cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Komposisi Fitoplankton di Pantai Maron Semarang Ramadhanty, Maria Ulfa; Suryono, Suryono; Santosa, Gunawan Widi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.193 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27572

Abstract

ABSTRAK: Pantai Maron merupakan kawasan pesisir di kota Semarang sebagai destinasi wisata, namun sekitarnya ditemukan beberapa aktivitas seperti reklamasi pantai, membuang sampah di laut, serta kegiatan industri yang membuang limbahnya ke dalam laut. Aktivitas tersebut berdampak pada perubahan kondisi perairan sehingga akan berpengaruh terhadap kelimpahan fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan sebaran fitoplankton. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Pengambilan sampel terdiri dari 3 stasiun yaitu muara, pantai dan laut. Masing-masing stasiun terdiri dari 5 titik. Hasil menunjukkan Pantai Maron Semarang ditemukan 3 kelas fitoplankton yaitu Bacillariophyceae, Dinophyceae dan Cyanophyceae yang terdiri dari 24 genera. Kelimpahan fitoplankton tertinggi ditemukan pada stasiun 3 yaitu 11549,89 dan kelimpahan terendah pada stasiun 1 yaitu 7109,30. Hasil indeks keanekaragaman (H’) fitoplankton di setiap stasiun berkisar antara 2,72 – 2,76 termasuk pada kategori sedang. Indeks keseragaman (E) fitoplankton di setiap stasiun antara 0,94 – 0,96 yang tergolong keanekaragaman tinggi sedangkan nilai indeks dominasi (D) fitoplankton pada setiap stasiun yaitu 0,07 yang tergolong dominasi rendah atau tidak terdapat individu jenis yang mendominasi.ABSTRACT: Maron Beach there are activities from tourists and activities near the Maron Beach area such as the reclamation of the beach, disposing of trash in the sea and industrial activities whose waste disposal will enter the sea. These activities have an impact on changes in water conditions that affect the abundance of phytoplankton. This study aims to determine the composition and distribution of phytoplankton related to physical and chemical parameters at the November 2019 study site conducted in situ. Sampling consisted of 3 stations estuary, beach and sea. Each station consists of 5 points. The results showed Maron Beach Semarang found 3 classes of phytoplankton, there is Bacillariophyceae, Dinophyceae and Cyanophyceae consisting of 24 genera. The highest abundance of phytoplankton was found at station 3 namely 11549.89 and the lowest abundance at station 1 was 7109.30. The results of diversity index (H ') phytoplankton at each station ranged from 2.72 to 2.76 included in the medium category. Phytoplankton uniformity index (E) at each station between 0.94 - 0.96 which is classified as high diversity while the value of phytoplankton dominance index (D) at each station is 0.07 which is classified as low dominance or there is no dominating individual type.
Tingkat Kelimpahan Makrozoobenthos di Padang Lamun Perairan Telaga dan Pulau Bengkoang, Karimunjawa Ningsih, Sri Wahyu; Setyati, Willis Ari; Taufiq-Spj, Nur
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.941 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27418

Abstract

ABSTRAK: Taman Nasional Karimunjawa merupakan daerah perairan yang mempunyai ekosistem laut yang masih lengkap dan asri. Padang lamun merupakan salah satu ekosistem pendukung di wilayah pesisir yang pada umumnya terdapat di daerah tropis dan memiliki peranan penting di perairan. Makrozoobenthos adalah salah satu hewan yang berasosiasi dengan padang lamun yang memanfaatkan padang lamun sebagai tempat mencari makan dan tempat memijah. Tujuan penelitian tentang kelimpahan makrozoobenthos di Perairan Telaga dan Pulau Bengkoang diperlukan untuk mengetahui perbedaan serta pengaruh fisika-kimia terhadap populasi lamun dan makrozoobenthos untuk mengindikasikan kualitas suatu perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2019dengan menggunakan metodepurposivesampling yang dapat mewakili seluruh kawasan. Hasil komposisi makrozoobenthos yang di temukan pada masing-masing stasiun mempunyai perbedaan yang cukup signifikan. Jumlah makrozoobenthos Perairan Telaga terdapat sebanyak 42 individu makrozoobenthos yang ditemukan, sedangkan di Pulau Bengkoang terdapat sebanyak 55 individu makrozoobenthos yang ditemukan. Jumlah makrozoobenthos yang di temukan pada Perairan Telaga line 1 sebanyak 11 individu, line 2 sebanyak 15 individu dan line 3 sebanyak 14 individu. Jumlah makrozooobenthos yang di temukan pada Pulau Bengkoang line 1 sebanyak 19 individu, line 2 sebanyak 17 individu dan line 3 sebanyak 19 individu.Makrozoobenthos yang ditemukan pada masing-masing stasiun penelitian mempunyai hubungan yang kuat antara kelimpahan makrozoobenthos dengan tutupan lamun serta dengan bahan organik.  ABSTRACT: Karimunjawa National Park is a watershed area that has a complete and beautiful marine ecosystem. Seagrass beds are one of the supporting ecosystems in coastal areas which are generally found in the tropics and have an important role in the waters. Macrozoobenthos is one of the animals associated with seagrass that uses seagrass as a place to find food and spawning grounds. The purpose of research on the abundance of macrozoobenthos in Telaga Waters and Bengkoang Island is needed to determine the differences and the influence of physics-chemistry on seagrass populations and macrozoobenthos to indicate the quality of a waters. This research was conducted in October 2019using a purposive sampling method that can represent the entire region. The results of the macrozoobenthos composition found at each station have quite significant differences. The number of macrozoobenthos of Lake Ponds were 42 macrozoobenthos individuals found, while in Bengkoang Island there were 55 macrozoobenthos individuals found. The number of macrozoobenthos found in Telaga Line 1 is 11 individuals, line 2 is 15 individuals and line 3 is 14 individuals. The number of macrozooobenthos found on Bengkoang Island line 1 were 19 individuals, line 2 were 17 individuals and line 3 were 19 individuals. Macrozoobenthos found at each research station have a strong relationship between abundance of macrozoobenthos with seagrass cover and with organic matter.
Abu Cangkang Kerang Anadara granosa, Linnaeus 1758 (Bivalvia: Arcidae) sebagai Adsorben Logam Berat dalam Air Laut Sudarmawan, Wisnu Satriyo; Suprijanto, Jusup; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.631 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.26539

Abstract

Kerang Darah merupakan komoditi ekonomis yang tersebar di seluruh wilayah perairan Indonesia, salah satunya adalah Perairan Demak. Adanya permintaan yang tinggi pada daerah demak dari hasil survey DKP Kabupaten Demak pada tahun 2018 dapat menimbulkan terjadinya limbah cangkang yang cukup banyak. Melalui pendekatan teknologi yang tepat, limbah cangkang kerang tersebut dapat diolah menjadi abu cangkang. Berdasarkan komposisi senyawa kimia abu cangkang mengandung CaO cukup tinggi sehingga abu cangkang berpotensi untuk menjerap logam berat. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah abu cangkang hasil olahan dari limbah cangkang sisa produksi kerang darah. Metode eksperimental laboratoris  dilakukandalam penelitian yaitu dengan mengontakkan secara langsung logam dan abu cangkang kerang dara (Anadara granosa) dengan pengaruh variasi jenis logam berat dengan analisis spektroskopi serapan atom (SSA). Penyerapan yang optimal terjadi pada logam berat Mangan (Mn) konsentrasi awal 0,103 mg/L menjadi <0,001 dan kontak waktu 24 jam daya serap sebesar 100%. Dapat disimpulkan bahwa pada abu cangkang cukup baik dalam penyerapan logam berat Besi (Fe), Mangan (Mn), Seng (Zn) di air laut perairan Morosari Demak karena dalam proses menghilangkan logam berat dengan struktur CaO disebut pertukaran ion dipengaruhi oleh beberapa faktor jenis adsorben yang digunakan, luas permukaan adsorben, dan konsentrasi zat yang di penjerapan. Blood cockle are economic commodities that are spread throughout the territorial waters of Indonesia, one of which is the Demak waters.  The high demand in the Demak area from the results of DKP survey in 2018 can causing a lot of cockle shell waste. Through the right technological approach, the waste is processed into blood cockle shell ash. Based on the chemical composition of shell ash containing CaO in the shell is high enough so the ash has potential to absorb heavy metals.  The material used is the blood cockle shell ash that processed from waste shell from the production of blood cockle. The experimental laboratory method was carried out in this research, by directly contacting metal and blood cockle shell ash (Anadara granosa) with the influence of variations in heavy metal types by atomic absorption spectroscopy (AAS) analysis. Optimal absorption occurs in the heavy metal Manganese (Mn) initial concentration of 0.103 mg / L to <0.001 and 24-hour contact time absorption of 100%.  It can be concluded that the shell of the product itself has not been efficient in carrying out all the absorption of heavy metals in the sea water samples of Morosari Demak waters because in the process of removing heavy metals with CaO structures is influenced by the type of adsorbent used, the surface area of the adsorbent, and the concentration of in absorption.
Analisa Tutupan Kanopi Mangrove Dengan Metode Hemispherical Photography di Desa Betahwalang, Kabupaten Demak Purnama, Muksin; Pribadi, Rudhi; Soenardjo, Nirwani
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.449 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27577

Abstract

ABSTRAK: Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang tumbuh di daerah bersalinitas cukup tinggi yang memiliki kemampuan adaptasi di daerah intertidal. Sumber nutrien mangrove didapatkan salah satunya dari serasah mangrove. Banyak sedikitnya serasah mangrove dipengaruhi oleh kerapatan dan tutupan kanopi mangrove. Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis persentase tutupan kanopi mangrove di Desa Betahwalang. Metode deskriptif adalah metode yang dipilih dalam penelitian ini. Stasiun lokasi penelitian ditentukan menggunakan purposive sampling. Mengetahui tutupan kanopi mangrove digunakan metode Hemispherical Photography. Metode Hemispherical Photographyadalah metode dengan menghitung luasan tutupan kanopi dengan menggunakan kamera dari bawah kanopi pohon. Metode ini menghasilkan data yang lebih akurat dikarenakan luas wilayah yang ditangkap dengan kamera lebih spesifik sehingga menggambarkan tutupan kanopi pohon sesungguhnya. Pengambilan data tutupan kanopi mangrove menggunakan metode Hemispherical Photography menggunakan kamera depan handphone OPPO F1 dengan resolusi kamera 8 megapixel dengan resolusi HD (1.280x720) pada suatu titik pengambilan foto. Teknik ini digunakan dalam plot 10x10 m dan dianalisis menggunakan software Ms. excel 2013 dan Image J. Hasil penelitian ini ditemukan 12 spesies mangrove, 5 diantaranya terdapat di dalam plot pengambilan data. Spesies mangrove yang ditemukan di dalam plot yaituRhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Avicennia alba, Avicennia marina dan Sonneratia caseolaris. Nilai kerapatan yang didapatkan berkisar 1.066–3.066 ind/ha dan nilai tutupan kanopi mangrove sebesar 81,07% yang tergolong kedalam kategori padat. ABSTRACT: Mangrove ecosystems is that ecosystems grow in areas of high enough salinity that have the ability to adapt in intertidal zone. Mangrove nutrient obainted form litter mangrove. Litter mangrove was affected by the density and canopy cover mangrove. The purposes of this research is to analyzedmangrove canopy cover in Betahwalang, Demak. Descriptive method is the method chosen in this study. Sampling station was designated used purposive sampling methodand mangrove canopy cover was determined using hemispherical photography method.The method was basically calculatingthe extent of canopy cover by using camera positionedunder a trees canopy. This method believed to be relatively accurate on determining the actual cover area since the area captured by  camera are precisely specificbecause of an area captured by the camera more specific sodescribe the actual tree canopy cover. Retrieval of canopy cover data used hemispherical photography method used the mobile phone front camera with 8 megapixel camera resolution with HD resolution (1.280 x 720) at a point of taked photos. This method used in 10m x 10m plot and analyzed used software Ms.excel 2013 and Image J.The research found12 mangrove species, 5 in the plot. Mangrove species in the plot mean Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Avicennia alba, Avicennia marina dan Sonneratia caseolaris. Density have ranged 1.066- 3.066 ind/ha and canopy covercover of trees canopy and so classified as dense canopy cover of 81.07% were classified into solid categories.
Kualitas Perairan di tinjau dari Distribusi Fitoplankton serta Indeks Saprobik di Pantai Marina Semarang Jawa Tengah Bagaskara, Widigdo Bagus; Ario, Raden; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.977 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27561

Abstract

ABSTRAK: Pantai Marina di Semarang, Jawa Tengah merupakan salah satu objek wisata di kota Semarang. Di perairan Pantai Marina Semarang terdapat muara yang menghubungkan sungai Banjir Kanal Barat dengan sungai Banjir Kanal Timur sehingga pada muara ini bertemunya antara perairan laut dan tawar yang mana pada sepanjang bantaran sungai tersebut terdapat bebagai kegiatan industri serta merupakan tempat penduduk setempat untuk bermukin dan beraktivitas. Sehingga, pada sungai tersebut akan membawa material – material orgnaik maupun anorganik yang bermuara di Pantai Marina. Sehingga perairan Pantai Marina di Semarang, Jawa Tengah ini secara tidak langsung terpengaruh oleh aktifitas industri maupun penduduk setempat. Selain itu, adanya pembuangan limbah rumah tangga yang masuk ke dalam badan sungai yang juga berdampak bagi perubahan kualitas perairan serta kehidupan ekosistem di sepanjang aliran sungai tersebut. Fitoplankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali dengan interval dua minggu sekali di tiga stasiun, masing – masing stasiun dilakukan pengambilan sampel sebanyak tiga kali. Stasiun 1 merupakan perairan pantai, stasiun 2 merupakan muara dan stasiun 3 merupakan perairan air laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 19 genus fitoplankton dari 3 kelas, yaitu 14 genus dari kelas Bacillariophyceae, 3 genus dari kelas Dinophyceae dan 2 genus dari kelas Cyanophyceae dengan kelimpahan rata-rata fitoplankton sebesar 20394,24 %, indeks keanekaragaman sedang (H '= 2,36–2,55). Indeks keseragaman tinggi (E= 0,81–0,89), indeks dominansi termasuk dalam kategori tidak ada jenis yang mendominasi dengan nilai indeks yang berkisar antara 0,11–0,17 serta indeks saprobik termasuk dalam kategori  α – Mesosaprobik dengan nilai berkisar antara -0,89 – -1,19ABSTRACT: Marina Beach in Semarang, Central Java is a place that meets the sea and freshwater, because there is a estuary of the East Canal Flood and the West Canal flood which, along the river is a variety of industrial activities and is a place for people to settle and stay. Until the waters of Marina Beach in Semarang, Central Java is indirectly affected by industrial activities and local residents. In addition, the disposal of household waste that entering the body of the river that also affects the changes in the quality of the water and ecosystem life along the river flow. Phytoplankton is an aquatic organism in which its existence can serve as an indicator of water quality. The study was conducted in October to December 2019. The method used is a descriptive method. The sampling was conducted three times with a two-week interval at three stations, each of which was performed three times for sampling. Station 1 is the coastal waters, station 2 is the estuary and the station 3 is the sea water waters. The results showed that there are 19 genus phytoplankton of 3 classes, namely 14 genera of class Bacillariophyceae, 3 genera of the Dinophyceae class and 2 genera of Cyanophyceae class with an average abundance of phytoplankton by 17945,36 mg/l - 20394.24 mg/l, index Medium diversity (H ' = 2.36 – 2.55). High uniformity index (E = 0.81 – 0.89), the dominance index belongs to the category of no dominant type with an index value ranging from 0.11 – 0.17 as well as a saprobic index belonging to the category α – Mesosaprobik with values ranging from ( -0.89) – (-1.19)
Kelimpahan Fitoplankton Penyebab Harmful Algal Bloom di Perairan Desa Bedono, Demak Gurning, Lestari Febriant Pitaloka; Nuraini, Ria Azizah Tri; Suryono, Suryono
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.227 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27483

Abstract

ABSTRAK: Fitoplankton adalah produsen primer yang struktur komunitasnya mudah berubah oleh perubahan sifat fisik, kimia (zat-zat hara) dan biologi ekosistemnya, sehingga keberadaan fitoplankton dalam suatu perairan bukan hanya dapat dijadikan parameter biologi dalam analisis status kualitas lingkungan perairan. Harmful Algal Bloom (HAB) merupakan fenomena yang sering terjadi di perairan laut. Definisi Harmful Algal Bloom (HAB) adalah pertambahan populasi fitoplankton yang dapat menimbulkan kerugian bagi ekosistem di sekitarnya, biota laut yang hidup didalamnya, maupun manusia yang hidup di wilayah pesisir. Keberadaan fitoplankton HAB di perairan desa Bedono dipicu oleh beberapa faktor, antara lain: suhu, salinitas, DO, pH, nitrat dan fosfat. Kelimpahan adalah pengukuran sederhana jumlah spesies yang terdapat dalam suatu komunitas. Pengamatan terhadap kelimpahan fitoplankton yang dapat menyebabkan HAB serta kaitannya dengan kandungan unsur hara dalam perairan sangat menentukan nilai ekonomis dan daya guna perairan sebagai sumber pangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi serta menghitung kelimpahan fitoplankton penyebab HAB di perairan desa Bedono, Demak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari Tahun 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat eksploratif dan bertaraf deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui gambaran suatu objek pengamatan dan dapat menjelaskan perkembangan yang terjadi pada kondisi pengamatan. Hasil dari penelitian ini ditemukan 2 kelas fitoplankton penyebab Harmful Algal Bloom (HAB), yaitu Bacillariophyceae dan Dinophyceae dengan 9 genus fitoplankton penyebab Harmful Algal Bloom (HAB). Kelimpahan fitoplankton penyebab Harmful Algal Bloom (HAB) < 2.000 ind/L dimana termasuk kedalam kondisi kesuburan rendah (Oligotrofik). Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, DO, pH, nitrat dan fosfat. di perairan desa Bedono masih memenuhi batas optimum pertumbuhan fitoplankton. ABSTRACT: Phytoplankton is a primary manufacturer whose community structure is easily transformed by changes in physical, chemical (nutrient) properties and its ecological biology, sothat the existence of phytoplankton in a water can not only be used as a biological parameter inthe analysis of the quality status of aquatic environments. Harmful Algal Bloom (HAB) is a common phenomenon in marine waters. The definition of Harmful Algal Bloom (HAB) is the increase in the population of phytoplankton that can cause harm to surrounding ecosystems, marine life, and human beings living in coastal areas. The presence of HAB phytoplankton in Bedono village waters is triggered by several factors, such as: temperature, salinity, DO, pH, nitrate and phosphate. Abundance is a simple measurement of the number of species found in a community. Observations of the abundance of phytoplankton that can cause the HAB as well as its relation to nutrient content in the water determine the economical value and the power of the water as a food source. This research aims to identify and calculate the abundance of phytoplankton causes HAB in the village waters of Bedono, Demak. The study was conducted in January 2020. The method used in this study is an exploratory and descriptive-grade survey method for the purpose of knowing the description of an object of observation and can explain the developments that occur in the observation condition. Results of this study found 2 classes of phytoplankton causes Harmful Algal Bloom (HAB), namely Bacillariophyceae and Dinophyceae with 9 genera of phytoplankton causes Harmful Algal Bloom (HAB). Abundance phytoplankton causes Harmful Algal Bloom (HAB) < 2,000 ind/L which is included in low fertility conditions (oligotrophic). Environmental parameters such as temperature, salinity, DO, pH, nitrate and phosphate. The waters of Bedono village still meet the optimum limit of the growth of phytoplankton.
Jumlah dan Jenis Fitoplankton Di Muara Sungai Banjir Kanal Barat Semarang Perdana, Anantya Setya; Ario, Raden; Endrawati, Hadi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.52 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27493

Abstract

ABSTRAK: Muara Sungai Banjir Kanal Barat merupakan muara sungai terbesar di Semarang yang alirannya langsung menuju ke laut. Terdapat beberapa aktifitas yang terjadi di sepanjang aliran ini, diantaranya yaitu aktifitas industri dan pemukiman penduduk. Selain itu, adanya pembuangan limbah rumah tangga yang masuk ke dalam badan sungai yang juga berdampak bagi perubahan kualitas perairan serta kehidupan ekosistem di sepanjang aliran sungai tersebut. Fitoplankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi, kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominasi fitoplankton di Muara Sungai Banjir Kanal Barat Semarang. Penelitian ini dilakukan pada Oktober-Desember 2019. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga periode dengan interval dua minggu sekali di tiga stasiun. Stasiun 1 merupakan perairan air tawar, stasiun 2 merupakan muara dan stasiun 3 merupakan perairan air laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 24 genus fitoplankton dari 3 kelas, yaitu 17 genus dari kelas Bacillariophyceae, 5 genus dari kelas Dinophyceae dan 2 genus dari kelas Cyanophyceae dengan kelimpahan terbesar terdapat pada Stasiun 3 sebesar 67669 sel/L dan terendah pada Stasiun 1 sebesar 52287 sel/L, indeks keanekaragaman termasuk kategori sedang. Indeks keseragaman termasuk dalam kategori tinggi, indeks dominansi termasuk dalam kategori tidak ada jenis yang mendominasi. Berdasarkan kriteria penilaian menurut Shannon – Wiener bahwa perairan tersebut tergolong ke dalam perairan tercemar sedang. ABSTRACT: The Banjir Kanal Barat River Canal is the largest river estuary in Semarang that flows directly to the sea. There are several activities that occur along this flow, including industrial activities and human settlements. In addition, the disposal of household waste that enters the river body also has an impact on changes in water quality and ecosystem life along the river flow. Phytoplankton is aquatic organisms whose existence can be used as indicators of water quality. This study aims to determine the composition, abundance, diversity index, uniformity index, and a dominance index of phytoplankton in the West Banjir Canal River Estuary in Semarang. This research was conducted in October-December 2019. The method used is a descriptive exploratory method. Sampling was conducted in three periods with biweekly intervals at three stations. Station 1 is freshwater waters, station 2 is estuary and station 3 is seawater waters. The results showed that there were 24 genera of phytoplankton from 3 classes, namely 17 genera from the Bacillariophyceae class, 5 genera from the Dinophyceae class and 2 genera from the Cyanophyceae class with the greatest abundance at Station 3 at 67669 cells/L and lowest at Station 1 at 52287 cells/L, the diversity index is in the medium category. Uniformity index is included in the high category, dominance index is included in the category of no species that dominates. Based on the evaluation criteria according to Shannon-Wiener that the waters are classified as medium polluted waters.
Simpanan Karbon pada Ekosistem Lamun di Perairan Alang – Alang dan Perairan Pancuran Karimunjawa, Jawa Tengah Ningrum, Kiki Pebli; Endrawati, Hadi; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.369 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27558

Abstract

ABSTRAK : Emisi gas CO2 berkontribusi tinggi terhadap pemanasan global. Karbon merupakan unsur yang berasal dari pengikatan CO2 oleh tumbuhan melalui fotosintesis. Hutan mengalami penurunan sehingga sektor laut perlu di berdayakan. Kemampuan lamun mengikat karbon dikenal sebagai blue carbon. Tujuan penelitian adalah mengetahui estimasi karbon ekosistem lamun di Perairan Alang – Alang dan Perairan Pancuran Pulau Karimunjawa, sehingga dapat mengurangi pemanasan global. Metode penelitian di lapangan yaitu metode SeagrassWatch dan di laboratorium yaitu Metode Loss of Ignition (LOI). Hasil spesies lamun di lokasi penelitian yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule ovalis, dan Halodule uninervis. Kerapatan lamun pada Lokasi 1 berkisar 84,00 tgk/m2 – 202,91 tgk/m2 dan pada Lokasi 2 berkisar 105,09 tgk/m2 – 285,09 tgk/m2. Biomassa lamun terbesar pada Lokasi 1 yaitu Enhalus acoroides dengan nilai 1811,38 gbk/m2 dan biomassa lamun terkecil Cymodocea rotundata dengan nilai 25,72 gbk/m2. Biomassa lamun terbesar pada Lokasi 2 yaitu Enhalus acoroides dengan nilai 733,20 gbk/m2 dan biomassa lamun terkecil Halodule uninervis dengan nilai 0,47 gbk/m2. Karbon lamun terbesar pada Lokasi 1 yaitu Enhalus acoroides dengan nilai 35.538,12 gC/m2, dan terkecil Cymodocea rotundata dengan nilai 473,24 gC/m2. Karbon lamun terbesar pada Lokasi 2 yaitu Thalassia hemprichii dengan nilai 14.309,39 gC/m2 dan terkecil Halodule uninervis dengan nilai 5,80 gC/m2. Karbon sedimen pada Lokasi 1 berkisar 1,581 gC/m2 – 1,871 gC/m2 dan Lokasi 2 berkisar 0,841 gC/m2– 1,45 gC/m2. Kandungan terbesar karbon terdapat pada bagian bawah substrat, karena bagian atas substrat karbon mudah hilang oleh faktor lingkungan (gelombang, arus, dan ulah manusia), sedangkan pada bawah substrat karbon terakumulasi baik. ABSTRACT: CO2 contribute high to global warming. Carbon is an element derived from binding of CO2 by plants through photosynthesis. Forests have declined so the marine sector (blue carbon) needs to be priority. The purpose this study was to determine the carbon seagrass ecosystem estimation in Alang - Alang and Pancuran Waters Karimunjawa Island, so can to reduce global warming. The research method in the field is SeagrassWatch method and in the laboratory is Loss of Ignition Method. The results species at location were Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule ovalis, and Halodule uninervis. The density  seagrass  Location  1 is  84.00-202.91 tgk/m2  and Location  2 is 105.09-285.09 tgk/m2. The largest seagrass biomass at Location 1 is Enhalus acoroides with a value 1811.38 gbk/m2 and the smallest  seagrass biomass  Cymodocea rotundata  with a value 25.72 gbk/m2. The largest seagrass biomass at Location 2 is Enhalus acoroides with a value 733.20 gbk/m2 and the smallest seagrass biomass Halodule uninervis with a value 0.47 gbk/m2. The biggest seagrass carbon at Location 1 is Enhalus acoroides with a value 35,538.12 gC/m2, and the smallest Cymodocea rotundata with a value 473.24 gC/m2. The biggest seagrass carbon at Location 2 is Thalassia hemprichii with a value 14,309.39 gC/m2 and the smallest Halodule uninervis with a value 5.80 gC/m2. Sediment carbon at Location 1 1.581-1.871 gC/m2 and Location 2 0.841-1.45 gC/m2. The largest carbon content in bellow substrate, because on above substrate easily lost by environmental factors, while in the bellow substrate carbon accumulates well.
Korelasi Nitrat Fosfat Sedimen terhadap Ekosistem Lamun di Pulau Sintok dan Bengkoang, Karimunjawa, Jawa Tengah Wibowo, Rachmantino; Taufiq-SPJ, Nur; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.217 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.27686

Abstract

ABSTRAK: Taman Nasional Karimunjawa merupakan daerah yang memiliki ekosistem laut yang masih lengkap dan asri. Ekosistem Lamun merupakan salah satu ekosistem laut yang memiliki banyak peranan bagi kehidupan di laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kandungan nutrien nitrat dan fosfat pada substrat sedimen terhadap kondisi ekosistem lamun di Pulau Sintok dan Pulau Bengkoang Lamun merupakan organisme yang hidupnya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Kandungan nutrien substrat merupakan salah satu faktor lingkungan yang mampu mempengaruhi kehidupan lamun. Nitrat dan fosfat merupakan nutrien esensial yang sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kandungan nutrien sedimen terhadap kerapatan lamun di Pulau Sintok dan Pulau Bengkoang, Karimunjawa. Perbedaan jumlah nitrat dan fosfat di lingkungan diduga dapat mempengaruhi kondisi lamun di Pulau Sintok dan Bengkoang. Metode pengamatan kondisi ekosistem lamun menggunakan metode seagrasswatch. Metode analisis statistika yang digunakan adalah analisis pearson-correlation. Analisis hubungan kandungan nitrat dan fosfat terhadap kerapatan lamun di Pulau Sintok didapatkan nilai korelasi pada nitrat sebesar -0,425 dan fosfat sebesar -0,422. Analisis hubungan di Pulau Bengkoang didapatkan nilai korelasi pada nitrat sebesar -0,933 dan fosfat sebesar 0,849. Dari penellitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa nutrien nitrat dan fosfat sedimen di Pulau Sintok memiliki arah hubungan negatif dengan kekuatan hubungan yang cukup terhadap kerapatan lamun. Kandungan nitrat sedimen di Pulau Bengkoang memiliki hubungan sangat kuat negatif, sedangkan kandungan fosfat sedimen memiliki hubungan sangat kuat positif terhadap kerapatan lamun. ABSTRACT: Karimunjawa National Park is an area that has a complete and beautiful marine ecosystem. Seagrass Ecosystem is one of the marine ecosystems that has many roles for life at sea. The aim of this study was to understand correlation of the nutrient (Nitrate Phosphate) in the sediment to sea-grass ecosystem at Sintok and Bengkoang Islands. Sea-grass is an organism whose life is strongly influenced by environmental factors. The nutrient content of the substrate is one of the environmental factors that can affect the life of seagrass. Nitrate and phosphate are essential nutrients that are very important to support the growth and development of seagrass. This study aims to determine the correlation between sediment nutrient content on the density of seagrass in Sintok Island and Bengkoang Island, Karimunjawa. The difference in the amount of nitrate and phosphate in the environment is thought to affect the condition of seagrass in Sintok and Bengkoang Islands. The method of observing seagrass ecosystem condition uses seagrasswatch method. The statistical analysis method used is the Pearson-correlation analysis. Analysis of the correlation of nitrate and phosphate content to the density of seagrass on Sintok Island obtained a correlation value of nitrate of -0.425 and phosphate of -0.422. Analysis of the correlation on Bengkoang Island obtained a correlation value of nitrate of -0.933 and phosphate of 0.849. This study can be concluded that the nutrient nitrate and phosphate sediment on Sintok Island has a negative correlation with an adequate strength of correlation to seagrass density. The sediment nitrate content in Bengkoang Island has a very strong negative correlaation, while the sediment phosphate content has a very strong positive correlation to the density of seagrass.
Prediksi Transport Sedimen di Perairan Teluk Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe Kumaseh, Eunike; Tatontos, Yuliana Varala; Sarapil, Costantein Imanuel
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.043 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i3.26537

Abstract

ABSTRAK: Secara geografis, Teluk Tahuna diapit oleh 2 muara sungai yaitu Muara Sungai Tidore, yang dekat dengan Pelabuhan Nusantara Tahuna, dan Muara Sungai Towo’e. Hal ini memungkinkan terjadinya sedimentasi.Sehingga, perlu diketahui besarnya angkutan sedimen yang terjadi di perairan Teluk Tahuna.Metode penelitian yang digunakan yaitu membandingkan metode Engelund-Hansen dengan hasil pengukuran di lapangan. Pengambilan sedimen menggunakan sediment trap dan diukur selama 2 minggu sekali sebanyak 5 kali. Sedimen dibawa ke Laboratorium Mekanika Tanah untuk memperoleh ukuran diameter sedimen. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 stasiun, Stasiun 1 dekat muara sungai Tidore, Stasiun 2 pada bagian tengah perairan, dan Stasiun 3 dekat muara sungai Towoé. Hasil prediksi transport sedimen di Perairan Teluk Tahuna dengan metode Engelund-Hansen yaitu pada Stasiun 1 = 0,00000291(m3/m*s), Stasiun 2 = 0,00000697(m3/m*s), dan Stasiun 3 = 0,00000789(m3/m*s). Perhitungan transport sedimen yang paling tinggi adalah di Stasiun 3. Pengukuran laju sedimentasi yaitu pada Stasiun 1 sebesar 0,0000029 m3/hari, Stasiun 2 sebesar 0,0000053 m3/hari dan pada Stasiun 3 sebesar 0,0000072 m3/ hari. Rata – rata hasil pengukuran yang paling tinggi juga ada di Stasiun 3,yaitu dekat Muara Sungai Towoé. Hasil prediksi Metode Engelund-Hansen hampir sama dengan hasil pengukuran laju sedimen di lapangan. Metode Engelund-Hansen cocok digunakan untuk memprediksi transport sedimen di Perairan Teluk Tahuna. ABSTRACT: Geographically, Tahuna Bay has 2 river mouths, the Tidore river mouth, which is close to the Tahuna Harbor, and Towo'e river mouth. This allows sedimentation. So, it is necessary to know the calculation of sediment transport. The research method is comparing the Engelund-Hansen method with the results of measurements. Sediment rate measured by sediment trap and once in 2 weeks for 5 times. Sediments were taken to the Soil Mechanics Laboratory. The location was divided into 3 stations. The results of prediction of sediment transport in Tahuna Bay with the Engelund-Hansen method are Station 1  = 0,00000291 (m3/m*s), Station 2  = 0,00000697 (m3/m *s), and Station 3  = 0,00000789 (m3/m*s). The highest calculation of sediment transport is at Station 3. The average measurement of sedimentation rate at Station 1 of 0,0000029 m3/day, Station 2 of 0,0000053 m3/day and at Station 3 is 0,0000072 m3/day. The highest average measurement results are also at Station 3, which is near the Towoé River Estuary. The predicted results of the Engelund-Hansen Method are almost the same as those of the sediment rate measurements in the field. Engelund-Hansen Method can be used to predict the sediment transport in Tahuna bay.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue