cover
Contact Name
Fathul Lubabin Nuqul
Contact Email
lubabin_nuqul@uin-malang.ac.id
Phone
+62852334058180
Journal Mail Official
jpfi@apsifor.or.id
Editorial Address
Yogyakarta
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Forensik Indonesia
ISSN : -     EISSN : 28100336     DOI : https://doi.org/10.71088/jpfi.v5i2
Core Subject :
Jurnal Psikologi Forensik Indonesia (JPFI) is a scientific journal that publishes articles of results and theoretical studies relevant to the study of Psychology in law (Forensic Psychology), Psychology of Law and Psychology and Law.
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
Fatherless dan Kekerasan Seksual Widyastuti; Nurul Mutmainna; Novriana Ramadhana; Zulfadli Amir
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 3 No. 1 (2023): Volume 3. No 1. Tahun 2023
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v3i1.34

Abstract

Sexual violence is an act involving sexual contact. Sexual violence against children is a criminal act that often occurs around us. In the city of Makassar, data showed that around 2023, cases of violence were dominated by cases of sexual violence, primarily against children. One of the forms of sexual crime that occurs is sexual harassment or rape among teenagers. Ironically, it happens repeatedly with no denial or opposition to the perpetrator, where the victim trusts the perpetrator easily. This study aims to find out the reason why sexual intercourse by the same person can happen repeatedly. In this study, the case occurred in the city of Makassar, where the informant was a victim of sexual violence committed by a friend she had not long known. Data analysis is carried out with descriptive analysis, with sources of information obtained through interviews and observations. Studies have shown that children who are close and trustworthy to other people or strangers tend never to experience intimacy and never feel safe with the important people in their lives. The absence of a father in a child's life can make the child easily trusting and close to other people because the child is looking for a replacement for that figure.
Adaptasi dan Validasi Skala Cyber-Aggression Questionnaire for Adolescents Nur Amalia Hamida; Lu'luk Syahrul Kamal; Nur Rahmat Laba; Aisha Al Mascaty; Niken Nahesti
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 3 No. 1 (2023): Volume 3. No 1. Tahun 2023
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v3i1.35

Abstract

The interactions of teenagers and early adults have on social media are not always in positive way. Some of them carry out various negative behaviors as a form of aggressiveness in the online platform. This research aims to adapt and validate the Cyber-Aggression Questionnaire for Adolescents scale developed by Gracia, et al (2016). The cyber aggression measuring tool will aim to measure the level of aggressive behavior in the online platform carried out by individuals in adolescents and early adults. This research was conducted online with teenagers and early adults aged 13 - 24 years in Indonesia. There were 430 participants, consisting of 157 men and 273 women. The results of confirmatory factor analysis (CFA) showed good model fit (CFI = .974, TLI = .931, RMSEA = .0489). In addition, the results showed that the 12-item cyber aggression scale had quite good internal consistency (α = .786). Multigroup analysis showed that the model had invariance across male and female samples (gender).
Gambaran Kematangan Karir Anak Binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Anastasia Wulandari; Sri Maslihah; Ismawati Kosasih; Eka Fauziyya Zulnida
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): Volume 3. No 2, Tahun 2023
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v3i2.36

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya anak binaan LPKA yang memutuskan bekerja setelah menyelesaikan masa pembinaan di LPKA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kematangan karir anak binaan LPKA. Lokasi penelitian dilakukan di LPKA Kelas II Bandung dengan sampel sebanyak 20 anak binaan yang akan menyelesaikan masa pembinaan dalam 3-6 bulan lagi. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan wawancara untuk menggali kematangan karir anak binaan. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kematangan karir dan dilanjutkan dengan wawancara kepada 9 orang anak binaan. Hasil pengolahan data deskriptif kematangan karir anak binaan didapati 15 % berada pada kategori sangat rendah, 40% rendah, 40% tinggi dan 5 % kategori sangat tinggi. Data tersebut menunjukkan bahwa anak dengan kategori kematangan karir rendah dan tinggi menunjukkan jumlah yang sama. Hasil wawancara pada 9 orang anak yang berada pada kategori tinggi, rendah dan sangat rendah menunjukkan bahwa anak pada kategori tinggi umumnya sudah mampu menyatakan karir yang ingin dicapainya di masa yang akan datang, sementara anak dengan kategori rendah masih ragu dengan karir yang ingin dicapainya. Baik anak dengan kategori tinggi maupun rendah mampu mengenali potensi atau kelebihan yang dimilikinya. Kata kunci: kematangan karir; anak binaan; LPKA
Jogja Berhenti Nyaman?: Kepribadian Terang, Kepercayaan pada Perbaikan Diri, dan Penilaian tentang Keadilan Restoratif bagi Pelaku Klitih Maria Gracia Amara Pawitra; Malvin Geoffrey Cristianto
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): Volume 3. No 2, Tahun 2023
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v3i2.37

Abstract

Klitih has been rampant in Special Regions of Yogyakarta (Daerah Istimewa Yogyakarta) since 2016, targeting people randomly and between groups in conflict. The majority of klitih offenders are underaged who live in unsupportive social environments. They are given juvenile diversion in the context of restorative justice to help them reintegrate and avoid the risk of repeated crimes. However, restorative justice is often challenged by social stigma. This cross-sectional study aimed to examine the role of light triad traits and belief in offender redeemability in determining perceived restorative justice. The data was collected by using Skala Kepribadian Terang, Skala Kepercayaan pada Perbaikan Diri Pelaku, dan Skala Penilaian Keadilan Restoratif. The sample was selected using purposive sampling with inclusion criteria: 1) Indonesian citizens aged 18 years to 60 years, 2) Living in DIY at least since 2016 for at least 2 years, 3) Having updated the news and/discussed klitih cases in DIY. The results of multiple linear regression analysis (N= 124) showed that belief in offender redeemability significantly predicted perceived restorative justice but light triad traits didn’t. This research suggested that offenders should relinquish their delinquent behavior, as well as the public should enhance their belief in offender redeemability and support restorative outcomes. Keywords: Belief In Offender Redeemability; Daerah Istimewa Yogyakarta; Klitih; Light Triad Traits; Perceived Restorative Justice.
Pengaruh Efektivitas Wawancara Kognitif Terhadap Kompetensi Retrieval Saksi Anak Usia Operasional Konkret Wahyu Riska Elsa Pratiwi
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): Volume 3. No 2, Tahun 2023
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v3i2.38

Abstract

ABSTRAK Kompetensi retrieval pada anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: (1) adanya perhatian yang cukup, (2) upaya hearing dan seeing, (3) adanya minat dan motivasi terhadap stimuli, (4) kondisi fisik dan emosi, dan (5) cara penggalian informasi. Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui (1) tingkat kemampuan retrieval anak usia operasional konkret (10-12 tahun) dalam memberikan informasi terhadap peristiwa yang disaksikannya dan (2) pengaruh efektivitas wawancara kognitif terhadap kompetensi retrieval saksi anak. Metode penelitian yang digunakan adalah desain true-experimental dengan menggunakan model rancangan post-test only control design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 25 orang siswa yang terpilih melalui teknik purposive sampling. Treatment yang digunakan ialah praktik wawancara kognitif yang terdiri dari empat teknik mnemonic yang berguna untuk menstimulasi anak dalam mengingat lebih banyak informasi dan lebih akurat. Pengukuran kompetensi retrieval dilakukan dengan menggunakan skala rubrik kemampuan retrieval informasi. Hasil uji statistik menunjukkan nilai rata-rata kemampuan retrieval pada kelompok anak yang diberikan wawancara kognitif jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok yang hanya diminta menceritakan ingatannya melalui media tertulis. Kemudian, analisis data penelitian menggunakan uji Welch Test juga menunjukkan nilai yang cukup signifikan, dimana Sig. 0,012 < 0,05 yang berarti penggunaan wawancara kognitif memiliki pengaruh yang efektif terhadap kompetensi retrieval saksi anak usia operasional konkret. Kata kunci : anak; kompetensi retrieval; retrieval; saksi; wawancara kognitif; ABSTRACT Retrieval competence in children is strongly influenced by several factors including: (1) sufficient attention, (2) the maximum efforts of hearing and seeing, (3) interest and motivation towards stimuli, (4) physical and emotional conditions, and 5) the method of extracting information. This experimental research aims to find out (1) the level of children retrieval competence of concrete operational stage (10-12 ages) in providing information on the events they witnessed and (2) the influences of effectiveness of cognitive interview towards the retrieval ability in child witnesses. The research method used is a true-experimental design using a post-test only control design model. The sample in this study amounted to 25 students who were selected through purposive sampling technique. The treatment used is cognitive interview practice consisting of four mnemonic techniques that are useful for stimulating children to remember more information and more accurately. The measurement of the retrieval competence is performed using rubrik scale of information retrieval ability. The result of statistical tests showed that the average value of the retrieval ability in the group of children who were given the cognitive interviews was much higher than the group that was only requested recounts their memory through written media. Then, the analysis of research data using the Welch Test also showed the significant value, where Sig. 0.012 < 0.05 which means that the use of cognitive interview has an effective effect towards the retrieval competence in child witnesses of concrete operational stage. Keywords : children; cognitive interview; retrieval; retrieval competency; witness
Mengapa Perempuan Menggugat Cerai? Studi Deskriptif Analisis Putusan Pengadilan Fitri Auliani; Haiyun Nisa
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): Volume 3. No 2, Tahun 2023
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v3i2.40

Abstract

Data statistik menunjukkan angka perceraian di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yang didominasi oleh cerai gugat. Perkara cerai gugat bermakna penyelesaian sengketa perceraian yang diajukan oleh perempuan atau istri ke Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar’iyah di daerah domisilinya. Berbagai alasan seperti perselisihan dan pertengkaran terus menerus, faktor ekonomi dan lainnya diajukan oleh perempuan dalam materi gugatan untuk membuktikan kepada hakim bahwa perkawinan dan rumah tangga sudah tidak dapat dipertahankan lagi, namun mengapa sebenarnya perempuan menggugat cerai?. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara deskriptif kualitatif alasan dan faktor-faktor perempuan menggugat cerai berdasarkan putusan pengadilan agama/mahkamah syar’iyah yang telah ditetapkan oleh Hakim. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa putusan pengadilan untuk perkara cerai gugat yang diperoleh dari situs Mahkamah Agung berjumlah 30 putusan yang dianalisis secara tematik. Hasil analisis data menunjukkan sejumlah tema-tema yang muncul terkait alasan dan faktor perempuan menggugat cerai yang dikelompokkan menjadi faktor hilangnya tanggung jawab suami; faktor tindak kekerasan dan faktor campur tangan orang tua atau keluarga. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran penyebab dan faktor perempuan menggugat cerai sehingga dapat dilakukan upaya preventif untuk mencegah peningkatan angka perceraian.
Melihat Persepsi Korupsi Masyarakat: Analisis Kolektivisme dan Gaya Pengambilan Keputusan El Syafira Saragih; Yansa Alif Mulya
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 1 (2024): Volume 4 No 1, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i1.46

Abstract

Berdasarkan data dari Transparency Internasional for Indonesia (2023) dan Badan Pusat Statistik Indonesia (2024), menyatakan bahwa CPI atau Indeks Persepsi Korupsi negara Indonesia turun sebesar 0,07 poin dari 3,96 di 2023 menjadi 3,89 pada 2024. Praktik korupsi di Indonesia sendiri sudah mengakar, sistematis, kolektif dan berevolusi bentuk dan rupanya. Pada penelitian ini, peneliti berusaha untuk melihat persepsi korupsi masyarakat Indonesia pada saat ini dengan pengaruh budaya kolektif dan dimediasi oleh gaya pengambilan keputusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif model mediasi (N = 120) dengan menyebarkan survei online. Analisis menggunakan tiga alat ukur berdasarkan CVS Scale dari Yoo (2016), GDMS oleh Baiocco, dkk (2009), dan CPS Scale dari Vieire, dkk (2022). Variabel kolektif (β = 0.204, F (1, 118) = 47.93, p = < 0.05), persepsi dan tipe pengambilan (β = 0.853, F (1, 118) = 85.15, p = < 0.05) dapat memprediksi satu sama lain. Gaya pengambilan keputusan (β = .137) mampu memediasi hubungan antara kolektif (β = .132) dengan persepsi korupsi. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, kolektif dan gaya pengambilan keputusan hanya mampu menjelaskan 45,9% dari persepsi tentang korupsi. Sehingga, masih banyak faktor yang mendorong praktik korupsi di Indonesia yang dapat dibahas pada penelitian selanjutnya.
Implementasi Terapi Hortikultura Untuk Mengurangi Stres Dan Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Anak Binaan Di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Christine Nathan ia Jocelyn Girsang; Monica Septyarny Zega; Febby Juanita Lase; Felix Charles Andreas Tambunan; Elang Yoga Perdana; Suri Mutia Siregar
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 No 2, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i2.52

Abstract

Anak Binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Medan mengalami stres dan masalah psikologis yang menurunkan motivasi mereka dalam program rehabilitasi. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini mengembangkan terapi hortikultura sebagai metode baru untuk menurunkan stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi efektivitas terapi hortikultura dalam mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest, dilaksanakan selama 47 hari dalam 7 tahapan dengan 36 Anak Binaan sebagai sampel yang dipilih secara accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah Kessler Psychological Distress Scale untuk mengukur stres dan Psychological Well-Being Scale (PWB) untuk kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan terapi hortikultura efektif dengan p-value 0,019 untuk stres dan 0,035 untuk kesejahteraan psikologis, yang menunjukkan penurunan stres dan peningkatan kesejahteraan secara signifikan. Temuan ini merekomendasikan adopsi terapi hortikultura sebagai strategi inovatif dalam program rehabilitasi untuk membantu Anak Binaan menghadapi masa hukuman dengan lebih positif dan produktif.
Peran Keluarga Dalam Pencegahan Kekerasan Pada Anak: Studi Kasus Di Pekanbaru Leni Armayati
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 No 2, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i2.54

Abstract

Kekerasan terhadap anak di Kota Pekanbaru merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dinamika keluarga, kondisi sosial ekonomi, dan nilai-nilai budaya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran keluarga dalam mencegah kekerasan pada anak serta mengidentifikasi faktor-faktor risiko dan protektif yang terkait. Melalui pendekatan kualitatif yang melibatkan wawancara mendalam dengan 5 orang tua, penelitian ini mengungkap bahwa pola asuh yang otoriter, komunikasi yang buruk, dan konflik keluarga merupakan faktor risiko utama. Sebaliknya, dukungan sosial, keterlibatan orang tua dalam kegiatan anak, dan pendidikan tentang pengasuhan anak yang positif merupakan faktor protektif yang signifikan. Temuan penelitian ini menyoroti pentingnya program pencegahan yang berfokus pada penguatan keluarga, peningkatan kesadaran masyarakat, dan kerjasama lintas sektor. Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi upaya pencegahan kekerasan terhadap anak yang lebih efektif di Kota Pekanbaru.
Once A Criminal, Always A Criminal? Kepribadian Terang, Persepsi tentang Pelaku, dan Sikap akan Pembebasan Bersyarat bagi Jessica dalam Kasus Kopi Sianida Maria Gracia Amara Pawitra; Yansa Alif Mulya
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 No 2, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i2.55

Abstract

Kasus kopi sianida yang menewaskan Wayan Mirna Salihin menggemparkan masyarakat pada tahun 2016 lalu. Pasalnya, kasus ini merupakan kasus minim bukti dan saksi, sehingga menuai banyak kontroversi. Akhirnya hakim menggunakan pembuktian tidak langsung yang menjerat Jessica Kumala Wongso sebagai pelaku pembunuhan berencana terhadap Mirna. Kasus ini diakhiri dengan pemberian vonis 20 tahun penjara kepada Jessica. Akan tetapi, setelah delapan tahun menjalani masa hukuman, Jessica mendapatkan pembebasan bersyarat. Hal ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap masyarakat akan pembebasan bersyarat bagi Jessica, berdasarkan kepribadian terang masyarakat dan persepsi masyarakat tentang Jessica. Penelitian dilakukan secara cross-sectional menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi: 1) WNI berusia 18-60 tahun, 2) Pernah dan/atau sedang menonton/mendengar berita/memperbincangkan kasus kopi sianida. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Kepribadian Terang, Skala Persepsi tentang Pelaku Tindak Kriminal, dan Skala Sikap akan Pembebasan Bersyarat. Hasil (N= 209) menunjukkan bahwa kepribadian terang dan persepsi tentang Jessica secara simultan berperan secara signifikan memengaruhi sikap akan pembebasan bersyarat bagi Jessica. Penelitian ini merekomendasikan agar masyarakat mau mendukung upaya keadilan restoratif berupa pembebasan bersyarat, sejauh pelaku dipersepsikan mampu menunjukkan sikap yang baik. Kata kunci: Kasus Kopi Sianida; Kepribadian Terang; Persepsi terhadap Pelaku Tindak Kriminal; Sikap terhadap Pembebasan Bersyarat.