cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
ANALISIS KETERKAITAN PERAN BKM TERHADAP MODAL SOSIAL DALAM PELAKSANAAN PLP-BK DI KELURAHAN PATI LOR Vega Kirana; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.4 KB)

Abstract

Sebagai salah satu upaya pengentasan kemiskinan oleh pemerintah, (Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas) PLP-BK menjadi sarana bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan partisipasi pembangunan. Dalam pelaksanaannya kegiatan PLP-BK dinaungi oleh lembaga masyarakat yang disebut BKM . Sebagai lembaga masyarakat yang mengurusi PLP-BK, BKM memiliki peran penting agar tujuan kegiatan dapat tercapai. Lembaga adalah modal dasar (Social Capital) yang dapat dipandang sebagai aset produktif. Melalui lembaga masyarakat mampu bekerja sama dengan masyarakat lainnya sehingga meningkatkan produktivitas anggotanya baik secara individu maupun keseluruhan (Kartodiharjo, 2005). BKM menjadi tumpuan agar kegiatan PLP-BK dapat berjalan secara terus-menerus (sustainable) dengan menumbuhkan modal sosial di dalam masyarakat. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif untuk mengetahui keterkaitan peran BKM terhadap modal sosial yang ada dalam masyarakat melalui program PLP-BK di Pati Lor. Kelurahan Pati Lor merupakan salah satu wilayah yang mendapatkan bantuan PLP-BK dengan BKM Mekar Sari sebagai perwakilan masyarakat. BKM yang mampu melaksanakan peran dalam PLP-BK dapat menumbuhkan modal sosial masyarakat. Modal sosial menjadi perekat bagi setiap individu, dalam bentuk norma, kepercayaan dan jaringan kerja, sehingga terjadi kerjasama yang saling menguntungkan, untuk mencapai tujuan bersama. Adanya modal sosial dalam PLP-BK berguna untuk mencapai tujuan dan keberlanjutan program. Hasil dari penelitian ini adalah diketahui beberapa keterkaitan antara peran BKM terhadap modal sosial sehingga diharapkan adanya pengoptimalan peran BKM agar modal sosial masyarakat Pati Lor berkembang dengan baik.
Pengembangan Desa Wisata Kandri Berbasis Masyarakat Anindya Kusuma Putri; Mardwi Rahdriawan
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1028.45 KB)

Abstract

Until 2015, tourism sector in Indonesia always in the top five of the highest contributor to Indonesia’s foreign exchange. Government of Indonesia pays more attention to develop community based tourism in many villages since have a lot of potential natural resources and social culture. Kandri village is one of it in Semarang City. The existing of Kreo Cave and Jatibarang reservoir become the center of it that support the development of Kandri Village. The community should have awareness and enough knowledge to their village in order to develop community based tourism in Kandri. This research will analize the community readiness and define community readiness development strategy. Mix metode was used in this research. Qualitative metode was used to approach the community and explore the best-case practice of community based tourism in Gunungkidul develop the strategy for community base tourism in Kandri. Quantitative metode was used to measure the readiness level of the community. 
FAKTOR PENENTU NILAI VERTIKAL RUANG PERKOTAAN PADA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA BANDARHARJO-SEMARANG Chika Nadia Agista; Brotosunaryo Brotosunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.963 KB)

Abstract

Akibat urbanisasi jumlah penduduk perkotaan dari tahun ke tahun semakin bertambah. Dengan terus meningkatnya jumlah penduduk perkotaan, permintaan akan lahan untuk pengembangan permukiman yang utamanya di pusat kota terus meningkat dengan penawaran lahan yang bersifat in-elastis sempurna, menjadikan harga lahan kota terus melonjak tinggi, sehingga para urbanis yang sebagian besar kemampuan ekonominya rendah mereka tidak mampu mengakses perumahan formal. Mereka yang tidak mampu mengakses perumahan formal, solusi empiris yang banyak kita jumpai di perkotaan adalah mereka bermukim di kawasan kumuh atau menempati lahan ilegal. Fenomena yang demikian terjadi di Kelurahan Bandarharjo-Semarang. Untuk mengatasi permasalahan yang demikian, Pemerintah Kota Semarang melalui program peremajaan lingkungan dengan konsep “membangun tanpa menggusur”, dibangunlah Rumah Susun Bandarharjo. Dengan adanya rumah susun, mereka mempunyai rumah yang layak, sehat, dan memenuhi syarat-syarat perumahan, guna menunjang berbagai aktifitas penghuni dalam melangsungkan kehidupan. Grand Theory Bergel (1955) menunjukkan bahwa, karena variabel aksesibilitas NVRP berkebalikan dengan letak ketinggiannya dan berdasarkan penelitihan-penelitihan sebelumnya, yaitu Lin (1998), Brotosunaryo (2009), dan Tegrasia (2011), menghasilkan NVRP yang berbeda dan tergantung pada pemanfaatan ruang vertikalnya. Dengan hasil yang berbeda atas NVRP tersebut, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian lanjutan dengan lokasi yang berbeda, yakni dengan memilih lokasi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Bandarharjo-Semarang. Fenomena empiris di Rumah Susun Bandarharjo, ditemukan bahwa semakin keatas letak lantai bangunan maka semakin murah harga sewanya dan sebaliknya semakin mendekati lantai dasar maka harga sewa semakin mahal. Pertanyaan penelitian yang diangkat dalam kajian ini adalah faktor-faktor penentu apakah yang mempengaruhi NVRP di Rumah Susun Bandarharjo-Semarang. Untuk menemukan faktor penentu NVRP di Rumah Susun Bandarharjo, pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan positivistic-rasionalistik, yang dianalisis melalui metode kuantitatif dengan teknik analisis R Factor Analysis. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dengan pengumpulan melalui pengamatan, kuesioner, wawancara terstruktur, dan mencari dokumen yang ada pada instansi terkait. Teknik sampling yang digunakan adalah Stratified Purposive Sampling dan dengan ini berhasil diwawancarai 68 responden dari semua lantai unit satuan Rumah Susun Bandarharjo Blok Lama, Blok A, dan Blok B sebanyak 210 unit. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa NVRP untuk pemanfaatan Rumah Susun Bandarharjo-Semarang dipengaruhi oleh 2 (dua) variabel penentu berdasarkan konsepsi Lin I, yakni variabel ekonomi dengan parameter aksesibilitas, bahaya kebakaran, dan bahaya gempa bumi; variabel psikologi dengan parameter lingkungan dengan komponen harga sewa, pemandangan, kondisi cahaya sinar matahari, dan sosialisasi dengan tetangga; serta parameter kenyamanan dengan komponen kenyamanan dan kebisingan. Kontribusi variabel ekonomi dalam menjelaskan NVRP untuk pemanfaatan Rumah Susun Bandarharjo sebesar 60,25% dan variabel psikologi sebesar 39,74%. Apabila diverifikasikan dengan Grand Theory Bergel menunjukkan bahwa penelitian ini selaras, demikian juga dengan penelitian yang dilakukan Tegrasia di lokasi yang berbeda, yakni di Rumah Susun Kaligawe-Semarang. Sedangkan, terhadap NVRP untuk pemanfaatan Kondominium/Apartemen di Jakarta Pusat oleh Brotosunaryo terdapat kontradiksi yang cukup nyata.
KONSEP PENGEMBANGAN EKOWISATA HUTAN MANGROVE DESA MOJO, KECAMATAN ULUJAMI, KABUPATEN PEMALANG Selma Mutia; Mardwi Rahdriawan
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.657 KB)

Abstract

Ecotourism is one of the special forms of the tourism activities. Ecotourism is positioned as opposed to the conventional tourism. Unlike the conventional tourism, ecotourism is a responsible tour with environmental conservation and improve the local community welfare. Citizen put down as primary factor owning importance participate directly in decision making to increase citizen prosperity through conservation effort and also natural resources exploiting. One of the activity of is mangrove forest ecotourism that can be found in Mojo, a village that  still classified on coastal region and has a lot of potential. Mangrove forest ecotourism was formed by local goverment and Japans NGO (OISCA) assisted by ‘Pelita Bahari’. Mangrove forest in Mojo covering approximately 16 hectares and has many attractions such as bird watching, mangrove tree plantation, boating, fishing, and tracking. But this potential attractions was  faced by the less optimalization of mangrove forest ecotourism activities that can be seen from the use of excessive natural resources, planting location on the edge of the estuary causes the dependence on transportation facilities, and local people who have not been able to see the economic potential that can be provided by the mangrove forest ecotourism  activities. Of the key issues above, the purpose of this study is to formulate a development concept of mangrove forest ecotourism in Mojo, related to environmental conservation and improvement of the local community welfare. Research method that used is qualitative method. Technique of data collecting that done is primary data collecting technique through field observation, interview and also spreading of quesioner. Technique of secondary data collecting through to look for data in institution, mass media article, internet and also from research which have been done previously. In reaching the aim of this research, analysis that done is identification of community efforts related to environment conservation and improvement of local welfare, lesson learned from best practice MIC Bali, and then formulated a development concept with making a zoning map. Results of this research is increasing the quality of mangrove forest ecotourism which is responsible in a way to conserve the environment and improve the welfare of local communities that can be used as a lesson learned for other villages that have similar characteristics as Mojo tourism development.
Faktor-Faktor Kesediaan Direlokasi Masyarakat Dari Kawasan Rawan Longsor: Kasus Desa Tengklik, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar Aryani Aryani; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.043 KB)

Abstract

Tengklik Village is one of the villages on the slopes of Mount Lawu that enter into the area prone to landslides. Current mudslides have caused Tengklik Village to have a high degree of vulnerability to landslides again due to dormant avalanche, where one day if any triggering force will be easy to move again. The mitigation efforts currently being carried out are the relocation of the population within the high land movement area of 37 families. Looking at the relocation process implemented then it can be learned about the factors that lead to successful relocation according to the research approach, then the research question arises: what factors make people willing to be relocated from landslide prone areas of Tengklik Village, Tawangmangu District, Karanganyar Regency? In answering the research questions above, the target to be achieved is to know the factors that make people willing to be relocated from landslide prone areas. This research has 13 factor variables that will be confirmed to the field. The method used in this research is quantitative descriptive method. The result of this research is from 13 factors, there are 11 confirmed factors in the field and 2 unconfirmed factors. Factors that were successfully confirmed were exposure to disasters, access to resources, livelihoods, compensation, new residential locations, the physical condition of new house, the provision of facilities and infrastructure, transparent relocation information, the participation of the community, decisions of fallen people and the existence of attachments between communities. While unconfirmed factors were respondents age and evacuation time
KERENTANAN KOTA BANDA ACEH TERHADAP BENCANA TSUNAMI TAHUN 2013 Yushar Kurniawan; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.014 KB)

Abstract

Kerentanan adalah  upaya mengidentifikasi dampak terjadinya bencana berupa   jatuhnya korban jiwa maupun kerugian ekonomi dalam jangka pendek yang terdiri dari hancurnya permukiman infrastruktur, sarana dan prasarana serta bangunan lainnya, maupun kerugian ekonomi jangka panjang berupa terganggunya roda perekonomian akibat trauma maupun kerusakan sumber daya alam lainnya. Analisis kerentanan ditekankan pada kondisi fisik kawasan dan dampak kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal (Diposaptono,2005). Penelitian ini untuk mengidentifikasi Kerentanan kota Banda Aceh menghadapi resiko tsunami dengan pendekatan mitigasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini membangun teori berdasarkan pengalaman fenomena bencana tsunami yang pernah terjadi, berdasarkan argumen dengan mencari kebenaran logika berdasarkan aspek terkait. Aspek terkait berupa aspek resiko, karakteristik fisik, pemanfaatan kawasan pesisir, penyediaan kelengkapan perlindungan kawasan pesisir yang rentan tsunami. perhitungan radius/ jarak jangkauan tempat penyelamatan terhadap waktu tanggap tsunami.Perubahan yang terjadi pada sruktur ruang  dan pola pemanfaatan ruang kota Banda Aceh merupakan bagian dari upaya penataan kembali ruang kota Banda aceh yang telah hancur akibat bencana gempa dan tsunami. sebelum tsunami struktur ruang kota banda aceh dengan tipe konsentris yang terlihat dari pemusatan aktivitas dan kepadatan baik penduduk maupun bangunan pada kawasan pusat kota. Pasca tsunami, struktur ruang kota Banda aceh dikembangkan menjadi multiple nuclei.hal ini melatar belakangi perkembangan kota Banda Aceh yang berada di kawasan pesisir. Bentuk mitigasi yang dilakukan terkait dengan aspek fisik kawasan karakter fisik/ kondisi kawasan pesisir yang intensif terhadap tsunami, ketidaksesuaian pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir yang rentan tsunami serta minimnya kebutuhan kelengkapan perlindungan tsunami. Pemerintah menerapkan dua skenario pengembangan kawasan, yakni skenario dengan melakukan perbaikan pola dan struktur ruang dengan memberikan 2 pilihan bagi masyarakat. Adapun skenario tersebut meliputi (1) pindah ke lokasi aman bagi masyarakat yang ingin pindah, dan (2) tetap di lokasi semula namun lokasi tersebut telah dilengkapi sarana dan prasarana perlindungan. Limitasi perkembangan di bagian utara itu dilakukan dengan menerapkan kebijakan disinsentif. bentuk pembatasan perkembangan di bagian utara ini juga dilakukakan dengan menurunkan tingkat layanan wilayah ini, jika sebelumnya kawasan Ulee Lheu merupakan salah satu sub pusat kota Banda Aceh, kini kawasan tersebut diturunkan tingkatannya menjadi kawasan biasa yang tidak di rekomendasikan untuk kegiatan pembangunan. Selain itu perizinan terkait dengan pembangunan pun lebih dipersulit
KAJIAN PERKEMBANGAN DAN KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN EKSISTING DI KECAMATAN INDRAMAYU Hilmi Hilmansyah; Iwan Rudiarto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.514 KB)

Abstract

Perkembangan kota di Kecamatan Indramayu menimbulkan kecendrungan tumbuhnya permukiman baru dan menyebar secara sporadis menempati kawasan yang bukan pada peruntukannya. Berdasarkan permasalahan tersebut, muncul pertanyaan penelitian yaitu “BAGAIMANA PERKEMBANGAN DAN KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN EKSISTING DI KECAMATAN INDRAMAYU?”. Kajian ini menggunakan pendekatan spatial (teknologi GIS) dan pendekatan kuantitatif (skoring).Perkembangan Pemukiman atau Perubahan luas lahan permukiman dari tahun 2001 ke tahun 2013 sebesar 248.88 ha. Distribusi permukiman terbetuk memusat pada Perkotaan Indramayu dan menyebar ke kawasan perdesaan mengikuti jaringan jalan. Daya tampung penduduk sebesar 427,900 jiwa. Evaluasi kesesuaian lahan permukiman dengan RDTR Perkotaan Indramayu tahun 2013-2033 menunjukan pelanggaran pada zona SBWP 5 menempati kawasan peruntukan pertanian dan SBWP 11 menempati peruntukan sempadan sungai. Kesesuaian lahan permukiman berdasarkan kondisi fisik lahan (skoring) menunjukan kelas II (642.06 ha) total skor 34 dan Kelas III (3,391.01 ha) total skor 30. Kawasan lindung setempat berupa kawasan sempadan sungai (178,88 ha) dan sempadan pantai (89.33 ha). Luas kawasan pertanian subur sebesar 1,856, 16 ha. Terjadi pelanggaran sebesar 110.46 ha dan sesuai sebesar 3,922 ha. Hasil 20 (dua puluh) titik validasi menunjukan angka 0.90 atau mendekati 1, maka output kesesuaian lahan permukiman dapat diterima. Kesimpulan yang didapatkan bahwa perkembangan permukiman di Kecamatan Indramayu semakin padat pada perkotaan dan melebar ke perdesaan sedangkan kesesuaian lahan permukiman yang terbatas.
Kajian Kesesuaian Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Arahan Pemanfaatan Fungsi Kawasan Sub DAS Rawapening Angga Dwisapta Ardi; Sri Rahayu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1911.696 KB)

Abstract

Dewasa ini, danau/waduk di Indonesia sebagian besar telah mengalami tingkat kerusakan lingkungan yang cukup tinggi termasuk di Danau Rawapening. Danau Rawapening merupakan bagian hilir dari Sub DAS Rawapening yang berada di Propinsi Jawa Tengah. Aktivitas masyarakat yang tinggi di Sub DAS Rawapening akibat adanya aktivitas perkotaan memberikan dampak negatif  bagi keberlanjutan Danau Rawapening. Belum adanya regulasi yang jelas tentang penggunaan lahan mengakibatkan perubahan penggunaan lahan yang sulit dikendalikan sehingga banyak perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan arahan pemanfaatan fungsi kawasan. Perubahan penggunaan lahan di daerah hulu Sub DAS Rawapening meningkatkan resiko terjadinya erosi dan sedimentasi yang tinggi sehingga memungkinkan Danau Rawapening menjadi daratan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesesuaian perubahan penggunaan lahan terhadap arahan pemanfaatan fungsi kawasan Sub DAS Rawapening. Hasil yang diperoleh, sebesar 34,74% lahan di Sub DAS Rawapening merupakan kawasan lindung. Perubahan penggunaan lahan selama tahun 1991 hingga tahun 2009 sebesar 30,43%. Perubahan penggunaan lahan terbesar yaitu perubahan penggunaan lahan tanaman keras menjadi  lahan permukiman. Kecamatan Bandungan dan Kecamatan Sidomukti merupakan daerah yang mengalami perubahan penggunaan lahan paling pesat. Sebesar 19,84% lahan di Sub DAS Rawapening tidak sesuai dengan arahan pemanfaatan fungsi kawasan karena telah mengalami perubahan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan penyangga serta fungsi kawasan danau menjadi fungsi kawasan budidaya yang dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan seperti erosi, sedimentasi dan banjir serta penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya regulasi zoning yang lebih mempertimbangkan aspek fungsi kawasannya.
KAJIAN PENGARUH KEBERADAAN KAWASAN WISATA SANGIRAN TERHADAP ASPEK FISIK, ASPEK EKONOMI, DAN ASPEK SOSIAL MASYARAKAT Rois Lukman Afandi; Mohammad Mukti Alie
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.821 KB)

Abstract

Potensi-potensi wisata banyak ditemui di Indonesia, namun banyak pula yang hanya terbengkalai karna tidak mendapatkan perhatian baik dari pemerintah maupun dari masyarakat sendiri. Potensi pariwisata yang dikelola dengan akan memberikan pengaruh baik pula bagi daerah tersebut. Adanya pengelolaan dan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat akan memaksimalkan potensi wisata yang ada sehingga pengaruh yang diberikan juga akan maksimal. Potensi wisata yang dimaksudkan juga terdapat dalam kawasan wisata Sangiran yang berada di Desa Krikian, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Terdapat beberapa jenis kegiatan wisata yang ada di Kawasan ini mulai dari wisata museum dan Desa wisata Pengrajin batu. potensi wisata yang ada di Desa Krikilan sebenarnya sedah ada sejak lama, namun sulit berkembang karena banyak factor penyebab. Kemudian potensi-potensi wisata tersebut ternyata sudah dikelola bahkan oleh tiga instansi sekaligus yaitu antara lain adalah Pemerintah kabupaten, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat dan lambat laun mulai bisa berkembang dengan adanya peningkatan jumlah pengunjung sebesar 400% selama 8 tahun terakhir dan peningkatan paling drastis terjadi pada tahun 2011 yang mengalami peningkatan sebesar 50% dari tahun sebelumnya. Adanya Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan yang kemudian menjadi pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah : Bagaimana pengaruh Keberadaan Kawasan Wisata Sangiran Terhadap aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial masyarakat?permasalahan yang timbul dalam perkembangan kawasan wisata sangiran adalah belum optimalnya pemanfaatan potensi dan pemberdayaan masyarakat yang ada di kawasan wisata sangiran sehingga penelitian ini penting dilakukan karena bertujuan untuk melakukan kajian pengaruh perkembangan yang terjadi di kawasan wisata Sangiran terhadap aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial masyarakat di Desa krikilan. metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dan data yang dikumpulkan melalui observasi lapangan, kuesioner dan wawancara dengan beberapa stakeholder terkait. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling untuk responden masyarakat yaitu hanya masyarakat yang bekerja atau berusaha di kawasan wisata yang dijadikan responden dan teknik simple random sampling untuk wisatawan yang datang ke lokasi wisata. hasil akhir penelitian ini adalah adanya perkembangan kawasan wisata sangiran memberikan pengaruh terhadap Desa Krikilan baik itu dilihat dari aspek fisik, aspek ekonomi dan aspek sosial masyarakat.
KEBERTAHANAN PERMUKIMAN SEBAGAI POTENSI KEBERLANJUTAN DI KELURAHAN PURWOSARI SEMARANG Ayu Risky Puastika; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 1, No 1 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.428 KB)

Abstract

Kelurahan Purwosari merupakan suatu kawasan yang peruntukan lahannya digunakan untuk permukiman sejak pemerintahan Belanda tahun 1874 yang bernama Poncol Stresse, dan kini telah banyak mengalami perubahan. Perubahan permukiman di Kelurahan Purwosari cenderung mengalami penurunan. Dimana, penurunan tersebut berada pada lingkungan perumahan tersebut, yaitu mengalami rob . Penurunan lingkungan tersebut memperlukan suatu ketahanan untuk melindungi kawasan hunian yang menciptakan rasa kenyamanan. Dari gejala-gejala yang terjadi pada permukiman di Kelurahan Purwosari perlu dikaji lebih terperinci mengenai kemampuan bertahan Kelurahan Purwosari untuk tetap didiami oleh masyarakat sebagai suatu kawasan hunian dan berlanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kemampuan kebertahanan permukiman di Kelurahan Purwosari terhadap ancaman rob sebagai potensi keberlanjutan perumahan dimasa yang akan datang yang tetap digunakan sebagai kawasan hunian., Untuk mencapai tujuan tersebut akan dilakukan analisis yang terkait dengan, analisis kemampuan sosial masyarakat dalam upaya bertahan terhadap rob, analisis kemampuan perekonomian masyarakat dalam upaya bertahan terhadap rob dan kemampuan lingkungan permukiman utuk bertahan terhadap rob. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan metode pengumpulan data primer maupun sekunder. Teknik analisis yang dilakukan dengan analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis pembobotan, dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil studi ini adalah kemampuan bertahan perumahan yang ada di Kelurahan Purwosari masuk kedalam kategori “cukup” dengan jumlah skor 1.5 dari nilai maksimal 3. Hal tersebut berarti kemampuan bertahan yang ada di Kelurahan Purwosari sudah dinilai cukup untuk melakukan kebertahanan menghadapi permasalahan yang ada yaitu adanya rob, dan potensi yang dapat membawa permukiman Kelurahan Purwosari berlanjut adalah kemampuan sosial masyarakat.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue