cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
ASPEK SEMIOTIS DALAM PUISI BERTEMA MALAIKAT Resti Nurfaidah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i1.13

Abstract

Malaikat selalu identik dengan kesetiaan, ketaatan, keindahan, kekuatan, dan keanggunan. Malaikat senantiasa diagungkan dan memiliki tempat yang khusus dalam ranah religi sebagai kepanjangan tangan Tuhan. Demikian agungnya makhluk yang diciptakkan Allah dari cahaya itu hingga ditempatkan pada posisi kedua Rukun Iman (dalam agama Islam).Namun, tidak semua malaikat digambarkan dalam situasi baik. Beberapa penyair di dunia siber mengungkapkan sosok yang berbeda tentang malaikat di dalam karya mereka. Malaikat mengalami metamorfosis yang demikian luas tidak hanya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling setia, tetapi lebih sebagai refleksi atas beberapa fenomena yang terjadi di dalam kehidupan nyata. Makalah ini memaparkan mitos malaikat dalam puisi pada beberapa situs pencarian. Analisis pada sumber data dilandasi teori semiotik Roland Barthes, terutama pada sistem pemaknaan sekunder (konotasi dan metabahasa). Sosok malaikat dalam puisi sangat beragam. Malaikat tidak lagi merujuk pada makhluk yang diciptakan Tuhan dari cahaya, tetapi pada manusia dalam berbagai status. Mitos tersebut malaikat dalam puisi juga dapat mengundang reaksi beragam.Kata Kunci: malaikat, puisi, mitos, konotasi, denotasi
REPRESENTASI IDENTITAS dan DEMOKRASI DALAM TRADISI LISAN DI WILAYAH 3T (MENTAWAI dan NIAS) Sastri Sunarti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3605

Abstract

Penelitian ini fokus pada persoalan identitas dan demokrasi di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal dengan asumsi bahwa masyarakat 3T merupakan masyarakat yang masih hidup dengan nilai-nilai tradisional dan tertinggal secara ekonomi seperti hak ekosob (ekonomi, sosial, dan budaya). Ketertinggalan pada hak ekosob akan berujung pada ketiadaaan kesetaraan hak sebagai warga negara Indonesia. Untuk mengetahui identitas pada masyarakat di wilayah 3T adalah melalui penggalian cerita asal-usul nenek moyang dan suku bangsa yang biasanya masih tersimpan dalam ingatan para penutur dan pemilik cerita tersebut seperti pada masyarakat Mentawai dan Nias. Melalui cerita asal-usul tersebut juga akan digali bagaimana nenek moyang pada kedua masyarakat di Mentawai dan Nias mewariskan cara menyelesaikan konflik dan perbedaan yang terjadi di tengah mereka. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melaluI kerja lapangan (field research). Data yang tersimpan dalam ingatan masyarakat akan dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam dan perekaman, baik secara auditif maupun visual. Hasil dari penelitian diharapkan diperoleh gambaran identitas dan demokrasi yang tersimpan dalam tradisi lisan yang dimiliki oleh masyarakat di wilayah 3T seperti di Mentawa dan Nias. Nilai-nilai lokal yang merepresentasikan identitas dan demokrasi tersebut biasanya dilegalkan dalam sebuah lembaga adat milik masyarakat tersebut. Satu cara bermusyawarah dan mufakat yang disebut dengan Orahu milik masyarakat dari desa Hilinawalo Batusalawa, Nias Selatan adalah model demokrasi lokal yang berhasil ditemukan dalam penelitian ini. Orahu membuktikan bahwa praktik bermusyawarah mufakat dalam penyelesaian konflik masih digunakan oleh masyarakat tradisi di wilayah 3T. Hasil dari penelitian ini juga bertujuan mendukung komitmen pemerintah untuk membangun Indonesia dari pinggiran, memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan pendidikan demokrasi berbasis tradisi lisan di wilayah 3T.
Kajian Sastra Ekologis terhadap Novel Arah Langkah Karya Fiersa Besari Indah Cintia Lestari; Hetilaniar Hetilaniar; Juaidah Agustina
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.3897

Abstract

 This research uses Fiersa Besari's novel "Arahan Step" as a material object and an ecological study related to local wisdom, the relationship between language and the environment that makes literary works as a formal object. The theories used are ecolinguistics, eco-sastra and eco-culture. Ecolinguistics itself will discuss the study side of the language used in the novel, while ecosastra itself helps, determines and explores and even solves ecological problems in a broad sense. The potential toexpress ideas about the surrounding environment, including the values of environmental wisdom and eco-culture are from real life, developed by the author using imagination. The results of these creatives gave birth to literary works that raised a certain culture as a storyline. Basically ecology, literature and culture are three important things that are closely related, the three complement each other, help each other and inspire each other in creating a work. The research method used is descriptive qualitative method. The focus of this research is the study of literary ecology on the novel Arah Step by FiersaBesari, while the sub-focus of this research is ecolinguistics, eco-sastra and eco-culture on the novel Arah Step by Fiersa Besari. This research was conducted with the aim of identifying and analyzing based on the study of literary ecology in Fiersa Besari's novel Directions of Steps and its relationship to the environment, literature and culture shown in the novel. AbstrakPenelitian.ini.menjadikan novel Arah Langkah karya Fiersa Besari sebagai objek material kajian ekologis yang berhubungan menggunakan kearifan lokal, keterkaitan antara bahasa dan  lingkungan yang mengakibatkan karya sastra sebagai objek formal. Teori yg digunakan artinya ekolinguistik, ekosastra, ekobudaya. Ekolinguistik itu sendiri   akan membahas sisi kajian bahasa yg digunakan dalam novel tadi, sedangkan ekosastra membantu, menentukan, dan  mengeskplorasi bahkan merampungkan dilema ekologi pada artian yang luas. Selain itu, berpotensi mengatakan gagasan wacana lingkungan sekitarnya, termasuk nilai-nilai kearifan lingkungan.Ekobudaya yakni kehidupan konkret yg dikembangkan oleh pengarang memakai daya imajinasi . hasil kreatif tadi melahirkan karya sastra yg mengangkat budaya tertentu sebagai alur cerita. intinya ekologi, sastra,  budaya ialah 3 hal penting yg sangat berkaitan. Ketiganya saling melengkapi, saling membantu, serta saling memberikan inspirasi dalam membangun sebuah karya. Metode penelitian yg dipergunakan metode naratif kualitatif. fokus dalam penelitian ini adalah kajian ekologi sastra terhadap novel Arah Langkah karya Fiersa Besari, sedangkan subfokus penelitian ini adalah ekolinguistik, ekosastra serta ekobudaya terhadap novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Penelitian ini dilakukan menggunakan tujuan buat mengidentifikasi, menganalisis sebuah karya berdasarkan kajian ekologi sastra pada novel Arah Langkah serta hubungannya menggunakan lingkungan, sastra, serta budaya yg diperlihatkan dalam novel tersebut.
STILISTIKA DAN UNSUR KEALAMAN DALAM CIAM SI: PUISI-PUISI RAMALAN KARYA TAN LIOE IE Puji Retno Hardiningtyas
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i2.470

Abstract

This study aims to analyze (1) the stylistic of Ciamsi:Puisi-Puisi Ramalan; (2) The faulty elements of Chinese culture in Ciam Si: Puisi-Puisi Ramalan. Data collection of this research use literature review and observation method by technical note. This study is analyzed by using hermeneuticmethods and content analysis techniques, etnography approach with stylistic theory and ecocritic. The analysis showed that Ciam Si poetry is a forecasts poetry generally used in the Chinese community in temple rituals. The Stylistic element in Ciam Si is Tang Dynasty poetry, consist of four rows, the first row as an opener and the fourth line as the closing, each row is generally seven syllables. Meanwhile, the faulty element of Ciam Si is a Chinese tradition that is believed to the three concepts of nature: the celestial world, the natural world, and afterlife. Therefore, Ciam Si: Puisi-Puisi Ramalan illustrates the strong tradition of the spirituality of nature combined with the traditions and rituals of Chinesesociety as a form of environmental preservation. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis (1) stilistika Ciam Si:Puisi-Puisi Ramalan; (2) unsur kealaman budaya Tionghoa dalam Ciam Si: Puisi-Puisi Ramalan. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode pustaka dan simak dengan teknik catat. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode hermeneutik dan teknik analsisis kontens, pendekatan etnografi dengan teori stilistika dan ekokritik. Hasil analisis menunjukkan bahwa puisi Ciam Si merupakan puisi ramalan yangumumnya digunakan masyarakat Tionghoa dalam ritual di Klenteng. Unsur stilistika pada puisi Ciam Si berbentuk syair Dinasti Tang, terdiri atas 4 baris, baris pertama sebagai pembuka dan baris keempat sebagai penutup, tiap barisnya umumnya tujuh suku kata. Sementara itu, unsurkealaman pada Ciam Si merupakan tradisi Tionghoa yang mempercayai tiga konsep alam: alam langit, alam bumi, dan alam baka. Oleh karena itu, Ciam Si: Puisi-Puisi Ramalan menggambarkan tradisi yang kuat tentang spiritualitas alam berpadu dengan tradisi dan ritual masyarakat Tionghoa sebagai bentuk pelestarian lingkungan.
Potret Guru Mengaji dalam Novel Ghuffron Karya Humam S. Chudori Robiatul Aliyah; Novi Diah Haryanti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4795

Abstract

The role of the teacher cannot be separated from the task of optimizing education. The community environment knows violation education which is closely related to Quran teachers. The discussion about teachers in literary works is interesting to study, one of them is in the novel Ghuffron by Humam S. Chudori, which tells about the ups and downs of a Quran teacher. This study aims to describe the portrait of the Quran teachers found in the novel. This research uses literature study with qualitative descriptive approach, note-taking technique to collect data in the form of quotations from the novel as data analysis method and literature sociology as approaches. The results show that the portrait of the Quran teacher, based the community views, as a person who is knowledgeable, respected and trusted, sincerel and professional because teaching is a noble job. AbstrakPeran guru tidak lepas dari tugas untuk mengoptimalkan pendidikan. Lingkungan masyarakat mengenal pendidikan langgar yang erat kaitannya dengan guru mengaji. Pembahasan tentang guru dalam karya sastra menarik untuk dikaji, salah satunya dalam novel Ghuffron karya Humam S. Chudori, yang menceritakan tentang lika-liku kehidupan guru mengaji. Penelitian yang menggunakan studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif ini bertujuan mendeskripsikan potret guru mengaji yang terdapat dalam novel tersebut. Selain itu, peneliti menggunakan metode analisis data dengan teknik simak catat dan mengumpulkan data berupa kutipan dalam novel serta menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Hasil analisis menunjukan bahwa potret guru mengaji berdasarkan pandangan masyarakat adalah sebagai orang yang berilmu, berpengetahuan, dihormati dan dipercaya masyarakat, ikhlas, profesional karena guru merupakan pekerjaan yang luhur dan mulia.
METAFORA PERJALANAN DALAM KUMPULAN PUISI SERAH KARYA ERIS RISNANDAR Hera Lyra
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1742

Abstract

Peneliltian ini mengungkap metafora perjalanan yang ada dalam buku kumpulan puisi Serah karya Eris Risnandar. Penelitian ini menggunakan analisis metafora dan analisis simbol dengan memanfaatkan teori hermeneutika Paul Ricoeur. Hasil penelitian terhadap delapan dari 45 puisi dalam buku Serah yang berjudul “Dina Beus”, “Hayang Balik”, “Sabot Ngadagoan”, “Sabot Ngangkleung”, “Di Lampu Merah”, “Sorangeun”, “Réa Tapak”, dan “Mun Seug” menggambarkan pentingnya metafora perjalanan yang menjadi roh keseluruhan isi dan makna puisi sang penyair. Selain itu, melalui metafora perjalanan, satu puisi dan puisi lainnya dalam buku Eris tersebut memiliki hubungan dan ada pada satu napas yang sama.
Unsur Budaya dalam Naskah “Wawacan Suluk Ki Ganda jeung Ki Sari” Deni Abdul Ghoni; Yeni Herlina; Yayat Sudaryat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7032

Abstract

This research aims to describe the cultural elements in the Wawacan Suluk Ki Ganda jeung Ki Sari manuscript, which generally contains matters of Islamic monotheism. This research uses a descriptive qualitative approach with literature and document study methods. Data sources in the form of WSKGKS manuscripts were obtained from the National Library of Indonesia website with the number Plt. Plt 36 case 121. Then, the data was obtained using the seven elements of culture according to Koentjaraningrat. Of the seven cultural elements studied, only six elements appear in this manuscript, which include 1) religious system, 2) organizational system, 3) knowledge system, 4) language, 5) art, and 6) technology system, while the livelihood system does not appear at all. From the analysis of each of these cultural elements it shows that the elements or cultural systems that emerge are very attached and wrapped in Islamic principles. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur budaya yang ada dalam naskah Wawacan Suluk Ki Ganda jeung Ki Sari (WSKGKS) yang secara umum memuat perihal ketauhidan agama Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dari pemanfaatan langkah kerja filologi dan penggunaan teori tujuh unsur budaya menurut Koentjaraningrat. Sumber data berupa naskah WSKGKS yang didapatkan dari laman Perpustakaan Nasional RI dengan nomor Plt. Plt 36 peti 121. Dari tujuh unsur budaya yang diteliti, hanya enam unsur yang muncul dalam naskah ini, yaitu 1) sistem religi, 2) sistem organisasi, 3) sistem pengetahuan, 4) bahasa, 5) kesenian, dan 6) sistem teknologi, sedangkan sistem mata pencaharian tidak muncul sama sekali. Dari hasil analisis setiap unsur budaya tersebut terlihat bahwa unsur-unsur atau sistem-sistem kebudayaan yang muncul sangat melekat dan dibalut oleh prinsip keislaman.
The Representation of Lakes as Traces of Curses and Punishments in Indonesia Folklore: An Ecocritical Study Rahma Nurul Aini; Wachid Eko Purwanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8556

Abstract

This study is motivated by the existence of folktales about the origins of lakes in the Indonesian archipelago, which not only explain geographical phenomena but also represent the relationship between human behavior and environmental change as a consequence of violations of moral and social values. This study aims to uncover narratives of curses and punishments in the folktales of lakes in the Indonesian archipelago through an ecocritical literary approach using six concepts from Garrard (2012) namely pollution, wilderness, apocalypse, dwelling, animals, and earth. The study employs a qualitative descriptive method with data consisting of seven folktales: The Origin of Lake Toba, Lake Laut Tawar, Lau Kawar, Lake Maninjau, The Legend of Bulalo La Limutu, Telaga Warna, and Lake Tes. The results of the study indicate that lakes in folk tales are not merely interpreted as moral consequences of human actions but also represent ecological responses to the disruption of environmental balance and function as new ecological spaces that sustain the social and economic lives of surrounding communities. Furthermore, folklore serves as a pedagogical device that instills moral values, social norms, and ecological awareness, emphasizing that humans are part of nature, not its rulers (anthropocentric). Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan cerita rakyat asal-usul danau di Nusantara yang tidak hanya menjelaskan fenomena geografis, tetapi juga merepresentasikan hubungan antara perilaku manusia dan perubahan lingkungan sebagai konsekuensi pelanggaran nilai moral dan sosial. Penelitian ini bertujuan mengungkap narasi kutukan dan hukuman dalam cerita rakyat danau di Nusantara melalui pendekatan ekokritik sastra menggunakan enam konsep Garrard (2012), yaitu pollution, wilderness, apocalypse, dwelling, animals, dan earth. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa tujuh cerita rakyat, yaitu Asal-Usul Danau Toba, Danau Laut Tawar, Lau Kawar, Danau Maninjau, Legenda Bulalo La Limutu, Telaga Warna, dan Danau Tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa danau dalam cerita rakyat tidak hanya dimaknai sebagai konsekuensi moral atas tindakan manusia, tetapi juga merepresentasikan respons ekologis terhadap terganggunya keseimbangan lingkungan serta berfungsi sebagai ruang ekologis baru yang menopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Selain itu, cerita rakyat berfungsi sebagai sarana pendidikan (pedagogical device) yang menanamkan nilai moral, norma sosial, serta kesadaran ekologis bahwa manusia merupakan bagian dari alam, bukan penguasa alam (anthropocentric).
Rubayat Hamzah Fansuri: Kajian Strukturalisme-Semiotika Medri Osno
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.367

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan bentuk struktur Rubayat Hamzah Fansuri dan menemukan makna melalui pembacaan semiotika. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pemaparan naratif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan teknik catat. Metode analisis merujuk pada model analisis strukturalisme. Untuk menganalisis makna, metode analisis yang digunakan merujuk pada model analisis semiotika. Metode penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal. Temuan penelitian ini adalah bentuk struktur bahasa melalui sistem pemakian diksi memiliki proses sosial yang beragam. Keberagaman ini menentukan dan ditentukan oleh diksi yang terstruktur menurut kebutuhan. Pemaknaan karya secara semiotika melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik. Secara keseluruhan Rubayat penuh dengan ironi dan hiperbola yaitu melebih-lebihkan sesuatu keadaan atau hal. Semua itu merupakan ”defamiliarisasi” atau ”deotomatisasi” untuk menimbulkan daya pesona sajak atau untuk membuat aneh (making strange) sehingga menarik perhatian.
KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA INDONESIA Teguh Supriyanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.434

Abstract

The Goal of this research is to identify and to discribe (1) the work of the classical Indonesian literature still oriented to the local wisdom (2) the work of modern Indonesian literature-period 2000 th still oriented to the local wisdom. The data were taken by using random sampling. Using the structural-semiotics method and dialectics method can be found (1) the work of the classical Indonesian literature still oriented to the local wisdom. The character values are still looked after by the writers. in 2000-th, the writers are still loyalty to the local wisdom. The research implicate that the works of modern Indonesian literature, aspecially in 1980s until 2000 period are good for the material of the teaching literature in school. The Balai Pustaka period can be said the cutting period, when we put the history of Indonesian literature on the orientation system of local genus. So that, the history of Indonesian literature which began from the classical period arose in 1980s.AbstrakTujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsi (1) apakah karya sastra Indonesia klasik berorientasi pada kearifan lokal? (2) apakah karya sastra Indonesia modern periode 2000-an berorientasi pada kearifan lokal. Data penelitian ini diambil secara random. Melalui metode struktural-semiotik serta dialektik didapat hasil penelitian sebagai berikut. Teks sastra klasik, terutama dalam sastra Jawa klasik sarat dengan muatan kearifan lokal, yang memelihara nilai-nilai karakter. Pada era tahun 2000an, sikap menjunjung kearifan lokal ternyata masih ditampilkan. Implikasi lain, karya sastra Indonesia periode 1980-an sampai periode 2000-an layak digunakan sebagai materi pengajaran sastra Indonesia. Era tradisi Balai Pustaka merupakan era pemenggalan sejarah sastra Indonesia, jika dilihat pada sistem orientasi kearifan lokal. Dengan demikian, perjalanan sejarah sastra Indonesia yang dimulai dari sastra Indonesia klasik yang berorientasi pada kearifan lokal muncul kembali pada era 1980-an.