cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 221 Documents
PERBEDAAN PENGGUNAAN KONSENTRASI LARUTAN ASAM SITRAT DALAM PEMBUATAN GELATIN TULANG RAWAN IKAN PARI MONDOL (Himantura gerrardi) Santoso, Candra; Surti, Titi; Sumardianto, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.918 KB)

Abstract

Gelatin merupakan protein hasil hidrolisis kolagen tulang dan kulit. Gelatin memiliki sifat yang khas, yaitu berubah secara reversible dari bentuk sol ke bentuk gel. Konsentrasi Asam Sitrat dapat mempengaruhi mutu gelatin. Penggunaan asam yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan kolagen yang terdapat di dalam tulang tidak dapat berubah menjadi gelatin. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan larutan Asam Sitrat terhadap karakteristik gelatin tulang rawan ikan Pari Mondol dan mengetahui konsentrasi terbaik Asam Sitrat yang ditambahkan pada proses pembuatan gelatin tulang rawan ikan Pari Mondol. Metode penelitian ini menggunakan  Rancangan Acak Lengkap.  Perlakuan  yang diterapkan yaitu perendaman tulang ikan Pari dengan Asam Sitrat 4%, 5%, 6% dan tanpa perlakuan asam sitrat (kontrol) selama 48 jam. Parameter utama yang diamati adalah kekuatan gel, viskositas, pH, dan kadar air, sedangkan parameter pendukung adalah kadar protein, kadar lemak, dan kalsium. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan Asam Sitrat pada pembuatan gelatin tulang ikan Pari Mondol terdapat pengaruh perbedaan  nyata (P<0,05) terhadap nilai kekuatan gel, viskositas, pH, kadar air, kadar protein, kadar lemak, dan kalsium. Konsentrasi Asam Sitrat 4% merupakan perlakuan konsentrasi yang terbaik dengan kriteria mutu: kekuatan gel 103,03 g.bloom; viskositas 4,74 (cP); pH 5,79%; kadar air 8,07%; kadar protein 76,49%; kadar lemak 0,59%; dan kalsium 3,26%. Gelatin is a protein hydrolysis from bone collagen and skin. Gelatin has distinctive characteristics, namely a reversible change from sol to form a gel. Citric Acid concentration can affect the quality of gelatin.The use of acid that is too high can lead the collagen contained in the bone can not be transformed into gelatin. The purpose of this study was to determine the effect of adding solution of Citric Acid on the characteristics of Stingrays cartilage gelatin and determine the best concentration of Citric Acid was added to the gelatin manufacturing process Stingrays cartilage gelatin. The research used was Completely Randomized Design. Treatment applied was immersion Stingrays cartilage with Citric Acid 4 % , 5 % , 6 %, and without citric acid treatment (control) for 48 hours.  The main parameters measured were gel strength, viscosity , pH, and moisture content while supporting parameters are the protein content, fat content, and calcium. The results showed that the use of Citric Acid in the manufacture of Stingrays cartilage gelatin significant effect (P < 0.05) to the value of gel strength, viscosity, pH, moisture content, protein content, fat content, and calcium. Citric Acid 4% concentration was the best treatment of concentration with the quality criteria: gel strength 103,03 g.bloom; 4,73 viscosity (cP); pH of 5,793%; moisture content of 8.073%; protein content of 76,49%; fat content of 0.59%; and 3.263% calcium. 
EKSTRAKSI KLOROFIL DAN KAROTENOID SEBAGAI PIGMEN DARI LAMUN (Thalassia hemprichii) DARI PERAIRAN YANG BERBEDA Devi, Ardila Prasinta; Agustini, Tri Winarni; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 3 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan pewarna alami pada makanan biasanya terkendala oleh sifatnya yang mudah rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren penurunan pigmen klorofil dan karotenoid pada T. hemprichii dari kondisi perairan yang berbeda. Materi yang digunakan adalah lamun        (T. hemprichii) sebagai bahan baku yang diambil di Pantai Binangun, Rembang dan Pulau Panjang, Jepara. Parameter yang di uji adalah kandungan kualitatif pigmen, uji tren penurunan pigmen, klorofil a, klorofil b dan karotenoid terhadap kondisi penyimpanan, sinar matahari, dan oksidator dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian pendahuluan didapatkan bahwa pelarut yang cocok digunakan dalam ekstraksi adalah metanol. Hasil yang didapat dari uji KLT bahwa sampel menghasilkan 3 spot yang menunjukkan bahwa spot tersebut adalah klorofil a, klorofil b, dan karotenoid, dengan nilai Rf masing-masing 0.63, 0.46, 0.87 dari Rf literatur 0.66, 0.47, 0.88. Kualitas pigmen yang dihasilkan pada perairan Pulau Panjang, Jepara lebih baik jika dibandingkan dengan yang berasal dari perairan Binangun, Rembang. Hal ini dapat dilihat dari kenampakan daun lamun Pulau Panjang lebih hijau dan dari Binangun yang berwarna pucat serta kualitas perairan yang lebih jernih dan tingkat pencemaran masih rendah. Hasil uji kuantitatif juga menunjukkan bahwa Pulau Panjang lebih bagus dibandingkan dengan perairan Binangun dengan nilai kadar klorofil a, klorofil b dan karotenoid yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil uji kandungan pigmen terhadap kondisi penyimpanan, sinar matahari, dan suhu menunjukkan bahwa semakin lama suatu pigmen terpapar oleh kondisi lingkungan maka kandungan nilainya juga semakin menurun.
MINYAK BIJI ANGGUR SEBAGAI BAHAN PEMINYAKAN PADA PROSES PENYAMAKAN KULIT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) TERHADAP KUALITAS FISIK Ferdianto, Richki; Riyadi, Putut Har; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 3 (2016): Wisuda Periode Bulan Agustus 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.645 KB)

Abstract

Peminyakan merupakan bagian dari proses penyamakan kulit yang bertujuan menempatkan molekul minyak pada serat-serat kulit dan berfungsi sebagai pelumas. Proses peminyakan dapat menggunakan berbagai macam minyak, salah satu nya minyak biji anggur. Minyak biji anggur memiliki kandungan asam lemak tak jenuh linoleat yang tinggi yang dapat memeberikan kelemasan kulit. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan konsentrasi optimal minyak biji anggur dalam proses penyamakan kulit ikan nila terhadap kualitasnya. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit ikan nila yang diperoleh dari PT Aquafarm Semarang dan minyak biji anggur diperoleh dari PT Prambanan. Rancangan penelitian menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali pengulangan dimana konsentrasi digunakan adalah 15%, 20% dan 25% dan Minyak sandolix WWL 4% sebagai kontrol. Parameter pengujian yang dilakukan adalah kuat tarik, kemuluran, kekuatan sobek, kelemasan, kadar air dan kadar lemak. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan minyak biji anggur  dengan konsentrasi berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, kelemasan dan kadar lemak sedangkan kadar air tidak menunjukkan perbedaan nyata. Perlakuan dengan konsentrasi 20% minyak biji anggur merupakan produk yang terbaik dengan kriteria mutu kekuatan tarik (1966,132 N/cm2), kemuluran (75,48%), kekuatan sobek (294,821 N/cm2),  kelemasan (3,63 mm), kadar air (17,177%) dan kadar lemak (4,293%).
PENGARUH EKSTRAK LIDAH BUAYA (Aloe vera) SEBAGAI ANTIOKSIDAN TERHADAP OKSIDASI LEMAK FILLET IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk) SEGAR SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Putri, Adinda Gadis Sukmawijaya; Agustini, Tri Winarni; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.396 KB)

Abstract

Fillet adalah salah satu produk perikanan yang mempunyai sifat mudah rusak. Kandungan asam lemak tak jenuhmya mudah mengalami proses oksidasi lemak, maka diperlukan cara pengawetan fillet ikan segar yang aman bagi masyarakat yaitu dengan pemanfaatan bahan alami menggunakan Lidah Buaya (Aloe vera). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek ekstrak Lidah Buaya dengan konsentrasi yang berbeda dalam menghambat oksidasi lemak pada fillet ikan Bandeng. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fillet ikan Bandeng dan Lidah Buaya. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola Split Plot in Time dengan sub plot adalah konsentrasi ekstrak Lidah Buaya  (0 ppm, 15 ppm, 20 ppm, dan 25 ppm) dan main plot adalah lama penyimpanan (pengamatan hari ke-0, 3, 6, dan 9). Data nilai organoleptik dianalisis dengan uji Kruskall-Wallis. Data angka peroksida, nilai TBA, dan pH dianalisis menggunakan uji ANOVA dan Uji Berbeda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian pendahuluan didapatkan nilai antioksidan IC50 Lidah Buaya adalah 13,08 ppm. Hasil penelitian utama didapatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak Lidah Buaya dan semakin lama penyimpanan maka semakin meningkat nilai PV, TBA, dan pH. Pada konsentrasi 20 ppm dan 25 ppm proses oksidasi berjalan lebih lambat karena nilai PV, TBA, dan pH lebih rendah dibanding konsentrasi 0 ppm dan 15 ppm. Nilai organoleptik fillet ikan bandeng dengan konsentrasi 20 ppm dan 25 ppm masih dibawah batas penerimaan sampai hari ke-9 penyimpanan. Interaksi antara konsentrasi ekstrak Lidah Buaya yang berbeda dengan lama penyimpanan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap nilai PV, nilai TBA, dan organoleptik (kenampakan, bau, dan tekstur). Konsentrasi 20 ppm merupakan konsentrasi terbaik ekstrak Lidah Buaya dalam menghambat oksidasi lemak berdasarkan nilai PV, TBA, pH dan nilai organoleptik. Fish fillet is one of fishery products which has nature of easily damaged. The content of unsaturated fatty acids of fish fillet susceptible to lipid oxidation, so it is necessary to preserve fresh fish fillets are safe for consumer by using natural substance such as Aloe Vera. The aim of this research was to find out the effects of Aloe Vera extract with different concentrations to inhibiting lipid oxidation process in fillet of milkfish. The material used in this research was the fillet of milkfish and Aloe Vera extract. The method used was a randomized block design (RBD) pattern Split Plot in Time with sub plot was Aloe Vera extract concentration (0 ppm. 15 ppm. 20 ppm. and 25 ppm) and main plot was the storage time (observation days 0. 3. 6, and 9).  The organoleptic data was analysed by using Kruskall-Wallis. The data of PV, TBA and pH were analysed by using ANOVA and Honestly Significant Different (HSD). The result of primary research showed that the Aloe vera antioxidant IC50 was 13.08 ppm. The result of main research showed that the higher concentrations of Aloe Vera extract and the longer storage time caused increase value of PV. TBA. and pH. At concentrations 20 ppm and 25 ppm the rate of oxidation process slower compared to that of 0 ppm and 15 ppm. Organoleptic value of milkfish fillet with a concentration of 20 ppm and 25 ppm is still below the limit of acceptance until the 9 days of storage. Interaction between different concentrations of extracts of Aloe Vera extract and storage time gare significant effect (P<0.05) on the value of PV. TBA and organoleptic (appearance, odour, and texture).  Concentration of 25 ppm was considered as the best concentration of Aloe Vera extract to inhibit lipid oxidation based on the value of PV. TBA. pH and organoleptic.
KAJIAN POTENSI EKSTRAK ANGGUR LAUT (Caulerpa racemosa) SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus Marfuah, Isnaini; Dewi, Eko Nurcahya; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 7, No 1 (2018): JANUARI 2018
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.931 KB)

Abstract

C. racemosa merupakan salah satu jenis makroalga yang berpotensi sebagai antibakteri. Senyawa bioaktif pada anggur laut C. racemosa seperti senyawa tannin, fenol, flavonoid, alkaloid berpotensi sebagai senyawa antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa bioaktif yang terkandung pada anggur laut dan pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak kasar anggur laut terhadap zona hambat bakteri E. coli dan S. aureus. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini yaitu model Rancangan Acak Lengkap (RAL). Parameter pengujian pada penelitian ini meliputi uji fitokimia kuantitatif yang dilakukan pada ketiga jenis ektrak anggur laut pelarut etanol, etil asetat, dan n-hexane. Pengujian zona hambat anggur laut menggunakan metode difusi sumuran dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 5%, 10%, dan 15% dengan tiga kali ulangan. Data diameter zona hambat dianalisis menggunakan uji ANOVA dan apabila terdapat perbedaan antar perlakuan, maka dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil uji fitokimia kuantitatif terbaik didapatkan pada senyawa tannin ekstrak kasar etanol anggur laut yaitu sebesar 5,65%, fenol 5,30%, flavonoid 1,70%, alkaloid 0,20%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol anggur laut merupakan ekstrak terbaik. Pengujian zona hambat antibakteri ekstrak anggur laut terhadap bakteri E. coli didapatkan diameter zona hambat tertinggi pada konsentrasi 15% 6,95±0,28 mm dan terendah pada konsentrasi 5% 3,53±0,28 mm. Pada bakteri S. aureus didapatkan diameter zona hambat tertinggi pada konsentrasi 15% 9,00±0,25 mm dan terendah pada konsentrasi 5% 6,92±0,21 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak anggur laut memberikan pengaruh terhadap diameter zona hambat bakteri E. coli dan S. aureus.
Aplikasi Karagenan Sebagai Emulsifier Pada Sosis Segar Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) Putra, Aditya Cahya; Ibrahim, Ratna; anggo, apri dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 1(2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One function is to carrageenan as emulsifier to improve the stability of the emulsion on the sausage.The purpose of this study was to determine the effect of the addition of carrageenan as an emulsifierwith different percentages of the quality of sausage as well as finding the best percentage ofcarrageenan were added in the process of making sausage. The benefits of this research is to provideinformation about the percentage of carrageenan for the best quality. The materials used are tilapiaand carrageenan. This research is experimental laboratories. Experimental design used wasRandomized Block Design with four treatments, the dough sausage without the addition ofcarrageenan 0% (control), batter sausage with the addition of carrageenan 3.5%, 4,0%, 4,5%. Thevariables measured were emulsion stability, gel strength, hedonic, moisture content, protein contentand fat content. Data were analyzed with parametric tests of variance and Data Real Honest. As forthe hedonic test using Kruskall Wallis test followed by Multiple Comparison Test. The results showedthat the addition of carrageenan to the sausage mixture causes the average value of emulsion stability,gel strength, hedonic, protein content and higher fat content is very noticeable compared to thesausage without the additionof carrageenan. The addition of 4% carrageenan in sausage batter tilapiaproduced the best emulsion stability (84.92%), gel strength (2871.93 gfcm), moisture content(70.05%), protein content (25.84%), fat content (16.51%) and the hedonic value of > 7,0 (preferablypanelists).
PENGARUH FREKUENSI PENCUCIAN YANG BERBEDA TERHADAP KUALITAS BAKSO IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus) Cahyaningrum, Dianita; Agustini, Tri Winarni; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.023 KB)

Abstract

Ikan Gabus merupakan ikan yang kaya protein albumin. Albumin ini sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk perkembangan sel, pembentukan jaringan sel baru, sebagai transportasi obat-obatan dan lain sebagainya. Pengolahan terhadap ikan Gabus perlu dilakukan salah satu olahan yang dapat dilakukan adalah bakso ikan. Adanya pencucian pada pembuatan bakso ikan diharapkan mampu meningkatkan kualitas bakso ikan Gabus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pencucian terhadap kualitas bakso ikan Gabus dan untuk mengetahui sejauh mana pengurangan kadar albumin sebagai akibat proses pencucian pada pembuatan bakso ikan serta memperoleh frekuensi pencucian yang tepat dan efektif, sehingga menghasilkan bakso dengan kualitas paling baik.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan frekuensi pencucian yang berbeda dengan 4 taraf (tanpa pencucian, satu kali, dua kali, dan tiga kali pencucian). Parameter yang diuji adalah kekuatan gel, kadar protein, air, abu, albumin dan organoleptik.Hasil penelitian menunjukkan frekuensi pencucian berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap parameter kekuatan gel, kadar protein, kadar air, kadar abu dan kadar albumin. Bakso ikan Gabus dengan frekuensi pencucian satu kali (L1) merupakan bakso ikan Gabus dengan perlakuan terbaik karena memenuhi standar SNI 7266-2014 tentang bakso ikan dengan kriteria mutu kadar protein 16,55% ± 0,28; kadar air 64,30% ± 0,18; kadar abu 1,74% ± 0,04 dengan nilai organoleptik sebesar 8,05. Bakso ikan Gabus dengan pencucian satu kali memiliki nilai kekuatan gel 2196,47 ± 6,01 g.cm dan kadar albumin 2,58 % ± 0,03. Adanya proses pencucian mengakibatkan pengurangan kadar albumin sebesar 12% (L1), 36% pada (L2) dan pada (L3) mengalami pengurangan sebesar 42%, hal tersebut jika dibandingkan dengan bakso ikan tanpa perlakuan pencucian (L0).Snakehead fish is rich in albumin protein. The albumin protein is important for cell development, formation of new cell tissue, transport of medicine in the blood and so forth. One of the method to process snakehead fish is by processing it into fishballs. The existence of leaching on making fishballs is expected to improve the quality of fishballs, in the contrary leaching will reduce the amont of albumin. Therefore, this study was aimed to determine the effect of leaching frequency on quality of fishballs Snakehead, to determine the extent of the reduction of albumin as a effect of the leaching process in the making of fishballs and the best and effective treatment of leaching which results in best quality of fishball. This study was designed using a completely randomized design (CRD) with different leaching frequency treatment in 4 levels (without washing, once, twice and three times leaching). The parameters observed include gel strength, protein content, moisture content, ash content, albumin content and organoleptic.The results showed that the frequency of washing gave significant effect (P < 0.05) to gel strength parameters, albumin, moisture content, protein content and ash content. Snakehead fishballs with one leaching frequency (L1) is a best treatment which results in good quality of Snakehead fishballs and comply with Indonesia National Standard 7266-2014 standards of fishballs with quality criteria of protein content 16.55% ± 0.28; moisture content 64.30% ± 0.18; ash content 1.74% ± 0.04; and sensory 8.05. Snakehead fishballs with one time washing (L1) have gel strength value of 2196.47 ± 6.01 g.cm; albumin 2.58 % ± 0.03. The existence of the washing process has resulted in reduction of albumin by 12%, 36%, 42% for L1, L2, and L3 respectively compared to that of control (without washing).
ANALISA KADAR HISTAMIN DAN KUALITAS IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) ASAP DENGAN METODE PENGASAPAN YANG BERBEDA Patria, Liberta Ibi; Riyadi, Putut Har; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 3 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) banyak dimanfaatkan masyarakat karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Namun, ikan tongkol mengandung histidin bebas yang tinggi pula sehingga sering dikaitkan dengan kasus keracunan histamin akibat dekarboksilase histidin oleh bakteri. Dalam proses pengasapan, terbentuk senyawa fenol yang bersifat bakteriostatis tinggi sehingga menyebabkan bakteri tidak dapat berkembang biak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pengasapan yang berbeda terhadap kualitas dan kadar histamin ikan tongkol asap dan melihat potensi metode pengasapan yang berbeda dalam menjaga kualitas dan kandungan histamin ikan asap yang dihasilkan. Penelitian menggunakan metode eksperimental lapangan dengan uji statistik independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan kadar histamin sebesar 2,103 mg/100g (T) dan 2,270 mg/100g (Sc). Kadar air sebesar 61,69% (T) dan 60,91% (Sc). Nilai organoleptik dan nilai kadar fenol yaitu (T) 7,923 ≤ μ ≤ 7,937 dan 1628 mg/kg sedangkan (Sc) 8,057 ≤ μ ≤ 8,063 dan 818 mg/kg. Nilai pH sebesar (T) 5,85 dan (Sc) 5,79. Sementara untuk ALT keduanya bernilai < 2,5 x 103 cfu/g. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dari segi organoleptik kedua produk dapat diterima panelis dan sesuai dengan SNI, namun kadar air dan fenol produk berada di atas standar, sementara kadar histamin berada dalam batas aman. 
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn.) TERHADAP WARNA DAN KUALITAS PADA TERASI UDANG REBON (Acetes sp.) Sanjaya, Yulian Dani; Sumardianto, Sumardianto; Riyadi, Putut Har
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 2 (2016): Wisuda Periode Bulan April 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.658 KB)

Abstract

Terasi merupakan produk tradisional perikanan. Terasi bisa terbuat dari ikan, udang, ataupun campuran keduanya, tetapi konsumen cenderung lebih menyukai terasi udang karena memiliki warna yang menarik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan ekstrak rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.) dengan konsentrasi berbeda pada pembentukan warna terasi udang dan untuk mengetahui kualitas produk terasi udang rebon terbaik dengan penambahan ekstrak rosella konsentrasi berbeda. Materi pada penelitian ini terdiri dari bahan utama seperti udang rebon, ekstrak rosella, dan garam. Penelitian ini dilakukan dengan penambahan konsentrasi ekstrak rosella berbeda, yaitu 5%, 10%, dan 15% pada terasi rebon saat proses penggilingan III, dengan tiga kali ulangan. Analisis data dalam penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan aplikasi SPSS 21.0 jika ada perbedaan antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Parameter yang diukur adalah uji kadar air, kadar protein, kadar abu, pH, kadar garam, warna, dan organoleptik. Penelitian ini menggunakan metode experimental yield. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan terasi udang rebon dengan konsentrasi ekstrak rosella berbeda berpengaruh terhadap mutu terasi dan sesuai SNI 2716.1-2009 tentang terasi udang. Nilai kadar air berkisar antara 43,19 – 49,03%. Nilai kadar protein berkisar antara 10,8 – 13,11%. Nilai kadar Abu berkisar 1,49 – 2,15%. Nilai pH berkisar 5,44 – 6,09. Nilai kadar garam berkisar 5,63 – 7,16%. Warna terasi udang dengan perlakuan 5% memiliki warna merah kekuningan sedangkan terasi dengan ekstrak rosella 10% dan 15% memiliki warna merah gelap. Hasil penelitian terbaik berdasarkan hasil pengujian skala laboratorium terdapat pada terasi dengan penambahan rosella 5%.
EFEKTIVITAS KUNYIT (Curcuma longa Linn.) SEBAGAI PEREDUKSI FORMALIN PADA UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis) PENYIMPANAN SUHU DINGIN Damayanti, Evina; Ma'ruf, Widodo Farid; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.358 KB)

Abstract

Penggunaan formalin semakin beredar luas dikalangan  nelayan,  banyak  dijumpai hasil perikanan terutama Udang diberi perlakuan formalin untuk  proses pengawetan. Tanaman Kunyit memiliki senyawa aktif yang dapat digunakan untuk meminimalisir keberadaan formalin pada Udang  yaitu saponin. Penelitian ini menggunakan Udang putih yang sudah  direndam larutan  formalin 5% kemudian ditambahkan larutan kunyit. Rancangan percobaan yang digunakan adalah model Faktorial dengan 2 faktor, yaitu perlakuan pemberian larutan Kunyit (0% dan 10%) dan faktor penyimpanan (0,3,6,9 hari). Parameter yang digunakan adalah uji formalin, jumlah TPC, kadar air, nilai pH, dan nilai organoleptik. Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa konsentrasi terbaik 10% dengan lama perendaman 60 menit dilihat dari penurunan kadar formalin dan nilai organoleptik. Hasil penelitian utama menunjukkan perbedaan perlakuan larutan Kunyit dan lama penyimpanan memberikan pengaruh nyata (Fhit>Ftab) terhadap kadar residu formalin serta dari hasil tersebut menunjukkan adanya interaksi antara ke-2 faktor tersebut. Apabila dilihat dari sisi organoleptik hasil penelitian utama menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata (P<0,01). Namun dilihat dari parameter lain yaitu TPC, pH,  dan kadar air hasil penelitian utama tidak menunjukkan adanya interaksi antara 2 faktor tersebut (P>0,05).