cover
Contact Name
Fathul Lubabin Nuqul
Contact Email
lubabin_nuqul@uin-malang.ac.id
Phone
+62852334058180
Journal Mail Official
jpfi@apsifor.or.id
Editorial Address
Yogyakarta
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Forensik Indonesia
ISSN : -     EISSN : 28100336     DOI : https://doi.org/10.71088/jpfi.v5i2
Core Subject :
Jurnal Psikologi Forensik Indonesia (JPFI) is a scientific journal that publishes articles of results and theoretical studies relevant to the study of Psychology in law (Forensic Psychology), Psychology of Law and Psychology and Law.
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
Identifikasi Secondary Traumatic Stress Pada Petugas Pemasyarakatan di LPKA Kelas I Blitar Ninic Solihati Hidayat; Rika Fuaturosida
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Volume 5 No 1, Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i1.82

Abstract

Keterlibatan langsung petugas pemasyarakatan dalam mendengarkan cerita dan membantu warga binaan mengatasi masalah terutama masalah psikologis dapat memengaruhi terjadinya Secondary Traumatic Stress (STS). Aktivitas tersebut memberikan dampak emosional yang dapat mengganggu kesejahteraan hidup. Beberapa tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mendeskripsikan potensi STS, memetakan tingkat STS beserta dampak yang dialami oleh petugas pemasyarakatan LPKA I Blitar, menganalisis faktor penyebab dan faktor resiko dan menemukan model mekanisme coping STS yang dilakukan oleh petugas pemasyarakatan LPKA I Blitar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian sebanyak empat petugas pemasyarakatan. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa dari empat subjek, satu subjek teridentifikasi mengalami secondary traumatic stress (STS) dengan ditemukan gejala yang gejala intrusion, avoidance, dan arousal. Teridentifikasi kategori parah disertai dampak dari gejala yang dialami yakni pikiran yang mengganggu, tekanan emosional, dan kesulitan melepaskan diri secara psikologis. Terdapat beberapa faktor resiko yang dimiliki. Ditemukan juga model coping yang dominan dilakukan dalam mengatasi timbulnya secondary traumatic stress (STS) yang dilakukan oleh subjek.
Intergenerational Collective Trauma: Analyzing the Psychosocial Crisis and Identity Formation Mechanisms among Post-Conflict Refugees in Poso Donnye Rura Amping; Maria Goretti Adiyanti; Irene Ludji
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5, No 2 Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i2.85

Abstract

The prolonged conflict in Poso has left a lasting mark of collective trauma, particularly within refugee communities. This trauma has triggered a psychosocial crisis transmitted across generations through collective narratives, refugee identity, parenting styles, and socially embedded suspicion and prejudice. This study aims to explore the intergenerational transmission mechanisms of collective trauma among post-conflict refugees in Poso. Employing a qualitative case study approach and thematic analysis, in-depth interviews were conducted with two generational groups: direct survivors of the conflict and those born afterward. Findings reveal that trauma plays a significant role in identity formation among younger generations, reflected in high levels of anxiety, social withdrawal, and heightened sensitivity to violence. Social mechanisms such as “self-defense” and “self-counter” emerge as adaptive responses aimed at protecting community identity. These insights contribute to the design of more context-sensitive psychosocial interventions, including peace education, intergenerational parenting programs, and intercommunity safe spaces that foster reconciliation and integration.
Vicarious Traumatization Pada Jaksa Perempuan Yang Menangani Perkara Kekerasan Seksual Pada Anak Muhammad Rizky Ardiwinata; Vivi Amalia; Siska Oktari; Nelia Afriyeni; Septi Mayang Sarry
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5, No 2 Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i2.89

Abstract

Perkara kekerasan seksual pada anak menunjukkan tren yang meningkat tiap tahunnya sehingga dibutuhkan proses peradilan untuk mengurangi angka kekerasan seksual pada anak, salah satu proses peradilan adalah proses penuntutan yang dilakukan oleh jaksa. Penanganan perkara kekerasan seksual pada anak ini dapat menimbulkan vicarious traumatization bagi jaksa, khususnya jaksa perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran vicarious traumatization pada jaksa perempuan yang menangani perkara kekerasan seksual pada anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema yang muncul berkaitan dengan pengalaman vicarious traumatization. Pengambilan data penelitian dilakukan menggunakan wawancara semi-terstruktur pada enam partisipan yang dipilih menggunakan purposive sampling. Kriteria partisipan adalah 1) jaksa penuntut umum anak yang pernah menangani kasus kekerasan seksual pada anak dalam 2 tahun terakhir dan 2) berjenis kelamin perempuan. Hasil penelitian menemukan lima tema yang menggambarkan vicarious traumatization pada jaksa perempuan yang menangani perkara kekerasan seksual pada anak yaitu konflik skema kognitif, proyeksi pengalaman menangani perkara kepada anak sendiri, kondisi emosional dalam menangani perkara, aksi empatik terhadap korban, dan identitas profesional yang tangguh.
Memetakan Konsep Dan Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Kerentanan Individu Sebagai Korban Phishing: A Scoping Review Rafif Salsabila; Alfiza Fakhriya Haq; Dian Putriana
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5, No 2 Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i2.103

Abstract

Serangan phishing meningkat dan menyebabkan kerugian yang diproyeksikan mencapai $10,5 triliun pada 2025 dan $15,63 triliun pada 2029, dengan biaya pemulihan rata-rata mencapai $4,88 juta per perusahaan. Di Indonesia sendiri laporan IDADX mencatatkan 26.675 serangan phishing pada Q1 2023 yang menargetkan domain seperti .id, biz.id, dan my.id. dengan kasus seperti penipuan pada situs BCA dan DJKN yang pernah terjadi di Indonesia. Tinjauan ini bertujuan untuk memetakan konsep dan faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi kerentanan individu sebagai korban kejahatan phishing. Metode yang digunakan adalah scoping review untuk memetakan konsep dan faktor psikologis yang mempengaruhi individu sebagai korban dari kejahatan phishing yang dijadikan panduan dalam studi ini. Peneliti memasukkan studi kualitatif dan kuantitatif yang diterbitkan dari tahun 2016 hingga 2025 dalam berbagai data base seperti ScienceDirect, Pubmed, dan Google Scholar. Hasil penelitian memetakan faktor psikologis yang terjadi pada korban kejahatan phising seperti faktor kognitif, faktor emosional, dan faktor sosial teknologi yang saling terkait dan membentuk respons individu terhadap ancaman phising. Penelitian ini menyoroti peran dari faktor psikologis pada kerentanan phishing dengan implikasinya untuk penelitian selanjutnya dan pengembangan pelatihan Cyber Awareness. Diperlukannya penelitian lebih lanjut untuk melihat faktor atau aspek-aspek apa saja yang muncul pada korban kejahatan phising dan penelitian longitudinal di Indonesia guna mendapatkan strategi pencegahan yang efektif sesuai sosial-kultur Indonesia.
The Intersection of Trauma and Criminal Law: A Forensic Psychology Approach to Women Victims of Domestic Violence — Literature Review Nur Syifa Zakiah; Muhammad Ulil Albab; Jefri Firnando
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5, No 2 Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i2.104

Abstract

Domestic violence against women often results in profound psychological trauma, such as post-traumatic stress disorder (PTSD) and depression. The criminal justice system is often insensitive to the trauma experienced by victims, which worsens their condition during the legal process. This study aims to examine the relationship between psychological trauma due to domestic violence and the response of the criminal justice system, as well as the role of forensic psychology in supporting victim recovery. The research method used is a literature study, by analyzing relevant articles on domestic violence, psychological trauma, and the application of forensic psychology in the criminal law system. The results of the study show that the integration of forensic psychology in handling domestic violence cases can help understand the psychological impact of victims and improve the treatment of them in the legal process. The implications of this research are the importance of reforms in the criminal law system that are more responsive to the psychological trauma of victims, as well as the need for training for law enforcement officials to handle domestic violence cases with a more sensitive and humane approach.
Reflection at Prison: Menguak Konsep Diri pada Residivis di Era Cengkeraman Stigma Negatif Lingkungan Sosial Salsabilla Nuranisa Wahyudi; Muhammad Nurul Faiz; Arya Prambayu; Sri Kushartati
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5, No 2 Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i2.105

Abstract

Fenomena residivisme masih menjadi isu penting dalam sistem peradilan pidana, terutama terkait pembentukan konsep diri pelaku kejahatan berulang dalam menghadapi stigma sosial. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dinamika pembentukan konsep diri seorang residivis melalui pendekatan kualitatif studi kasus dengan triangulasi sumber. Subjek penelitian adalah seorang residivis di Lapas Kelas IIA Yogyakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi non-partisipatif, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh permisif dan tidak konsisten, lingkungan sosial yang menyimpang, serta pengaruh pergaulan negatif membentuk perilaku maladaptif dan memperkuat siklus residivisme. Selama masa hukuman, subjek mengalami proses refleksi yang mengubah konsep diri pada aspek fisik, sosial, moral, dan psikis, termasuk peningkatan kesadaran spiritual, penyesalan, keinginan hidup normal, serta rencana berkontribusi positif di masyarakat setelah bebas. Temuan ini menekankan pentingnya peran pola asuh dan lingkungan sosial dalam pembentukan konsep diri serta upaya rehabilitasi.