cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
KERJASAMA ANTAR DAERAH DALAM PELAYANAN AIR BERSIH KOTA SURAKARTA DENGAN KABUPATEN KARANGANYAR Debbie Vici Prastiti; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 1, No 1 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.544 KB)

Abstract

Pelayanan publik dapat bersifat lintas batas administratif. Begitu juga yang terjadi di Kabupaten Karanganyar, yang lokasinya berbatasan dengan Kota Surakarta. Studi kasus dilakukan di Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar yang pelayanan air bersihnya dilayani oleh PDAM Kota Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mekanisme kerjasama antardaerah dalam pelayanan air bersih antara Kota Surakarta dan Kabupaten Karanganyar. Selain itu, penelitian ini juga bermaksud untuk mengetahui alasan kerjasama antardaerah ini bisa terjadi. Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan adalah pendekatan deskripsi kualitatif dengan mengambil studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, pengumpulan dan menelaah dokumen dan wawancara. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa PDAM Surakarta dapat memberikan pelayanan air bersih di sebagian daerah yang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Karangnyar. Kerjasama antara kedua daerah tersebut adalah kerjasama yang bersifat informal, yang tidak menggunakan surat rekomendasi atau dokumen perjanjian. Berdasarkan teori yang ada, bentuk kerjasama tersebut merupakan handshake agreement dan fee for service contracts.
Hubungan Karakteristik Perjalanan Dan Sosial Ekonomi Mahasiswa Terhadap Perilaku Perjalanan Pengguna Sepeda Motor Untuk Tujuan Belajar dan Belanja Chindy Trianingsih Siagian; Retno Widjajanti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.777 KB)

Abstract

Students travel from one place to another because their needs cannot be met where he lives. Student travel patterns produce travel behavior. Travel behavior can be influenced by socio-economic aspects of the economy and travel characteristics. Gender, age, monthly allowance, daily expenses, parking fees, distance of residence to shopping places influence on student travel behavior. As many as 28% of students using motorcyles have a frequency of traveling as much as 7 times in one day. On the other hand, age also affects the travel time of students. The most travel patterns undertaken by students are dwellings / boarding houses - other places - shopping places - dwellings / boarding houses. Women tend to have a longer duration of activity compared to men, in addition students who have activity durations more than 7 hours and the frequency of travel is less than 5 times suspected to be a native of Semarang students so that they fulfill their activities in one place. In addition to saving on transportation costs, it will also save travel time for the student.
KAJIAN PENGENDALIAN DALAM MENGATASI KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN PEKALONGAN Rizky Fauzi Widagdo; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.619 KB)

Abstract

Mangrove merupakan salah satu ekosistem wilayah pesisir yang mempunyai beberapa fungsi dan peranan, bagi dari segi ekologi, sosial maupun ekonomi.  Secara Ekologi Mangrove berperan sebagai habitat berbagai jenis organisme, penghasil bahan organik yang tinggi, sebagai penghasil oksigen atau paru-paru kota, pelindung pantai dari abrasi dan tsunami, serta penahan intrusi air laut ke darat. Hilang dan rusaknya kawasan tersebut akan dapat menimbulkan bencana besar, tidak saja terhadap kehidupan manusia di daratan, tetapi juga terhadap kehidupan keanekaragaman hayati di lautan. Tujuan dari studi ini adalah untuk merumuskan upaya pengendalian dalam hal mengatasi kerusakan mangrove di pesisir Kabupaten Pekalongan. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan sasaran antara lain dengan menentukan area kerusakan mangrove, selanjutnya merumuskan upaya pengendalian dalam mengatasi kerusakan mangrove melalui rehabilitasi mangrove serta reklamasi habitat atau media tanam mangrove dan kemudian memberikan  kesimpulan terhadap hasil analisis.Temuan studi yang akan diperoleh dalam penelitian ini yaitu upaya pengendalian dalam mengatasi kerusakan kawasan mangrove pesisir Kabupaten Pekalongan.
KAJIAN PENURUNAN PARIWISATA DI DATARAN TINGGI KERINCI, PROVINSI JAMBI Martha Pratama; Muhammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.259 KB)

Abstract

Highlands Kerinci as a tourism icon Jambi province has a natural beauty and unique culture.But in its development, Highlands Kerinci as a tourist destination is not progressing even tends to decline.Tourist arrivals decline that occurred a slump Kerinci Highlands tourism sector as a the local economy sector.Based on this, the objective of this study is to examine what and why a decline in tourism in the Highlands Kerinci, Jambi Province.The approach in this study using a mixture or mixed method approach that combines quantitative and qualitative analysis. These results indicate that the tourism life cycle Highlands Kerinci based model Butler reached the stage of tourism decline that lasted from 2005 until today. Conditions downturn in tourism in the Highlands Kerinci so far have an impact on not growing hospitality business where the rate of occupancy of his not always full, there are only 6 homestay survive, the disappearance of the craft center, a restaurant that is that's it and souvenir shops also began to disappear.Based on the analysis of the causes of the decline of tourism, the decline in tourism in the Highlands Kerinci caused by 12 factors which have a high influence that the hygiene conditions, travel time, sanitation facilities, accommodation, sports facilities, roads, banking facilities, information and promotion, health facilities, electricity networks , community and government support, and network communications. Based on interview note that the decline in tourism that occurred due to the Concerned Citizens Festival Lake Kerinci (FMPDK) were first able to become a mainstay in attracting tourists at the present time is not the main attraction again and walk monotonous. On the other hand there is a different view, namely the fact that tourism actually Plateau Kerinci stagnant and FMPDK not carried out professionally, crowded visitors FMPDK because they dance alone, a collection of bureaucrats and people were mobilized. Regardless of the differences above, the general decline in tourism Highlands Kerinci based on interviews due to the monotony of tourist attraction developed, lack of facilities and infrastructure supporting tourism, management of tourist attraction unprofessional and tourism policies that are not targeted and unsustainable.
Arahan Perwilayahan Fungsional Dalam Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kabupaten Wonosobo Randi Febri Winaryo; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 1, No 1 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.635 KB)

Abstract

Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu daerah penghasil pertanian tanaman pangan dan hortikukltura. Potensi komoditas tersebut banyak di usahakan di beberapa wilayah di Kabupaten Wonosobo. Setiap wilayah tersebut memperlihatkan suatu spesifikasi atau keunggulan yang menyebabkan terjadinya hubungan keterkaitan (interaction) dan juga hubungan ketergantungan (interdependency) akan kebutuhan komoditas. Dalam hal ini hubungan koleksi dan distribusi komoditas pertanian tanaman pangan di suatu wilayah ada yang menjadi daerah pemasaran dan sekaligus juga sebagai daerah produksi, ataupun salah satu diantaranya. Bagi daerah yang mempunyai potensi dan keunggulan pada sektor pertanian, identik atau biasa disebut dengan nama daerah pinggiran (periphery area), sedangkan daerah yang mempunyai ciri kekotaan, yang mengandalkan keunggulannya pada sektor industri dan perdagangan biasa disebut dengan daerah pusat (core area). Sehubungan dengan hal ini maka tujuan dari penelitian yaitu untuk mengidentifikasi sub-subwilayah yang menjadi sentra produksi komoditas pertanian dan juga menetapkan pusat distribusi dan pelayanan yang paling optimal dalam rangka meningkatkan pertumbuhan dan memeratakan ekonomi wilayah. Sedangkan untuk mencapai tujuan dari penelitian ini maka metode yang digunakan yaitu metode analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan secara deskripsi dari data yang diperoleh untuk menggambarkan analisis ekonomi keruangan. Untuk alat analisis yang digunakan yaitu analisis Location Quotient (LQ), Skalogram Guttman, dan P-Median. Untuk hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Wonosobo terbagi menjadi 4 perwilayahan yang didalamnya terdapat 4 simpul kota alternatif yang paling optimal dan efisien dalam melayani daerah hinterlandnya.Untuk kota tersebut yaitu Kota Wonosobo dengan daerah hinterlandnya yaitu Kecamatan Watumalang, Selomerto, Kecamatan Leksono, Kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Kaliwiro, dan Kecamatan Wadaslintang. Kota Garung dengan daerah hinterlandnya yaitu Kecamatan Mojotengah dan Kecamatan Kejajar. Kota Kertek dengan daerah hinterlandnya yaitu Kecamatan Kalikajar. Kota Sepuran dengan daerah hinterlandnya yaitu Kecamatan Kepil, Kecamatan Kalibawang. Masing-masing wilayah tersebut secara fungsinya memiliki peranan yang berbeda-beda. Hal ini kaitannya dengan peran daerah hinterland sebagai penghasil komoditas pertanian dan daerah pusat kota sebagai daerah pusat pendistribusian dan pelayanan wilayah. Secara umum penentuan pusat-pusat kota yang paling optimal dan efisien tersebut merupakan arahan yang bertujuan untuk memudahkan daerah hinterlandnya dalam mendistribusikan hasil pertanian dan juga sebagai langkah awal dalam menyelesaikan permasalahan pemerataan pembangunan dan ekonomi wilayah disektor pertanian.
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK PENGUNJUNG RITEL MODERN SKALA BESAR DI PUSAT DAN PINGGIRAN KOTA SEMARANG Rima Mustika; Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.093 KB)

Abstract

Kota Semarang sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, bahkan Kota Semarang merupakan salah satu kota metropolitan yang mengalami perkembangan kota yang cukup pesat. Perkembangan Kota Semarang salah satunya dipengaruhi olah modernisasi yang mengubah karakter ruang Kota Semarang. Pesatnya proses modernisasi di Kota Semarang membuat perubahan dalam pembangunan fisik perkotaan seperti semakin banyaknya bangunan-bangunan baru yang dimanfaatkan sebagai aktifitas masyarakat setempat. Begitu juga dengan pusat perbalanjaan, dalam perkembangannya pusat perbelanjaan semakin modern yaitu ditandai dengan penampilan bentuk fisik yang lebih mewah dan fasilitas yang lebih cangih. Di dalam pusat-pusat perbelanjaan tersebut terdapat ritel modern yang saat ini keberadaanya telah banyak dikenal  bukan hanya oleh masyarakat Kota Semarang sendiri namun juga dikenal oleh masyarakat diluar Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan karakteristik pengunjung  ritel modern skala besar di pusat dan pinggiran Kota Semarang. Untuk mengetahui hal tersebut, tahapan yang dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik pasar modern yang terletak di pinggir kota dan pusat kota, dan setelah itu menganalisis perilaku konsumen ritel modern yang ditinjau dari variabel permintaan yaitu demografi, lokasi, pendapatan dan gaya hidup. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kuantitatif dimana teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuesioner kepada pengunjung/konsumen pasar modern.Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakteristik perilaku pengunjung ritel modern di pusat dan pinggiran Kota Semarang. Pasar modern yang terletak di pusat kota dapat menjangkau konsumen secara meluas ke seluruh wilayah Kota Semarang, dan bahkan jangkauan layanan konsumen sampai ke kabupaten-kabupaten sekitar Kota Semarang seperti kabupaten Semarang, Ungaran, Kabupaten Demak, Kabupaten Kendal. Sedangkan jangkauan layanan pasar modern yang terletak di pinggiran kota hanya menjangkau konsumen di kawasan sekitar pasar modern tersebut.
Pengaruh Pariwisata Pendakian Gunung Prau Terhadap Ekonomi Masyarakat Desa Patak Banteng Kabupaten Wonosobo Ryan Muhammad Daris; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.712 KB)

Abstract

Patak Banteng is a village at the tracking path to reach the summit of Mount Prau, which visitors has increase. The development of tourism at the village has impact in the economic sector. This research focuses on the influence of tourism on the economy of Patak Banteng Village. The research approach uses a descriptive quantitative to determine the characteristics of existing and also the influence of the tourism on the economy itself.          The research result shows that there is impact of tourism to the local economy in Patak Banteng Village. The existence of these tourist activities accommodate 13 people who previously did not have job and involves 8% of citizens in productive age. From 120 respondents, mostly they have additional income after working in tourism sector, in this case shows one of the positive impacts from tourism activities is increasing resident’s income. One of the adverse effects of tourism itself is dependence, and at the village of Patak Banteng, dependence figure is 43 out of the total respondents and the majority come from tourist manager. Dependence on this tourism can be bad when it comes the time the tourism is closed.
ANALISIS UPAYA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN KAMPUNG HIJAU (STUDI KASUS : KELURAHAN GAYAMSARI, KOTA SEMARANG) Astrini Ayu Puspita; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.642 KB)

Abstract

Kampung yang mulai mencoba mengedepankan aspek ekologi adalah Kelurahan Gayamsari, Semarang. Pemerintah kelurahan mencanangkan program green-village menuju permukiman yang berkelanjutan. Upaya yang dilakukan masyarakat Kelurahan Gayamsari menuju kampung hijau atau permukiman green-village adalah gerakan penghijauan dan optimalisasi ruang terbuka hijau, penerapan teknologi ramah lingkungan, peningkatan kenyamanan, dan pengolahan sampah secara mandiri. Partisipasi masyarakat juga muncul dengan pembentukan kelompok-kelompok peduli lingkungan. Namun, adanya implementasi Kelurahan Gayamsari dalam mewujudkan kampung hijau belum terwujud secara optimal, karena masih adanya permasalahan seperti banjir, peningkatan pencemaran udara, dan minimnya kulitas ruang terbuka hijau. Maka muncul research question penelitian ini yaitu “Seberapa Besar Upaya Yang Dilakukan Masyarakat Kawasan Permukiman Kelurahan Gayamsari Dalam Mewujudkan Kampung Hijau ?”. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk menilai upaya-upaya yang dilakukan masyarakat Kelurahan Gayamsari dalam mewujudkan kampung hijau. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diketahui bahwa upaya masyarakat dalam mewujudkan kampung hijau secara umum sudah cukup baik yaitu dengan nilai indeks 1,99, hal ini dilihat dari upaya keterlibatan masyarakat tinggi (nilai indeks 2,43) pemanfaatan ruang permukiman yang cukup (nilai indeks 1,99, dan perilaku ramah lingkungan cukup (nilai indeks 1,91). Namun pada upaya kegiatan ekonomi masih rendah (nilai indeks 1,56). Hal ini disebabkan oleh kurangnya motivasi masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi. Oleh karena itu rekomendasi untuk masyarakat yaitu agar lebih meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan terutama dalam mempertahankan ruang terbuka hijau sebagai area resapan dan meningkatkan fungsi rumah secara ekologi. Rekomendasi untuk pemerintah yaitu agar lebih mengoptimalisasi program Gayamsari Green-village melalui sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih sadar terhadap permasalahan lingkungan.
PERENCANAAN PERUMAHAN BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KECAMATAN BANYUMANIKKOTA SEMARANG Akbar Satio Putra; Asnawi .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.244 KB)

Abstract

Masih banyak Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang belum mendapat dukungan Pemerintah dalam memperoleh Rumah sehingga harus memenuhinya secara swadaya. Padahal Perumahan Swadaya sangat identik dengan Permukiman Kumuh. Kota semarang menjadi salah satu kota di Indonesia dengan kasus permukiman kumuh tertinggi di Indonesia yaitu sebanyak 2.837 ha pada tahun 2004 (Rindarjono, 2006). Program dari Pemerintah yang berkembang selama ini cenderung bersifat  Top  Down  dan hanya bisa dirasakan oleh segelintir  orang  saja (Tunas & Peresthu, 2010).  Sedangkan Pihak Swasta berorientasi pada keuntungan dan focus dalam penyediaan rumah untuk kelas menengah keatas. Di Kecamatan Banyumanik terdapat 35.049 KK, sedangkan hanya terdapat 23.189 unit Rumah (BPS, 2011). Tentu hal ini akan menjadi pertanyaan kemana 11.000 KK lainnya tinggal. Dengan Penelitian yang menggunakan Metode Kuantitatif dengan objeknya adalah Karakteristik MBR, disimpulkan sebuah Perencanaan Perumahan Baru di Kecamatan Banyumanik sebagai salah satu lokasi Peruntukan Perumahan di Kota Semarang (Perda Kota Semarang No. 14 Tahun 2010).
KAJIAN KETERKAITAN USAHA PENDUKUNG AKOMODASI DENGAN PENGINAPAN DI PRAWIROTAMAN DALAM PERKEMBANGAN PARIWISATA KOTA YOGYAKARTA Aulia Nastiti Utami; Ragil Haryanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.934 KB)

Abstract

Prawirotaman merupakan salah satu kawasan pendukung pariwisata. Adanya kebijakan pemerintah yang mendukung kemajuan pariwisata serta berubahnya fungsi kawasan yang semula berupa sentra pembuatan batik menjadi sentra penginapan menjadikan Prawirotaman sebagai kawasan pendukung pariwisata. Kemajuan pariwisata membuat kunjungan wisatawan semakin meningkat. Hal ni berdampak pada peningkatan kebutuhan penginapan sebagai akomodasi wisata bagi wisatawan. Peningkatan serta perkembangan wisatawan, baik domestik maupun asing, dan akomodasi wisata, hingga mendapat sebutan sebagai Kampung Turis. Hal ini menyebabkan semakin banyaknya jenis usaha baru yang mulai bermunculan. Namun usaha-usaha yang baru bermunculan tidak menghilangkan akomodasi wisata sebagai poin utama dari Prawirotaman, bahkan beberapa diantaranya mendukung kegiatan akomodasi wisata. Hal ini mengindikasikan bahwa ada suatu keterkaitan antara akomodasi wisata dengan usaha-usaha pendukung lainnya. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan adanya keterkaitan antara usaha usaha pendukung akomodasi dengan penginapan. Dari semua usaha yang ada di Prawirotaman, terdapat empat jenis kategori keterkaitan antara usaha pendukung akomodasi dengan penginapan yaitu sangat terkait (restoran dan agen travel), terkait (kafe, spa/salon, warnet, laundry), sedang/cukup terkait (toko kelontong, toko pakaian, minimarket), dan tidak terkait (bengkel).

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue