalam menunjang pembangunan suatu daerah. Desa Bondo merupakan salah satu desa yang berada di Kabupaten Jepara yang kurang berkembang. Kondisi ini bertolak belakang dengan potensi pariwisata yang dimiliki. Desa Bondo memiliki potensi wisata yaitu Pantai Bondo yang masih alami dan terdapat Telaga Sejuta Akar yang merupakan sebuah sumber air yang menyerupai telaga dan dikelilingi pohon karet yang sangat besar. Akantetapi Telaga Sejuta Akar yang seharusnya digunakan untuk tempat wisata, digunakan untuk melakukan hal yang tidak sewajarnya. Berdasarkan potensi dan permasalahan yang ada, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam pengembangan pariwisata di Desa Bondo. Oleh karena itu terdapat pertanyaan penelitian apa tipologi daya tarik wisata yang ada di Desa Bondo. Dengan pertanyaan tersebut maka tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan tipologi daya tarik wisata dalam rangka pengembangan potensi wisata di Desa Bondo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menganalisis demand dan supply pariwisata yang kemudian menggunakan matriks Boston Consulting Group untuk mengetahui tipologi daya tarik wisata yang ada. Analisis berikutnya adalah identifikasi siklus hidup daya tarik wisata Desa Bondo.  Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa demand pariwisata di Desa Bondo lebih tinggi dari supply nya. Dengan demikian maka perlu adanya pengembangan potensi produk wisata sehingga diharapkan potensi yang ada akan berkembang. Sedangkan dari sisi siklus hidupnya pariwisata desa Bondo saat ini berada pada posisi awal perkembangan. Sehingga potensi yang ada saat ini apabila tidak ditindak lanjuti dengan strategi-strategi pengembangan yang baik maka akan berpotensi terjadi penurunan.
Persepsi Masyarakat terhadap Alun-alun Kalirejo sebagai Ruang Publik Kota Ungaran Dyah Candrarini; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.482 KB)

Abstract

Urban areas are regions with non-agricultural activities. The composition of urban areas functions as settlement, centralization and distribution of government services, social services, and economic activities. One of the urban social service facilities is public space. Square is one form of the public space that the service covers entire city. In Indonesia, the existence of the square is believed to serve as a center of public activity that eventually leads as an icon of a city. In 2014, the Government of Ungaran City inaugurated a square namely Kalirejo Square. Ungaran City has previously had two square that so cramped to do activities in it. So it does not take long, Kalirejo Square instantly has its own charm, considering this is a new thing for the citizens of Ungaran City. Its strategic location, which is straight on the exit of Ungaran Highway, create wide range of services area. Ocasionally encountered visitors from outside the city of Ungaran. The spacious field is also able to provide various facilities to meet the needs of visitors, such as playgrounds, street vendors, parking lots, meeting hall, green fields, toilets, prayer room (musala), up to the arena of tour vehicles and skates. Based on this background, the research question arises that is "how the public perception of Kalirejo Square as public space of Ungaran City". In accordance with the research questions, the purpose of this study is to examine the actual condition of Kalirejo Square and to examine the public perception after three years of the inauguration of Kalirejo Square as a new icon of this Ungaran City. The result conducted in this research is to study of the physical condition of Kalirejo Square, the research of public perception of Kalirejo Square as a public space of Ungaran City. According to the research conducted, Kalirejo square meets the criteria of good public space on the aspect of image and identity, accessibility, amenities, and attraction and destination, but Kalirejo Square does not meet the criteria of flexible design. In addition, many facilities in Kalirejo Square are in need of repair, but can’t be done yet because at the beginning of 2017, manager of the Government of Semarang Regency, formerly DPPKAD and Disperindag become Tourism Department.
IDENTIFIKASI POLA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PERBATASAN KOTA PONTIANAK DENGAN KECAMATAN SUNGAI RAYA Elfiansyah Elfiansyah; Samsul Ma’rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.868 KB)

Abstract

Kecamatan Sungai Raya merupakan kecamatan yang mempunyai lahan pertanian yang sangat luas dan strategis untuk kesuburan dan lahan pertanian ini didominasi oleh lahan persawahan. Untuk itu permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini adalah perkembangan kawasan kota perbatasan antara ibukota Kecamatan Sungai Raya dan Kota Pontianak. Untuk  mencapai tujuan dari penelitian ini, pendekatan studi yang digunakan adalah dengan pendekatan kualitatif dengan analisis penelitian deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari hasil observasi serta data sekunder yang diperoleh melalui survey instansi. Analisis yang dilakukan  dalam penelitian ini  adalah analisis perubahan penggunaan lahan, analisis Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan  dan analisis aktivitas masyarakat yand dapat mempengaruhi perkembangan kota di wilayah perbatasan Kecamatan Sungai Raya dan Kota Pontianak. Dari hasil penyusunan analisis deskriptif kualitatif, perubahan penggunaan lahan di kawasan perbatasan dapat diketahui bahwa pola perubahan penggunaan lahan di kawasan perbatasan lebih di dominan denga pola gridiron linier menerus dan ada juga bentuk pola perubahan penggunaan lahan tersbeut memiliki pola grid pada kawasan perbatasan Kota Pontianak dengan Kecamatan Sungai Raya. Dari hasil analisis penyusunan ini diperoleh beberapa prediksi kondisi penggunaan lahan di masa mendatang. Penggunaan lahan di kawasan perbatasan perlu adanya kebijakan dari pemerintah tentang hal perubahan penggunaan lahan di kawasan perbatasan Kota Pontianak dengan Kecamatan Sungai Raya. Arahan dalam penggunaan lahan sehingga masalah yang akan terjadi dari perubahan penggunaan lahan dapat lebih cepat untuk diantisipasikan lagi oleh pemerintah yang bersangkutan.
Keberadaan Permukiman Kumuh Tambak Lorok Kota Semarang terhadap Pengembangan Kampung Wisata Bahari Ajeng Pradita Dewi; Sunarti Sunarti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1367.415 KB)

Abstract

Slum areas are found in some coastal areas, one of them in Semarang, Desa Tanjung Mas, Tambak Lorok. Semarang city slum ± 415.83 Ha set out in the Decree of Mayor of Semarang No.050 / 801/2014. On the other hand the government will develop a marine tourism village in its territory. In the development of marine tourism village there is one of the criteria that must be fulfilled is a clean environment, beautiful, and adequate facilities and infrastructure. The method used in this research is quantitative. The analysis shows that Tambak Lorok has got slum repair program. Despite getting the arrangement program, until now Tambak Lorok still slum because many aspects that have not been handled. The condition of the settlement is still unfit and unhealthy. Given the government's plan for a marine tourism village development program in Tambak Lorok, the existence of settlements is currently not ready to support the plan. The settlement of Tambak Lorok, which is the destination of marine tourism, still needs improvement from various aspects, such as residential, road, drainage, garbage, sanitation, drinking water, and also trade facilities. With the improvements in these aspects, Tambak Lorok will have improved the quality of settlements to support the marine tourism village.
EFEKTIVITAS PROGRAM SANIMAS TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT DI KELURAHAN PAMIJEN KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS Leonardo Rio Wibowo; Widjonarko Widjonarko
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.588 KB)

Abstract

Potensi pencemaran limbah rumah tanggan dikarenakan pengolahan limbah rumah tangga secara teratur masih minim. Berkaca pada kondisi pengolahan limbah tersebut, pemerintah meluncurkan program untuk menanggulangi masalah limbah ini melalui program Sanimas. Program Sanimas sudah terlaksana di Kelurahan Pamijen, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Program Sanimas ditujukan sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan khususnya di bidang sanitasi di Kawasan PAKUMIS (padat, kumuh, dan miskin). Untuk mengetahui keefektifan program Sanimas di Kelurahan Pamijen dirasakan perlu untuk menilai kinerja dari program Sanimas dalam peningkatan kesehatan lingkungan di Kelurahan pamijen. Berdasarkan analisis, implementasi program SANIMAS di Kelurahan Pamijen  terlaksana  dengan baik sesuai dokumen perencanaan, sedikit perbedaan pada pemeliharaan yang masih belum baik. Berkaitan dengan kondisi mutu lingkungan dengan parameter (BOD, COD, dan DO), peningkatan kualitas lingkungan terlihat dengan adanya perbaikan menuju standar kualitas mutu lingkungan. Nilai BOD 3 mg/l, COD 4,8 mg/l, dan DO 7,4 mg/l. Penilaian untuk kinerja program SANIMAS di Kelurahan Pamijen dinilai sudah baik. Berdasarkan pada hasil penilaian kinerja program Sanimas, maka dapat disimpulkan bahwa program Sanimas secara efektif mampu meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat di Kelurahan Pamijen. Hal ini diindikasikan dari menurunnya orang yang menderita penyakit akibat sistem sanitasi dalam kurun waktu 3 tahun dan menurunnya kandungan (COD, BOD, DO) pada air tanah sehingga mutu lingkungan di Kelurahan Pamijen menjadi lebih baik.
KAJIAN KETIMPANGAN WILAYAH DI PROVINSI JAWA BARAT Pritha Aprianoor; Muhammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1524.318 KB)

Abstract

Ketimpangan wilayah dapat terjadi dalam skala nasional maupun lokal. Ketimpangan wilayah menjadi menarik untuk dibahas karena ketimpangan wilayah merupakan salah satu dampak dari awal pembangunan itu sendiri dan apabila tidak segera diatasi maka akan berdampak buruk bagi wilayah-wilayah yang tertinggal. Penelitian mengenai ketimpangan wilayah ini dilakukan di Provinsi Jawa Barat yang memiliki 26 kabupaten/kota dengan karakteristik wilayah yang berbeda-beda baik dalam segi ekonomi, demografi serta sumberdaya alam yang berbeda-beda.Pendapatan perkapita yang cukup tinggi tidak terjadi di seluruh wilayah di Jawa Barat.Selain itu, jumlah penduduk tidak merata diseluruh wilayah Jawa Barat, masih ada beberapa wilayah yang mendominasi wilayah lainnya.  Angka PDRB yang tinggi hanyadidominasi oleh beberapa kota/kabupaten di Jawa Barat, sedangkan kota/kabupaten lainnya hanya dapat menghasilkan sedikit pendapatan bahkan tidak sampai 50% dari pendapatan wilayah lainnya seperti Bekasi, Kota Bandung, dan Kabupaten Bogor. Pendapatan yang berbeda ini membuat pembangunan dimasing-masing daerah pun menjadi berbeda.Ketimpangan wilayah tidak hanya bisa dilihat dari segi ekonomi, melainkan juga harus mempertimbangkan aspek lainnya seperti aspek spasial. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan 16 variabel dengan 66 indikator yang berasal dari aspek sosial, ekonomi serta fisik. Variabel-variabel tersebut menjadi input untuk menilai ketimpangan wilayah di Provinsi Jawa Barat. Sedangkan alat analisis yang digunakan untuk menilai ketimpangan wilayah yaitu, Indeks Williamson dan interregional comparison: standardized variable. Setelah dianalisis menggunakan Indeks Williamson, didapatkan bahwa ketimpangan wilayah Provinsi Jawa Barat berada pada level ketimpangan tinggi dengan angka 0,6 pada tahun 2013. Selain itu, kondisi ketimpangan wilayah dilihat berdasarkan 9 kelompok indikator yaitu kelompok kesejahteraan dan tingkat pendidikan penduduk, kelompok jumlah penduduk, tenaga medis serta sarana pendidikan dan kelompok komposisi penduduk dan sarana kesehatan, kelompok ketenagakerjaan, kelompok produktifitas ekonomi, kelompok performa ekonomi dan investasi, kelompok tataguna lahan dan panjang jalan aspal, kelompok kondisi jalan dan suhu, serta kelompok curah hujan. Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut kemudian dibentuk tipologi wilayah Provinsi Jawa Barat yang terbagi kedalam 7 tipe, yaitu: tipe low-1, tipe low-2, tipe low-3, tipe medium-1, tipe medium-2, tipe high-1 dan tipe high-2. Dari hasil analisis sebelumnya didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi ketimpangan wilayah di Provinsi Jawa Barat, antara lain:perbedaan kualitas sumberdaya manusia, perbedaan angka pengangguran, perbedaan taraf/ tingkat kesehatan masyarakat, perbedaan fasilitas pendidikan serta kesehatan, perbedaan kualitas infrastruktur, perbedaan jumlah investasi, perbedaan Pendapatan Asli Daerah (PAD)  serta strategi yang ditujukan langsung terhadap masing-masing wilayah sesuai dengan karakteristik dan masalah yang dialaminya.
PENGEMBANGAN AGROWISATA KAWASAN RAMBAT – WADUK KEDUNGOMBO, KABUPATEN GROBOGAN Roni Setiawan; Broto Sunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.61 KB)

Abstract

Waduk Kedungombo merupakan waduk yang berada di wilayah Kabupaten Grobogan tepatnya di Kecamatan Geyer, Desa Rambat. Masyarakat yang berada diwilayah ini mayoritas bekerja di bidang pertanian dan menggantungkan aliran air Waduk Kedungombo yang digunakan  sebagai irigasi sawah. Besar kecilnya penghasilan masyarakat di wilayah ini tergantung dari pasokan air waduk Kedungombo. Selain itu tingkat perekonomian masyarakat di wilayah ini masih sangat rendah, dikarenakan hanya memenggantungkan hidupnya pada hasil pertanian. Waduk Kedungombo merupakan satu-satunya wahana agrowisata yang berbasis alam di wilayah Grobogan. Lemahnya pengelolaan oleh pihak-pihak terkait dan koordinasi menjadikan agrowisata ini kurang optimal dalam pemanfaatan sebagai wahana rekreasi. Untuk itu diperlukan pengelolaan yang lebih baik agar agrowisata  ini bisa berkembang yang nantinya menjadi aset sarana rekreasi di wilayah Geyer dan sekitarnya. Disisi lain waduk ini mempunyai potensi yang cukup besar  sebagai wahana rekreasi yang berbasis alam. Adanya atraksi di agrowisata Kawasan Rambat  ini sebagai daya tarik wisatawan untuk berekreasi. Dengan berjalnnya waktu adanya bentuk potensi yang bisa dikembangkan sebagai wahana rekreasi seperti area pemancingan, irigasi, sumber energy, kebutuhan minum dan pelestarian satwa di dalamnya, waduk ini mulai berkembang menjadi lebih baik sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini untuk menganalisis dan mengkaji pengembangan agrowisata Kawasan Rambat, Waduk Kedungombo ini berdasarkan permintaan pengunjung dan penawaran pengelola serta kebijakan dari pemerintah Kabupaten Grobogan. Dari hasil analisis ini ditemukan bahwa rencana pengembangan agrowisata yang terpilih berdasarkan keiinginan pengunjung dan rencana yang ditetapkan pemerintah yaitu tempat bermain  yang berada di daratan semacam  wahana air modern yaitu  waterboom dan tempat bermain anak khususnya dan kolam renang. Lokasi yang terpilih oleh Pemerintah Kabupaten Grobogan adalah di sekiatar area arberotum, sehingga dalam pemanfaatan air untuk saluran kolam renang dan waterboom lebih mudah.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue