cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Analisis Timbal pada Air, Sedimen dan Enhalus Acoroides, Royle 1839 (Angiosperms: Hydrocharitaceae) di Perairan Jepara Hasibuan, Zhulian Hikmah; Yulianto, Bambang; Nuraini, Ria Azizah Tri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27477

Abstract

ABSTRAK: Pantai Bandengan dan Pulau Panjang merupakan salah satu tempat obyek wisata yang berada di Jepara. Aktivitas perkapalan merupakan salah satu sumber penyebab masuknya bahan pencemar logam berat kedalam perairan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan logam berat Pb (Timbal) pada air, sedimen dan lamun Enhalus acoroides (akar, batang dan daun), dan mengetahui kemampuan Enhalus acoroides dalam mengakumulasi dan Translokasi logam berat Pb di perairan Pantai Bandengan dan Pulau Panjang, Jepara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, sedangkan metode penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel, air, sedimen dan akar, batang, daun lamun Enhalus acoroides. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2019. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada. Hasil penelitian menunjukan nilai akumulasi logam berat Pb (Timbal) pada akar Enhalus acoroides di Pantai Bandengan berkisar antara 1,83 – 2,16 mg/l dan pada Daun berkisar antara 1,50 – 2,16 mg/l, sedangkan akumulasi logam berat pada Pb (Timbal) pada akar Enhalus acoroides di Pulau Panjang berkisar antara 1,66 – 2,82 mg/l dan pada daun  1,33 – 2,98 mg/l. Kemampuan lamun Enhalus acoroides yang ada di Pantai Bandengan dan Pulau Panjang dalam mengakumulasi logam berat Pb (Timbal) termasuk dalam kategori rendah dengan nilai faktor biokonsentrasi rata-rata < 250.  ABSTRACT: Bandengan Beach and Panjang Island are one of a tourist destinations in Jepara. The activities of shipping are ones caused of heavy metal pollutions into the waters. Seagrass is flowering water plants and the ability to adapt to live and grow in the marine environment. Enhalus acoroides is a type of seagrass that grows around Bandengan Beach and Panjang Island. The presence of seagrass in the sea can be a bioindicator of heavy metal pollution  because to absorbs accumulate contaminants.. The pupose of this research ware to know and compare the content of heavy metals Pb (Lead) in Waters, Sediment, and roots, stems, leaf in Enhalus acoroides Seagrass in Bandengan Beach and Panjang Island. This research used descriptive method, while the method of determining the location used purposive sampling method. The material used in this research are the samples of Waters, Sediment, and roots, stems, leaf in Enhalus acoroides Seagrass. The research was carried out in Oktober-November 2019. The analysis of samplescarried out in the laboratory of analytical chemistry, Faculty of Math and Science, Gajah Mada University. The results showed the value of the accumulations of heavy metal Pb (Lead) from the root Enhalus acoroides  in Bandengan Beach ranging between 1,83 – 2,16 mg/l and 1,50 – 2,16 mg/l from the leaves, while the acvumulations of heavy metals Pb (Lead) from the root Enhalus acoroides in Panjang Island range between  1,66 – 2,82 mg/l and 1,33 – 2,98 mg/l from the leaves. The ability Enhalus acoroides in Bandengan Beach and Panjang Island to accumulate the heavy metals Pb (Lead) can be concluded under low category because of bioconcentrate factor value <250
Pemetaan Kerusakan Terumbu Karang Akibat Kandasnya Kapal Tongkang di Taman Nasional Karimunjawa, Jawa Tengah Munasik, Munasik; Helmi, Muhammad; Siringoringo, Rikoh Manogar; Suharsono, Suharsono
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1281.398 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.28239

Abstract

ABSTRAK: Pemetaan kerusakan terumbu karang akibat kandasnya kapal tongkang di P. Tengah dan di P. Cilik, Taman Nasional Karimunjawa, Jawa Tengah telah dilakukan 2-3 bulan setelah kejadian dengan cara mengukur luas area kerusakan dan menilai kondisi terumbu karang. Pengukuran area kerusakan menggunakan metode penginderaan jarak jauh berbasis Drone (UAV Drone/pesawat tanpa awak) dan penilaian kondisi ekosistem terumbu karang dengan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dan kerusakan terumbu karang akibat kandasnya kapal tongkang di P. Cilik dan P. Tengah, Taman Nasional Karimunjawa. Hasil menunjukkan telah terjadi kerusakan fisik di lereng atas terumbu karang pada kedua pulau tersebut berupa karang mati dan pecahan karang. Luas kerusakan terumbu karang di P. Tengah (1.420,32 m2) lima kali lebih luas daripada luas kerusakan terumbu karang di P. Cilik (267,22 m2). Luasnya kerusakan terumbu karang di P. Tengah kemungkinan akibat perbedaan jumlah kapal tongkang yang kandas, waktu kandas dan dominasi karang yang mudah patah (fragile). Komunitas karang keras yang dominan di lereng terumbu P. Tengah adalah karang bercabang (CB), Acropora bercabang (ACB) dan karang lembaran/foliose (CF). Luasan kerusakan dan kondisi terumbu karang akibat kandasnya kapal tongkang ini dapat digunakan untuk pengelola kawasan konservasi dalam perencanaan perlindungan dan restorasi ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa  ABSTRACT: Mapping damage to coral reefs due to the barges grounding in Cilik Island (P. Cilik) and Tengah Island (P. Tengah), Karimunjawa National Park, Central Java was carried out 2-3 months after the event by measuring the extent of damage and coral reefs assessment. Damage area measurement using Drone (UAV Drone) based remote sensing and reef ecosystem assessment using the Underwater Photo Transect (UPT) method. The aim of this study was to determine the condition and damage of coral reefs due to the wrecking of barges in Cilik and Central P., Karimunjawa National Park The results show that physical damage has occurred on the upper slopes of coral reefs on both islands is dead coral and coral fragments. Damage to extensive coral reefs in P. Tengah (1,420.32 m2) is five times larger than extensive damage to coral reefs in P. Cilik (267.22 m2). Damage to coral reefs in P. Tengah may cause differences in the number of barges that ran aground, time of aground and the dominance of fragile corals the upper slopes of the coral reefs. The dominant hard coral communities on the upper slopes of P. Tengah reefs are generally composed the fragile corals, such as branching corals (CB), branching Acropora (ACB) and foliose corals (CF). Damage to coral reefs and the condition of the ecosystem caused by the aground of the barges can be used to manage conservation areas in the planning of conservation and restoration of coral reef ecosystems in the Karimunjawa National Park in near future.
Analisa Distribusi Spasial Vegetasi Mangrove di Desa Pantai Mekar Kecamatan Muara Gembong Hanan, Abdul Faqih; Pratikto, Ibnu; Soenardjo, Nirwani
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.336 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27573

Abstract

Mangrove merupakan vegetasi yang tumbuh di wilayah pesisir dengan kemampuan beradaptasi baik secara morfologi dan fisiologi terhadap lingkungan. Ekosistem mangrove memiliki beragam peran diantaranya peranan ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Penyusutan luas hutan mangrove yang terjadi di Kecamatan Muara Gembong menyebabkan penurunan kualitas ekosistem mangrove. Kegiatan rehabilitasi tidak berjalan secara maksimal akibat belum tersedianya peta tematik mangrove untuk menunjang kegiatan penanaman mangrove di wilayah Desa Pantai Mekar yang merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Muara Gembong. Tujuan penelitian ini menganalisis sebaran mangrove, luas vegetasi mangrove dan persentase kategori tutupan vegetasi mangrove melalui pendekatan penginderaan jauh dan validasi lapangan. Citra yang digunakan pada penelitian ini yaitu citra satelit Sentinel 2A. Metode penginderaan jauh yang digunakan untuk mengetahui sebaran mangrove dengan perpaduan composite band dan supervised classification sedangkan untuk luas vegetasi mangrove dan persentase tutupan vegetasi mangrove menggunakan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Metode validasi lapangan untuk tutupan vegetasi mangrove menggunakan hemispherical photography. Hasil penelitian menunjukan sebaran vegetasi mangrove di Desa Pantai Mekar tersebar di daerah ekowisata, wilayah sekitar sungai, daerah muara sungai, bekas tambak dan sekitar tambak dengan luas hutan mangrove sebesar 377,06 ha. Klasifikasi tutupan vegetasi mangrove terdiri dari 81,53 ha (21,62 %) kategori mangrove padat, 77,11 ha (20,45 %) kategori mangrove sedang dan 218,42 ha (57,93 %) kategori mangrove jarang. Mangrove is a tropical coastal vegetation that has the ability to adapt well morphologically and physiologically in the environment. Mangrove ecosystems have various of functions, including ecological, economical, and socio-culture functions. The extensive depreciation of mangrove forests that occurred in the District of Muara Gembong caused a decrease in the quality of the mangrove ecosystem. The rehabilitation activities have not run optimally, because there have not been any thematic maps to support mangrove planting activities in the Pantai Mekar Village area which is one of the villages in the Muara Gembong Subdistrict area. The purpose of this study is to analyze the distribution of mangroves, mangrove vegetation area and percentage of mangrove vegetation cover categories through remote sensing approach and field validation. The image used in this study is the Sentinel 2A satellite image. Remote sensing method used to determine the distribution of mangroves with a combination of composite band and supervised classification, while for the area of mangrove vegetation and the percentage of mangrove vegetation cover using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). The field validation method for the mangrove vegetation cover uses hemispherical photography. The results showed that the distribution of the mangrove vegetation in Desa Pantai Mekar spread over the ecotourism areas, watershed, river estuaries, and aquaculture ponds with a total area of 377,06 hectares. The area is consisted of 81,53 hectares (21,62%) dense forest, 77,11 hectares (20,45%) medium dense forest, and 218,42 hectares (57,93%) sparse forest.
Struktur Komunitas Echinodermata di Padang Lamun Karimunjawa, Jepara Jawa Tengah Fatimah, Hanaf; Nuraini, Ria Azizah Tri; Santoso, Adi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27566

Abstract

Pulau Kemujan dan Pulau Bengkoang Karimunjawa memiliki beberapa ekosistem, salah satunya adalah ekosistem padang lamun. Secara ekologis, padang lamun merupakan habitat bagi biota laut salah satunya Echinodermata. Echinodermata berperan sebagai salah satu komponen dalam rantai makanan, pemakan sampah organik dan hewan kecil lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis struktur komunitas Echinodermata dan membandingkan struktur komunitas Echinodermata di Pulau Kemujan dan Pulau Bengkoang Karimunjawa. Metode struktur komunitas Echinodermata sama dengan lamun yaitu metode Seagrass Watch. Masing-masing lokasi dibagi menjadi 3 titik sekaligus sebagai pengulangan, dengan jarak antar titik 25 meter sejajar garis pantai, penarikan transek kuadran berukuran 50x50cm² ketika pertama kali ditemukannya lamun, tegak lurus kearah laut lepas sepanjang 50 m. Transek kuadran diletakkan dimulai dari titik, lalu ke arah 1 meter dari kanan dan 1 meter dari kiri, dengan jarak antar kuadran 5 m. Hasil penelitian Echinodermata di Pulau Kemujan yaitu Kelas Holothuroidea dan Echinoidea, sedangkan di Pulau Bengkoang ditemukan Kelas Holothuroidea, Asteroidea dan Echinoidea. Kelimpahan Echinoidermata tertinggi di Pulau Bengkoang. Nilai indeks keanekaragaman (H’) Pulau Kemujan tergolong rendah (0,025), indeks keseragaman rendah (0,030) dan tidak ada yang mendominansi. Sedangkan di Pulau Bengkoang keanekaragaman (H’) tergolong sedang (1,048), keseragaman (E) tinggi (0,793) dan tidak ada yang mendominansi. Hasil kerapatan lamun lebih tinggi di Pulau Bengkoang yaitu 164,44 ind/m². Jenis substrat di kedua lokasi yaitu pasir dengan kandungan bahan organik di Pulau Kemujan tergolong rendah, sedangkan Pulau Bengkoang tergolong sedang.
Bioekologi Lamun di Perairan Teluk Awur, Jepara, Jawa Tengah Monita, Dinda; Endrawati, Hadi; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.29223

Abstract

Padang lamun merupakan ekosistem pesisir dan laut yang memiliki peran, fungsi, dan manfaat besar bagi kelangsungan hidup berbagai organisme laut. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terbaru dari kondisi kesehatan serta kondisi ekologi ekosistem lamun yang terdapat di lokasi penelitian. Penelitian dilakukan di Perairan Teluk Awur, Jepara, Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menemukan 4 jenis lamun yang tersebar cukup merata pada 3 stasiun penelitian, yaitu: Enhalus acoroides, Thalasia hemprichii, Cymodocea serulata, dan Cymodocea rotundata. Kisaran persentase penutupan rata-rata antara 12,50% – 14,96%. Kerapatan lamun berkisar antara 164,40 – 196,52 ind/m2 dengan komposisi dan kerapatan jenis tertinggi adalah Thalasia hemprichii dan terendah adalah Cymodocea rotundata. Jenis substrat yang ditemukan di ketiga stasiun penelitian adalah substrat pasir dan pasir berlumpur. Nilai indeks ekologi lamun meliputi indeks dominansi masuk kategori rendah, keanekaragaman masuk kategori sedang, dan indeks keseragaman masuk kategori stabil. Hasil ini menunjukan bahwa secara ekologi tidak terdapat spesies yang sangat mendominasi dalam komunitas lamun di Perairan Teluk Awur, Jepara. Kondisi perairan meliputi suhu, salinitas, DO, pH, kecerahan, arus, kadar nitrat, kadar fosfat dan kadar bahan organik masih dikategorikan baik dan cocok bagi pertumbuhan lamun. Berdasarkan kriteria status kondisi padang lamun (Kepmen LH No 200 Tahun 2004), status ekosistem lamun di Perairan Teluk Awur, Jepara adalah kurang kaya/kurang sehat. Secara keseluruhan kondisi ekosistem lamun berserta kondisi ekologinya masih dapat mendukung pertumbuhan lamun. Segrass beds are coastal and marine ecosystems that have a major roles, functions, and benefits for the survival of various marine organism.The purpose of this study was to determine the latest health and ecological conditions of the seagrass ecosystem in the research location. This research was conducted in the waters of Teluk Awur, Jepara, Central Java. The research method used is descriptive analysis. The results of the study found 4 types of seagrass that were spread fairly evenly at 3 research stations, namely: Enhalus acoroides,  Thalasia hemprichii, Cymodocea serulata, and Cymodocea rotundata. The range of the average coverage percentage is between 12,50% – 14,96%. Seagrass density ranges from 164,40 – 196,52 ind/m2 with the highest composition, and species density was Thalasia hemprichii and the lowest was  Cymodocea rotundata. The types of substrates found in three research stations were sand and muddy sand. The ecological index value of seagrass includes the dominance index which is categorized as a low, the diversity is in the medium category, and the uniformity index is in the stable category. These results indicate that ecologically there are no species that dominate the seagrass community in the waters of Teluk Awur, Jepara. Water conditions, including temperature, salinity, DO, pH, water brightness, current, nitrate content, phosphate content, and organic matter levels are still categories as good and suitable for seagrass growth. Based on the criteria for the status of seagrass beds (Kepmen LH No 200 of 2004), the status of the seagrass ecosystem in the waters of Teluk Awur, Jepara is less rich / less healthy. Overall, the condition of the seagrass ecosystem along with its ecological conditions still supports the growth of seagrass. 
Keanekaragaman Perifiton Daun Lamun Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata di Teluk Awur, Jepara Sugiarto, Adelia Hilma; Ario, Raden; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.30506

Abstract

Ekosistem padang lamun merupakan ekosistem bahari yang memiliki keanekaragaman hayati dan memiliki produktivitas tinggi di perairan dangkal. Adanya keberadaan perifiton yang menempel pada daun lamun diduga dijadikan sebagai faktor penunjang produktivitas primer di kawasan ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan perifiton, distribusi perifiton dan hubungan kerapatan lamun terhadap kelimpahan perifiton di Perairan Teluk Awur, Jepara. Penelitian ini menggunakan metode survei dan penentuan lokasi dipilih dengan menggunakan metode sampling purposive method, sedangkan metode pengambilan data lamun mengacu pada metode line transek kuadran. Pengambilan daun lamun untuk pengamatan perifiton menggunakan metode sapuan daun yang selanjutnya diamati dengan menggunakan mikroskop. Nilai kelimpahan perifiton pada daun lamun Enhalus acoroides di Stasiun 1, Stasiun 2, dan Stasiun 3 berturut-turut adalah 105 ind/cm2, 167,5 ind/cm2, dan 101,25 ind/cm2. Sedangkan kelimpahan perifiton pada daun lamun Cymodocea serrulata di Stasiun 1 tidak ada lalu Stasiun 2 dan Stasiun 3 berturut-turut adalah 80 ind/cm2 dan 135 ind/cm2. Kelimpahan tertinggi perifiton terdapat pada jenis lamun E. acoroides diduga karena E. acoroides mempunyai luas penampang daun yang lebih lebar dibandingkan C.serrulata. Perifiton yang mendominasi di lokasi ini berasal dari Kelas Bacillariophyceae. Sebaran perifiton berdasarkan perhitungan indeks morisita yaitu berkelompok dan terdapat hubungan antara kelimpahan perifiton dengan kerapatan lamun.  The seagrass ecosystem is a marine ecosystem that has biodiversity and is high productivity in shallow waters. The presence of periphyton attached to seagrass leaves is thought to be used as a primary productivity supporting factor in the seagrass ecosystem. This research aims to determine the periphyton abundance, periphyton distribution and seagrass density relationship towards periphyton abundance in Teluk Awur, Jepara. The survey method and location determination were selected based on purposive sampling method, while the seagrass data collection method refers to the quadrant line transect method. The taking of seagrass leaf for periphyton observation used leaf drainage method was then observed using a microscope. Periphyton abundance value on seagrass leaves of Enhalus acoroides in Station 1, Station 2, and Station 3 are respectively  105 ind / cm2, 167,5 ind / cm2, and 101, 25 ind / cm2. Periphyton abundance in seagrass leaves Cymodocea serrulata in Station 1 was not found while Station 2 and Station 3 are 80 ind / cm2 and 135 ind / cm2 respectively. The highest abundance of periphyton is in the type of seagrass E. acoroides because E. acoroides has a wider leaf cross-sectional area than C. serrulata. Periphyton that dominates the waters of Teluk Awur comes from the Bacillariophyceae class. Periphyton distribution based on the morisita index calculation is clustered and there is a relationship between periphyton abundance and seagrass density.
Hubungan antara Jenis Sedimen Pasir dan Kandungan Bahan Organik di Pantai Kartini, Jepara, Jawa Tengah Yudha, Gadisza Asmara; Suryono, Chrisna Adhi; Santoso, Adi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.29020

Abstract

Pantai Kartini merupakan salah satu kawasan wisata di Kabupaten Jepara. Berbagai aktifitas masyarakat serta infrastruktur perairan menjadi kebutuhan yang sangat krusial dengan letak Pantai Kartini. Adanya aktivitas dan bangunan dapat menyebabkan perubahan sebaran ukuran butir dan kandungan bahan organik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui jenis dan klasifikasi sedimen serta jumlah kandungan bahan organik yang terdapat dalam sedimen di Pantai Kartini, Jepara. Pengambilan data pada penelitian ini yaitu pengambilan data primer yang berupa sampel sedimen dengan menggunakan sediment core. Dilanjutkan dengan analisis sampel sedimen dan analisis kandungan bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan Pantai Kartini, Jepara memiliki jenis sedimen pasir (sand) dimana nilai ukuran butir tersebut berkisar dari 81-96%, yang mana pada Stasiun 1 rata-rata sebesar 91,6-96%, Stasiun 2 rata-rata sebesar 93,5-96,9%, dan Stasiun 3 rata-rata sebesar 81,4-92,9%. Sedangkan, Kandungan Bahan Organik yang terdapat di perairan tersebut memiliki konsentrasi berkisar dari 5-14% yang termasuk dalam kriteria rendah-sedang, dimana pada Stasiun 1 rata-rata sebesar 10,9-13,3%, Stasiun 2 rata-rata sebesar 5,92-10,18%, dan Stasiun 3 rata-rata sebesar 7,7-14%. Kartini Beach is one of the tourist areas in Jepara Regency. Various community activities and water infrastructure have become crucial needs in Kartini Beach. The existence of activities and buildings can cause changes in the distribution of grain size and content of organic matter. This study aims to determine the type and classification of sediments and the amount of organic matter content contained in sediments in Kartini Beach, Jepara. Data collection in this study is primary data collection in the form of sediment samples using sediment cores. Followed by analysis of sediment samples and analysis of organic matter content. The results showed that in Kartini Coast waters, Jepara had a sand sediment type where the grain size values ranged from 81-96%, which at Station 1 averaged 91,6-96%, Station 2 on average amounted to 93,5-96,9%, and Station 3 averaged 81,4-92,9%. Meanwhile, the content of organic matter contained in these waters has concentrations ranging from 5-14% which are included in the criteria of low-moderate, where at Station 1 an average of 10,9-13,3%, Station 2 an average of 5,92-10,18%, and Station 3 averaging 7,7-14%. 
Stok Karbon pada Ekosistem Lamun di Pulau Kemujan dan Pulau Bengkoang Taman Nasional Karimunjawa Dewi, Septiyani Kusuma; Setyati, Wilis Ari; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i1.28273

Abstract

Lamun memiliki kemampuan menyimpan karbon di dalam biomassanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai estimasi simpanan karbon dalam biomassa pada vegetasi lamun di Pulau Kemujan serta Pulau Bengkoang, Taman Nasional Karimunjawa. Pengambilan data menggunakan metode purposive sampling dan metode Seagrass Watch dengan mempertimbangkan kondisi lamun di lokasi tersebut. Pengukuran estimasi karbon dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Nutrisi Pakan FPP Undip menggunakan metode Loss on Ignition dengan prinsip pengabuan. Jenis lamun yang ditemukan di Pulau Kemujan yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Cymodocea serrulata, dan pada Pulau Bengkoang ditemukan lamun jenis Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, dan Enhalus acoroides. Nilai biomassa bawah substrat dan atas substrat pada Stasiun I Pulau Kemujan (3104,5 gbk/m2 dan 1868 gbk/m2) menunjukkan nilai yang lebih besar dibandingkan nilai biomassa bawah substrat dan atas substrat pada Stasiun II Pulau Bengkoang (714,25 gbk/m2 dan 534,25 gbk/m2). Nilai estimasi simpanan karbon pada Stasiun I yaitu 138,47 – 1533,28 gC/m2 dan pada Stasiun II yaitu 17,02– 498,31 gC/m2. Mayoritas nilai karbon lebih tinggi pada jaringan lamun bawah substrat.  Nilai estimasi simpanan karbon sedimen pada Stasiun I yaitu 52,60–339,81 gC/m2 dan 86,85–1329,08 gC/m2 pada Stasiun II. Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai fungsi lain ekosistem lamun yaitu sebagai penyerap karbon sehingga dapat dijadikan edukasi kepada masyarakat umum untuk melestarikan ekosistem lamun sebagai ekosistem yang dapat berperan penting dalam mengatasi masalah emisi gas rumah kaca dan pemanasan global. Seagrass have ability to store carbon mass in their biomass. The aim of this research is to find out the value of carbon stock on seagrass biomass in Kemujan Island and Bengkoang Island seagrass vegetation. The research was retrieval in purposive sampling method and collected seagrass vegetation data by using Seagrass Watch. Measurement of carbon stock estimation held  in INP FPP Undip Laboratory by using Loss on Ignition method. The type of seagrass found in Kemujan Island were Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Cymodocea serrulata, meanwhile in Bengkoang Island there were found Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, and Enhalus acoroides. The value of below ground and above ground biomass in Station I Kemujan Island (3104,5 gbk/m2 dan 1868 gbk/m2) is higher than the value of below ground and above ground biomass in Station II Bengkoang Island (714,25 gbk/m2 and 534,25 gbk/m2). Carbon stock estimation value in Station I is 138,47–1533,28 gC/m2  and 17,02–498,31 gC/m2 in Station II. Most of carbon stock value is higher in below ground seagrass tissue. The value of carbon stock estimation of sediment in Station I is 52,60–339,81 gC/m2 and 86,85–1329,08 gC/m2 in Station II. The research gives information about another function of seagrass, as carbon absorber and can be as education for public to conserve seagrass ecosystem and has important role in resolving greenhouse gas emission and global warming.
Perubahan Jalur Pelayaran Terhadap Peta Perekonomian Asia Tenggara Dampak Pembangunan Terusan Kra Thailand Persada, Aninditya Gita Kireina; Setyawanta, Lazarus Tri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i1.29671

Abstract

Terusan Kra merupakan kanal yang telah direncanakan pembangunannya oleh Thailand sejak abad ke-17. Dengan dibangunnya terusan Kra yang dimungkinkan berhasil memberi efisiensi terhadap penyingkatan waktu pelayaran di daerah Asia Pasifik tentu akan memberi dampak kerugian yang signifikan pada terusan Malaka yang telah terlebih dahulu dibuat. Dampak pembangunan tersebut akan mempengaruhi perubahan jalur pelayaran serta merubah peta perekonomian Asia Tenggara secara makro. Tujuan dari tulisan ini ada untuk mengetahui dampak dan perubahan signifikan terhadap pembangunan terusan Kra di masa depan. Metode yang digunakan merupakan pendekatan yuridis normatif yang menggunakan data sekunder melalui penelitian kepustakaan dan studi dokumen. Adanya terusan Kra akan merubah neraca ekspor dan impor secara signifikan serta akan memberikan perubahan besar ke beberapa negara-negara di Asia Pasifik. Hingga saat ini mulai banyak negara-negara di Asia Tenggara yang mulai merencanakan dan membangun kawasan pantainya agar dapat bersaing saat nantinya Terusan Kra dibuka. The Kra Canal is a canal that Thailand has planned to build since the 17th century. With the construction of the Kra canal, which is possible to provide efficiency in reducing shipping time in the Asia Pacific region, it will certainly have a significant impact on the Malacca canal that was previously built. This development impact will affect changes in shipping lanes and change the economic map of Southeast Asia at a macro level. The purpose of this paper is to determine the impact and significant changes to the development of the Kra canal in the future. The method used is a normative juridical approach that uses secondary data through library research and document study. The existence of the Kra canal will change the export and import balance significantly and will provide big changes for several countries in Asia Pacific. Until now, many countries in Southeast Asia have started planning and building their coastal areas so that they can compete when the Kra Canal opens.
Pengaruh Nitrat Dan Fosfat dalam Sedimen terhadap Kerapatan Lamun di Jepara Rayyis, Ahmad; Suryono, Suryono; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.30163

Abstract

Ekosistem lamun memiliki fungsi ekologis sebagai produsen dan habitat biota (tempat pemijahan biota, daerah mencari makan), melindungi dan menstabilkan garis pantai, serta memainkan peran penting dalam siklus dan pemyimpanan nutrien dan karbon. Ketersediaan nutrien di perairan padang lamun berperan dalam faktor pertumbuhan lamun tersebut sehingga efisiensi daur nutrisi dalam sistemnya menjadi sangat penting untuk memelihara produktivitas primer padang lamun. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerapatan lamun total di Teluk Awur sebesar 202,55 ind/m2, sedangkan di Pulau Panjang memiliki kerapatan total sebesar 424.36 ind/m2 dengan rata-rata 50,64 ind/m2 dan 85,67 ind/m2 Pulau Panjang memiliki kerapatan yang lebih tinggi dibandingkan di Teluk Awur. Hasil Kandung nitrat dan fosfat pada sedimen di Teluk Awur didapatkan masing-masing dengan rata-rata 7,67 ppm dan 25,61 ppm, sedangkan kandungan nitrat dan fosfat sedimen di Pulau Panjang didapatkan masing-masing dengan rata-rata 6,38 ppm dan 24,44 ppm. Analisis regresi korelasi menunjukan bahwa di Teluk Awur memiliki keeratan korelasi negatif dan kuat antara nitrat sedangkan dengan fosfat memiliki keeratan korelasi positif dan sedang, kemudian pada Pulau Panjang menunjukan hubungan positif yang kuat dan sangat kuat antara nitrat dan fosfat sedimen terhadap kerapatan lamun. The seagrass ecosystem has an ecological function of the seagrass ecosystem as a producer and habitat for biota (spawning grounds for biota, foraging areas), protects and stabilizes shorelines, and plays an important role in cycling and storing nutrients and carbon. The availability of nutrients in the seagrass beds plays a role in the growth factor of the seagrass so that the efficiency of the nutrient cycle in the system is very important to maintain the primary productivity of the seagrass beds.The results showed that the total seagrass density in Teluk Awur was 202.55 ind/m2, while in Panjang Island it had a total density of 424.36 ind/m2 with an average of 50.64 ind/m2 and 85.67 ind/m2. higher density compared to Teluk Awur Results Nitrate and phosphate content in sediments in Teluk Awur were obtained respectively with an average of 7.67 ppm and 25.61 ppm. Meanwhile, the nitrate and phosphate content of sediment in Panjang Island were obtained with an average of 6.38 ppm and 24.44 ppm, respectively. The results of the correlation analysis of the correlation between nitrate and phosphate content of sediments on seagrass density in Teluk Awur have a negative and strong relationship between nitrate while phosphate has a positive and moderate relationship. In Panjang Island, the results of the correlation analysis showed a positive and strong relationship between nitrate, while phosphate had a positive and very strong relationship between sediment and seagrass density.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue