cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Reconstruction of Past Disasters Mitigation in Sěrat Primbon Palintangan Palinḍon Pakědutan (Add.12311): Collective Memory Studies on Maurice Halbwachs’ Perspective Isna Ilham Nur Rizki; Yosi Wulandari; Ghis Nggar Dwiadmojo; I Kadek Purnawan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8517

Abstract

This study aims to examine the Sĕrat Primbon Palintangan Palinḍon Pakĕdutan (Add.12311) as a form of the Javanese people’s collective memory of disasters and reconstruct the culture-based disaster mitigation potential contained within it. This study employs a descriptive qualitative method using Maurice Halbwachs’ collective memory approach. The primary data source is the manuscript Sĕrat Primbon Palintangan Palinḍon Pakĕdutan (Add.12311) from the British Library collection, analyzed through literature review and qualitative content analysis. The results indicate that earthquakes in the Palindon text are understood not only as natural phenomena but also as indicators of social, health, economic, and environmental changes. Experiences regarding social conflict, food crises, disease outbreaks, population displacement, and ecological vulnerabilities are organized as collective memory passed down through Javanese written traditions. This study also found the existence of culture-based disaster mitigation awareness, manifested in vigilance toward environmental changes, the strengthening of social solidarity, preparedness for food and health crises, and the maintenance of socio-ecological balance in the face of crisis situations. Thus, the Palindon texts serve as a medium for transmitting traditional disaster knowledge that remains relevant for strengthening culture-based disaster mitigation in contemporary society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Sĕrat Primbon Palintangan Palinḍon Pakĕdutan (Add.12311) sebagai bentuk memori kolektif masyarakat Jawa tentang bencana dan merekonstruksi potensi mitigasi bencana berbasis budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan memori kolektif Maurice Halbwachs. Sumber data utama adalah manuskrip Sĕrat Primbon Palintangan Palinḍon Pakĕdutan (Add.12311) dari koleksi British Library, yang dianalisis melalui tinjauan pustaka dan analisis isi kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gempa bumi dalam teks Palindon dipahami tidak hanya sebagai fenomena alam tetapi juga sebagai indikator perubahan sosial, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Pengalaman mengenai konflik sosial, krisis pangan, wabah penyakit, pengungsian penduduk, dan kerentanan ekologis diorganisasikan sebagai memori kolektif yang diturunkan melalui tradisi tulis Jawa. Studi ini juga menemukan adanya kesadaran mitigasi bencana berbasis budaya, yang termanifestasi dalam kewaspadaan terhadap perubahan lingkungan, penguatan solidaritas sosial, kesiapan menghadapi krisis pangan dan kesehatan, serta pemeliharaan keseimbangan sosial-ekologis dalam menghadapi situasi krisis. Dengan demikian, teks-teks Palindon berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pengetahuan tradisional tentang bencana yang tetap relevan untuk memperkuat mitigasi bencana berbasis budaya dalam masyarakat kontemporer.
MENATA DIRI DAN MENEGAKKAN PANCASILA: KAJIAN TERHADAP GEGURITAN DALAM MAJALAH-MAJALAH BERBAHASA JAWA DI YOGYAKARTA PASCA KEMERDEKAAN SAMPAI DENGAN TAHUN 1966 Yohanes Adhi Satiyoko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.270

Abstract

Recognizing Pancasila within Indonesian national and governmental life dynamic activities story could be comprehended through some guritan expression as written and published during postindependence to 1966 era in Javanese magazines, Praba, Kembang Brayan, and Medan Bahasa Basa Djawi. Review to those guritans was conducted using sociology theory by Janet Wolff by presenting social cultural phenomena in postindependence to 1966 era and interpreting content of guritans as written and published at that era. The result shows that the content of the guritans is ideology to as citizens to self reconcile and stand up Pancasila as dasic ideology of Negara Kesatuan Republik Indonesia ABSTRAKMengenal kembali Pancasila dalam dinamika perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia dapat dipahami melalui ekspresi beberapa guritan yang ditulis dan diterbitkan masa pascakemerdekaan  dengan tahun 1966 di majalah berbahasa Jawa, Praba, Kembang Brayan, dan  Medan Bahasa Basa Djawi. Kajian terhadap guritan-guritan tersebut dilakukan dengan teori sosiologi sastra Janet Wolff, yaitu dengan melihat fenomena sosial budaya yang terjadi pada masa pascakemerdekaan sampai dengan tahun 1966 dan menafsirkan isi guritan-guritan yang ditulis dan diterbitkan pada masa itu. Hasil pembacaan terhadap guritan-guritan tersebut menunjukkan sebuah ideologi untuk mengajak masyarakat menata diri dan menegakkan Pancasila sebagai dasar ideologi Negara Kesatuan Repiblik Indonesia.  
The Sufistic Representation of Sasak Tribe in Sanggarguri Novel by Lalu Agus Fathurahman in Digital Era (Representasi Sufistik Suku Sasak dalam Novel Sanggarguri Karya Lalu Agus Fathurrahman pada Era Digital) Rozali Jauhari Alfanani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.581

Abstract

The Sasak people are known to have various noble values and norms that are still maintained today. One of these values is the sufistic concept which has become a guide for the ancestors of the Sasak tribe on the island of Lombok. The purpose of this study is to explore various things related to sufistic values possessed by the Sasak tribe and depicted in one of the novels written by the original Sasak author, Lalu Agus Fathurrahman. The excavation of sufistic values in the novel is carried out using interview techniques and literature studies. The result showed that the sufistic values of the Sasak tribe in Sanggarguri were realized through the symbolization of 10 types of flowers found on the island of Lombok. The flowers describe the level of characteristics and traits of the Sasak people so that they can be used as guidelines in living life from time to time.AbstrakMasyarakat suku Sasak dikenal memiliki berbagai nilai dan norma luhur yang masih dipertahankan hingga saat ini, salah satunya konsep sufistik sebagai pedoman bagi leluhur Suku Sasak di Pulau Lombok. Tujuan penelitian ini yaitu menggali berbagai hal terkait nilai sufistik yang dimiliki oleh Suku Sasak dan tergambar dalam salah satu novel yang ditulis oleh pengarang asli Sasak, Lalu Agus Fathurrahman. Penggalian nilai sufistik dalam novel tersebut dilakukan menggunakan teknik wawancara dan studi kepustakaan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, penelitian ini menghasilkan bahwa dalam novel Sanggarguri terwujud nilai-nilai sufistik suku Sasak melalui simbolisasi sepuluh jenis kembang yang terdapat di Pulau Lombok yang menggambarkan tingkat karakteristik dan sifat masyarakat Suku Sasak sehingga dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan dari masa ke masa.
SASTRA DAN KULINER: EVOLUSI GASTRONOMI KE GASTROSOFI DALAM TIGA CERPEN INDONESIA Bramantio Bramantio
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i1.391

Abstract

“Filosofi Kopi”, “Madre”, dan “Smokol” menghadirkan sebuah puitika yang mendasarkan diri pada kuliner. Kopi, adonan biang bernama madre, dan sebuah tradisi makan tanggung di antara sarapan dan makan siang yang disebut smokol menjadi media yang digunakan untuk memahami hal yang lebih besar daripada kenikmatan ragawi di atas meja makan. Cerita yang pada awalnya tampak sebagai usaha untuk merayakan hidup, menemukan dan menghadirkan sajian terbaik, dan memahami jati diri personal melalui kuliner, lambat laun bergerak ke sebuah titik bernama renungan tentang keindonesiaan, dari gastronomi menjadi gastrosofi. “Filosofi Kopi”, “Madre”, dan “Smokol” menjadi semacam miniatur Indonesia. Indonesia di dalam ketiga cerpen tersebut bukan Indonesia yang mengalami keterpurukan dan serba gelap, melainkan Indonesia dengan harapan lebih baik karena memiliki Ben, Tansen, dan Batara sebagai generasi muda urban yang semangat globalnya tetap memiliki kesadaran untuk menerima, menggali, dan memelihara nilai filosofis warisan leluhur.
Kritik Sosial dalam Puisi “Berikan Aku Keadilan” Karya Fitri Nganthi Wani dan Relevansinya dalam Pembelajaran Sastra Widi Sukmawati Trisnatul Rohma; Hidayah Budi Qur'ani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.3361

Abstract

Social criticism in poetry is the author's strategy to respond various problems that exist in society. The poem "Give Me Justice" by Fitri Nganthi Wani is interesting to study because it is considered a form of social criticism that represents the voice of the community with a picture of the impact of the riots during the New Order era, especially family disorganization. This is illustrated through the suffering of the author's life which is also felt by the same fate and struggle. This study aims to describe the various forms of social criticism in the poem and their relevance to literature learning in high school. The study used a qualitative descriptive method with a sociology of literature approach, while data collection technique was carried out by note-taking because it was in writing form. The content analysis technique to analyze the data. The results showed that there were three forms of social criticism, namely (1) social criticism of the arbitrariness of state officials, (2) social criticism in the form of family disorganization, and (3) social criticism of government injustice. The social critique in this poem can be used as a reference for literature learning teaching materials, both in the 2013 curriculum and the independent curriculum in high school. AbstrakKritik sosial dalam puisi menjadi siasat pengarang untuk memberikan tanggapannya terhadap berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Puisi Berikan Aku Keadilan karya Fitri Nganthi Wani menarik untuk diteliti karena dianggap sebagai bentuk kritik sosial yang mewakili suara masyarakat dengan gambaran dampak kerusuhan masa Orde Baru, utamanya disorganisasi keluarga. Hal tersebut digambarkan melalui derita hidup pengarang yang juga dirasakan kaum senasib dan seperjuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai bentuk kritik sosial dalam puisi Berikan Aku Keadilan dan relevansinya dengan pembelajaran sastra di SMA. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak catat karena data berupa tulisan, sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan tiga macam bentuk kritik sosial yaitu, (1) kritik sosial terhadap kesewenang-wenangan aparat negara, (2) kritik sosial dalam bentuk disorganisasi keluarga, dan (3) kritik sosial terhadap ketidakadilan pemerintah. Kritik sosial dalam puisi ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi bahan ajar pembelajaran sastra, baik dalam kurikulum 2013 maupun kurikulum merdeka di tingkat SMA.
Cermin Eksploitasi Ekososial Pertambangan dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar Karya Tere Liye: Kajian Sosiologi Sastra Ian Watt Salma Arezha; Amanda Huda; Dwi Susanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7758

Abstract

Teruslah Bodoh Jangan Pintar is a reflection of the government's policy discourse on mining downstreaming, which is busy in 2024. This research aims to reveal the ecosocial mirror in Tere Liye's latest work using Ian Watt's Sociology of Literature approach. The research data is taken from the text of the novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar. The research technique uses reading and note-taking techniques with the method of connecting the relationship between the author's sociology, the content of literary works, and social functions. The results found a mirror of ecosocial exploitation in mining so that this work can be classified as being born from civil society groups representing the voices of marginalised local residents. This work is present because of the protest of mining passivation, the spirit of intelligence on the impact of mining, and efforts to make people critical of mining issues. Ecosocial exploitation mirrors were found in the form of (1) No post-mining activities; (2) Media blackout; (3) Lawyers willing to lie; (4) Officials unwilling to listen to the people; (5) The impact of mining on public health; (6) Mining seizes people's land; (7) Exploitation of workers; and (8) Corruption of mining projects. AbstrakTeruslah Bodoh Jangan Pintar merupakan cerminan dari wacana kebijakan pemerintah tentang hilirisasi pertambangan yang ramai di 2024. Penelitian ini bertujuan mengungkap cermin ekososial dalam karya terbaru Tere Liye menggunakan pendekatan Sosiologi Sastra Ian Watt. Data penelitian diambil dari teks novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Teknik penelitian menggunakan teknik membaca dan mencatat dengan metode menghubungkan keterkaitan antara sosiologi pengarang, isi karya sastra, dan fungsi sosial. Hasilnya ditemukan cermin eksploitasi ekososial dalam pertambangan sehingga karya ini dapat digolongkan lahir dari kelompok masyarakat sipil yang mewakili suara warga setempat yang termarjinalkan. Karya ini hadir karena protes pemasifan pertambangan, semangat pencerdasan dampak tambang, dan upaya membuat masyarakat kritis terhadap isu pertambangan. Ditemukan cermin eksploitasi ekososial berupa (1) Tidak ada aktivitas paska tambang; (2) Pemberedelan media; (3) Pengacara rela berbohong; (4) Pejabat tidak mau mendengarkan rakyat; (5) Dampak pertambangan bagi kesehatan masyarakat; (6) Pertambangan merampas tanah rakyat; (7) Eksploitasi pekerja; dan (8) Korupsi proyek tambang.
SEJARAH POLITIK INDONESIA DALAM NOVEL LARASATI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER Andri Wicaksono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.340

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan realitas sejarah sosial-politik Indonesia dalam novel Larasati karya Pramoedya Ananta Toer dengan perspektif New Historicism. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretif dengan paralel pembacaan antara karya sastra dengan teks sejarah dan desain analisis isi. Gambaran realitas sejarah sosial dan politik Indonesia (periode 1945 hingga 1966) dalam novel Larasati dengan perspektif New Historicism Greenblatt dianggap efektif untuk mengeksplorasi fenomena teks sastra. Novel ini secara langsung berkaitan dengan manifestasi politik Indonesia yang meliputi (1) struktur ideologi yang digunakan untuk memperkuat kekuatan berbasis negara, dan (2) praktik diskursif, bahasa politik yang mengacu pada konstruksi pengetahuan melalui bahasa yang memberi makna pada segi material dan praktik sosial-politik yang melingkupinya.Kata-kata kunci: historisisme baru, ideologi, politik, praktik diskursif Abstract: This study aimed to describe the nature of social and political history reality of Indonesia in novel Larasati by Pramoedya Ananta Toer through New Historicism perspective. The research used interpretive qualitative method on the readability parallel between literary and historical texts also content analysis design. The description of social and political history reality of Indonesia (period 1945 until 1966) in the novel by using the perspective of New Historicism Greenblatt is considered effective in exploring the phenomenon of literary text. The novel is directly related to the political manifestation of Indonesia that covers (1) ideology structure used to reinforce the state-based power and (2) political discursive practices, the political language that refers to the knowledge construction through the language that gives meaning to the material aspects and social practices. Keywords: new historicism, ideology, political, discursive practices 
Konflik Tokoh Utama dalam Novel Panganten Karya Deden Abdul Aziz: Kajian Psikoanalisis Sosial Karen Horney Denny Adrian Nurhuda; Dedi Koswara; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes; Yuliani Yuliani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.5256

Abstract

This study aims to explain the conflict phenomenon and types, also its resolution efforts made by the main character in the novel Panganten by Deden Abdul Aziz. The descriptive-qualitative research uses Karen Horney's literary psychology approach (psychoanalysis theory), which emphasizes that literature is a reflection of society, to analyze the data. The data analysis technique of this research is interpretative descriptive analysis. The results show that there are interpersonal conflicts between characters in this novel and intrapsychic conflicts consisting of despised real self, real self, ideal self, and actual self. In addition, conflict resolution efforts that occur in this novel are approaching others, fighting others, and staying away from others. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena, jenis, dan upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh karakter utama dalam novel Panganten karya Deden Abdul Aziz. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra Karen Horney yang menekankan bahwa sastra merupakan cerminan masyarakat. Penelitian deskriptif kualitatif dengan teori psikoanalisis sosial Karen Horney ini menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk menganalisis datanya. Teknik analisis data penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konflik interpersonal antartokoh dalam novel dan konflik intrapsikis yang terdiri atas diri rendah (despised real self), diri nyata (real self), diri ideal (ideal self), dan diri aktual (actual self). Di samping itu, upaya penyelesaian konflik yang terjadi dalam novel ini adalah mendekati orang lain, melawan orang lain, dan menjauhi orang lain. 
Simbolisme Penyembuhan dalam Serat Tetamba II Kajian Semiotik Riffaterre Bella Nur Putri; Yosi Wulandari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8416

Abstract

The aim of this study is to reveal the hidden meanings of the symbols in the text and their role in clarifying traditional healing practices in Java. The method employed is a qualitative approach through literature study, which includes exploring the Serat Tetamba II manuscript, the transformed script, and relevant references related to Javanese healing culture. Data analysis was conducted using Riffaterre’s semiotic theory, which examines shifts in meaning through the mechanisms of displacing, distorting, and creating, as well as the hypogram as a source of hidden meaning that shapes the symbolic structure of the text.The findings indicate that various healing symbols in the manuscript such as colors, animals, sacred objects, medicinal plants, and mantras function not only as technical tools in treatment but also as spiritual elements that strengthen the symbiosis between humans and supernatural forces. These symbols show that healing in Javanese tradition is holistic, integrating physical, mental, and cosmological dimensions. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap arti tersembunyi dari simbol-simbol dalam teks dan peranannya dalam memperjelas praktik pengobatan tradisional yang ada di Jawa. Metode yang diterapkan adalah pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, yang mencakup eksplorasi naskah Serat Tetamba II, hasil transformasi aksara, serta referensi literatur yang berhubungan dengan budaya penyembuhan di Jawa. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori semiotik Riffaterre yang meneliti cara-cara penyimpangan makna melalui mekanisme displacing, distorting, dan creating, serta hypogram sebagai sumber makna tersembunyi yang membentuk struktur simbolik dalam teks. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa beragam simbol penyembuhan dalam naskah, seperti warna, hewan, benda pusaka, tanaman obat, dan mantra, tidak hanya berperan sebagai alat teknis dalam pengobatan, tetapi juga sebagai elemen spiritual yang memperkuat simbiosis antara manusia dan kekuatan supernatur. Simbol-simbol ini menunjukkan bahwa penyembuhan dalam tradisi Jawa bersifat holistik, menggabungkan dimensi fisik, mental, dan kosmologis.
Kekerasan Simbolik Terhadap Karakter Homoseksual dalam Novel Lelaki Terindah karangan Andrei Aksana Desca Angelianawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.1740

Abstract

Homosexuality is a controversial topic in Indonesia because Indonesia is considered as a conservative country concerning one’s sexual preferences. This social phenomenon is binding as it restricts the identity construction of sexual preferences in Indonesia. Relating it to literary arena, this issue is addressed in several Indonesian literatures by Indonesian novelists like Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Ratih Kumala and Andrei Aksana. Taking Aksana’s novel Lelaki Terindah as the object of the study, this paper analyses (1) how symbolic violence operates in the novel (2) how this novel resists the hetero-normativity in Indonesia. The library study is taken to deepen the analysis. The finding shows that (1) the form of symbolic violence is represented with the normalisation of the LGBT characters. (2) This novel also challenges the concept of Indonesian heteronormativity by representing the LGBT character and rising the issue about homosexuality in Indonesia. AbstrakHomoseksualitas selalu menjadi topik yang kontroversial di Indonesia karena Indonesia dianggap sebagai negara yang cukup konservatif terutama menyangkut preferensi seksual seseorang. Fenomena sosial ini tentunya bagi sebagian orang dianggap mengikat dan membatasi pilihan seksual seseorang. Dalam kaitannya dengan kesusastraan, tema homoseksualitas ini diangkat oleh beberapa novelis dalam karya sastra mereka, seperti Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, dan Andrei Aksana. Novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana diambil sebagai obyek studi untuk  penelitian ini dengan menganalisis (1) bentuk kekerasan simbolik dalam novel ini dan (2) bagaimana novel ini menentang heteronormativitas di Indonesia. Melalui metode studi pustaka, peneliti mendapati bahwa (1) bentuk kekerasan simbolik dalam novel Lelaki Terindah direpresentasikan dengan bentuk penormalan identitas seksual pada karakter LGBT. (2) Novel tersebut juga merupakan bentuk penentangan terhadap konsep heteronormativitas di Indonesia dengan menampilkan karakter LGBT dan mengangkat isu mengenai homoseksualitas yang ada di Indonesia. 

Page 4 of 27 | Total Record : 266