cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 221 Documents
KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN ALGA COKLAT Padina australis DARI PERAIRAN PANTAI SUNDAK GUNUNG KIDUL Maini, Mela; Ibrahim, Ratna; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 1(2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of brown algae species that contains bioactive compounds was P. australis.Several studies on the antioxidant activity of brown algae including P. australis from JavaNorthern waters have already done above temperature 500C which was mostly resulted in lowantioxidant activity. This study aimed to know the polarity properties of bioactivecompounds, the compounds that act as antioxidants, the effect of three solvent types which isdifferent polarity on antioxidant activity, the total phenolic, the chlorophyll and carotenoidscontents as well as their correlation to the percentage of free radicals inhibition. Materialsused in this study were fresh P. australis which obtained from Sundak coastal waters. Thereasearch method applied was experimental laboratories. The experimental design used was Block Randomized Design with three treatments of solvents types which has differentpolarity, namely n-hexane, ethyl acetate and ethanol. Each of the treatments was done intriplicate. The main variable measured was antioxidant activity. The other variablesmeasured were the total phenolic, the chlorophylls and carotenoids contents. The data wereanalyzed by ANOVA and tested with an Honestly Significant Different test. The resultsshowed that the characteristic of bioactive compounds that act as antioxidants in the P.australis was semipolar. The lowest IC50 value was 282,967 ppm which categorized in lowcategory of antioxidant activity. Maceration of the sample using three solvent types which isdifferent polarity caused the antioxidant activity values of the P. australis extract differsignificantly. The highest total phenolic, chlorophyll a, chlorophyll b and carotenoid contentsobtained from the sample extracted by ethyl acetate solution was 59.41 mg GAE / g sample,2.674 mg / g sample, 2.235 mg / g sample and 2.256 mg / g sample respectively. Each of thevalues was positively correlated with the percentage of free radical inhibition.
PENGARUH BAHAN PENGIKAT DAN WAKTU PENGGORENGAN TERHADAP MUTU PRODUK KAKI NAGA IKAN TENGGIRI (Scomberomorus sp.) Nugroho, Aditya; Swastawati, Fronthea; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.259 KB)

Abstract

Kaki naga ikan merupakan produk diversifikasi dimana tekstur menjadi salah satu parameter penting dalam penentuan mutu produk. Penggunaan bahan pengikat dan waktu penggorengan yang berbeda akan mempengaruhi tekstur dan mutu produk kaki naga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan pengikat dan waktu penggorengan terhadap mutu produk kaki naga ikan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ikan Tenggiri. Bahan pengikat yang digunakan yaitu tepung sagu, terigu dan tapioka. Waktu penggorengan yang digunakan adalah 1, 2 dan 3 menit. Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental laboratoris dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Penelitian awal meliputi penggunaan bahan pengikat yang berbeda dengan konsentrasi 10%, kemudian diuji yang terbaik berdasarkan gel strength, uji lipat, gigit dan proksimat, tepung yang terbaik yaitu tapioka. Kaki naga dengan tepung terbaik kemudian dilakukan penelitian selanjutnya yaitu penggorengan dengan waktu 1, 2 dan 3 menit. Parameter yang diamati adalah uji hedonik, hardness dan proksimat. Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa penggunaan tepung yang berbeda memberikan perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap uji gel strength, uji lipat dan gigit. Nilai tertinggi didapatkan tepung tapioka dengan nilai gel strength 843,13 gf.cm, kadar air 55,54%, kadar lemak 0,41% dan kadar protein 12,65%. Penelitian lanjutan menunjukan bahwa waktu penggorengan yang berbeda memberikan perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap uji hedonik, hardness, kadar air, lemak dan protein. Waktu penggorengan terbaik didapat 2 menit dengan nilai hedonik 7,453 7,634, hardness 545,13 gf, kadar air 45,32%, kadar lemak 4,18%, kadar protein 9,37%. Fish drum stick is a diversified of fishery products where the texture become one of the important parameter to determine the quality of products. The use of binders and different frying time will affect to the texture and quality of fish drum stick product. The purpose of this study was to determine the effects of the binders and frying time on the fish drum stick quality. The material used in this study were Spanish Mackerel Fish. In this study three different binders were used as follows sago, wheat and tapioca flour; and three different frying times (1, 2 and 3 minutes). The method used was experimental laboratory with a randomized block design (RBD). The first phase used three different binders with 10% concentration of each binders, then quality of the best fish drum stick was analyzed for gel strength test, folding test, teeth cutting test and proximate. They were analyzed for further study with different frying times (1, 2 and 3 minutes). Parameters measured were hedonic test, hardness and proximate analysis. Results of a phase I study showed that the use of different flour gives a significanly difference (P <0.05) against gel strength, folding test and teeth cutting test. The highest value obtained is tapioca flour with gel strength 843.13 gf.cm, water content 55.54%, fat content 0.41%  and protein content 12.65%. Sudy Phase II showed that different frying time provide significantly effect (P <0.05) to the hedonic test, hardness, moisture content, fat and protein. Frying time 2 minutes with the best obtained hedonic value 7,453 7,634, 545.13 gf hardness, moisture content 45.32%, fat content 4.18%, protein content 9,37%.
PENGARUH METODE PENGASAPAN YANG BERBEDA TERHADAP KUALITAS DAN DAYA SIMPAN IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) ASAP SUHU RUANG Wibowo, Salim Ari; Riyadi, Putut Har; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 3 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) termasuk ikan yang bergizi tinggi dan potensial untuk dimanfaatkan sebagai ikan Mujair asap. Penelitian tentang kualitas ikan Mujair asap dengan metode yang berbeda dan lama simpan yang berbeda belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas ikan asap yang diolah secara tungku (MT) dan dengan smoking cabinet (MSC) selama penyimpanan 0 – 4 hari (H0, H1, H2, H3 dan H4). Hasil penelitian perbedaan metode pengasapan dan lama penyimpanan menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) pada parameter kadar air, nilai Aw, TPC dan TBA. Nilai organoleptik MT yang masih sesuai standar adalah MTH2 sebesar 7.133 + 0.125. Organoleptik MSC yang masih sesuai standar adalah MSCH1 sebesar 7.378 + 0.133. Kadar air (%) MT yang masih sesuai standar adalah MTH1 sebesar 58.852. Kadar air (%) MSC yang masih sesuai standar adalah MSCH0 sebesar 57.610. Nilai Aw MT yang terbaik adalah MTH0 sebesar 0.974. Nilai Aw MSC yang terbaik adalah MSCH0 sebesar 0.967. Nilai TPC (Log cfu/gr) MT yang masih sesuai standar adalah MTH2 sebesar 3.771. Nilai TPC MSC yang masih sesuai standar adalah MSCH2 sebesar 3.322. Nilai TBA (mg malonaldehida/Kg) MT yang masih sesuai standar adalah MTH4 sebesar 1.801. Nilai TBA MSC yang sesuai standar adalah MSCH4 sebesar 1.901. Kualitas ikan Mujair asap smoking cabinet tidak jauh berbeda dengan ikan Mujair asap tungku selama penyimpanan. Daya simpan ikan Mujair asap bertahan pada hari ke 2.
PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI KARAGENAN TERHADAP KARAKTERISTIK EMPEK- EMPEK UDANG WINDU (Penaeus monodon) Rifani, Aulia Nissa; Ma'ruf, Widodo Farid; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.745 KB)

Abstract

Udang merupakan hasil perikanan yang mengandung protein tinggi, daging udang dapat diolah sebagai makanan olahan seperti empek-empek udang dengan kandungan protein tinggi. Empek-empek udang dapat menjadi produk olahan diversifikasi yang diminati. Namun Empek-empek udang merupakan produk emulsi di mana sistem emulsi pada empek-empek mudah rusak dikarenakan sistem emulsi yang mudah pecah disebabkan oleh proses pengolahan. Karagenan adalah senyawa polisakarida hasil ekstraksi rumput laut. Karagenan memiliki salah satu fungsi sebagai pengemulsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan karagenan dengan konsentrasi berbeda terhadap karakteristik produk empek-empek udang. Materi yang digunakan adalah udang Windu segar, karagenan, dan bahan pendukung lainnya. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diterapkan adalah perbedaan konsentrasi karagenan 0%, 0,5%, 1% dan 1,5% dengan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan karagenan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap nilai stabilitas emulsi, water holding capacity (WHC), gel strength, aktivitas air (Aw), kadar air dan kadar protein. Empek-empek udang windu dengan penambahan karagenan 1,5% merupakan produk yang terbaik dengan kriteria mutu stabilitas emulsi 86,79%, water holding capacity 38,63%, kekuatan gel 838,88 g.cm, aktivitas air 0,86, kadar air 55,16%, kadar protein 18,38%, kadar lemak 0,05% dan hedonik 7,6≤µ≤8,4. Shrimp is a marine organism that has high protein content, shrimp meat can be processed as foods such as shrimp “empek-empek” which is contained high protein. Tiger shrimp empek-empek can be processed as added value product. However tiger shrimp empek-empek is an emulsion product that easily damaged during processing. Carrageenan is a polysaccharide that is extracted from seaweed. Carrageenan has a function as an stabilizer agent. The aimed of this study was to determine the effect of  carrageenan addition on different concentrations to tiger shrimp empek-empek characteristic. The materials used was fresh tiger shrimp, carrageenan, and other materials. This study was an experimental laboratories with experimental design completely randomized design (CRD). The treatment in this research were various concentrations of carrageenan 0%, 0,5%, 1% and 1,5% in triplicates. The results showed that the carrageenan addition were significantly different (P <0.05) to the value of the emulsion stability, water holding capacity (WHC), gel strength, water activity(Aw), water content and protein content. Tiger shrimp empek-empek with 1,5% carrageenan addition was the best treatment with the properties as follow,the emulsion stability 86,79%, water holding capacity 38,63%, gel strength 838,88 g.cm, water activity 0,86, water content 55,16%, protein content 18,38%, fat content 0,05% and hedonic 7,6≤µ≤8,4.
PENGARUH PERBEDAAN SUHU PENGUKUSAN (STEAM JACKET) TERHADAP KUALITAS MINYAK DARI LIMBAH USUS IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Nugroho, Agung Jati; Ibrahim, Ratna; Har Riyadi, Putut
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.869 KB)

Abstract

Proses pengolahan minyak ikan kasar dari limbah usus ikan Nila yang dilakukan pengolah minyak ikan di UKM daerah Jawa Tengah umumnya menggunakan dry renderring method (pemanasan langsung dengan suhu tinggi yaitu 90o C, tanpa penambahan air) dan suhu tidak terkontrol. Produk yang dihasilkan mengandung asam lemak bebas 11,76 %, dan bilangan peroksida 65,92 meq/kg. Nilai tersebut belum memenuhi standar mutu internasional minyak ikan kasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pengukusan sistim (steam jacket) yang berbeda (80±2o C, 70±2o C, dan 60±2o C) pada pengolahan minyak ikan kasar dengan bahan baku limbah usus ikan Nila (Oreochromis niloticus) terhadap kualitas minyak ikan kasar yang dihasilkan serta untuk mengetahui suhu optimum yang menghasilkan produk yang bermutu baik. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah usus ikan Nila. Proses pengolahan limbah isi perut ikan Nila menggunakan cara pengukusan dengan sistim (steam jacket). Sebagai perlakuannya adalah perbedaan suhu pemasakan yaitu suhu 80±2o C, 70±2o C, dan 60±2o C dan secara dry renderring method dengan suhu 90±2o C sebagai kontrol. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Sebagai variabel mutu produk yaitu kandungan asam lemak bebas, dan bilangan peroksida. Sedangkan variabel pendukungnya adalah angka iod, kadar air, viskositas, rendemen, dan organoleptik. Penelitian dilakukan dengan metode percobaan laboratoris menggunakan rancangan acak kelompok. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji beda nyata jujur. Hasil penelitian menunjukkan semakin rendah suhu pengukusan menyebabkan asam lemak bebas, bilangan peroksida, angka iod, dan rendemen semakin menurun, sedangkan kadar air, dan viskositas semakin meningkat. Nilai organoleptik produk tidak berbeda nyata diantara perlakuan pada sistim steam jacket. Suhu pemasakan optimum yaitu pada suhu 80±2o C dengan karakteristik kandungan asam lemak bebas 3,91%, bilangan peroksida 17,51 meq/kg, angka iod 9,13 mg/g, kadar air 0,91%, viskositas 194,11 cp, rendemen 25,3%, dan nilai organoleptik 7,4.
PENGARUH PERBANDINGAN PENAMBAHAN TEPUNG TULANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DAN BUBUR RUMPUT LAUT Ulva lactuca TERHADAP KARAKTERISTIK KERUPUK Novania, Anita; Sumardianto, Sumardianto; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 1 (2017): Wisuda Periode Bulan Januari 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.56 KB)

Abstract

Tulang ikan mengandung kalsium. Konsumsi kalsium masyarakat Indonesia masih kurang dari kebutuhan kalsium yang dianjurkan. Serat juga merupakan komponen penting pada diet manusia. Salah satu sumber serat adalah selada laut. Pemanfaatan kedua bahan pangan tersebut dapat ditambahkan pada kerupuk, sehingga dapat meningkatkan nutrisi dalam produk tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik kimia, fisik dan sensori kerupuk dengan penambahan tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut Ulva lactuca. Materi penelitian adalah tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut U. lactuca, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 5 perlakuan perbandingan konsentrasi tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut yaitu 0%:0% (K); 5%:20% (F1); 10%:15% (F2); 15%:10% (F3); 20%:5% (F4) dengan pengulangan 3 kali. Data parametrik dianalisis menggunakan ANOVA. Data nonparametrik dianalisis dengan Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerupuk dengan penambahan tepung tulang ikan nila dan bubur rumput laut berpengaruh terhadap kadar kalsium, proksimat, volume pengembangan dan hedonik. Pada kerupuk F4 memiliki kandungan kalsium tertinggi (3,69 ± 0,11), kadar air terendah (11,43 ± 0,06), kadar abu terbesar (15,99 ± 0,09), kadar protein tertinggi (8,27 ± 0,10). Serat kasar tertinggi pada F1 (4,45 ± 0,03). Nilai hedonik warna dan rasa tertinggi pada F2 yaitu warna (4,23±1,04) dan rasa (4,33±0,88).
PENGARUH PENAMBAHAN ISOLAT PROTEIN KEDELAI TERHADAP KARAKTERISTIK BAKSO DARI SURIMI IKAN SWANGI (Priacanthus tayenus) Astuti, Rahayu Tri; Darmanto, YS; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.097 KB)

Abstract

Ikan swangi memiliki daging yang berwarna putih sehingga dapat diolah menjadi berbagai macam produk berbasis fish jelly seperti surimi. Bakso ikan merupakan salah  satu  usaha  diversifikasi  produk  perikanan  yang  dapat  dikembangkan dan berpeluang menambah nilai  tambah  (added  value). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan isolat protein kedelai dalam bakso dari surimi ikan swangi (Priacanthus tayenus) terhadap karakteristik fisik, kimia dan sensori. Ikan diolah menjadi surimi dengan 3 kali proses pencucian. Surimi yang dihasilkan lalu diolah kembali menjadi bakso dengan penambahan isolat protein kedelai 4%,7% dan 10%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan yang berbeda (penambahan isolat protein kedelai 4%, 7% dan 10%). Hasil penelitian menunjukkan penambahan isolat protein kedelai konsentrasi 7% pada pengolahan bakso ikan swangi memperoleh hasil yang terbaik dengan kekuatan gel (1229,19gf), stabilitas emulsi (88,3%), kadar protein (20,2%), kadar lemak (5,36%), kadar air (55,66%), nilai pH (6,37), uji lipat (4,9), uji gigit (7,57) dan uji hedonik disukai. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan isolat protein kedelai pada bakso ikan swangi menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap kekuatan gel, stabilitas emulsi, kadar protein, kadar lemak, kadar air, nilai pH, uji lipat dan uji hedonik parameter tekstur, tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap uji gigit, uji hedonik parameter kenampakan, aroma dan rasa. Bigeye Snapper have white meat that can be processed into variety of jelly fish-based products such as surimi. A fish meatballs is one of efforts to diversify the fishery products can be developed and chance to add to the value added. The purpose of doing this research is knowing influence the soy protein isolate in meatballs of surimi bigeye Snapper (Priachantus tayenus) by analyzing physical characteristic chemical and sensory. Fish processed into surimi with 3 times the process of leaching. Surimi is produced and processed back into the meatballs eith the addition of soy protein isolate, 4%, 7% and 10%. The research experimental design used Completely Randomize Design (CRD) with different treatments (addition of soy protein isolate, 4%, 7% and 10%). The results Showed the addition of soy protein isolate concentration of 7% in the processing of fish balls swangi obtain the best results with gel strength (1229,19gf), emulsion stability (88,3%), protein (20,2%), fat (5,36%), moisture (55,66%), pH value (6,37), folding test (4,9), teeth cutting test (7,57), and hedonic test is preferably. Based on the results of this study concluded that the addition of soy protein isolate on fish balls swangi showed significant differences (P < 0.05) on levels of gel strength), emulsion stability, levels of protein, level of water, pH value, folding test, teeth cutting test, and hedonik-test the parameters of  texture, but didn’t  showed significant differences  on teeth cutting test, hedonik-test the parameters of appearance, smell and taste.
PENGARUH PENAMBAHAN OKSIDATOR DAN REDUKTOR TERHADAP DEGRADASI EKSTRAK KASAR PIGMEN FUKOSANTIN RUMPUT LAUT Sargassum duplicatum Rahmawaty, Amanda; Ma'ruf, Widodo Farid; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.089 KB)

Abstract

Fukosantin merupakan karotenoid utama yang ada pada S. duplicatum. Fukosantin mudah mengalami perubahan molekul, isomerasi dan degradasi. Oksidator dan reduktor adalah faktor yang dapat mengakibatkan degradasi pigmen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan oksidator dan reduktor terhadap degradasi ekstrak kasar pigmen fukosantin rumput laut S. duplicatum pada penyimpanan suhu ruang selama 12 jam.  Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut  S. duplicatum sebanyak satu kilogram yang diambil di perairan Pantai Bandengan, Jepara. Variabel yang diamati adalah kandungan fukosantin, nilai pH, dan nilai total perubahan warna (ΔE). Penelitian ini dilakukan dengan metode percobaan laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan pola percobaan split plot in time. Sebagai main plot adalah lama penyimpanan (0, 3, 6, 9, dan 12 jam) dan sebagai sub plot adalah jenis perlakuan (kontrol, oksidator, dan reduktor). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor jenis perlakuan dan lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan fukosantin, pH, dan total perubahan warna. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan fukosantin dan total perubahan warna. Penambahan oksidator (hidrogen peroksida) menyebabkan  laju degradasi yang lebih kecil dibandingkan dengan penambahan reduktor (asam askorbat). Setelah penyimpanan selama 12 jam, pada penambahan oksidator pigmen fukosantin berkurang sebesar 28.04% dari nilai awal, nilai pH menurun sebesar 6.65% dari nilai awal, dan nilai total perubahan warna meningkat menjadi 106.89% dari nilai awal, sedangkan pada penambahan reduktor pigmen fukosantin berkurang sebesar 29.54% dari nilai awal, nilai pH menurun sebesar 9.25% dari nilai awal, dan nilai total perubahan warna meningkat menjadi 139.93% dari nilai awal. Fucoxanthin was the main carotenoid in S. duplicatum. The molecul of fucoxanthin can be changed, isomerized and degraded easily. Oxidator and reductor were one of the factors that causing degradation of pigment. The objective of this study was to know the effect of oxidator and reductor addition to the crude fucoxanthin of  S. duplicatum degradation stored at room temperature for 12 hours.  The raw material of this research was one kilogram of S. duplicatum which was taken from coastal waters Bandengan, Jepara. The variables that have been choosen for this study were fucoxanthin content, pH, and color changed (ΔE). The method of this study was laboratory experimental using split plot in time experimental pattern with Completely Randomized Design. The different time of storages (0, 3, 6, 9 and 12 hours) were the main plot for this study, the others sub plot were the different treatments (control, oxidator, and reductor). This study showed that the different treatments and the different time of storages factor had significantly (P<0,05) effect to fucoxanthin content, pH, and color changed (ΔE). Interaction of each factor had significantly (P<0,05) effect to  fucoxanthin content and color changed. After storage for 12 hour, oxidator addition of fucoxanthin content was reduced up to 28.04% from the initial, pH was decreased into 6.65% from initial, and color changed was increased into 106.89% from initial, while reductor addition of fucoxanthin content was reduced up to 29.54% from initial, pH was decreased into 9.25% from initial, and color changed was increased into 139.93% from initial.  
APLIKASI GELATIN DARI BERBAGAI JENIS KULIT IKAN PADA NUGGET IKAN KURISI (Nemipterus nematophorus) Setyana, Priangga Murti; Darmanto, Y S; Riyadi, Putut Har
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 2 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam industri pangan, gelatin digunakan sebagai pengikat, penstabil dan pembentuk gel. Kekerasan dan kekuatan gel parameter yang sangat menentukan kualitas nugget ikan pada umumnya relatif rendah sehingga perlu diadakan penambahan gelatin.Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui sifat fisika kimia gelatin dari berbagai jenis kulit yang berbeda serta pengaruh penambahannya terhadap kekerasan serta kekuatan gel nugget ikan kurisi. Metode penelitian yang digunakan yaitu experimental laboratories. Penelitian tahap I menggunakan metode deskriptif sedangkan penelitian tahap II menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukan hasil kekuatan gel serta kekerasan nugget ikan kurisi dengan penambahan gelatin kulit ikan kakap memperoleh hasil tertinggi dengan nilai kekuatan gel (638,413 ± 0,312) dan kekerasan (348,345 ± 0,206). Penambahan gelatin kulit ikan kakap juga memperoleh hasil terendah pada pengukuran kadar air dengan nilai (46,217 ± 0,260) % dan hedonik (8,03).Gelatin yang dihasilkan dari berbagai bergai jenis kulit menunjukkan hasil fisiko-kimia yang berbeda-beda. Penambahan gelatin kulit kakap memberikan pengaruh paling tinggi terhadap kekerasan dan kekuatan gel serta kadar air yang paling rendah dibandingkan lemadang dan patin.
PENGARUH METODE PENGERINGAN GRANULATOR TERHADAP KANDUNGAN ASAM GLUTAMAT SERBUK PETIS LIMBAH PINDANG IKAN LAYANG (Decapterus spp.) Fauzy, Hilda Rizkyah; Surti, Titi; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.098 KB)

Abstract

Petis adalah produk sampingan hasil perebusan (ikan, kupang, dan udang) yang dikentalkan seperti saus. Petis mengandung asam glutamat yang cukup tinggi yang dikenal sebagai penyedap makanan. Oleh karena itu, sangat memungkinkan produk flavor yang dibuat dari petis limbah pindang ikan layang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan granulator terhadap kandungan asam glutamat, sifat kimia dan sifat fisik pada serbuk petis limbah pindang ikan layang. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan metode pengeringan granulator (50°C selama 5 jam, 60°C selama 4 jam, dan 70°C selama 3 jam). Variabel mutu yang diamati adalah asam glutamat, kadar air, protein, lemak, abu karbohidrat, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengeringan granulator berpengaruh nyata terhadap nilai asam glutamat dengan nilai tertinggi diperoleh pada pengeringan suhu 50oC selama 5 jam yaitu 10,12%; Kadar protein, dan lemak terbaik terdapat pada metode pengeringan granulator dengan suhu 50oC selama 5 jam dengan nilai kadar protein 31,73%, kadar lemak 4,62%. Sedangkan untuk metode pengeringan granulator dengan suhu 70oC selama 3 jam memberikan nilai terbaik pada kadar air (21,37%), abu (6,16%) dan karbohidrat (65,79%). Nilai hedonik terbaik terdapat pada metode pengeringan granulator dengan suhu 60oC selama 4 jam yaitu 7,31 7,49. Fish paste is made from boiling of fish, mussel and shrimp by product which is viscous like sauce. Fish paste is high glutamic acid content that is used as food flavoring. Therefore, it may possibly making fish paste powder from mackerel scad byproducts due to high content of glutamic acids. The aimed of this research were to determine the effect of granulator drying method to glutamic acid content, the chemical and physical characteristic of the fish paste powder of mackerel scad fish boiled by product. The used research method was a randomized block design with three different treatments method of drying granulator (50oC for 5 hours, 60oC for 4 hours and 70oC for 3 hours). Quality variable measured were glutamic acid, moisture contnet, protein, lipids, ash, carbohydrate  and hedonic test. The result of the research showed that the method of granulator drying on fish paste powder of mackerel scad fish boiled by product had significantly affected to glutamic acid content on treatment 50oC for 5 hours which was showed the high content of glutamic acids 10,12%. Protein content and lipid content also showed the high amount at 50oC for 5 hours with 31,73% and 4,62% respectively, meanwhile at 70oC for 3 hours treatment gave the low moisture content (21,37%), ash content (6,16%) and carbohydrate content (65,79%). The high hedonic test (7,31 7,49) be found at temperature 60oC for 4 hours.