cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PERBEDAAN KUANTITAS DNA YANG DIEKSTRAKSI DARI BUCCAL SWAB DENGAN JUMLAH USAPAN YANG BERBEDA Devina Dea Emanuela; Tuntas Dhanardhono; Saebani Saebani
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.391 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18560

Abstract

Latar Belakang Sampel yang digunakan pada analisis DNA untuk individu hidup  adalah darah dan buccal swab, namun pengambilan darah membutuhkan metode yang invasif yang dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada dapat menjadi pilihan yang baik dan nyaman dalam pengambilan sampel untuk pemeriksaan DNA, namun belum ada standar Buccal swab yang mengatur tentang jumlah usapan yang diperlukan dalam pengambilan buccal swab yang optimal.Tujuan Mengetahui perbedaan kuantitas DNA yang diekstraksi dari buccal swab dengan jumlah usapan yang berbedaMetode Penelitian menggunakan 44 sampel buccal swab diambil dari 11 individu laki- laki sehat dan diambil secara serial sebanyak 4x dengan selang waktu selama 1 minggu. Pada pengusapan pertama diambil sampel dengan 5x usapan, selanjutnya diambil sampel dengan 10x usapan, lalu diambil sampel dengan 20x usapan dan kemudian diambil sampel dengan 30x usapan. Setelah setiap pengambilan sampel dilanjutkan dengan ekstraksi DNA dengan metode chelex pada hari yang sama dengan pengambilan sampel kemudian dilakukan pengukuran kuantitas DNA menggunakan Nanodrop Spectrofotometer yang dibaca pada gelombang 260.Hasil Didapatkan perbedaan yang bermakna pada setiap kelompok usapan (p <0.05) dengan kelompok usapan 5x, 10x, dan 20x mengalami peningkatan kuantitas yang searah dengan penambahan pengusapan sedangkan kelompok 20x dan 30x usapan mengalami penurunan kuantitas yang berbanding terbalik dengan penambahan pengusapan hal ini dapat disebabkan karena bertambahnya saliva dan kontaminan dalam sampel yang mempengaruhi kuantitas DNA.Kesimpulan Terdapat perbedaan kuantitas DNA dari buccal swab dengan jumlah usapan yang berbeda dengan kuantitas tertinggi didapatkan dari kelompok 20x usapan.
GAMBARAN FAKTOR – FAKTOR KEPUTUSAN RUJUKAN ANTENATAL CARE PASIEN BPJS DI PUSKESMAS ROWOSARI Ivan Pratama Rusadi; Arwinda Nugraheni; Firdaus Wahyudi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.218 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25346

Abstract

Latar Belakang : Rujukan ibu hamil dan neonatus yang berisiko tinggi merupakan komponen yang penting dalam sistem pelayanan kesehatan maternal. faktor - faktor keputusan rujukan perlu diketahui agar keputusan rujukan dapat segera diambil dan keterlambatan rujukan dapat dicegah. Tujuan: Mengetahui gambaran faktor – faktor keputusan rujukan antenatal care (ANC) pasien BPJS di Puskesmas Rowosari. Metode Penelitian : Penelitian ini dengan metode observasional deskriptif dengan desain studi cross sectional di wilayah kerja Rowosari bulan Juli – Agustus 2019 dengan teknik multi stage cluster random sampling. Jumlah sampel sebanyak 37 sampel. Instrumen berupa kuesioner yang telah diuji validitasnya. Pengambilan data dengan cara wawancara. Variabel bebas yang diteliti yaitu karakteristik, penyakit / penyulit dalam kehamilan dan non kehamilan, jarak, sumber daya manusia, fasilitas dan alasan rujukan lain dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah keputusan rujukan ANC pada pasien BPJS di Puskesmas Rowosari. Pengolahan data menggunakan software.Hasil : Dalam penelitian ini diperoleh indikasi rujukan utama terbanyak dari faktor ibu adalah alasan rujukan lain yaitu 51.3% , yang kedua adalah rujukan dengan indikasi penyakit dan penyulit kehamilan yaitu sebanyak 33.3% kemudian yang ketiga adalah penyakit/ penyulit non kehamilan 2.85%. Indikasi rujukan terbanyak dari faktor fasilitas kesehatan adalah ketersediaan dokter spesialis obsgyn yaitu 100% dan bedah sesar yaitu 75%. Kesimpulan : Faktor - faktor yang menjadi indikasi utama dilakukan rujukan adalah penyakit penyulit kehamilan, alasan rujukan lain, penyakit non kehamilan.Kata kunci: Faktor faktor rujukan, Antenatal Care, BPJS.
HUBUNGAN KADAR NATRIUM SERUM SAAT MASUK DENGAN KELUARAN MOTORIK PASIEN STROKE ISKEMIK Alifianto Parham Parakkasi; Hexanto Muhartomo; Hardian Hardian
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.796 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14219

Abstract

Latar belakang : Gangguan motorik umum ditemukan pada pasien stroke. Gangguan natrium pada pasien stroke iskemik fase akut diketahui berkaitan dengan keluaran pasien yang lebih jelek. Hubungan antara gangguan kadar natrium serum dengan keluaran motorik pasien stroke iskemik belum pernah diteliti.Tujuan : Membuktikan kadar natrium saat masuk berpengaruh terhadap keluaran motorik pasien stroke iskemik.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang. Subjek penelitian adalah 33 pasien stroke iskemik sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang diambil secara consecutive sampling. Keluaran motorik dinilai menggunakan Skor motor assessment scale (MAS) yang dilakukan pada hari ke-7 perawatan atau saat pasien pulang, sedangkan kadar natrium serum saat masuk didapat dari rekam medis. Uji statistik menggunakan uji One Way ANOVA dan uji Korelasi Spearman.Hasil : Penelitian ini tidak menemukan adanya korelasi yang bermakna antara kadar natrium serum dengan skor MAS (p = 0,938) pada pasien stroke iskemik. Kadar natrium serum memiliki korelasi negatif sangat lemah terhadap skor MAS (r = -0,01). Skor MAS antara pasien stroke iskemik yang hiponatremia, normonatremia, dan hipernatremia tidak berbeda secara signifikan (p = 0,073). Rerata skor MAS yang lebih rendah ditemukan pada pasien stroke iskemik yang hiponatremia (24,80) dan hipernatremia (13,76) dibandingkan pasien stroke iskemik yang normonatremia (28,44).Simpulan : Pasien stroke iskemik yang hiponatremia atau hipernatremia memiliki skor MAS yang lebih jelek dari pasien yang normonatremia. Namun, tidak terdapat korelasi yang bermakna antara kadar natrium serum saat masuk dengan skor MAS pasien stroke iskemik.
THE RELATIONSHIP BETWEEN RAINFALL, AIR TEMPERATURE AND WIND SPEED EFFECTS DENGUE HEMORRHAGIC FEVER CASE IN BENGKULU CITY AT 2009-2014 Chandra Gunawan Sihombing; Enny Nugraheni; Wahyu Sudarsono
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.797 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19395

Abstract

Background: The disease dengue hemorrhagic fever (DHF) was infectious disease caused by dengue virus (DENV 1,2,3, and 4) which transmitted through the bite of Aedes mosquito. The incident of DHF in the transmission affected by climate factors such as rainfall, air temperature and wind speed which influenced dengue vector. Bengkulu city was area of dengue disease endemic. The research was looking for a relation of dengue cases to climatic variables, which was still not available yet. Therefore, it was necessary to know the relation of climate factors with dengue cases in Bengkulu city for preventation and warning of dengue fever.Methods: This research was analytic observational research by using a design study  ecological according to time. Type of data collected was secondary data. The data derived from Health Departement of  Bengkulu city for dengue cases data in Bengkulu city and BMKG station at Pulau Baii for climate data in Bengkulu city at 2009-2014. The data analyzed by using univariate and bivariate analysis correlation and simple linear regression.Result:The result showed pattern tedency of increasing and decreasing of DHF cases and conditions of climate in Bengkulu city at 2009-2014 were same every year generally. The result of bivariate analysis not showed the strength of the relation of climate variables toward dengue cases. rainfall (r = -0,107; p = 0,372), air temperature (r = 0,041; p = 0,733), wind speed (r = 0,087; p = 0,470).Conclusion: It concluded that there were no correlation between rainfall, air temperature and wind speed toward DHF cases in Bengkulu city at 2009-2014
KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH PADA PASIEN BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH) PERIODE JANUARI 2013 – DESEMBER 2015 DI RSUP Dr. KARIADI SEMARANG Riski Novian Indra Saputra; Dimas Sindhu Wibisono; Firdaus Wahyudi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.724 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15913

Abstract

Latar Belakang : Batu saluran kemih merupakan masalah kesehatan yang cukup besar, menempati urutan ketiga setelah Benign Prostate Hyperplasia (BPH) dan Infeksi Saluran Kemih. Insidensi batu saluran kemih dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti konsumsi tinggi kalsium dan oksalat, intake cairan yang kurang, infeksi saluran kemih atau oleh karena drainase urine yang tidak adekuat seperti pada BPH.Tujuan : Mengetahui kejadian batu saluran kemih pada pasien Benign Prostate Hyperplasia (BPH) periode Januari 2013 – Desember 2015 di RSUP Dr. KARIADI Semarang.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder. Cara pengambilan sample dilakukan dengan metode total sampling dengan menggunakan kriteria waktu penelitian periode Januari 2013 – Desember 2015.Hasil : Dari hasil penelitian didapatkan dari 255 sampel pasien Benign Prostate Hyperplasia (BPH) terdapat 25 sampel yang mengalami kejadian batu saluran kemih. Frekuensi terbanyak kejadian batu saluran kemih pada pasien Benign Prostate Hyperplasia (BPH) pada usia 65-69 tahun 15 sampel (60%), dengan keluhan terbanyak sulit buang air kecil (BAK) sebesar 18 sampel (72%) dan frekuensi kejadian terbanyak pada kelompok pekerjaan terjadi pada pekerja wiraswasta sebesar 22 sampel (88%).Kesimpulan : Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kejadian batu saluran kemih masih dapat ditemukan pada sebagian kecil pasien Benign Prostate Hyperplasia (BPH).
PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN MENGENAI PENCEGAHAN SKABIES PADA ANAK BINAAN SOS CHILDREN’S VILLAGE SEMARANG Cindy Cindy; Widyawati Widyawati; Retno Indar Widayati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.989 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23301

Abstract

Latar Belakang : Di Indonesia, angka kejadian skabies mencapai 5,6-12,95%. Panti asuhan sebagai tempat pemukiman padat dan dengan pengetahuan yang minim terkait skabies, tentu menjadi tempat yang sesuai untuk penularan penyakit skabies. Tujuan : Untuk mengetahui efektivitas penyuluhan terhadap pengetahuan pencegahan skabies pada anak-anak binaan di SOS Children’s Village Semarang. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian intervensional dengan rancangan quasi experimental non equivalent control group design. Subjek penelitian adalah 30 anak binaan yang memenuhi criteria inklusi dan eksklusi di SOS Children’s Village Semarang. Pengumpulan data menggunakan kuisioner. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil : Dengan uji Wilcoxon didapatkan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05) maka secara statistic terdapat peningkatan kenaikan yang signifikan pada tingkat pengetahuan antara sebelum penyuluhan dengan setelah penyuluhan. Kesimpulan : Didapatkannya peningkatan tingkat pengetahuan yang signifikan setelah dilakukannya penyuluhan mengenai pencegahan skabies pada anak-anak binaan SOS Children’s Village Semarang.Kata kunci : skabies, penyuluhan, pengetahuan
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH MERAH (PIPER CROCATUM) TERHADAP GAMBARAN LIMFOSIT DARAH TEPI STUDI PADA MENCIT BALB/C YANG DIINFEKSI SALMONELLA TYPHIMURIUM Levina Ameline Moelyono; Akhmad Ismail; Neni Susilaningsih
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.548 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18592

Abstract

Latar Belakang: Flavonoid merupakan  senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun sirih merah, yang memiliki sifat antikanker, antiseptik, antiinflamasi, dan imunomodulator. Sebagai imunomodulator, flavonoid dapat meningkatkan respon TH1 yang merupakan komponen sistem imun adaptif yang dimediasi limfosit T CD4+, yang berperan pada imunitas terhadap bakteri intraseluler, seperti Salmonella Typhimurium.  Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sirih merah terhadap gambaran limfosit darah tepi mencit Balb/c yang diinfeksi Salmonella  Typhimurium.  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post test only control group design. Sampel sebanyak 25 ekor mencit Balb/c yang  memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dilakukan randomisasi menjadi 5 kelompok dan kemudian dilakukan adaptasi selama 7 hari. Kelompok K1 diberi ekstrak daun sirih merah dengan dosis 10 mg/hari/mencit selama 14 hari. Kelompok K2 diinfeksi dengan Salmonella Typhimurium sebanyak 105 CFU  intraperitoneal pada hari ke-10. Kelompok P1, P2, dan P3 diberi ekstrak daun sirih merah per oral dengan dosis masing-masing 10, 30, dan 100 mg/mencit/hari selama 14 hari dan diinfeksi dengan Salmonella Typhimurium sebanyak 105 CFU intraperitoneal pada hari ke-10. Pada hari ke-22 dilakukan pengambilan sampel.Hasil : Rerata presentase limfosit  tertinggi didapatkan pada kelompok P3 (mean=59.20±6.535). Pada  uji Post Hoc Tukey didapatkan adanya perbedaan signifikan gambaran limfosit darah tepi antar kelompok P1 dan P3 (p=0.048).  Simpulan: Terdapat peningkatan presentase limfosit darah tepi yang signifikan pada kelompok P3 dibanding kelompok P1. 
THE DIFFERENCE OF ATTENTION LEVEL BEFORE AND AFTER SKIPPING EXERCISE IN MEDICAL FACULY OF DIPONEGORO UNIVERSITY STUDENTS Azizah Indria Putri; Buwono Puruhito; Dodik Pramono; Endang Kumaidah
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.469 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i1.26567

Abstract

Background: Skipping exercise is a kind of physical exercise which is inexpensive and easy to do. Skipping is one of many kinds of aerobic physical exercise. Aerobic physical exercise have been known from its function in improving cognitive function including attention in human brain. However there haven’t been any research which discusses about the difference of attention level before and after skipping exercise in Medical Faculty of Diponegoro University. Aim: To find out a difference of attention level before and after skipping exercise. Methods: This study conducted in quasi experimental pre-test and post-test nonequivalent group method. This study was conducted in May until July 2019. The subjects were 46 male students of Medical Faculty of Diponegoro University, divided in 2 groups. Experimental group was instructed to do 6 weeks of skipping exercise (3 times in a week) and control group was instructed to not do any exercise. Attention level was measured with software Attention Network Test a day before skipping exercise started and a day after skipping exercise ended. Significance was analyzed by Paired T Test/Wilcoxon and Independent T Test/Mann-Whitney. Results: There were no significant difference of alerting and orienting score before and after skipping exercise in both experimental and control group. Meanwhile, there was significant difference of executive control score (p=0,001) that could be seen from its first mean score 94,296 and then the score declined to be 65,130 in the second test. It indicated an increasing executive control function. Conclusion: Six weeks of skipping exercise increases executive control function of attention.Key Words: Skipping exercise, attention level, alerting, orienting, executive control
UJI BEDA SENSITIVITAS SEFTRIAKSON DENGAN LEVOFLOKSASIN PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO Dewi Ulfa Mei Saroh; Muslimin Muslimin; Purnomo Hadi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.227 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14263

Abstract

Latar Belakang : Penyakit gonore merupakan penyakit menular seksual yang terus mengalami peningkatan di berbagai negara di dunia. Pengobatan lini pertama yang dianjurkan untuk mengobati penderita gonore adalah antibiotik seftriakson. Tingginya angka resistensi terhadap antibiotik seftriakson mengharuskan dokter mencari alternatif baru untuk pengobatan gonore. Levofloksasin merupakan salah satu obat alternatif untuk pengobatan gonore.Tujuan : Menilai perbedaan sensitivitas levofloksasin dengan setriakson pada kuman Neisseria gonorrhoeae.Metode : Penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional design. Sampel yang diambil sebanyak 60 pasien positif duh purulen. Setelah itu dilakukan pengecatan Gram dan didapatkan kuman diplococcus gram negatif. Sebanyak 29 sampel yang ditemukan kemudian dibiakkan pada Media Thayer Martin dan diinkubasi pada suhu 37° selama 48 jam. Setelah tumbuh koloni, dilakukan tes definitif yaitu tes oksidasi dan tes fermentasi glukosa. Setelah sebanyak 26 sampel dinyatakan positif Neisseria gonorrhoeae, koloni pada media Thayer Martin dibiakkan pada media Mueller Hinton untuk uji sensitivitas. Setelah inkubasi selama 24 jam, zona hambat telah terbentuk dan dapat diukur diameternya.Hasil : Jumlah sampel yang sensitif terhadap levofloksasin 19 (73%) dan resisten sebanyak 7 (27%) sampel. Pada seftriakson sebanyak 20 (77%) sampel mengalami resisten dan hanya 6 (23%) yang sensitif terhadap antibiotik seftriakson.Kesimpulan : Terdapat perbedan sensitivitas yang bermakna antara antibiotik seftriakson dan levofloksasin terhadap kuman Neisseria gonorrhoeae secara in vitro. Levofloksasin memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan seftriakson.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BUAH KURMA (PHOENIX DACTYLIFERA L.) VARIETAS AJWA TERHADAP KADAR NO PADA MENCIT BALB/C YANG DIINFEKSI SALMONELLA TYPHIMURIUM Baskoro Hariadi; Aryoko Widodo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.221 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20737

Abstract

Latar Belakang : Penyakit demam tifoid sering menjangkiti masyarakat Indonesia. Hal ini dapat berdampak berkurangnya produktifitas penderita. Buah kurma (Phoenix dactylifera L.) varietas Ajwa telah terbukti memiliki kandungan flavonoid yang cukup tinggi. Flavonoid berperan aktif dalam mengaktivasi makrofag dalam melawan bakteri patogen dan meningkatkan aktivitas makrofag dalam memfagosit bakteri patogen.Tujuan : Mengetahui perbandingan hasil pada hewan coba yang diberikan pemberian ekstrak buah kurma (Phoenix dactylifera L.) varietas Ajwa dengan yang tidak diberikan ekstrak.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian post-test only controlled group design dan memakai binatang percobaan (mencit Balb/C) sebagai objek penelitian. Sebanyak 35 ekor dalam 5 kelompok perlakuan. Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (Completely Randomized Design) dan metode randomisasi sederhana. Kadar NO diukur dengan ELISA setelah pemberian perlakuan pada hewan coba. Kelompok A (kelompok kontrol) tidak menerima perlakuan apa pun, Kelompok B diinfeksi bakteri Salmonella Typhimurium saja, Kelompok C, D, E diinfeksi bakteri Salmonella Typhimurium dan diberi ekstrak buah kurma (Phoenix dactylifera L.) varietas Ajwa dengan dosis 19,25; 38,5; 77 mg/mencit/hari secara berurutan.Hasil : Rerata produksi NO masing-masing kelompok; A = 14.96; B = 15.58; C 16.28= ; D = 12.92; E = 8.21. Produksi NO makrofag signifikan antara A-D, A-E, B-D, B-E, C-E, dan D-E.Kesimpulan : Pemberian ekstrak buah kurma (Phoenix dactylifera L.) varietas Ajwa dengan dosis sebesar 19,25 mg/mencit/hari (kelompok C) meningkatkan produksi NO makrofag dibanding kelompok kontrol meskipun tidak signifikan. Sedangkan dosis sebesar 38,5 mg/mencit/hari (kelompok D) dan 77 mg/mencit/hari (kelompok E) menurunkan produksi NO makrofag dibanding kelompok kontrol.

Page 26 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue