cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
DINAMIKA PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PESISIR DESA SURODADI KECAMATAN SAYUNG DENGAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT (Dynamics of Coastal Line Changes in the Surodadi Village of Sayung Sub District by Using Satellite Imagery) Riyanti, Aulia Huda; Suryanto, Agung; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.465 KB)

Abstract

Garis pantai Desa Surodadi mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Perubahan yang serius ini perlu untuk dilakukan pemantauan terus menerus. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang perubahan garis pantai dan kaitannya dengan tutupan lahan di pesisir Desa Surodadi Kecamatan Sayung Kabupaten Demak pada tahun 2015 dan 2016. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2017. Stasiun penelitian dibagi menjadi lima stasiun berdasarkan lokasi abrasi dan akresi yang telah terjadi. Dengan proses overlay kedua data citra satelit melalui sistem informasi geografis merupakan cara cepat untuk mengetahui perubahan garis pantai yang terjadi pada pesisir Desa Surodadi. Metode penelitian ini dengan menggunakan metode deskriptif studi kasus dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh pada pengolahan data citra SPOT 6 tahun 2015 dan tahun 2016 yang diperoleh dari Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh LAPAN Jakarta serta dilakukan survei lapangan sehingga diperoleh laju perubahan garis pantai serta tutupan lahan yang terdapat pada lokasi penelitian. Garis pantai yang terjadi dari tahun 2015 sampai tahun 2016 lebih banyak mengalami proses abrasi jika dibandingkan proses akresi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui laju perubahan panjang garis pantai sebesar 103,58 m, perubahan garis pantai yang terjadi berupa abrasi sebesar 1,197 ha dan perubahan yang berupa akresi sebesar 0,490 ha. Keterkaitan antara perubahan garis pantai dengan tutupan lahan di Desa Surodadi adalah tutupan mangrove yang ada cukup luas dan relatif rapat sehingga dapat mencegah intrusi air laut yang dapat menyebabkan perubahan garis pantai. Surodadi village coastline changes from year to year. This serious change is necessary for ongoing monitoring. This research was conducted to obtain information about coastline change and its relation to land cover in coastal village of Surodadi Sub-District of Sayung Regency of Demak in 2015 until 2016. This research was conducted from May to June 2017. The research station is divided into five stations based on the location of abrasion and Accretion that has occurred. With the second overlay process satellite image data through geographic information system is a quick way to find out the shoreline changes that occur in the coastal village of Surodadi. This research method is done by using descriptive method of case study by using remote sensing technology on SPOT image data processing of 6 year 2015 and year 2016 which obtained from Center of Technology and Remote Sensing Data of LAPAN Jakarta and conducted field survey so that obtained rate of change of coastline happened also Land cover located at the research location. Coastlines that occur from 2015 to 2016 more experienced abrasion process when compared to the accretion process. Based on the research results can be seen the rate of change of coastline length of 103.58 m, shoreline changes that occur in the form of abrasion of 1.197 ha and changes in the form of accretion of 0.490 ha. The link between coastline change and land cover in Surodadi Village is that the mangrove cover is wide enough and relatively close so it can prevent the intrusion of sea water which can cause coastline changes.
ANALISIS TOTAL BAKTERI, TOM, NITRAT DAN FOSFAT DI PERAIRAN ROWO JOMBOR, KABUPATEN KLATEN Indriyastuti, Janisa Ferril; Muskananfola, Max Rudolf; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.793 KB)

Abstract

Perairan Rowo Jombor dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan pengairan maupun kegiatan penangkapan dan budidaya ikan. Selain itu adanya warung apung yang ada di atas rawa ini juga menambah daya tarik wisatawan. Banyaknya aktivitas yang membuang limbah langsung ke perairan, menyebabkan produktivitas rawa ini berkurang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: kandungan Total Bakteri di perairan Rowo Jombor dan kandungan TOM, Nitrat dan Fosfat di perairan Rowo Jombor. Penelitian dilakukan pada bulan Mei – Juni 2014 menggunakan metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun yaitu Stasiun 1 kawasan warung apung, stasiun 2 Karamba Jaring Apung, dan stasiun 3 perairan terbuka. Sampel bakteri disimpan menggunakan botol kaca 500 ml yang sudah di sterilisasi, sedangkan sampel TOM, Nitrat, dan Fosfat disimpan dalam botol sampel 600 ml. Media yang digunakan untuk penumbuhan bakteri adalah agar PCA. Setelah inkubasi 48 jam, koloni bakteri dihitung dengan colony counter. Hasil penelitian menunjukkan kandungan bakteri antara 340 - 16.000 CFU/ml, TOM 17,55 – 21,70 mg/l, Nitrat 0,03 – 1,22 mg/l, Fosfat 0,5043 – 10, 8425 mg/l. Berdasarkan hasil tersebut, kandungan total bakteri masih dapat ditoleransi karena tidak lebih dari 106 CFU/ml. Thes waters of Rowo Jombor are utilized for irrigation, fishing activities and fish cultivation. In addition, the restaurants that were floating on the top of the  swamp were also attractive to tourists. Many activities that throw waste directly into water, causing swamp productivity decrease. The aim of this study are to know: the total bacteria, Total Organic Matter, Nitrate and Phosphate in the waters of Rowo Jombor. This research was concludid in May - June 2014 using a descriptive method. Samples were taken at three stations. Station 1 is floating stall,  station 2 is gradually tapered off web Float (cultivation fish), and station 3 is  open waters. Sample of bacteria was stored using glass bottle 500 ml that has been sterilized, while samples of TOM, Nitrate, and phosphate was are stored in samples bottles 600 ml. The results of the study showed that content of bacteria between 340 - 16,000 CFU/ml, TOM 17.55 - 21.70 mg/l, Nitrate 0.03 - 1.22 mg/l, Phosphate 0.5043 - 10, 8425 mg/l. Based on the results that the total bacteria are still in the tolerable range because not more than 106 CFU/ml.
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI SPASIAL LARVA IKAN EKONOMIS PENTING DI PERAIRAN ESTUARI BANJIR KANAL TIMUR KOTA SEMARANG Daryumi, Daryumi; Hutabarat, Sahala; Ghofar, Abdul
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 3, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.563 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan estuari Banjir Kanal Timur berfungsi sebagai daerah asuhan bagi larva ikan. Daerah estuari bersifat fluktuatif sehingga sifat-sifat fisik, kimia dan biologi bervariasi, pada fase larva ikan sangat menentukan kelangsungan hidup dari spesies ikan maupun populasi. Oleh karena itu, mengetahui keberadaan larva ikan ekonomis penting dapat memberi informasi tentang daerah mana yang dapat digunakan sebagai daerah penangkapan dan daerah mana yang harus dilestarikan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2016 di Muara Banjir Kanal Timur Kota Semarang  yang bertujuan untuk mengetahui komposisi dan distribusi spasial larva ikan. Metode yang digunakan yaitu metode Purposive Random Sampling. Hasil penelitian menunjukan jumlah rata-rata larva ikan sebanyak 1851 ind/150m3 terdiri dari famili Apogonidae, Mugilidae, Gerreidae, Lutjanidae, Engraulidae, Nemipteridae, Ambassidae, Gobiidae dan Chanidae. Jenis larva ikan yang yang paling banyak ditemukan adalah Mugillidae (Belanak) 38,92%, sedangkan yang paling sedikit adalah Chanidae (Bandeng) 0,38%.  Larva ikan paling banyak tertangkap di daerah pantai (Titik III) dan yang paling sedikit tertangkap didaerah muara menuju sungai (Titik VI). Perhitungan indeks morista menunjukan larva ikan menyebar secara acak. Struktur komunitas larva ikan yaitu indeks keanekaragaman (H’) berkisar 0,64-1,66, indeks keseragaman (E) berkisar 0,14-0,39, dan indeks dominasi berkisar 0,21-0,67. Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan antara salinitas dengan kelimpahan larva ikan berkorelasi positif, sedangkan kecepatan arus dengan kelimpahan larva ikan berkorelasi negatif. Kata Kunci: Estuari; Larva Ikan; Komposisi; Distribusi; Banjir Kanal Timur Semarang.  ABSTRACT The estuaries of eastern Banjir Kanal served as the nursery ground for fish larvae. Areas of estuaries were fluctuating. So the parameters of the physical, chemical and biological were variation, in fish larvae phas  largely determine  survival rate of fish species or populations. For it to, knowing the existence of economically important fish larvae could providing information about which areas be using as a capture area and which areas that should be preserved. Research conducted in March-April 2016 at the Eastern Banjir Kanal of Semarang, aims to find out the composition and spatial distribution of fish larvae. The method used Purposive Random Sampling method. The research showed the range number of larvae as 1851 ind/150m3 consists of Familia Apogonidae, Mugilidae, Gerreidae, Lutjanidae, Engraulidae, Gobiidae, Ambassidae, Nemipteridae and Chanidae. Types of fish larvae found the most high was Mugillidae (Mullet) 38,92%, while the least was Chanidae (Milkfish) 0,38%. The larvae of most fish caught in coastal areas (point III) and the least caught in the estuary towards the river (Point VI). The calculation of the index morista fish larvae spread randomly. Fish larvae community structures were the index of diversity (H ') range from 0,64-1,66, uniformity index (E) range 0,14-0,39, and dominance index range from 0,21-0,67. Based on the results of the regression analysis showed between salinity with an abundance of fish larvae correlating positively, where the current speed with an abundance of fish larvae  correlating negatively.Keywords: Estuarie;  Fish Larvae; Composition; Distribution; Eastern Banjir Kanal Semarang.
KELIMPAHAN UNDUR-UNDUR LAUT (HIPPIDAE) DAN SEBARAN SEDIMEN DI PANTAI PAGAK KECAMATAN NGOMBOL, PURWOREJO, JAWA TENGAH Darusman, Viki; Muskananfola, Max Rudolf; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.652 KB)

Abstract

Undur-undur laut (Hippidae) merupakan jenis Krustasea yang memiliki nilai ekonomis dan memiliki peran ekologis pada suatu perairan. Undur-undur laut banyak tersebar di seluruh belahan dunia, namun keberadaan Undur-undur laut di Indonesia masih belum banyak diketahui.  Pantai Pagak merupakan pantai berpasir di pesisir selatan pulau Jawa yang menjadi daerah obyek wisata dan area budidaya udang. Pantai Pagak memiliki gelombang yang kuat karena berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Sedimen di pantai Pagak memiliki ukuran diameter butiran yang bervariasi dan merupakan habitat bagi Undur-undur laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan Undur-undur laut (Hippidae) dan mengetahui hubungan ukuran diameter butiran sedimen dengan kelimpahan Undur-undur laut di pantai Pagak, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2014. Metode pengambilan data kelimpahan Undur-undur laut menggunakan line transek sepanjang 10 meter ke arah laut, dimana tiap meternya dilakukan pengambilan sampel Undur-undur laut dan sedimen dengan kuadran transek berukuran 1x1 meter. Hasil penelitian menunjukkan ada dua jenis Undur-undur laut di pantai Pagak, yaitu Emerita emeritus dan Hippa ovalis, dengan kelimpahan 684 individu/50m2. Kelimpahan Undur-undur laut berhubungan erat dengan ukuran diameter butiran sedimen, dimana Undur-undur laut lebih melimpah pada ukuran diameter butiran sedimen 0,25 – 1 mm. Mole Crab (Hippidae) is a type of Crustacean that has economic value and ecological role in marine environment. Mole crab widely spread around the world, however the presence of Mole crab in Indonesia is still not widely known. Pagak beach is a sandy beach on the South coast of Java island which be a tourist attraction and shrimp cultivation area. The Pagak beach has a strong waves due to direct connection to the Indian Ocean. Sediment in the Pagak beach have a varied grain size diameter, and be a mole crab habitat. This research aims to determine  abundance of Mole crab and relationship of sediment grain size diameter to the abundance of Mole crab in the Pagak beach, Purworejo, Central Java. This research was conducted on April 2014. The data collection method of Mole crab abundance using line transect along 10 meters toward the sea, and samples of Mole crab and sediment were taken in every meter using 1x1 quadrant transect. The research show that there are two kinds of Mole crab, i.e.  Emerita emeritus and Hippa ovalis with an abundance of 684 individual/50m2. The abundance of Mole crab has a close relationship to sediment  grain size diameter in which the Mole crab more abundent in the sediment  grain size diameter of 0,25-1 mm.
DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON YANG BERPOTENSI MENYEBABKAN HABs (HARMFUL ALGAL BLOOMS) DI MUARASUNGAI BANJIR KANAL TIMUR, SEMARANG Nurcahyani, Erna Agustin; Hutabarat, Sahala; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.961 KB)

Abstract

ABSTRAK Aktivitas yang ada di aliran Sungai Banjir Kanal Timur seperti industri dan pemukiman pendudukdiduga memberi kontribusi suplai zat hara di daerah muara yang dapat memicubloomingfitoplankton dan menurunkan kualitas perairan. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui jenis fitoplankton yang berpotensi menyebabkan HABs serta distribusi spasiotemporal dan kelimpahannya berdasarkan pasang surut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus yang bersifat deskriptif dengan teknik pengambilan sampelpurposive sampling. Pengambilan sampel berdasarkan aktivitas yang ada di muara dilakukan di 4 titik sampling yaitu titik I area mangrove dan tambak, titik II area pertemuan dua sungai, titik III dan IV area pantai yang menjadi jalur transportasi nelayan. Sampel diambil empat hari sekali selama tiga kali ulangan. Fitoplankton yang teridentifikasi terdiri dari 4 kelas 24 genus, 4 genus diantaranya termasuk dalam kelompok penyebab HABs yaitu Skeletonema sp. dengan kelimpahan (765-1911 Ind/L saat pasang, 233-574 Ind/L saat surut), Trichodesmium sp. (785-1678 Ind/L saat pasang, 764-1168 Ind/L saat surut), Pseudonitzschia sp. (127-191 Ind/L saat pasang, 0-84 Ind/L saat surut) dan Ceratium sp. (0-63 Ind/L saat pasang, 0-42 Ind/L saat surut). Skeletonema sp. dengan pola penyebaran seragam dan Trichodesmium sp. dengan pola penyebaran mengelompok dominan ditemukan di keempat titik sampling saat pasang dan surut, sedangkan Pseudonitzschia sp. dengan pola penyebaran mengelompok terdapat di semua titik saat pasang sedangkan saat surut terdapat di titik II, III dan IV. Ceratium sp. dengan pola penyebaran seragam terdapat di titik I dan IV saat pasang, serta terdapat di titik III dan IV saat surut. Kata kunci : Kelimpahan Fitoplankton; Distribusi; Harmful Algal Blooms (HABs);Pasang surut; Muara Sungai                      Banjir Kanal Timur ABSTRACT Activities in Banjir Kanal Timur river like industry activities and settlements was expected give contribution to supply nutrient in estuary and  can cause blooming of phytoplankton and decrease estuary’s water quality. The aimed of this research was to determine spatiotemporal distribution and abundance of potentially phytoplankton which effect Harmful Algal Blooms (HABs) based on tidalrange. This research used case studly method (descriptive) and purposive sampling technique. Samples were takenfrom 4 stationevery four days for three replication.Station (I)in mangrove and fishpond area, station (II) in confluence of two rivers area, station III and IV in the beach with boat’s traffic track.  Phytoplankton consisted of 4 class and 24 genus, four of them was genus HABs included Skeletonema sp. with abundance (765- 1911 ind/L at high  tide, 233- 574 ind/L at low tide), Trichodesmium sp. (785- 1678 ind/L at high tide, 764- 1168 ind/L at low tide),  Pseudonitzschia sp. (127- 191 ind/L at high tide, 0- 84 ind/L at low tide) and Ceratium sp. (0- 63 ind/L at high tide, 0-42 ind/L at low tide). Skeletonema sp. (regular distribution patterns) and Trichodesmium sp. (uniform distribution patterns) were dominant in all station at high tide or low tide. Pseudonitzschia sp.(uniform distribution patterns)  was  in all station at high tide andat low tide was  in station II,III and  IV. Ceratium sp. (regular distribution patterns) was in station I and IV at high tide, and at low tide was found in station III and IV.Keywords :Phytoplankton’sAbundance; Distribution;Harmful Algal Blooms (HABs); Tidalrange; Estuary ofBanjirKanal Timur
SEBARAN SPASIAL CUMI-CUMI (Loligo Spp.) DENGAN VARIABEL SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-a DATA SATELIT MODIS AQUA DI SELAT KARIMATA HINGGA LAUT JAWA Prasetyo, Budhi Agung; Hartoko, Agus; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.907 KB)

Abstract

Dengan mengetahui area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar, kegiatan penangkapan menjadi lebih efektif. Tujuan penelitian adalah mengetahui sebaran spasial cumi-cumi per-musim pada tahun 2011 hingga 2012, mengetahui sebaran spasial parameter oseanografi  dan mengetahui korelasi antara parameter oseanografi dengan sebaran spasial cumi-cumi. Data yang digunakan adalah data suhu permukaan laut dan klorofil-a dari satelit MODIS Aqua dan data sekunder lapangan yaitu data hasil tangkapan cumi-cumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan cumi-cumi pada tahun 2011 - 2012 lebih banyak tertangkap pada musim peralihan II hingga musim barat (September-Desember) dengan nilai rata-rata hasil tangkapan setiap tahun sebesar 88 Ton dan 189 Ton. Sebaran penangkapan cumi-cumi banyak terjadi di bagian barat Laut Jawa hingga Selat Karimata. Sebaran suhu permukaan laut pada tahun 2011 musim barat lebih tinggi (24,8 - 32,1oC) dibandingkan musim timur  (24,2 - 29,4oC), dan pada tahun 2012 juga musim barat lebih tinggi (20,3 - 33,4oC) dibandingkan musim timur (24,8 - 30,1oC). Sebaran Klorofil-a  tahun 2011 musim timur lebih tinggi (0,282 - 0,459 mg/L) dibandingkan musim barat (0,304 - 0,452 mg/L), dan pada tahun 2012 juga menunjukkan sebaran klorofil-a musim timur lebih tinggi (0,352 - 0,464 mg/L) dibandingkan musim barat (0,273 - 0,458 mg/L). Analisa regresi tunggal menunjukkan nilai koefisien regresi dari distribusi klorofil-a setiap tahun (r = 0,521 - 0,446) masih memiliki hubungan dengan hasil tangkapan cumi-cumi daripada suhu permukaan laut (r = 0.221 - 0,358).  Analisa regresi ganda menunjukkan nilai (r) antara sebaran suhu permukaan laut dan sebaran klorofil-a pada musim timur sebesar r = 0,253 dan pada musim barat sebesar r = 0,416 menunjukkan bahwa musim barat memiliki hubungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan musim timur. Hubungan tersebut karena cumi-cumi yang hidup di perairan sekitar Laut Jawa dan sekitarnya tersebar karena pengaruh arus balik musiman dari angin muson yang terjadi di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebaran oseanografi hanya berpengaruh langsung terhadap beberapa spesies cumi-cumi.
ANALISIS KESESUAIAN WISATA PANTAI BONDO DI KABUPETEN JEPARAJAWA TENGAH Vera, Grecya Christa; Suprapto, Djoko; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.678 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22568

Abstract

Pantai Bondo merupakan salah satu objek wisata pantai yang terdapat di Kabupaten Jepara yang menawarkan keindahan pantai dengan pasir putih. Karakteristik Pantai Bondo perlu dianalisis untuk pengembangan wisata pantai. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik masyarakat dan pengunjung, persepsi responden tentang potensi wisata, dan nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Pantai Bondo. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2018 di Pantai Bondo, Kabupaten Jepara. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menyebar kuesioner kepada 30 responden masyarakat dengan penentuan responden menggunakan teknik purposive sampling dan 30 responden pengunjung dengan penentuan responden menggunakan teknik accidental sampling serta metode penelitian kuantitatif menggunakan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) yang terdiri dari 3 stasiun. Responden pada umumnya berusia dewasa dengan tingkat pendidikan SMP-SMA. Pengunjung mendapatkan informasi secara lisan, sudah datang lebih dari dua kali dengan tujuan rekreasi atau berlibur dengan temannya serta pengunjung memiliki kepuasan dalam berwisata sehingga memiliki keinginan untuk kembali berkunjung. Persepsi responden untuk potensi, daya tarik, dan fasilitas memberikan penilaian yang baik, sedangkan untuk aksesibilitas dan kepedulian lingkungan mendapat penilaian cukup baik dari responden. Nilai Kesesuaian Pantai Bondo untuk ketiga stasiun termasuk dalam kategori S1 atau sangat sesuai untuk wisata pantai dengan rata-rata persentase 92,4%.  Bondo Beach is one the beach tourism object in the Jepara Regency that offers beauty of the white sandy beach. Characteristics of the Bondo Beach needs to be analyzed for coastal tourism development. The purpose of this research were to know the characteristic of community and visitor, respondent’s perception about potency, and value of Tourism Suitability Index of the Bondo Beach. The study was conducted in March-April 2018 at Bondo Beach, Jepara Regency. The method used in this research was qualitative method by spreading questionnaires to 30 respondents using purposive sampling technique and 30 respondents using accidental sampling and quantitative research method using Tourism Suitability Index consisting of 3 stations. Respondents are generally adults with Junior High School until Senior High School education. Visitors get information orally, have come more than twice with purpose a recreation or holiday, come with friends and visitors have satisfy in the tour so have desire to return.  Respondents' perceptions of potential, attractiveness, and facilities provide good judgment, while for accessibility and environmental awareness is considered good enough from respondents. The Bondo Beach Suitability Value for the three stations is included in the S1 or is particularly suitable for coastal tourism with an average percentage of 92,4%. 
NILAI HUE DAN DENSITAS ZOOXANTHELLAE PADA KARANG Acropora sp. DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG PULAU KARIMUNJAWA ‘Ishmah, Amalina Zata; Purnomo, Pujiono Wahyu; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.473 KB)

Abstract

Evaluasi kualitas terumbu karang, selain didasarkan penutupan karang hidup maka perlu dikembangkan metode alternatif untuk mendukungnya. Penilaiann hue khususnya pada jenis Acropora sp. yang banyak mendominasi kawasan paparan terumbu karang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai hue dan densitas zooxanthellae pada kedalaman yang berbeda, mengetahui nilai hue dan densitas zooxanthellae pada stasiun yang berbeda dan mengetahui hubungan antara nilai hue dengan densitas zooxanthellae  pada Acropora sp. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Penelitian dilakukan di ekosistem terumbu karang Nyamplungan, Batu Topeng dan Tanjung Gelam dengan masing-masing stasiun terdapat dua titik dengan kedalaman berbeda, yaitu kedalaman 1 dan 2 di Pulau Karimunjawa. Hasil penelitian ini adalah densitas zooxanthellae dan hue pada stasiun 1 kedalaman satu 5,07.106 sel/cm2 dan  45,30, kedalaman dua 4,41.106 sel/cm2 dan 45,70. Pada stasiun 2 kedalaman satu sebanyak 5,72.106 sel/cm2  dan 35,50, kedalaman dua sebanyak 4,02.106 sel/cm2 dan 36,40. Pada stasiun 3 kedalaman satu sebanyak 12,78.106 sel/cm2 dan 35,80, kedalaman dua sebanyak 7,66. 106 sel/cm2 dan 42,90. Perbedaan nilai densitas zooxanthellae dan hue dikarenakan adanya faktor cahaya, jenis karang dan kondisi lingkungan. Densitas zooxanthellae dengan nilai hue pada stasiun 1, 2 dan 3 kedalaman 1 m dan 2 m mempunyai nilai korelasi yang tidak signifikan dimana tidak terdapat hubungan yang nyata, nilai hue mempunyai kecenderungan menurun dengan meningkatnya densitas zooxanthellae. Evaluation of a coral reefs’ quality, besides based on live coral covered, alternative methods to support should be developed. The value of hue, especially on the type of Acropora sp. that dominated the area of coral reefs. The purposes of this study are to determine the value of hue and zooxanthellae density at different depths, knowing the value of hue and density of zooxanthellae in the different stations and know the relationship between the value of hue with zooxanthellae density on Acropora sp. The method used in this research is descriptive method. The study was conducted at coral reefs’ ecosystem in Nyamplungan, Batu Topeng and Tanjung Gelam where in each station there are two points with different depths, that is depth of 1 and 2. The result of this research are the zooxanthella density and the value of hue in the stations 1 with 1 m depths are 5,07.106 cells/cm2 and 45.30 in 2 m depth are 4,41.106 cells/cm2and 45.70. In the stations 2 with 1 m depth are 5,72.106 cells/cm2 and 35,50 in 2 m depth are 4,02.106 cells/cm2  and 36,40. In the stations 3 with 1 m depth are 12,78.106 cells/cm2 and 35,80 in 2 m depth are 7.66. 106 cells/cm2 and 42,90. The difference in value is due to the factor of light, coral species and environmental conditions. Zooxanthellae density with hue value at stations 1, 2 and 3 a depth of 1 m and 2 m has correlation value that is not significant where there is no real relationship, the value of hue has tendency to decrease with the increasing of zooxanthella’s density.
ASPEK REPRODUKSI IKAN WADER IJO (OSTHEOCHILUS HASSELTI) DI DANAU RAWAPENING AMBARAWA, KABUPATEN SEMARANG Nugraha, Muhammad Rizky; Solichin, Anhar; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.963 KB)

Abstract

ABSTRAK Ikan Wader Ijo (O. hasselti) merupakan ikan khas di Danau Rawapening.  Populasinya saat ini diduga mengalami penurunan, akibat penangkapan ikan Wader Ijo yang sedang bertelur dan penggunaan alat tangkap dengan mesh size kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek reproduksi ikan Wader Ijo, faktor lingkungan dan mesh size gill net yang aman digunakan. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif, dengan teknik pengambilan sampel acak. Penelitian dilaksanakan Juli - Agustus 2016 di Danau Rawapening. Sampel diperoleh 93 ekor menggunakan gill net mesh size 2 inchi, dengan panjang total 111 – 210 mm. Nisbah kelamin 1:6,75 dengan dominasi ikan betina. Sampel didominasi ikan matang gonad pada TKG IV. Berdasarkan analisa PCA, Ikan Wader Ijo pada TKG II, III dan IV memiliki korelasi negatif dengan pH, arus dan oksigen terlarut. Angka Indeks Kematangan Gonad tertinggi betina diperoleh 30,30%, sedangkan jantan 19,67%. Ikan Wader Ijo yang tertangkap belum mengalami recruitment overfishing karena ukuran ikan pertama kali matang gonad jantan 100,63 mm dan betina 110,90 mm lebih kecil dari ukuran rata-rata yang tertangkap153 mm. Fekunditas diperoleh 80.862 – 19.880 butir/individu. Berdasarkan analisa Regresi Power, fekunditas Wader Ijo dipengaruhi oleh panjang tubuhnya. Diameter telur yang diperoleh berkisar 0,01 – 1,01 mm. Berdasarkan analisa Chi-Square, bagian yang berbeda dalam ovarium memiliki hubungan dengan ukuran diameter telur. Mesh size gill net yang aman digunakan minimal berukuran 1,54 inchi. Kata Kunci : Wader Ijo; Aspek Reproduksi;  Rawapening ABSTRACT Bonylip Barb (O. hasselti) is a local fish in Rawapening lake which population of this species in Rawapening already decrease, because of exploitation spawning Bonylip Barb and the used of fishing gear with small mesh size. This research aimed to know reproduction aspects of Bonylip Barb, environmental factors and mesh size of gill net. The method used in this research was descriptive with random sampling method. A total of 93 specimens were collected by gill net mesh size 2 inch from July to August 2016 at Rawapening. Specimens have total lenght 111 – 210 mm. Sex ratio was 1 : 6,75 dominated by female. Gonadal stage dominated by mature fish on level IV. Based on PCA analysis, gonadal stage level II, III and IV have negative correlations with pH, current and dissolved oxygen. The highest Gonadosomatic Index on female was 30,30%, while the male one was 19,67%. Length of first maturity not only male 100,63 mm but also female 110,90 mm smaller than average length of capture 155 mm, it means that Bonylip Barb in Rawapening still safe from recruitment overfishing. Fecundity ranged from 80.862 to 19.880 granules/individual. Based on power regression, fecundity was determined by the total length. Egg diameter ranged from 0,1 to 1,01 mm. Based on Chi-Square, different path of ovary have a corelation  with  egg diameter. Mesh size gill net that used in Rawapening was not recommended under 1,54 inch. Keywords: Bonylip Barb, Reproduction Aspect, Rawapening 
TINGKAT SEDIMENTASI DI MUARA SUNGAI WEDUNG KECAMATAN WEDUNG, DEMAK Roswaty, Sefanya; Muskananfola, Max Rudolf; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.029 KB)

Abstract

Muara sebagai penghubung antara sungai dengan laut tidak luput dari terjadinya sedimentasi karena sedimen dari hilir dan laut akan bertemu di daerah muara. Sedimentasi menjadi masalah penting bagi kehidupan manusia maupun organisme yang hidup di dalam perairan. Hal ini juga terjadi di kawasan perairan muara Sungai Wedung, Demak. Kegiatan masyarakat sekitar yang menjadikan sungai mengalami sedimentasi harus lebih disadari agar perairan sungai lebih terjaga kelestariannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sebaran material organik dan inorganik serta nilai laju sedimentasi dan muatan padatan tersuspensi di muara Sungai Wedung. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2013 di perairan muara Sungai Wedung Kecamatan Wedung, Demak dan analisa laboratorium dilakukan pada bulan November 2013. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sedimen yang berada di dalam sediment trap dan air pada masing-masing lokasi penelitian. Metode pengambilan sampel yang dipakai adalah purposive sampling. Analisis data meliputi laju sedimentasi, tekstur sedimen, muatan padatan tersuspensi dan bahan organik total. Lokasi penelitian dibagi menjadi 4 titik yaitu titik 1 dan 2 di muara dekat daratan, titik 3 tepat di laut dekat muara dan titik 4 berada di laut dekat delta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran material inorganik pasir (sand) lebih tinggi di kawasan laut, sebaliknya lumpur (silt) dan lempung (clay) serta bahan organik lebih tinggi di kawasan muara. Laju sedimentasi di perairan sekitar muara Sungai Wedung berkisar antara 60,839 gr/m2/minggu pada lokasi muara dan 373,242 gr/m2/minggu pada lokasi laut. Nilai TSS di perairan ini berkisar antara 1,277 mg/l pada lokasi muara dan 7,784 mg/l pada lokasi laut. Perubahan TSS berakibat meningkatkan nilai laju sedimentasi dengan peningkatan sebesar 0,0183 gr/m2/minggu setiap 1 mg/l TSS mengikuti model y = 0,0183 x + 147,88 (y = laju sedimentasi dan x = TSS). Estuary as a link between river and sea is not apart from sedimentation process because sediment derived from downstream and sea will meet in this place. Sedimentation will become important problem for human beings and organism live in estuaries. These also occured in the Wedung Estuary, Demak. Activities from the community live around Wedung River which cause of sedimentation should be stopped in order to preserve river in the future. This research aimed to know spreading pattern of organic materials and inorganic matter,  to estimate sedimentation rate and total suspended solid in Wedung Estuary. This research was carried out in 2 months, started from September-October 2013 in estuary of Wedung Subdistrict Wedung, Demak and laboratory analysis was conducted in November 2013. Materials used in this research was sediment deposited in sediment trap and sample of water taken from each location sampling. Sampling method used in this study was a purposive sampling. Data analysis comprised of sedimentation rate, sediment texture, total suspended solid, and total organic matter. Location of research was divided into 4 location i.e: point 1 and 2 located in the estuary near land, point 3 precisely in the sea near estuary and point 4 located in the sea near delta. The results showed that distribution of sand as organic material is higher in the sea. On the contrary; silt, clay and organic matter content were higher in the estuary. Sedimentation rates in the waters around Wedung River ranges between 60,839 gr/m2/week at estuary and 373,242 gr/m2/week at sea. TSS content ranges between 1,277 mg/l at estuary and 7,784 mg/l at sea. Changes in TSS cause an increase in sedimentation rate 0,0183 gr/m2/week for every 1 mg/l TSS increase following regression y = 0,0183 x + 147,88 (y = sedimentation rate and x = TSS).