cover
Contact Name
Sugeng Setia Nugroho
Contact Email
sugengsnugroho@uny.ac.id
Phone
+628562977629
Journal Mail Official
sugengsnugroho@uny.ac.id
Editorial Address
Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta Jl. Colombo No. 1 Karangmalang Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Medikora: Jurnal Ilmiah Kesehatan Olahraga
ISSN : 02169940     EISSN : 27212823     DOI : 10.21831
Core Subject : Health, Education,
MEDIKORA is a sports health scientific journal published by the Sports Science Study Program of the Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Yogyakarta which contains the results of critical analysis studies and research in the field of sports health. The Journal is published twice a year (April and October).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 322 Documents
Pengaruh recovery aktif dan pasif terhadap daya tahan otot Rizki Mulyawan
MEDIKORA Vol 19, No 1 (2020): April
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.724 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v19i1.30886

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi seberapa besar efek dari recovery aktif dan pasif terhadap kemampuan dalam melakukan angkatan dumbell sampai lelah (kemampuan daya tahan), agar dapat diketahui bagaimana efektivitas recovery terhadap kemampuan daya tahan otot lengan berikutnya. Menggunakan teknik purposive sampling diperoleh 23 subjek penelitian yang dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok recovery pasif ditambah penggunaan manset sphygmomanometer (RPMS), recovery aktif (RA), dan recovery pasif selama 3 menit (RP3) sebagai kontrol. Desain penelitian menggunakan One Pretest and Posttest Design, dengan single blind study. Subjek penelitian mengangkat dumbell sampai lelah (daya tahan), kemudian melakukan satu dari tiga bentuk recovery, dilanjutkan dengan pengangkatan dumbell kembali sampai lelah. Hasil dari penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan pengaruh antara recovery aktif (RA) dan pasif (RPMS dan (RP3). Namun jika ditelaah lebih mendalam pada setiap kelompoknya, hanya RP3 yang tidak mengalami penurunan daya tahan secara signifikan (0,186 0,05) jika dibandingkan dengan RPMS (0,000 0,01) dan RA (0,007 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan RP3 memiliki kemampuan tahan terhadap kelelahan lebih lama dibandingkan dengan RA dan RPMS. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh antara recovery aktif dan pasif. Namun recovery pasif terbukti mampu membuktikan bahwa tahan terhadap kelelahan lebih lama dibandingkan dengan recovery aktif. Effects of active versus passive recovery on muscle endurance Abstract The study investigated effects of active and passive toward ability to lift dumbbell to exhausted (endurance ability), so that it can prove effectiveness of recovery for lifting further. Through purposive sampling techniques acquired 23 research subject divided into three groups, passive recovery group accompanied by sphygmomanometer utilization (RPMS), active recovery group (RA), and passive recovery during 3 minutes (RP3) as control group. Research design was use One Pretest and Posttest Design, with single blind study. Research subject lifted dumbbell to exhaustion (endurance), after that, subjects did one of three form of recovery similar with their group, then lifting dumbbell for the second time after recovery until exhausted. This study showed that there is no difference between RA, RPMS and RP3. Specifically, if we looked at comparison between pre- and post- recovery, only RP3 had no experience significance reduction for endurance ability (0,186 0,05) compared with RPMS (0,000 0,01) dan RA (0,007 0,05). This result indicated application of RP3 resistant to fatigue if compared with RA and RPMS. It can conclude that there was no significance effect between active and passive recovery. Whilst, passive recovery has time to exhaustion benefits longer than active recovery.
PENGEMBANGAN MODEL BODY WEIGHT TRAINING UNTUK LATIHAN OTOT PERUT Bayu Aji Laksono; Widiyanto Widiyanto
MEDIKORA Vol 15, No 2 (2016): Oktober
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1816.693 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v15i2.23144

Abstract

Kurangnya pengetahuan tentang model/variasi latihan body weight menyebabkan members fitness/pelaku olahraga pada saat melakukan latihan beban terkesan monoton, kurang bervariasi dan membosankan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan model body weight training untuk latihan otot perut, yang nantinya dapat menjadi panduan untuk latihan otot perut dan diharapkan dapat mempercepat pembentukan otot perut menjadi sixspack. Model-model body weight training lebih menekankan pada spesifikasi bagian otot perut. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan model dengan langkah-langkah penelitiannya sebagai berikut: (1) mengenali potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, dan (10) produk masal. Validasi draf model latihan dilakukan oleh tiga ahli/pakar materi tentang kebugaran fisik. Sampel penelitian dalam uji coba skala kecil berjumlah 5 responden dan uji coba skala besar berjumlah 20 responden. Penelitian dilakukan di Club Arena International Hotel Pandanaran, Hotel Jambuluwuk, dan Hotel Ros In. Teknik analisis data menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari: (1) hasil wawancara dengan members fitness center, (2) catatan lapangan, dan (3) data saran perbaikan draf model awal dan hasil observasi pada pelaksanaan uji coba dengan skala kecil dan besar. Data kuantitatif diperoleh dari: (1) penilaian skala nilai validasi draf model, (2) penilaian skala nilai observasi pelaksanaan model, dan (3) hasil penilaian kuesioner uji coba skala kecil dan besar dari responden. Hasil yang diperoleh dari data validasi draf model dan observasi pelaksanaan model latihan oleh ahli/pakar 100 % baik sekali. Hasil penilaian kuesioner uji coba skala kecil 80 % baik sekali dan 20 % baik, sedangkan untuk hasil kuesioner uji coba skala besar 60 % baik sekali dan 40 % baik. Berdasarkan hasil tersebut dapat diartikan bahwa model body weight training untuk latihan otot perut layak untuk digunakan.
EFEKTIVITAS KOMBINASI PROPRIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR FACILITATION DAN ICE MASSAGE UNTUK MENCEGAH DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS Wazim Bachtiar Wanodyana; Rachmah Laksmi Ambardini
MEDIKORA Vol 17, No 1 (2018): April
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1064.422 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v17i1.23491

Abstract

Banyak kasus Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) yang dialami atlet pada fase latihan maupun pertandingan yang menyebabkan penurunan prestasi olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi dari stretching proprioceptive neuromuscular facilitation dan ice massage untuk Mencegah DOMSPenelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Metode yang digunakan adalah controle group pretest-posttest design. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa FIK UNY peserta UKM Olahraga. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa FIK UNY peserta UKM Olahraga berjenis kelamin laki-laki yang berjumlah 20 orang. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket tingkat nyeri dan goniometer untuk mengukur ROM. Teknik analisis yang dilakukan adalah analisis uji Wilcoxon.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum kombinasi stretching proprioceptive neuromuscular facilitation dan ice massage efektif untuk mencegah terjadinya delayed onset muscle soreness dengan indikator rasa nyeri, ROM, dan skala fungsi. Terutama untuk penurunan nyeri tekan, peningkatan ROM lutut, skala fungsi duduk dan berdiri, naik tangga, dan jongkok.
EFEKTIVITAS COLD WATER IMMERSION SUHU 15° C DAN 25° C TERHADAP PERBAIKAN DAYA TAHAN DAN PERSEPSI NYERI OTOT TUNGKAI PADA PEMAIN SEPAK BOLA USIA DINI Muhammad Rifqi Fatoni; Sigit Nugroho
MEDIKORA Vol 18, No 1 (2019): April
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.617 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v18i1.29191

Abstract

Akumulasi pertandingan dengan masa pemulihan yang singkat menyebabkan kelelahan, kerusakan dan inflamasi otot yang dapat menurunkan daya tahan otot dan meningkatkan resiko cedera. Pada keadaan cedera akut, penggunaan terapi dingin dapat mencegah kerusakan jaringan yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Cold Water Immersion (CWI) suhu 15°C dan 25°C terhadap daya tahan dan persepsi nyeri otot tungkai pada pemain sepak bola usia dini. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu dengan pola Two Group Pretest-Posttest. Instrumen yang digunakan adalah tes dan pengukuran nyeri dan daya tahan otot tungkai. Subjek penelitian ini adalah atlet sepak bola Sekolah Sepak Bola (SSB) KKK Klajuaran usia 9-11 tahun. Teknik sampel menggunakan quota sampling dengan subyek sebanyak 14 orang. Subyek dibagi menjadi dua kelompok yaitu, perlakuan CWI 15°C (G15) dan CWI suhu 25°C (G25). Data pretest pada kedua perlakuan dan data post test kedua perlakuan diuji dengan uji Mann Whitney. Daya tahan otot dan persepsi nyeri sebelum dan sesudah perlakuan pada masing masing kelompok terkumpul dianalisis secara deskriptif dan diuji dengan analisis Wilcoxon Signed Rank Test. Uji efektivitas dihitung dengan membandingkan selisih data post test dan pretest terhadap data pretest. Tidak ditemukan perbedaan daya tahan otot dan persepsi nyeri sebelum dan sesudah perlakuan antara kedua kelompok perlakuan. Pada kelompok G15 terjadi penurunan persepsi nyeri sebesar 55% dengan uji wilcoxon dengan nilai p = 0,018, akan tetapi tidak ditemukan perubahan daya tahan otot setelah perlakuan. Hasil yang sama ditemukan pada kelompok G25 dimana terdapat penurunan persepsi nyeri sebesar 58% dengan uji wilcoxon dengan p = 0,018 serta tidak ditemukan perubahan daya tahan otot tungkai. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan CWI 15°C dan 25°C dapat menurunkan nyeri tapi tidak mempengaruhi daya tahan otot. Tidak terdapat perbedaan efektivitas kedua jenis perlakuan tersebut dalam menurunkan persepsi nyeri dan meningkatkan daya tahan otot. EFFECTIVENESS OF COLD WATER IMMERSION TEMPERATURE OF 15 ° C AND 25° C AGAINST IMPROVEMENT IN ENDURANCE AND PERCEPTION OF LEG MUSCLE PAIN IN EARLY AGE FOOTBALL PLAYERSAbstractAccumulation of matches with a short recovery period causes fatigue, damage and inflammation of the muscles which can reduce muscle endurance and increase the risk of injury. In the case of acute injury, the use of cold therapy can prevent damage to broader tissue. This study aims to determine the effectiveness of Cold Water Immersion (CWI) temperatures of 15 ° C and 25 ° C on the endurance and perception of leg muscle pain in early age soccer players.The design used in this study was quasi-experimental with Two Group Pretest-Posttest patterns. The instrument used was a test and measurement of pain and endurance of leg muscles. The subjects of this study were the soccer athletes of Klajuaran KKK Soccer School (SSB) aged 9-11 years. The sampling technique uses quota sampling with subjects as many as 14 people. The subjects were divided into two groups namely, 15 ° C (G15) CWI treatment and 25 ° C (G25) CWI treatment. Pretest data on both treatments and post-test data on both treatments were tested with the Mann Whitney test. Muscle endurance and pain perception before and after treatment in each group collected were analyzed descriptively and tested with the Wilcoxon Signed Rank Test analysis. The effectiveness test is calculated by comparing the difference between the post test and pretest data against the pretest data. There were no differences in muscle endurance and pain perception before and after treatment between the two treatment groups. In the G15 group there was a decrease in pain perception by 55% with the Wilcoxon test with a value of p = 0.018, but there was no change in muscle endurance after treatment. Similar results were found in the G25 group where there was a decrease in pain perception by 58% with the Wilcoxon test with p = 0.018 and no changes in endurance of leg muscles were found. It can be concluded that the CWI treatment of 15 ° C and 25 ° C can reduce pain but does not affect muscular endurance. There is no difference in the effectiveness of the two types of treatment in reducing pain perception and increasing muscle endurance.
Profil daya tahan jantung paru, fleksibiltas, kelincahan dan keseimbangan mahasiswa Ilmu Keolahragaan FIK UNY Krisnanda Dwi Apriyanto
MEDIKORA Vol 19, No 1 (2020): April
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.972 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v19i1.30884

Abstract

Setiap orang menginginkan status kebugaran jasmani yang baik. Untuk mendapatkan kebugaran jasmani yang baik, salah satu alternatif cara yang paling efektif dan aman adalah dengan olahraga atau latihan. Status kebugaran jasmani seseorang dapat dikategorikan baik atau tidak, maka perlu dilakukan suatu pengukuran. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan profil kebugaran jasmani mahasiswa IKOR A 2017 yang meliputi: daya tahan jantung paru, fleksibilitas, kelincahan dan keseimbangan. Subjek dalam studi ini adalah mahasiswa IKOR A angkatan tahun 2017 sejumlah 23 mahasiswa. Instrument yang digunakan dalam studi ini adalah multistage fitness test (MFT) untuk mengukur daya tahan jantung paru, sit and reach untuk mengukur fleksibilitas, Illinois agility run test untuk mengetahui kelincahan, dan standing stork untuk mengetahui keseimbangan. Hasil studi pada multistage fitness test menunjukkan 43,6% memiliki kategori kebugaran jantung paru yang kurang. Hanya satu mahasiswa (4,3%) yang indeks kebugaran jantung parunya dalam kategori sangat baik, Pada komponen fleksibilitas hasil menunjukkan bahwa 52,2% memiliki tingkat fleksibilitas yang sangat baik. Hasil pengukuran komponen kelincahan menunjukkan bahwa tidak ada mahasiswa yang meliliki tingkat kelincahan yang baik dan sangat baik. Sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat kelincahan yang sedang yaitu sebesar 87%, dan pada kategori keseimbangan didapatkan hasil 43,6% mahasiswa memiliki tingkat keseimbangan yang sangat baik. Hasil studi menunjukkan bahwa komponen kebugaran jasmani daya tahan jantung paru dan kelincahan pada mahasiswa IKOR 2017 masih perlu ditingkatkan. Cardiorespiratory endurance, flexibility, agility and balance profile of sport science student in Sport Science Faculty Universitas Negeri YogyakartaAbstractEvery person wants a good physical fitness status. To get good physical fitness, one of the most effective and safe alternatives is exercise. Physical fitness status can be categorized as good or poor if measurement is needed. This study aims to describe the physical fitness profile of sport science student class A 2017, which include: cardiorespiratory endurance, flexibility, agility and balance. The subjects in this study were sport science student class A 2017, who were 23 students. The instrument used in this study is a multistage fitness test (MFT) to measure cardiorespiratory endurance, sit and reach to measure flexibility, Illinois agility run test to determine agility, and standing stork to determine balance. The results of studies on the multistage fitness test showed 43.6% had a category of poor cardiorespiratory endurance fitness. Only one student (4.3%) had an excellent cardiorespiratory endurance fitness index. The flexibility component showed that 52.2% had a excellent level of flexibility. The results of the agility showed that there were no students who have good and excellent agility levels. Most students have a moderate level of agility that is equal to 87%, and in the balance category the results obtained are 43.6% students have a excellent level of balance. The study results showed that the physical fitness component of cardiorespiratory endurance and agility in sport science student class A 2017 needs to be improved.
EFEKTIVITAS KOMBINASI TERAPI DINGIN DAN MASASE DALAM PENANGANAN CEDERA ANKLE SPRAIN AKUT Wahyu Tri Atmojo; Rachmah Laksmi Ambardini
MEDIKORA Vol 16, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.109 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v16i1.23485

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan kombinasi terapi dingin dan masase dalam menangani cedera ankle sprain akut pada atlet pencak silat Daerah Istimewa Yogyakarta.Penelitian ini merupakan penelitian Pre-Experimental Design dengan rancangan One Group Pretest-Posttest Design. Teknik pengambilan data menggunakan tes dan pengukuran berupa tes awal dan tes akhir dengan penentuan diagnosis cedera ankle sprain akut tersebut menggunakan angket catatan medis. Populasi dalam penelitian ini adalah atlet pemusatan latihan Daerah Istimewa Yogyakarta cabang olahraga pencak silat yang mengalami cedera ankle sprain akut. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan teknik incidental sampling. Perhitungan jumlah sampel dihitung dengan rumus Slovin dan didapat sampel sebanyak 20 atlet. Teknik analisis data menggunakan uji-t berpasangan setelah sebelumnya melalui uji prasyarat, uji normalitas, dan uji homogenitas.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada perlakuan kombinasi terapi dingin dan masase dalam menangani cedera ankle sprain akut, dengan indikasi berkurangnya tanda radang cedera meliputi kemerahan, suhu panas, lingkar ankle, nyeri, serta meningkatnya ROM sendi ankle dengan nilai p = 0.000 (p0.05). Secara praktis, berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa kombinasi terapi dingin dan masase efektif dalam menangani cedera ankle sprain akut pada atlet Pencak Silat Daerah Istimewa Yogyakarta.
PREVALENSI, KARAKTERISTIK, DAN PENANGANAN DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS (DOMS) Prihantoro, Yanuar; Ambardini, Rachmah Laksmi
MEDIKORA Vol 17, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.667 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v17i2.29184

Abstract

Latihan yang melibatkan kontraksi eccentric seringkali menimbulkan nyeri 1 hari setelah latihan (DOMS). Sampai saat ini prevalensi, karakteristik dan penanganan DOMS belum diketahui. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi, karakteristik, dan penanganan Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) anggota UKM olahraga di UNY. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei. Populasi penelitian ini adalah 150 orang dari 5 UKM olahraga UNY. Teknik sampling yang digunakan adalah aksidental sampling. Jumlah sampel adalah 60 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah menggunakan angket. Analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh anggota UKM bidang olahraga UNY pernah mengalami DOMS. Penanganan yang dilakukan adalah stretching sebanyak 45% dan istirahat sebanyak 42%. Penanganan yang dilakukan dirasa sudah efektif dalam mengurangi rasa nyeri akibat DOMS. Bagian yang sering mengalami DOMS adalah bagian betis (gastrocnemius) sebanyak 36% dan otot hamstring sebanyak 28%.  PREVALENCE, CHARACTERISTICS, AND HANDLING DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS (DOMS) AbstractExercises that involve eccentric contractions often cause pain 1 day after exercise (DOMS). Until now, the prevalence, characteristics and handling of DOMS is unknown. The purpose of this study was to determine the prevalence, characteristics, and handling of Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) of UKM sports members at UNY. This research is a descriptive study using a survey method. The population of this study was 150 people from 5 UNY sports UKM. The sampling technique used was accidental sampling. The number of samples is 60 people. The research instrument used was using a questionnaire. Analysis of the data used is descriptive statistics. The results showed that all members of UKM in the UNY sports field had experienced DOMS. Handling is done by stretching as much as 45% and as much as 42% rest. Handling is considered effective in reducing pain due to DOMS. The part that often experiences DOMS is the calf (gastrocnemius) as much as 36% and hamstring muscles as much as 28%.
EFEKTIVITAS TERAPI MASASE TERHADAP NYERI GERAK DAN FUNGSI GERAK SENDI ANKLE PASCA CEDERA ANKLE Setiawan Jodi; B.M. Wara Kushartanti
MEDIKORA Vol 18, No 2 (2019): Oktober
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.022 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v18i2.29202

Abstract

Salah satu ancaman cedera yang kerap kali membayangi seseorang dengan aktivitas fisik yang tinggi adalah cedera sendi ankle, cedera  sendi ankle umumya merupakan gangguan pada bagian ligamen sendi yang diakibatkan oleh tarikan berlebih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi masase terhadap nyeri gerak dan fungsi gerak sendi ankle pasca cedera ankle. Terapi masase yang digunakan dalam penelitian adalah soft tissue release dan deep tissue massage yang dilengkapi dengan reposisi gerak. Penelitian ini merupakan penelitian pre-experimental design dengan metode one-group pre-test – post-test design. Populasi sample penelitian ini adalah pasien Lab/Klinik Terapi Latihan FIK UNY yang selama tiga bulan (Februari – April 2019) diperkirakan sejumlah 100 orang. Teknik sampling data menggunakan insidental sampling dengan rumus Slovin (nilai kritis 20%) sehingga diperoleh subjek sebanyak 20 orang. Instrumen yang digunakan berupa catatan medis hasil dari anamnesa dan pemeriksaan yang dibuat dengan memodifikasi Lower Extremity Functional Scale (Binkley et al, 1999) yang telah di uji validitas menggunakan Pearson correlation dan reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha. Nyeri gerak dan fungsi gerak sebelum dan sesudah perlakukan dianalisis dengan menggunakan uji beda dua kelompok berpasangan non- parametrik Wilcoxon Signed Ranks Test. Data pre dan post ini digunakan dalam uji efektivitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa terapi masase yang meliputi pelemasan otot dengan soft tissue release dan deep tissue massage dan ditambah dengan reposisi gerak dapat mengurangi nyeri gerak dan meningkatkan fungsi gerak dari sendi ankle pasca cedera ankle (p 0,05), dengan efektivitas penurunan nyeri gerak sebesar 70,31% dan peningkatan fungsi gerak sebesar 20,62%. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan massage tersebut efektif dalam memperbaiki nyeri gerak dan fungsi ankle paska cedera. EFFECTIVENESS OF MASSAGE THERAPY ON MOTION PAIN AND FUNCTION OF ANKLE JOINTS AFTER ANKLE INJURYAbstractOne of the threat of injury that often overshadows someone with high physical activity is ankle joint injury, ankle joint injury is generally a disruption in the ligament of the joint caused by excessive traction. This study aims to determine the effectiveness of massage therapy for motion pain and ankle joint function after ankle injury. Massage therapy used in this research is soft tissue release and deep tissue massage which is equipped with motion repositioning. This research is a pre-experimental design research with one-group pre-test - post-test design method. The population of this study sample is the patients of the Lab / Clinical Training Clinic of FIK UNY which for an estimated three months (February - April 2019) amounted to 100 people. Data sampling technique used incidental sampling with the Slovin formula (critical value of 20%) to obtain as many as 20 subjects. The instrument used in the form of medical records from the history and examination made by modifying the Lower Extremity Functional Scale (Binkley et al, 1999) that has been tested for validity using Pearson correlation and reliability with Cronbach's Alpha. Motion pain and motion function before and after treatment were analyzed using a two-group non-parametric paired Wilcoxon Signed Ranks Test. This pre and post data is used in the effectiveness test. The results showed that massage therapy which includes muscle relaxation with soft tissue release and deep tissue massage and coupled with motion repositioning can reduce motion pain and improve motion function of the ankle joint after ankle injury (p 0.05), with the effectiveness of decreasing motion pain by 70.31% and an increase in motion function by 20.62%. It can be concluded that the massage treatment is effective in improving postoperative pain and ankle function.
PENGARUH TERAPI MUSIK TERHADAP TINGKAT KECEMASAN SEBELUM BERTANDING PADA ATLET FUTSAL PUTRI Dina Mutiah Larasati; Hadwi Prihatanta
MEDIKORA Vol 16, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1125.891 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v16i1.23476

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik terhadap tingkat kecemasan sebelum bertanding pada atlet futsal putri tim Muara Enim Unyted.Desain penelitian menggunakan nonequivalent control group design. Baik kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal, kemudian kelompok perlakuan diberikan perlakuan (treatment), sedangkan kelompok kontrol tidak. Setelah itu diberikan posttest untuk mengetahui adakah perbedaan pengaruh antara kelompok expertimen dan kelompok kontrol.Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dengan diberikannya terapi musik dalam menurunkan tingkat kecemasan sebelum bertanding pada atlet futsal putri tim Muara Enim Unyted. Rerata kelompok perlakuan dengan kategori kecemasan ringan, sedangkan pada kelompok kontrol dengan kategori kecemasan sedang.
HUBUNGAN MOTIVASI, ATTITUDE, ANXIETY DAN SELF EFFICACY TERHADAP PRESTASI ATLET TENIS LAPANGAN LEVEL JUNIOR DAN SENIOR Abdul Alim
MEDIKORA Vol 17, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Faculty of Sports Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.505 KB) | DOI: 10.21831/medikora.v17i2.29179

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi, attitude, anxiety, dan self efficacy terhadap prestasi atlet tenis lapangan dan menganalisis perbedaan hubungan antara atlet tenis lapangan pada level junior dan senior. Metode penelitian untuk mengungkapkan masalah tersebuat yaitu melalui metode penelitian deskriptif dengan desain penelitian deskriptif komparatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah atlet tenis lapangan tingkat Daerah maupun Nasional di Indonesia. Sampel penelitian ini berjumlah 133 terdiri dari 42 petenis laki-laki junior dan 21 petenis perempuan junior, 44 petenis laki-laki senior, dan 26 petenis perempuan senior. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik insidental sampling yang dilakukan dengan cara insidental atau kebetulan saja tidak menggunakan perencanaan tertentu. Penelitian dilakukan pada minggu kedua bulan Februari sampai minggu keempat bulan Juni. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Hasil analisis data dari 133 orang petenis baik junior maupun senior menunjukkan bahwa baik motivasi, self efficacy, attitude, maupun kecemasan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi. RELATIONSHIP MOTIVATION, ATTITUDE, ANXIETY AND EFFICIENCY OF SELF TO THE ACHIEVEMENT OF TENNIS FIELD JUNIOR AND SENIOR LEVELS AbstractThe purpose of this study was to determine the relationship of motivation, attitude, anxiety, and self-efficacy on the achievements of field tennis athletes and analyze the differences in the relationship between field tennis athletes at the junior and senior levels. The research method to express the problem is through descriptive research method with a comparative descriptive research design. The population in this study are regional and national level tennis athletes in Indonesia. The research sample consisted of 133 consisting of 42 junior male tennis players and 21 junior female tennis players, 44 senior male tennis players, and 26 senior female tennis players. The sampling technique used in this study is incidental sampling technique which is done by incidental or coincidental by not using a particular plan. The study was conducted in the second week of February through the fourth week of June. The instrument used in this study was a questionnaire. The results of data analysis of 133 tennis players, both junior and senior, indicate that neither motivation, self efficacy, attitude, or anxiety do not have a significant relationship with achievement.