cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Nilai Etnopedagogi pada Novel Nu Ngageugeuh Legok Kiara Karya Dadan Sutisna Eulis Entin; Usep Kuswari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7606

Abstract

This research aims to elucidate the educational values of ethnopedagogy found in the novel Nu Ngageugeuh Legok Kiara by Dadan Sutisna. The approach used is descriptive, intending to detail the data, specifically related to the ethnopedagogical educational values in the novel. The research method employed is qualitative, which helps to describe the condition of the research subject and reveal the background of the research subject based on facts and reality. The data collected involves excerpts from the novel Nu Ngageugeuh Legok Kiara by Dadan Sutisna that reflect the introduction of local culture, traditional knowledge, engagement with nature, and appreciation of local wisdom. The stages of data collection involve reading, noting, and marking. The research results show that there are 41 data points of ethnopedagogical educational values, including 3 data points on the introduction of local culture, 8 data points on traditional knowledge, 10 data points on engagement with nature, and 20 data points on appreciation of local wisdom. The benefits of this research include strengthening the local cultural values contained in literature, assisting in the preservation of cultural heritage, and providing practical guidance in integrating local cultural elements into education to enhance the relevance and effectiveness of learning for students. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kajian nilai pendidikan etnopedagogi yang terdapat dalam novel Nu Ngageugeuh Legok Kiara karya Dadan Sutisna. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif, yang bertujuan untuk menguraikan data, khususnya terkait nilai-nilai pendidikan etnopedagogi dalam novel. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, metode ini membantu menggambarkan kondisi subjek penelitian dan mengungkap latar belakang subjek penelitian berdasarkan fakta dan kenyataan. Data yang dikumpulkan melibatkan kutipan-kutipan dari novel Nu Ngageugeuh Legok Kiara karya Dadan Sutisna yang mencerminkan pengenalan budaya lokal, pengetahuan tradisional, keterlibatan dengan alam dan penghargaan terhadap kearifan lokal. Tahapan pengumpulan data melibatkan proses membaca, mencatat, dan menandai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 41 data nilai etnopedagogi, diantaranya 3 data pengenalan budaya lokal, 8 data pengetahuan tradisional, 10 data keterlibatan dengan alam, dan 20 data penghargaan terhadap kearifan lokal. Adapun manfaat  penelitian ini untuk memperkuat nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam sastra, membantu pelestarian warisan budaya, serta memberikan panduan praktis dalam mengintegrasikan elemen budaya lokal ke dalam pendidikan untuk meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran bagi peserta didik.
Simbol Budaya pada Novel Tamu Karya Wisran Hadi Eva Yenita Syam
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.438

Abstract

This paper discusses the meaning of Minangkabau culture in the novel Tamu by Wisran Hadi with semiotic approach proposed by Charles Sanders Peirce about signs and mark. This novel discusses the important elements in the changing of Minangkabau society, such as the changing role of mamak as the leader, the legacy, the brotherhood, the surau function, and rantau (wander). So, this study aims to determine the meaning of Minangkabau culture in the novel Tamu. This research uses descriptive analyse method which expose the data based on the findings content in the novel; 1) the position of mamak no longer respected by the nephew like mamangan adatnya kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka nan bana. 2) the legacy which mortgaged by mamak it is not accordance with the condition of the treasure requirement, 3) the relationship of brotherhood has a tension, 4) the surau is not used according to the function, 5) rantau that is no longer giving a better life. AbstrakTulisan ini membahas makna budaya Minangkabau dalam novel Tamu karya Wisran Hadi dengan pendekatan semiotik yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce tentang tanda dan petanda. Novel ini membahas unsur-unsur penting dalam masyarakat Minangkabau yang mengalami perubahan, seperti perubahan peran mamak sebagai pemimpin adat, pewarisan harta pusaka, ikatan persaudaraan, fungsi surau, dan rantau. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna budaya Minangkabau dalam novel Tamu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yakni data dipaparkan mengacu pada teks yang terdapat dalam novel dengan temuan; 1) kedudukan mamak tidak lagi dihormati oleh kemenakan seperti mamangan adatnya kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka nan bana. 2) harta pusaka yang digadaikan oleh mamak tidak sesuai dengan syarat yang boleh digadaikan, 3) hubungan persaudaraan yang mengalami ketegangan, 4) surau yang tidak digunakan sesuai fungsinya, 5) rantau yang tidak lagi memberi kehidupan lebih baik. 
Isu Celaan Fisik dalam Cerita Pendek “Dinner Conversation” Niken Indah Marnani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4977

Abstract

The short story Dinner Conversation tells about the problem of oppression perpetrated by a husband against his wife who is the main character of this short story. This research will reveal the oppression in the form of body shaming and its impact experienced by the main character. The research method used in this research is descriptive analytical method. The material object of this research is the short story Dinner Conversation by Corie Adjmi. Researchers use the appropriate theory to analyze objects by using the theory of feminist intersectionality, the concept of body shaming, and the theory of self-objectification. Based on this research, the results can be determined as (1) the main character named Callie experienced bullying in the form of chronic body shaming and (2) the impact of the incident of body shaming on her is that she feels a lack of confidence, anxiety, and hurt. This research is expected to contribute to future studies which will discuss in more detail about physical disapproval or matters related to one's beauty and appearance. AbstrakCerita pendek Dinner Conversation menceritakan permasalahan mengenai penindasan oleh seorang suami kepada istri yang merupakan tokoh utama dari cerita pendek ini. Penelitian ini akan mengungkap penindasan dalam bentuk dan dampak celaan fisik yang dialami oleh tokoh utama. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Objek material dari penelitian ini adalah cerita pendek Dinner Conversation karya Corie Adjmi. Peneliti menggunakan teori yang sesuai untuk menganalisis objek, yakni teori interseksionalitas feminis, konsep celaan fisik, dan teori objektifikasi diri. Atas penelitian tersebut, dapat ditentukan hasil dari penelitian berupa (1) tokoh utama bernama Callie mengalami penindasan berupa celaan fisik yang berjenis chronic body shame dan (2) dampak celaan fisik terhadap dirinya adalah kurangnya rasa percaya diri, kecemasan, dan tersakiti. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang akan membahas lebih detail mengenai pencelaan fisik atau hal-hal yang berkaitan dengan kecantikan maupun penampilan seseorang.
Makna dan Simbol pada Tembang Upacara Siraman Adat Sunda sebagai Usulan Bahan Ajar Teks Deskripsi di Kelas VII SMP Wachyudin Wachyudin; Desita Nurama Ningsih; Nira Wahyuni
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8386

Abstract

This study aims to describe the form, meaning, and symbols contained in the Sundanese traditional siraman ceremony songs, and propose their use as teaching materials for descriptive texts in grade VII of junior high school. This study uses a qualitative method with Charles Sanders Peirce's semiotic approach to interpret the representamen, objects, and interpretants of each song. The analysis results show that the songs contain messages of affection, parental approval, self-reflection, responsibility, and prayers for blessings for the bride and groom. Cultural symbols such as water, flowers, candles, and sinjang kebat enrich the meaning of the siraman tradition as a process of purification and moral strengthening. The research findings are then adapted into proposed teaching materials for descriptive texts based on local culture that are in accordance with the Merdeka Curriculum, so as to improve descriptive literacy skills while fostering students' appreciation of Sundanese culture. This study contributes in the form of integrating local traditions in Indonesian language learning through the development of contextual and culturally valuable materials. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, serta simbol-simbol yang terkandung dalam tembang upacara siraman adat Sunda, serta mengusulkan pemanfaatannya sebagai bahan ajar teks deskripsi di kelas VII SMP. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce untuk menafsirkan representamen, objek, dan interpretan dari setiap tembang. Hasil analisis menunjukkan bahwa tembang-tembang tersebut mengandung pesan kasih sayang, keridaan orang tua, refleksi diri, tanggung jawab, serta doa keberkahan bagi calon pengantin. Simbol-simbol budaya seperti air, bunga, lilin, dan sinjang kebat memperkaya makna tradisi siraman sebagai proses penyucian dan peneguhan moral. Temuan penelitian kemudian diadaptasi menjadi usulan bahan ajar teks deskripsi berbasis budaya lokal yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka, sehingga mampu meningkatkan kemampuan literasi deskriptif sekaligus menumbuhkan apresiasi siswa terhadap budaya Sunda. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa integrasi tradisi lokal dalam pembelajaran bahasa Indonesia melalui pengembangan materi yang kontekstual dan bernilai kultural.
WEWANGIAN YANG MENGHANCURKAN TATANAN SIMBOLIK DALAM FILM PERFUME: THE STORY OF A MURDERER (2006) Innezdhe Ayang Marhaeni
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1851

Abstract

Dalam karya seni, fantasi ideologis pengarang dikonstruksi sedemikian rupa oleh tatanan simbolik. Hal ini menunjukkan bahwa diri pengarang atau pencipta karya selalu hadir dalam karya yang dihasilkan, terutama berkenaan dengan muatan ideologi yang dibawa dan merepresentasikan sosial budaya sekitarnya. Demikian pula halnya dengan film. Dalam hal ini, seorang sutradara mampu menghadirkan apa yang disebut Žižek sebagai keterikatan antara narasi dengan gaze subjektifnya. Tindakan radikal yang otentik akan memuat kritik apabila dipengaruhi oleh fakta dalam diri sutradara. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini mempermasalahkan tentang tindakan radikal subjek dalam film Perfume arahan Tom Tykwer dan fantasi ideologis yang ada dalam film Perfume. Metode yang diambil ialah analisis karya secara visual dan tekstual. Kajian ini bertujuan untuk mengemukakan kritik ideologi yang diangkat sebagai realita oleh sutradara. Hal ini dapat dilakukan dengan menganalisis tindakan radikal yang dilakukan oleh subjek dan subjektivitas sutradara yang dipengaruhi dunia simbolik. Dari penelusuran tersebut akan ditemukan fantasi ideologis yang hadir dalam film sebagai bentuk sinisme akan monarki yang menerapkan absolutisme di Perancis pada abad 18.
Optimalisasi Kemampuan Berpikir Kreatif dalam Pembelajaran Menulis Puisi di SMA Arip Widodo; Diyas Puspandari; Indra Nugrahayu Taufik
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7604

Abstract

Writing skills are very important for educators. Because, it is a creative process that requires knowledge, skills, techniques, and continuous practice. The weakness of creative thinking in Indonesian learning in writing competence, especially poetry writing. The objectives of this study are: (a) to analyze the difference in poetry writing ability using the relay writing method  and students who use conventional methods; (b) analyze the creative thinking ability of students who use the relay writing method  with students who use conventional methods; (c) correlation to the creative thinking ability of class X students and writing poetry using  the relay writing method and  the creative thinking ability of class X students and writing poetry using conventional methods. Based on the results of the research, there is a conclusion that learning to write poetry texts has an impact on students' creative thinking skills. It is evident from the results of the average pre-test results of the experimental class students obtained 57, while the average post-test results of the experimental class obtained 82 which showed a significant increase in scores before and after the treatment. Likewise, the average score of students' creative thinking pretries is 40 while the average score after the creative thinking test is 83. This shows a significant increase in creative thinking. AbstrakKeterampilan menulis sangatlah penting bagi pendidik. Karena, merupakan suatu proses kreatif yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, teknik, serta latihan terus menerus. Lemahnya daya berpikir kreatif pembelajaran Indonesia dalam kompetensi menulis khususnya menulis puisi. Tujuan penelitian ini adalah: (a) menganalisis perbedaan kemampuan menulis puisi yang menggunakan metode estafet writing dengan siswa yang menggunakan metode konvensional; (b) menganalisis kemampuan berpikir kreatif siswa yang menggunakan metode estafet writing  dengan siswa yang menggunakan metode konvensional; (c) korelasi terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X menulis puisi dengan menggunakan metode estafet writing dan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X  menulis puisi dengan menggunakan metode konvensional. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat simpulan bahwa pembelajaran menulis teks puisi berdampak terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Terbukti dari hasil prates rata-rata siswa kelas eksperimen memperoleh 57, sementara perolehan rata-rata pascates kelas ekperimen memperoleh 82 yang menunjukan kenaikan nilai yang signifikan sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Begitu pula dengan nilai rata-rata prates berpikir kreatif siswa yaitu 40 sementara nilai rata-rata pascates berpikir kreatif 83. Hal ini, menunjukan kenaikan yang signifikan terhadap berpikir kreatif.
HUKUM TARIK-MENARIK DALAM NOVEL KLASIK UNDER THE GREENWOOD TREE KARYA THOMAS HARDY Ayu Fitri Kusumaningrum
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3492

Abstract

Paulo Coelho dalam buku The Alchemist pernah berkata bahwa, “ketika kamu menginginkan sesuatu, alam semesta berkonspirasi untuk membantumu mencapainya.” Mendapatkan apa yang diinginkan pada praktiknya tidak sesederhana itu. Dalam Under The Greenwood Tree, Dick Dewy tidak hanya menginginkan Fancy Day sebatas keinginan saja. Dick harus melakukan beberapa hal guna memastikan Fancy jatuh ke dalam pelukannya. Hukum tarik-menarik (the law of attraction) yang menjadi dasar rujukan penelitian ini bekerja secara universal menarik ke dalam kehidupan seseorang, apa pun (baik positif maupun negatif) yang orang itu berikan perhatian, energi, dan fokus. Menggunakan novel romance klasik karya Thomas Hardy, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan upaya-upaya Dick dalam mendapatkan Fancy. Penggunaan metode kualitatif dan teori the law of attraction yang dikembangkan Michael J. Losier membuat penelitian ini menemukan bahwa Dick menerapkan tiga proses dalam the law of attraction dalam mendapatkan Fancy. Tiga proses tersebut adalah law of attraction, law of creating, dan law of allowing.Kata-kata kunci: Hukum Tarik-Menarik, Thomas Hardy, Era Victoria, Sastra Banding, Michael J. Losier.
Kearifan Lingkungan dalam Puisi-puisi Arif Hidayat Septi Yulisetiani; Elvina Isna Nurjanah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.3029

Abstract

Poetry raises about various problems that occur in human life, one of them is the environmental problem. Certain poems contain dictions that present the message of environmental wisdom. Every word in a poem has the power of meaning that can be interpreted through the word itself or in other words in a line and stanza of the poem. An in-depth study through a semiotic approach in this study was conducted to reveal the meaning of words that indicate symbols of natural environmental wisdom. Poetry analysis procedure with semiotic approach. The results showed that Arif Hidayat's poems contained messages of wisdom in the natural environment. Among them, nature as a source of life, the unity of life between nature and humans, messages of love for the environment, the obligation of humans to protect nature, humans who need to love nature again, and the command to protect the environment as part of human faith in God. AbstrakPuisi mengangkat berbagai persoalan yang berkembang dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah persoalan lingkungan alam. Puisi-puisi tertentu memuat diksi-diksi yang mempresentasikan pesan kearifan lingkungan. Setiap kata dalam sebuah puisi memiliki kekuatan makna yang dapat diinterpretasi baik melalui kata itu sendiri maupun dengan kata lain dalam satu baris dan bait puisi. Kajian mendalam melalui pendekatan semiotika dalam penelitian ini dilakukan untuk  mengungkap makna kata yang menunjukkan simbol kearifan lingkungan alam. Penelitian ini bertujuan mengungkap pesan kearifan lingkungan dalam buku kumpulan puisi Air Mata Manggar karya Arif Hidayat yang dapat dimanfaatkan oleh pembacanya sebagai bentuk refleksi diri agar lebih bijak terhadap lingkungannya. Prosedur analisis puisi dengan pendekatan semiotika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi-puisi Arif Hidayat memuat pesan-pesan kearifan lingkungan alam. Di antaranya, alam sebagai sumber kehidupan, kesatuan hidup antara alam dan manusia, pesan cinta lingkungan, kewajiban manusia menjaga alam, manusia yang perlu kembali mencintai alam, dan perintah menjaga lingkungan sebagai bagian dari iman manusia kepada Tuhan.
SANGGAR SASTRA JAWA YOGYAKARTA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI TALCOTT PARSONS Hayu Avang Darmawan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i2.445

Abstract

Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta is a literary group that focus on Javanese literature in D.I.Yogyakarta. The purpose of this research is to discover and explain the establishment and Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta system that is able to survive for a long time. It was given a lot of group Javanese literature in East Java, Central Java, and Yogyakarta that appear but can not last long. The analysis used is the social system theory developed by Talcott Parsons. The theory explains the four functional requirements, that is latent pattern-maintenance, integration, goal attainment, adaptation as a requirement for the system to survive in a long time. Further descriptive method is used, with data collection through participant observation and in-depth interviews, and the data is written. Informants consisted of administrators and members of the group. The results of the study found that the Operasi Tertib Remaja in 1966 and the elimination of regional language lessons by the education minister of the 1970s was able to immobilize the joints of Javanese literature. Furthermore, emerging awareness group of people to maintain their identity by setting up Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta. The group was able to survive by maintaining system adaptation by uniting themselves with government agencies, have short and long term goals, integrity harmonization that is able to be maintained, and renegeration pattern with internalization value and norm. AbstrakSanggar Sastra Jawa Yogyakarta merupakan sanggar sastra yang fokus pada sastra Jawa di D.I.Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah menemukan dan menjelaskan pendirian dan sistem Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta yang mampu bertahan dalam kurun waktu lama. Hal itu mengingat banyak sanggar sastra Jawa di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta yang muncul namun tidak dapat bertahan lama. Analisis yang digunakan adalah teori sistem sosial yang dikembangkan Talcott Parsons. Teori tersebut menjelaskan empat kebutuhan fungsional, yaitu latent pattern-maintenance, integration, goal attainment, adaptation sebagai syarat sebuah sistem untuk mampu bertahan hidup dalam kurun waktu yang lama. Selanjutnya digunakan metode deskriptif, dengan pengambilan data melalui observasi terlibat dan wawancara mendalam, serta data-data tertulis. Informan terdiri atas pengurus dan anggota sanggar. Hasil dari penelitian diketahui bahwa Operasi Tertib Remaja tahun 1966 dan penghapusan pelajaran bahasa daerah oleh menteri pendidikan era 1970an mampu melumpuhkan sendi-sendi sastra Jawa. Selanjutnya, timbul kesadaran sekelompok orang untuk mempertahankan identitasnya dengan mendirikan Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta. Sanggar tersebut mampu bertahan dengan memelihara sistem adaptasi dengan menyatukan diri dengan lembaga pemerintahan, memiliki tujuan jangka pendek dan panjang, harmonisasi integritas yang mampu dijaga, serta pola renegerasi dengan internalisasi nilai dan norma.
Kritik Sosial dalam Novel Padang Bulan Karya Andrea Hirata (Kajian Sosiologi Sastra Sastra) Ulinsa Ulinsa; Gazali Lembah; Yunidar Nur; Nuraedah Nuraedah; Nur Fadilah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6058

Abstract

The disclosure of literary criticism on the novel by Andrea Hirata does not merely look at it clearly. Still, it refers to the social aspect as an outline of the conflict in the storyline. The study aims to reveal and describe the social criticism forms in the novel Padang Bulan by Andera Hirata using the sociology of literature study. The method used in this research is descriptive method and this type of research is qualitative research. The results of the analysis of this study indicate that there are five social criticisms in the novel Padang Bulan, such as moral criticism, political criticism, educational criticism, economic criticism, and cultural criticism. AbstrakPengungkapan kritik sastra pada novel karta Andrea Hirata tidak semata-mata hanya melihat secara gamblang, melainkan berpatokan pada aspek sosial sebagai garis besar konflik pada alur cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kritik sosial dalam novel Padang Bulan karya Andera Hirata menggunakan kajian sosiologi sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada lima kritik sosial dalam novel Padang Bulan, yaitu kritik moral, kritik politik, kritik pendidikan, kritik ekonomi, dan kritik kebudayaan.

Page 2 of 27 | Total Record : 266