cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 221 Documents
APLIKASI KARAGENAN SEBAGAI EMULSIFIER DALAM PEMBUATAN SOSIS IKAN BANDENG (Chanos chanos) PADA PENYIMPANAN SUHU RUANG Sudjatmika, Ruth Nurmasari; Ma’ruf, Widodo Farid; Agustini, Tri Winarni
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 2 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kriteria penting dalam pembuatan sosis ikan Bandeng adalah tingkat kestabilan emulsi. Karagenan memiliki salah satu fungsi sebagai pengemulsi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui peran karagenan sebagai hidrokoloid dalam meningkatkan dan mempertahankan kestabilan emulsi sosis ikan Bandeng selama penyimpanan suhu ruang.Materi yang digunakan yaitu ikan Bandeng segar, karagenan dan bahan pendukung lainnya. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratories dengan satu faktor yaitu sosis yang disubstitusi dengan karagenan (K5), dan sosis yang tidak disubstitusi dengan karagenan (K0), kemudian dilakukan pengamatan selama penyimpanan suhu ruang  pada hari ke-0 (D0), ke-1 (D1), ke-2 (D2),ke-3 (D3). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan pola terbagi oleh waktu “split plot in time”, dimana jenis sosis sebagai main plot dan lama penyimpanan pada suhu  ruang (0, 1, 2 dan 3 hari) adalah sub plot. Masing-masing perlakuan menggunakan 3 kali pengulangan. Pengujian mutu sosis meliputi uji stabilitas emulsi, uji gel strength, kadar air, Aw dan nilai hedonik  dimana analisa data dengan uji ANOVA dan Beda Nyata Jujur. Data hedonik dianalisa menggunakan uji Kruskal  Wallis.Hasil penelitian tahap I didapat konsentrasi terbaik substitusi karagenan 5% dan tepung tapioka 5%. Hasil penelitian tahap  II menunjukkan bahwa jenis sosis yang berbeda dan lama penyimpanan memberikan pengaruh  yang sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai stabilitas emulsi, nilai gel strength, nilai kadar air dan Aw, pada penyimpanan suhu ruang selama 3 hari. Nilai emulsi sosis ikan Bandeng dengan substitusi 5% karagenan dan 5% tepung tapioka (K5) dan substitusi 0% karagenan dan 10% tepung tapioka (K0), penyimpanan selama 3 hari. Nilai emulsi sosis ikan Bandeng dengan subtitusi karagenan (K5) penyimpanan hari ke-0, ke-1, ke-2, dan  ke-3 berturut-turut yaitu 82.27%; 81.19%, 79.01%; dan 77.64%; sedangkan tanpa subtitusi karagenan (K0) penyimpanan hari ke-0, ke-1, ke-2, dan ke-3 berturut-turut yaitu 79.27%; 77.72%;  74.18%; dan 70.91%. Nilai uji gel strength berturut-turut (K0) 1034.70; 954.53; 814.89; 606.08 dan (K5) 1175.66; 1053.06; 975.00; 865.38. Nilai kadar air berturut-turut (K0) 66.37; 67.81; 68.71; 69.36 dan (K5) 66.43; 67.19; 68.07; 68.99 dan nilai Aw (K0) 0.92; 0.93; 0.94, 0.95 (K5) 0.91; 0.92; 0.93; 0.94.    Pengaruh jenis sosis yang  berbeda dan lama penyimpanan menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai hedonik.
PENGARUH PENAMBAHAN ISOLAT PROTEIN KEDELAI YANG BERBEDA DAN KARAGENAN TERHADAP KARAKTERISTIK SOSIS IKAN PATIN (Pangasius pangasius) Kharisma, Mega; Dewi, Eko Nurcahya; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.339 KB)

Abstract

Sosis ikan dapat dibuat dengan produk berbasis surimi, hal ini disebabkan protein miofibril dalam ikan Patin dapat berperan dalam pembentukan gel. Kekuatan gel sosis yang dihasilkan rendah sehingga dapat ditambahkan dengan isolat protein kedelai (IPK) yang berfungsi menstabilkan emulsi dan karagenan berfungsi pembentuk gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan penambahan IPK dan karagenan terhadap karakteristik sosis ikan Patin selain itu untuk mengetahui konsentrasi IPK serta karagenan terbaik pada sosis ikan Patin. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Patin. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor, tiap perlakuan tiga kali pengulangan. Perlakuan pada pembuatan sosis yaitu penambahan IPK 4%, 5% dan 6% serta karagenan 0,5%. Variabel mutu yaitu kekuatan gel, stabilitas emulsi, kadar air, kadar protein dan kadar lemak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Data pengujian sensori sosis ikan, uji lipat dan uji gigit diuji dengan uji Kruskall-Wallis dilanjutkan dengan uji Multiple Comparison. Hasil penelitian menunjukkan sosis ikan dengan konsentrasi isolat protein kedelai 4% dan karagenan 0,5% merupakan produk yang terbaik dengan kriteria mutu: kekuatan gel 761,36 g.cm; uji gigit 7,73; uji lipat 4,90 (A); kadar air 68,34%; kadar protein 59,42% (bk); kadar lemak 4,04% (bk) dan stabilitas emulsi 83,51%. Nilai rata-rata pengujian sensori diperoleh nilai kenampakan 8,40; aroma 7,80; rasa 7,93; tekstur 8,40. Berdasarkan hasil penelitian, penambahan IPK dan karagenan memberikan pengaruh yang nyata terhadap karakteristik sosis ikan Patin. Fish sausage can be made from surimi based product, it possibly caused by Patin fish’s myofibril protein function is as a gel former. However, gel strength from catfish sausage is low, therefore it can be added with Soy Protein Isolate (SPI) which have function to stabilized the emulsion and carrageenan that can form a gel. The purposed of this study were to determine the influence of various addition of SPI and carrageenan to catfish sausage characteristics and to choose the best concentration of SPI and carrageenan addition to catfish sausage based on it’s characteristics. The material of this study was catfish. The method used was completely randomized design with one factor, in triplicates on each treatments. The main study was using the various SPI concentrations about 4%, 5%, 6%  and carrageenan about 0.5%. The parameters measured were gel strength, emulision stability, water content, protein content and lipid content. Data analized by ANOVA and Honestly Significant Difference Test (HSDT). The data of fish sausage sensory test, folding test and teeth cutting test used Kruskall-Wallis test then continued by Multiple Comparison test. The result showed that fish sausage with SPI concentration about 4% and carrageenan about 0,5% was the best product with the parameters value : gel strength 761.36 g.cm; teeth cutting test 7.73; folding test 4.90 (A); water content 68.34%; protein content 59.42% (dw); lipid content 4.04% (dw) and emulsion stability 83.51%. The average value of sensory test showed general appearance 8.4; odor 7.8; flavor 7.93; texture 8.4. Based on the research result, the addition of SPI and carrageenan significantly affect on the characteristics of sausage Patin fish.
PENGARUH PENAMBAHAN MgCO3 DAN NaHCO3 DENGAN PERBEDAAN PENCAHAYAAN TERHADAP STABILITAS PIGMEN KLOROFIL-A MIKROALGA Chlorella vulgaris Kurniawan, Markus Prima; Ma'ruf, Widodo Farid; Agustini, Tri Winarni
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.349 KB)

Abstract

Klorofil merupakan pigmen dominan yang terdapat pada mikroalga C.vulgaris. Pigmen relatif rentan terhadap kerusakan dan kehilangan warna oleh pengaruh eksternal. Cahaya merupakan faktor yang paling merusak kandungan warna alami, penambahan bahan penstabil MgCO3 dan NaHCO3 diketahui dapat menstabilkan warna, namun belum diketahui daya stabil bahan yang lebih baik digunakan untuk mempertahankan warna. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan penstabil (MgCO3 dan NaHCO3) terhadap ekstrak pigmen klorofil serta mengetahui pengaruhnya pada keberadaan cahaya yang berbeda (gelap dan terang). Penelitian tahap I bertujuan menentukan fungsi dari bahan penstabil yang digunakan dan lama waktu penyimpanan klorofil pada kondisi terpapar sinar matahari. Penelitian tahap II bertujuan untuk menentukan penstabil yang paling baik digunakan dan membandingkannya dengan kondisi tanpa paparan cahaya. Hasil penelitian tahap I didapatkan bahwa pemberian bahan penstabil pada ekstrak klorofil-a C.vulgaris memberikan pengaruh terhadap stabilitas klorofil dibuktikan dari waktu penurunan 50% konsentrasi (t½) tanpa penambahan bahan penstabil (K) selama 4 hari sedangkan pemberian MgCO3 0,01% (M) dan NaHCO3 (N) lebih lama yaitu 6 hari. Hasil penelitian tahap II didapatkan bahwa ekstrak klorofil-a yang disimpan selama 2 hari pada kondisi tanpa paparan cahaya terhadap sampel tanpa bahan penstabil (KG) turun sebsar 20%, MgCO3 (MG) 10% dan (NG) 14%. Penyimpanan 2 hari pada kondisi terpapar cahaya sampel (KT) turun sebesar 79%, sedangkan (MT) 70% dan sebesar (NT) 75%. Pengamatan pH pada sampel kondisi tanpa paparan cahaya (KG) 7,11 - 6,76 (MG) 8,02 - 7,29 (NG) 8,24 - 7,50 pada kondisi terpapar cahaya (KT) 7,11 - 6,60 (MT) 8,02 - 6,90 (NT) 8,24 - 7,00. Chlorophyll is a pigment found in microalgae dominant C.vulgaris. Pigments are relatively vulnerable to damage and color loss by external influences. Light is the most damaging factor for natural color, adding stabilizer MgCO3 and NaHCO3 is known to stabilize the color, but it is not known stable better materials are used to maintain color. The purpose of this study was to determine the effect of adding stabilizer (MgCO3 and NaHCO3) to extract chlorophyll pigments and determine the effect on the existence of different light (dark and light). The first phase aims to determine the function of a stabilizer that is used and the amount of time used in the chlorophyll sun-exposed conditions. Phase II study aims to determine the best stabilizer used and compared light exposure with conditions without exposure to light. Results of a phase I study showed that administration of a stabilizer on a chlorophyll extract C.vulgaris influence on the stability of chlorophyll demonstrated a 50% concentration time (t ½) without the addition of stabilizers (K) for 4 days while giving MgCO3 0.01% (M ) and NaHCO3 (N) is 6 days longer. Results of a phase II study showed that the extract chlorophyll a were stored for 2 days on light conditions without exposure to the sample without stabilizers (KG) sebsar down 20%, MgCO3 (MG) 10% and (NG) 14%. Storage 2 days of light exposure on the condition of the sample (KT) fell by 79%, whereas (MT) and amounted to 70% (NT) 75%. Observated  sample conditions of pH without exposure to light (KG) 7.11 to 6.76 (MG) from 8.02 to 7.29 (NG) from 8.24 to 7.50 on light exposure conditions (KT) from 7.11 to 6 , 60 (MT) from 8.02 to 6.90 (NT) 8.24 to 7.00.
PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN KERANG HIJAU (Perna viridis) MENGGUNAKAN BUAH TOMAT (Lycoperdicum esculentum) TERHADAP PENURUNAN KADAR LOGAM TIMBAL (Pb) Mahardhika, Rizki; Riyadi, Putut Har; Fahmi, Akhmad Suhaeli
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 4 (2016): Wisuda Periode Bulan Oktober 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.547 KB)

Abstract

Kerang hijau makan dengan cara menyaring makanan yang terdapat pada perairan. Oleh sebab itu, daging kerang hijau berpotensi besar tercemar logam berat timbal, kerang hijau yang mengandung logam berat yang tinggi jika dikonsumsi dapat meracuni tubuh manusia. Kandungan asam sitrat dalam buah tomat diharapkan dapat menurunkan kadar logam berat timbal yang terkandung dalam bahan pangan khususnya kekerangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lama perendaman terbaik pada kerang hijau dengan menggunakan larutan buah tomat terhadap kadar residu logam berat timbal dalam daging kerang hijau. Penelitian ini menggunakan model Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan pada sampel yaitu lama waktu perendaman 30 menit, 60 menit, 90 menit. Data parametrik dianalisa dengan uji ANOVA, sedangkan data non-parametrik menggunakan uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukan bahwa lama waktu perendaman 90 menit kerang hijau menggunakan larutan buah tomat memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar timbal, kadar air, dan pH dalam daging kerang hijau, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar protein. Hasilnya sebagai berikut kadar timbal kerang hijau (0,39 ± 0,05 ppm); kadar timbal larutan buah tomat (0,50 ± 0,05 ppm); kadar protein (8,24 ± 0,29%); pH (5,19 ± 0,01); kadar air (84,51± 0,09%); dan overall acceptance organoleptik (7,4 ± 1,25).
PENGARUH WAKTU PENGUKUSAN TERHADAP KUALITAS KEPITING BAKAU (Scylla serrata) PRESTO DENGAN ALAT “TTSR” Prasetyo, Medi; Riyadi, Putut Har; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.338 KB)

Abstract

Kepiting  bakau  mempunyai  potensi  untuk  dikembangkan karena  rasa  dagingnya  yang  enak  dan kandungan  protein  yang  tinggi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah membandingkan secara deskriptif alat “TTSR” dengan Autoclave dan mengetahui waktu optimum pemasakan agar diperoleh kepiting presto dengan kualitas yang diharapkan dan mengetahui kualitas kepiting presto dengan adanya variasi waktu dalam proses pemasakkan kepiting presto tersebut. Keunggulan alat “TTSR”  dengan Autoclave adalah dari segi waktu pemasakan yang lebih singkat dengan suhu yang stabil di akan menghemat dari penggunaan bahan bakar yang di gunakan. Penggunaan suhu yang stabil  ≤ 100 ˚C akan menjaga kualitas gizi dalam kepiting tidak terlalu rusak. Selain itu, tekanan yang dihasilkan “TTSR” adalah 4-4,5 atm. Hal ini, menjadi kelebihan yang tidak ada pada alat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu pemasakan menggunakan alat “TTSR” yang terbaik adalah 100 menit. Nilai tertinggi berdasarkan uji organoleptik kenampakan 7,7, bau 7,9 dan tekstur 7,97 pada waktu pemasakan 60 menit. Nilai kekerasan cangkang yang terbaik 2222,56 N pada waktu pemasakan 100 menit. Sedangkan perebusan dengan Autoclave konvensional selama waktu 150 menit memiliki nilai kerapukan 4420,95 N. Sedangkan pengujian kimiawi pada kepiting presto yaitu kadar air 75,36% pada waktu pemasakan 60 menit, kadar protein 19,83% pada waktu pemasakan 60 menit, kadar lemak 1,553% pada waktu pemasakan 60 menit. Muds crab is a crab that has commercial value and potential to be developed because the meat is delicious and high protein content. The purpose of the research is to compare two instruments “TTSR” and the Autocleve instrument determine the optimum cooking time for crab presto obtained with the expected quality and to know the quality of crab presto with the variation in cooking time. Descriptively, the best from a “TTSR” with Autoclave is the short time of boiling with the stable range of temperatures, it would save the fuel. The use of stable temperature ≤ 100 ˚C will keep the quality nutrition in crab is not too badly damaged. In addition, pressure produced by “TTSR” is 4-4.5 atm. This is to better thing than Autoclave instruments.  The result showed that the best time used for cooking presto crabs using “TTSR” is 100 minutes. The highest value based on organoleptic test are appearance 7.7, odor 7.9 and texture 7,97 during 60 minutes cooking. The best value brittleness of the shells is 2222,56 N in 100 minutes of cooking time. While chemical testing on the crab presto showed 75.36% moisture content during 60 minutes cooking, 19.83% protein content during 60 minutes cooking, the fat content is 1,553% at 60 minutes of cooking time.
AKTIVITAS ANTIJAMUR SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK Gelidium latifolium TERHADAP Candida albicans Lutfiyanti, Rosiska; Ma'ruf, Widodo Farid; Dewi, Eko Nurcahya
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Pengolahan dan bioteknologi hasil perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.782 KB)

Abstract

Abstract Gelidium sp. has bioactive compounds which is estimated has potential activity as antifungal. The aim of this study were to know bioactive compounds from Gelidium latifolium with different solvent, to know the potency of Gelidium latifolium extract as antifungal towards C. albicans and to know the effect of different concentration of Gelidium latifolium extract towards antifungal activity. The result showed that the methanol extract is able to produce inhibition zones toward Candida albicans, whereas n-hexane extract and acetone extract could not produce the inhibition zones. The highest inhibition zone was found at concentration of 12 mg/ml, that is 8 mm. The result of phytochemical screening test indicates that there were alkaloid, triterpenoids, and steroid in methanol extract. Gelidium latifolium is considered as potential source of natural antifungal agent, the antifungal agent was polar compound  
EFEKTIFITAS PENCUCIAN DAN SUHU SETTING (25, 40, 50oC) PADA GEL KAMABOKO IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepenus) Bachtiar, Ibnu; Agustini, Tri Winarni; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.784 KB)

Abstract

Surimi merupakan lumatan daging ikan yang telah mengalami proses pencucian (leaching) secara berulang-ulang, pengepresan, penambahan bahan tambahan (food additive), pengepakan dan pembekuan. Mutu surimi antara lain ditentukan oleh nilai gel strength. Faktor yang dapat mempengaruhi nilai gel strength adalah pencucian dan suhu setting ketika proses pemanasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pencucian terhadap sifat fisika (gel strength, uji lipat, uji gigit) dan pengaruh suhu setting terhadap sifat fisika (gel strength, uji lipat, uji gigit dan uji derajat putih), sifat kimia (kadar protein, air dan pH) kamaboko ikan Lele. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Lele dumbo, garam, dan bahan pendukung lainnya. Metode penelitian bersifat eksperimen laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dua tahap. Tahap pertama terdiri dari 4 perlakuan yaitu L1(pencucian 1x); L2(pencucian 2x); L3(pencucian 3x); L4(pencucian 4x). Penelitian tahap kedua terdiri dari 3 perlakuan yaitu : T1(suhu setting 25oC); T2(suhu setting 40oC); T3(suhu setting 50oC); dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis keragaman kemudian diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Untuk data uji hedonik diuji dengan uji Kruskall Wallis dilanjutkan dengan uji Multiple Comparison. Hasil penelitian tahap I perlakuan frekuensi pencucian menunjukkan bahwa nilai gel strength, uji lipat, uji gigit tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) pada perlakuan L3 dan L4. Hasil penelitian tahap II perlakuan suhu setting menunjukkan bahwa nilai gel strength, uji lipat, uji gigit memberikan perbedaan yang nyata (P<0,05) pada perlakuan T1 dan T2 ; T1 dan T3. Uji derajat putih tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) pada tiap perlakuan. Suhu setting T2(40oC) merupakan suhu setting yang paling efektif digunakan dalam pengolahan surimi ikan Lele Dumbo dengan kriteria mutu produk: gel strength 824,5567; uji lipat 3,53; uji gigit 8,40; uji derajat putih 67,92%; kadar protein 19,53122%; kadar air 71,72075%; pH 6,77. Surimi is fish meat that has undergone the process of leaching (leaching) repeatedly, pressing, adding additional ingredients (food additives), packing and freezing. Surimi quality, among others, determined by the value of gel strength. Factors that can affect the value of gel strength are washing and temperature settings during heating process. This study aims to determine the effect of the frequency of washing on physicochemical properties (gel strength, folding test, bite test) and the effect of temperature settings on the physical properties (gel strength, folding test, test and test whiteness bite), chemical (protein content, water and pH) kamaboko catfish. Material used in this study were African catfish, salt, and other supporting materials. Methods of experimental laboratory research using completely randomized design (CRD) which consists of two stages. The first stage consists of 4 treatments namely L1 (1x washing); L2 (2x washing); L3 (3x washing); L4 (4x washing). The second phase of the study consisted of 3 treatments: namely; T1 (temperature setting 25oC); T2 (temperature setting 40°C); T3 (temperature setting 50°C); with 3 replications. Data were analyzed using analysis of variance and then tested with Honestly Significant Difference (HSD) test. After hedonic test, the data were analysed using Kruskall Wallis test followed by Multiple Comparison test.Results of a phase I study showed that washing frequency treatment gel strength values, folding test, nip test showed no significant differences (P> 0.05) in the treatment of L3 and L4. Results of a phase II study showed that the treatment temperature setting value of gel strength, folding test, cutting test gave significant differences (P <0.05) in the treatment of T1 and T2; T1 and T3. Whiteness test showed no significant differences (P> 0.05) in each treatment. T2 temperature setting (40°C) temperature setting is most effectively used in heating catfish with fish surimi product quality criteria: gel strength 824.5567; folding test 3.53; cutting test 8.40; test whiteness 67.92%; 19.53% protein content; 71.72% moisture content; pH 6.77.  
PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI TEPUNG GELATIN DARI KULIT IKAN AIR TAWAR DAN LAUT TERHADAP ISOTHERMSORPSI AIR PADA PROTEIN MYOFIBRIL IKAN KURISI (Nemipterus sp.) Wijayanto, Reska; Darmanto, y S; Riyadi, Putut Har
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 2 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah hasil perikanan berupa kulit belum termanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan kulit ikan dapat dijadikan gelatin. Gelatin memiliki sifat mengikat air. Gelatin dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas protein myofibril dengan menggunakan analisa isothermsorpsi air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisiko-kimia gelatin dan kuallitas dari protein myofibril ikan kurisi. Materi yang digunakan berupa protein myofibril ikan kurisi dan tepung gelatin dari kulit ikan kakap, lemadang dan nila. Hasil analisis isothermsorpsi air protein myofibril ikan kurisi menunjukkan bahwa penambahan gelatin kulit ikan kakap memberikan hasil terbaik dengan nilai Monolayer water (M1) 8,155, Multilayer Water (M2) 18,785, Sorption surface area (S) 0,311 m2/mg. Kualitas protein myofibril terbaik ditunjukkan pada penambahan gelatin kulit ikan kakap dengan nilai WHC 45,66±0,81 % dan kekuatan gel 149.17±0.068 gf.cm.Kesimpulan yang diperoleh yaitu gelatin kulit ikan kakap memberikan pengaruh terbaik terhadap isotermsorpsi air protein myofibril ikan kurisi yang didukung dengan hasil tertinggi untuk nilai WHC dan kekuatan gel.
PENGARUH SENYAWA BIOAKTIF BUAH MANGROVE Avicennia marina TERHADAP TINGKAT OKSIDASI FILLET IKAN NILA MERAH O. niloticus SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Sipayung, Bobby Septian; Ma'ruf, Widodo Farid; Dewi, Eko Nurcahya
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.294 KB)

Abstract

Fillet  adalah  salah  satu produk perikanan yang mempunyai sifat mudah rusak. Kandungan asam lemak  tak  jenuhmya mudah mengalami proses oksidasi lemak, maka diperlukan cara pengawetan  fillet ikan segar yang aman bagi masyarakat yaitu dengan pemanfaatan senyawa bioaktif buah Mangrove (A. marina). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senyawa bioaktif buah Mangrove terhadap tingkat oksidasi  pada  fillet  ikan  Nila Merah selama penyimpanan dingin. Rancangan yang digunakan adalah pola petak terbagi oleh waktu / split plot in time, dimana main plot adalah lama penyimpanan dingin selama 12 hari pada suhu ± 50 C dan pengamatan dilakukan pada hari ke-0, ke-4, ke-8, dan ke-12. Sub plot adalah perbedaan perlakuan  yaitu  fillet tanpa penambahan buah mangrove (A) dan  fillet dengan penambahan buah mangrove (B). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ), sedangkan untuk data uji organoleptik dengan uji Kruskall-Wallis dilanjutkan dengan uji Multiple Comparison. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan terhadap fillet ikan Nila Merah memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai organoleptik, FFA, PV, TBA, pH, Kadar air dan Aw. Secara organoleptik  pada perlakuan A pada hari ke-8 sudah ditolak oleh panelis, sedangkan pada perlakuan B pada hari ke-12 ditolak oleh panelis. Namun dilihat dari parameter FFA, PV, dan TBA kedua perlakuan sampai hari ke-12 pada perlakuan B menghasilkan nilai FFA, PV dan TBA yang lebih rendah dibandingkan perlakuan A, hal ini menunjukkan senyawa bioaktif pada buah Mangrove efektif dalam menghambat laju oksidasi, namun nilai FFA, PV, TBA pada kedua perlakuan sampai hari ke-12 masih dibawah ambang batas, hal ini menyatakan masih sedikit proses oksidasi yang terjadi. Pengaruh lama waktu penyimpanan juga berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai organoleptik, FFA, PV, TBA, pH, Kadar air, dan Aw. Semakin lama penyimpanan semakin tinggi nilai FFA, PV, TBA, Kadar air, Aw dan semakin lama penyimpanan nilai pH semakin menurun. Fillet is one of fishery products which have perishable nature. The content of its unsaturated fatty acids are susceptible to oxidation of fat, so we need some ways to preserve fresh fish fillets which is safe for the people using mangrove fruit (A.marina) bioactive compounds. The purpose of this study was to determine the effect of Mangrove fruits bioactive compounds to the oxidation levels on the Red Tilapia fish fillets during cold storage. The design were using plot patterns divided by time/ split plot in time, where the main plot was the cold storage for 12 days at temperature of ± 50 C and observations were done on days 0, 4th, 8th, and 12th. Sub-plots were the diversification in treatment is fillets without addition of mangrove fruits (A) and the fillet with the addition of mangrove fruit (B). To find out the difference between treatments, the data was tested with Honestly Significant Difference (HSD) test, whereas for organoleptic data with the Kruskal-Wallis test followed by Multiple Comparison test. The results showed that the difference in treatments of the Red Tilapia fish fillets have significant effect (p <0.05) to organoleptic value, FFA, PV, TBA, pH, water content and Aw. Organoleptically on treatment A on day 8 had rejected by the panelists, while on treatment B on day 12 was rejected by the panelists. But seen from the parameter FFA, PV and TBA on both treatments until day 12, in the treatment of B generate value of FFA, PV and TBA which lower than treatment A, this indicates bioactive compounds in fruits Mangrove were effective in inhibiting the oxidation rate, but the value FFA, PV, TBA in both treatment until day 12 still below the threshold, it stated that it was still a bit of oxidation processes that occur. Effect of the storage time durations was also significant (p <0.05) to organoleptic value, FFA, PV, TBA, pH, water content, and Aw. The longer the storage the higher the value of the FFA, PV, TBA, water levels, Aw, and the longer storage pH value were decreases.
KARAKTERISTIK EDIBLE FILM KOMPOSIT SEMIREFINED KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT EUCHEUMA COTTONII DAN BEESWAX Diova, Delia Arsi; Darmanto, Y S; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 4 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.838 KB)

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi beeswax terhadap karakteristik edible film dari semirefineD karaginan rumput laut Eucheuma cottonii dan mendapatkan kombinasi perlakuan terbaik untuk menghasilkan edible film terbaik yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pengemas. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah semirefined karaginan dan beeswax. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 faktor dan 3 taraf masing-masing faktor diulang 3 kali yaitu penambahan konsentrasi beeswax dalam pembuatan edible film dengan 3 taraf perlakuan konsentrasi 0,2%; 0,3% dan 0,4%. Parameter yang di uji adalah ketebalan, daya kuat tarik, persentase pemanjangan, kelarutan, laju transmisi uap air, dan kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi  perlakuan terbaik antara konsentrasi komposit semirefined karagenan dan beeswax yang diperoleh adalah pada perlakuan penambahan beeswax 0,3% dengan ketebalan tertinggi 0,0705 mm, daya kuat tarik tertinggi 2,248 kgf/cm2, persentase pemanjangan tertinggi 15,890 %, kelarutan terendah 39,1547 %, laju transmisi uap air terendah 2,1797 (gr/10gr/30Menit) dan jumlah kadar air terendah yaitu 25,343 %. Kata kunci: Edible film komposit, Karaginan (Eucheuma cottonii), Beeswax Abstract This study aimed to determine the effect of concentration of beeswax on the characteristics edible film of semirefined carrageenan Eucheuma cottonii seaweed and get the best treatment combination to produce the best edible film that can then be used as a packaging material. The material used in this study is semirefined carrageenan and beeswax. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) with 1 factor and 3 levels of each factor repeated 3 times : the concentration of the addition of beeswax in the manufacturing of edible film with 3 stage treatment concentration of 0.2%, 0.3% and 0.4 %. Parameters in the test were the thickness, tensile strength, percentage elongation, solubility, water vapor transmission rate and moisture content. The results showed that the best treatment combination between the concentration of composite semirefined carrageenan and beeswax obtained is the addition of beeswax 0.3% treatment with the highest thickness of 0.0705 mm, the highest tensile strength 2.248 kgf/cm2, the highest percentage of elongation of 15.890%, 39.1547% lowest solubility, lowest water vapor transmission rate of 2.1797 (gr/10gr/30Menit) and the amount of the lowest water content is 25.343%.