cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
‘Mencairnya’ Kuasa: Sastra, Subjektivitas Cair, dan Resistensi terhadap Kuasa Budaya dan Negara dalam Perspektif Poskolonial Ikwan Setiawan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i1.17

Abstract

Artikel ini, dengan orientasi konseptual-teoretis dan metodologis, akan membahas cairnya kuasa budaya dan negara dalam struktur naratif sastra, dengan menggunakan pendekatan poskolonial. Narasi sastra bisa diposisikan sebagai produk representasi yang menghadirkan subjektivitas cair, berupa tokoh naratif dan wacana partikular, terkait permasalahan sosial-budaya, khususnya hibriditas kultural. Kehadiran modernitas dan berlangsungnya praktik budaya tradisional dalam masyarakat pascakolonial menyebabkan timbul permasalahan tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa subjektivitas cair, di satu sisi, bisa memunculkan wacana emansipasi untuk memberdayakan masyarakat lokal dan, di sisi lain, bisa memunculkan resistensi terhadap kuasa berbasis budaya tersebut. Oposisi biner antara Barat dan Timur menjadi sangat cair, karena subjek poskolonial bisa menggunakan pemikiran modern untuk mendekonstruksi keutuhan modernitas maupun keutuhan budaya tradisional. Namun, ketika negara menerapkan neoliberalisme, subjektivitas cair dan hibriditas kultural perlu ditafsir-ulang. Kuasa budaya tradisi dan negara akan mendapatkan pemaknaan-baru dan resistensi; karena prinsip kebebasan individual dalam hukum pasar menuntut kehadiran minimum kedua entitas tersebut. Kondisi itu memunculkan peluang untuk mengkritisi dan memodifikasi kajian poskolonial.Kata kunci: struktur naratif, subjektivitas cair, resistensi, kajian poskolonial, neoliberalisme
Pandangan Dunia William Faulkner dalam Cerpen A Rose For Emily (Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann) Kahar Dwi Prihantono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.957

Abstract

This study aimed to reveal William Faulkner’s world view (vision du monde) in a short story: A Rose for Emily (ArfE). This study applied a dialectical method and a structuralism genetic approach. Issues discussed in this study covered (1) short story structure; (2) William Faulkner's world view; (3) social structure; and (4) social groups represented by authors. Data research in sentences or paragraphs, dialogues, and monologues is available in William Faulkner’s ArfE. Based on the analysis, the writer found relationships of cultural,  natural, and human oppositions. Cultural opposition was characterized by a domination of modern town people’s attitude on conservative town person. Social opposition could be seen in the opposition between town people and Miss Emily. While, human opposition was represented by modern-communal town people and the individual person of Miss Emily. The structure of ARfE expressed both modern and humanism world views. Through the character of town people (as narrators), William Faulkner did not directly present a rejection on Old South conservative values as they were contradicted with ideal humanism values, e.g., the exaltation of past time aristocratic social status that was not in accordance with the modern time. The world view William Faulkner projected was the rise of a new nation in one flag of the Union in order to build America based on equality. Hence,  any repression of other people in terms of their social status would never occurred. This short story was written around 1929 until 1930, the social structure of the South community was hit by bankruptcy due to the Civil War and the community struggled in the Reconstruction Era until the Great American Depression era. By applying a dialectical method, the writer discovered homology between the short story’s structure and the social structure in which the story occurred. Next, the homology expressed Faulkner’s world view of modern humanism. To strengthen his worldview, Faulkner presented an interaction between modern humanism and traditional antisocial ideologies. Care to other people might build interpersonal communication that could minimalize any necrophiliac cases experienced by Miss Emily. AbstrakPenelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman tentang pandangan dunia William Faulkner dalam cerpen “A Rose for Emily” (ArfE). Penelitian ini menggunakan metode dialektik dengan pendekatan strukturalisme genetik. Masalah yang dibahas mencakupi (1) struktur cerpen; (2) pandangan dunia William Faulkner; (3) struktur sosial, dan kelompok sosial yang diwakili oleh pengarang. Data penelitian berupa kalimat atau paragraf, dialog, dan monolog yang terdapat dalam cerpen ArfE karya William Faulkner. Berdasarkan analisis struktur cerpen, penulis menemukan relasi oposisi kultural, oposisi sosial, oposisi alamiah, dan oposisi manusia. Oposisi kultural ditandai sikap manusia modern mendominasi dan mengalahkan manusia konservatif. Oposisi sosial terlihat dari oposisi warga kota dan Miss Emily. Sementara oposisi manusia diwakili penduduk kota yang modern dan Miss Emily yang individual. Struktur cerpen ARfE mengekspresikan pandangan dunia yang modern dan humanis. Lewat tokoh penduduk kota (sebagai pencerita), William Faulkner secara tidak langsung menolak keras konservasi nilai Old South karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ideal, sebagaimana pengagungan status sosial aristokrat di masa lalu sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Pandangan dunia yang ditampilkan William Faulkner adalah bangkitnya bangsa baru dalam satu bendera Union untuk membangun Amerika dengan kesetaraan derajat sehingga tekanan terhadap manusia atas status sosialnya tidak terjadi lagi. Cerpen ini ditulis sekitar tahun 1929 s.d. 1930, struktur sosial masyarakat selatan sedang dilanda kebangkrutan akibat Civil War dan masyarakat sedang berjuang di era Rekonstruksi sampai dengan era American Great Depression. Dengan menggunakan metode dialektik, penulis menemukan homologi antara struktur cerpen dengan struktur sosial tempat cerpen tersebut dilahirkan yang membentuk pandangan dunia William Faulkner dalam mengekspresikan pandangan dunia humanisme modern. Untuk menguatkan pandangan tersebut, Faulkner menggambarkan persentuhan humanisme modern dengan tradisional antisosial. Kepedulian dengan sesama manusia membuka peluang komunikasi antarindividu sehingga memperkecil peluang kasus nekrofilia seperti yang dialami Miss Emily.
Local Wisdom and Didactic Values in Lullaby Kawih Mepende Murangkalih Indra Nugraha Taufik
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4945

Abstract

This research is entitled "Local Wisdom and Didactic Values in Lullaby Kawih Mepende Murangkalih Song". This study aims to examine the lullaby oral tradition in Bandung Regency. In this study, the author tries to record the lullaby that develops in the community. The area that is used as a source of lullabies is the Bandung Regency area. This research method uses descriptive qualitative. The focus is on a comprehensive picture of people's knowledge, skills, and attitudes towards lullabies in the Bandung Regency. The role of the lullaby is essential because it is part of the formation of the nation's character. Through local wisdom and didactic values in the lullaby, the message is expected to form toddlers, young people who have noble character when they grow up. AbstrakPenelitian ini berjudul “Kearifan Lokal dan Nilai-Nilai Didaktik dalam Lagu Lullaby Kawih Mepende Murangkalih”. Penelitian ini bertujuan mengkaji tradisi lisan lullaby di Kabupaten Bandung. Dalam penelitian ini, penulis mencoba merekam lullaby yang berkembang di masyarakat. Daerah yang dijadikan sumber lullaby adalah Wilayah Kabupaten Bandung. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Fokusnya adalah pada gambaran yang komprehensif tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap masyarakat terhadap lagu pengantar tidur di Kabupaten Bandung. Peran lullaby sangat diperlukan karena bagian dari pembentukan karakter bangsa. Melalui kearifan lokal dan nilai-nilai didaktis dalam lullaby, pesan tersebut diharapkan dapat membentuk balita, generasi muda yang berakhlak mulia ketika dewasa nanti.
Representasi Degradasi Keimanan dalam Cerpen “Wabah” Karya Ahmad Mustofa Bisri Arif Rahman; Tristanti Apriyani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7759

Abstract

A decline in one's faith may result from a lack of literacy or knowledge about the ethical principles associated with transcendence. It is of significant importance to enhance the literacy about transcendence, with the objective of elevating the quality of religious individuals. This study aims to elucidate the phenomenon of the degradation of faith as depicted in the short story "Wabah" by Ahmad Mustofa Bisri. The term "ethics of transcendence" is used to describe the formulation of prophetic literary ethics, as proposed by Kuntowijoyo. This study employs a qualitative descriptive research design. The data tabulation in this study employs data sources in the form of words, phrases, and sentences from the short story Wabah by Ahmad Mustofa Bisri, which was published in 2018. The analysis was conducted using the content analysis technique. The researcher acted as the primary data collector and played a role in determining the validity of the data through the triangulation method, until the conclusions were drawn. The results of this study demonstrate the representation of the deterioration of faith in the form of deviations from the Islamic faith, including acts of shirk and deviations from Ihsan, such as acts of slander and gossip. Additionally, the representation of the deterioration of faith in the short story Wabah can be utilized as a reflection of the human condition when confronted with challenges and when faith is often tested by fear, despair, and external pressures that override reason and spirituality. AbstrakKemerosotan keimanan seseorang dapat terjadi akibat kurangnya literasi maupun pengetahuan tentang etika transendensi. Literasi mengenai transendensi penting untuk ditingkatkan demi kualitas beragama umat semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fenomena degradasi keimanan yang ada dalam cerpen Wabah karya Ahmad Mustofa Bisri. Etika transendensi mengacu pada rumusan etika sastra profetik yang dikemukakan Kuntowijoyo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Tabulasi data pada penelitian ini menggunakan sumber data berupa kata, frasa, dan kalimat dari cerpen Wabah karya Ahmad Mustofa Bisri yang terbit di tahun 2018. Metode analisis dilakukan dengan teknik analisis isi (content analysis). Sementara instrumen pada penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai pengumpul data utama dan berperan dalam menentukan validitas data melalui metode triangulasi, hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan representasi degradasi keimanan berupa penyimpangan Iman yaitu perbuatan syirik, penyimpangan Ihsan yaitu perbuatan fitnah dan gibah, serta gambaran tentang perbuatan dosa yang dianggap lumrah. Representasi degradasi keimanan dalam cerpen Wabah dapat dijadikan cerminan atas kondisi manusia ketika dihadapkan pada suatu masalah dan iman seringkali diuji dengan rasa takut, putus asa, dan tekanan dari luar yang mendominasi akal dan spiritualitas.
Resistensi Tokoh-tokoh Perempuan Terhadap Patriarki dalam Novel Garis Perempuan karya Sanie B Kuncoro Delmarrich Bilga Ayu Permatasari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.439

Abstract

This article aims to reveal the meaning of the resistance movement of female characters in the novel Garis Perempuan by Sanie B. Kuncoro. Ranting, Gendhing, Tawangsri and Zhang Mey are adult women who live in the midst of modernity, but have cultural roots that can not be separated from the thick patriarchal law. Raised with different cultural backgrounds, the four characters have their own way of making efforts to reach welfare, personal freedom, and social justice  that are embodied as a whole in the effort to meaning the virginity. By using the concept of criticsm of feminies literature, it can be concluded that virginity is a liquid thing that women use as a form of appreciation of their bodies so that by apreciate its virginity a woman has power over her body ownership which in culture and patriarchy law women's authority over the possessions of their bodies is often ignored. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengungkap pemaknaan atas gerakan perlawanan atau resistensi tokoh-tokoh perempuan dalam novel Garis Perempuan karya Sanie B. Kuncoro. Tokoh Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey merupakan perempuan dewasa yang hidup di tengah arus modernitas namun memiliki akar budaya yang tidak dapat dilepaskan dari hukum patriarki yang kental. Dibesarkan dengan latar budaya yang berbeda-beda, keempat tokoh tersebut memiliki cara-cara tersendiri dalam meraih kesejahteraan, kebebasan pribadi, dan keadilan sosial yang secara keseluruhan diwujudkan dalam upaya pemaknaan terhadap virginitas. Dengan menggunakan konsep kritik sastra feminis dapat disimpulkan bahwa virginitas adalah sesuatu yang bersifat cair yang digunakan oleh perempuan sebagai bentuk penghargaan atas tubuhnya. Dengan mengapresiasi virginitasnya seorang perempuan telah berkuasa terhadap kepemilikan tubuhnya yang dalam budaya dan hukum patriarki kuasa perempuan atas kepemilikan tubuhnya seringkali tidak diindahkan.
Pengaruh Sins of Memory terhadap Trauma dalam Cerpen Rēdāhōzen (レーダーホーゼン) Karya Haruki Murakami Inaqotul Fikroh
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.3971

Abstract

This study aims to explain the impact of sins of memory on trauma in the short story Rēdāhōzen by Murakami Haruki. Rēdāhōzen tells the story of Kanojo who has a trauma caused by his parents' divorce. The trauma that happened to her was influenced by her sins of memory to understand the traumatic events that occurred. The author uses theory of sins of memory initiated by Daniel Sachert and qualitative research methods through application to data collection and data analysis. The results of this study indicate that the sins of memory that affect the characters are found in sins of memory commission in the form of sins of bias and sins of suggestibility. It makes the character experience repeated failures in love relationships and avoids marriage. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh dari sins of memory terhadap trauma dalam cerita pendek Rēdāhōzen karya Haruki Murakami. Rēdāhōzen bercerita tentang Kanojo yang memiliki trauma yang dipicu perceraian orang tuanya. Trauma yang terjadi padanya dipengaruhi oleh kesalahan memorinya (sins of memory) untuk memahami peristiwa traumatis yang terjadi. Penelitian ini menggunakan teori sins of memory yang dicetuskan oleh Daniel Sachert dan metode penelitian kualitatif melalui pengaplikasian dengan pengumpulan data dan analisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sins of memory yang memengaruhi tokoh terdapat dari kesalahan memori commision yang berbentuk dosa bias dan dosa suggestibility. Dosa memori tersebut menjadikan tokoh mengalami kegagalan berulang dalam hubungan percintaan dan keenganan dalam pernikahan.
Entitas Hidup dan Relasi Teologis Material dalam Tradisi Petik Pari: Kajian Neo-Materialisme Ayu Sefiana; Sony Sukmawan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8415

Abstract

This study aims to analyze the meaning of living entities and material theological relations in the tradition of rice harvesting through the perspective of neo-materialism, particularly regarding rice, offerings, and rituals that reflect the Javanese people's views on life and spirituality. A descriptive qualitative approach focused on agricultural ethnography was used to study the tradition practiced in Harjokuncaran Village, Sumbermanjing Wetan District, Malang Regency, from March to June 2025. Data collection included participatory observation, semi-structured interviews with farmers who practice the tradition, and documentation. Data analysis used the Miles and Huberman model within a neo-materialist framework that emphasizes material agency in the context of Javanese agrarian culture. The results of the study show that rice functions as an active actor that has sensitivity and will, manifested through the concepts of pari lanang and pari wadon in the kemantenan ritual. Mbok Sri Kuning acts as a protective spiritual entity that mediates material-immaterial relationships, while offerings, mantras with figurative language (metaphors, antithesis, repetition, pleonasm), and Javanese calendar calculations form a material theological relationship that integrates physical and spiritual dimensions. These findings reveal the concept of distributed agency in Javanese agrarian traditions, namely that the materiality of rice and ritual elements are not merely passive symbols but active actors that form spiritual networks and create cosmic harmony. This research contributes to expanding the understanding of material agency (thing power) in the study of Javanese literature and agrarian rituals, proving that material objects have the capacity to shape cultural and spiritual meanings independently. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis makna entitas hidup dan relasi teologis material dalam tradisi petik pari melalui perspektif neo-materialisme, khususnya mengenai padi, sesajen, dan ritual mencerminkan pandangan masyarakat Jawa tentang kehidupan dan spiritualitas. Pendekatan kualitatif deskriptif yang berfokus pada etnografi pertanian digunakan untuk mengkaji tradisi yang dilakukan di Desa Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang pada periode Maret hingga Juni 2025. Pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan petani pelaksana tradisi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dalam kerangka neo-materialisme yang menekankan agensi material pada konteks budaya agraris Jawa. Hasil penelitian menunjukkan padi berfungsi sebagai aktor aktif yang memiliki kepekaan dan kehendak, diwujudkan melalui konsep pari lanang dan pari wadon dalam ritual kemantenan. Mbok Sri Kuning berperan sebagai entitas spiritual pelindung yang memediasi hubungan material-immaterial, sementara sesajen, mantra dengan struktur majas (metafora, antitesis, repetisi, pleonasme), dan perhitungan hari Jawa membentuk relasi teologis material yang mengintegrasikan dimensi fisik dan spiritual. Temuan ini mengungkapkan konsep distributed agency dalam tradisi agraris Jawa, bahwasanya materialitas padi dan elemen ritual bukan sekadar simbol pasif melainkan aktor yang aktif membentuk jaringan relasi spiritual dan menciptakan harmoni kosmik. Kontribusi penelitian ini memperluas pemahaman agensi material (thing power) dalam kajian sastra dan ritual agraris Jawa, membuktikan bahwa objek-objek material memiliki kapasitas untuk membentuk makna budaya dan spiritual secara independen.
MERAK, IKAN DAN SINGANDARUNG: CITRA SASTRA MASA PERALIHAN HINDU – ISLAM DI LOMBOK Abdullah Maulani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1524

Abstract

Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan bagaimana citra sastra petualangan turut berperan penting pada masa peralihan Hindu–Islam dalam struktur masyarakat Lombok. Salah satu contoh karya sastra peralihan yang masyhur di tengah masyarakat Lombok adalah teks Puspakrema. Sedangkan di dunia kesusasteraan Melayu, Hikayat Indraputra populer pada masa peralihan Hindu–Islam sejak abad ke-15. Kedua karya sastra ini termasuk ke dalam genre sastra petualangan Nusantara. Pendekatan sastra bandingan digunakan oleh peneliti untuk menemukan berbagai persamaan dan perbedaan baik struktur maupun motif cerita dalam kedua karya sastra ini. Secara umum, persamaan keduanya sebagai karya sastra petualangan adalah perjalanan tokoh utama demi mencapai tujuan kebaikan bagi sesamanya. Persamaan juga terlihat pada unsur-unsur cerita seperti penggunaan ikan dan burung merak sebagai simbol universal dalam kesusastraan Nusantara. Adapun perbedaan-perbedaan yang ada dalam kedua karya sastra ini seperti adanya tokoh Singandarung atau singa bersayap yang berasal dari tradisi Hindu‑Bali dalam Puspakrema. menunjukkan kesusastraan Islam yang memiliki unsur kesusasteraan Hindu Bali tetap populer di kalangan masyarakat Sasak sebagai bagian dari identitas dan kekayaan khazanah kesusastraan di Lombok.--Abstract: This article aims to discuss how adventurous literary images play an important role in the Hindu-Islamic transition in the structure of Lombok's society. One of the famous classical literature in Lombok is the text of Puspakrema. Whereas in the Malay literary world, Hikayat Indraputra was popular during the Hindu-Islamic transition since the 15th century. Both of these literary works belong to the archipelago adventure literary genre. The comparative literary approach is used by researcher to find various similarities and differences in both the structure and motives of stories in these two literary works. In general, the similarity of the two as adventurous literary works is the journey of the main character in order to achieve the goal of kindness for each other. Similarities can also be seen in story elements such as the use of fish and peacocks as universal symbols in Nusantara literature. As for the differences that exist in these two literary works such as the presence of Singandarung figures or winged lion originating from the Balinese Hindu tradition in Puspakrema shows that Islamic literature has elements of Balinese Hindu literature remains popular among the Sasak people as part of the identity and wealth of literary treasures on Lombok.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Pasar Tambak Kumandang Nasirudin al mustofa; Ali Imran Al Ma’ruf; Markhamah Markhamah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6433

Abstract

Researchers wish to conduct a study related to local wisdom values in the folklore Tambak Kumandang Market using literary anthropology studies. This research uses a qualitative description method. The strategy used is a single case study with only a focus on one criterion or target. The form of data in this research is words, sentences and discourse. Furthermore, this research uses primary and secondary data sources. This research data collection was carried out using various steps, namely observation, in-depth interviews, recording, noting and document analysis. Then this research uses data validation techniques in the form of triangulation and informant review. There are two triangulations used, namely data source and method triangulation. This research data analysis technique uses an interactive model created by Miles and Huberman. After analysis and discussion, it was concluded that there are seven local wisdoms in the folklore of Tambak Kumandang Market, namely: 1) language system number 4, 2) knowledge system number 10, 3) social organization system number 6, 4) economic system number 10. 3, 5) systems of living equipment and technology number 5, 6) religious systems number 9, and 7) art systems number 3.  AbstrakPeneliti berkeinginan untuk melakukan kajian terkait nilai-nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat Pasar Tambak Kumandang menggunakan kajian antropologi sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi kualitatif. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal dengan fokus pada satu kriteria atau sasaran. Bentuk data pada penelitian ini adalah kata, kalimat, dan wacana. Selanjutnya penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan berbagai langkah, yakni observasi, wawancara mendalam, perekaman, pencatatan, dan analisis dokumen. Kemudian, penelitian ini menggunakan teknik validasi data berupa triangulasi dan informant review. Terdapat dua triangulasi yang digunakan, yakni triangulasi sumber data dan metode. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan model interaktif yang diciptakan oleh Miles dan Huberman. Setelah dilakukan analisis dan pembahasan, maka diperoleh kesimpulan bahwa terdapat tujuh kearifan lokal dalam cerita rakyat Pasar Tambak Kumandang, yakni sistem bahasa sejumlah empat, sistem pengetahuan sejumlah sepuluh, sistem organisasi sosial sejumlah enam, sistem ekonomi sejumlah tiga, sistem peralatan hidup dan teknologi sejumlah lima, sistem religi sejumlah sembilan, dan sistem seni sejumlah tiga.
Base-Superstructure Relations and the Transformation of Class Consciousness in Novel Guru Aini by Andrea Hirata: Literary Sociology Studies of Karl Marx Mahmudah Mahmudah; Nur Nadiyah Herman; Sinar Ansar; Nur Hikma; Wilda Wijayanti; Nurhaeni Nurhaeni
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8597

Abstract

The gap in access to education for the lower class is a structural problem that is not only present in social reality but is also represented in literary works. The novel Guru Aini by Andrea Hirata reflects this problem through the relationship between material conditions and the ideological structure of society. However, previous studies tend to be descriptive and have not revealed the dialectical relationship between bases and superstructures in depth. This study aims to analyze the base-superstructure relationship and the transformation of class consciousness in the novel using the perspective of Karl Marx's social criticism. The method used is qualitative descriptive with a sociological approach to Karl Marx's literature. Data in the form of text excerpts that represent aspects of base, superstructure, and collective consciousness are collected using reading and recording techniques. Data collection was carried out through the reading and note-taking technique. The steps include: (1) reading the novel thoroughly and carefully; (2) identifying and marking the relevant parts of the text with the analysis category; (3) recording the data into a data card containing citations, page numbers, and category codes, while the analysis follows the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data presentation, and conclusions drawn. Data analysis is carried out through the stages of data condensation, data identification, interpretation, and conclusion drawn. The results of the study show that the base is represented through structural poverty, limited access to education, and unequal production relations, while the suprastructure exists as an ambivalent education system, which reproduces inequality while opening up the space for emancipation. The transformation of the class consciousness of the character takes place through contradictory experiences that encourage the emergence of a critical awareness of an unjust system. Abstrak Kesenjangan akses pendidikan bagi kelas bawah merupakan persoalan struktural yang tidak hanya hadir dalam realitas sosial, tetapi juga direpresentasikan dalam karya sastra. Novel “Guru Aini” karya Andrea Hirata mencerminkan persoalan tersebut melalui relasi antara kondisi material dan struktur ideologis masyarakat. Namun, kajian sebelumnya cenderung bersifat deskriptif dan belum mengungkap hubungan dialektis antara basis dan superstruktur secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi basis-superstruktur dan transformasi kesadaran kelas dalam novel tersebut menggunakan perspektif kritik sosial Karl Marx. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologi satra Karl Marx. Data berupa kutipan teks yang merepresentasikan aspek basis, superstruktur, dan kesadaran kolektif, data dikumpulkan teknik baca dan catat. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca-catat (reading and note-taking). Langkah-langkahnya meliputi: (1) membaca novel secara menyeluruh dan cermat; (2) mengidentifikasi dan menandai bagian-bagian teks yang relevan dengan kategori analisis; (3) mencatat data ke dalam kartu data yang memuat kutipan, nomor halaman, dan kode kategori, sedangkan analisis mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis data dilakukan melalui tahapan kondensasi data, identifikasi data, interpretasi dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa basis direpresentasikan melalui kemiskinan struktural, keterbatasan akses pendidikan, dan relasi produksi yang timpang, sedangkan suprastruktur hadir sebagai sistem pendidikan yang bersifat ambivalen, yakni mereproduksi ketimpangan sekaligus membuka ruang emansipasi. Transformasi kesadaran kelas tokoh berlangsung melalui pengalaman kontradiktif yang mendorong munculnya kesadaran kritis terhadap sistem yang tidak adil.

Page 5 of 27 | Total Record : 266