cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
DISTRIBUSI KELIMPAHAN MAKROZOOBENTOS DAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK SERTA TEKSTUR SEDIMEN PADA MUARA SUNGAI WAKAK, KABUPATEN KENDAL Mentari, Luthfieana; Ruswahyuni, -; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.901 KB)

Abstract

Muara sungai Wakak banyak dimanfaatkan oleh para warga untuk aktivitas budidaya seperti membangun tambak dan sumber penghasilan untuk mencari ikan, udang dan sebagainya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kandungan bahan organik dan tekstur sedimen serta distribusi kelimpahan makrozoobentos pada Muara Sungai Wakak Kabupaten Kendal. Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Kandungan bahan organik tertinggi pada stasiun 3 yaitu 16,2% dan terendah pada stasiun 1 yaitu 1,6%. Tekstur sedimen pada stasiun 1 prosentase  fraksi lumpur 0,9%, fraksi liat 14,07% dan fraksi  pasir 85,03%, stasiun 2 fraksi lumpur 1,13%, fraksi liat 53,16% dan fraksi pasir  45,71% dan pada stasiun 3 fraksi lumpur 1,62 %, fraksi liat 91,19% dan fraksi pasir 7,19%. Kelimpahan relatif tertinggi terdapat pada stasiun 1 yaitu 89 ind/m3, kelimpahan relatif terendah terdapat pada stasiun 2 yaitu 43 ind/m3. Indeks keanekaragaman tertinggi  terdapat pada stasiun 1 yaitu 2,5. indeks keanekaragaman terendah terdapat pada stasiun 2 yaitu 2,0. Indeks keseragaman tertinggi terdapat pada stasiun 1 yaitu 0,96 dan indeks keseragaman terendah terdapat pada stasiun 2 yaitu 0,91. Wakak estuaries is frequently used for aquaculture activities, such as building ponds and as sources of income catch  for fish, shrimp, etc. The research was aimed to know the organic materials content, Textures of Sediment, Distribution of Abundance Makrozoobenthos, in the Wakak estuary, Kendal. The points of sampling was determined by using Purposive Sampling Method. The highest content of organic matterial in station 3 was 16,2%, and the lowest in station 1 was 1,6%. Percentage of  texture of sediment were at station 1; silt fraction was 0.9%, clay fraction 14.07%   and sand fraction 85.03%. Percentage of  texture of sediment at station 2; silt fraction was 1,13%, clay fraction 53,16% and sand fraction 45,71%. Percentage of  texture of sediment at Station 3; silt fraction was 1,62 %, clay fraction 91,19% and sand fraction 7,19%. The highest relative abundance was 89 ind/m3  in stasiun 1 and the lowest was 43  ind/m3  in  station 2. The highest diversity index of macrozoobenthic in station 1 was 2,5  and the lowest one in station 2 was  2,0. The highest uniformity index (E) in station 1 was 0,96 and the lowest one in station 2 was 0,91.
KAJIAN TENTANG LAJU PERTUMBUHAN IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskall) PADA TAMBAK SISTEM SILVOFISHERY DAN NON SILVOFISHERY DI DESA PESANTREN KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG Susanti, Rina; Sulardiono, Bambang; -, Supriharyono
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.345 KB)

Abstract

Tambak merupakan salah satu jenis habitat yang dipergunakan sebagai tempat untuk kegiatan budidaya air payau yang berlokasi di daerah pesisir. Sistem Tambak Silvofishery merupakan suatu kegiatan budidaya perikanan yang dikombinasikan dengan pengelolaan hutan mangrove. Dalam penelitian ini, pengambilan sampel dilakukan setiap satu minggu sekali selama 4 minggu dengan mencatat laju pertumbuhan ikan bandeng yaitu dengan mengukur panjang dan berat ikan bandeng. Populasi yang dimaksud adalah ikan Bandeng yang diambil 50 sampel  dari jumlah ikan yang ada di tambak silvofishery dan non silvofishery. Padat penebaran ikan bandeng 2000 ekor/ 0,5 Ha, dengan media tambak silvofishery dan non silvofishery. Serta dilakukan pula pengukuran parameter pendukung seperti suhu, salinitas, pH, kecerahan, oksigen terlarut, nitrat, dan fosfat. Hasil analisis uji-t dengan Two-Sample Assuming Equal Variances bobot Specific Growth Rate (SGR) ikan bandeng pada tambak sistem silvofishery dengan bobot SGR ikan bandeng pada tambak non silvofishery menunjukkan nilai T hitung sebesar 0,186 dan T tabel sebesar 0,859. Berdasarkan data statistik tersebut maka T hitung < dari T tabel yang berarti tidak terdapat perbedaan rata-rata bobot SGR ikan bandeng pada tambak silvofishery dengan bobot SGR ikan bandeng pada tambak non  silvofishery.
KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI DAN SEDIMENTASI DI PERAIRAN TEREROSI DESA BEDONO, DEMAK PADA MUSIM BARAT (Characteristics of Oceanography and Sedimentation of Waters Erosion in Bedono Village Demak during West season) Febriyanti, Leti; Purnomo, Pujiono Wahyu; A’in, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2095.571 KB)

Abstract

Desa Bedono di wilayah Kecamatan Sayung Kabupaten Demak mengalami perubahan bentuk lahan akibat erosi. Erosi di Desa Bedono disebabkan oleh pengaruh kondisi hidrodinamika perairan akibat berubahnya tata guna wilayah perairan tersebut. Pendekatan analisis wilayah tererosi sangat diperlukan untuk pengelolaannya. Kondisi oseanogafi yang diamati yaitu pasang surut, arus, gelombang, kedalaman, suhu, dan salinitas serta sedimentasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik oseanografi dan sedimentasi di daerah tererosi Desa Bedono. Acuan penelitian menggunakan metode survei. Penelitian dilaksanakan pada Januari 2017 di Desa Bedono Demak. Parameter oseanografi menggunakan 19 titik sampling, laju sedimentasi diambil dari 23 titik dengan sediment trap. Karakteristik oseanografi Perairan Bedono untuk kecepatan arus anara 0,1 – 0,8m/s, suhu permukaan laut 29 -34 ⁰C yang masih cocok untuk daerah penangkapan, salinitas 10 - 30‰, kedalaman 0,25 – 1,23m, tinggi gelombang sekitar 1,3m dilihat dari Laut Jawa, dan jenis pasang surut campuran condong ke harian tunggal. Pengaruh kedalaman air terjadi pada mulut kawasan erosi dan mengalami penurunan akibat reduksi kedalaman. Karakteristk Perairan Bedono dengan laju sedimentasinya yaitu sekitar 81,35 – 501,01 (mg/cm2/hari). Pada musim barat ini sedimentasi arahnya tinggi pada daerah dekat dengan garis pantai. Jenis sedimen yang terperangkap dalam sediment trap tersebut termasuk dalam jenis lempung berdebu dengan jenis sedimen berupa liat (clay) dan debu (silt). Pola sedimentasi berganttung pada kondisi fisik perairan yang bergantung pada musim. Sifat sedimentasi mempunyai kecenderungan kesamaan denngan kedalaman dan salinitas. Bedono village at the Sayung region, Demak regency experienced land change due to erosion. Erosion in Bedono Village is caused by the influence of water hydrodynamic conditions due to the changing of the use of the territorial waters. The analytical approach of the erosion area is needed for its management. Oceanography conditions observed were changes in tides, currents, waves, depth, temperature, and salinity while sedimentation conditions were sedimentation and sediment grains. The purpose of this study is to determine the characteristics of oceanography and sedimentation in the erosion area of Bedono village. Research reference using survey method. The research was conducted in January 2017 in Bedono Village, Demak. Oceanographic parameters used 19 sampling points, the rate of sedimentation used 23 points by sediment trap. Oceanographic characteristics in Bedono village, the current speed was between 0,1 – 0,8m / s, sea-surface temperature range to 29-34 ⁰C that still suitable for fishingground, salinity 10 - 30 ‰, depth 0,25 - 1,23m, height wave about 1,3 m seen from Java Sea, and the tidal type was mixed type but more to single daily type.  The effect of water depth occurs on the mouth of the abraded area and decreases due to depth reduction. Sedimentation characteristics in Bedono waters with sedimentation rate is about 81,35 to 501,01 (mg / cm 2 / day). In the west season this sedimentation is heading high on the area close to the shoreline. Type of sediment trapped in the sediment trap is included in the silt clay type with sediment type in the form of clay and silt. Sedimentation pattern depends on the physical condition of the waters depending on the season. The nature of sedimentation has a tendency of similarity with depth and salinity.
HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI PANCURAN BELAKANG PULAU KARIMUNJAWA, JEPARA Ristianti, Nisa; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.007 KB)

Abstract

Pulau Karimunjawa merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, salah satunya adalah ekosistem lamun yang merupakan ekosistem pendukung di wilayah pesisir. Salah satu fungsi padang lamun sebagai habitat bagi organisme bentik khususnya epifauna sangat rawan apabila padang lamun terus menerus mendapat tekanan ekologis. Terjadinya perubahan lingkungan akibat eksploitasi dan pencemaran akan berpengaruh terhadap ekosistem padang lamun  dan kelimpahan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelimpahan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda dan hubungan kelimpahan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda di perairan Pantai Pancuran Belakang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi, sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan pemetaan sebaran lamun. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya hubungan yang sangat kuat antara kerapatan lamun dengan kelimpahan epifauna dilihat dari hasil analisis korelasi sederhana dengan nilai (r) sebesar 0,967 dan signifikasi (0,138 > 0,05). Karimunjawa island is one of the areas in the waters of Jepara Regency that has a diversity of aquatic ecosystems, one of which is a seagrass ecosystem is one of the coastal areas of supporting ecosystems. One of the functions of the seagrass habitat for benthic organisms as particularly highly prone when the epifauna seagrass continuously gets the ecological pressures. The occurrence of environmental change as a result of exploitation and pollution will affect the ecosystem of the seagrass and abundance of epifauna. The purpose of this research is to know the abundance of epifauna on different seagrass density and abundance of epifauna on relationship of density in different seagrass coastal waters Pancuran Belakang. The research method used is the method of observation, whereas sampling is done by mapping the distribution of seagrass. Research showed that the a very strong between density seagrass beds with abundance of epifauna seen from the result analysis correlation simple with value (r)  0,967 and signification ( 0,138 > 0,05). 
KOMPOSISI TANGKAPAN CANTRANG DAN ASPEK BIOLOGI IKAN BELOSO (Saurida tumbill) DI PPP BAJOMULYO, JUWANA Dewi, Afina Nursa; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.983 KB)

Abstract

Perairan Kabupaten Pati memiliki potensi perikanan. Salah satu jenis ikan yang tertangkap pada alat tangkap cantrang di perairan ini dan bernilai ekonomis tinggi adalah ikan Beloso (Saurida tumbill). Dalam mengelola sumberdaya ikan Beloso yaitu mengetahui kondisi atau status sumberdaya ikan Beloso dibutuhkan data aspek biologi, karena itu diperlukan suatu kajian yang meliputi komposisi hasil tangkapan, struktur ukuran, hubungan panjang berat, panjang pertama kali tertangkap, tingkat kematangan gonad (TKG), ukuran pertama kali matang gonad, indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas dan CPUE Ikan Beloso yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bajomulyo selama penelitian. Penelitian dilaksanakan bulan Desember 2015 dan Januari 2016. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey, metode pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dan metode pengumpulan data yaitu  dengan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pola pertumbuhan Ikan Beloso bersifat allometrik negatif dengan persamaan W=0,0022L2,006. Ukuran rata-rata pertama kali tertangkap Ikan Beloso (L50%) adalah 330 mm. Nilai L∞ sebesar 693 mm dan 1/2 L∞ sebesar 346 mm. Persentase terbesar tingkat kematangan gonad Ikan Beloso jantan terdapat pada TKG II yaitu 35,59 % sedangkan Ikan Beloso betina persentase terbesar terdapat pada TKG IV yaitu 61,90 %. IKG  untuk jantan berkisar antara 0,071% sampai 2,558% dan betina berkisar 0,42% sampai 6,31%. Nilai r = 0,971 untuk hubungan panjang dengan fekunditas, nilai r = 0,982 untuk hubungan berat dengan fekunditas. Nilai Catch per Unit Effort (CPUE) tertinggi pada tanggal 21 Desember 2015 yaitu 967 kg/kapal dan terendah pada tanggal 22 Desember 2015 yaitu 187 kg/kapal dan cenderung mengalami fluktuasi. Upaya pengelolaan yang dapat dilakukan agar ketersediaan ikan Beloso tetap terjaga yaitu mengawasi penggunaan jaring cantrang dengan ukuran (mesh size) yang sesuai dengan Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 02 Tahun 2011 bahwa ukuran mata jaring cantrang yang diperbolehkan yaitu yang berukuran lebih dari 2 inchi. Pati waters have the potential fishery. One of the high-value fish species found in these waters are Beloso fish (Surida tumbill). Belosos were caught in cantrang fishing gear and had a high economic value. Data of biological aspect is needed in order to determine the condition or status of Beloso fish resources, Therefore we need a study was to determine the long-weight relationship, condition factor, the size of the first captured, the size of the first ripe gonads, gonad maturity level (GML), gonad maturation index, fecundity and daily catch per unit effort of Beloso. The study was conducted in December 2015 and January 2016. The research collected with survey method, sample random sampling, primary and secondary data. The results obtained that Beloso fish growth pattern in negative allometric equation W = 0,0022L2,006. The average of first caught size of Beloso fish (L50%) was 330 mm. L∞ obtained by 693 mm and ½ L∞ value of 346 mm. The largest percentage of male Beloso fish level gonad maturity contained in the GML II that is 35.59 % while the percentage of female Beloso fish are most at GML IV is 61.90 %. IKG small for males ranged from 0,071% to 2,558% and females ranging from 0.42% to 1.86%. The value r = 0.947 for a long relationship with fecundity, r = 0.982 to severe ties with fecundity. The highest value of Catch per Unit Effort (CPUE) was on December 21, 2015 i.e 967 kg/vessel and the lowest was on December 22, 2015 i.e 187 kg/vessel and prone to fluctuation. Management efforts to can doing the availability of fish Beloso maintained that oversees the use of nets cantrang with size (mesh size) in accordance with Ministry of Marine and Fisheries No. 02 of 2011 that the mesh sizes permitted cantrang is larger than 2 inches.
Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) dengan Menggunakan Alat Tangkap Bubu Lipat yang Didaratkan di TPI Tanjung Sari Kabupaten Rembang Arios, Anthonius Hot; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.671 KB)

Abstract

Bubu merupakan jenis alat tangkap ikan yang dioperasikan secara pasif di dasar perairan. Secara umum bubu dapat digolongkan sebagai alat penangkap yang berbentuk seperti kurungan atau berupa ruangan tertutup dimana ikan-ikan tidak dapat keluar lagi. Materi yang digunakan dalam penelitan adalah alat tangkap bubu lipat dan rajungan  hasil tangkapan diukur berat untuk analisis struktur ukuran berat,produksi harian untuk menganalisis CPUE harian. Materi tersebut di dapat dari hasil melaut selama 1 bulan di Perairan Jawa Kabupaten Rembang. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah dengan metode deskriptif dan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sistematik random sampling. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jumlah, jenis, dan kelimpahan rajungan  yang tertangkap dengan alat tangkap bubu lipat di TPI Tanjung Sari,Rembang, mengetahui Catch Per Unit Effort  (CPUE)  rajungan  dengan menggunakan alat tangkap bubu lipat di TPI Tanjung Sari, mengetahui strukur ukuran berat rajungan  dengan menggunakan bubu lipat, mengetahui status atau tingkat pemanfaatan optimal produksi rajungan  harian per satuan upaya penangkapan (CPUE). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa spesies rajungan yang didapat selama penelitian adalah Portunus sp. produksi alat tangkap bubu rajungan  sebesar  591,76 kg, struktur ukuran berat dan frekuensi rajungan  yang tertangkap dengan bubu didominasi oleh kelas kelas 161.1-187.9 gr yaitu frekuensi sebanyak 736 ekor dan terendah oleh kelas  300-326.8 gr dengan jumlah frekuensi sebanyak 27 ekor rajungan ,dan CPUE yang tertinggi pada hari ke-26 yaitu sebanyak 5,75 kg/trip dengan total dan CPUE terendah terjadi pada hari ke-7 yaitu sebesar 4,22 kg/trip dengan CPUE rata-rata 4,55 kg/tri dengan rata-rata total produksi 19,73kg/hari dan rata-rata CPUE 3,95kg/trip/hari. Dalam penyusunan konsep pengelolaan perlu diadakan pendataan produksi dan trip hasil tangkapan bubu sehingga perkembangan eksploitasinya dapat terus di pantau pada setiap tahunnya.
HUBUNGAN KELIMPAHAN KEPITING DENGAN BAHAN ORGANIK DAN TEKSTUR SEDIMEN PADA MANGROVE DI PANTAI MARON, TIRANG DAN MANGUNHARJO SEMARANG Siahaan, Donal; Muskananfola, Max Rudolf; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.506 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22526

Abstract

Pantai Maron, Pantai Tirang dan Pantai Mangunharjo Semarang memiliki hutan mangrove yang tumbuh secara alami dan buatan untuk mencegah erosi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tekstur sedimen dan bahan organik, kelimpahan kepiting serta hubungan kelimpahan kepiting dengan bahan organik dan tekstur sedimen di kawasan hutan mangrove. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, dilakukan 3 kali pengulangan selama 3 minggu pada bulan Desember 2016. Langkah pertama dilakukan pengukuran parameter lingkungan; kedua diambil sampel kepiting dan sedimen, ketiga dilakukan analisis laboratorium, analisis tekstur sedimen dan analisis bahan organik, keempat perhitungan kelimpahan kepiting dan analisis korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekstur sedimen yang didapatkan pada ketiga stasiun yaitu clay (liat). Persentasi liat 59,80% - 74,99% dengan persentasi tertinggi pada Pantai Maron. Fraksi sand (pasir) 22,44% - 38,29% dengan persentasi tertinggi pada Pantai Tirang. Fraksi silt (lumpur) 1,83% - 2,57% dengan persentasi tertinggi pada Pantai Maron. Kandungan bahan organik 7,33% - 9,33% dengan persentasi tertinggi pada Pantai Maron. Kepiting yang didapatkan pada ketiga stasiun yaitu Metopograpsus latifrons dan Scylla serrata. Struktur komunitas kepiting didapatkan nilai kelimpahan stasiun I 5720 ind/m2, stasiun II 5432 ind/m2 dan stasiun III 5802 ind/m2. Indeks keanekaragaman kepiting dalam kategori rendah dan hubungan tekstur sedimen dengan bahan organik memiliki hasil yang sedang. Hubungan tekstur sedimen dengan kelimpahan kepiting memiliki hasil korelasi yang sedang dan hasil dari hubungan bahan organik dengan kelimpahan kepiting memiliki hasil korelasi yang sedang.  Maron Beach, Tirang Beach and Mangunharjo Beach Semarang have mangrove forests that grow both naturally and artificially to prevent erosion. The purpose of this research are to analyze the texture of sediment and organic material, crab abundance, and the relation of crab abundance with organic material and sediment texture in mangrove forest area. The sampling technique used in this research is purposive sampling method, with 3 repetitions conducted in three weeks in December 2016. The first step was the measurement of environmental parameters. The second step was samples collections of crabs and sediments. The third step conducted was laboratory analysis on sediment texture and organic material. The last step was to calculate crab abundance and perform Pearson correlation analysis. The results showed that the sediment texture obtained in three stations was clay. Clay percentage was 59.80% - 74.99% with the highest percentage on Maron Beach. Sand fraction percentage was 22.44% - 38.29% with the highest percentage on Tirang Beach. The silt fraction was 1.83% - 2.57% with the highest percentage on Maron Beach. The content of organic materials is 7.33% - 9.33% with the highest percentage on Maron Beach. Crabs in the three stations obtained are Metopograpsus latifrons and Scylla serrata. Crab abundance on station I is 5720 ind / m2, while on station II and station III is 5432 ind / m2 and 5802 ind / m2, respectively. The index of crab diversity is low and the relationship of sediment texture with organic matter is moderate. The relationship of sediment texture with crab abundance has a moderate correlation, while the relationship of organic material with crab abundance also has a moderate correlation result.
HUBUNGAN TEKSTUR SEDIMEN DENGAN MANGROVE DI DESA MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG Aini, Hida Rizki; Suryanto, Agung; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.179 KB)

Abstract

ABSTRAK Desa Mojo merupakan salah satu wilayah Kecamatan Ulujami yang memiliki kawasan mangrove yang luas. Hutan mangrove di Desa Mojo merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar dan pihak terkait. Hutan mangrove Desa Mojo mempunyai fungsi yang sangat penting bagi daerah sekitarnya. Rehabilitasi yang telah dilakukan tersebut memberikan efek terhadap ekosistem. Habitat mangrove yang ada di Desa Mojo tersebut kemungkinan memberikan karakteristik terhadap sedimen sebaliknya karakteristik sedimen merupakan faktor penting terhadap keberadaan mangrove. Penelitian dilakukan pada bulan Maret – april 2016. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik sedimen terhadap tegakan mangrove. Metode yang digunakan untuk menghitung kerapatan mangrove yaitu Point Centered Quarter Method. Karakteristik sedimen meliputi pengukuran fisika sedimen, pengukuran tekstur sedimen dengan metode Soil Jar Test (FAO), dan bahan organik sedimen diukur dengan metode LOI (Loss on Ignition). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kawasan mangrove di Desa Mojo termasuk sangat padat, karena memiliki kerapatan lebih dari 1500 pohon per hektar (KepMenLH No.201, 2004). Sedimen pada kawasan mangrove Desa Mojo memiliki karakteristik tekstur silt (lumpur). Hasil Principal Component Analysis korelasi spesies mangrove dipengaruhi langsung oleh kuantitas silt dibandingkan dengan faktor lingkungan lainnya.  Kata Kunci : Tekstur sedimen; Mangrove; Ulujami; Pemalang ABSTRACT Mojo village is one of the District of Ulujamithat has extensive mangrove areas. The mangrove forest in the village of Mojo is the result of the rehabilitation undertaken by the local community and other interested parties. It has a very important function for the surrounding area. The rehabilitation has been done to give effect to the ecosystem. Mangrove habitat in the village of Mojo and sediment characteristics of mutrual influenced.. The study was conducted in March - April 2016. The purpose of this study was to determine the correlation characteristic of sediment to mangrove stands. The method used to calculate the density of mangrove namely Point Centered Quarter Method. Sediment characteristics include physical measurements of sediment, sediment texture measurement method Jar Test Soil (FAO), and sedimentary organic matter is measured by the method of LOI (Loss on Ignition). The results showed that the condition of the mangrove area in the village of Mojo include very dense, because it has a density of more than 1500 trees per hectare (KepMenLH 201, 2004). Sediment in the mangrove areas Desa Mojo has the characteristic texture of silt. The data used by the Principal Component Analysis correlation mangrove species were influenced by the quantity of silt, while there is no direct impact on other environmental factors on the existing mangrove species. Keywords: Sediment texture,Mangrove. Ulujami, Pemalang
TINGKAT KERUSAKAN DAN KARBON MANGROVE DENGAN PENDEKATAN DATA SATELIT NDVI (NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX) DI DESA SIDODADI KABUPATEN PESAWARAN PROVINSI LAMPUNG Mayuftia, Rimty; Hendrarto, Boedi; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.543 KB)

Abstract

Ekosistem mangrove sebagaimana ekosistem hutan lainnya memiliki peran sebagai penyerap dan penyimpan karbon guna pengurangan kadar CO2 di udara. Hutan mangrove merupakan komponen penyusun utama dalam ekosistem mangrove. Pesisir Lampung di Desa Sidodadi, Ringgung, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung terdapat ekosistem mangrove yang masih asli dan sebagian telah dikonversi menjadi tambak udang dan pemukiman sehingga sebagian telah rusak karena alasan tersebut. Kerusakan vegetasi mangrove dapat diketahui dengan cara  menggunakan kriteria yang digunakan untuk mengindikasi adanya kerusakan tegakan mangrove dengan mengunakan data citra landsat yang mencerminkan besaran nilai NDVI (Normalized Difference Vegetation Index).Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei yang bersifat deskriptif, penelitian diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan.  Pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Variabel data utama yang dibutuhkan yaitu : Citra Satelit Landsat TM 2012 untuk dianalisis nilai digital number dengan proses dengan ER Mapper, data jenis spesies mangrove, data diameter pohon mangrove untuk data pengolahan biomassa karbon mangrove, kerapatan pohon mangrove, dan koordinat untuk analisa hubungan antara biomassa mangrove, tegakan pohon, dengan NDVI.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kerusakan ekosistem mangrove di Pesisir Lampung, Desa Sidodadi, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung berdasarkan kriteria nilai NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) sebesar 0,25 dan 0,378, tergolong rusak berat dan rusak sedang. Namun berdasarkan baku mutu suatu ekosistem mangrove dengan menggunakan kerapatan pohon dengan interpretasi citra menggunakan Landsat TM dengan kerapatan pohon 880 - >1100 pohon, dikategorikan sangat rapat. Biomassa karbon mangrove terkandung pada vegetasi mangrove yang ada di Pesisir Lampung, Desa Sidodadi, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung yaitu 10.694.870,18 kg/ha. Analisa hubungan antara biomassa mangrove dengan nilai NDVI memiliki hubungan yang kuat, namun hubungan pohon mangrove dengan nilai NDVI memiliki nilai hubungan yang rendah.
VALUASI EKONOMI OBJEK WISATA TREKKING MANGROVE, GRAND MAERAKACA TAMAN MINI JAWA TENGAH DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA Alviani, Nadya Nurita; Suprapto, Djoko; Wijayanto, Dian
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 3 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.225 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i3.22551

Abstract

Grand Maerakaca merupakan salah satu objek wisata yang ada di Semarang, yang memiliki daya tarik yaitu Trekking Mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penggunjung, persepsi pengunjung mengenai potensi pengembangan objek wisata dan menghitung nilai ekonomi Objek Wisata Trekking Mangrove menggunakan metode Travel Cost Method (TCM) dan Willingness to Pay (WTP). Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 100 orang. Teknik pengambilan data pada penelitian ini menggunakan Convinience Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pengunjung Objek Wisata Trekking Mangrove, Grand Maerakaca mayoritas adalah pelajar/mahasiswa dan karyawan swasta yang berumur 15-25 tahun, menggunakan alat transportasi sepeda motor, melakukan kunjungan bersama keluarga dengan tujuan berlibur. Persepsi pengunjung mengenai potensi pengembangan adalah bahwa Objek Wisata Trekking Mangrove memiliki daya tarik paling tinggi dan harga yang terjangkau menjadi faktor penentu utama kunjungan. Sedangkan penambahan wisata pengembangan yang paling berpotensi dengan estimasi pengguna tertinggi adalah edukasi penanaman mangrove dengan nilai WTP sebesar Rp. 5.000,00. Nilai ekonomi Objek Wisata Trekking Mangrove, Grand Maerakaca dengan metode TCM sebesar Rp. 45.779.385.645,00/tahun dan Nilai WTP wahana perahu sampan, wahana perahu motor, tiket masuk, tiket parkir motor dan tiket parkir mobil adalah Rp. 10.000,00, Rp. 5.000,00, Rp. 10.000,00, Rp. 2.000,00, dan Rp. 5.000,00.  The Grand Maerakaca is one of the tourist destination in Semarang, that have attraction is Tracking Mangrove. The purpose of this study are to know the characteristics of the visitors, the visitor's perception about the potential of tourism development and to calculate the economic value of Trekking Mangrove Object using Travel Cost Method (TCM) and Willingness to Pay (WTP) method. The number of respondents in this study are 100 people. Technique of taking data in this research using Convinience Sampling. The results showed that the visitors characteristics of Tracking Mangrove Tourism Object, Grand Maerakaca majority are students and private employees aged 15-25 years, use motorbike transportation, come with their family on the purpose of vacation. The visitor perception on potential development are the highest attraction of Tracking Mangrove and affordable price to be the main determinant factor of visitation. While addition of the most potential development tours with the highest user estimation is education of mangrove planting with a WTP value of IDR. 5,000. Economic value of Mangrove Trekking Tourism Object, Grand Maerakaca with TCM method is IDR. 45,779,385,645/ year and WTP Value boat ride, motorboat ride, entrance ticket, motorcycle parking ticket and car parking ticket is IDR. 10,000., IDR. 5,000., IDR. 10,000., IDR. 2,000 and IDR. 5,000. 

Page 8 of 55 | Total Record : 548