cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PERBEDAAN JENIS TOTAL KNEE ARTHROPLASTY TERHADAP DERAJAT FUNGSIONAL LUTUT DAN KUALITAS HIDUP PASIEN OSTEOARTHRITIS LUTUT Ade Pratama Agung; Agus Priambodo; Hari Peni Julianti
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v6i1.16056

Abstract

Latar Belakang : Insidensi osteoartritis meningkat berdasarkan usia dan merupakan penyebab utama kecacatan di kalangan lansia. Prevalensi osteoartritis lutut yang cukup tinggi di Indonesia, terutama di kota Semarang dan pengaruh terhadap  derajat fungsional lutut dan kualitas hidup penderita osteoartritis lutut melatarbelakangi penelitian ini.Tujuan  :  Menganalisis hubungan jenis Total Knee Arthroplasty (TKA) terhadap derajat fungsional lutut dan kualitas hidup penderita osteoartritis lutut di Instalasi Bedah RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Maret – Juni 2016.Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Sampel yang digunakan adalah 20 pasien  yang diambil sesuai kriteria inklusi yang meliputi kriteria osteoartritis lutut menurut American College of Rheumatology (ACR), pasien telah dilakukan pemeriksaan radiologis sendi lutut dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Data yang dikumpulkan  adalah data primer berupa hasil kuesioner SF-36 untuk mengukur kualitas hidup dan WOMAC untuk mengukur derajat fungsional lutut di Instalasi Bedah RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Maret – Juni 2016. Data yang telah dikumpulkan dilakukan pengeditan, dilakukan pengkodean kemudian diolah secara statistik deskriptif menghitung sebaran tiap variabel dan dibuat pula grafik untuk setiap data yang diperoleh.Hasil : Distribusi jenis kelamin perempuan lebih banyak dari laki-laki sebanyak 20 (90%) pasien. Jenis TKA yang terbanyak di lakukan pada pasien osteoartritis lutut adalah Cruciate Retention (CR) 13 (65%) pasien. Kelompok usia tertinggi 60 – 69 tahun sebanyak 13 (65%) pasien. Lokasi osteoartritis terbanyak terjadi pada lutut kanan sebanyak 10 (50%). Hasil kuesioner SF-36 didapatkan rerata skor pasien 71,54 memiliki interpretasi kualitas hidup yang baik dan hasil kuesioner WOMAC memiliki rerata total skor 38,5 memiliki interpretasi pasien osteoartritis lutut tidak mengalami gangguan fungsional lutut.Simpulan : Responden yang telah melakukan operasi TKA di RSUP Dr. Kariadi Semarang memiliki derajat fungsional lutut dan kualitas hidup yang baik.
PERBANDINGAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI OTAK TIKUS WISTAR YANG DIGANTUNG DENGAN PEMBEDAAN PERIODE POSTMORTEM Rr Hillary Kusharsamita; Intarniati Nur Rohmah; Ika Pawitra Miranti
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.046 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23391

Abstract

Latar Belakang: Penggantungan adalah kematian akibat asfiksia yang paling sering ditemukan. Penggantungan dapat dilakukan antemortem (saat korban masih hidup) dan postmortem (saat korban sudah meninggal). Kematian dikaitkan dengan bunuh diri atau kecelakaan pada penggantungan antemortem. Sebaliknya, penggantungan pada postmortem digunakan sebagai metode untuk menutupi pembunuhan sebagai suatu tindakan bunuh diri setelah korban dibunuh dengan metode yang berbeda. Oleh karena itu, penentuan waktu kematian atau Postmortem Interval (PMI) merupakan hal terpenting dan tugas fundamental ahli patologi forensik ketika jenazah ditemukan. Gambaran histopatologi dapat dipilih sebagai metode tambahan untuk memberikan hasil PMI yang akurat. Salah satu parameter histopatologi otak yang dapat digunakan adalah astrogliosis yaitu perubahan morfologi dan fungsional astrosit sebagai mekanisme kompensasi kerusakan pada otak karena kematian akibat asfiksia Tujuan:. Mengetahui perbandingan gambaran astrogliosis berdasarkan histopatologi otak tikus Wistar dengan perbedaan periode pememulaian penggantungan pada fase postmortem Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Post Test-Only Control Group Design. Sampel teriri dari 28 tikus eistar jantan yang terbagi dalam 4 kelompok. Kelompok Kontrol (K) yaitu tikus yang digantung antemortem. Kelompok Perlakuan 1 (P1) yaitu tikus yang mulai digantung 1 jam postmortem. Kelompok Perlakuan 2 (P2) yaitu tikus yang mulai digantung 2 jam postmortem. Kelompok Perlakuan 3 (P3) yaitu tikus yang mulai digantung 3 jam postmortem. Uji analisis menggunakan uji Kruskal Wallis kemudian dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk parameter astrogliosis Hasil: uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan bermakna dengan nilai p = 0,018 pada seluruh kelompok. Kemudian dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok K dengan P1, dan P1 dengan P3. Sementara itu, pada kelompok K dengan P2, K dengan P3, dan P2 dengan P3 tidak didapatkan perbedaan bermakna. Kesimpulan: Terdapat perbedaan gambaran astrogliosis berdasarkan histopatologi otak tikus Wistar dengan pembedaan periode memulai penggantungan postmortemKata Kunci: Penggantungan, astrogliosis, PMI (Postmortem Interval)
UJI TOKSISITAS AKUT RAMUAN EKSTRAK PRODUK X TERHADAP PERUBAHAN MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS HEPAR TIKUS SPRAGUE DAWLEY Rifki Adhi Nofrian; Noor Wijayahadi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.381 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18626

Abstract

Latar Belakang: : Ramuan ekstrak produk X merupakan obat tradisional yang dipercaya memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan yang telah lama digunakan masyarakat untuk menanggulangi masalah nyeri rematik, menyegarkan tubuh dan sebagainya. Ramuan ekstrak produk X dimetabolisme oleh hepar.Tujuan: Untuk mengetahui ada atau tidaknya efek pemberian ramuan ekstrak produk X pada tikus Sprague Dawley yang diberikan secara akut terhadap makroskopis dan mikroskopis hepar.Metode: Penelitian true eksperimental dengan rancangan post-test only group design. Sampel berupa 30 tikus Sprague Dawley betina yang dibagi secara acak menjadi enam kelompok. K merupakan kelompok kontrol yang hanya diberi akuades. P1, P2, P3, P4, P5 adalah kelompok perlakuan yang diberi ekstrak produk X 5 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, 2000 mg/kgBB, 5000 mg/kgBB. Pemberian ekstrak dilakukan per oral melalui sonde pada hari ke 1. Pada hari ke-8 dilakukan terminasi, hepar diambil dan diamati gambaran morfologi dan mikroskopisnya. Data makroskopis dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis sedangkan data mikroskopis dianalisis dengan uji One Way Annova.Hasil:. Uji Kruskall Wallis terhadap gambaran morfologi markoskopis hepar dan berat hepar tidak didapatkan perbedaan yang bermakna dengan nilai p=1,00 dan  (p=0,051). Rerata skor perubahan histopatologi tertinggi pada kelompok P3. Skor yang dinilai meliputi perubahan berupa degenerasi albumin, degenerasi hidropik dan nekrosis. Dengan uji Anova tidak didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,122).Kesimpulan: Pemberian ramuan ekstrak produk X secara akut menunjukkan gambaran makroskopis hepar normal dari tikus Sprague Dawley. Pada pemberian dengan dosis 5 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, 2000 mg/kgBB, 5000 mg/kgBB tidak menunjukkan perubahan jumlah kerusakan sel hepar tikus Sprague Dawley.
PENGARUH EKSTRAK DAUN DEWA (GYNURA DIVARICATA) TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT (STUDI EKSPERIMENTAL PADA TIKUS SPRAGUE DAWLEY BETINA MODEL KANKER PAYUDARA) Imantika Christina; Amallia N. Setyawati; Kusmiyati Tjahjono
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.397 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14476

Abstract

Latar Belakang : Hepar memiliki peran penting dalam proses metabolisme dan detoksifikasi setiap obat dan bahan-bahan asing yang masuk ke dalam tubuh sehingga rawan untuk mengalami kerusakan. Kerusakan jaringan hepar dapat dideteksi dengan pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT. Salah satu penyebab kerusakan jaringan hepar adalah obat-obatan herbal, seperti daun dewa (Gynura divaricata), yang sering digunakan sebagai terapi kanker payudara, namun daun dewa mengandung senyawa hepatotoksik dan karsinogenik yaitu pyrrolizidne alkaloid.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh ekstrak daun dewa (Gynura divaricata) terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus Sprague Dawley betina model kanker payudara.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan desain post test only control group design pada tikus. Penelitian ini menggunakan tiga kelompok, yaitu satu kelompok kontrol negatif (K1) yang tidak diberikan induksi kanker payudara maupun ekstrak daun dewa, satu kelompok kontrol positif (K2) yang merupakan tikus model kanker payudara, dan satu kelompok perlakuan (KP) yang merupakan tikus model kanker payudara yang diberikan ekstrak daun dewa sebesar 750mg/kgBB/hari.Hasil : Terdapat pengaruh yang signifikan dari kanker payudara terhadap kadar SGOT dan pengaruh yang tidak signifikan terhadap kadar SGPT, dibuktikan dengan kelompok kontrol positif yang didapatkan peningkatan kadar SGOT sebesar 39,19% & kadar SGPT sebesar 11,80% apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Pada kelompok perlakuan, terjadi peningkatan kadar SGOT yang signifikan sebesar 25,35% dan peningkatan tidak signifikan terhadap kadar SGPT sebesar 8,13% dibandingkan dengan kelompok kontrol positif.Kesimpulan : Pemberian ekstrak daun dewa dengan dosis 750mg/kgBB/hari selama 14 hari meningkatkan kadar SGOT dan SGPT pada kelompok perlakuan.
PENGARUH PEMBERIAN BUTYLATED HYDROXYTOLUENE (2,6-DI-TERT-BUTYL-4-METHYLPHENOL) PER ORAL DOSIS BERTINGKAT TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS GINJAL Vivin Aprilia; Sigit Kirana Lintang Bhima; Akhmad Ismail
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.881 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21190

Abstract

Latar Belakang: Butylated Hydroxytoluene (BHT) merupakan zat kimia berupa molekul bio-aktif lipofilik dan turunan fenol digunakan sebagai antioksidan di dalam makanan kemasan, tetapi efeknya terhadap kesehatan masih belum jelas. Penelitian in-vitro sebelumnya menunjukkan bahwa BHT dapat menyebabkan toksisitas terutama terhadap hepar. Selain itu, diperkirakan efek toksisitas juga dapat terjadi pada berbagai organ lain, salah satunya terjadi pada ginjal.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian Butylated Hydroxytoluene per oral dosis bertingkat terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus Wistar.Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental dengan Post Test Only with Control Group Design. Sampel sebanyak 20 ekor tikus wistar jantan yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi,dibagi menjadi 4 kelompok  yang masing-masing terdiri dari 5 tikus. Kelompok kontrol hanya diberi pakan standar,  Kelompok P1 perlakuan 300mg/kgBB, P2 perlakuan 600 mg/kgBB dan P3 perlakuan 1.200 mg/kgBB. Setelah hari ketiga, tikus wistar pada kelompok P3 semuanya mati, sehingga sampel pada kelompok lain dilakukan terminasi. Kemudian ginjal diambil, difiksasi dengan buffer formalin, preparat diproses, kemudian setiap preparat diamati pada 5 lapang pandang yaitu keempat sudut dan bagian tengah preparat dengan perbesaran 100x dan 400x. Dinilai derajat kerusakan ginjal: normal, ringan (dilatasi tubulus), sedang (degenerasi albuminosa), dan berat (nekrosis sel tubulus).Hasil: Gambaran histopatologis kelompok kontrol menunjukkan gambaran normal, P1 menunjukkan gambaran ringan, P2 gambaran sedang, dan P3 gambaran berat. Rerata degenerasi sel ginjal semakin meningkat dari kontrol sampai P3, dengan rerata tertinggi terdapat pada kelompok P3. Analisis statistik dengan uji Kruskal-Wallis didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,002), dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney didapatkan perbedaan bermakna antara kontrol dengan P1 (p=0,005), kontrol dengan P2 (p=0,004), kontrol dengan P3 (p=0,004), dan P2 dengan P3 (0,015), dan perbedaan yang tidak bermakna pada P1 dengan P2 (p=0,905) dan P1 dengan P3 (p=0,054).Simpulan: Pemberian Butylated Hydroxytoluene (BHT) dosis bertingkat menyebabkan terjadinya perubahan gambaran mikroskopis ginjal tikus wistar dengan derajat yang berbeda.
PERBEDAAN KADAR SGOT DAN SGPT ANTARA SUBYEK DENGAN DAN TANPA DIABETES MELLITUS Ahmad Reza; Banundari Rachmawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.955 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18530

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) masih menjadi sebuah masalah yang serius di kesehatan global terbesar di abad ke-21 ini. Penyakit DM dapat menyebabkan banyak komplikasi salah satunya kelainan penyakit hati. Pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap komplikasi yang didapat dari pasien DM.Tujuan: Membuktikan perbedaan kadar SGOT dan SGPT antara subyek dengan dan tanpa DM.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan case control. Data dari semua subyekDM dan subyek tanpa DM di RSUP Dr. Kariadi Semarang yang berusia 20-79 tahun dari tahun 2013 sampai tahun  2016 yang didapatkan dari Instalasi Rekam Medis dan Instalasi Laboratorium  RSUP Dr. Kariadi Semarang. Data dianalisis menggunakan program SPSS.Hasil: Terdapat 25 subyek DM dan 25 subyek tanpa DM. Mayoritas pasien berumur 20-66 tahun. Hasil penelitian didapatkan,rata-rata kadar SGOT pada subyek DM didapatkan45,64 IU/L,kadar SGOT minimum didapatkan 11 IU/L dan maksimum didapatkan 190 IU/L. Rata-rata kadar SGPT pasien DM adalah 54,12 IU/L dengan kadar SGPT minimum 11 IU/L dan maksimum 309 IU/L.  Pada subyek tanpa DM didapatkan rata-rata kadar SGOT 24,32 IU/L, dengan kadar SGOT maksimum adalah 59 IU/L dan minimum 13 IU/L. Rata-rata kadar SGPT pada subyek tanpa DM adalah 42,32 IU/L dengan kadar minimum 23 IU/L dan maksimum 132 IU/L. Berdasarkan analisis bivariat penelitian kadar SGOT dan SGPT antara subyek DM dan subyek tanpa DM menunjukkan nilai p = 0,047 dan p = 0,573.Simpulan: Terdapat perbedaan kadar SGOT antara subyek DM dan subyek tanpa DM dan tidak terdapat perbedaan kadar SGPT antara subyek DM dan subyek tanpa DM.
PENGARUH PEMBERIAN JUS ALPUKAT (Persea americana Mill.) TERHADAP MOTILITAS SPERMATOZOA TIKUS WISTAR YANG DIPAPAR ASAP ROKOK Muhammad Fajar Ma'arif; Donna Hermawati; Mahayu Dewi Ariani
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.092 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23804

Abstract

Latar belakang: Asap rokok merupakan salah satu penyebab timbulnya radikal bebas yang dapat mengganggu motilitas spermatozoa. Flavonoid pada alpukat berperan sebagai antioksidan. Antioksidan yang terdapat dalam buah alpukat dapat melepaskan elektron untuk menetralkan radikal bebas dari asap rokok. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian jus buah alpukat (Persea americana Mill.) terhadap motilitas spermatozoa tikus wistar yang dipapar asap rokok. Metode: Penelitian ini menggunakan post test only control group design. Sampel terdiri dari 35 tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok secara random. Kelompok K(-) adalah kelompok tanpa perlakuan. Kelompok K(+) hanya diberi asap rokok. Kelompok P1 dipapar asap rokok dan diberi jus buah alpukat dosis 1 ml/hari. Kelompok P2 dipapar asap rokok dan diberi jus buah alpukat dosis 2 ml/hari. Kelompok P3 dipapar asap rokok dan diberi jus buah alpukat dosis 3 ml/hari. Perlakuan diberikan selama 28 hari dan pada hari ke-29 semua tikus diterminasi dan diperiksa motilitas spermatozoanya. Hasil: Rerata motilitas spermatozoa adalah kelompok K(-) = 34; kelompok K(+) = 8; kelompok P1 = 14; kelompok P2 = 28; kelompok P3 = 26. Uji Oneway ANOVA didapatkan perbedaan bermakna pada motilitas spermatozoa pada semua kelompok. Uji Post Hoc menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok K(-) dengan K(+) (p=0,007), kelompok K(-) dengan P1 (p=0,031), kelompok K(+) dengan P2 (p=0,031). Sedangkan pada kelompok yang lain terdapat perbedaan yang tidak bermakna. Simpulan: Pemberian jus alpukat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan motilitas spermatozoa tikus wistar jantan yang dipapar asap rokok.Kata kunci : Asap rokok, alpukat, motilitas spermatozoa, flavonoid
PENGARUH PEMBERIAN SUSU KAMBING TERHADAP GAMBARAN MIKROSKOPIS GINJAL TIKUS WISTAR YANG TERPAPAR ASAP KENDARAAN BERMOTOR Eko Djatmikanto Satrio N.; Fanti Saktini
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.49 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i2.11570

Abstract

Background: Kidney is an important organ which filtrates foreign substance in the body. Vehicle exhaust fumes contain lead metals that impair renal function by affecting the hemodynamic, immunology, and metabolic systems. Goat milk contains zinc and iron which acting as competitive inhibitors for lead in the digestive system. It also contains antioxidants to prevent tissue damage caused by Reactive Oxygen Species (ROS).  Aim: To prove the effect of goat milk to renal microscopic structure in rats contaminated with vehicle exhaust fumes.Methods: This research was true experimental with post-test only controlled group design. Samples were 15 Wistar rats age 2-3 months and randomly divided into 3 groups. Control group (K) was given standard feeding only; experiment group 1 (P1) was given standard feeding and exhaust fumes exposure; experiment group 2 (P2) was given standard feeding, exhaust fumes exposure and goat milk. The exposure was 8 hours/day for 30 days while goat milk’s dose was 473.2 mg per kilogram weight body. At 31th day, rats was terminated to examine their kidney microscopic appearance. Data was then analyzed using Kruskall-Wallis test followed by Mann-Whitney test.Result: This study showed that the kidney tubules damage percentage (albuminous degeneration) in experiment groups were significantly different compared with control group (p<0.05). In the other hand, the kidney tubules damage between two experiment groups (P1-P2) was insignificant (p=0,093), despite the damage was more severe in P1 compared to P2.Conclusion: Exhaust fumes exposure affected kidney microscopic structure. Goat milk has no effect on kidney microscopic structure that exposed with vehicle exhaust fumes.
EFEKTIFITAS PERMEN KARET PROBIOTIK DALAM MENURUNKAN INDEKS PLAK DAN JUMLAH KOLONI STREPTOCOCCUS SP. SALIVA Adidharma Himawan; Tyas Prihatiningsih; Nadia Hardini
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.025 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19336

Abstract

Latar Belakang: Karies gigi masih merupakan masalah utama dari sekian banyak masalah kesehatan gigi dan mulut di dunia. Karies gigi terutama terjadi pada anak usia Sekolah Dasar dimana angka kejadian karies sangatlah tinggi. Oleh karena itu diperlukan upaya pencegahan. Salah satu upaya pencegahan karies dapat dilakukan dengan konsumsi probiotik dalam bentuk permen karet. Lactobacillus reuteri dalam permen karet memproduksi zat reuterin yang dapat berfungsi sebagai antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan menghambat pembentukan plak gigi.Tujuan: Membuktikan efektifitas permen karet probiotik dalam menurunkan indeks plak dan jumlah koloni Streptococcus sp. saliva pada siswa kelas 5 Sekolah Dasar Ungaran 02.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Subjek penelitian adalah 10 siswa kelas 5 Sekolah Dasar yang tercatat sebagai siswa di SD Ungaran 02, Kelurahan Ungaran, Kecamatan Ungaran Barat, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah yang memenuhi kriteria penelitian. Data karakteristik yang diambil adalah indeks plak dan jumlah koloni Streptococcus sp. saliva yang diukur sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah pemberian permen karet yang mengandung probiotik satu kali sehari selama 2 minggu. Data kemudian diolah menggunakan uji paired t test dan uji pearson.Hasil: Permen karet probiotik mampu menurunkan Indeks plak dan Jumlah koloni Streptococcus sp. . Analisis uji t berpasangan menunjukan indeks plak sebelum diberi permen karet probiotik 2,30 ± 0,19 berbeda bermakna dengan indeks plak sesudah 1,92 ± 0,30(p < 0,05). Analisis uji t berpasangan menunjukan jumlah koloni Streptococcus sp.(106CFU/ml) saliva sebelum diberi permen karet probiotik 225,60 ± 53,66 berbeda bermakna dengan jumlah koloniStreptococcus sp. (106CFU/ml) saliva sesudah 113,90 ± 28,88 (p < 0,05) dengan korelasi sangat kuat antara indeks plak dengan jumlah koloni Streptococcus sp. Kesimpulan: permen karet probiotik efektif dalam menurunkan nilai indeks plak gigi dan jumlah koloni Streptococcus sp. saliva pada siswa kelas 5 Sekolah Dasar Ungaran 02.
GAMBARAN KLINIS PASIEN LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK DI RSUP DR. KARIADI SEMARANG PERIODE JANUARI 2016 – DESEMBER 2016 Putra, Renanda Muki; Pramudo, Setyo Gundi; Warlisti, Ika Vemilia
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.39 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21289

Abstract

Latar Belakang: Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit inflamasi autoimun multisistem kronik yang menimbulkan manifestasi klinik dan prognosis penyakit yang beragam. Kejadian penyakit LES di Indonesia terus meningkat. Manifestasi klinik yang beragam sering menyebabkan terjadinya keterlembatan diagnosis.Tujuan: Mengetahui gambaran klinis pasien LES di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian desktiptif dengan rancangan penelitian secara belah lintang. Sampel adalah catatan medik pasien LES rawat inap RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari 2016 – Desember 2016Hasil: Dari 103 pasien terdiagnosis LES periode Januari 2016 – Desember 2016 didapatkan 81 sampel yang terpilih sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Pasien dengan usia 21-30 tahun dan jenis kelamin perempuan paling banyak ditemukan dengan jumlah masing-masing 39 (48,75%) dan 78 (96%) pasien. Pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga pada 21 (25,92%) pasien. Lemas adalah keluhan utama dan gambaran klinis konstitusional yang sering muncul, dengan jumlah masing-masing 38 (46,91%) dan 75 (92,59%). Ruam malar ditemukan pada 32 (39,50%) pasien. Artritis/atralgia ditemukan pada 54 (66,66%) pasien. Proteinuria ditemukan pada 56 (69,13%) pasien. Pneumonia ditemukan pada 36 (44,44%) pasien. Efusi perikard ditemukan pada 8 (42,10%) pasien. Sakit kepala ditemukan pada 27 (33,75%) pasien. Ulkus mulut ditemukan pada 23 (28,39%) pasien. Anemia ditemukan pada 45 (55,55%) pasien. ANA positif ditemukan pada 55 (91,67%) pasien.Kesimpulan: Gambaran klinis yang sering muncul pada pasien LES RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari 2016 – Desember 2016 adalah lemas, ruam malar, artritis / artralgia, pneumonia, ANA positif, ulkus mulut, proteinuria, anemia, sakit kepala, dan efusi perikard.

Page 56 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue