cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
STATUS GIZI, ASUPAN MAKAN REMAJA AKHIR YANG BERPROFESI SEBAGAI MODEL Haq, Ana Betal; Murbawani, Etisa Adi
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.105 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6841

Abstract

Latar Belakang :Ketidakpuasan terhadap bentuk dan ukuran tubuh semakin sering dijumpai di kalangan remaja putri,khususnya di kalangan model. Masalah yang paling umum dihadapi oleh model yakni membatasi asupan jenis makanan tertentu untuk mendapatkan tubuh yang kurus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi, asupan makan  remaja putri usia 19-20tahun yang berprofesi sebagai model.Metode : Peneliti menggunakan deskriptif analitis. Penelitian ini diadakan pada 31 subyek remaja putri usia 19-20 tahun di managemen modeling school.Sampel diambil secara non probability sampling. Kriteria inklusi adalah sehat jasmani dan tidak sedang menjalani pengobatan tertentu. Data perilaku makan diperoleh dari Food Frequency Questionner (FFQ). Analisis data dengan menggunakan Nutrisurvey untuk memperoleh hasil asupan karbohidrat, protein, dan lemak dari subyek.Hasil : Subyek sebanyak (80,6%) dengan status gizi kurang, asupan karbohidrat, protein dan lemak belum sesuai dengan AKG. Sebanyak  (12,9 %) dengan status gizi normal Asupan protein sesuai dengan AKG namun karbohidrat dan lemak tidak sesuai AKG. Sebanyak (6,45%) status gizi normal asupan karbohidrat sesuai namun protein dan lemak belum sesuai dengan AKG.Simpulan : Asupan remaja akhir yang berprofesi sebagai model belum baik, dan sebagian remaja akhir memiliki status gizi kurang.
PENGARUH BUBUK DAUN KENIKIR (Cosmos caudatus) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHYDE PLASMA TIKUS WISTAR DIABETES DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN Suhardinata, Fredian; Murbawani, Etisa Adi
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.746 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10164

Abstract

Latar Belakang: Komplikasi vaskular diabetes terjadi akibat meningkatnya pembentukan radikal bebas sehingga menyebabkan stress oksidatif. Parameter tingkat stress oksidatif paling stabil adalah malondialdehyde (MDA). Stress oksidatif dapat dikendalikan dengan meningkatkan konsumsi antioksidan nonenzimatik. Daun kenikir memiliki zat antioksidan nonenzimatik potensial golongan flavonoid yaitu kuersetin. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh bubuk daun kenikir terhadap kadar malondialdehyde plasma tikus Wistar diabetes diinduksi streptozotocin.Metode: Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan post-test only randomized control group design. Subjek penelitian yaitu 21 ekor tikus Wistar jantan dibagi menjadi 3 kelompok, K+, P1, dan P2. Seluruh kelompok diinduksi streptozotocin 65 mg/kg dan nicotinamide 230 mg/kg, kelompok perlakuan diberi bubuk daun kenikir dosis 700 mg/200gBB/hari dan 1400 mg/200gBB/hari selama 21 hari. Pemeriksaan kadar MDA plasma dengan metode 2-Thiobarbituric Acid Reactive Substance (TBARS). Data dianalisis menggunakan uji One Way Anova dan Post-hoc LSD.Hasil: Dosis 700 mg (P1) dan 1400 mg (P2) bubuk daun kenikir mampu menurunkan kadar MDA plasma tikus Wistar diabetes diinduksi streptozotocin (p<0,05). Rerata kadar MDA plasma kelompok kontrol positif sebesar 7,7±0,61, perlakuan 1 sebesar 6,1±0,58 dan perlakuan 2 sebesar 2,8±0,50. Secara statistik terdapat perbedaan rerata kadar MDA plasma antar kelompok (p<0,05).Simpulan: Bubuk daun kenikir dosis 700 mg/200gBB/hari dan 1400 mg/200gBB/hari selama 21 hari mampu menurunkan kadar MDA plasma tikus Wistar diabetes diinduksi streptozotocin. Dosis 1400 mg/200gBB/hari bubuk daun kenikir lebih efektif menurunkan kadar MDA plasma. 
HUBUNGAN KONSUMSI CAIRAN DENGAN STATUS HIDRASI PADA PEKERJA INDUSTRI LAKI-LAKI Andayani, Khairunissa; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.433 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3738

Abstract

Latar Belakang : Pekerja industri merupakan populasi yang paling sering melakukan kegiatan fisik di lingkungan panas dalam waktu yang lama sehingga berpotensi untuk mengalami dehidrasi karena kehilangan cairan akibat peningkatan pengeluaran air melalui keringat dan pernapasan. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan cairan pada pekerja meningkat. Padahal beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi cairan pada pekerja masih kurang memenuhi kebutuhan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan konsumsi cairan dengan status hidrasi pada pekerja industri laki-laki.Metode : Penelitian Observasional dengan desain cross sectional, bertempat di PT Komatsu Indonesia Jakarta dengan jumlah sampel 73 subjek yang dipilih dengan simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik subjek, status gizi, suhu dan kelembaban lingkungan kerja, konsumsi cairan, gejala dehidrasi, dan status hidrasi. Konsumsi cairan diukur dengan menggunakan recall selama 3x24 jam dan status hidrasi diketahui dengan pemeriksaan berat jenis urin. Gejala dehidrasi diukur dengan kuesioner. Hasil : Pada penelitian ini ditemukan sebanyak 2,7% pekerja mengonsumsi cairan 6,0-7,9 liter per hari, 53,4% mengonsumsi cairan 4,0-5,9 liter per hari, dan 43,9% mengonsumsi cairan 2,0-3,9 liter per hari (rerata total konsumsi cairan 4208,05 ± 790,78 ml dan kebutuhan cairan 6000-8000 ml). Hanya 28,8% pekerja yang memiliki status hidrasi baik. Sisanya ditemukan mengalami pre-dehidrasi (dehidrasi ringan 37,0% dan dehidrasi sedang 15,1%), sedangkan yang mengalami dehidrasi sebesar 19,2%. Konsumsi cairan berhubungan dengan status hidrasi (r = - 0,319 dan p = 0,006). Status gizi tidak berhubungan dengan status hidrasi (r = 0,212 dan p = 0,072). Simpulan : Terdapat hubungan konsumsi cairan dengan status hidrasi pada pekerja industri laki-laki.
KADAR SENG SERUM DAN RASIO MOLAR FITAT:SENG PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI PESISIR KOTA SEMARANG Albab, Ulil; Kusumastuti, Aryu Candra; Rustanti, Ninik
Journal of Nutrition College Vol 6, No 4 (2017): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.216 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i4.18786

Abstract

Background: School-age children are at risk of zinc deficiency which can be identified by measuring serum zinc levels. Zinc intake, in particular, strongly affects zinc absorption and consequently alters serum zinc concentration. Phytate is the strongest inhibitor of zinc absorption. The scale of its inhibitory ability can be measured through phytate:zinc molar ratio. This study aimed to describe phytate:zinc molar ratio in school-age children in coastal area of Semarang.Method: This was a cross-sectional study on 50 samples of children aged 9-12 years chosen by non probability sampling from several elementary schools in Semarang. Observed data include subject characteristics, zinc intake, phytate intake, and serum zinc levels. Participants' intake was assessed using 3x24 hour food recall and food record, while serum zinc levels were evaluated through Atomic Absorbant Spechtrophotomety (AAS) methods. Data was analyzed by Pearson’s test.Result: The mean serum zinc level was 93,85±22,99 µg/dl, with a phytate:zinc molar ratio of 14,48±4,23. Only 14% of the subjects had low zinc serum levels, but there was 46% with low zinc absorption rates according to their molar ratio of phytate:zinc. No significant correlation was detected between phytate:zinc molar ratio and serum zinc levels (p=0,427). Conclusion: Low zinc serum levels was found in 14% of the subjects while 46% had low zinc absorption rate. No significant correlation was detected between phytate:zinc molar ratio and serum zinc levels.
PENGARUH PEMBERIAN JUS DAUN UBI JALAR (Ipomoea batatas (L.) Lam) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN (Rattus norvegicus) YANG DIBERI PAKAN TINGGI LEMAK Octavia, Zana Fitriana; Widyastuti, Nurmasari
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.465 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6889

Abstract

Latar Belakang : Kadar trigliserida yang tinggi erat kaitannya dengan penyakit kardiovaskuler. Asupan makanan yang mengandung serat dan antioksidan dapat menangkal pembentukan plak yang menyebabkan timbulnya aterosklerosis yang berdampak pada penyakit kardiovaskuler. Daun ubi jalar mengandung beberapa zat gizi dan senyawa fitokimia seperti serat, vitamin C dan flavonoid  yang berperan dalam menurunkan kadar trigliserida dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus daun ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) terhadap kadar trigliserida tikus wistar jantan (Rattus norvegicus) yang diberi pakan tinggi lemak.Metode : Jenis penelitian ini adalah true-experimental dengan rancangan pre-post test with  control group design. Subjek penelitian yang digunakan adalah tikus wistar jantan  yang berusia 8-12 minggu dengan berat rata rata 150-200 gram dan kondisi sehat. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok dengan metode simple randomization, yang terdiri atas kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok terdiri dari 6 subjek. pada kelompok kontrol diberi pakan standar, sedangkan kelompok perlakuan diberi pakan standar dan jus daun ubi jalar dengan dosis 0,006 ml/ gr BB tikus selama 14 hari. Kadar trigliserida ditentukan secara enzimatik dengan metode GPO-PAP. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test dan independent t-test.Hasil : Kadar trigliserida pada kedua kelompok setelah intervensi mengalami peningkatan. Rerata peningkatan kadar trigliserida pada kelompok kontrol sebesar 12,28 mg/dl sedangkan pada kelompok perlakuan terjadi peningkatan rerata kadar trigliserida darah sebesar 2,15 mg/dl. Tidak ada perbedaan yang signifikan (p>0,05) pada perubahan kadar trigliserida antar kelompok.Kesimpulan : Pemberian jus daun ubi jalar dengan dosis 0,006 ml/ gr BB tikus selama 14 hari kurang efektif dalam menurunkan kadar trigliserida pada tikus wistar jantan yang diberi pakan tinggi lemak tetapi berpotensi menghambat kenaikan kadar trigliserida.
KEPATUHAN KONSUMSI TABLET BESI FOLAT PADA IBU HAMIL DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Rahmawati, Febriana; Subagio, Hertanto Wahyu
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.651 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.439

Abstract

Backgrounds : Anemia in pregnant women can effect maternal death, increased fetal morbidity and mortality. Iron supplementation programs should have a high success rate because the iron folate tablets are easily available and free of charge. But in reality. the compliance rate of iron folate tablets is still lowPurpose: analyze compliance rate of iron folate tablets in pregnant women at Puskesmas Halmahera and the factors influenced.Method: An analytic observational research with cross-sectional design. The subjects in this study is 56 pregnant women who went on Puskesmas Halmahera. Subject was taken by consecutive sampling technique with the criteria pregnant women trimester 2 and 3. Compliance data, knowledge, education, family support and health care obtained through interviews with a questionnaire. Normality of data was tested using Kolmogorov-Smirnov. Bivariate analyzes performed using Rank Spearman testResult: there is a association between knowledge scores with compliance (r = 0.370, p = 0.005), there is no significant association between education level and compliance (r = 0.032, p = 0.817 there is no significant association between family support and compliance (r = 0.216, p = 0.115) and there is no significant association between health service and compliance (r = 0.217, p = 0.108)Conclusion: more than a half of respondents (58,9%) did not comply consume iron folate tablets. Based on the data can be seen that the knowledge is the most influental factor.
RESISTENSI INSULIN PADA REMAJA PUTRI STUNTED OBESITY DI PEDESAAN BANGSRI KABUPATEN JEPARA Luthfiah, Nita Hasna; Sulchan, Muhammad
Journal of Nutrition College Vol 5, No 3 (2016): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.515 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i3.16384

Abstract

Latar belakang: Stunted  adalah masalah kurang gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu lama. Kondisi ini menyebabkan beberapa perubahan metabolik sehingga remaja stunted cenderung mengalami obesitas. Obesitas pada remaja dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan metabolik termasuk resistensi insulin dan diabetes mellitus tipe 2. Intoleransi glukosa ialah salah satu tanda awal. HbA1c digunakan sebagai alat identifikasi adanya intoleransi glukosa akibat resistensi insulin.Metode: Skrining dilakukan pada 1002 remaja putri di SMP dan MTS Desa Bangsri Kabupaten Jepara. Penelitian  observasional dengan desain case control. Kelompok  kasus yaitu 20 remaja putri stunted obesity, dan  kelompok kontrol 20 remaja putri stunted non obesity. Dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan,, lingkar pinggang kadar dan HbA1c. Analisis data menggunakan independent t-test.Hasil: Rata-rata kadar HbA1c remaja putri stunted obesity 5,2% dan non stunted obesity 5,1%. Dua orang (10%) dari kelompok kasus memiliki kontrol glikemik sedang.Simpulan: Angka kejadian  obesitas lebih tinggi pada pada remaja putri stunted  dibandingkan dengan non-stunted.  Kadar HbA1c remaja putri stunted obesity lebih tinggi dari non stunted obesity.
PENGARUH PEMBERIAN SNACK BAR KEDELAI TERHADAP KADAR KOLESTEROL LDL DAN HDL WANITA HIPERKOLESTEROLEMIA Setyaningsih, Aryanti; Pramono, Adriyan
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.005 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4533

Abstract

Latar Belakang: Kedelai (hitam dan kuning) mengandung antosianin dan isoflavon yang dapat menurunkan kadar kolesterol LDL dan meningkatkan kadar kolesterol HDL. Selain itu ubi jalar ungu juga mengadung antosianin. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian snack bar ubi jalar ungu dicampur kedelai terhadap kadar kolesterol LDL dan HDL pada wanita hiperkolesterolemia. Metode: Desain peneitian ini  adalah quasi-experimental dengan pre-post test control group design. Subyek penelitian adalah wanita dewasa dengan kadar kolesterol LDL > 130 mg/dl dan kadar kolesterol HDL < 50 mg/dl yang dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok kontrol tidak diberi snack bar, kelompok 1 diberikan snack bar kedelai hitam, dan kelompok 2 diberikan snack bar kedelai kuning. Snack bar yang diberikan sebanyak 2 buah snack (40g) selama 28 hari. Asupan makan dipantau dengan metode food recall 24 jam. Kadar kolesterol LDL dan HDL diukur sebelum dan sesudah intervensi. Data yang diperoleh dianalaisis menggunakan paired t-test, fisher’s exact, dan annova . Hasil: Terdapat penurunan kadar kolesterol LDL 6,47% pada konsumsi snack bar kedelai hitam dan penurunan kadar kolesterol LDL 13,02% pada konsumsi snack bar kedelai kuning. Pada kelompok kontrol terjadi peningkatan kadar kolesterol LDL sebesar 2,25%. Tidak terdapat peningkatan kadar kolesterol HDL pada kedua kelompok perlakuan dan kontrol. Ada perbedaan penurunan kadar LDL hanya pada kelompok snack bar kedelai kuning (p=0,049).Kesimpulan: Penurunan kadar kolesterol LDL karena pemberian snack bar kedelai,  terutama snack bar kedelai kuning yang paling banyak menurunkan kadar kolesterol LDL dengan pemberian 80 g/hari selama 28 hari.
Kadar Serum Selenium Pada Remaja Akhir Usia 17-19 Tahun Berdasarkan Status Obesitas dan Stunting Hidayat, Yusuf; Sulchan, Mohammad; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 7, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.268 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v7i4.22279

Abstract

Latar Belakang : Remaja yang obesitas dan stunting ditemukan mengalami penurunan kadar selenium di tubuh. Penurunan kadar selenium berdampak terhadap kejadian stress oksidatif yang merupakan prekursor berbagai masalah kesehatan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan kadar serum selenium pada remaja akhir usia 17-19 tahun berdasarkan status obesitas dan stunting.Metode : Penelitian cross-sectional ini dilakukan pada 88  remaja usia 17-19 tahun yang dibagi dalam 4 kelompok berdasarkan status obesitas dan stunting. Obesitas ditentukan dengan nilai WHtR >0.5 untuk perempuan dan >0.51 untuk laki-laki. Stunting ditentukan dengan TB/U >-2 SD. Kadar serum selenium ditentukan menggunakan ICP-OES. Perbedaan kadar serum selenium dianalisis dengan uji Annova.Hasil : Rerata kadar serum selenium pada kelompok stunted-obesity sebesar 277,5±96,4, stunted-non obesity 418±93,4, non stunted-obesity 304±64,9, dan non stunted-non obesity 330±112,2. Terdapat perbedaan signifikan kadar serum selenium pada kelompok.Simpulan : Kadar serum selenium pada seluruh kelompok tergolong lebih tinggi dibanding nilai normal. Kelompok stunted-obesity dan non stunted-obesity memiliki kadar serum selenium yang lebih rendah dibanding kelompok non stunted-non obesity, sedangkan kelompok stunted-non obesity memiliki kadar selenium serum yang lebih tinggi dibanding kelompok non stunted-non obesity.
PERBEDAAN AKTIVITAS FISIK INTENSITAS BERAT, ASUPAN ZAT GIZI MAKRO, PERSENTASE LEMAK TUBUH, DAN LINGKAR PERUT ANTARA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI DAN ADMINISTRASI PT. PUPUK KUJANG CIKAMPEK Aziza, Zeza; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 4, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.358 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i2.10051

Abstract

Latar Belakang : Pekerja bagian produksi mempunyai beban kerja berat dibandingkan pekerja bagian administrasi. Beban kerja akan mempengaruhi aktivitas fisik dan asupan zat gizi pekerja yang dapat menyebabkan risiko terjadinya masalah status gizi pekerja. Tujuan : Menganalisis perbedaan aktivitas fisik intensitas berat, asupan zat gizi makro, persentase lemak tubuh, dan lingkar perut antara pekerja bagian produksi dan pekerja bagian administrasi.Metode : Jenis penelitian adalah analitik observasional cross sectional. Subjek penelitian adalah pekerja laki-laki usia 20-40 tahun.  Subjek diambil dengan cara purposive sampling, besar subjek penelitian adalah 35 orang pekerja administrasi dan 35 orang pekerja produksi. Data yang dikumpulkan adalah identitas sampel, persentase lemak tubuh, lingkar perut, asupan zat gizi makro dengan FFQ, dan aktivitas fisik menggunakan kuesioner. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Analisis statistik menggunakan independent t-test dan Mann-Whitney.Hasil : Rerata aktivitas fisik intensitas berat  (5.88±5.82) lebih besar pada kelompok produksi. Rerata asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat lebih tinggi pada kelompok produksi dibandingkan kelompok administrasi. Persentase lemak tubuh dan lingkar perut pada kedua kelompok sebagian besar dalam kategori normal dan lebih. Terdapat perbedaan bermakna aktivitas fisik intensitas berat (p=0.000), asupan energi (p=0.015) dan asupan lemak (p=0.030), namun tidak ada perbedaan bermakna persentase lemak tubuh (p=0.676), lingkar perut (p=0.417), asupan protein (p=0.057), dan karbohidrat (p=0.074) pada kedua kelompok pekerja.Simpulan : Terdapat perbedaan pada aktivitas fisik intensitas berat, asupan energi, dan asupan lemak antara pekerja administrasi dan pekerja produksi. Aktivitas fisik intensitas berat, asupan energi dan asupan lemak lebih tinggi pada pekerja produksi dibandingkan pekerja administrasi.