cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
ANALISIS TOTAL BAKTERI COLIFORM DI SUNGAI BANJIR KANAL BARAT DAN SILANDAK, SEMARANG Analysis of Total Coliform Bacteria in Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers, Semarang Asih, Dilia Puspita; Ain, Churun; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.495 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26549

Abstract

Sungai Banjir Kanal Barat dan Silandak merupakan sungai besar yang berada di Kota Semarang. Terdapat berbagai aktivitas di sepanjang aliran sungai tersebut, diantaranya aktivitas domestik dan industri dimana buangan limbah masuk ke dalam badan sungai sehingga menyebabkan penurunan kualitas perairan. Salah satu mikroorganisme yang terkandung dalam limbah domestik yang berperan sebagai indikator pencemaran yaitu bakteri coliform sehingga perlu dilakukan perhitungan total coliform guna mengetahui adanya pencemaran di Sungai Banjir Kanal Barat dan Silandak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan total coliform, status mutu air berdasarkan PP Nomor 82 Tahun 2001 kelas II dan hubungan antara total coliform dengan bahan organik dan BOD (Biological Oxygen Demand) di Sungai Banjir Kanal Barat dan Silandak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei. Pengambilan sampel terdiri dari 2 stasiun (A dan B) yang masing-masing terdapat 5 titik dan 2 kali pengulangan (P1 dan P2). Variabel utama yang dianalisis yaitu total coliform, bahan organik dan BOD, variabel pendukung yang diukur yaitu temperatur, salinitas, DO (Dissolved Oxygen ) dan pH. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah total coliform pada stasiun A berkisar antara 240-16000 MPN/100 mldan 23-5400 MPN/100 ml pada stasiun B. Nilai total coliform pada titik A2 dan B2 pada P1 serta A5 P2telah melebihi bakumutu. Hubungan antara total coliform dengan bahan organik yaitu sangat lemah (nilaiPearson Correlation = 0,15). Hubungan antara total coliform denganBOD yaitu lemah (nilaiPearson Correlation= 0,378). Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers are large rivers in Semarang. There are various activities along the river flow, including domestic activities and industries where waste effluents enter the river bodies causing a decrease in water quality. One of the microorganisms contained in domestic waste that as an indicator of pollution is coliform bacteria, so it is necessary to calculate the total coliform in order to find out the pollution in the Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers. This study aims to determine abundance of total Coliform, water quality status based on PP No. 82 of 2001 class II and relationship between the total coliform with organic matter and BOD (Biological Oxygen Demand) in the Banjir Kanal Barat and Silandak Rivers. The method used in this study is survey method. Sampling consisted of 2 stations (A and B), each of which had 5  points and 2 repetitions (P1 and P2). The main variables analyzed were total coliform, organic matter and BOD, the supporting variable analiyzed were temperature, salinity, DO (Dissolved Oxygen ) and pH. Based on the results of the study, the total number of coliform at station A ranged from 240-16000 MPN/100 ml and 23-5400MPN/100 ml at station B. The total value of coliform at points A2 and B2 at P1 and A5 P2 has exceeded the standard. The relationship between total coliform and organic matter is very weak (Pearson Correlation value = 0.15). The relationship between total coliform and BOD is weak (Pearson Correlation value = 0.378). 
PENGARUH UNSUR HARA TERHADAP KELIMPAHAN FITOPLANKTON SEBAGAI BIOINDIKATOR PENCEMARAN DI SUNGAI GAMBIR TEMBALANG KOTA SEMARANG Fajar, Mohammad Gilang Nur; Rudiyanti, Siti; 'Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.341 KB)

Abstract

Sungai Gambir berada di pesawahan dan sekitar pemukiman padat penduduk di daerah Banyumanik, sehingga banyak limbah domestik yang masuk ke dalam badan sungai tersebut yang akan mempengaruhi kesuburan perairan dan pencemaran yang dapat dilihat dari indikator unsur hara dan kelimpahan fitoplankton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan unsur hara ( nitrat dan fosfat), mengetahui kelimpahan fitoplankton serta tingkat pencemaran di Sungai Gambir. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2014 – Januari 2015 di Sungai Gambir, Tembalang Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus yang bersifat deskriptif, sedangkan metode pengambilan sample yang digunakan dalam penelitian ini adalah  dengan menggunakan metode sistematik sampling. Stasiun sampling terdiri dari 3 stasiun. Metode kerja meliputi pengambilan sampel fitoplankton dan sampel  air untuk diukur kandungan unsur hara serta dilakukan pula pengukuran parameter  pendukung seperti arus, pH, DO, kedalaman, dan kecerahan. Sampel fitoplankton diidentifikasi dan dihitung keanekaragaman, keseragaman, dominasi, dan kelimpahan. Hasil penelitian menunjukkan kandungan Nitrat berkisar 0,84-1,21 mg/l dan Fosfat berkisar 0,31-0,45 mg/l. Fitoplankton yang telah ditemukan 19 genera dari 3 kelas yaitu Bacillariphyceae 5 genera, Chlorophyceae 11 genera dan Cyanophyceae 3 genera, dengan genera yang banyak ditemukan yaitu Nitzchia sp. Kelimpahan fitoplankton yang diperoleh berkisar anatara 407,632-704,864 ind/l, kelimpahan fitoplankton tertinggi pada stasiun 2 yaitu 704,864 ind/l dan terendah pada stasiun 1 yaitu 407,632 ind/l. Nilai H’ yaitu 1,496 – 1,579 maka pencemaran di sungai Gambir tergolong Sedang. Berdasarkan uji statistik, ada korelasi positif antara unsur hara ( nitrat dengan kelimpahan fitoplankton, nilai r : 0,939 dan fosfat dengan kelimpahan fitoplankton, nilai r : 0,647). Gambir rivers are in fields and around densely populated residential area Banyumanik, it is estimated that many domestic waste that goes into the water bodies that will affect the fertility waters and pollution that can be seen from the indicators of nutrients and phytoplankton abundance. The purpose of this study was to determine the content of nutrients (nitrates and phosphates), knowing the abundance of phytoplankton and the level of pollution in the River Gambir. This research was conducted in December 2014 - January 2015 in Gambir River, Tembalang Semarang. The method used is the method of descriptive case studies, while the sampling method used in this research is to use a systematic method of sampling. Sampling station consists of three stations. Working methods include sampling of phytoplankton and water samples to measure the nutrient content and also conducted support parameter measurements such as flow, pH, DO, depth, and brightness. Samples of phytoplankton were identified and counted diversity, uniformity, domination, and abundance. The results showed nitrate content ranged from 0.84 to 1.21 mg/l and Phosphate ranging from 0.31 to 0.45 mg/l. Phytoplankton has found 19 genera of 3 classes, namely Bacillariphyceae 5 genera, 11 genera Chlorophyceae and Cyanophyceae 3 genera, the genera are found that Nitzchia sp. The abundance of phytoplankton were obtained ranging from 407.632 to 704.864 anatara ind/l, the highest phytoplankton abundance at station 2 is 704.864 ind/l and the lowest at station 1 is 407.632 ind/l. The H’value is 1.496 to 1.579, the level of pollution in the river Gambir is moderate polluted classified. Based on statistical test, there is a positive correlation between nutriens (nitrate with an abudance of phytoplankton, the value of r : 0.939 and phosphate by abudance of phytoplankton, the value of r : 0.647.
HUBUNGAN JALUR MIGRASI PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) TERHADAP TINGGI MUKA LAUT, SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL-a di PERAIRAN INDONESIA Manurung, Monica Evi Suanty; Hartoko, Agus; Subiyanto, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1544.381 KB)

Abstract

Penyu adalah satwa yang terancam kepunahannya. Transmitter dalam pemantauan penyu dapat memberikan data jelajah penyu yang akurat beserta parameter oseanografinya. Metode penelitian ini menggunakan metode deskripsi. Tahapan penelitian meliputi pengambilan data dari satelit NOAA (tinggi muka laut, suhu permukaan laut dan klorofil-a) dan data titik koordinat penyu. Data kemudian diolah dengan menggunakan Er Mapper 7.0. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penyu lekang yang telah di pasang transmitter terpantau jalur migrasinya dari Selat Bali, Gilimanuk, Bali Utara,/Situbondo, Selat Madura, Madura Utara dan Selat Makassar. Distribusi tinggi muka laut berdasarkan titik koordinat penyu selama lima bulan (Juni, Juli, Agustus, November dan Desember) 2009 pada 7 lokasi yang berbeda yaitu dengan nilai minimum 44 cm dan maksimum 79 cm, sedangkan distribusi suhu permukan laut dengan nilai minimum 260C dan maksimum 300C, dan untuk distribusi klorofil-a dengan nilai minimum 0.219 mg/m3 dan nilai maksimum 2.77 mg/m3. Korelasi/keeratan hubungan posisi penyu terhadap tinggi muka laut, dengan nilai (r) yaitu 0.873 mempunyai interpretasi atau hubungan yang tinggi. Nilai (r) suhu permukaan laut yaitu 0.78 menunjukkan bahwa interpretasi sedang, dan untuk klorofil-a didapatkan nilai (r) yaitu 0.69, nilai ini menunjukkan bahwa interpretasi sedang.
PENGARUH KERAPATAN MANGROVE TERHADAP LAJU SEDIMENTASI DI DESA BEDONO DEMAK (The Effect of Mangrove Density on Sedimentation Rate in Bedono Village, Demak) Sihombing, Yuni Harvesty; Muskananfola, Max Rudolf; A’in, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.93 KB)

Abstract

Mangrove di kawasan perairan Bedono, Kecamatan Sayung, Demak dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, permukiman, industri, dan penebangan oleh masyarakat untuk berbagai kepentingan, sehingga mengurangi daya tangkap akar mangrove sebagai pemerangkap sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kerapatan mangrove terhadap laju sedimentasi. Penelitian dilaksanakan pada April 2017 di kawasan hutan mangrove Desa Bedono. Penentuan lokasi sampling dilakukan dengan melakukan beberapa kali observasi/studi pendahuluan. Observasi dilakukan dengan cara mencari tiga stasiun vegetasi mangrove dengan kerapatan yang berbeda yaitu rapat, sedang dan jarang. Pada tiap-tiap stasiun terdapat 3 titik pengambilan sampel. Pengambilan ­sampel dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval waktu 2 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju sedimentasi paling tinggi terdapat pada stasiun I titik 3 dengan nilai rata-rata 30,935 mg/cm2/hari dimana pada lokasi ini memiliki kerapatan mangrove yang paling rendah yaitu 600 pohon/ha sedangkan nilai laju sedimentasi paling rendah terdapat pada stasiun III titik 2 dengan nilai rata-rata 4,891 mg/cm2/hari dimana pada lokasi ini memiliki kerapatan paling tinggi yaitu 3100 pohon/ha. Hubungan kerapatan mangrove dan laju sedimentasi menunjukkan korelasi negatif sebesar -0.842 artinya ketika kerapatan mangrove tinggi maka laju sedimentasi akan rendah dan sebaliknya ketika kerapatan mangrove rendah maka laju sedimentasi akan tinggi. Mangrove in the area of Bedono waters, Sayung District, Demak are utilized by the society to fulfill their life needs through land mangrove conversion into ponds, settlement, industry, and logging by the society for various purposes, thereby reducing the mangrove roots capability as a sediment traps. The purpose of this study was to determine the influence of mangrove density on sedimentation rate. The research was conducted in April 2017 in the mangrove forest area of Bedono Village. Determination of sampling location was done by conducting some initial observation. Observation was done by searching three mangrove vegetation stations with different density is high, medium and rare density. In each station there are 3 points of sampling. Samples were collected three times in 2 weeks time interval. The results showed that the highest sedimentation rate was found at station I point 3 with the average value of 30.935 mg/cm2/day where at this location has the lowest mangrove density of 600 trees/ha while the lowest sedimentation rate was found at station III Point 2 with the average value of 4.891 mg/cm2/day where at this location has the highest density of 3100 trees/ha. The relationship between mangrove density and sedimentation rate exhibits a negative correlation of -0,842 this means that when the mangrove density is high then the sedimentation rate will be low and otherwise when the mangrove density is low then the sedimentation rate will be high.  
TINGKAT PRODUKTIVITAS PRIMER DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON BERDASARKAN WAKTU YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA Yulianto, Dwi; Muskananfola, Max Rudolf; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.694 KB)

Abstract

Wilayah pantai merupakan wilayah yang kompleks dimana di dalamnya terjadi interaksi dari beberapa ekosistem. Dalam hal ini terdapat komponen ekosistem biotik dan abiotik. Salah satu komponen biotik yang sangat berperan dalam ekosistem adalah fitoplankton. Selain sebagai produsen primer, fitoplankton juga dijadikan sebagai bioindikator kualitas air yang memiliki sifat kosmopolit yakni dapat hidup di beragam jenis perairan atau dengan kata lain pola penyebarannya sangat luas, yang berarti penyebaran plankton bervariasi dari satu tempat ke tempat lain karena kualitas airnya berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas primer, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominasi fitoplankton pada waktu yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2013 di perairan Pulau Panjang, Jepara. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada dua ekosistem yang berbeda. Stasiun Pertama didominasi oleh biota karang, sedangkan pada stasiun B didominasi oleh biota Lamun. Metode yang digunakan untuk menentukan Produktivitas perairan adalah dengan menggunakan metode botol gelap terang Winkler, sedangkan untuk kelimpahan digunakan sampling pasif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat produktivitas primer di perairan Pulau Panjang berkisar antara 25 – 75 mgC/m3/jam, dengan nilai produktivitas tertinggi sebesar 75 mgC/m3/jam yang didapatkan pada pukul 10.00 WIB. Nilai Produktivitas terendah didapat pada pukul 06.00 WIB sebesar 25 mgC/m3/jam. Kelimpahan Fitoplankton terendah sebanyak 13053 ind/l didapatkan pada pukul 06.00 WIB, sedangkan kelimpahan tertinggi didapatkan sebanyak 23040 ind/l pada pukul 10.00 WIB. Nilai indeks keanekaragaman pada penelitian yaitu berkisar antara 1,53 – 1.84. Nilai indeks keseragaman yaitu berkisar antara 0,48  – 0,55 dan nilai indeks dominansi 0 < D < 0,5. Maka dapat disimpulkan perairan tersebut memiliki nilai indeks keanekaragaman yang rendah, tingkat keseragaman sedang dan tidak terjadi dominansi spesies.  Coastal region is a complex zone where there are interactions occur between some ecosystems, between biotic and abiotic ecosystems component. One of the most important component that take role in those ecosytems is Phytoplankton. Phytoplankton, not only as a primary producer, it also has different use as bioindicator for water quality that have cosmopolite characteristic. It means that phytoplankton distribute with many different variations based on the water quality in each area. The main purpose of this research was to know primary productivity, index of diversity, index of similarity, and  index of phytoplankton domination at different time. This research was held in June, 2013 in Panjang Island, Jepara. Descriptive methodology was used during the sampling of this research. For collecting sample did on two different station. First station was dominated by coral and second station was dominated by seagrass. The method that used for primary productivity measurement was Winkler method, while for phytoplankton diversity use passive sampling measurement. The results show that primary productivity in Panjang Island was about 25 – 75 mgC/m3/hour, with 75 mgC/m3/hour as the highest productivity value, and the peak time was at 10.00. The lowest productivity value was 25 mgC/m3/ at 06.00. The lowest Phytoplankton diversity was 23.040 ind/l at 10.00. Diversity index value approximately 1,53 - 1,84. Similarity index value approximately 0,48 - 0,55 and domination index value is 0 < D < 0,5. Based on those data, it is concluded that Panjang Island has low diversity index value, average similarity index value and no species was dominating this area.
KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT AIR PADA PROSES PEMBUSUKAN ECENG GONDOK (Eichhornia sp.) (Skala Laboratorium) Juwitanti, Eko; Soedarsono, Prijadi; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.118 KB)

Abstract

Unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) merupakan unsur hara (nutrien) yang diperlukan oleh tumbuhan air untuk pertumbuhan dan perkembangan hidupnya. Unsur tersebut ada dalam bentuk nitrat (NO3) dan fosfat (PO4). Tingginya kandungan nitrat dan fosfat pada perairan Rawa Pening terlihat dengan banyaknya eceng gondok yang tumbuh disana. Akan tetapi, kegiatan masyarakat sekitar yang hanya mengambil batang eceng gondok dan membuang kembali akar dan daunnya ke perairan berpotensi untuk meningkatkan kadar nitrat dan fosfat air di Rawa Pening. Kandungan unsur hara yang terlalu tinggi akibat dari proses pembusukan yang terjadi secara terus-menerus dapat mengakibatkan perairan mengalami keadaan yang terlalu subur (eutrofikasi). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandungan nitrat dan fosfat air pada proses pembusukan Eceng Gondok. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen skala laboratorium. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu wadah percobaan yang berisi akar, batang, dan daun eceng gondok. Data yang diukur meliputi kadar nitrat (NO3), kadar fosfat (PO4), berat Eceng Gondok, suhu, pH air, dan DO. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2013 hingga Juli 2013 di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan Jurusan Perikanan Universitas Diponegoro, Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kandungan nitrat dan fosfat air tertinggi yaitu pada pembusukan daun eceng gondok dengan kadar nitrat 1,599 – 2,053 mg/l dan kadar fosfat 0,025 – 0,099 mg/l. Sedangkan pada batang mengandung nitrat antara 0,651 – 1,271 mg/l dan fosfat sebesar 0,011 – 0,074 mg/l. Kandungan terendah terdapat pada akar, dengan kadar nitrat 0,350 – 0,944 mg/l dan kadar fosfat 0,009 – 0,051 mg/l. Berat eceng gondok menyusut setelah 4 minggu terbukti dari berat awal masing-masing 200 gr dan berat akhir pada akar yaitu 96,6 gr, pada batang 72,6 gr dan pada daun eceng gondok 56,3 gr. Hasil analisis data kandungan nitrat dan fosfat air dengan Anova One Way terdapat perbedaan yang signifikan antara akar, batang dan daun diperoleh nilai signifikansi 0,00 untuk nitrat dan 0,021 untuk fosfat (p < 0,05).
DISTRIBUSI SPASIAL AMONIA, NITRIT DAN Escherichia coli DARI LIMBAH INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA (IPLT) TANGGUNG REJO, KOTA SEMARANG Dewa Restu Rianto; Haeruddin Haeruddin; Sigit Febrianto
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 2 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.425 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i2.22540

Abstract

Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Tanggung Rejo berada bersebelahan langsung dengan Muara Sungai Tambak Rejo, Kota Semarang. Adanya masukan air limbah IPLT Tanggung Rejo ke perairan berpotensi adanya kandungan amonia, nitrit dan jumlah bakteri Escherichia coli yang berlebih. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi dan peta sebaran dari amonia, nitrit, dan kelimpahan E. coli pada Muara Sungai Tambak Rejo Kota Semarang. Waktu penelitian dilakukan pada bulan November hingga Desember 2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling pada 4 stasiun. Analisis sebaran spasial dengan menggunakan metode IDW. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa indikator pencemaran perairan amonia berkisar antara 0,3 – 7,31 mg/L, nitrit berkisar antara 0,004 – 0,144 mg/L, dan jumlah E. coli berkisar antara 1 – 270000 MPN, dimana nilai amonia, nitrit dan E. coli tersebut diatas nilai baku mutu.  The installation of the Fecal Sludge Processing (IPLT) Tanggung Rejo location is directly adjacent to Tambak Rejo estuary, city of Semarang. The supply wastewater from IPLT Tanggung Rejo to the estuary has the potensial the presence of ammonia, nitrite and Escherichia coli bacteria. The purpose of this research was to know the concentration and distribution of ammonia, nitrite, and E. coli abundance at estuary. The research was conducted November until December 2017. The methods used in this research were survey and technical sampling methods using purposive sampling in 4 stations. Spasial distribution analysis using IDW method. The results of the measurements indicate that the ammonia waters pollution indicator ranged between 0.3 – 7.31 mg/L, nitrite ranged from 0.004 – 0.144 mg/L, and the amount of E. coli was in the range 1 – 270000 MPN, where the value of ammonia, nitrite, and E. coli is above the standard value. 
LAJU FILTRASI KERANG HIJAU (Perna viridis) TERHADAP Skeletonema costatum PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS Hutami, Febry Entya; Supriharyono, -; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.796 KB)

Abstract

Kerang hijau (Perna viridis) merupakan organisme filter feeder dimana dalam mendapatkan  makanannya dilakukan dengan cara menyaring makanan berupa plankton di perairan. Kemampuan filtrasi akan mempengaruhi kuantitas makanan yang masuk ke dalam organ pencernaan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pertumbuhan kerang itu sendiri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju filtrasi kerang hijau pada berbagai tingkat salinitas dan mengetahuihubungan antara salinitas media penelitian terhadap laju filtrasi.Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan tiga kali pengulangan. Perlakuan A (penggunaan kerang hijau dengan kepedatan plankton 5.000.000 sel/L pada salinitas 25‰), B (pengunaan kerang hijau dengan kepadatan plankton 5.000.000 sel/L pada salinitas 30‰), dan C (pengunaan kerang hijau dengan kepadatan plankton 5.000.000 sel/L pada salinitas 35‰). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata laju fiktrasi kerang hijau (Perna viridis) pada t1 untuk salinitas 25‰ diperoleh sebesar 0,071 L/jam, salinitas 30‰ diperoleh sebesar 0,052 L/jam, dan salinitas 35‰ diperoleh sebesar 0,083 L/jam. Pada t2 salinitas 25‰ diperoleh sebesar 0,046 L/jam, salinitas 30‰ diperoleh sebesar 0,024 L/jam, dan salinitas 35‰ diperoleh sebesar 0,049 L/jam. Berdasarkan analisa anova satu arah antara nilai laju filtrasi dan salinitas tidak diperoleh nilai signifikan, sedangkan analisa anova satu arah antara laju filtrasi dan waktu diperoleh nilai signifikan yaitu 0,013.Salinitas 35‰ menunjukkan laju tertinggi filtrasi kerang hijau (Perna viridis). Green mussel (Perna viridis) is a filter feeder organism which get food by filtering plankton from the waters. Filtration ability will effect in food quantity which enter throught digestion and finally will effect on mussel growth. The objective of this study is to investigate the ratio of the value of filtration rate of Perna viridis and to find the correlation between variousof salinity level on filtration rate of green mussel (Skeletonema costatum). This study used laboratories experimental method, using Completely Randomize Design (RAL) with 3 (three) treatments and 3 (three) replications. Treatment A (using 5000000 sel/L density of green mussel on 25‰), B ( using 5000000 sel/L density of green mussel on 30‰), and C ( using 5000000 sel/L density of green mussel on 35‰). Result of the study shows that the average of filtration rate Perna viridis on t1; salinity of 25‰ was 0,071 L/hour, salinity of 30‰ was 0,052 L/hour, and salinity of 35‰ was 0,083 L/hour. While on t2; salinity of 25‰ was 0,046 L/hour, salinity of 30‰ was 0,024 L/hour, and salinity of 35‰ was 0,049 L/hour. According to ANOVA with one way analisys between filtration rate and salinity showed that not significant different (p<0,05), while  analysis between  filtration rate and time showed significantly different (p>0,05). The highest filtration rate of green mussel (Perna viridis) occurred on salinity 35‰. 
HUBUNGAN LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN KADMIUM (Cd) TERLARUT DENGAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI SILANDAK SEMARANG Ardi, Helmi; Rudiyanti, Siti; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.119 KB)

Abstract

 ABSTRAK  Sungai Silandak terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah. Sungai ini menerima limbah yang berasal dari kegiatan industri plastik yang dialirkan ke perairan, dan juga menerima aliran limbah rumah tangga serta terdapat banyak sarana transportasi air di bagian muara sungai.Limbah yang berasal dari industri tersebut mengandung logam berat timbal dan kadmium.Penelitian dilakukan pada bulan April 2016 – Mei 2016 di Sungai Silandak yang bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kadmium dan timbal, mengetahui kelimpahan danstruktur komunitas fitoplankton, dan mengetahui hubungan kadmium dan timbal dengan kelimpahan fitoplankton. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik samplingpurposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi kadmium di lokasi penelitian berkisar antara 0,0007 - 0,001 mg/l, sedangkan konsentrasi timbalberkisar antara 0,002 - 0,007 mg/l. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 1826 - 6730 ind/l, indeks keanekaragaman (H’) dengan angka 1.747 – 2.828, Indeks dominasi (d) diperoleh hasil dengan angka 0.077 – 0.284, dan indeks keseragaman (e) dengan angka 0.645 – 0.890. Tidak ada hubungan yang signifikan antara kadmium dengan kelimpahan fitoplankton dengan angka koefisien korelasi (r) sebesar 0.179 menunjukkan korelasi lemah.Tidak ada hubungan yang signifikan antara logam berat timbal dengan kelimpahan fitoplankton, diperoleh angka koefisien korelasi (r) sebesar 0.261 menunjukkan korelasi lemah.PCA (Principle Component Analysis) digunakan untuk mengetahui hubungan kadmium dan timbal dengan kelimpahan genera fitoplankton. Terdapat hubungan signifikan logam berat timbal dengan kelimpahan genus Dyctyocha sp dan Bacteriastrum sp di level 0.05 dari rentang kepercayaan  95 %, korelasi kuat negatif dengan koefisien korelasi -0.68. Kata Kunci  :Kadmium; Cd; Timbal; Pb; Kelimpahan Fitoplankton;Logam Berat; SungaiSilandak. ABSTRACT Silandak river is located in Semarang, Central Java. This river is suspect to receiving waste came from plastic industry activity which is streamed to the water, and also receiving household waste stream and there are plenty of water transportation in the section of the estuary. Waste from the industry is suspected contain heavy metals cadmium and lead.The study was conducted in April 2016 - May 2016 in the River of Silandak which aimed to determine the concentration of cadmium and lead, to determine the abundance and  the phytoplankton community structure, and to determine the correlation of cadmium and lead with the abundance of phytoplankton. The study used survey method with purposive sampling technique. The results showed the concentration of cadmium in the study locations was within the range of 0.0007 to 0.001 mg/l, while the concentration of lead was within the range of 0.002 to 0.007 mg/l. The abundance of phytoplankton ranged between 1826 - 6730 ind/l, the rate of diversity index (H’) was within the range of1.747 - 2.828, the dominance index (d) obtained results within the rate of 0.077 - 0.284, and evenness index (e) within the rate of 0.645 - 0.890. There was no significant correlation between cadmium with the abundance of phytoplankton with a correlation coefficient (r) of 0.179 which means weak correlations. There was no significant correlation between the heavy metals lead with the abundance of phytoplankton, the rate of the correlation coefficient (r) of 0.261 which means weak correlations. PCA (Principle Component Analysis) is used to determine the correlation cadmium and lead with the abundance of phytoplankton genus. There was a significant correlations of heavy metals lead with the abundance Dyctyocha sp and Bacteriastrum sp genus at 0.05 levels the range of 95%, a strong negative correlation with a correlation coefficient of -0.68. Keywords: Cadmium; Cd; Lead; Pb;Phytoplankton Abundance; Heavy Metal;Silandak River.
HUBUNGAN ANTARA KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT DENGAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI BREMI KABUPATEN PEKALONGAN Rumanti, Menur; Rudiyanti, Siti; Nitisupardjo, Mustofa
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.23 KB)

Abstract

Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan tergantung pada kandungan zat hara di perairan antara lain nitrat dan fosfat. Konsentrasi nitrat dan fosfat di suatu perairan dipengaruhi oleh kualitas perairan dan buangan limbah yang masuk ke dalam suatu perairan sungai. Sungai Bremi mengalir di sepanjang pemukiman penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai buruh batik. Buangan limbah domestik dan industri tersebut dapat mempengaruhi kandungan nitrat dan fosfat. Kandungan nitrat dan fosfat dapat mempengaruhi keberadaan fitoplankton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nitrat dan fosfat, kelimpahan fitoplankton serta hubungan antara nitrat dan fosfat dengan kelimpahan fitoplankton di Sungai Bremi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2013.Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah air sampel untuk uji nitrat dan fosfat serta sampel fitoplankton yang berasal dari Sungai Bremi. Metode yang digunakan adalah survei lapangan dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Kegiatan sampling dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval waktu selama 3 minggu. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 stasiun yang berbeda. Masing-masing stasiun terdiri dari 3 titik. Pengambilan sampel plankton menggunakan plankton net. Sampel plankton diawetkan menggunakan lugol iodine 1-2 tetes kemudian diidentifikasi di laboratorium. Uji kandungan nitrat dan fosfat dilakukan dengan skala laboratorium. Analisa data dilakukan menggunakan software SPSS 16.Hasil penelitian menunjukkan kandungan nitrat di Sungai Bremi berkisar antara 0,81 mg/l – 0,99 mg/l. Kandungan nitrat tergolong rendah sehingga kurang optimal bagi pertumbuhan fitoplankton. Kandungan fosfat berkisar antara 0,90 mg/l – 1,35 mg/l. Kandungan fosfat tergolong tinggi namun masih dapat ditolerir oleh fitoplankton. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 1324 ind/l – 2444 ind/l. Perolehan nilai r sebesar 0,774 artinya antara kandungan nitrat dan fosfat dengan kelimpahan fitoplankton memiliki hubungan yang erat.