cover
Contact Name
Allan Darma Putra Pramudita
Contact Email
pramuditaallan@gmail.com
Phone
+6281346605465
Journal Mail Official
envirology@jurnal.unipi.ac.id
Editorial Address
Jl. Peta No.154, Suka Asih, Kec. Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat 40231
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Envirology
ISSN : -     EISSN : 30627176     DOI : https://doi.org/10.65483/envirology
Core Subject :
Envirology adalah jurnal ilmiah akses terbuka yang menerbitkan artikel hasil penelitian dan artikel tinjauan di bidang ilmu lingkungan. Jurnal ini mencakup kajian multidisiplin dan interdisiplin yang berfokus pada permasalahan lingkungan, dampak, risiko, dan keberlanjutan. Envirology bertujuan menjadi wadah diseminasi ilmiah bagi akademisi, peneliti, dan praktisi dalam mendukung pengelolaan lingkungan hidup.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Ekokritik dalam Sastra Arab Klasik dan Modern: Respresentasi Alam, Air, dan Kerusakan Lingkungan Muhammad Hasbi Assidiq
Envirology Vol. 3 No. 1 (2025): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v3i1.309

Abstract

Kajian ekokritik berkembang sebagai salah satu pendekatan interdisipliner yang mengkaji hubungan antara sastra dan lingkungan. Sastra Arab, baik klasik maupun modern, merepresentasikan alam, air, dan kerusakan lingkungan sebagai bagian penting dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi alam, air, dan kerusakan lingkungan dalam sastra Arab klasik dan modern menggunakan perspektif ekokritik Greg Garrard. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari karya sastra Arab serta berbagai literatur ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sastra Arab klasik merepresentasikan alam sebagai ruang kehidupan yang harmonis dengan manusia, sedangkan sastra Arab modern menampilkan pergeseran paradigma dengan menjadikan alam sebagai objek eksploitasi, pencemaran, dan krisis ekologis. Representasi air mengalami perkembangan dari simbol kehidupan dan spiritualitas menjadi simbol kelangkaan sumber daya serta isu keberlanjutan lingkungan. Analisis berdasarkan konsep dwelling, earth, pollution, animals, dan apocalypse menunjukkan bahwa sastra Arab berfungsi sebagai media kritik terhadap kerusakan lingkungan sekaligus membangun etika lingkungan, literasi ekologis, dan kesadaran akan pentingnya konservasi. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan ekokritik memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sastra dan ilmu lingkungan serta relevan dengan upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan
Nilai-Nilai Islam dalam Teks Arab sebagai Dasar Etika Lingkungan dan Perilaku Berkelanjutan Syafira Hanun Nurfadilah
Envirology Vol. 3 No. 1 (2025): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v3i1.311

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai Islam yang terkandung dalam teks Arab, khususnya Al-Qur'an dan Hadis, sebagai dasar pembentukan etika lingkungan dan perilaku berkelanjutan. Kajian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya berbagai permasalahan lingkungan, seperti pencemaran, eksploitasi sumber daya alam, perubahan iklim, dan menurunnya kualitas ekosistem, yang menunjukkan perlunya penguatan nilai-nilai moral dan spiritual dalam upaya pelestarian lingkungan. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Data diperoleh dari Al-Qur'an, Hadis, buku, serta artikel ilmiah yang membahas ekoteologi Islam, etika lingkungan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam yang meliputi tauhid, khalifah, amanah, mizan, dan larangan fasad fil ardh membentuk kerangka etika lingkungan yang komprehensif. Nilai-nilai tersebut menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga keseimbangan ekosistem, memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana, serta mencegah berbagai bentuk kerusakan lingkungan. Implementasi nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui perilaku berkelanjutan, seperti konservasi lingkungan, pengelolaan sampah, peningkatan literasi lingkungan, efisiensi penggunaan sumber daya, dan penerapan gaya hidup ramah lingkungan. Penelitian ini juga menghasilkan sintesis konseptual yang menunjukkan hubungan antara teks Arab, nilai-nilai Islam, etika lingkungan, dan perilaku berkelanjutan sebagai suatu kerangka yang saling berkaitan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya berfungsi sebagai pedoman spiritual, tetapi juga memberikan landasan etis yang relevan dalam mendukung pelestarian lingkungan dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Metodologi Analisis Teks Arab Untuk Kajian Etika Lingkungan Tinjauan Terhadap Pendekatan Tafsir Sematik Dan Analis Isi Lilis Kusniawati
Envirology Vol. 4 No. 1 (2026): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v4i1.316

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metodologi analisis teks Arab dalam kajian etika lingkungan melalui pendekatan tafsir semantik dan analisis isi (content analysis). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya berbagai permasalahan lingkungan, seperti pencemaran, eksploitasi sumber daya alam, dan kerusakan ekosistem yang memerlukan landasan etis dalam pengelolaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari Al-Qur'an, kitab tafsir, buku, jurnal ilmiah, serta berbagai literatur yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan studi literatur, sedangkan analisis data menggunakan pendekatan tafsir semantik dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tafsir semantik mampu mengungkap makna konseptual istilah-istilah ekologis dalam Al-Qur'an, seperti khalifah, mīzān, fasād, dan iṣlāḥ. Sementara itu, analisis isi memungkinkan identifikasi tema-tema lingkungan secara sistematis. Integrasi kedua pendekatan tersebut menghasilkan model metodologis yang komprehensif dalam kajian etika lingkungan berbasis Al-Qur'an.
Model Dialog Bahasa Arab Bertema Lingkungan Sebagai Media Komunikasi Edukatif Tentang Green Campus Andri Aryanto
Envirology Vol. 3 No. 1 (2025): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v3i1.319

Abstract

Lingkungan universitas sering kali menjadi kontributor signifikan terhadap timbulan limbah anorganik dan inefisiensi energi akibat belum selarasnya pengetahuan ekologis mahasiswa dengan tindakan nyata di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menjembatani jurang pemisah (gap) tersebut dengan mengembangkan model komunikasi bahasa Arab transdisipliner inovatif yang berbasis pada etika ekologi Islam untuk mendukung gerakan Green Campus. Menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) kualitatif-deskriptif dengan teknik analisis konten dan wacana, studi ini mengevaluasi integrasi konsep teologis ke dalam model komunikasi lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model "Eco-Muhadatsah" berhasil meningkatkan retensi kosakata ekologi harian melalui percakapan ringan di ruang publik kampus. Secara simultan, model "Eco-Hiwar" mampu memicu nalar kritis, kemampuan argumentatif, dan higher-order thinking skills (HOTS) mahasiswa untuk membongkar kesadaran semu terkait komodifikasi energi sekaligus merumuskan solusi tekno-ekologis struktural. Pada akhirnya, perwujudan Eco-Campus yang berkelanjutan memerlukan konvergensi strategis antara media visual taktis-partisipatif dari bawah (bottom-up) di tingkat komunitas mahasiswa dan dukungan kebijakan struktural-digital dari atas (topdown) di tingkat birokrasi kampus.
Penguatan Keterampilan Menulis Artikel Ilmiah Bagi Mahasiswa: Studi Literatur Tentang Literasi Akademik Dan Keberlanjutan Aldi Aditia Aditia; dikdik firman sidik
Envirology Vol. 3 No. 2 (2025): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v3i2.322

Abstract

Kemampuan menulis artikel ilmiah merupakan salah satu kompetensi akademik yang sangat penting bagi mahasiswa,. Kemampuan tersebut tidak hanya mendukung keberhasilan akademik, tetapi juga menjadi sarana untuk mengomunikasikan gagasan, hasil penelitian, serta solusi terhadap berbagai permasalahan lingkungan secara ilmiah. Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, keterampilan menulis (Mahārah al-Kitābah) memiliki peran strategis karena menuntut penguasaan struktur bahasa, penyusunan paragraf yang sistematis, serta penggunaan kaidah nahwu, sharaf, dan imlā' secara tepat. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa masih menghadapi kendala dalam menyusun artikel ilmiah berbahasa Arab, terutama pada aspek struktur paragraf, kohesi dan koherensi, ketepatan gramatikal, serta penggunaan kaidah penulisan ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penguatan keterampilan menulis artikel ilmiah melalui pendekatan studi literatur dengan menelaah berbagai penelitian mengenai Mahārah al-Kitābah, struktur artikel ilmiah, kaidah kebahasaan Arab, serta literasi akademik. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (literature review) dengan menganalisis berbagai buku, jurnal ilmiah, dan dokumen akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguasaan Mahārah al-Kitābah yang didukung oleh pemahaman terhadap struktur paragraf, kaidah nahwu, sharaf, imlā', serta prinsip kohesi dan koherensi mampu meningkatkan kualitas artikel ilmiah mahasiswa. Selain itu, integrasi tema lingkungan dalam pembelajaran menulis bahasa Arab dapat memperkuat literasi akademik sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu keberlanjutan dan pelestarian lingkungan. Pemanfaatan strategi pembelajaran yang inovatif, teknologi digital, serta latihan menulis berbasis publikasi ilmiah juga terbukti mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan artikel ilmiah yang berkualitas. Dengan demikian, penguatan keterampilan menulis artikel ilmiah berbahasa Arab tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga mendukung pengembangan literasi lingkungan yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Analisis Tasrif Kosakata Lingkungan dalam Al-Qur’an untuk Pendidikan Keberlanjutan Solihin; Dikdik Firman Sidik
Envirology Vol. 3 No. 2 (2025): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v3i2.325

Abstract

Krisis ekologis global kontemporer akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan menuntut rekonstruksi paradigma etis yang melampaui sekadar solusi teknokratis. Islam memiliki fondasi teologis yang kuat terhadap pelestarian alam, namun pemaknaan teks suci sering kali terjebak dalam batas normatif tanpa menyentuh akar linguistiknya. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep etika ekologis dalam Islam secara komprehensif melalui analisis morfologis (tasrif) dan semantis terhadap lima kosakata kunci dalam Al-Qur'an dan Hadis. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka analisis semantik Toshihiko Izutsu dan perubahan morfologi bahasa Arab, penelitian ini membedah makna fundamental dari istilah al-Arḍ (bumi), al-Mā’ (air), al-Mīzān (keseimbangan), al-Fasād (kerusakan), dan al-Isrāf (pemborosan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima kosakata tersebut membentuk satu kesatuan teologi ekosentris yang integratif. Bumi dan air diposisikan sebagai amanah transendental serta hak publik milik bersama yang secara yuridis menolak praktik privatisasi dan eksploitasi kapitalistik sepihak. Sementara itu, krisis lingkungan diidentifikasi sebagai akibat langsung dari perilaku al-fasād (kerusakan) dan al-isrāf (konsumsi berlebih) manusia yang merusak tatanan al-mīzān kosmis yang telah diciptakan Allah dalam porsi yang seimbang. Sebagai bentuk implementasi taktis, pelestarian lingkungan dalam perspektif Islam memerlukan sinergi dari dua instrumen utama, yaitu penegakan regulasi kebijakan publik pro-lingkungan berbasis prinsip maqasid syariah demi keadilan air, serta internalisasi nilai ekopedagogi spiritual ke dalam kurikulum keagamaan dan manajemen lembaga pendidikan Islam guna membangun kecerdasan ekologis (ecological literacy) kolektif bagi generasi mendatang
Analisis I’rab Ayat-Ayat tentang Kerusakan Lingkungan: Telaah Linguistik terhadap Konsep Fasād fī al-Arḍ Siti Solihah
Envirology Vol. 4 No. 1 (2026): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v4i1.329

Abstract

Kerusakan lingkungan merupakan salah satu persoalan global yang turut mendapat perhatian dalam Al-Qur’an melalui konsep فَسَادٌ فِي الْأَرْضِ. Berbagai penelitian sebelumnya lebih banyak mengkaji konsep tersebut melalui pendekatan tafsir, semantik, dan ekoteologi, sedangkan kajian linguistik khususnya analisis i’rab terhadap ayat-ayat kerusakan lingkungan masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk i’rab pada ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat konsep فَسَادٌ فِي الْأَرْضِ serta menjelaskan implikasi struktur sintaksis terhadap pemaknaan kerusakan lingkungan dalam Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data penelitian berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat konsep فَسَادٌ, khususnya yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan, yang dianalisis menggunakan pendekatan ilmu nahwu dan i’rab serta didukung oleh kitab tafsir dan literatur linguistik Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur i’rab dalam ayat-ayat kerusakan lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk makna dan penekanan pesan Al-Qur’an. Kedudukan gramatikal unsur-unsur kalimat seperti fi‘il, fā‘il, maf‘ūl, dan jar-majrūr memberikan pengaruh terhadap penafsiran ayat, terutama dalam menjelaskan hubungan antara perilaku manusia dan terjadinya kerusakan di bumi. Selain itu, analisis i’rab menunjukkan bahwa konsep فَسَادٌ فِي الْأَرْضِ tidak hanya mengandung makna kerusakan fisik, tetapi juga mencerminkan kerusakan sosial, moral, dan ekologis. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan linguistik melalui analisis i’rab dapat memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat lingkungan dalam Al-Qur’an serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian tafsir dan studi lingkungan Islam. : I‘rāb Al-Qur’an, Fasād fī al-Arḍ, Kerusakan Lingkungan, Linguistik Al-Qur’an, Tafsir Ekologis, Ekoteologi Islam.
Analisis Nahwu pada Ayat-Ayat Lingkungan dalam Al-Qur'an: Implikasi Terhadap Pemahaman Etika Pengelolaan Alam ihsan Kamiludin
Envirology Vol. 3 No. 2 (2025): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v3i2.332

Abstract

Krisis lingkungan global seperti perubahan iklim, deforestasi, dan pencemaran telah menjadi perhatian serius berbagai disiplin ilmu. Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam memuat banyak ayat yang berbicara tentang alam dan larangan merusaknya. Namun, pemahaman terhadap pesan etis ayat-ayat tersebut seringkali masih bersifat umum tanpa menggali struktur kebahasaan yang memperkuat makna. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur Nahwu pada ayat-ayat lingkungan dalam Al-Qur'an dan mengimplikasikannya terhadap etika pengelolaan alam. Metode yang digunakan adalah analisis teks (content analysis) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i). Ayat-ayat yang dikaji meliputi QS. Al-A'raf: 56 (larangan berbuat kerusakan), QS. Ar-Rum: 41 (kerusakan akibat ulah manusia), QS. Al-An'am: 38 (alam sebagai komunitas), dan QS. Al-Mulk: 3-4 (keseimbangan ciptaan). Analisis difokuskan pada struktur fi'il nahy (kata kerja larangan), jumlah ismiyyah/fi'liyyah, dan relasi i'rab yang membentuk penekanan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur Nahwu dalam ayat-ayat tersebut mengandung penguatan pesan etis, seperti larangan mutlak terhadap perusakan (lā tufsidū), penegasan sebab-akibat kerusakan (ẓahara al-fasād), dan penggambaran alam sebagai entitas yang memiliki kesakralan. Implikasi etisnya mencakup tiga prinsip: tauhid (alam milik Allah), khalifah (manusia sebagai pengelola amanah), dan mīzān (keseimbangan ekologis). Artikel ini berkontribusi pada pengembangan etika lingkungan berbasis nilai Islam serta menjadi dasar bagi pengarusutamaan kesadaran ekologis dalam pendidikan tinggi. Penelitian ini merekomendasikan pengintegrasian kajian teks Al-Qur'an ke dalam kurikulum ilmu lingkungan untuk memperkuat literasi ekologis berbasis agama.
Retorika Balaghah dalam Ayat-Ayat Ekologis Al-Qur’an: Pesan Konservasi, Keseimbangan, dan Larangan Kerusakan Alam Gugum Muhamad Rizki; Hafidz Fauzan Nugraha
Envirology Vol. 3 No. 2 (2025): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v3i2.333

Abstract

lingkungan merupakan salah satu tantangan global yang memerlukan pendekatan multidisipliner, termasuk melalui perspektif keagamaan. Al-Qur'an memuat berbagai ayat ekologis yang mengandung nilai-nilai konservasi, keseimbangan, dan larangan melakukan kerusakan terhadap alam. Namun, sebagian besar penelitian terdahulu lebih berfokus pada aspek tafsir, sedangkan kajian mengenai retorika Balaghah sebagai media penyampaian pesan ekologis masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis retorika Balaghah pada ayat-ayat ekologis Al-Qur'an serta mengkaji relevansinya terhadap konservasi lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari Al-Qur'an sebagai sumber utama, kitab tafsir, literatur Balaghah, serta berbagai jurnal ilmiah yang membahas tafsir ekologis dan ilmu lingkungan. Analisis dilakukan melalui pendekatan tafsir tematik (tafsīr maudhū‘ī) dengan mengintegrasikan tiga cabang ilmu Balaghah, yaitu Ma‘ānī, Bayān, dan Badī‘, kemudian disintesiskan dengan konsep-konsep ilmu lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retorika Balaghah berperan dalam memperkuat penyampaian pesan ekologis Al-Qur'an melalui penggunaan bentuk khabar, amr, nahy, istifhām, dan ta'kīd, serta pemanfaatan gaya bahasa dan keindahan makna yang membangun kesadaran ekologis secara persuasif. Analisis terhadap QS. Al-Baqarah [2]:30, QS. Al-A‘rāf [7]:56, QS. Ar-Rūm [30]:41, QS. Ar-Raḥmān [55]:7–9, dan QS. Hūd [11]:61 menunjukkan bahwa konsep khalīfah, fasād, mīzān, dan isti‘mār al-arḍ membentuk kerangka etika konservasi lingkungan yang utuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Balaghah tidak hanya berfungsi menjelaskan keindahan bahasa Al-Qur'an, tetapi juga menjadi instrumen retoris yang memperkuat nilai-nilai konservasi, keseimbangan ekologis, dan tanggung jawab manusia terhadap kelestarian lingkungan. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian interdisipliner antara studi Al-Qur'an, bahasa Arab, dan ilmu lingkungan serta menjadi referensi dalam pengembangan etika lingkungan Islam.
Kearifan Lokal Dan Resiliensi Agroekosistem: Studi Kasus Pada Masyarakat Kasepuhan Gelar Alam, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Arif Munandar; Sri Ratna Wulan
Envirology Vol. 4 No. 1 (2026): ENVIROLOGY
Publisher : Universitas Persatuan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65483/envirology.v4i1.384

Abstract

ABSTRAK Perubahan iklim, modernisasi pertanian, dan pergeseran nilai antargenerasi menjadi tekanan yang semakin nyata terhadap keberlanjutan agroekosistem tradisional di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana kearifan lokal masyarakat Kasepuhan Gelar Alam, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, membentuk praktik pengelolaan agroekosistem dan berkontribusi terhadap resiliensinya, serta mengidentifikasi faktor sosial, budaya, dan ekologis yang menentukan kapasitas adaptasi komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap 8–12 informan kunci dan pendukung, serta dokumentasi, yang dianalisis secara tematik menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi agroekosistem Kasepuhan Gelar Alam dibentuk oleh keterpaduan tiga dimensi—ekologis, sosial-institusional, dan spiritual-kosmologis—yang terwujud melalui agrobiodiversitas 180 varietas padi lokal, sistem pertanian gilir balik (Huma), sistem leuit sebagai cadangan pangan terdesentralisasi, zonasi hutan adat, sistem rorokan, gotong royong, serta kerangka nilai adat yang memungkinkan adaptasi selektif. Ketiga dimensi tersebut membangun absorptive, adaptive, dan transformative capacity secara sinergis. Kapasitas adaptasi komunitas ditentukan oleh faktor ekologis, sosial, dan budaya yang bekerja secara terintegrasi. Temuan ini memperkuat kerangka teori resiliensi sosial-ekologis dan menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat adat dapat menjadi rujukan bagi perumusan kebijakan pengelolaan agroekosistem yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Kata kunci: kearifan lokal, resiliensi agroekosistem, masyarakat adat ABSTRACT Climate change, agricultural modernization, and intergenerational value shifts pose increasing pressure on the sustainability of traditional agroecosystems in Indonesia. This study analyzes how the local wisdom of the Kasepuhan Gelar Alam indigenous community in Cisolok Subdistrict, Sukabumi Regency, shapes agroecosystem management practices and contributes to their resilience, and identifies the social, cultural, and ecological factors that determine the community's adaptive capacity. A qualitative case study approach was employed through participatory observation, in-depth interviews with 8–12 key and supporting informants, and documentation, analyzed thematically using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña (2014). The results show that the resilience of the Kasepuhan Gelar Alam agroecosystem is shaped by the integration of three dimensions—ecological, socio-institutional, and spiritual-cosmological—manifested through the cultivation of 180 local rice varieties, the Huma shifting cultivation system, the decentralized leuit food storage system, customary forest zoning, the rorokan institutional system, mutual cooperation, and a value framework enabling selective adaptation. These three dimensions synergistically build absorptive, adaptive, and transformative capacities. The community's adaptive capacity is determined by ecological, social, and cultural factors operating in an integrated manner. These findings reinforce the social-ecological resilience framework and suggest that indigenous local wisdom can serve as a reference for formulating more contextual and sustainable agroecosystem management policies. Keywords: local wisdom, agroecosystem resilience, indigenous community

Page 3 of 3 | Total Record : 30