cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
Kajian Diminishing Return Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Kentang di Kawasan Dieng Pandu Farchan Jannata; Samsul Ma'rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1384.018 KB)

Abstract

this research to identify which areas in the Dieng Region that has occur diminsihing return. There are three step to get the result, 1. Analyzing diminishing return; 2. Analyzing efficiency of potatoes farming;  3. Zoning of diminishing return area. This research uses a quantitative menthod, through cobb-douglas function, economy efficiency analysis and GIS. Collecting data this study used a questionnaire with the research subjects were farmers and research object is input or production factor potato farming. The results of this study found that many villages has occur diminishing return caused by the use of these inputs. In the analysis of diminishing return is known that the marginal product of input is smaller than the average product and its production elasticity negative. The villages are experiencing diminishing return due to input land area is the village of Tieng, Sembungan, Dieng, Patakbanteng, Sikunang, and Campursari. The employment affects all villages in Region Dieng in the diminishng return. While it's only village Patakbanteng and Parikesit affected by seed input. Fertilizer inputs affects all the villages in the occurrence of diminishing return. Meanwhile, the use of pesticides also affect all villages, except Sikunang village.
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN ILMU FENG SHUI PADA KAWASAN PECINAN SEMARANG Dara Citra Hati; Djoko Suwandono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.228 KB)

Abstract

Perencanaan suatu kawasan heritage tentu tidak lepas dari unsur sejarah yang membentuk ruang kawasan tersebut.Oleh karena itu perencanaan itu sendiri tidak hanya memperhatikan aspek karakteristik fisik bangunan, namun juga karakteristik sosial yang tinggal di dalamnya.Untuk memahami identitas suatu kawasan bisa ditelisik melalui sejarah dan budaya yang tertanam di dalamnya, bagaimana norma-norma dan aturan-aturan adat membentuk suatu perilaku sosial masyarakat menjadi seperti yang ada saat ini.Perencanaan Pecinan sebagai contoh, juga merupakan salah satu kawasan heritage yang berada di Kota Semarang.Kawasan pecinan memiliki keunikan dan ciri khas nya sendiri yang masih terlihat sangat kental pada lingkungan, keadaan fisik, dan sosial masyarakat yang berada di kawasan tersebut.Banyak warga Tionghoa yang bertempat tinggal di Pecinan masih menganut kepercayaan tradisional, seperti pemujaan dewa-dewa di Klenteng dan Feng Shui.Selama ini Feng Shui lebih sering dikenal sebagai ilmu mistik yang tidak dapat dibuktikan kredibilitasnya.Namun sesungguhnya dibalik itu Feng Shui merupakan ilmu pengetahuan yang memiliki banyak aspek yang sebenarnya berdasarkan pada hal-hal yang sering kita jumpai sehari-hari.Feng Shui merupakan hitungan matematika tentang hubungan sebab akibat dari kondisi yang terjadi.Jadi, ada teori dan rumusan yang dapat dianalisis melalui hitungan oleh setiap orang yang mempelajarinya.Feng Shui yang kita kenal saat ini lebih banyak diimplementasikan pada skala kecil seperti pada rumah dan bangunan perkantoran atau pusat perbelanjaan.Masih sangat jarang kita melihat pengaruh Feng Shui pada skala perkotaan dan wilayah. Bukan hal yang mustahil memanfaatkan Feng Shui dalam suatu proses perencanaan kota, karena pada dasarnya bangunan dan kota memiliki unsur-unsur yang serupa.Tema yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah menganalisis bagaimana penerapan ilmu Feng Shui pada kawasan Pecinan Semarang. Penelitian ini akan mengkaji Feng Shui dari berbagai sudut pandang, dan menganalisis prinsip keseimabangan Feng Shui yang ada pada kawasan Pecinan Semarang. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.Dalam banyak kasus teori perancangan modern terkadang dianggap kurang pas untuk menata kawasan heritage seperti kawasan Pecinan. Penelitian ini bertujuan semata-mata hanya untuk mencari solusi yang sesuai untuk mengembangkan dan dalam waktu yang bersamaan melestarikan kebudayaan warga Tionghoa yang bertempat tinggal di Pecinan dengan memanfaatkan ilmu dan kebudayaan yang familiar dengan gaya hidup mereka. Sehingga pada hasil akhir penelitian ini diharapkan akan diperoleh rumusan perencanaan kota dengan alternatif ilmu Feng Shui.Kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah bahwa Feng Shui masih dimanfaatkan oleh masyarakat Pecinan, baik dalam skala makro maupun mikro.Dilihat dari ditemukannya unsur-unsur yang ada pada kondisi eksisting.Feng Shui dan perencanaan modern/barat bukan benar-benar suatu hal yang bertolak belakang, ada kesamaan logis pada masing-masing dasar teori.Bisa dikatakan bahwa Feng Shui mengungkapkannya dengan bahasa yang berbeda. Namun pada akhirnya Feng Shui dan perencanaan modern tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, diperlukan suatu kombinasi dan kerjasama dari keduanyauntuk membangun kota secara harmonis.
POLA PERKEMBANGAN DAN FAKTOR PENENTU GUNA LAHAN DI KECAMATAN BEJI, KOTA DEPOK Retno Setyaningsih; Wisnu Pradoto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.226 KB)

Abstract

Kecamatan Beji adalah salah satu wilayah peri-urban yang berbatasan langsung dengan Kota Jakarta. Sebagai daerah pinggiran kota, Kecamatan Beji mengalami perkembangan penggunaan lahan yang intensif sejak tahun 90-an, hal disebabkan oleh adanya ekspansi aktivitas perkotaan ke daerah pinggiran, seperti pembangunan perumnas, relokasi Universitas Indonesia (UI), dan peningkatan kawasan pemukiman akibat tingginya urbanisasi. Fenomena ini menjadi pemicu bergesernya karakterisitk Kecamatan Beji sebagai wilayah peri-urban yang memiliki sifat peralihan desa-kota menjadi dominan sifat kekotaan (urban fringe). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor dan pola perkembangan penggunaan lahan di Kecamatan Beji dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data baik primer maupun sekunder. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa analisis, yaitu analisis pola perkembangan penggunaan lahan melalui analisis perbandingan citra tahun 1990,1999, dan 2011, analisis deskriptif, dan analisis faktor menggunakan aplikasi SPSS. Pola perkembangan penggunaan lahan di Kecamatan Beji sejak tahun 1990-2011 mengalami pembentukan dalam tempo yang berbeda (cepat, sedang, dan lambat), hal ini terkait pada faktor pemicu perkembangan penggunaan lahan yang berbeda-beda pengaruhnya di setiap daerah di Kecamatan Beji. Faktor dominan yang menjadi penentu perkembangan penggunaan lahan di Kecamatan Beji secara umum adalah faktor letak Kecamatan Beji yang berbatasan dengan Kota Jakarta dan faktor migrasi yang datang ke Kecamatan Beji, namun dalam penilaian faktor perkembangan penggunaan lahan setiap wilayah, masing-masing memiliki faktor dominan yang berbeda.
UPAYA MASYARAKAT DALAM PENANGANAN TEMPAT BERMUKIM DI LINGKUNGAN PESISIR DI KELURAHAN BANDENGAN PEKALONGAN UTARA Wanti Sitanggang; Sunarti Sunarti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1367.521 KB)

Abstract

Kelurahan Bandengan di Pekalongan Utara yang berada di wilayah pesisir sudah mengalami masalah rob dan banjir yang merusak tempat bermukim mereka sejak 10 tahun terakhir. Kondisi kerusakan semakin parah karena banyak warga yang sudah kehilangan pekerjaan tidak mampu memperbaiki kerusakan yang ada secara permanen. Menurunnya kualitas ekonomi warga Bandengan disebabkan karena ladang melati yang dulu menjadi mata pencarian sebagian besar warga Kelurahan Bandengan sudah rusak karena rob. Penelitian ini mengkaji upaya yang sudah dilakukan masyarakat terhadap tempat bermukim sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan pesisir dari bencana banjir dan rob.Dari data yang dikumpulkan serta dianalisis secara deskriptif, maka diketahui bahwa tempat bermukim di lingkungan pesisir Kelurahan Bandengan mengalami banjir dan rob setinggi 5-9 cm dengan lama genangan di RW IV dan V selama 12 jam, dan di RW III dan VI selama 1-4 hari. Berdasarkan kondisi tersebut maka warga melakukan bentuk upaya yang berbeda-beda. Upaya penanganan yang sudah dilakukan warga dianalisis menggunakan analisis crosstab untuk mengetahui hubungan antara upaya dengan kondisi yang terjadi saat ini. Upaya tersebut merupakan bentuk adaptasi terhadap bencana yang melanda rob dan banjir yang melanda wilayah pesisir saat ini. Bentuk adaptasi yang sudah dilakukan berupa adaptasi reaktif dan adaptasi proaktif. Adaptasi reaktif yang dilakukan warga Bandengan adalah dengan meninggikan bagian depan rumah saja yang dapat berguna juga sebagai tanggul sementara. Sedangkan adaptasi proaktif yang akan dilakukan adalah pembuatan geotube di sepanjang garis pantai sebagai penghalang ombak atau pasang yang masuk ke daratan. Namun berdasarkan hasil analisis deskriptif yang dilakukan, warga lebih banyak memilih untuk pasrah dan tidak melakukan upaya penanganan apa pun. Hal tersebut disebabkan karena dengan kondisi ekonomi yang rendah dan jenis kerusakan pada atap dan lantai rumah, maka warga lebih memprioritaskan kebutuhan pangan daripada harus memperbaiki tempat bermukim mereka yang sudah rusak.
DISTRIBUSI POTENSI SUMBERDAYA PENDUKUNG DALAM PROSES PRODUKSI BATIK DI KAMPUNG-KAMPUNGSENTRA BATIK KOTA PEKALONGAN M. Arista Wibowo; Nurini Nurini
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.884 KB)

Abstract

Perkembangan suatu kota terjadi dengan adanya kegiatan atau aktivitas masyarakat yang secara tidak langsung dapat membantu perkembangan dan perekonomian kota tersebut. Perkembangan dan pertumbuhan kota dapat terjadi karena adanya saling keterkaitan dengan daerah-daerah sekitar atau hinterland atau antar daerah didalam kota itu sendiri. Keterkaitan yang terjadi  dapat berupa adanya pergerakan barang atau jasa, manusia, uang, kredit dan investasi. Semakin besar keterkaitan yang terjadi, maka semakin besar pula pengaruhnya terhadap perkembangan kota tersebut. Kota Pekalongan sebagai salah satu kota yang berkembang di Jawa Tengah dan terkenal akan kerajinan tangan berupa kain batik. Kegiatan proses produksi batik ini melibatkan keterkaitan antar daerah di Kota Pekalongan maupun sekitarnya dalam hal distribusi tenaga kerja, distribusi sumber daya bahan baku dan distribusi keuangan atau financial.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan potensidistribusi sumberdaya pada produksi batik di kampung-kampungsentra batik Kota Pekalongan. Sehingga dalam penelitian ini dapat ditarik pertanyaan penelitian bahwa, “Bagaimana distribusi potensi sumberdaya pendukung dalam proses produksi batik di Kota Pekalongan dapat berpengaruh terhadap perkembangan kampungsentra batik dan Kota Pekalongan?”. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik probability sampling dengan simple random sampling.Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis statistik dengan menggunakan teknik distribusi frekuensi dan korelasi.Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diketahui bahwa untuk potensi distribusi sumberdaya manusia melalui tenaga kerja secara kuantitas mayoritas berasal dari daerah kampung sentra batik itu sendiri dan secara kualitas dapat dikatakan cukup baik. Latar belakang pendidikan SMP dan mendapatkan upah yang rata-rata masih dibawah UMR Kota Pekalongan. Potensi distribusi sumberdaya bahan baku melalui perbedaan rasio harga komoditas diketahui bahwa perbandingannya adalah 1:2. Hal ini menjadikan para pengusaha batik memilih untuk pemenuhan bahan baku diperoleh dari Kota Pekalongan sendiri. Analisis sumberdaya finansial dapat dijelaskan bahwa sumber dana usaha para pengusaha mayoritas berasal dari pinjaman orang tua. Besaran pendapatan yang didapatkan dipengaruhi langsung oleh besaran pengeluaran karena berkaitan dengan jumlah produksi yang dihasilkan Berdasarkan temuan analisis tersebut, kampung-kampung sentra batik dapat menjadi sebagai potensi kutub pertumbuhan yang mampu ikut berperan dalam perkembangan Kota Pekalongan.
PENILAIAN KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN BUGANGAN KOTA SEMARANG Intan Puspita Widodo; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.269 KB)

Abstract

Kawasan di perkotaan dewasa ini berkembang menjadi kawasan yang memiliki berbagai fungsi sekaligus yang dikenal dengan sebutan mixed used area. Seperti halnya Kecamatan Semarang Timur yang merupakan salah satu kecamatan di Kota Semarang yang terletak dipusat kota. Dengan posisinya yang strategis, maka selain sektor permukiman, terdapat sektor lapangan usaha yang berkembang di kecamatan ini yaitu sektor industri, perdagangan dan jasa. Selain itu, Kecamatan Semarang Timur khususnya Kelurahan Bugangan dan Jl. Barito memang diperuntukkan bagi penggunaan lahan usaha. Pengembangan IKM menurut RDTRK dipusatkan pada Kelurahan Bugangan dan sepanjang Jalan Barito, dimana Kelurahan Bugangan terkenal sebagai Sentra Industri Perkalengan. Berbagai potensi ini dapat dijadikan sebagai faktor pendukung dalam mewujudkan suatu permukiman yang berkelanjutan. Namun sangat disayangkan ternyata kawasan ini masih memiliki permasalahan permukiman, baik permasalahan yang terkait dengan kondisi prasarana dan sarana permukiman yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat keberlanjutan permukiman di Kelurahan Bugangan. Untuk mencapai tujuan tersebut, akan dilakukan analisis terkait dengan ketersediaan dan kondisi sarana dan prasarana kawasan, analisis kualitas hunian di Kelurahan Bugangan, analisis keberlanjutan sosial masyarakat Kelurahan Bugangan serta analisis keberlanjutan ekonomi masyarakat Kelurahan Bugangan.Pendekatan secara umum yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang dilakukan dengan analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis pembobotan, dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil didapat dari studi ini adalah diperolehnya nilai untuk tingkat keberlanjutan permukiman di Kelurahan Bugangan yang mana ternyata kawasan ini belum berkelanjutan. Hasil dari studi ini dapat digunakan sebagai arahan masyarakat dalam berperilaku di Kawasan Kelurahan Bugangan terhadap lingkungan tempat tinggal mereka, baik itu terhadap sarana umum, prasarana lingkungan maupun hubungan kekerabatan antar masyarakat.
Evaluasi Program Penataan Koridor Kalireyeng di Kelurahan Kebondalem Kecamatan Kendal Kabupaten Kendal Silvia Nerisa Fortuna; Parfi Khadiyanta
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 8, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.852 KB)

Abstract

The rise of residential development that does not comply with the designation of land also occurred in Kebondalem precisely in the right trompo border irrigation or known by the public as Kalireyeng. People use river border area as a place to stay. The lack of public understanding about sanitation and waste contributed to the degradation neighborhoods and appear dirty and unhealthy. In 2008, Kebondalem become one of the pilot project locations of Neighborhood Development. BKM with the community has been carrying out development planning process in a participatory neighborhoods. Kalireyeng Corridor Planning Program is expected to resolve the settlement issue as complex as previously described. However, there were indications that the implementation of the program has not been optimal. This study aims to evaluate the level achievement of program. The evaluation criteria are effective, relevant, and responsiveness. The analytical method used in this research is quantitative descriptive analysis and scoring. The data used in this analysis comes from the study of documents, observation, and questionnaires. After the analysis, it is known that the level of achievement of program is effective (a score of 30.9 to 36.4) with a score of 36,  relevant (score of 30.9 to 36.4 ) with a score of 32, responsiveness (a score of 39.7 to 46.8) with a score of 42. Thus, the level of achievement of the program included in the category managed by 79.8%.
KAJIAN PENANGANAN DAMPAK PENAMBANGAN PASIR BESI TERHADAP LINGKUNGAN FISIK PANTAI KETAWANG KABUPATEN PURWOREJO Joseph Y A Dara; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.837 KB)

Abstract

Pesisir menjadi wilayah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia karena wilayah pesisir merupakan kawasan strategis. Sehingga kawasan industri juga banyak di wilayah pesisir Purworejo. Desa Ketawangrejo merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Grabag yang memiliki wilayah pesisir dimana  PT. Antam beroperasi. Permasalahan yang merupakan dampak negatif dari penambangan pasir besi wilayah pesisir Purworejo adalah musnahnya gumuk dari topografi khas pesisir yang unik, kerusakan permanent pada bekas areal yang ditambang, banjir rob, menimbulkan kerentanan dan resiko tinggi terhadap ancaman bencana alam dan bencana lingkungan,  menimbulkan dampak sekunder berupa polusi (udara, tanah, air) yang memerosotkan secara ekstrem kualitas lingkungan hidup dan merusak sarana prasarana yang ada seperti jaringan jalan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut maka dalam penelitian ini digunakan metoda pendekatan deskriptif analitis. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yang Meliputi analisis dampak serta analisis pendekatan lingkungan dan analisis pendekatan teknologi. Hasil dari penelitian ini adalah rekomendasi untuk pemerintah, masyarakat maupun instansi terkait untuk menyelesaikan usaha reklamasi, melakukan penghijauan kembali, memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat penambangan pasir besi dan usaha usaha lain untuk mendukung kegiatan masyarakat terkait penambangan pasir besi. Dengan rekomendasi ini diharapkan lingkungan Pantai Ketawang dapat berfungsi seperti sedia kala.
MODEL HARGA LAHAN KOTA MAGELANG (Studi Kasus: Kota Magelang) Prastika Wijayanti; Widjonarko Widjonarko
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.382 KB)

Abstract

Lahan tidak hanya merupakan kebutuhan bermukim, tetapi juga tempat untuk berinteraksi sosial dan menjalankan aktivitas.               Peningkatan jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan lahan sehingga mempengaruhi persaingan harga lahan. Hal itu terjadi di Kota Magelang.  Keberadaan pusat kota sebagai pusat aktivitas penduduk di Kota Magelang yang ditunjang dengan sarana prasarana mempengaruhi variasi guna lahan tertentu yang cenderung memiliki nilai ekonomis tinggi. Keterbatasan lahan dan persaingan harga lahan di pusat kota mempengaruhi perkembangan lahan ke area-area di luar kawasan tersebut. Selain itu, jaringan jalan arteri menjadi penghubung pusat kota hingga luar kota, sehingga mempengaruhi peningkatan harga lahannya. Selanjutnya, melalui pemodelan harga lahan yang dilakukan dalam penelitian ini, diharapkan dapat membantu pembaca dalam melakukan estimasi harga lahan Kota Magelang melalui model harga lahan yang dilakukan dengan analisis regresi berganda.Pendekatan dalam kegiatan analisis penelitian ini yaitu dengan metode kuantitatif dengan pengujian variabel-variabel pengaruh harga lahan di Kota Magelang. Analisis dilakukan untuk memodelkan harga lahan pasar dan harga lahan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak). Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, model regresi yang sesuai dengan wilayah studi yaitu Y1 (Harga Lahan Menurut NJOP) = 1,556 - (0,248 . Jarak terhadap pusat kota) – (0,146 . Jarak terhadap jalan arteri) + (0,258 . Penggunaan lahan) + (0,725 . Jaringan air bersih) + (0,248 . Lebar jalan) dan Y2 (Harga Lahan Pasar) = 0,544 – (0,179 . Jarak terhadap pusat kota) – (0,168 . Jarak terhadap jalan arteri) + (0,237 . Penggunaan lahan) + (0,689 . Jaringan air bersih) + (0,284 . Lebar jalan). Berdasarkan analisis statistik yang dilakukan, variabel jarak terhadap pusat kota, jarak terhadap jalan arteri, pengunaan lahan, jaringan air bersih dan lebar jalan berpengaruh terhadap harga lahan NJOP maupun  harga lahan pasar. Selain itu, hasil analisis penelitian juga menunjukkan bahwa terjadi hubungan positif antara harga lahan NJOP dan harga lahan pasar.
KAJIAN MIGRASI PEKERJA SIRKULER DI KOTA SEMARANG DAN FENOMENA TRANSFER REMITAN KE DAERAH ASAL Wijoseno Wijoseno; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.494 KB)

Abstract

Perkembangan ekonomi Kota Semarang yang bertumpu pada sektor perdagangan dan jasa serta sektor industri telah mampu menyediakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja baik itu dari dalam maupun dari luar daerah sehingga menjadi daya tarik sebagai daerah tujuan migrasi. Dalam perkembangannya, migrasi sirkuler justru lebih menonjol karena aktivitas migrasi sirkuler mampu meningkatnya kesejahteraan ekonomi keluarga di daerah asal melalui transfer pendapatan ke daerah asal (remitan). Penelitian ini bertujuan membahas fenomena migrasi sirkuler di Kota Semarang dengan cakupan pembahasan penelitian meliputi karakteristik migran, pola migrasi berdasarkan dimensi keruangan dan waktu, faktor yang mempengaruhi keputusan migrasi sirkuler, faktor yang mempengaruhi besaran remitan, serta pola penggunaan remitan. Teknik analisis Binomial Logistic Regression digunakan untuk menguji hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan migrasi sirkuler, dimana variable terikatnya adalah keputusan menetap atau tidak menetap di tempat tujuan, sementara variable bebasnya adalah: umur, pendidikan, status perkawinan, penghasilan, kepemilikan asset/lahan, status pekerjaan asal, dan jarak. Hasil analisis Binomial Logistic Regression menunjukkan ada tiga variable bebas yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan melakukan migrasi sirkuler yaitu status pernikahan, kepemilikan lahan dan penghasilan. Analisis Regresi Linier Berganda digunakan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi besaran remitan. Berdasarkan hasil analisis Regresi Linier Berganda manunjukkan ada 5 variabel yang berpengaruh signifikan terhadap besaran kiriman remitan yaitu variable status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan, pengeluaran di kota dan jumlah tanggungan keluarga. Sementara variable bebas yang tidak berpengaruh signifikan adalah variable lama migrasi. Penggunaan remitan sebagian besar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari karena mobilitas pekerja sirkuler ke kota karena tekanan kemiskinan dan ketebatasan ekonomi dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue