cover
Contact Name
Fathul Lubabin Nuqul
Contact Email
lubabin_nuqul@uin-malang.ac.id
Phone
+62852334058180
Journal Mail Official
jpfi@apsifor.or.id
Editorial Address
Yogyakarta
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Forensik Indonesia
ISSN : -     EISSN : 28100336     DOI : https://doi.org/10.71088/jpfi.v5i2
Core Subject :
Jurnal Psikologi Forensik Indonesia (JPFI) is a scientific journal that publishes articles of results and theoretical studies relevant to the study of Psychology in law (Forensic Psychology), Psychology of Law and Psychology and Law.
Arjuna Subject : -
Articles 46 Documents
Dinamika Psikologis Pelaku Pedofilia Berdasarkan Perspektif Psikologi Perkembangan Diana Putri Arini
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): Volume 1, No. 1. Tahun 2021
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v1i1.1

Abstract

Pedofilia merujuk pada aktivitas seksual yang dilakukan orang dewasa pada anak-anak dibawah usia 12 tahun atau belum mencapai usia pubertas. Riset ini bertujuan untuk mengungkap profiling pelaku pedofiilia yang masuk ke dalam ranah hukum. Metode riset yang digunakan adalah studi literatur dari beberapa penelitian yang mengungkap dinamika psikologis pelaku pedofilia. Dari hasil tinjuan pustaka diketahui bahwa modus operasional pedofil adalah mendapatkan kepercayaan atau hubungan pertemanan dengan korban. Pelaku pedofil biasanya berada di sekitar wilayah yang memungkinkan kontak pada anak-anak. Analisis profiling dari sejumlah tes psikologis mengungkapkan pedofil memiliki masalah hubungan interpersonal, masalah pengendalian impuls dan gangguan patologis yang mengikuti seperti kecemasan, depresi atau gejala psikomatis.
Relasi Sosial pada Mantan Pengguna Narkoba yang Diasingkan Dita Permata Aditya; Wenty Marina Minza
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): Volume 1, No. 1. Tahun 2021
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v1i1.2

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan sosial pada mantan pengguna narkoba yang diasingkan. Lingkup relasi sosial yang diteliti adalah keluarga, teman pengguna narkoba, teman bukan pengguna narkoba, dan tetangga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi multiple case. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantan pengguna narkoba memiliki kualitas hubungan sosial yang positif, netral, dan negatif. Partisipan memiliki hubungan positif dengan keluarga dan teman bukan pengguna narkoba.  Selanjutnya, partisipan memiliki hubungan negatif dengan tetangga dan beberapa teman. Hubungan negatif dicirikan dengan stigma dan pengasingan sosial. Mantan pengguna narkoba akan menyikapi relasi tersebut dengan mempertahankan atau mengakhiri relasi berdasarkan hubungan positif, netral, atau negatif mereka.
Mendalami Aspek Psikologis Remaja Pelaku Kejahatan Y. Bagus Wismanto; Natasha Isabella Dian Paramitha; L Aptik Evanjeli
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): Volume 1, No. 1. Tahun 2021
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v1i1.3

Abstract

Penelitian kualitatif (studi kasus – life history) ini bertujuan mendalami aspek psikologis pada re maja pelaku kejahatan yang divonis bersalah dan menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) - Kutoarjo, Jawa Tengah. Partisipan berjumlah 4 (empat) orang, 1 kasus pembunuhan dan 3 kasus persetubuhan. Sampel diambil berdasarkan rekomendasi dari pihak LPKA. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan tes Grafis (HTP-test). Teknik analisis data yang digunakan adalah Content Analysis. Hasil menunjukkan bahwa tidak semua partisipan merasa bersalah atas pelanggaran yang dilakukannya, Pengadilan menjatuhkan vonis bersalah kepada partisipan, namun sebenarnya kesalahan tersebut adalah sebagai akibat perlakuan salah dari lingkungan terhadap partisipan. Perilaku anak adalah hasil dari perlakuan lingkungan dimana anak tumbuh dan berkembang. Rekomendasi dapat diberikan kepada keluarga (para orangtua) bahwa perlakuan orangtua kepada anak berpengaruh kepada anak, baik pengaruh baik maupun pengaruh buruk.
Memahami Kehidupan dalam Lingkup Penjara: Pemetaan Faktor Resiliensi Istri Narapidana dan Tahanan di Rumah Tahanan Negara Kelas 1 Surabaya Frea Meitha Wardhana; Margaretha
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): Volume 1, No. 1. Tahun 2021
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v1i1.4

Abstract

Istri dari narapidana maupun tahanan yang resilien dapat membantu meningkatkan kondisi psikologis keluarga dan memberi dukungan moral untuk narapidana selama masa hukuman. Penelitian ini mengkaji berbagai faktor (resiko dan protektif) yang mempengaruhi resiliensi pada istri narapidana di Rumah Tahanan Negara Kelas I Surabaya. Metode: Survei faktor risiko (kondisi ekonomi, lingkungan sosial) dan faktor protektif (dukungan sosial baik subjektif maupun objektif, regulasi emosi, optimisme, fasilitasi kunjungan) dilakukan pada 101 istri narapidana dan tahanan di Rumah Tahanan Negara Kelas I Surabaya. Data dianalisis dengan faktor analisis, korelasi dan regresi. Hasil: Faktor analisis menemukan dua faktor laten resiliensi, yaitu kemampuan adaptasi dan kemampuan menghadapi masalah. Analisis korelasi menunjukkan resiliensi berhubungan dengan optimisme dan kondisi sosial-ekonomi (SES). Analisa regresi menemukan bahwa kondisi ekonomi adalah determinan yang kuat atas resiliensi. Kesimpulan: Resiliensi pada istri narapidana dan tahanan dipengaruhi oleh kapasitas internal (optimisme) dan juga kondisi eksternal (SES). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sistem koreksional pemidanaan turut mempengaruhi kondisi psikologis keluarga narapidana dan tahanan. Relevansi:  Temuan dari penelitian dapat digunakan untuk memberi masukan pada sistem Rumah Tahanan Negara di Indonesia dalam membentuk program dukungan atau penyuluhan keluarga maupun narapidana dan tahanan sebagai bagian upaya peningkatan kesejahteraan napi serta pencegahan residivisme.
Peranan Psikologi Forensik dalam Hukum di Indonesia Fitri Melati Sopyani; Triana Noor Edwina
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): Volume 1, No. 1. Tahun 2021
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v1i1.5

Abstract

Psikologi forensik merupakan bidang ilmu psikologi yang berfokus pada penerapan metode dan konsep psikologis pada sistem hukum. Psikologi forensik merupakan perpaduan dari bidang psikologi klinis, psikologi perkembangan, psikologi sosial, dan psikologi kognitif. Individu yang berkecimpung dalam psikologi forensidibedakan menjadi dua, yang pertama adalah ilmuwan psikologi forensik dan yang kedua adalah praktisi psikologi forensik. Lebih spesifiknya, psikologi forensik memiliki peran dalam empat tahap penegakan hukum yaitu, tahap pencegahan, tahap penanganan, tahap pemidanaan, dan tahap pemenjaraan. Sedangkan untuk lingkup operasionalnya, psikolog forensik memiliki tugas untuk melakukan autopsi psikologi, wawancara investigasi pelaku, wawancara saksi, dan melakukan criminal profiling. Dalam hukum pidana psikolog forensik emiliki kontribusi sebagai saksi ahli, sebagai pemberi nasehat ahli diluar persidangan, sebagai hakim ad-hoc, dan sebagai pendidik para pelaku penegakan hukum. Meskipun memiliki banyak manfaat dalam membantutindakan hukum, namum psikolog forensik memiliki keterbatasan ruang dalam pengaplikasiannya. Menurut hukum di Indonesia, psikolog forensik tidak memiliki kewenangan untuk ikut andil dalam suatu kasus pidana apabila tidak dimintai pendapatnya oleh aparat hukum yang berwenang.
Locus of Control pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wilayah DKI Jakarta Andi Khairunnisa Putri; Chandradewi Kusristanti
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): Volume 1, No. 1. Tahun 2021
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v1i1.6

Abstract

Literatur menunjukkan apabila dibandingkan dengan populasi non-narapidana, narapidana memiliki kecenderungan memiliki locus of control (LoC) eksternal. Literatur juga menunjukkan bahwa dibandingkan LoC internal, keberadaan LoC eksternal pada narapidana lebih banyak diasosiasikan dengan dampak negatif, terutama saat mereka menjalani masa penahanan dan setelah menjalani masa penahanan. Di sisi lain, terdapat penelitian yang mengemukakan pentingnya keseimbangan antara LoC internal dan eksternal, karena LoC juga memiliki dampak positif bagi narapidana. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kecenderungan LoC yang dimiliki oleh narapidana di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta. Penelitian ini adalah penelitian noneksperimental dengan desain deskriptif. Dengan menggunakan teknik purposive sampling, sampel pada penelitian ini adalah narapidana yang berada di beberapa lembaga pemasyarakatan wilayah DKI Jakarta (N=152). Alat ukur yang digunakan adalah LoC Scale yang disusun oleh Huntley, Palmer, dan Wakeling (2012). Alat ukur tersebut memiliki tiga dimensi, yaitu Internal (α = 0.510), Powerful Others (α = 0.647), dan Chance (α =0.757). Setelah data diolah melalui analisis statistik deskriptif dengan menggunakan software statistik SPSS,ditemukan bahwa mayoritas partisipan (93.4%) memiliki kecenderungan LoC eksternal. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi awal dalam mengembangkan intervensi yang bertujuan untuk menyeimbangkanLoC pada narapidana.
The Impact of Coronavirus to Terrorist Offenders in Indonesia: Assessments on psychological risk profiles before and during pandemic Zora Arfina Sukabdi
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 2 No. 2 (2022): Volume 2. No 2. Tahun 2022
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v2i2.11

Abstract

City lockdowns during the Coronavirus pandemic were seen by terrorism networks as authorities’ attempt to limit people’s access to places of worship and secularise people, as well as a sign of a forthcoming apocalypse. Several arrestments of terror actors in Indonesia during the pandemic raised the question of whether the physical restrictions ever reduced the criminogenic risks of terrorist network’s members. This study aims to investigate the impact of the Covid-19 pandemic on 18 terrorist profiles in Indonesia. The study assesses the psychological criminogenic risks of terrorist offenders in Indonesia before and during pandemic. Both quantitative and qualitative analysis was used to examine the risk assessment. The findings indicate no significant difference in the total scores of offenders’ risks before and during the pandemic. However, the qualitative risk profiles demonstrate the changes in offenders’ motivation, ideology, and capability.
Efektivitas Bibliotherapy Dalam Meningkatkan Makna Hidup Narapidana Pada Lapas Kelas II B Takalar Resqy Amalia Resqy Amalia; Asniar Khumas; Ahmad Ridfah
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Volume 2 No 1, Tahun 2022
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v2i1.13

Abstract

Narapidana merupakan individu yang rentan terhadap kondisi cenderung tidak memiliki makna hidup yang dapat menjadi sebab sekaligus akibat individu ditahan di Lapas. Bibliotherapy merupakan suatu intervensi yang dapat memengaruhi peningkatan makna hidup pada narapidana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas bibliotherapy dalam meningkatkan makna hidup narapidana pada Lapas Kelas II B Takalar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif eksperimen pretest – posttest control group design. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 20 subjek yang terbagi kedalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala makna hidup. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik independent t-test dengan mann-whitney u test. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan tingkat makna hidup antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (p=0,000, mean gain score kelompok eksperimen= 26,2 dan kelompok kontrol= 1,6) Nilai p menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji Wilcoxon Singed-rank kelompok eksperimen (p=0,005, mean score pretest= 76,3 dan mean score posttest= 102,5) yang menunjukkan terdapat peningkatan skor setelah pemberian perlakuan. Pada kelompok kontrol (p=0,016, mean score pretest= 79,3 dan mean score posttest= 77,9) menunjukkan bahwa terdapat penurunan tingkat makna hidup berdasarkan tingkat perbandingan pretest dan posttest. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi narapidana mengenai pentingnya memiliki makna hidup agar dapat mejalani hidup lebih baik setelah bebas dari masa tahanan.
Prevalensi Gangguan Mental dan Layanan Kesehatan Mental Forensik dalam Sistem Peradilan (Sebuah Tinjauan Literatur) Novianita Ayu Pramestuti; Elizabeth Kristi Poerwandari
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 2 No. 1 (2022): Volume 2 No 1, Tahun 2022
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v2i1.14

Abstract

Dalam sistem peradilan selalu terdapat pelanggaran yang disebabkan oleh gangguan mental yang dimiliki oleh pelaku. Prevalensi individu yang terlibat dalam sistem peradilan dengan gangguan mental tertentu cukup tinggi. Oleh karena itu, layanan kesehatan mental sangat dibutuhkan baik dalam proses persidangan, proses peradilan (di penjara), maupun proses reintegrasi saat individu tersebut kembali ke masyarakat. Akan tetapi hal tersebut belum tersedia secara memadai dan menjangkau seluruh pelaku kriminal dengan isu mental tertentu. Bahkan pada akhirnya mereka dimasukkan ke dalam penjara tanpa adanya fasilitas kesehatan mental yang memadai. Implikasinya, gangguan mental yang dialami tetap ada atau semakin parah dan program pembinaannya tidak berjalan dengan efektif. Dalam hal ini, peran layanan kesehatan mental forensik sangat krusial dalam penegakan keadilan, menjamin kesehatan jiwa pelaku kriminal, serta keamanan masyarakat. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut: (1) bagaimana gambaran gangguan mental/psikologis pada pelanggar hukum?; dan (2) bagaimana gambaran layanan kesehatan mental ditinjau dari peran, kualitas layanan, dan mekanisme layanannya dalam sistem peradilan?
Pengaruh Coping Terhadap Resiliensi Remaja Korban Pelecehan Seksual Online Naomi Soetikno; Haviza Anjani
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 2 No. 2 (2022): Volume 2. No 2. Tahun 2022
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v2i2.19

Abstract

Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja, termasuk di ranah digital (internet). Jumlah korban pelecehan seksual online tidak sedikit, bahkan dapat mengalami dampak psikologis (cemas, takut, depresi, dan trauma), menarik diri dari kehidupan sosial, dan kerugian ekonomi. Untuk dapat bangkit dari keterpurukan atau resilien akibat pelecehan seksual online diperlukan adanya coping dalam menghadapi masalah. Coping strategy memiliki dua bentuk, yakni problem-focused coping dan emotion-focused coping. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh coping terhadap resiliensi pada remaja korban pelecehan seksual online. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 100 remaja yang terdiri dari remaja laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 13 sampai 18 tahun yang pernah menjadi korban pelecehan seksual online. Alat ukur yang digunakan adalah translasi dari The Ways of Coping oleh Lazarus dan Folkman (1984) dan Resilience Quotient Test oleh Reivich dan Shatte (2002) dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menggunakan analisis regresi berganda menunjukkan bahwa strategi coping berpengaruh secara signifikan terhadap resiliensi pada remaja korban pelecehan seksual online (R2 = 56,9%). Problem-focused coping tidak berpengaruh secara signifikan (sig.= 0,225 > 0,05) terhadap resiliensi pada remaja korban pelecehan seksual online. Sedangkan, emotion-focused coping berpengaruh secara signifikan (sig.= 0,001 < 0,05) terhadap resiliensi pada remaja korban pelecehan seksual online.