cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Kajian Histori Sastra Lisan Mantra Bercocok Tanam Suku Serawai di Desa Renah Gajah Mati I dalam Perspektif Ontologi Rahmad Hidayat; Suroso Suroso
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8347

Abstract

This study aims to explain the history of the Serwai tribe's farming mantras in Renah Gajah Mati 1 Village from an ontological perspective. The research method used in this study is descriptive qualitative with an ethnographic approach. Data collection techniques in this study are interviews, observation, and documentation. Data analysis using a phenomenological hermeneutic approach. From the results of data collection, eight farming mantras were found in Renah Gajah Mati I Village, namely: (1) Jampi tughun sawah/mantra before starting the process of going to the rice fields, (2) Jampi pujung tigo ruang/, three types of punjung mantra (3) Jampi punjung tigo ragi/Three color tumpeng spell, (4) Jampi tughun kebun/before gardening mantra, (5) Jampi pianggang/ pest pianggang mantra, (6) Jampi asal pianggang/mantra origin of pest pianggang, (7) Jampi rancak/mantra pancang, and (8) Jampi nebang kayu/mantra for cutting down wood. From the eight mantras, the researcher then explains the HISTORI behind each mantra using an ontological perspective (what) on the assumptions of the community leaders involved. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan sejarah mantra bercocok tanam Suku Serwai yang ada di Desa Renah Gajah Mati 1 dalam perspektif ontologi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dengan menggunakan pendekatan hermeneutik fenomenologis. Dari hasil pengumpulan data ditemukan delapan mantra bercocok tanam yang ada di Desa Renah Gajah Mati I yaitu: (1) Jampi tughun sawah/mantra sebelum memulai proses ke sawah; (2) Jampi pujung tigo ruang/mantra punjung tiga macam; (3) Jampi punjung tigo ragi/mantra tumpeng tiga warna; (4) Jampi tughun kebun/mantra sebelum berkebun; (5) Jampi pianggang/mantra hama pianggang; (6) Jampi asal pianggang/mantra asal mula hama pianggang; (7) Jampi rancak/mantra pancang; dan (8) Jampi nebang kayu/mantra menebang kayu. Dari delapan mantra tersebut kemudian peneliti memaparkan sejarah atau histori di balik setiap mantra dengan menggunakan perspektif ontologi (apa) pada asumsi tokoh masyarakat yang terlibat.
REPRESENTASI PEWAYANGAN MODERN: KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA DALAM NOVEL RAHVAYANA AKU LALA PADAMU KARYA SUJIWO TEJO Diki Febrianto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.1192

Abstract

This research paper is entitled "Modern Puppet Representation: Anthropological Studies of Literature in Sujiwo Tejo's Rahvayana Aku Lala Novel". The discussion in this article paper is limited to two aspects, namely the representation of world views and representations of elements of culture in general. This study aims to uncover both aspects, which are found in Sujiwo Tejo's novel Rahvayana Aku Lala Padamu. The dDiscussion uses a descriptive- analytical methods by describing a reality followed by analysis. The theory used is representation theory with a literary anthropology approach. The source of this research data is the novel Rahvayana Aku Lala Padamu by Sujiwo Tejo. The form of research data is in the form of a collection of stories that contain cultural elements that experience change. The results of this study are 1) World view: representation of modern wayang (dialogical structure) and social groups in the novel Rahvayana Aku Lala Padamu by Sujiwo Tejo. 2) elements of culture in general: social systems, language and literary systems, and knowledge systems. Abstrak: Penelitian ini berjudul “Representasi Pewayangan Modern: Kajian Antropologi Sastra dalam Novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo”. Pembahasan di dalam artikel ini dibatasi pada dua aspek, yaitu representasi pandangan dunia dan representasi unsur kebudayaan secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kedua aspek, yang terdapat dalam novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo. Pembahasan menggunakan metode deskriptif analitik dengan cara memaparkan suatu kenyataan disusul dengan analisis. Teori yang digunakan adalah teori representasi dengan pendekatan antropologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo. Wujud data penelitian berupa kumpulan cerita yang mengandung unsur budaya yang mengalami perubahan. Hasil dari penelitian ini terdapat  1) Pandangan dunia: representasi pewayangan modern (struktur dialogis) dan kelompok sosial dalam novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo. 2) unsur kebudayaan secara umum: sistem kemasyarakatan, sistem bahasa dan sastra, dan system pengetahuan. 
Analisis Struktur Puisi Karya Perempuan dalam Majalah Suara ‘Aisyiyah David Setiadi; Asep Firdaus
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6332

Abstract

This research focuses on examining poems published in Suara 'Aisyiyah magazine in the "Aksara" rubric written by Cheny Kurata A'yun, which in quantity appears frequently in the 2021 publication period. This research aims to describe the structural analysis of women's poetry in Suara 'Aisyiyah magazine published in 2021. The research method used is a qualitative method by descriptive analysis, with the object of research in the form of three poems by Cheny Kurata A'yun entitled "Rain on a Prayer Mat", "Owner of Pertiwi" and "Hilang Arah" (2021). This study concludes that women's poems written in the 2021 publication period have a consistent physical and inner structure. This is characterized by the elements of construction with the presence of diction, imagery, majas, rhyme, typography, theme and mandate.  AbstrakPenelitian ini berfokus dalam mengkaji puisi-puisi yang terbit di majalah Suara ‘Aisyiyah dalam rubrik “Aksara” yang ditulis oleh Cheny Kurata A’yun yang secara kuantitas kemunculan sering ada pada periode terbit tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan analisis struktur puisi perempuan dalam majalah Suara ‘Aisyiyah periode terbit tahun 2021 tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan cara deskriptif analisis, dengan objek penelitian berupa tiga puisi karya Cheny Kurata A’yun yang berjudul “Hujan di Atas Sajadah”, “Pemilik Pertiwi” dan “Hilang Arah” (2021). Penelitian ini menghasilkan simpulan bahwa puisi-puisi perempuan yang ditulis pada periode terbit tahun 2021 memiliki struktur fisik dan batin yang ajek. Hal ini ditandai dengan unsur-unsur pembangun dengan adanya diksi, imaji, majas, rima, tipografi, tema dan amanat.
The Construction of the Image of Madurese Women Through Nature: Ecofeminist Representation in the Poem Ibu by D. Zawawi Imron Khalili Khalili; Bastian Zulyeno
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8558

Abstract

This article examines the representation of women’s imagery and its relationship with nature through an ecofeminist reading of the poem “Ibu (Mother)” by D. Zawawi Imron, which strongly presents female figures and nature within the cultural context of Madura, thus having a distinctive and unique character to reveal gender-ecological relations in Indonesian literature. This type of study is a literary text analysis using the close reading technique. The research data consists of the poem Ibu by D. Zawawi Imron as the primary data source. Data collection techniques were carried out through literature review and intensive reading of the text, while data analysis used descriptive-interpretive analysis. This study employs ecofeminist theories proposed by Vandana Shiva (1988) and Val Plumwood (1993), which emphasize the representation of women as ecological subjects who interact harmoniously with nature, challenge patriarchal logic, and affirm gender equality and ecological responsibility as fundamental principles of life. Shiva’s theory is applied to interpret women as subjects aligned with nature, as reflected in their everyday activities that function as the center of ecological meaning in the poem. Meanwhile, Plumwood’s theory of deconstructing dualisms between humans and nature, as well as between men and women, helps to demonstrate how the poem Ibu rejects patriarchal hierarchies by portraying women as integrated with nature rather than subordinated to it. In addition, stylistic analysis is used to examine language style, diction, imagery, and metaphors in order to strengthen the ecofeminist interpretation. The findings indicate that the poet constructs women as ecological agents who assert care and responsibility, both as familial figures and as drivers of socio-economic life and cultural actors, in ways that align with ecofeminist principles. This study contributes to ecofeminist literary studies in Indonesia and strengthens the understanding of the relationship between gender and the environment within local cultural contexts. Abstrak Artikel ini meneliti representasi citra perempuan dan keterkaitannya dengan alam melalui pembacaan ekofeminis terhadap puisi “Ibu” karya D. Zawawi Imron, yang menampilkan figur perempuan dan alam secara kuat dalam konteks budaya Madura, sehingga punya karakter khas dan unik untuk mengungkap relasi gender-ekologi dalam sastra Indonesia. Jenis kajian ini adalah analisis teks sastra dengan teknik pembacaan dekat. Data penelitian berupa teks puisi “Ibu” karya D. Zawawi Imron sebagai sumber data utama. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan pembacaan intensif terhadap teks, sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif-interpretatif. Penelitian ini menggunakan teori ekofeminisme Vandana Shiva (1988) dan Val Plumwood (1993), yang menyoroti representasi perempuan sebagai subjek ekologis yang berinteraksi harmonis dengan alam, menolak logika patriarki, serta menegaskan kesetaraan gender dan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari prinsip hidup. Teori Shiva digunakan untuk menafsirkan perempuan sebagai subjek yang selaras dengan alam, yang tercermin dalam aktivitas sehari-hari sebagai pusat makna ekologis dalam puisi. Sementara teori Plumwood tentang dekonstruksi dualisme, manusia dan alam, laki-laki dan perempuan, membantu mengungkap cara puisi “Ibu” menolak hierarki patriarkal melalui penggambaran perempuan yang menyatu dengan alam, bukan ditundukkan olehnya. Selain itu, analisis stilistika digunakan untuk menelaah gaya bahasa, diksi, citraan, dan metafora guna memperkuat interpretasi ekofeminis. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa penyair mengonstruksi perempuan sebagai agen ekologis yang menegaskan rasa kepedulian dan tanggung jawab, baik sebagai figur keluarga maupun sebagai penggerak ekonomi sosial dan pelaku budaya, yang sejalan dengan prinsip ekofeminisme. Studi ini berkontribusi pada kajian sastra ekofeminisme di Indonesia dan memperkuat pemahaman tentang hubungan antara gender dan lingkungan dalam konteks budaya lokal.
SITI: Javanese’s Beliefs as the Representation of Gender Roles and Inequalities towards Women’s Position Fransiska Rahayu Myrlinda
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.1358

Abstract

ABSTRACT             Being males and females is biologically constructed since human beings were born. Meanwhile, there is also strict distinction done by society to divide people into men and women or usually called as doing gender stereotype. It effects on different assumptions that are attached to them. As the result, people are categorized based on their own gender roles in society. Java, as the symbol of patriarchal society, is the ethnic which agrees with this social phenomenon. Its beliefs symbolize how men and women have different social status. It also results in different gender roles. SITI is the film which deals with this phenomenon. It shows that being “obedient” Javanese women will give effect on social status towards different genders. The theories of sex and gender and also patriarchal society were used to get the reliable data. Keywords: SITI, Sex and Gender, Inequality, Javanese’s beliefs ABSTRAK                 Menjadi pria dan wanita secara biologis dibangun sejak manusia dilahirkan. Sementara itu, ada juga perbedaan mendalam yang masyarakat lakukan untuk membagi manusia menjadi pria dan wanita atau biasa disebut sebagai stereotip di gender. Hal ini berpengaruh pada perbedaan asumsi yang melekat padanya. Sebagai akibat, manusia dikategorikan berdasarkan peran gender mereka sendiri di masyarakat. Jawa, sebagai simbol masyarakat patriarkal, adalah etnis yang setuju dengan fenomena sosial ini. Kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa melambangkan bagaimana pria dan wanita memiliki status sosial yang berbeda. Hal ini juga menghasilkan peran gender yang berbeda. SITI adalah film yang merepresentasikan fenomena ini. Film ini menunjukkan bahwa sebagai perempuan Jawa yang “taat” akan memberikan efek pada status sosial dari gender yang berbeda. Teori seks dan gender serta masyarakat patriarki digunakan untuk mendapatkan data yang sesuai. Kata Kunci: SITI, Teori seks dan gender, Ketidaksetaraan, Kepercayaan Jawa
Kegelisahan Eksistensial Joko Pinurbo: Sebuah Tanggapan Pembaca Yoseph Yapi Taum
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.364

Abstract

Kehadiran penyair Joko Pinurbo dengan karya-karyanya mendapat tanggapan pembaca yang luas di tanah air. Puisi-puisinya memiliki karakteristik tersendiri yang kontradiksif antara pilihan katanya yang nyeleneh dan sikap kepenyairannya yang cenderung serius dan filosofis. Makalah ini merupakan sebuah tinjauan terhadap karya-karya Joko Pinurbo sebagai sebuah tanggapan. Tanggapan beberapa ahli sastra juga ikut didiskusikan di sini. Melalui pembacaan terhadap beberapa tanggapan, makalah ini mengungkap 1) Kecenderungan Puisi Mbeling dalam puisi-puisi Joko Pinurbo; 2) Penggunaan Bahasa dan Persoalan Sehari-hari dalm puisi-puisi Joko Pinurbo; 3) Refleksi Keagamaan dalam puisi-puisi Joko Pinurbo, dan 4) Kegelisahan Eksistensial dalam puisi-puisi Joko Pinurbo
POETIC JUSTICE DALAM KARYA-KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO: SEBUAH AJARAN MORAL DALAM MENJALANI HIDUP Diah Ariani Arimbi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.431

Abstract

Sapardi Djoko Damono or Sapardi is known as one of the greatest poets in the world of Indonesian literature whose works are full of intensity in the quest of moral conduct and moral virtue.  Reading works of Sapardi parallels to read teachings of morality: of how one should live in the world with full moral responsibilities. One major issue Sapardi always tackles in his works is the notion of poetic justice. As a literary device, poetic justice always sees that the right will win in the batttle against the wrong, and eventually truth will prevail.  In the perspective of Martha Nussbaum: a philosopher who believes that literature signifies important position in establishing social justice, poetic justice may function essentially as moral conduct human beings long for. The works of Sapardi will be analyzed using close reading technique as one method in literary reading and analysis. Sapardi’s works, be it his poems, lyrical proses, or short stories propose human struggles in search for truth and social justice. Using poetic justice in scrunitizing the works of Sapardi one can easily understand that in the battle between the virtue versus the vice, the virtue will win and be rewarded while the vice will be defeated and punished, and often virtue will replace vice in ironic twist. Sapardi’s works also show that in the quest of truth, sacrifice is necessary action as through sacrifice transformation from bad to good will take place. Abstrak Sapardi Djoko Damono atau yang dikenal sebagai Sapardi adalah salah satu pujangga besar yang sangat produktif dalam dunia sastra Indonesia. Membaca karya Sapardi seperti membaca pencarian moral karena karyanya, baik puisi, prosa liris, maupun cerita pendek sarat dengan ajaran moral. Salah satu isu utama yang selalu muncul dalam karya Sapardi adalah keadilan puitis, yaitu dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan pada akhirnya kebaikan dan kebenaran selalu muncul. Itulah yang dikatakan sebagai keadilan puitis (poetic justice) dalam perspektif Marta Nussbaum, seorang filsuf yang selalu menggunakan sastra sebagai sarana dalam membangun keadilan sosial. Dengan menggunakan pemikiran Nussbaum tentang pentingnya sastra sebagai pembentuk ajaran moral dan panduan moral dalam kehidupan seseorang, tulisan ini membedah karya Sapardi, baik yang berupa puisi, prosa liris, maupun cerita pendek. Terbukti bahwa karya Sapardi tidak pernah lepas dari pergulatan manusia dalam mencari kebenaran dan keadilan sosial. Dengan menggunakan metode pembacaan sastra yang dikenal sebagai teknik pembacaan mendalam (close reading technique) tulisan ini akan menggunakan perangkat sastra, yaitu poetic justice yang sering kali muncul melalui pembalikan posisi dari awal yang baik kalah dan menjadi pemenang pada akhirnya dan yang awalnya kejahatan menang tapi kalah pada akhirnya. Melalui karya-karyanya Sapardi mengingatkan kita sebagai pembaca bahwa kebenaran akan selalu menang pada akhirnya dan kebenaran membutuhkan pengorbanan karena melalui pengorbanan itulah transformasi dari yang buruk menjadi yang baik akan terjadi. 
Perbandingan Peribahasa Jepang dengan Peribahasa Sunda terkait Hubungan Manusia: Kajian Semantik Kognitif Puspa Mirani Kadir; Yulia Pebriani; Susiyanti Rusyan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5266

Abstract

Proverbs are a local wisdom or folksy wisdom that contains morals or truths that are values embraced by a society. This is in accordance with Foley (1997, 361) who states that proverbs are a remarkable example of describing the relationship between culture, language, and the human mind. This simple contrast research of the analysis will adjust to important variables in the content analysis. The first time that is done is to analyze proverbial data in two languages, namely Sundanese and Japanese, meaning the same based on a cultural point of view to which four content variables will be analyzed. These four variables are the concept of Warnaen, (1987, 5) in facilitating the grouping of proverbial contents. After that, it is continued with an analysis scheme that refers to the prism model developed by Geeraerts in Langlotz's book entitled Idiomatic Creativity. The model illustrates the existence of a metaphorical relationship between the true meaning of a proverb and the language used in the idiom (Langlotz, 2006, 109). Sundanese and Japanese proverbs in the variable content category are closely related to humans as individuals and humans in social life. In addition, Sundanese proverbs found in oral tradition have a deep meaning in a process of human behavior that behaves, while the dominant Japanese proverb tells of a human behavior from the beginning of the event then continued with a result accompanied by a causal relationship. AbstrakPeribahasa merupakan suatu kearifan lokal atau folksy wisdom yang mengandung moral atau kebenaran yang menjadi nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Hal ini sesuai dengan Foley (1997, 361) yang menyatakan bahwa peribahasa (proverb) merupakan contoh yang luar biasa untuk menggambarkan hubungan antara budaya, bahasa, dan pikiran manusia. Penelitian kontrastif analisis yang sederhana ini akan menyesuaikan dengan variabel penting dalam analisis isi. Pertama kali yang dilakukan adalah menganalisis data peribahasa dalam dua bahasa, yaitu Sunda dan Jepang, bermakna sama berdasarkan sudut pandang budaya yang akan dianalisis empat kategori isi. Empat kategori ini merupakan konsep dari Warnaen, (1987, 5) dalam memudahkan pengelompokan isi peribahasa. Setelah itu dilanjutkan dengan skema analisis yang mengacu pada model prisma yang dikembangkan oleh Geeraerts dalam buku Langlotz yang berjudul Idiomatic Creativity. Model tersebut menggambarkan akan adanya hubungan metafora antara makna sesungguhnya suatu peribahasa dengan bahasa yang digunakan dalam idiom tersebut (Langlotz, 2006, 109). Peribahasa Sunda dan Jepang dalam kategori variabel isi sangat berkaitan erat dengan manusia sebagai pribadi dan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, peribahasa Sunda yang ditemukan dalam tradisi lisan memiliki makna yang dalam pada suatu proses manusia itu berperilaku, sedangkan peribahasa Jepang dominan menceritakan sebuah perilaku manusia dari awal kejadian kemudian dilanjutkan dengan hasil yang disertai dengan hubungan sebab akibatnya.
Diskursus Kekuasaan dalam Novel Negeri Senja Karya Seno Gumira Ajidarma dan Novel Dari Rahim Ombak Karya Tison Sahabuddin Bungin: Analisis Wacana Norman Fairclough Dwi Rahayuninsi; Anshari Anshari; Aslan Abidin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8349

Abstract

This study aims to examine the discourse of power formed and presented in the novel Negeri Senja and the novel Dari Rahim Ombak through Norman Fairclough's critical discourse analysis approach. This study is a qualitative study that emphasizes the deep meaning of literary texts as symbolic representations of power. The analytical method used refers to the three dimensions of Fairclough's model, namely: text analysis (description), discourse practice (interpretation), and social practice (explanation). The main data in the form of quotations in the novel that show the discursive practice of power, supported by secondary data such as theoretical literature, scientific journals, and socio-political contextual studies. The results of the study show that the two novels represent the ideology of power differently. Negeri Senja presents oppressive power that is legitimized through myth and violence, with fear as a tool of domination. In contrast, Dari Rahim Ombak criticizes the exploitation of resources and economic domination through a development narrative that appears progressive but is full of power interests, and emphasizes the importance of environmental conservation. In terms of social relations, Negeri Senja shows a hierarchical and closed structure, forming an alienated subject who loses agency. Meanwhile, Dari Rahim Ombak presents a more dialogical social relationship, although it remains controlled by traditional norms and state authority, and presents a subject who builds identity through ecological concern and collective responsibility. This finding confirms that literary texts function as symbolic fields that not only reflect socio-political realities, but can also reveal and critique the mechanisms of power hidden in narrative structures. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji diskursus kekuasaan dibentuk dan dihadirkan dalam novel Negeri Senja dan novel Dari Rahim Ombak melalui pendekatan analisis wacana kritis Norman Fairclough. Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang menekankan pada pemaknaan mendalam terhadap teks sastra sebagai representasi simbolik kekuasaan. Metode analisis yang digunakan merujuk pada tiga dimensi model Fairclough, yaitu: analisis teks (deskripsi), praktik wacana (interpretasi), dan praktik sosial (eksplanasi). Data utama berupa kutipan-kutipan dalam novel yang menunjukkan praktik diskursif kekuasaan, didukung oleh data sekunder seperti literatur teori, jurnal ilmiah, dan kajian kontekstual sosial-politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua novel tersebut secara berbeda merepresentasikan ideologi kekuasaan. Negeri Senja menampilkan kekuasaan opresif yang dilegitimasi melalui mitos dan kekerasan, dengan ketakutan sebagai alat dominasi. Sebaliknya, Dari Rahim Ombak mengkritik eksploitasi sumber daya dan dominasi ekonomi melalui narasi pembangunan yang tampak progresif namun sarat kepentingan kekuasaan, serta menekankan pentingnya konservasi lingkungan. Pada aspek relasi sosial, Negeri Senja memperlihatkan struktur yang hierarkis dan tertutup, membentuk subjek yang teralienasi dan kehilangan agensi. Sementara itu, Dari Rahim Ombak menampilkan relasi sosial yang lebih dialogis, meskipun tetap dikendalikan oleh norma tradisional dan otoritas negara, serta menampilkan subjek yang membangun identitas melalui kepedulian ekologis dan tanggung jawab kolektif. Temuan ini menegaskan bahwa teks sastra berfungsi sebagai medan simbolik yang tidak hanya merefleksikan realitas sosial-politik, tetapi juga dapat mengungkap dan mengkritisi mekanisme kekuasaan yang tersembunyi dalam struktur naratif.
Pesona Pantun Jarjit dalam Serial Animasi Upin-Ipin: Pantun sebagai Diplomasi Budaya Indonesia-Malaysia Aswan Aswan; Taufik Darmawan; Dwi Sulistyorini
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6276

Abstract

The animated series Upin and Ipin has had a wide-ranging impact on the Malaysian-Indonesian community. Jarjit is an influential figures in animated series. Jarjit is popular because he is good at singing rhymes while communicating with other figures. The purpose of this study is to examine the charm of Jarjit's pantun and its relevance to cultural diplomacy instruments to strengthen Malaysia-Indonesia relations. The method used was qualitative, with a content analysis approach involving several stages. The data source in this study is the Les'Copauque YouTube channel, while the research data are Jarjit rhymes from 45 episodes of Upin and Ipin. The findings of this study are that Jarjit's rhymes in the animated series Upin and Ipin have a unique charm in terms of the characteristics of Jarjit rhymes, which always start with two or three as the sampiran of the rhymes; Jarjit, who comes from Indian ethnicity; the type of karmina rhymes; Jarjit rhymes as a children's oral tradition; and pantun jarjit as a representation of multiculturalism. Based on the charm of Jarjit's pantun, the poem is entitled that Jarjit's rhyme is an instrument of cultural diplomacy that can strengthen Malaysia-Indonesia relations. AbstrakSerial animasi Upin dan Ipin memberi dampak yang luas biasa bagi masyarakat Malaysia-Indonesia. Salah satu tokoh yang berpengaruh di dalam serial animasi tersebut adalah Jarjit. Jarjit populer karena piawai berpantun ketika berkomunikasi dengan tokoh-tokoh lainnya. Dari fenomena tersebut, tujuan penelitian ini adalah mengkaji pesona pantun Jarjit dan relevansinya pada instrumen diplomasi budaya untuk memperkokoh hubungan Malaysia-Indonesia. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan konten analisis melalui beberapa tahapan. Sumber data dalam penelitian ini adalah kanal Youtube Les’Copauque sedangkan data penelitian adalah pantun Jarjit dari 45 episode Upin dan Ipin. Temuan penelitian ini adalah pantun Jarjit dalam serial animasi Upin dan Ipin memiliki pesona yang unik ditinjau dari ciri khas pantun Jarjit yang selalu berawal dari dua tiga sebagai sampiran pantunnya,  Jarjit yang berasal dari etnis India, jenis pantun karmina, pantun Jarjit sebagai tradisi lisan anak, dan pantun Jarjit sebagai representasi multikulturalisme. Berdasarkan pesona pantun Jarjit tersebut, disimpulkan bahwa pantun Jarjit merupakan instrumen diplomasi budaya yang dapat memperkokoh hubungan Malaysia-Indonesia.

Page 3 of 27 | Total Record : 266