cover
Contact Name
Fathul Lubabin Nuqul
Contact Email
lubabin_nuqul@uin-malang.ac.id
Phone
+62852334058180
Journal Mail Official
jpfi@apsifor.or.id
Editorial Address
Yogyakarta
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Forensik Indonesia
ISSN : -     EISSN : 28100336     DOI : https://doi.org/10.71088/jpfi.v5i2
Core Subject :
Jurnal Psikologi Forensik Indonesia (JPFI) is a scientific journal that publishes articles of results and theoretical studies relevant to the study of Psychology in law (Forensic Psychology), Psychology of Law and Psychology and Law.
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
Pendampingan Perempuan Penyintas Kekerasan Seksual dengan Disabilitas Psikososial Theresia Indira Shanti; Chika Aslia Yorza
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 1 (2024): Volume 4 No 1, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i1.56

Abstract

ABSTRAK Lebih dari 70% kekerasan seksual terjadi dalam relasi dekat antara korban dan pelaku. Ketidaktahuan mengenai bentuk kekerasan seksual dan kesulitan pengelolaan kebutuhan psikologis seringkali membuat individu rentan dimanipulasi diantaranya oleh relasi kuasa dan sexual grooming sehingga menjadi korban kekerasan seksual, apalagi bila relasi ini melibatkan hubungan romantis. Studi ini merupakan studi kasus, bertujuan menggambarkan isu-isu dalam pendampingan perempuan penyintas kekerasan seksual dengan disabilitas psikososial. Responden terdiri dari dua orang, pernah alami kekerasan seksual dalam hubungan romantis. Kekerasan seksual yang dialami berkontribusi terhadap berkembangnya disabilitas psikososial pada dirinya, dan kemudian disabilitas psikososial ini menyumbang pada kerentanannya untuk kembali alami kekerasan seksual pada dirinya. Tema yang muncul dalam pendampingan adalah 1) Kerentanan korban yang membuat mereka terjebak dalam manipulasi; 2) Stigmatisasi masyarakat; 3) Ketidakpercayaan pada sistem terkait institutional betrayal; 4) Pemberdayaan. Rekomendasi dikategorikan pada pencegahan dan penanganan, baik untuk penyintas, keluarga, pendamping, dan masyarakat, dengan fokus untuk pemberdayaan penyintas, dan penelitian berikutnya.
Dinamika Psikologis Korban Sektorsi: Sebuah Kajian Literatur Istiqomah Yungsiana; Yayi Suryo Prabandari
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 1 (2024): Volume 4 No 1, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i1.57

Abstract

Sexual extortion or sextortion is a form of sexual violence that occurs in the digital technology realm and is categorised as a type of Online Gender-Based Violence (OGBV). Sextortion refers to exploitative behaviour involving the distribution of sexual images, videos, and other intimate content through deception, coercion, threats, and extortion, compelling victims to provide money or other valuables. This situation places victims under severe psychological pressure, causing significant distress and discomfort. This research aims to examine the psychological impact on sextortion victims. The methodology employs a literature review of various studies, both from Indonesia and internationally, revealing the psychological dynamics of sextortion victims. The literature review findings indicate distinct characteristics between male and female sextortion victims. Male victims are often emotionally manipulated into sending images and subsequently extorted for money, while female victims are more frequently coerced or intimidated into providing sexual content. Victim responses to sextortion comprise five stages: interaction between individual and environment, extortion, assessment and handling, review, and reassessment. Denial, self-awareness, and self-acceptance are crucial processes that sextortion victims must navigate for recovery. Victims suffer significant psychological harm, commonly experiencing panic, shame, fear, worry, sadness, anxiety, humiliation, self-blame, hopelessness, depression, suicidal thoughts, and in extreme cases, suicide attempts.
Pengaruh Strategi Koping terhadap Intensi Kambuh pada Penyalahguna Narkoba: Peran Moderasi Sikap, Norma dan Kontrol Perilaku Rahmi Lubis; Vitari Fahlika
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 1 (2024): Volume 4 No 1, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i1.58

Abstract

Drug abuse is an unlawful act that causes detrimental effects. Abusers need rehabilitation to overcome these effects and prevent relapse. However, rehabilitation programs do not guarantee that individuals will completely stop abusing drugs. One of the factors that influences the intention to relapse is coping strategies. On the other hand, attitudes, norms, and behavioral control regarding drug abuse determine the relapse intention. This research examines the role of attitudes, norms, and behavioral control in assessing the influence of coping strategies on relapse intentions. A total of 60 residents who had relapsed at least once and were undergoing rehabilitation for at least 2 months at the North Sumatra BNN were involved in this research. The research tools are coping strategies and relapse intention scales, tested for validity and reliability. Research data was analyzed using a moderation test with Jamovi software version 2.0. The results show that coping strategies does not influence relapse intentions directly. Attitudes towards drug abuse, subjective norms, and behavioral control significantly increase the negative influence of coping strategies on relapse intentions. Residents who believe drugs are detrimental, feel the environment prohibits abusing them, believe there is little chance of abusing them, and have adaptive coping skills will have a low intention to relapse. The results are advantageous in relapse prevention programs for abusers so that they focus more on cultivating attitudes, norms, and self-efficacy that support abstinence decisions
Well-being Pada Narapidana : Sebuah Analisis Bibliometrik Panggih Priyo Subagyo
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 1 (2024): Volume 4 No 1, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i1.59

Abstract

Artikel ini menggunakan analisis bibliometrik yang bertujuan untuk merangkum beberapa penelitian dengan tema well-being pada penderita Narapidana. Sumber data penelitian ini diperoleh dari Scopus periode tahun 2014—2024, diperoleh 1.279 dokumen kemudian dilakukan reduksi data sesuai dengan kategori yang telah ditetapkan, sehingga diperoleh 454 dokumen. Hasil penelitian menunjukan bahwa penelitian terkait well-being pada penderita Narapidana mengalami tren peningkatan tiap tahunnya, di mana tahun 2024 menjadi tahun dengan publikasi terbanyak. Fokus tren penelitian yang berhubungan dengan well-being pada Narapidana meliputi mental health, corecctional facility, social support, dan rehabilitation.
Analisis Criminal Profiling Kasus Ryan “Jagal Jombang” Ade Septian; Yusti Probowati; Ayuni
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 No 2, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i2.62

Abstract

ABSTRAK Pembunuhan berantai merupakan pembunuhan terhadap tiga orang atau lebih dalam satu periode waktu lebih dari 30 hari, disertai cooling off period yang signifikan antar satu peristiwa pembunuhan dengan pembunuhan lainnya. Salah satu pembunuhan berantai di Indonesia yang menyita perhatian masyarakat adalah kasus Very Idham Henyansyah alias Ryan. Penelitian ini berusaha mengkaji kasus tersebut menggunakan metode studi kasus tunggal dengan pendekatan analisis criminal profiling. Analisis data menunjukkan beberapa kesamaan profil dengan pelaku pembunuhan berantai di luar negeri yang antara lain adalah adanya gangguan kepribadian antisosial dengan karakteristik berupa perilaku agresif, manipulatif, dan impulsif; pembunuhan dilakukan seorang diri dengan motif ganda yaitu ingin memperoleh keuntungan finansial dan melampiaskan amarah; cara pembunuhan ganda yaitu dengan memukul korban menggunakan benda tumpul dan dengan menikam korban; adanya pemindahan tubuh korban dari lokasi awal pembunuhan dan mutilasi pada tubuh korban; rentang waktu pembunuhan selama sekitar satu tahun dengan disertai periode cooling off. Karakteristik dari korban-korban Ryan berasal dari jenis kelamin dan rentang usia yang beragam. Namun yang membedakan dengan pelaku pembunuhan berantai di luar negeri adalah karakteristik korban tidak berasal dari ras, suku, ataupun kondisi sosial ekonomi tertentu. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai menjadi bahan kajian dalam melakukan analisis pada kasus serupa di masa mendatang. Kata kunci : Criminal Profiling; Pembunuhan Berantai; Psikologi Forensik. ABSTRACT Serial killings are the killings of three or more people in a period of more than 30 days, accompanied by significant cooling off period. One of the serial killings in Indonesia that has caught public's attention is the case of Very Idham Henyansyah or Ryan. This study attempts to analyze the case using single case study method with criminal profiling analysis approach. Data analysis shows several profile similarities with serial killers abroad, which include presence of antisocial personality disorder with characteristics of aggressive, manipulative and impulsive behavior; the killings were carried out alone with multiple motives, i.e wanting to gain financial gain and venting anger; the method of murders are multiple, i.e by hitting the victim with blunt object and by stabbing the victim; removal of the victim's body from the initial murder location and mutilation of the victim's body; killing time spans for about a year with a cooling off period. Characteristics of Ryan's victims came from various sexes and age ranges. However, what differentiates of serial killings case abroad is that the characteristics of the victims do not come from a particular race, ethnicity, or socioeconomic condition. This research is expected to be useful as a study material in analyzing similar cases in the future. Keywords : Criminal Proflling; Forensic Psychology; Serial Killing.
Hukuman Mati Dan Kesehatan Mental: Perspektif Psikologi Forensik Terhadap Implikasi Hukum Dan Etika Jefri Firnando; Rafif Salsabila; Ananda Zakiyyah Salzabillah Salzabillah
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Volume 5 No 1, Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i1.65

Abstract

Fenomena penerapan hukuman mati telah lama menjadi isu kontroversial di berbagai belahan dunia, terutama terkait dengan individu yang memiliki gangguan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara penerapan hukuman mati, kondisi kesehatan mental, dan peran psikologi forensik dalam proses evaluasi terpidana, dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) untuk mengkaji studi-studi terkait gangguan mental pada narapidana hukuman mati dan pengaruh evaluasi psikologis terhadap keputusan pengadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan mental, seperti skizofrenia dan gangguan kepribadian, sering kali mempengaruhi kapasitas mental terpidana dalam memahami dan menerima keputusan yang dihadapi, namun kondisi ini seringkali tidak dipertimbangkan secara memadai dalam proses hukum. Temuan ini menekankan pentingnya evaluasi psikologis yang akurat dan konsisten untuk memastikan tercapainya keadilan, serta tantangan dalam penerapan standar hukum yang jelas dan konsisten untuk kasus-kasus tersebut. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya peningkatan sistem perawatan kesehatan mental di lembaga pemasyarakatan dan pengembangan prosedur hukum yang lebih sensitif terhadap kondisi mental terpidana, guna mencegah ketidakadilan dan memastikan proses peradilan yang lebih manusiawi dan adil.
Analisis Bentuk Agresivitas Anak Didik Pemasyarakatan Berdasarkan Jenis Kasus Hukum Ira Wahyuni; Hasnida; Eka Ervika
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Volume 5 No 1, Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i1.66

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gambaran empat bentuk agresivitas yakni fisik, verbal, amarah dan permusuhan pada Anak Didik Pemasyarakatan (untuk selanjutnya disebut dengan Andikpas) jika dikaitkan dengan jenis kasus hukum yang ditetapkan yakni asusila, narkoba, pencurian, dan penganiayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Sampel pada penelitian berjumlah 53 orang Andikpas di LPKA Kelas II Payakumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agresi verbal merupakan bentuk agresivitas yang paling umum ditampilkan oleh Andikpas dari berbagai jenis kasus hukum yang mereka lakukan. Selanjutnya, Andikpas dengan kasus asusila menampilkan semua bentuk agresivitas, sedangkan Andikpas dengan kasus narkoba dan pencurian menampilkan bentuk agresivitas verbal, amarah dan permusuhan. Berbeda dengan Andikpas dengan kasus penganiayaan yang hanya menampilkan bentuk agresivitas verbal dan permusuhan. Implikasi dari penelitian ini adalah agresivitas cenderung terjadi pada semua Andikpas meskipun dalam bentuk yang berbeda. Oleh karena itu, LPKA dan pihak terkait perlu menyelenggarakan program pelatihan psikologis secara berkala dalam upaya menurunkan agresivitas pada Andikpas.
Tantangan Dalam Menegakkan Hukum Pada Kasus Kekerasan Seksual: Studi Tentang Victim-Blaming pada Polisi Vita Valia; Fathul Lubabin Nuqul
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 No 2, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i2.67

Abstract

This study investigates the challenges of enforcing laws related to sexual violence in Indonesia, with a focus on victim-blaming practices within law enforcement. Despite the critical role of police in ensuring justice for victims of sexual violence, cultural and institutional biases often undermine legal processes. Drawing on qualitative phenomenological methods, the research involved semi-structured interviews and observations with four police officers (one male, three female) to explore their perceptions, attitudes, and practices in handling sexual harassment cases. Findings reveal a dissonance between the informants’ theoretical recognition of structural factors (e.g., broken homes, low education, and socioeconomic vulnerabilities) and their victim-blaming behaviors during investigations. These behaviors, rooted in patriarchal norms and gender stereotypes, manifest in skepticism toward victims’ credibility, attribution of blame based on attire, behavior, or consensual relationships, and inadequate investigative rigor. Such practices perpetuate secondary victimization, deter reporting, and compromise the fairness of legal outcomes. The study underscores the urgent need for systemic reforms, including gender-sensitive training for law enforcement, stricter accountability mechanisms to address biased practices, and enhanced victim-centered support systems. By addressing these challenges, institutions can foster equitable justice delivery and mitigate the retraumatization of survivors.
Dark Triad Personality Residivis di Kupang Juan Trisna G N Warduna; Juliana Marlin Y Benu; Rizky Pradita Manafe
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Volume 5 No 1, Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i1.71

Abstract

Residivis merupakan kejahatan berulang yang dilakukan oleh narapidana setelah melalui hukuman di penjara. Salah satu penyebab residivis adalah faktor kepribadian. Penelitian ini menggunakan Dark Triad Personality sebagai faktor internal narapidana menjadi resedivis. Dark triad personality adalah kepribadian gelap yang memiliki tiga tipe yaitu machiavellianism, narsistik, dan psychopathy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dark triad personality pada residivis di Kupang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Penelitian dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIa Kupang. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 36 orang residivis. Penelitian ini menggunakan skala Short Dark Triad Personality yang berjumlah 15 aitem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkatan gambaran dark triad personality pada resividis untuk aspek narcissism, dan psychopathy berada pada kategori sedang yaitu sebanyak 52,8% dan 38,9%, sedangkan aspek machiavellianism berada pada kategori rendah yaitu sebanyak 80,6%. Social desirability menjadi alasan residivis memiliki tipe Machiavellianism dan psikopati yang tergolong rendah. Implikasi dari penelitian ini adalah menggunakan wawancara lanjutan terkait dark triad personality pada residivis.
White Extremism: Psychological Perspectives Zora Arfina Sukabdi
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Volume 5 No 1, Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i1.72

Abstract

Whiteness is a fluid concept as the definition of “white” continues to change throughout history. In terms of social and political construction, whiteness is similar to the construction of race. The term “white”, although it was initially inspired by ‘being white’, does not simply refer to a person's skin color; but rather an ideology based on their views, values, behavior, habits and attitudes. This ideology leads to an unequal distribution of power and privilege. Implementing literature review, this article investigates the origins of the abbreviated "whiteness" in humans, as well as the signs of white extremism and the belief systems that support white extremism. Through this discovery it is known that the white color in humans has been visible for around 80,000 years. Furthermore, the most obvious evidence of white extremism is when violence is used as the only way to achieve goals, among other indicators. In terms of belief systems, the story of Noah and Abraham's families may have been the origin of the beliefs that led to the development of white supremacist ideas. Through a psychological lens, these findings may be useful to academics and practitioners in their efforts to understand white extremism.