cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
KEPADATAN DAN DISTRIBUSI SPASIAL KERANG KIJING (Anodonta woodiana) DI SEKITAR INLET DAN OUTLET PERAIRAN RAWAPENING Yanuardi, Firman; Suprapto, Djoko; Djuwito, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.074 KB)

Abstract

Rawapening merupakan salah satu perairan air tawar yang banyak dihuni oleh kerang kijing Anodonta woodiana, kepadatan dan pola sebaran dari kerang tersebut di sekitar inlet dan outlet perairan Rawapening masih belum diketahui. Adanya perubahan ekosistem akibat sedimentasi di Rawapening kemungkinan akan berdampak pada populasi kerang tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan pola sebaran dari populasi Kijing di sekitar inlet dan outlet di Rawapening dan mengetahui distribusi spasial kijing A. woodiana berdasarkan ukuran panjang cangkang kerang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan rumus kepadatan populasi dan Indeks Morishita, untuk mengetahui distribusi spasial kerang berdasarkan ukuran panjang digunakan uji Analysis of Variance. Hasil penelitian bahwa jumlah kepadatan populasi pada stasiun I (inlet) DAS Panjang 1 ind/m² - 5 ind/m²; stasiun II (inlet) DAS Rengas 1 ind/m² - 9 ind/m²; stasiun III (inlet) DAS Ringis 1 ind/m² - 8 ind/m²; stasiun IV (outlet) DAS Kedungringin 1 ind/m² - 16 ind/m², dan angka rataan Indeks Morishita dari seluruh stasiun pengamatan kurang dari 1 (Id < 1) yang berarti bahwa pola sebaran dari kerang A. woodiana cenderung seragam dan teratur. Hasil analisis distribusi spasial berdasarkan ukuran panjang kerang diketahui F sebesar 4,952 dengan signifikansi sebesar 0,003. Oleh karena signifikansi sebesar 0,003 < 0,05, maka inferensi yang diambil adalah terdapat perbedaan panjang kerang berdasarkan empat stasiun dan panjang minimal kerang A. woodiana dari seluruh stasiun 8,03 cm dengan panjang maksimal sebesar 16,54 cm. Rawapening is one waters of freshwater that many inhabited by shells Kijing Anodonta woodiana, density and distributions paterns of the shells around inlet and outlet in Rawapening still unknown.  The ecosystem as a result of change in sediment in Rawapening would likely impact  on the population  of the shells. This research was conducted in September 2014. This research aimed to understand the density and the pattern of the population to scatter shells around inlet and outlet in Rawapening and knowing spatial distribution shells based on size A. woodiana the long shells. The method used in the survey was done by deskriptif the case study. Then analyzed the result of the research using formula density of population and morishita index, to know the spatial distribution shells used measure of length based on analysis of variance. The result showed that the population density in the station I (inlet) DAS Panjang 1 ind/m² - 5 ind/m²; station II (inlet) DAS Rengas 1 ind/m² - 9 ind/m²; station III (inlet) DAS Ringis 1 ind/m² - 8 ind/m²; station IV (outlet) DAS Kedungringin 1 ind/m² - 16 ind/m², and value an average of the index morishita an observation station less than 1 (Id < 1) which means that the distribution of shell A. woodiana inclined uniform and orderly. The results of the analysis of spatial distribution arrangement based on the length shell is known that the F of 4.952 with the significance of 0.003. Thus significance of 0.003 <  0.05, then the inference taken is there are difference of the shells long based on four station and the long minimal of shell A. woodiana from all stations of 8,03 cm long with the long maximum of 16,54 cm.
ANALISIS BIOKONSENTRASI KADMIUM (Cd) PADA KERANG HIJAU (Perna viridis) DI PERAIRAN PONCOL, DESA BULU, KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH Rahma, Dwi Aprilia; Afiati, Norma; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.409 KB)

Abstract

ABSTRAKPoncol merupakan salah satu pesisir yang terdapat di Kabupaten Jepara. Meningkatnya aktivitas masyarakat di sekitar perairan Poncol memicu peningkatan konsentrasi limbah yang masuk ke dalam perairan. Salah satu limbah yang berbahaya adalah logam berat. Hal tersebut menjadi landasan dilakukannya penelitian mengenai analisis biokonsentrasi kadmium pada kerang hijau di perairan Poncol, Desa Bulu, Jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui konsentrasi kadmium pada air dan jaringan lunak kerang hijau, dan untuk mengetahui angka faktor biokonsentrasi kadmium terhadap jaringan lunak kerang hijau. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan penentuan lokasi sampling menggunakan teknik random sampling, 3 stasiun sampling yang sudah ditentukan yaitu, stasiun 1 di muara, stasiun 2 di perairan pantai dekat dengan keluarnya limbah dari kegiatan domestik, dan stasiun 3 di perairan pantai dekat dengan pemukiman warga dan tempat berlabuhnya perahu nelayan. Analisis kadmium pada air dan jaringan lunak kerang hijau dilakukan di Laboratorium BBTPPI, Semarang. Hasil perhitungan konsentrasi kadmium dalam air pada stasiun 1 diperoleh angka rata-rata sebesar 0,63 µg/ml, pada stasiun 2 sebesar 0,53 µg/ml, dan pada stasiun 3 sebesar 0,64 µg/ml. Konsentrasi kadmium dalam jaringan lunak kerang hijau pada stasiun 1 diperoleh angka rata-rata sebesar 0,91 µg/mg, pada stasiun 2 sebesar 0,83 µg/mg, dan pada stasiun 3 sebesar 0,93 µg/mg. Hasil perhitungan angka bioconcentration factor (BCF) pada jaringan lunak kerang hijau berkisar antara 1,44 hingga 1,57. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dapat disimpulkan bahwa kadar konsentrasi kadmium pada air dan kerang hijau di perairan Poncol tergolong rendah dan masih berada di bawah ambang batas baku mutu. Angka bioconcentration factor logam berat kadmium pada jaringan lunak kerang hijau termasuk dalam kategori akumulatif rendah (BCF < 100). Kata Kunci : Biokonsentrasi; Logam Berat Kadmium; Kerang Hijau (P. viridis); Perairan Poncol - Jepara ABSTRACTPoncol is one of the coastal areas in the district of Jepara. The increasing activity surrounding Poncol waters may increase the concentration of waste that flows into the waters. One of various hazardous wastes that way come into the coast is a heavy metal. Therefore it is needed to study the Analysis Bioconcentration Cadmium on Green Mussels in Poncol Waters, Bulu, Jepara. This work was conducted in May-June 2016. The purpose of this study to determine the concentration of the heavy metal cadmium both in the water and the soft tissue of green mussels, and further to measure the cadmium bioconcentration factor in the soft tissues. Survey method is used to determine random sampling points, 3 sampling stations that has been determined, at station 1 close to estuaries, at station 2 in coastal waters close to the disposal of wastewater from domestic activities, and at station 3 in coastal waters close to the residential area and  close to berth of fishing boats. Analysis of cadmium in the water and the soft tissue of green mussels were conducted in Laboratory BBTPPI, Semarang. The result showed that Cd concentration in water at station 1 obtained an average rate are at 0.63 µg/ml, at station 2 at 0.53 µg/ml and at station 3 at 0.64 µg/ml. Cd concentration in the soft tissues of green mussels at Station 1 obtained an average rate of 0.91 µg/mg, at station 2 at 0.83 µg/mg, and at station 3 of 0.93 µg/mg. The result of the calculation of the value of bioconcentration factor (BCF) in soft tissue mussels ranged from 1.44 to 1.57. Based on the result, we can concluded that the levels of concentration of heavy metal cadmium in the water and  the green mussels was low and below on quality standards. The rate of bioconcentration factor (BCF) of heavy metal cadmium in soft tissue green mussels was in the category of low accumulative (BCF <100).  Keywords: Bioconcentration; Heavy Metal Cadmium; Green Mussels; Poncol Coastal Waters – Jepara 
KERAPATAN RUMPUT LAUT PADA KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PANTAI BANDENGAN, JEPARA Yuanto, Tito Firmansyah; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.196 KB)

Abstract

Rumput laut merupakan tanaman air yang umumnya tumbuh melekat pada substrat pasir, karang, pecahan karang dan karang mati, tidak mempunyai akar, batang dan daun yang sejati, keseluruhan tanaman ini adalah batang, akar dan daun yang semu disebut thallus. Kedalaman merupakan salah satu parameter lingkungan yang berpengaruh tehadap kecerahan atau tingkat batas kemampuan cahaya matahari yang mampu masuk ke dalam suatu perairan. Cahaya matahari merupakan salah satu unsur yang penting dalam terjadinya proses fotosintesis di perairan. Rumput laut merupakan salah satu tumbuhan air yang hidupnya tergantung antara lain pada intensitas cahaya matahari. Oleh sebab itu semakin dalam suatu perairan maka semakin kecil pula intensitas cahaya matahari yang masuk, sehingga rumput laut yang tumbuh juga sedikit akibat kurangnya cahaya matahari yang digunakan untuk fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kerapatan rumput laut pada kedalaman 1, 2 dan 3 meter serta untuk mengetahui hubungan antar kedalaman dengan kerapatan rumput laut. Penelitian ini dilakukan di Pantai Bandengan pada bulan April 2013. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskiptif adalah metode penelitian yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok ataupun suatu daerah kemudian melakukan analisa lebih lanjut mengenai kebenaran tersebut. Sampling dilakukan menggunakan line transek dengan panjang 100 m dan kuadran transek ukuran 1x1 m yang dibagi menjadi 16 kotak kecil, kemudian menghitung kerapatan serta penutupan rumput laut serta melakukan identifikasi rumput laut yang ditemukan. Hasil penelitian didapatkan kerapatan tertinggi pada kedalaman 1 meter dengan jumlah total 412 individu/300m². Pada kedalaman 2 dan 3 meter jumlah kerapatannya lebih kecil yaitu masing-masing 326 dan 162 individu/300m² . Hal ini karena pada kedalaman 2 dan 3 meter tingkat kecerahannya cukup rendah, sehingga mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Substrat dasar pasir pada kedalaman 1 meter juga mempengaruhi kerapatan rumput laut. Dari pengujian korelasi antara kedalaman dengan kerapatan didapatkan nilai sebesar -0,984. Hal ini berarti terdapat hubungan antara kedalaman dengan kerapatan rumput laut. Seaweed is an aquatic plant that generally grows attached to a substrate of sand , coral , coral rubble and dead , didn’t have roots , stems and leaves are true, this is a whole plant stems, roots and leaves are called Thallus. Depth is one of the environmental parameters that influence tehadap brightness or level limits sunlight is able to get in to the water. Sunlight is one important element in the process of photosynthesis in water . Seaweed is one of the water plants that need the intensity of sunlight for thei life . Therefore, more deeper the water, also few of sunlight that can to the deep, so that the sea grass that grows too little due to lack of sunlight used for photosynthesis . This study aimed to determine differences in kelp density at a depth of 1 , 2 and 3 meters as well as to determine the relationship between the depth of the sea grass density . This research was conducted in Bandengan Beach in April 2013. In this study, the method was used descriptive method. Deskiptif method is a method of research that was conducted to obtain the facts of the existing symptoms and seek factual information from a group or a region and then perform further analysis on the truth . Sampling was conducted using line transect with a length of 100 m and the size of 1x1 m transect quadrant is divided into 16 small squares , then calculate the density as well as the closure of seaweed and seaweed identification were found . The study showed the highest density at a depth of 1 meter with a total of 412 individu/300m ². At a depth of 2 and 3 feet smaller number density, respectively 326 and 162 individu/300m ². This is because at a depth of 2 and 3 -meter brightness level was quite low, thus affecting the growth of seaweed. Substrate of sand at a depth of 1 meter also affects the density of sea grass.From the corelations test of the depth and the density values obtained at -0.984 . This means that there is a relationship between the depth of the sea grass density.
ANALISIS HUBUNGAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DENGAN KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT DI PERAIRAN MOROSARI, DEMAK Relationship Analysis of Phytoplankton Abundance to Nitrate and Phosphate in the Morosari Waters, Demak Nasution, Afiah; Widyorini, Niniek; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 2 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.484 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i2.24230

Abstract

ABSTRAK Morosari terletak di kecamatan Sayung, Demak dimana terdapat pemukiman penduduk, kegiatan pariwisata dan perikanan. Aktivitas ini dapat memengaruhi keberadaan organisme di perairan, khususnya fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan fitoplankton, kandungan nitrat dan fosfat, serta hubungan antara kelimpahan fitoplankton dengan kandungan nitrat dan fosfat di perairan Morosari. Penelitian ini mengacu pada penelitian deskriptif korelasional dengan metode pengambilan sampel acak sistematik dan analisis data dengan analisis regresi dan korelasi Pearson. Penelitian ini berlangsung selama enam bulan dengan pengambilan sampel dilakukan pada bulan Mei 2018 yang berlangsung selama tiga minggu berturut-turut. Data yang diukur meliputi parameter fisika-kimia (temperatur air, kecerahan, kedalaman, arus, pH, salinitas, DO, bahan organik, nitrat dan fosfat) serta kelimpahan fitoplankton, indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fitoplankton tertinggi yaitu dari kelas Bacillariophyceae sebesar 4.362 ind/l, terendah dari kelas Dinophyceae sebesar 163 ind/l, dengan jenis tertinggi yaitu Chaetoceros sp sebesar 1.022 ind/l, dan jenis terendah yaitu Micractinium sp sebesar 7 ind/l. Kandungan nitrat di perairan Morosari berkisar antara 3,99 – 7,09 mg/l, dengan rata-rata keseluruhan sebesar 5,11 mg/l (Eutrofik). Kandungan fosfat berkisar antara 0,01 – 1,13 mg/l, dengan rata-rata keseluruhan sebesar 0,18 mg/l (Eutrofik). Hubungan kelimpahan fitoplankton dengan kandungan nitrat tergolong kategori lemah namun pasti (0,26), sedangkan dengan kandungan fosfat tergolong kuat (0,70) pada taraf kepercayaan 95%. ABSTRACT Morosari located in the sub-district of Sayung, Demak where residential areas, tourism industries and fisheries activities were existed. These activities could affecting the presence of organisms in the waters, especially phytoplankton. This research aimed to determine the abundance of phytoplankton, the content value of nitrate and phosphate, and the relationship of phytoplankton abundance to the content of nitrate and phosphate in the Morosari waters. This research  refers to correlational descriptive research with the systematic random sampling method, and the analysis of relationship carried out by regression analysis. This research has been conducted for six months with sampling started in May 2018 for three weeks consecutively. The data measured included physical-chemical parameters (temperature of water, transparency, depth, current, pH, salinity, DO, organic matter, nitrate and phosphate) as well as abundance, diversity, uniformity, and dominance index. The results showed that the highest phytoplankton abundance was from the Bacillariophyceae class (4.362 ind/l), the lowest was Dinophyceae class (163 ind/l), with the highest species was Chaetoceros sp (1.022 ind/l), and the lowest species was Micractinium sp (7 ind/l). The nitrate content in the Morosari waters ranges from 3.99 - 7.09 mg/l, with an overall average of 5.11 mg/l (Eutrophic). Phosphate content ranged from 0.01 - 1.13 mg/l, with an overall average of 0.18 mg/l (Eutrophic). The abundance of phytoplankton with nitrate content was classified as weak but definite(0.26), while phosphate content was strong (0.70) at 95% confidence level.
NILAI MANFAAT EKONOMI EKOSISTEM MANGROVE DI DESA KARTIKA JAYA KECAMATAN PATEBON KABUPATEN KENDAL JAWA TENGAH Fadhila, Hilda; Saputra, Suradi Wijaya; Wijayanto, Dian
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.512 KB)

Abstract

Keberadaan hutan mangrove mempunyai peranan yang sangat penting bagi ekosistem disekitarnya. Besarnya manfaat yang ada pada ekosistem hutan mangrove memberikan konsekuensi bagi ekosistem hutan mangrove itu sendiri, yaitu dengan semakin tingginya tingkat eksploitasi terhadap lingkungan akan berakhir pada degradasi lingkungan. Melihat dari pemanfaatan tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan dari nilai yang terdapat dalam ekosistem mangrove melalui valuasi ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui manfaat langsung dan tidak langsung ekosistem mangrove di Desa Kartika Jaya dan untuk menganalisis Nilai Ekonomi Total ekosistem mangrove di Desa Kartika Jaya. Waktu penelitian bulan Desember 2014 – Februari 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Teknik pengumpulan data melalui wawancara terhadap 55 responden dan observasi. Teknik pemilihan responden menggunakan purposive sampling untuk responden petani tambak dan metode sensus untuk responden nelayan dan pengolah buah mangrove. Data dianalisis dengan pendekatan Nilai Ekonomi Total diperoleh dari Nilai Manfaat Langsung, Nilai Manfaat Tidak Langsung, dan Nilai Manfaat Pilihan. Hasil valuasi ekonomi manfaat ekosistem mangrove diperoleh manfaat langsung dengan presentase 42.94% sebesar Rp. 622.389.000,00 per tahun diperoleh dari perikanan tangkap Rp. 337.269.000,00 per tahun, perikanan budidaya Rp. 227.520.000,00 per tahun, dan pemanfaatan buah mangrove Rp. 57.600.000,00 per tahun. Manfaat tidak langsung dengan presentase 56.45% sebesar Rp. 818.195.000,00 per tahun diperoleh dari manfaat mangrove sebagai penahan abrasi (sabuk pantai) Rp. 507.500.000,00 per tahun dan penyedia unsur hara Rp. 310.695.000,00 per tahun. Manfaat pilihan dengan presentase 0.61% sebesar Rp. 8.885.338,00 per tahun diperoleh dari fungsi biodiversity. Nilai ekonomi total ekosistem mangrove Desa Kartika Jaya adalah sebesar Rp. 1.449.469.338,00 per tahun dihitung dari nilai manfaat langsung, nilai manfaat tidak langsung, dan nilai manfaat pilihan. Mangrove forests have a very important role for the surrounding ecosystem. The benefits of mangrove forest is to provide consequences for the mangrove itself, the increasing levels will affect on enviromental degradation. Based on the utilization, it is necessary to do research on the utilization of mangrove ecosystem value through economic valuation. This research had been carried out from December 2014 to February 2015 in Kartika Jaya Village, in order to determine the direct and indirect values use of mangrove ecosystem in Kartika Jaya Village and to analyze the total economic value of these ecosystem in Kartika Jaya Village. The research method used a descriptive method. Data were collected through interviews of 55 respondents and observation. Respondent was selected using purposive sampling technique from fish pond farmers, and census method for fishermen and utilizing of mangrove fruit. Data were analyzed using Total Economic Value approach, derived from Direct Use Values, Indirect Use Values, and Optional Values. The results of economic valuation of mangrove ecosystem shows the direct uses with a precentage 42.94% amounting to 622.389.000,00 IDR per year derived from fishing 337.269.000,00 IDR per year, aquaculture 227.520.000,00 IDR per year, and utilizing mangrove fruit  57.600.000,00 IDR per year. The indirect uses with a precentage 56.45% amounting to 818.195.000,00 IDR per year derived from mangrove ecosystem as retaining abrasion (breakwater) 507.500.000,00 IDR per year and providers nutrient 310.695.000,00 IDR per year. Meanwhile the optional value with a precentage 0.61% amounting to 8.885.338,00 IDR per year derived from biodiversity. The total economic value of mangrove ecosystem in Kartika Jaya Village is 1.449.469.338,00 IDR per year that calculated from the direct, indirect, and optional values.
BIOMASSA KARBON VEGETASI MANGROVE MELALUI ANALISA DATA LAPANGAN DAN CITRA SATELIT GEOEYE DI PULAU PARANG, KEPULAUAN KARIMUNJAWA Febrianti, Dewati Ayu; Hartoko, Agus; -, Suryanti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1212.186 KB)

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu hutan yang mempunyai simpanan karbon tertinggi di kawasan tropis. Penelitian ini menggunakan metode survei lapangan dengan eksploratif dan pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Pengukuran besarnya biomassa tersimpan di atas permukaan tanah (batang, cabang, dan daun) dihitung menggunakan persamaan allometrik dengan tidak merusak vegetasi mangrove, dimana dalam penelitian ini mengestimasi stok karbon vegetasi mangrove menggunakan citra GeoEye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biomassa karbon vegetasi mangrove Pulau Parang sebesar 128,29 ton/ha (64,15 ton C/ha), dengan simpanan karbon terbesar terdapat pada bagian batang. Dari analisa regresi polynomial untuk pemodelan sebaran biomassa karbon pada tajuk mangrove didapatkan hasil bahwa tajuk Rhizophora mucronata tertinggi di stasiun I berkisar antara 0,0001 – 0,143 ton C dengan persamaan y = - 0,0436 (B2/B3)2 + 0,526 (B2/B3) - 1,4642, sebaran biomassa karbon tajuk Bruguiera gymnorrhiza tertinggi juga terdapat pada stasiun I berkisar antara 0,0001 – 0,081 ton C dengan persamaan y = - 0,0027 (B2/B3)2 + 0,0649 (B2/B3) – 0,2432, serta sebaran biomassa karbon tajuk Bruguiera cylindrica hanya terdapat pada stasiun III berkisar antara 0,0014 – 0,0619 ton C dengan persamaan y = - 0,0089 (B2/B3)2 + 0,0632 (B2/B3) - 0,0683.
STRATEGI PENGEMBANGAN KEGIATAN KONSERVASI MANGROVE DI DESA BEDONO KABUPATEN DEMAK Abiyoga, Reinaldi; Suryanti, Suryanti; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.572 KB)

Abstract

 ABSTRAK Kawasan konservasi mangrove di Desa Bedono memiliki luas ± 300 hektar. Sebagian masyarakat memanfaatkan buah dan daun mangrove jenis Avicennia sp. untuk diolah menjadi makanan ringan. Keindahannya banyak menarik perhatian pengunjung untuk berwisata. Potensi tersebut belum dapat dikelola secara maksimal, sedangkan kegiatan konservasi mangrove yang dilakukan oleh Kelompok Mangrove Bahari sebatas melakukan penanaman mangrove, monitoring, dan penyuluhan.  Alternatif strategi yang tepat dibutuhkan oleh Kelompok Mangrove Bahari supaya dapat mengembangkan kegiatan konservasi mangrove di Desa Bedono. Penelitian ini bertujuan untuk : 1.) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan konservasi mangrove; dan 2.) memperoleh alternatif strategi yang tepat untuk mengembangkan kegiatan konservasi mangrove di Desa Bedono. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi studi kasus. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Data yang diperoleh didiskusikan melalui fokus grup diskusi (FGD) untuk diolah dan dianalisis menggunakan analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kegiatan konservasi mangrove di Desa Bedono adalah faktor internal dan faktor eksternal. Prioritas alternatif strategi yang terpilih adalah menjaga dan meningkatkan kelestarian ekosistem mangrove, meningkatkan koordinasi dengan stakeholders, melakukan konsultasi dalam bidang ekowisata mangrove, melakukan studi banding ke objek ekowisata mangrove, dan melakukan kerjasama dengan pihak yang berkompeten dalam bidang produksi dan pemasaran produk olahan mangrove. Kata Kunci : Mangrove, Konservasi, Pengembangan, Strategi ABSTRACT The Mangrove conservation area in Bedono village  covers an area of ± 300 hectares. The people also process the fruits and leaves of mangroves of Avicennia sp. for snacks. Although the beauty of mangrove forest attract visitors,  has not been optimally managed. While, the Mangrove Bahari group’s conservation activities are limited to planting mangroves, monitoring, and counceling. Therefore, alternative strategies are needed for the Mangrove Bahari Group to develop mangrove conservation activities. The purpose of this study is : 1.) to determine the factors that affect mangrove conservation activities; and 2.) to obtain appropriate alternative strategies for developing mangrove conservation activities in Bedono village. The research used a descriptive case study method in which a set of interviews, observation and literature studies were adopted. SWOT analysis and a focus group discussion (FGD) with all members of Mangrove Bahari Group was applied in the formulation of development strategies. The analysis showed that the factors that influence the development of mangrove conservation activities in Bedono village are internal and external factors. The priority recommendation include the maintenance and improvement for the sustainability of mangrove ecosystems, improvement of  coordination with stakeholders, consultation of management mangrove ecotourism, comparation studies of mangrove ecotourism, and  cooperation of production and marketing mangrove processed products.. Keywords: Mangrove, Conservation, Development, Strategy.
ASPEK BIOLOGI IKAN LAYUR (Trichiurus lepturus) BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN DI PPP MORODEMAK Vianita, Ririn; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.706 KB)

Abstract

Ikan Layur (Trichiurus lepturus) merupakan ikan demersal dan salah satu komoditas ekspor yang banyak ditemukan di pantai-pantai Jawa dan muara-muara sungai di Sumatera. Produksi perikanan saat ini masih didominasi oleh hasil penangkapan dari laut. Dengan adanya penangkapan yang tidak akan pernah berhenti, maka perlu adanya suatu pengelolaan terhadap sumberdaya tersebut. Aspek biologi merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan Layur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologis ikan Layur yang mencakup hubungan panjang-berat, faktor kondisi, tingkat kematangan gonad, fekunditas, ukuran pertama kali tertangkap, serta ukuran pertama kali matang gonad berdasarkan hasil tangkapan di PPP Morodemak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dengan teknik pengambilan sampel secara sistematik random sampling. Jenis data yang digunakan yaitu data primer yang didapatkan dari hasil tangkapan dengan cara mengambil 10% dari total hasil tangkapan ikan yang didaratkan. Pengambilan sampel dilakukan  sebanyak 4 kali pada bulan Maret – April 2014. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pertumbuhan ikan Layur bersifat alometrik negatif, dengan nilai b yaitu sebesar 2,68. Nilai faktor kondisi ikan Layur adalah 1,106 yang berarti ikan Layur memiliki tubuh kurang pipih. Nilai fekunditas terbesar yang diperoleh yaitu 230.692 butir dan fekunditas terkecil sebanyak 147.844 butir. Tingkat kematangan gonad didominasi TKG I, karena ikan Layur belum memasuki musim pemijahan, dan nilai indeks kematangan gonad bervariasi yaitu antara 0,021% - 5,015%. Ukuran pertama kali matang gonad (L50%) ikan Layur adalah 743 mm. Ukuran pertama kali tertangkapnya ikan Layur adalah 563 mm, hal ini menunjukan bahwa ikan sudah layak tangkap berdasarkan nilai L50% > ½ L∞. Ribbon Fish (Trichiurus lepturus) is one of the demersal are found on the coasts of Java and estuaries in Sumatra. Fishery production is still dominated by fishing from the sea. By fishing that will never stop, therefore it needs a good management of these resources. Aspects of biologyis one of the information that can be used as a basis in the management and utilization resources of Ribbon Fish. The purpose of this research was to determine the biological aspects of Ribbon Fish which includes length-weight relationship, condition factor, Gonad Maturity Level, fecundity, size of the first captured fish, as well as the size of the first ripe gonads based on catching in PPP Morodemak. The method that used was a survey method, the technique of sampling was systematic random sampling. The type of data used was primary data obtained from the catching by taking10% of the total catching fish landed. Sampling was carried out 4 times in March-April 2014. The results show that Ribbon fish growth was allometric negative, the value of b was 2.68. Ribbon fish condition factor value was 1.106 which means less Ribbon fish had flattened bodies. The biggest fecundities value was 230.692 and the smallest grains value was 147.844. The gonads maturity level was dominated by TKG I, as yet entered Ribbon fish spawning season, and gonad maturity index which varied between 0.021% - 5.015%. The size of the first ripe gonads (L50%) was 743 mm. The first Ribbon Fish captured size was 563 mm, it indicated that the fish was worth catching based on its value L50%>½ L ∞.
PROFIL BAKTERI TOTAL BERDASARKAN KEDALAMAN WADUK JATIBARANG SEMARANG Profile of Total Bacteria Base On Depth in the Jatibarang Reservoir, Semarang Widya, Devita Aristya Sri; Suprapto, Djoko; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.988 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26551

Abstract

Perairan waduk memiliki karakteristik secara vertikal yang dipengaruhi oleh masuknya sinar matahari ke perairan.  Karateristik ini memberikan pengaruh terhadap kualitas air. Salah satu yang mendapatkan pengaruh adalah keberadaan bakteri di perairan. Bakteri adalah mikroorganisme air yang berperan dalam proses dekomposisi di perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui total dan profil bakteri di Waduk Jatibarang berdasarkan kedalaman. Penelitian dilakukan pada 27 Maret 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, yang dilakukan di tujuh stasiun dengan tiga titik kedalaman (permukaan, tengah dan dasar). Perhitungan bakteri total dilakukan berdasarkan SNI Nomor 2332.3.2015 tentang Uji Mikrobiologi-bagian 3: Penentuan Angka Lempeng Total (ALT). Pengelolaan data menggunakan aplikasi SPSS 20 dan analisis sebaran menggunakan Ocean Data View 4. Berdasarkan perhitungan bakteri total di Waduk Jatibarang, total bakteri di permukaan waduk berkisar antara 1,9 × 103 – 1,5 × 105 CFU/ml, pada tengah yaitu 1,3 × 102  – 1,5 × 104 CFU/ml dan pada dasar 1,5 × 103  – 2,7 × 104 CFU/ml. Analisa sebaran bakteri total di Waduk Jatibarang menunjukkan bahwa terdapat kecondongan perbedaan stratifikasi secara vertikal.Reservoir have vertical characteristic be affected by entering sunlight in to waters. This characteristic effected to water quality, such as total bacteria. Bacteria is water microorganism that being a decomposer in the decomposition process. The purpose of this research is to know the consentration and profile of total bacteria base on depth in the Jatibarang Reservoir. The research was conducted on March 27th 2019. The research methods use descriptive methods with case study, and technical sampling methods using purposive sampling in seven stations with three points of depth water (surface, middle, and bottom). Accounting of total bacteria is base on the Standard National of Indonesia Number 2332.3.2015 about Microbiology Analisis-Chapter 3: Plate Number Determintion. Data processing use software SPSS 20 and distribution analysis with Ocean Data View 4. Base on the results, total bacteria in the surface level is 1,9 × 103 – 1,5 × 105 CFU/ml, in the middle is 1,3 × 102  – 1,5 × 104 CFU/ml. Total bcteria in the bottom level is  1,5 × 103  – 2,7 × 104 CFU/ml. Distribution analisis total bacteria in the Jatibarang reservoir show that there is different stratification of total bacteria in tendency vertically.  
HUBUNGAN TEKSTUR SEDIMEN, BAHAN ORGANIK DENGAN KELIMPAHAN BIOTA MAKROZOOBENTOS DI PERAIRAN DELTA WULAN, KABUPATEN DEMAK Wahyuningrum, Etty Silviana; Muskananfola, Max Rudolf; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.631 KB)

Abstract

Keanekaragamaan makrozoobentos pada suatu lingkungan perairan tertentu merupakan cerminan variasi terhadap kisaran-kisaran parameter lingkungan. Tekstur sedimen dan bahan organik merupakan faktor yang berpengaruh pada kelimpahan makrozoobentos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan tekstur sedimen, bahan organik, dan kelimpahan biota makrozoobentos dan hubungannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2015, di Perairan Delta Wulan, Kabupaten Demak. Metode yang digunakan adalah metode survei dan Purposive Sampling. Variabel yang diteliti meliputi: tekstur sedimen, bahan organik, kelimpahan makrozoobentos dan parameter fisika kimia perairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran fisika dan kimia air berada dalam kondisi normal. Kandungan bahan organik berkisar 0,10 – 0,35% dan prosentase pasir di empat stasiun berkisar 1,90 – 9,42%, lempung berkisar 67,82 – 96,74%, liat berkisar 1,36 – 22,86%. Kelimpahan individu berkisar 386,03 – 1564 ind / m3. Indeks keanekaragaman berkisar 0,64 – 1,28. Indeks keseragaman berkisar 0 – 1. Nilai nilai keterkaitan (r) antara tekstur sedimen dengan bahan organik adalah 0,494, tekstur sedimen dengan kelimpahan makrozoobentos 0,679 dan tekstur dengan kelimpahan makrozoobentos 0,474. Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan dalam kategori sedang. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan linier positif antara tekstur sedimen, dengan bahan organik, bahan organik dengan kelimpahan, dan tekstur sedimen dengan kelimpahan makrozoobentos di Perairan Delta Wulan, Kabupaten Demak. Diversity of macrozoobenthos in a particular marine environment is a reflection of the variation ranges of environmental parameters. Texture sediment and organic material is a factor that affects the abundance of macrozoobenthos. The aim of this study was to determine the content of the sediment texture, organic matter, and the abundance of macrozoobenthos and to know the relation between those parameters. The experiment was conducted in June 2015, in the waters of the Delta Wulan, Demak. The method used was survey method and purposive sampling. Variables examined included: the texture of sediment, organic matter, macrozoobenthos abundance and physical parameters of water chemistry. The results showed that the physical and chemical measurements of water were in normal condition. Organic matter content ranged from 0.10 to 0.35% and the percentage of sand  in four stations ranged from 1.90 to 9.42%, silt ranges from 67.82 to 96.74%, clay ranges from 1.36 to 22.86%. Abundance of individuals ranged from 386.03 to 1564 ind / m3. Diversity index ranged from 0.64 to 1.28. Uniformity index ranges from 0 - 1. The value of the relationship (r) between the textures of the sediments with organic material was 0.494, sediment with the abundance of macrozoobenthos was 0.679 and texture with abundance of macrozoobenthos 0.474. This means that there was a relationship in the medium category. Based on this, it can be concluded that there is a positive corelation between the texture of the sediment with organic materials, organic materials with abundance of macrozobenthos, and sediment texture with an abundance of macrozoobenthos in the waters of the Delta Wulan, Demak.

Page 9 of 55 | Total Record : 548