cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
HUBUNGAN KERAPATAN LAMUN (SEAGRASS) DENGAN KELIMPAHAN TERIPANG (HOLOTHURIA) DI PANTAI ALANG-ALANG TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Ristina, Mafi; Sulardiono, Bambang; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.077 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22669

Abstract

Pantai Alang-alang terletak di Taman Nasional Karimunjawa yang memiliki ekosistem lamun dengan cukup baik. Banyak biota yang berasosiasi dengan lamun, salah satunya teripang yang merupakan unsur kekayaan keanekaragaman hayati laut. Tingginya harga pasar dan manfaat yang begitu besar bagi manusia, membuat permintaan komoditas tersebut meningkat dari waktu ke waktu sehingga mengancam kelestarian jenis tersebut di habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan lamun, kelimpahan teripang, dan  mengetahui hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan teripang di Pantai Alang-alang, Karimunjawa. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Mei 2018 di perairan Pantai Alang-alang, Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode observasi dengan metode samplingnya random sampling. Pengambilan sampel teripang dilakukan pada ketiga stasiun lamun dengan kerapatan jarang, sedang, dan padat. Penghitungan pemetaan lamun dan kelimpahan teripang menggunakan kuadran 1m x 1m dan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 jenis lamun yaitu Enhallus acoroides, Cymodoceae serulata, Thalasia hemprichii, dan Cymodoceae rotundata. Jumlah tegakan lamun pada kerapatan jarang 5378 tegakkan/80m2, kerapatan sedang 13564 tegakkan/80m2, dan kerapatan padat 28632 tegakkan/80m2. Teripang yang didapatkan di Pantai Alang-alang yaitu sebanyak 1 spesies pada kerapatan padat sejumlah 48 ind/80m2, kerapatan sedang 39 ind/80m2, dan pada kerapatan jarang 16 ind/80m2. Hasil analisa statistika kerapatan lamun dengan kelimpahan teripang terdapat korelasi r = 0,914, menunjukan korelasi erat sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh melimpahnya teripang.                       Alang-alang Beach is located in Karimunjawa National Park which has good seagrass ecosystem. Many biota associated with seagrass, one of them is Holothuria which is an element of marine biodiversity richness. The high market price and the enormous benefits for humans, make the demand for these commodities increase over time, thus threatening the sustainability of the species in their habitat. This study aims to determine the density of seagrass, to know the abundance of Holothuria, and to know the relationship between the density of sea grass with the abundance of Holothuria in Alang-alang Beach, Karimunjawa. The research was conducted in May 2018 in the waters of Alang-Alang Beach, Karimunjawa. The method used in the research is the method of observation by the method of sampling random sampling. Sampling of sea cucumbers was done on three seagrass stations with rare density, medium, and solid. Calculation of seagrass mapping and abundance of Holothuria using quadrant 1m x 1m and done as much as 3 times repetition. The results showed that there were 4 types of seagrass: Enhallus acoroides, Cymodoceae serulata, Thalasia hemprichii, and Cymodoceae rotundata. The amount of seagrass standing at rare density 5378 stands / 80m2, medium density 13564 stands / 80m2, and solid density 28632 stands / 80m2. Holothuria are obtained in Alang-alang Beach that is 1 species in solid density of 48 ind / 80m2, medium density 39 ind / 80m2, and at rare density 16 ind / 80m2. The result of statistical analysis of seagrass density with the abundance of Holothuria is correlation r = 0,914, showing the correlation closely so that the higher density of sea grass will be followed by abundance of sea cucumber.
PENGARUH ARUS DAN SUBSTRAT TERHADAP DISTRIBUSI KERAPATAN RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PULAU PANJANG SEBELAH BARAT DAN SELATAN Wulandari, Stephany Retna; Hutabarat, Sahala; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.475 KB)

Abstract

Pulau Panjang adalah salah satu pantai utara Jawa yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Salah satu ekosistem yang ditemukan di wilayah pesisir adalah ekosistem rumput laut. Rumput laut memiliki keanekaragaman spesies  yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus dan substrat terhadap distribusi kerapatan rumput laut di perairan Pulau Panjang sebelah barat dan selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2014. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan data kerapatan rumput laut menggunakan metode line transect. Pengamatan dilakukan dengan menghitung kerapatan rumput laut pada 3 line di sebelah barat dan selatan Pulau Panjang. Panjang line transect yang digunakan adalah 100 meter, diletakkan tegak lurus garis pantai dan untuk memudahkan perhitungan kerapatan rumput kaut digunakan kuadran transect berukuran 1x1 m. Kemudian dilakukan pengukuran parameter oseanografi. Hasil penelitian dijumpai tujuh jenis rumput laut yaitu Padina crassa, Sargasum confusum, Turbinaria ornata, Sargassum crispitolium, Caulerpa racemosa, Caulerpa serrulata, dan Lenthesia difformis pada sebelah barat dan selatan Pulau Panjang. Nilai kecepatan arus Pulau Panjang di sebelah selatan adalah 0,10-0,12 m/detik dan arus Pulau Panjang di sebelah barat 0,09-0,01 m/detik. Substrat di Pulau Panjang sebelah barat adalah  karang hidup (26 m2), karang mati (83 m2), pasir (80 m2) dan pecahan karang (109 m2), sedangkan di Pulau Panjang sebelah selatan adalah karang hidup (31 m2), karang mati (93 m2), pasir (54 m2) dan pecahan karang (122 m2).  Kerapatan rumput laut tertinggi di Pulau Panjang sebelah barat dan selatan adalah jenis Padina crassa sebanyak  37,39% dan 31,26%. Panjang island is one of Java’s northern sea which located in Jepara, Central Java. One of ecosystem which found in coastal area is seaweed ecosystem. Seaweed has high species’s variety. This research is intended to acknowledge how current and subtrate affect the seaweed’s density distribution in Panjang Island’s west and south waters. This research was done in October 2014. This research uses descriptive research method. While Line Transect is used to intake the data of seaweed’s density. The observation is done by counting the seaweed’s density on three lines in Panjang Island’s south and west waters. Line Transect’s lenght which used is 100 meters, be placed perpendicular to coastal area and use 1x1 meter transect quadran to make the counting of seaweed’s density easier.  And then, the measuring of oceanography parameter is conducted. As the result, seven seaweed’s varietis are found, they are Padina crassa, Sargasum confusum, Turbinaria ornata, Sargassum crispitolium, Caulerpa racemosa, Caulerpa serrulata, and Lenthesia difformis in Panjang Island’s south and west waters. Speed value of Panjang Island’s current in south area is 0,10-0,12 m/second and Panjang Island’s west area is 0,09-0,01 m/second. The substrate in Panjang Island’s west area is alive coral (26 m2), dead coral (83 m2), sand (80 m2), and coral’s fraction (109 m2), while in Panjang island’s south area is alive coral (31 m2), dead coral (93 m2), sand (54 m2), and coral’s fraction (122 m2). The highest seaweed’s density in west and south’s area is Padina Crassa, that is 37,39% and 31,26%.
SEBARAN DAN KEPADATAN TERIPANG (HOLOTHUROIDEA) DI PERAIRAN PANTAI PULAU PRAMUKA, TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA Hasanah, Uswatun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 1, No 1 (2012): Journal of Management of Aquatic Resources
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.198 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 9 – 22 April 2012 di Perairan Pantai Pulau Pramuka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat deskriptif. Pengambilan sampel teripang menggunakan metode kuadran transek. Pengambilan sampel dilakukan di 3 stasiun yaitu utara, timur dan selatan Pulau Pramuka. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu Teripang yang didapatkan di perairan pantai Pulau Pramuka terdiri dari 6 spesies yaitu Synapta maculata, Euapta godefroyii, Holothuria leucospilota, Holothuria hilla, Holothuria edulis, dan Stichopus hermanni. Kepadatan teripang tertinggi pada stasiun I sebesar 0,0413 ind/600 m2 dan kepadatan teripang terendah pada stasiun III sebesar 0,0073 ind/600 m2. Nilai Sebaran (distribusi) teripang di tiga stasiun penelitian di Pulau Pramuka memiliki nilai indeks dispersi morisita 0,960, 0,929, dan -0,0012. Ketiga nilai tesebut Iδ < 1 sehingga pola penyebaran dikatakan seragam atau merata.Kata Kunci: Teripang, Sebaran, KepadatanAbstractThis research was done on April 9 to 22, 2012 at Pramuka Island Coastal Waters. The method used in this study is descriptive survey. The sampling method of sea cucumbers is kuadran transect method, which was conducted at the north, east and south stations of Pramuka Island. The results obtained in the study of Sea cucumbers that are found in coastal waters of Pramuka Island are composed of six species of Synapta maculata, Euapta godefroyii, Holothuria leucospilota, Holothuria Hilla, Holothuria edulis and Stichopus hermanni. The highest density of sea cucumbers at the station I is 0.0413 ind/600m2 and while the lowest density at station III is 0.0073 ind/600m2. The distribution of sea cucumbers at three stations in coastal waters of the Pramuka Island has morisita dispersion index value of 0.960, 0.929, and -0.0012. Those three values are Iδ <1, so it can be said that sea cucumbers in Pramuka Island are evenly spread/uniform.Keyword: Sea Cucumber, Distribution, Density
KADAR LOGAM BERAT TEMBAGA (Cu), KROMIUM (Cr) PADA SEDIMEN DAN JARINGAN LUNAK Anadara granosa DI PERAIRAN TAMBAK LOROK SEMARANG Dewi, Mayda Anggita; Suprapto, Djoko; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.003 KB)

Abstract

ABSTRAK Perkembangan industri di Semarang memiliki dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat dan dampak negatif bagi kehidupan A. granosa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 hingga Februari 2017 dengan tujuan untuk mengetahui kadar logam Cu dan Cr pada air, sedimen,  A. granosa serta nilai MTI (Maximum Tolerable Intake) di perairan Tambak Lorok, Semarang. Lokasi sampling ditetapkan secara purpose sampling, kandar Cu, Cr pada air laut menggunakan acuan APHA 1992, sedimen mengacu US.EPA 1996, A. granosa berdasarkan AOAC 2012. Hasil penelitian memperoleh pada air kadar Cu <0,001 mg/L – 0,002 mg/L dan Cr <0,001 mg/L - <0,003 mg/L ,pada sedimen kadar Cu 37,13 mg/kg - 49,41 mg/kg dan Cr 22,65 mg/kg - 29,25 mg/kg, pada A. granosa kadar Cu  0,43 mg/kg – 1,48 mg/kg dan Cr 0,44 mg/kg – 1,48 mg/kg. Analisis hasil pengukuran logam Cu, Cr pada air laut  menurut Kep.Men.LH nomor 51 tahun 2004 tidak melebihi baku mutu. pegukuran Cu dan Cr pada sedimen telah melampaui batas yang diterapkan NOAA 1999. A. granosa telah tercemari oleh logam Cu maupun Cr dan nilai MTI untuk logam Cu yaitu 0,187 gram per minggu serta 0,002 gram per minggu untuk logam Cr. Kata Kunci: Logam berat Cu; Cr; Anadara granosa; air laut; sedimen ABSTRACT Industrial development in Semarang has positive impact on people’s welfare and negative impact on life A. granosa. This study was conducted on October 2016 until Februari 2017 with the aim to know the levels of Cu and Cr metals in water, sediment, A. granosa and the valve if MTI in water of Tambak Lorok, Semarang.  The sampling location is set purpose sampling, levels of Cu and Cr in sea water using APHA 1992, sediment refers to US. EPA 1996, A.granosa based on AOAC 2012. The results of the research obtained Cu levels in water <0,001 mg/L - 0,002 mg/L, Cr <0,001 - <0,003 mg/L, on Cu sediment 37,13 mg/kg - 49,41 mg/kg, Cr levels in sediment 22,65 mg/kg - 29,25 mg/kg, on A. granosa Cu levels 0,43 mg/kg – 1,48 mg/kg and Cr levels 0,44 mg/kg – 1,48 mg/kg. Analysis of the results of measurement of Cu, Cr at sea water according to Kep.Men.LH number 51 of 2004 not exceeding the quality standard. The measurement of Cu and Cr on sediments has exceeded the limits applied by NOAA 1999. A. granosa has been contaminated by both Cu and Cr metals and the MTI value for Cu metals is 0.187 grams/week  also 0.002 grams/week for Cr. Keywords: Cu; Cr; Anadara granosa; sea water; sediment 
ANALISIS LAJU SEDIMENTASI DI DAERAH PADANG LAMUN DENGAN TINGKAT KERAPATAN BERBEDA DI PULAU PANJANG, JEPARA Hidayat, Moh; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.259 KB)

Abstract

Pulau Panjang merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragamanan ekosistem perairan, antara lain adalah ekosistem lamun yang merupakan habitat bagi biota-biota perairan. Secara ekologi, padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir yang salah satunya berfungsi untuk menstabilkan dasar-dasar lunak dimana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju sedimentasi di daerah padang lamun dengan tingkat kerapatan berbeda dan mengetahui hubungan antara kerapatan  lamun dengan laju sedimentasi di Pulau Panjang. Metoda penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan pencarian fakta di interpretasikan dengan  tepat. Metode sampling dengan metode transek, sebaran lamun ditentukan 3 stasiun yaitu jarang, sedang, padat dan luasan yang sama (10 m x 10 m). Kuadran transect berukuran 1 m x 1 m digunakan untuk menghitung tegakan lamun dalam setiap meter persegi. Hasil penelitian menunjukkan 5 spesies lamun pada ketiga stasiun yaitu jenis Thalassia sp (65,292%), Cymodocea sp (18,539%), Enhallus sp (6,099%), Halodule sp (4,557%) dan Syringodium sp (5,512%). Laju sedimentasi di stasiun lamun jarang lebih besar dibanding pada stasiun lamun sedang dan padat. Laju sedimentasi sangat dipengaruhi oleh parameter kualitas air terutama kecepatan arus dan kedalaman. Hasil analisa uji Korelasi  Pearson sebesar menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara Laju sedimentasi pada kerapatan lamun yang berbeda di pulau Panjang Jepara.   Panjang island is one of the waters area in Jepara that have various aquatic ecosystems, such as seagrass which is habitat for aquatic biota. Ecologycally, seagrass has several important functions in the coastal areas, one of which serves to stabilize the soft bottom where more species grow, especially with it’s dense root system and crossing each other. The research aims to determine sedimentation rate in different seagrass density and to determine relation of seagrass density to sedimentation rate at the Panjang island. The research method used descriptive in whitc fact finding be interpreted correctly. Mapping os seagrass distribution method was done to classified 3 stations of namely ‘lisht’, ‘medium’, ‘dense’ in a same area (10m x 10m). 1m x 1m cuadrant transect was used to count the seagrass stands at each square meter. The result showed there are 5 species of seagrass in the third station ie Thalassia sp (65,292%), Cymodocea sp (18,539%), Enhallus sp (6,099%), Halodule sp (4,557%) dan Syringodium sp (5,512%). the sedimentation rate at the ‘lisht’ station of seagrass bed is bigger compared to the ‘medium’ and ‘dense’ stations. The sedimentation rate is strongly influenced by the water quality parameter,especially current and depth. The results of Pearson correlation analysis test shown a significant difference between the sedimentation rate at different seagrass density in the Panjang island of Jepara.
POTENSI DAN PELUANG USAHA MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA PANTAI INDRAYANTI, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA The Potential and Community Opportunities Business in order to Develop of Indrayanti Beach Tourism Area in Gunungkidul, Yogyakarta Putri, Nanda Bunga Sukma Wijaya; Rudiyanti, Siti; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 3 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.412 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i3.24261

Abstract

ABSTRAK Pantai Indrayanti menjadi salah satu destinasi pilihan wisata bahari di Kabupaten Gunungkidul, D.I.Yogyakarta yang potensial untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi wisata, pemahaman dan persepsi responden dalam pengembangan wisata, serta peluang usaha masyarakat di kawasan wisata Pantai Indrayanti. Penelitian dilakukan pada bulan Febuari 2019 dengan menggunakan metode studi kasus yang bersifat deskriptif kualitatif. Pengambilan data dilakukan secara purposive sampling dengan menyebar kuesioner dan wawancara terhadap masing-masing 30 responden wisatawan, masyarakat lokal dan pengelola. Data dianalisis secara deskriptif dengan skala Linkert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi wisata pantai Indrayanti dan wisata kuliner serta sarana prasarana dalam kategori baik. Pemahaman tentang potensi wisata pantai dan persepsi respoden terhadap pengembangan dan peran serta pemerintah termasuk dalam kategori baik. Prospek peluang usaha di Pantai Indrayanti baik dengan jenis usaha yang mempunyai prospek yaitu penyewaan tikar dan payung. ABSTRACT Indrayanti Beach is one of the marine tourism destinations option in the Gunungkidul Regency, D.I.Yogyakarta that potential to be developed. The research aims to find out tourism potential, respondent understanding and perception on tourism development, as well as tourism business opportunity of the residents in Indrayanti Beach. The research was conducted in February 2019 using descriptive qualitative methods. Data were collected using purposive sampling by distributing questionnaire and interviewing 30 respondents of each visitors, local resident and tourism administrator. Data was analyzed descriptively with a Likert Scale. The research showed that coastal potential tourism, culinary tourism and infrastructure can be categorized as ''Good''. Understanding of coastal tourism potential as well as perceptions of development and government participation of respondent can be categorized as ''Good''. The prospect of tourism business opportunities in the Indrayanti Beach was appropriate and the kind of business such as renting mats and umbrellas.
HUBUNGAN VARIABEL SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL- a DAN HASIL TANGKAPAN KAPAL PURSE SEINE YANG DIDARATKAN DI TPI BAJOMULYO JUWANA, PATI Akhlak, Miladiyah Ahsanul; Supriharyono, -; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.875 KB)

Abstract

Sumberdaya perikanan tersebar berdasarkan karakteristik perairan yang berbeda-beda. Faktor fisik yang sering berkaitan dengan pola persebaran sumberdaya perikanan adalah suhu permukaan laut (SPL) yang memiliki hubungan dengan produktivitas periaran (klorofil-a). Saat ini, pengukuran SPL dan klorofil-a sudah dapat dilakukan dengan mudah. Kemudahan tersebut hadir dengan pemakaian penginderaan jarak jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dengan mudah dapat mengetahui dinamika-dinamika oseanografi perairan yang sangat dinamis. Sebagai alternatif Sistem Informasi Geografis berbasis komputer dapat digunakan sebagai acuan untuk pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang lebih optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran SPL dan klorofil-a serta sebaran lokasi tangkapan di wilayah penangkapan kapal purse seine yang didaratkan di TPI Unit II Bajomulyo Juwana yang meliputi perairan Laut Jawa dan selat Makassar dan mengidentifikasi hubungan antara SPL dan klorofil-a terhadap produksi/ hasil tangkapan ikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplanatif dan metode untuk pengambilan sampel dilakukan metode purposive sampling. Teknik ini digunakan peneliti karena adanya pertimbangan-pertimbangan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran dominan SPL di wilayah perairan Laut Jawa dan Selat Makassar pada musim barat adalah 28⁰C - 30⁰C dan pada musim timur adalah 27⁰C - 30⁰C. Nilai kisaran klorofil-a di perairan tersebut pada musim barat yaitu 0,147 mg/L – 1,581 mg/L dan pada musim timur yaitu 0,093 mg/L – 0,745 mg/L. Lokasi penangkapan kapal purse seine terdapat 33 titik koordinat pada musim barat dengan produksi/ hasil tangkapan sebesar 4.084 ton dan 367 trip serta 40 titik koordinat pada musim timur dengan produksi/ hasil tangkapan sebesar 2.162 ton dan 612 trip Lebih lanjut diperoleh bahwa adanya korelasi antara SPL dengan hasil tangkapan, korelasi yang sama antara klorofil-a dengan hasil tangkapan. Selain itu regresi ganda antara SPL dan klorofil-a teradap produksi/ hasil tangkapan ikan kapal purse seine diperoleh korelasi yang signifikan. Scattered fishery resources based on the characteristics of different water. Physical factors are often associated with the distribution pattern of fisheries resources is sea surface temperature (SST) linked to marine productivity (chlorophyll-a). Measurements of SST and chlorophyll-a can be performed with the use of remote sensing and geographic information system based computer are can be used for the management and utilization of fisheries resources more optimaly. The purpose of these study was to determine the distribution of SST, chlorophyll-a and distribution of purse seine fishing area and fish catch landed in TPI Unit II Bajomulyo Juwana includes Java sea, Makassar Strait and identify the relationship between SST, chlorophyll-a and fish catch. The method of this research are explanatory method and purposive sampling. The technique was used with some considerations. The results showed that the dominant range of SST in Java Sea and Makassar Strait on the west season is 28⁰C-30⁰C and on the east season is 27⁰C-30⁰C. Range value of chlorophyll-a in there on the west season is 0,147 mg/m3 – 1,581 mg/ m3 and on the east season is 0,093 mg/ m3 – 0,745 mg/ m3. Fishing location of purse seine are 33 coordinate points on the west season with the catches of 4.084 tons and 367 trips, then 40 coordinate points on the east season with the catches of 2.162 tons and 612 trips. Moreover it is also resulted that the correlation between SST with fish catch, as well between chlorophyll-a with fish catch. Multiple regression analysis it’s found that SST, Chlorophyll-a and fish catch of purse seine were significanly correlated.
STUDI ANALISA PLANKTON UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PENCEMARAN DI MUARA SUNGAI BABON SEMARANG Cahyaningtyas, Ina; Hutabarat, Sahala; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.348 KB)

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon merupakan salah satu DAS yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistm khususnya wilayah Semarang dan sekitarnya. Plankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat menjadi indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai. Plankton memegang peran penting dalam mempengaruhi produktivitas primer perairan sungai. Perairan sungai Babon secara nyata telah menerima limbah yang berasal dari kegiatan industri yang berada di sekitar sungai Babon dan limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga (domestik). Keadaan ini diduga menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan muara Sungai Babon. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana tingkat pencemaran di muara Sungai Babon. Pengamatan dilakukan berdasarkan analisis SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks) untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran yang terjadi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fitoplankton dan zooplankton yang berada di muara Sungai Babon berikut parameter fisika dan kimia. Kelimpahan fitoplankton  di muara Sungai Babon adalah 10.765 – 13.777 ind/L dengan 19 - 24 genera. Kelimpahan zooplankton adalah 218-241 Ind/m3 dengan 9 genera. Berdasarkan kelimpahan plankton maka didapatkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar 0,07 - 0,34 dan nilai Tropik Saprobik Indeks berkisar (-0,73) – (-0,98) kualitas perairan muara sungai Babon selama penelitian termasuk dalam tingkat α-Mesosaprobik atau dalam kondisi tercemar sedang hingga berat.
STRUKTUR KOMUNITAS, KELIMPAHAN FITOPLANKTON, DAN KLOROFIL α DI SUNGAI TUNTANG DEMAK (Community Structure and Abundance of Phytoplankton, Chlorophyll α in Tuntang River Demak) Fauzi, Reyhan Fathullah; Sulardiono, Bambang; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.579 KB)

Abstract

Fitoplankton mikroskopik adalah jasad renik yang melayang - layang di permukaan air. Fitoplankton merupakan tumbuhan yang banyak ditemukan di seluruh massa air pada zona eufotik, berukuran mikroskopis dan memiliki klorofil sehingga mampu membentuk zat organik dari zat anorganik melalui fotosintesis. Fitoplankton sebagai organisme autotrof menghasilkan oksigen yang akan  dimanfaatkan oleh organisme lain, sehingga fitoplankton mempunyai peranan penting dalam menunjang produktifitas perairan. Ketersedian fitoplankton suatu perairan dilihat berdasarkan kelimpahan dan klorofil ᾳ yang terjadi dalam perairan tersebut sangat ditentukan oleh keanekaragaman . Penelitian 1. Untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton,, klorofil α d perairan Sungai Tuntang, 2. Mengetahui indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominasi fitoplankton di Sungai Tuntang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 di Sungai Tuntang Demak. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah Fitoplankton dan Klorofil α . Metode yang digunakan adalah studi kasus, sedangkan pengambilannya Purposive Sampling Method. Sampling dilakukan dengan 3 kali pengulangan di 3 Stasiun lokasi sampling. Hasil penelitian didapatkan : 1. Jenis fitoplankton yang di temukan di Sungai Tuntang terdiri dari kelas  Cyanophyceae, kelas Diatome, kelas Desmidiacae, kelas Chlorophyceae, dan kelimpahan fitoplankton  yaitu  508 – 1261 ind/l, 2. Klorofil α berkisar antara 1,99 – 6,01 mg/m3, 3. Indeks keanekaragaman (H’) berkisar 1,72 – 2,20, indeks keseragaman (e) berkisar 0,53 – 0,69 dan indeks dominasi (c) berkisar 0,19 – 0,34.  Phytoplankton are floating microorganisms on the surface of the water. Phytoplankton is a plant that is frequently found throughout the mass of water in the euphotic zone, microscopic and has chlorophyll to be made of organic substances from inorganic substances through photosynthesis. Phytoplankton used as an autotrophic organism produces oxygen to be utilized by other organisms, so phytoplankton play an important role in supporting aquatic productivity. The existence of phytoplankton can be seen based on its abundance in waters, which is influenced by environmental parameters. This research is aimed to recognise the structure of phytoplankton community, chlorophyll existed in Tuntang waters, and to recognise the nutrient content (N, P) in Tuntang river waters. The research was conducted in October 2015 at Tuntang river,  Demak. The material used in this research is Phytoplankton and Chlorophyll α. The method used in this research is descriptive method and the sampling method is Purposive Sampling Method. Sampling is done by a repeating time that is 3 times repetition at the 3 stations of the sampling location. The results showed 4 genera with 24 species dominated by Diatome such as Nitzchia sp, Thalassiosira sp. The highest abundance of phytoplankton occurred at Station 1 during the 2nd repeat of 403 ind/L dominated by Nitzchia sp. The result of measurement of α-chlorophyll content obtained showed 0.28 - 0.62 mg/l. The highest chlorophyll-α values are at station I of 0.62 and the lowest is at station II of 0.28. This shows that α-chlorophyll around the river is at a low to moderate value.
EVALUASI KUALITAS AIR SEBELUM DAN SESUDAH MEMASUKI WADUK JATIGEDE, SUMEDANG Subarma, Urni Nurani; Purnomo, Pujiono Wahyu; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.115 KB)

Abstract

Sungai Cimanuk sebagai sungai utama bagi Waduk Jatigede perlu di monitor dan dievaluasi. Monitoring dan evaluasi tersebut merupakan faktor penting dalam pengelolaan kualitas air. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis fitoplankton, kandungan nitrat, fosfat, klorofil-a sebelum dan sesudah memasuki Waduk Jatigede. Lokasi pengamatan pertama terdiri dari 3 stasiun di Sungai Cimanuk sebelum memasuki waduk, lokasi pengamatan kedua terdiri dari 3 stasiun di dalam area rencana penggenangan. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode survey sedangkan metode dalam pengambilan sample yaitu metode purposive sampling. Fitoplankton yang ditemukan  sebanyak 23 genus. Genus yang mendominasi adalah Oscillatoria, Tabellaria, Thallasionema dan Nitzschia. Kandungan nitrat sebelum memasuki waduk yaitu 2,23 - 4,19 mg/L tergolong kategori sedang (mesotrofik) dan sesudah memasuki area rencana genangan waduk berkisar 1,46 - 2,78 mg/L tergolong kategori sedang (mesotrofik). Kandungan fosfat sebelum memasuki waduk yaitu 1,305 - 4,94 mg/L tergolong kategori tinggi (eutrofik), sesudah memasuki area rencana penggenangan waduk berkisar 0,665 - 1,535 mg/L tergolong kategori tinggi (eutrofik). Kandungan klorofil-a sebelum memasuki Waduk Jatigede adalah 0,845 - 3,127 µg/L tergolong kategori sedang (meso-oligotrofik), sesudah memasuki area rencana penggenangan waduk berkisar 0,462 - 1,151 µg/L tergolong kategori rendah (oligotrofik).Cimanuk River is a major river that flows into the area of Jatigede reservoir, that need to be monitored and evaluated. Monitoring and evaluation is an important factor in the management of water quality. The purpose of research is determine the composition of phytoplankton, the concentration of nitrate, phosphate, chlorophyll-a before and after entering the Jatigede Reservoir. The first location is in river stream before it enters the reservoir area which consists of 3 observation stations .The second is in after entering the reservoir inundation area plan  which consists of 3 location observation. The method used in the research is a survey method and the method of sampling is purposive sampling. Phytoplanktons are found as many as 23 genera. Genera which dominate are Oscillatoria, Tabellaria, Thallasionema and Nitzschia. Concentration of nitrate before entering the reservoir is 2,23 – 4,19 µg/L were classified as mesotrofik  and after entering the reservoir inundation area plan ranged from 0,46 - 2,78 µg/L were classified as mesotrofik. Concentration of phosphate before entering the reservoir ranged from 1.305 – 4,94 µg/L were classified as eutrofik, after entering the reservoir inundation plans area of Jatigede reservoir ranged from 0,665 – 1,535 µg/ L were classified as eutrofik. Concentration of chlorophyll-a before entering Jatigede Reservoir ranged from 0,845 – 3,125 µg/L were classified as meso-oligotrofik , after entering the reservoir inundation plans area of Jatigede reservoir ranged from 0,462 -1,528 µg/L were classified as oligotrofik.