cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
PENILAIAN KERENTANAN PANTAI DI SENDANG BIRU KABUPATEN MALANG TERHADAP VARIABEL OCEANOGRAFI BERDASARKAN METODE CVI (COASTAL VULNERABILITY INDEX) Handartoputra, Aly; Purwanti, Frida; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.985 KB)

Abstract

Pantai Sendang Biru berada di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, perlu dijaga karena letaknya berdekatan dengan wilayah Cagar Alam Pulau Sempu. Banyak aktivitas masyarakat yang dapat mempengaruhi kerentanan ekosistem pantai, sehingga perlu dilakukan kajian tentang kerentanan ekosistem pantai agar dapat mengantisipasi dampak kerentanan dan mendukung konservasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kerentanan ekosistem pantai berdasarkan parameter fisik sebagai variabel oceanografi dan parameter sosial ekonomi, serta mengetahui nilai indeks kerentanan ekosistem pantai di Pantai Sendang Biru. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2014 dengan menganalisis data parameter fisik (geomorfologi, erosi/akresi, kemiringan pantai, jarak tumbuhan dari pantai, tinggi gelombang, dan kisaran pasang rata rata) sebagai variabel oceanografi dan parameter sosial ekonomi menggunakan konsep Coastal and Vulnerability Index (CVI) yang diadaptasi dengan kondisi perairan setempat. Metode pengambilan data lapangan dengan mengamati sepanjang garis pantai menggunakan sel ukuran 50x50 m sehingga didapatkan 18 sel. Hasil penelitan Kerentanan Ekosistem Pantai berdasarkan parameter fisik sebagian besar termasuk dalam kategori kerentanan rendah < 20,5, namun bila dikaitkan dengan faktor sosial ekonomi masyarakat termasuk dalam kategori kerentanan sangat tinggi, Nilai CVI sebagian besar berada di tingkat rendah dengan kisaran < 20,5., kecuali sel 5 pada kategori tingkat kerentanan menengah (CVI 23,09), sedangkan sel 6 dan 18 pada kategori tingkat kerentanan tinggi (CVI 25,82). Sendang Biru Beach is located at District Sumbermanjing Wetan, Malang Regency, should be managed because of near by the Sempu Island Sanctuary. Many community activities could affect vulnerability of coastal ecosystems, so it is necessary to study on vulnerability of coastal ecosystems to anticipate vulnerability impact and to support environmental conservation. This study aimed to determine vulnerability condition of coastal ecosystems based on physical parameters as oceanography variables and socio-economic parameters, and to know the value of coastal ecosystem vulnerability index at the Sendang Biru Beach. The study was conducted on May 2014 by analyzing the physical parameters data (geomorphology, erosion / accretion, coastal slope, vegetation distance from the coast, wave height, and average tidal range) as oceanographic variables and the socio-economic parameters using Coastal Vulnerability Index (CVI) concept that is adapted to the coastal waters. Data collection methods on the field by observing coastline using 50x50 meter cell so it gained 18 cells. The results of Coastal Ecosystem Vulnerability based on physical parameters mostly categorized at low level with a range <20.5, however when it associated to the socio-economic factors was categorized at very high levels, CVI value mostly categorized at low level with a range <20.5, except for the 5th cells was categorized at medium level of vulnerability (23.09)., while the 6th and 18th cells were categorized at high levels of vulnerability (25,82).
ANALISIS BEBAN PENCEMARAN DETERJEN DAN INDEKS KUALITAS AIR DI SUNGAI BANJIR KANAL BARAT, SEMARANG DAN HUBUNGANNYA DENGAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON Devi Asmiyatna Sari; Haeruddin Haeruddin; Siti Rudiyanti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.517 KB) | DOI: 10.14710/marj.v5i4.14635

Abstract

ABSTRAK Sungai Banjir Kanal Barat merupakan saluran utama drainase kota. Pembuangan limbah deterjen yang langsung ke saluran drainase tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu, mengakibatkan peningkatan beban pencemaran dan penurunan kualitas air di Sungai Banjir Kanal Barat. Pencemaran deterjen dapat mengakibatkan eutrofikasi di perairan sungai, karena senyawa fosfat yang terdapat di dalam deterjen memacu pertumbuhan fitoplankton dan mengakibatkan blooming fitoplankton. Penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2016 di Sungai Banjir Kanal Barat yang bertujuan untuk mengetahui beban pencemaran limbah deterjen, mengetahui Indeks Kualitas Air (IKA), mengetahui konsentrasi deterjen dan kelimpahan fitoplankton, serta menganalisis hubungan konsentrasi deterjen dengan fitoplankton. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik purposive sampling. Lokasi sampling dibagi menjadi 3 stasiun dan 3 titik bagian (tepi, tengah, tepi) sungai. Pengambilan sampel air menggunakan metode integrated sample atau sampel gabungan tempat, sedangkan pengambilan sampel fitoplankton dilakukan secara pasif dengan metode penyaringan. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi deterjen di lokasi penelitian berada dalam kisaran 0,05-0,62 mg/l. Kelimpahan fitoplankton tertinggi pada semua stasiun adalah Trichodesmium sp., dimana Trichodesmium sp. merupakan indikator adanya pencemaran organik. Berdasarkan analisis regresi, kelimpahan fitoplankton dipengaruhi oleh konsentrasi deterjen sebesar 31,4% dan sisanya 68,6% dipengaruhi faktor lain. Beban pencemaran deterjen di Sungai Banjir Kanal Barat berkisar antara 13,18-215,67 ton/tahun. Indeks Kualitas Air Sungai Banjir Kanal Barat yaitu berkisar antara 1-5 yang tergolong dalam perairan sangat bersih-tercemar berat dan tidak baik digunakan untuk kegiatan perikanan.            Kata Kunci       : Deterjen; Kelimpahan Fitoplankton; Beban Pencemaran; Indeks Kualitas Air; Sungai Banjir Kanal Barat  ABSTRACT Banjir Kanal Barat River is the main drainage channel of the city. Waste disposal detergent into drainage without any waste treatment liquid first, caused in increase load pollution detergent and decrease of water quality in Banjir Kanal Barat River. Detergent pollution can cause eutrophication in the river, because phosphate compounds contained in detergent can stimulate phytoplankton growth and phytoplankton blooming. The study was conducted in February 2016 - March 2016 at Banjir Kanal Barat River which aimed to analyzing the load pollution and Water Quality Index (WQI), determine the concentration of detergent and abundance of phytoplankton, analyzing relation between detergent concentration with abundance of phytoplankton. This research used survey method and purposive sampling. The location of sampling been divided into 3 station and 3 points (edge, middle, edge). Water sampling using integrated sample method, while phytoplankton sampling are carried passively by filtration method. The results showed detergent concentrations were in the range of 0,05-0,62 mg/l. Abundance phytoplankton on the highest all stations are Trichodesmium sp., where Trichodesmium sp. an indicator of organic pollution. Based on corelation analysis, the abundance of phytoplankton is affected by the detergent concentration of 31,4% and 68,6% influenced by other factors. Load pollution of detergent in Banjir Kanal Barat River were in the range 13,18-215,67 ton/tahun. Water Quality Index in Banjir Kanal Barat River was category 1-5 belonging to the clean waters-heavily contamined and not recommended use for fishing activities. Keywords              : Detergent; Phytoplankton Abundance; Load Pollution; Water Quality Index; Banjir Kanal                                     Barat River 
STATUS SEDIMEN SUNGAI BREMI KABUPATEN PEKALONGAN DITINJAU DARI ASPEK KIMIA DAN BIOLOGI Istiqomah, Nurbaity; Purwanti, Frida; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.564 KB)

Abstract

Sepanjang aliran Sungai Bremi, terdapat banyak industri batik rumahan yang membuang limbah ke sungai sehingga Sungai Bremi tersebut mengalami penurunan kualitas perairan. Bahan pencemar yang masuk ke dalam perairan tersebut akan terakumulasi dalam sedimen, khususnya logam berat seperti kromium dan  fenol. Masuknya bahan pencemar ke dalam sedimen dapat mempengaruhi organisme yang tinggal dalam sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kromium, fenol, tekstur sedimen, struktur komunitas makrobentos, pola hubungan antara konsentrasi kromium dan fenol dengan struktur  komunitas (keanekaragaman dan kelimpahan) makrobentos di Sungai Bremi, dan status sedimen Sungai Bremi ditinjau dari konsentrasi kromium, fenol, dan struktur komunitas makrobentos. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2013 di tiga stasiun.                Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel sedimen sungai dan sampel makrobentos. Ekman Grab digunakan untuk mengambil sampel Rose bengole digunakan untuk memberi warna pada sampel makrobentos dan formalin 4% untuk mengawetkan sampel makrobentos. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling di 3 stasiun secara komposit, kemudian substrat disaring menggunakan saringan yang bermesh size 0,5 mm. Material-material yang tertinggal kemudian dimasukkan kedalam botol sampel, setelah itu diberi formalin 4 % dan 1-2 tetes rose bengole.                Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konsentrasi kromium berkisar 3,395-8,768 ppm, fenol antara 0,035-0,0623 ppm, dan fraksi sedimen dari ketiga stasiun tersebut adalah lanau berpasir. Makrobentos hanya ditemukan di stasiun I yang terdiri atas 4 spesies yakni Chironomus sp, Lymnea sp, Nereis sp, dan Tubifex sp dengan kelimpahan sebesar 1270 ind/m3. Nilai indeks keanekaragamannya 0,687, indeks keseragamannya 0,49, dan indeks dominasinya 0,66. Nilai koefisien korelasi (r) antara konsentrasi kromium, fenol dengan struktur komunitas berkisar 0,617-0,797. Nilai tersebut menunjukkan bahwa adanya hubungan kuat antara konsentrasi kromium, fenol dengan struktur komunitas makrobentos memiliki korelasi yang kuat. Hasil konsentrasi kromium, fenol dibandingkan dengan kriteria atau baku mutu sedimen  menunjukkan bahwa sedimen Sungai Bremi dalam keadaan tercemar.
ANALISIS TEKSTUR SEDIMEN DAN BAHAN ORGANIK TERHADAP KELIMPAHAN MAKROZOOBENTHOS DI MUARA SUNGAI JAJAR, DEMAK Simanjuntak, Siska Lestari; Muskananfola, Max Rudolf; Taufani, Wiwiet Teguh
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.5 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22665

Abstract

Sungai Jajar merupakan salah satu sungai besar yang aliran sungainya banyak dimanfaatkan penduduk sekitar. Kondisi ini akan berdampak terhadap kualitas perairan yang dapat mengakibatkan suatu pencemaran. Makrozoobentos merupakan hewan yang hidup di dasar perairan dan dapat dijadikan sebagai bioindikator karena habitat hidupnya relatif menetap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tekstur sedimen, kandungan bahan organik, kelimpahan makrozoobentos, hubungan tekstur sedimen dengan bahan organik; tekstur sedimen dengan kelimpahan makrozoobenthos; dan hubungan bahan organik dengan kelimpahan makrozoobenthos. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-April 2018 menggunakan teknik purposive random sampling dengan total 6 stasiun. Sampel yang diambil adalah substrat dan makrozoobenthos. Hasil penelitian menyatakan bahwa nilai fraksi sand berkisar antara 3,66 -8,40%; fraksi silt berkisar antara 1,29-1,80% dan fraksi clay berkisar antara 89,89-94,81%. Jenis makrozoobentos yang ditemukan dikelompokkan dalam 3 kelas, yaitu: Gastropoda (Cerithidea sp, Terebra sp, Pila sp, Murex sp, Urosalpinx sp, Filopaludina sp dan Telescopium sp), Bivalvia (Anadara sp, Mesodesma sp, Mytillus sp) dan Polychaeta (Nereis sp). Kelimpahan individu berkisar antara 280-2320 ind/m2 dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun III dan kelimpahan terendah pada stasiun I. Kandungan bahan organik berkisar antara 6,73-9,4 %. Hubungan bahan organik dengan tekstur sedimen memiliki korelasi yang cukup erat. Hubungan antara tesktur sedimen dengan kelimpahan makrozoobenthos memiliki korelasi yang rendah. Hubungan bahan organik dengan kelimpahan makrozoobenthos menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,557.                 Sungai Jajar is one of the major rivers where the river flows are widely used by local people. This condition will have an impact on water quality which can cause a pollution. Macrozoobenthos are organism that live in the bottom of the water and can be used as bioindicators because their habitat is relatively sedentary. The purpose of this study was to determine sediment texture, organic matter, abundance of macrozoobenthos, sediment textures relationship with abundance of macrozoobenthos; relationship of organic matter with sediment texture; and the relationship of organic matter with abundance of macrozoobenthos. The study was conducted in March-April 2018 using purposive random sampling method technique with a total of 6 stations. The samples taken were substrate and makrozoobenthos. The result refers that sand fraction value ranged from 3,66%-8,40%; Silt fraction ranged from 1,29%-1,80% and clay fraction ranged from 89,89%-94,81%. Macrozoobenthos found in three classes are: Gastropods (Cerithidea sp, Terebra sp, Pila sp, Murex sp, Urosalpinx sp, Filopaludina sp and Telescopium sp), Bivalvia (Anadara sp, Mesodesma sp, Mytillus sp) and Polychaeta (Nereis sp). Individual abundance ranged from 280-2320 ind/m2 with the highest abundance found at station III and the lowest abundance at station I.  The content of organic material ranges from 6,73% -9,4%. The relationship of organic matter with sediment texture has moderate correlation. The relationship between sediment texture and abundance of macrozoobenthos has low correlation. The relationship of organic matter with abundance of makrozoobenthos shows a fairly strong relationship with a correlation coefficient of 0,557.
ASPEK BIOLOGI IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) YANG TERTANGKAP PAYANG DI TPI TAWANG, KABUPATEN KENDAL Arifah, Putri Nur; Solichin, Anhar; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.274 KB)

Abstract

Kabupaten Kendal merupakan salah satu daerah yang berada di pesisir utara laut Jawa. Salah satu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Kabupaten Kendal adalah TPI Tawang. Ikan  Tongkol umumnya dieksploitasi menggunakan alat tangkap payang. Spesies ikan Tongkol yang dominan tertangkap adalah Euthynnus affinis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologi perikanan dan CPUE harian ikan Tongkol yang tertangkap Payang di TPI Tawang Kendal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 – Januari 2015. Metode dalam penelitian ini adalah metode survey. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling atau acak sederhana. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Hasil tangkapan ikan Tongkol diambil pada bulan Desember sebesar 30% dan Januari sebesar 100% dari total hasil tangkapan. Hasil penelitian yang dilakukan pada ikan Tongkol sebanyak 393 ekor, pertumbuhan ikan Tongkol bersifat allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2,839. Faktor kondisi yang diperoleh sebesar 1,268 yang tergolong dalam ikan pipih atau tidak gemuk. Nilai Lc50% (307 mm) < Lm50% (413 mm), hal ini diduga ikan yang tertangkap sebagian belum matang gonad, sehingga tidak memberikan kesempatan ikan untuk memijah pertama kali.  Tingkat Kematangan Gonad ikan Tongkol menurut Cassie didominasi oleh TKG I dan II yaitu fase belum matang. Nilai indeks kematangan gonad ikan Tongkol berkisar 0,088% - 2,158%. Fekunditas  terendah ikan  Tongkol sebesar  376.436  butir dengan panjang cagak  405 mm dan berat tubuh 1050 gram, sedangkan nilai tertinggi sebesar 664.582  butir dengan panjang cagak 440 mm dan berat tubuh 1245 gram. CPUE ikan Tongkol selama penelitian mengalami fluktuasi, nilai tertinggi  CPUE terjadi pada tanggal 8 Desember 2015 sebesar 155,667 kg/Trip  dan CPUE terendah pada tanggal 27 Januari 2015 sebesar 2,833 kg/ Trip. Kendal is one area which is on the north coast of Java Sea. The biggest fish auction place in Kendal Regency is Tawang Fish Auction (TPI Tawang). Eastern Little Tuna generally exploited by seine net. The Eastern Little Tuna species that is more dominant to be caught is  Euthynnus affinis. The purpose of this study is to find out the biological aspect and the daily production of  Eastern Little Tuna caught by seine net on TPI Tawang, Kendal. This research started from December 2014  until January 2015. The method used in this research is survey method. The sampling was taken by using simple random sampling. The data that are being used are primary and secondary data. The fish caught in December is 30% while in January is 100% from the total haul. From the research on 393 fish, it can be seen that the growth of Tuna is negative allometric with B value of 2.839. The condition factor of 1.268 are flat fish. LC50 % ( 307 mm ) < Lm50 % ( 413 mm ) , it is suspected the fish is caught mostly immature gonads , so it does not give the fish a chance to spawn the first time The Gonad maturity level of  Eastern Little Tuna based on Cassie is dominated by Gonad maturity level I and II, which are immature phase. The value of Gonad maturity level is about 0,088% - 2,158%.  The lowest fecundity was 376.436 eggs with the  fork length was 405 mm and body weight was 1050 grams while The highest fecundity is  664.582 eggs with fork  length was 440 mm and weight was 1245 grams. The CPUE of  Eastern Little Tuna during the research is fluctuating with the highest fluctuating value on 8 December 2015 is 155,667 kg/Trip and the minimum CPUE on 27 January 2015 is  2,833 kg/ Trip.
BIOMASSA KANDUNGAN KARBON DAN SERAPAN CO2 PADA TEGAKAN MANGROVE DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE BEDONO, DEMAK Prakoso, Teguh Budi; Afiati, Norma; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 2 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.092 KB)

Abstract

ABSTRAKEmisi CO2 yang terakumulasi di atmosfer menyebabkan terjadinya perubahan iklim secara global. Untuk mengurangi dampak perubahan iklim, salah satu upaya yang dapat dilakukan saat ini adalah meningkatkan penyerapan karbon dan/atau menurunkan emisi di atmosfer. Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai pereduksi karbon melalui proses sekuestrasi (C-sequestration). Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung kerapatan, kandungan karbon dan serapan CO2 serta mengetahui hubungan korelasi kerapatan mangrove dengan kandungan karbon pada tegakan mangrove. Penelitian dilakukan dengan metode non-destructive sampling menggunakan persamaan alometrik. Pendekatan persamaan alometrik yang digunakan yaitu model alometrik biomassa pohon untuk jenis atau tipe ekosistem mangrove yang sudah tersedia atau dikembangkan di lokasi lain. Hasil pengukuran menunjukkan kerapatan tegakan mangrove di area tanam tahun 2004, 2007, dan 2010 adalah 1460 individu/ha, 1868 individu/ha, dan 2128 individu/ha. Biomassa pada area tanam tahun 2004 sebesar 206,77 ton/ha (103,39 ton C/ha, dan menyerap 379,09 ton CO2/ha). Area tanam tahun 2007 memiliki biomassa 293,73 ton/ha (146,86 ton C/ha, dan menyerap 538,50 ton CO2/ha), dan area tanam tahun 2010 memiliki biomassa 260,02 ton/ha (130,01 ton C/ha, dan menyerap 476,67 ton CO2/ha). Berdasarkan hasil penelitian, kerapatan jenis dan umur tegakan mangrove merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya biomassa. Hasil uji regresi-korelasi menunjukkan, perubahan kerapatan mangrove akan berpengaruh secara signifikan pada ekosistem mangrove dalam menyimpan karbon dan menyerap CO2 dari atmosfer. Kata Kunci: Mangrove, biomassa, karbon, kerapatan jenis ABSTRACTEmissions of CO2 that accumulated in the atmosphere causes global climate change.  To reduce the impact of climate change, one of the efforts is increased carbon sequestration. The mangrove ecosystem has ecological function as reducing carbon through sequestration process (C-sequestration). Aimed of this research to calculate the density, carbon content and absorption ability CO2 as well as knowing the correlation of mangrove density with carbon sequestration in mangrove. The method used in this research is use non destructive sampling method with allometric equation. The approach allometric equations were used that tree biomass allometric models for the type or types of mangrove ecosystems that are already available or developed in other locations. The measurement results of mangrove density in planting area 2004, 2007 and 2010 were 1,460 individuals/ha, 1868 individuals/ha, and 2128 individuals/ha. Biomass at the planting area in 2004 amounted to 206.77 ton/ha (103.39 ton C/ha, and absorbs 379.09 ton CO2/ha). Planting area in 2007 have biomass 293.73 ton / ha (146.86 ton C/ha, and absorbs 538.50 ton CO2/ha), and the planting area in 2010 have biomass 260.02 ton/ha (130.01 ton C/ha, and absorbs 476.67 ton CO2/ha). Based on the research results, the density of mangrove species and age are factors that influence the amount of tree biomass. The results of regression-correlation analysis showed, if mangrove density change significantly, it can influence the mangrove ecosystem in carbon sequestration and absorb CO2 from the atmosphere. Keywords: Mangrove, biomass, carbon, mangrove density
HUBUNGAN KERAPATAN RUMPUT LAUT DENGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA SUBSTRAT BERBEDA DI PANTAI TELUK AWUR JEPARA Sunarernanda, Yanuareza Putra; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.97 KB)

Abstract

Perairan Pantai Teluk Awur Jepara merupakan daerah teluk dengan ombak yang tidak begitu besar. Salah satu potensi yang ada di tempat tersebut adalah rumput laut dimana rumput laut dapat memengaruhi kelimpahan biota bentik yang termasuk di dalamnya adalah epifauna yang pergerakannya terbatas. Rumput laut dalam persebaran dan pertumbuhannya dipengaruhi oleh kesesuaiannya dengan substrat dasar, begitu pula dengan epifauna. Selain itu, kondisi perairan dilihat dari parameter fisika maupun kimia juga dapat berpengaruh terhadap persebaran dan pertumbuhan biota tersebut. Faktor-faktor seperti predator maupun kompetisi makanan antar sesama jenis juga dapat menyebabkan perubahan distribusi dari rumput laut dan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kerapatan rumput laut berdasarkan substrat perairan, kelimpahan epifauna berdasarkan substrat perairan, dan hubungan antara kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Langkah penelitian yang digunakan yaitu survey lokasi penelitian, sampling, identifikasi, analisis data, dan uji korelasi Spearman. Hasil yang diperoleh yaitu delapan jenis rumput laut dan sepuluh jenis epifauna. Kerapatan relatif tertinggi dari rumput laut di perairan Pantai Teluk Awur Jepara yaitu pada substrat pasir seluas 188,29 m² oleh jenis Padina crassa sebesar 44,38% (600 individu/300 m²). Kelimpahan relatif tertinggi dari epifauna di perairan Pantai Teluk Awur Jepara yaitu pada substrat pasir seluas 188,29 m² oleh jenis Cerithium kochi sebesar 30,144% (63 individu/300 m²). Berdasarkan uji korelasi Spearman kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan sangat kuat antara kerapatan rumput laut dengan kelimpahan epifauna. Coastal waters Teluk Awur Jepara is the bay area with the waves were not so big. One of the potential that exists in these places is a seaweed which can affect the abundance of benthic biota including epifauna which its movement is limited. Seaweed in the spread and growth are affected by suitability with the substrate, as well as epifauna. In addition, the condition of the waters seen from the parameters of physics and chemistry can also influence the spread and growth of such biota. Factors such as predators and food competition among the same species can also lead to changes in the distribution of sea grass and epifauna. The purpose of this study was to determine the seaweed density based on substrates, an epifauna abundance based on substrates, and the relationship between the seaweed density with epifauna abundance. This study was conducted in November 2013. This research uses descriptive method. Measures used in this study is a survey of study location, sampling, identification, data analysis, and the Spearman correlation test. The results obtained are eight species of seaweed and ten species of epifauna. The highest density of seaweed in the waters of the Coast Teluk Awur Jepara is on sand substrate area of 188,29 m² is a Padina crassa was 44,38% (600 individual/300 m²). The highest abundance of epifauna in the waters of the Coast Teluk Awur Jepara is on sand substrate area of 188,29 m² is a Cerithium kochi was 30,144% (63 individual/300 m²). Based on the Spearman correlation test the density of seaweed with an abundance of epifauna can be concluded that there is a very strong relationship between the seaweed density with epifauna abundance.
VALUASI EKONOMI OBJEK WISATA PANTAI WEDIOMBO KABUPATEN GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN TRAVEL COST Economic Valuation of Tourism Destination of Wediombo Beach Gunungkidul Regency Yogyakarta with Travel Cost Approach Panjaitan, Theresia; Saputra, Suradi Wijaya; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 3 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.638 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i3.24257

Abstract

ABSTRAKPantai Wediombo terletak di  Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Pantai Wediombo merupakan salah satu ekosistem perairan yang memiliki daya tarik untuk dapat dijadikan objek wisata. Manfaat yang diberikan oleh pantai Wediombo belum terukur secara ekonomi sehingga penting untuk dilakukan studi tentang besarnya nilai ekonomi kawasan wisata. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi dan nilai ekonomi Pantai Wediombso. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2019 di Pantai Wediombo. Penelitian menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara kepada 100 wisatawan dan 1 pengelola wisata menggunakan kuisioner dengan teknik sampling accidental sampling. Analisis valuasi ekonomi wisata menggunakan pendekatan Travel Cost Method. Potensi yang dimiliki oleh Pantai Wediombo mencakup keindahan dan kondisi daya tarik pantai termasuk dalam  kategori sangat baik, sarana dan prasarana yang sudah memadai, pelayanan pengelola yang cukup baik serta potensi budaya masyarakat seperti Upacara Ngalangi. Nilai ekonomi Pantai Wediombo sebesar Rp.52.787.622.096,00/tahun dengan rata-rata biaya perjalanan individu sebesar Rp. 208.296,00/kunjungan. ABSTRACTWediombo Beach located in Jepitu Village, Girisubo District, Gunungkidul Regency. Wediombo Beach is one of the aquatic ecosystems which has attraction that can be a good tourist destination. The benefits from Wediombo Beach were not yet measure in economic terms and it is important to study the magnitude of the economic value of tourist areas. The purpose of this research is to find out the potential and economic value of the beach. The research held on March at Wediombo Beach. The study used descriptive methods. Data obtained through interviews with 100 tourists and 1 tourism manager using questionnaires with accidental sampling. Analysis of tourism economic valuation using Travel Cost Method approach. The potential of Wediombo Beach including the beauty and conditions of coastal appeal is in a very good category, adequate facilities and infrastructure, good management services and potential cultural communities such as the Ngalangi ceremony. The economic value of Wediombo Beach based on tourist travel cost is about Rp.52.787.622.096.00 / year and average individual travel cost about Rp.208.296 / visit.
ANALISA PENGEMBANGAN EKOWISATA WILAYAH KONSERVASI MANGROVE, DESA BEDONO, KECAMATAN SAYUNG, KABUPATEN DEMAK Abidin, Moh Toriq; Suprapto, Djoko; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.47 KB)

Abstract

Pariwisata merupakan salah satu potensi utama di Kabupaten Demak. Ekowisata di Desa Bedono mempunyai potensi pariwisata yang dapat dikembangkan. Selain itu, ekowisata ini secara langsung memiliki manfaat pelestarian alam dan lingkungan dan meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar. Namun kenyataannya, ekowisata ini belum terkelola secara maksimal, sehingga pengembangan kawasan ini sangat perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui objek daya tarik wisatawan, mengetahui sarana pendukung yang dibutuhkan, dan menyusun konsep pengembangan ekowisata. Metode yang digunakan penelitian adalah metode deskriptif studi kasus dan dianalisa dengan metode Objek Daya Tarik Wisata  (ODTW) dan Analisa SWOT. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi untuk melakukan pengamatan terhadap lokasi kawasan, kegiatan dan pelakunya melalui responden terhadap sumberdaya masyarakat, wisatawan dan lembaga. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa potensi wisata Desa Bedono adalah Hutan Mangrove (Dusun Tambaksari dan Dusun Senik), Pantai Morosari dan wisata lain (Makam Apung/Syeh Mudzakir). Berdasarkan hasil dari ODTW nilai tertnggi adalah alam (Pantai dan hutan mangrove) dan minat khusus. Strategi pengembangan ekowisata wilayah konservasi mangrove, Desa Bedono adalah : Mengembangkan konservasi mangrove Desa Bedono menjadi ekowisata, Mengembangkan atraksi sesuai dengan keadaan alam dan view yang menarik di kawasan koservasi mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak dan Meningkatkan kunjungan ke kawasan ekowisata. Tourism is one of the major potential in Demak. Ecotourism in the Bedono village has tourism potential that can be developed. In addition, this ecotourism directly has the benefit of preserving nature and the environment and also can improve the socio-economic conditions of the surrounding community. But in reality, eco-tourism has not been managed optimally, so that the development of this area is very necessary. This research intend to determine the object of tourist attraction, knowing means of support needed, and drafting the mangrove eco-tourism development strategy. The method used in this research is descriptive case studies and analyzed by the method of Travel Attractions Objects (TAO) and SWOT Analysis. This data collected by interviews and observations to make observations on the location of the region, the activities, and the perpetrators through a response to community resources, tourist and agencies. The results obtained indicate that tourism potentials of Bedono Village are mangrove forest (Tambaksari Hamlet and Senik Hamlet), Morosari beach and other tourist (Floating Tomb of Sheikh Mudzakir). Based on the results of TAO highest value is a natural (beaches and mangrove forests) and special interests. Ecotourism development strategy mangrove conservation area, Bedono Village are: Developing a mangrove conservation village of Bedono into ecotourism, Developing natural attractions according to the circumstances and view of interest in mangrove conservation area in the Bedono Village, Sayung, Demak and Increase visits to ecotourism.
KERAGAMAN JENIS DAN BEBERAPA ASPEK BIOLOGI UDANG Metapenaeus DI PERAIRAN CILACAP, JAWA TENGAH Rizkiyana, Wahyu; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.956 KB)

Abstract

Udang Metapenaeus di Kabupaten Cilacap produksinya semakin menurun dari tahun ke tahun. Hal ini merupakan indikasi dari tingkat pemanfaatan udang Metapenaeus yang sudah sangat intensif. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya informasi tentang keragaman jenis dan beberapa aspek biologi udang Metapenaeus di perairan Cilacap. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaman jenis, aspek biologis, dan konsep pengelolaan udang Metapenaeus. Hasil penelitian tersebut akan dijadikan acuan dalam penyusunan konsep pengelolaan udang Metapenaeus yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah metode survei. Tempat pengambilan sampel yaitu TPI Lengkong, TPI Kemiren, TPI Menganti Kisik, dan TPI Tegal Katilayu. Sampel udang diambil 10% secara acak dari total hasil tangkapan tiap perahu. Pengambilan sampel empat kali dari bulan September-Desember 2012. Data primer yang dikumpulkan yaitu jenis udang, panjang total dan karapas, berat total, jenis kelamin, TKG, dan mesh size. Data sekunder meliputi jumlah produksi udang Metapenaeus. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 3 spesies yang ditemukan yaitu Metapenaeus affinis, Metapenaeus dobsoni, dan Metapenaeus ensis. Jumlah udang betina lebih banyak daripada jantan. Nilai L50%  ketiganya cukup besar yaitu udang M. affinis 46,5mm, M. dobsoni 40,5mm, M. ensis 49,5mm. Sifat pertumbuhannya allometrik negative, dengan persamaan untuk udang M. affinis betina W=0,0122L1,8225, jantan W=0,0423L1,4684, M. dobsoni betina W=0,0159L1,5693, jantan W=0,0705L1,1512, M. ensis betina W=0,0015L2,3973, jantan W=0,0004L2,7434. Nilai faktor kondisi ketiga jenis udang tersebut memiliki tingkat kemontokan yang sama. Sebagian besar udang Metapenaeus  yang  tertangkap belum matang  gonad, dan nilai  Lm50%  udang  M. affinis 51,0mm, M. dobsoni 46,5mm, M. ensis 58,5mm.