cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
EFEKTIVITAS PEMANFAATAN FASILITAS SOSIAL DI PERUMAHAN BUKIT KENCANA JAYA SEMARANG Annisa Mu’awanah Sukmawati; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.18 KB)

Abstract

Sebagai perumahan formal yang dibangun oleh swasta sejak tahun 1987, Perumahan Bukit Kencana Jaya telah memiliki fasilitas sosial yang cukup beragam jenisnya. Meskipun begitu, terdapat beberapa fasilitas yang telah mengalami penurunan kualitas karena kurangnya pemeliharaan. Padahal, kondisi kuantitas dan kualitas fasilitas sosial akan mempengaruhi pemanfaatan terhadap fasilitas tersebut. Penelitian dilakukan untuk menilai efektivitas pemanfaatan fasilitas sosial di Perumahan Bukit Kencana Jaya. Penilaian efektivitas pemanfaatan dilakukan menggunakan 4 variabel penelitian, yaitu variabel ketersediaan, lokasi dan aksesibilitas, intensitas pemanfaatan, dan interaksi sosial antar penghuni perumahan. Penelitian menggunakan analisis statistik deskriptif dengan metode pembobotan. Hasil analisis menghasilkan terdapat 4 jenis fasilitas sosial yang telah efektif pemanfaatannya karena dapat digunakan oleh seluruh penghuni Perumahan Bukit Kencana Jaya, yaitu fasilitas peribadatan dengan nilai 2760, fasilitas perdagangan dan niaga dengan nilai 2696, fasilitas ruang terbuka, taman, dan lapangan olahraga dengan nilai 2473, dan fasilitas pendidikan dengan nilai 2445. Sedangkan fasilitas yang hanya memiliki efektivitas pemanfaatan cukup adalah fasilitas pemerintahan dan pelayanan umum dengan nilai 2159 dan fasilitas kesehatan dengan nilai 2130. Fasilitas sosial yang termanfaatkan dengan efektif merupakan jenis fasilitas yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penghuni perumahan, seperti kebutuhan ekonomi, spiritual, mental, dan fisik. Pemanfaatan fasilitas sosial juga berbeda-beda tergantung dari kondisi sosial ekonomi keluarga, seperti tingkat pendapatan, life style, dan lama tinggal.
Transformasi Sosial Ekonomi Penduduk Lokal Akibat Adanya Pembangunan Di Kawasan Solo Baru Kabupaten Sukoharjo Lintang Rahmayana; Wiwandari Handayani
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.03 KB)

Abstract

Solo Baru Region is located in Grogol,   Sukoharjo District. Formerly, Solobaru was a rural region, but with the building that was caused by the development of urban, makes the Solo Baru Region being urban built up area. Where there is the largest mall in Sukoharjo, the elite housing, apartments and hotels etc. The changes impact the socio- economic structural in its local communities. Based on these matters raise the question of how the socio-economic transformation of the local residents due to the construction in the area of Solo Baru? The research method in this study using quantitative methods with descriptive format in whict the data is obtained from the questionnaire and fiel survey. Weighting for the variables using analytic pairwise method technique. Based on the analysis can be seen there has been a change in the socio-economic of its local communities in  Solo  Baru Region due to the development  in  the  area. The greatest changes are on the economic aspect, while social changes are likely not to be too large because of changes in this aspect is slow. Changes in social aspects can be evidenced by 43% of respondents feel the changing skills, 18.8% of respondents feel the decline in customs, and in terms of accessibilities there are approximately 48.50% of respondents reporting an increase in the number of trips. As for changes in the economic aspects can be evidenced by 95% of respondents experienced an increase in revenue. In addition to a change in the livelihood of 63.40% of respondents. The majority of respondents who changed in  livelihood are become the sellers.
PREFERENSI TETAP TINGGAL ATAU PINDAH MASYARAKAT SEKITAR PETEMPEN TERHADAP PEMBANGUNAN APARTEMEN MUTIARA GARDEN Santi Antasia Dewi; Ragil Haryanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.043 KB)

Abstract

Seiring perkembangan pembangunan Kota Semarang, bisnis properti mulai dikembangkan oleh sejumlah investor melalui pembangunan gedung berorientasi komersial di pusat kota (CBD) seperti hotel berbintang lima, perkantoran, apartemen dan mall. Kampung Petempen merupakan kawasan pemukiman padat yang berada di kawasan Gajahmada Semarang yang mulai diminati developer sebagai pembangunan bisnis properti berupa Apartemen Mutiara Garden. Pembebasan lahan dilakukan secara bertahap dengan cara penawaran ganti rugi tanpa bentuk desakan. Oleh karena itu kini sebagian besar rumah telah dijual pemiliknya dan menjadi area pembangunan apartemen. Sebagaimana kehadiran pembangunan Apartemen Mutiara Garden pastinya menimbulkan dampak dan perubahan secara lingkungan dan sosial. Tetapi dengan kondisi tersebut beberapa warga masih tetap bertahan meskipun telah terhimpit bangunan apartemen. Fenomena tersebut menjadi suatu masalah yang menarik untuk diteliti sebagai obyek penelitian mengingat harga penawaran apartemen terbilang lebih tinggi dari harga dasar tanah di lokasi tersebut. Munculah pertanyaan penelitian mengenai bagaimana preferensi tinggal masyarakat sekitar Petempen akibat pembangunan Apartemen Mutiara Garden dan faktor apakah yang mempengaruhi preferensi tetap bertahan tersebut. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka penelitian ini mengaplikasikan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan mencakup kegiatan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas masyarakat memiliki preferensi untuk tetap bertahan tinggal di Petempen. Faktor lokasi tinggal yang strategis menjadikan masyarakat memiliki keinginan untuk mempertahankan diri di kawasan ini. Persepsi yang terbentuk dari dampak pembangunan juga terbukti mampu mempengaruhi preferensi tinggal masyarakat. Persepsi negatif yang muncul seiring perubahan lingkungan dan sosial disekitarnya akan mendesak masyarakat bertahan untuk pindah. Hal ini mengindikasikan adanya fenomena gentrifikasi di kawasan Petempen yang secara perlahan membuat masyarakat kaum marginal akan terdepak keluar dari kawasan. Kemampuan ekonomi masyarakat yang rendah mengakibatkan ketidakmampuan masyarakat mengakses lingkungan. Oleh karena itu preferensi tetap tinggal masyarakat mengalami perubahan untuk pindah baik akibat keadaan mulai terdesak atau keinginan yang telah terpenuhi. 
PENILAIAN KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN KAMPUNG LAMA DI KELURAHAN LEMPONGSARI Virgawasti Dyah P; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.766 KB)

Abstract

Kampung lama Lempongsari berdiri pada tahun 1920 dan merupakan bagian dari permukiman Candi Baru yang pembangunannya ditangani oleh Ir. Herman Thomas Karsten, seorang penasehat perencana kota, pada masa kolonial. Pertumbuhan di Kota Semarang yang semakin meningkat menyebabkan permukiman meluas hingga merambah ke daerah-daerah penyangga. Sangat disayangkan bahwa saat ini kualitas lingkungan permukiman di Kelurahan Lempongsari telah mengalami penurunan karena kepadatan permukiman yang semakin tinggi dan berkurangnya ruang terbuka hijau. Permasalahan yang menjadi inti dari penelitian ini adalah terancamnya keberlanjutan lingkungan permukiman di kampung lama Kelurahan Lempongsari sebagai permukiman bersejarah yang aman dan nyaman untuk ditinggali, mengingat kondisi topografi yang berupa perbukitan dan adanya longsor di beberapa lokasi yang dapat membahayakan keberlanjutan permukiman di Kelurahan Lempongsari. Dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan pembobotan menggunakan skala linkert, maka hasil dari penelitian ini adalah keberlanjutan Kelurahan Lempongsari belum sepenuhnya mengarah ke permukiman yang berkelanjutan dan termasuk dalam kategori SEDANG dengan nilai 2,25. Dari indikator sarana prasarana, lingkungan permukiman, kehidupan sosial masyarakat, dan kondisi perekonomian hanya kehidupan sosial yang masuk dalam kategori BAIK dengan skor 2,45. Sedangkan indikator lainnya masuk dalam kategori SEDANG. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi sosial merupakan pendukung keberlanjutan  di permukiman kampung lama Kelurahan Lempongsari, di mana aspek kehidupan masyarakat kampung tercermin dari kehidupan sosial budaya yang kental yaitu terus mengembangkan prinsip-prinsip keragaman dan toleransi antar masyarakat beragama sehingga keamanan lingkungan di mana minim terjadi konflik dan mengutamakan kesetiakawanan dapat terwujud.
Pengaruh Konsumsi Energi Listrik Kawasan Permukiman Terhadap Emisi Karbon Dioksida Kota Semarang Tusiana Wismandani; Widjonarko Widjonarko
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.393 KB)

Abstract

Population growth in Semarang City increases the need of settlements, which have many activities that need electricity power generated from the  power plant by burning a huge amount of fossil fuel. Carbon dioxide was a by-product of the burning process, and also the most abundant Green House Gas contained in the atmosphere. This research expected to dicover the influence of electricity consumption towards carbon dioxide   emissions   particularly   in   Semarang   City,   by   indetifying   the   electricity consumption of the four settlements sectors: household, industry, commercial, and governmental.  Then,  analyzing  their  correlation  and  effect  towards  carbon  dioxi de emissions partially using multiple regression method, and comprehensively using simple linear regression. The household sector has the highest electricity consumption, followed by industry, commercial, and governmental sector. Yet, it also has numerous consumers which caused it’s consumption per-consumer to be the lowest amongst all of the sectors. Conversely, industrial sector has the highest consumption per-consumer since it has high electricity usage yet a fewest consumers. The multiple regression analysis showed that sectoral electricity consumption didn’t represent a  valid  result because there  was  a multicollinearity between the independent variables. Whilst the simple regression discovered that comprehensive electricity consumption gave a significant effect to the carbon dioxide emissions, where 1% increasement of electricity usage also increase upto 1.421.525,52 ton carbon dioxide emissons.
IDENTIFIKASI PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK KAWASAN INDUSTRI DI KOTA SEMARANG Izzan Arif Hutomo; Sri Rahayu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1151.615 KB)

Abstract

Kota Semarang merupakan salah satu kota yang perekonomiannya ditunjang oleh sektor perindustrian. Hal tersebut dapat dilihat dari data PDRB Kota Semarang tahun 2010 yang menjelaskan bahwa sektor industri merupakan sektor terbesar kedua dengan angka mencapai 24,16 % dari hasil pendapatan kota secara keseluruhan. Bertambahnya jumlah penduduk serta berkembangnya kawasan industri di Kota Semarang menyebabkan terganggunya beberapa aktivitas lain yang ada di sekitar kawasan industri. Hal ini dikhawatirkan dapat memberikan berbagai dampak negatif seperti alih fungsi lahan pertanian, terganggunya penataan kota, baik dari segi fisik maupun kenyamanannya, dan pencemaran limbah yang menimbulkan keresahan sosial yang pada akhirnya dapat memicu konflik sosial (Dirdjojuwono, 2004). Berdasarkan penjelasan tersebut, perlu dilakukan suatu penelitian yang dapat mengetahui perkembangan kawasan industri dan mengevaluasi kawasan industri yang ada di Kota Semarang dengan kesesuaian lahannya untuk kawasan industri, sehingga nantinya akan diketahui bagaimana perkembangan kawasan industri di Kota Semarang dari tahun 1991-2011 dan kawasan industri mana sajakah yang ada pada tahun 2011 yang lahannya telah sesuai dengan keseseuaian lahan untuk kawasan industri yang dapat dibantu dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang mengembangkan teori-teori dan model matematis yang didasarkan pada data kuantitatif dan statistik deskriptif. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa kawasan industri di Kota Semarang terus mengalami perkembangan di setiap tahunnya yang dapat dilihat dari peningkatan luas lahan terbangunnya dari tahun 1991 sebesar 204 Ha, tahun 2001 sebesar 554 Ha, dan tahun 2011 sebesar 929 Ha. Selain itu, dapat diketahui juga bahwa ternyata hanya 20 % saja dari luas keseluruhan lahan terbangun kawasan industri yang lahannya sesuai dengan kesesuaian lahan untuk kawasan industri di Kota Semarang yang terletak di Kawasan Industri Tugu Wijayakusuma (106 Ha), Kawasan Industri Guna Mekar (61 Ha), dan Kawasan Industri Terboyo (19 Ha). Oleh karena itu, pemerintah harus lebih mempertegas perizinan pembangunan kawasan industri serta membuat peraturan yang mewajibkan setiap kawasan industri harus memiliki sistem pengolahan limbah yang baik agar dapat menghindari berbagai dampak negatif yang diakibatkan oleh kawasan industri. 
KAJIAN PERKEMBANGAN KECAMATAN MIJEN SEBAGAI DAMPAK PEMBANGUNAN BUKIT SEMARANG BARU (BSB CITY) Ratri Septi Adiana; Bitta Pigawati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.785 KB)

Abstract

isu urbanisasi Kota Semarang terkait tingginya pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 1,7% pada tahun 2010 yang berdampak pada masalah keruangan. Jumlah penduduk yang tinggi menuntut ketersediaan tempat tinggal dengan segala sarana dan prasarana penunjangnya sebagai pusat aktivitas penduduk di kawasan tersebut. Dewasa ini peran kawasan pinggiran kota makin penting karena salah satu kecenderungan perkotaan adalah perpindahan penduduk dari inti kota ke pinggiran. Perkembangan kawasan pinggiran ini dapat dilihat dari pembangunan perumahan Kota Satelit yaitu Bukit Semarang Baru (BSB City,  sehingga fenomena ini berdampak pada perkembangan di Kecamatan Mijen itu sendiri. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa karakteristik Kecamatan Mijen pada tahun 1999 memiliki struktur ruang berupa lahan yang masih pedesaan karena didominasi oleh lahan pertanian. Ketika pembangunan BSB City dimulai, lahan pertanian tersebut mengalami perubahan menjadi fungsi lahan perkotaan dengan  pola jalan bersiku banyak ditemukan di area ini menunjukkan terdapat area permukiman terencana dengan pola perkembangan kota terpencar/tidak berpola. Pergeseran hirarki kota terjadi pada Kelurahan Jatisari, Kedungpane, Jatibarang, dan Mijen. Pada tahun 1999 lahan hutan sebesar 66% dari total luas Kecamatan Mijen yang kemudian menjadi 30% pada tahun 2011. Sedangkan peningkatan fungsi lahan permukiman dari 22% menjadi 59%, dan secara sosial ekonomi terjadi peningkatan tingkat pendapatan masyarakat yang disebakan oleh pergeseran mata pencaharian dari petani  menjadi  buruh. Selain itu juga angka migrasi netto tertinggi pada Kelurahan Jatisari.
Pola Perjalanan Siswa Sekolah Dasar Di Kecamatan Semarang Tengah Endra Nugraha; Diah Intan Kusumo Dewi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1346.153 KB)

Abstract

The destination of travel to work place and educational facilities are called as main trip which is a daily routine, on the other hand, another trip  is a choice, not a routine (Tamin, 2000). One of the travel type which is interested to be studied is a travel of elementary students to their schools. This travel has to be considered because there is a physical constraint of students which cause the different trip with adult. The objective of this research is to identify the travel pattern  from various trips of individual who are doing the trip to elementary school. By knowing the various characteristics of student’s trip to school, there will be a way to know the problems caused by the trip process. This research is done in Semarang Tengah District and it is a central urban zone which can cause effects to the students of elementary school in terms of travel pattern. Data is collected by doing survey to the households which have children aged at elementary school. Method used in this research is quantitative method. Quantitative-descriptive analysis method with analysis to the frequency distribution and spatial using GIS. The results show that there is a trip pattern of elementary students in Semarang Tengah district, particularly regarding the mode preference and route choice which is determined by age, vehicle owning, time, and distance. On the other side, same time to go to school and going to work by parents only affect the trip to school with private car. The most used transportation mode is with motorcycle and by passing the fastest route
POLA KETERKAITAN SENTRA PRODUKSI DAN SENTRA PENGOLAHAN KOMODITAS PERKEBUNAN DI KABUPATEN BANJARNEGARA Ratna Listyaningtyas; Samsul Ma’rif2
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1123.921 KB)

Abstract

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor unggulan di Kabupaten Banjarnegara. Sebagian besar wilayah Kabupaten Banjarnegara adalah wilayah dataran tinggi yang cocok dijadikan sebagai lahan perkebunan. Sesuai dengan luas lahan pertanian di Kabupaten Banjarnegara yaitu sekitar 22% dari luas total. Selain itu sektor ini merupakan pemberi sumbangan terbesar pada PDRB Kabupaten Banjarnegara. Untuk lebih memajukan pertanian Kabupaten Banjarnegara maka perlu adanya pengolahan hasil perkebunan, dengan adanya pengolahan (industri) maka petani dan pelaku usaha perkebunan dapat menadapatkan margin yang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji lebih mendalam mengenai pola upaya pengembangan industri masyarakat perkebunan Kabupaten Banjarnegara sebagai salah satu cara pengembangan pedesaan di Kabupaten Banjarnegara.pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode pengolahan data deskriptif. Penelitian ini menghasilkan temuan studi pola kawasan industri masyarakat perkebunan yang terbentuk dari hubungan antara daerah pusat produksi dengan daerah pusat pengolahan. Dari enam komoditas unggulan di Kabupaten Banjarnegara terdapat tiga komoditas yang pengolahannya terdapat di Kabupaten Banjarnegara yaitu kelapa deres, teh dan kopi robusta. Dengan berkembangnya kawasan indutri masyarakat perkebunan pada akhirnya dapat menekan biaya transaksi dan dapat memaksimalkan keuntungan, meningkatkan produktivitas sehingga dapat mengembangkan perekonomian pedesaaan.
PENGARUH KEBERADAAN INDUSTRI KECIL BATIK KHAS GUMELEM KABUPATEN BANJARNEGARA TERHADAP GUNA LAHAN DAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT LOKAL Aji Uhfatun Muzdalifah; Mohammad Mukti Alie
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.714 KB)

Abstract

Perkembangan jaman semakin menuntut keberadaan industri kecil industri kecil batik khas Gumelem di Susukan untuk memberikan pengaruh terhadap kontribusi pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal di Kabupaten Banjarnegara, khususnya yang berkaitan dengan perubahan aspek guna lahan dan sosial-ekonomi. Berdasarkan fenomena tersebut, maka diangkat sebuah pertanyaan penelitian: “Bagaimana pengaruh keberadaan industri kecil industri kecil batik khas Gumelem terhadap guna lahan dan sosial-ekonomi masyarakat lokal di Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara?” Hal ini penting untuk mengendalikan aktivitas-aktivitas terkait aspek fisik dan sosial-ekonomi yang muncul akibat adanya industri kecil tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh keberadaan industri kecil batik khas Gumelem terhadap guna lahan dan sosial-ekonomi masyarakat lokal di Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Hasil akhir dari penelitian ini bahwa keberadaan industri kecil batik khas Gumelem dinyatakan memberikan pengaruh terhadap aspek fisik, sosial, dan ekonomi. Dimana pada aspek guna lahan terjadi perubahan fungsi bangunan maupun lahan, ketersediaan ruang. Pada aspek sosial terjadi pengurangan pengangguran, terjadi perpindahan penduduk internal, perubahan kondisi sosial dan nilai-nilai budaya. Sedangkan pada aspek ekonomi dinyatakan dapat memberikan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat lokal. Berdasarkan pengaruh keberadaan industri kecil batik khas Gumelem ini diharapkan akan memanfaatkan kondisi fisik keruangan yang ada dan menunjang perekonomian dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue