cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
JEJAK PUISI RENDRA DALAM NASKAH DRAMA: KAJIAN RESEPSI SASTRA DAN INTERTEKTUALITAS Tri Amanat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.602

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan hubungan antara naskah drama Suto Mencari Bapak karya M. Ulil Albab dan Nasrudin Yusuf Reza dengan puisi karya W.S. Rendra “Mencari Bapak” dan bagaimana bentuk hubungannya. Masalah penelitian ini terkait dengan reaksi pembaca setelah membaca sebuah karya yang mengkonkretkan tanggapan mereka dalam bentuk sebuah karya baru. Melalui pendekatan resepsi sastra dan intertektualitas, penelitian ini berusaha menemukan hubungan dan bentuk hubungan antara kedua karya sastra dengan membandingkan elemen-elemennya. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pembacaan dan pencatatan yang kemudian dianalisis dengan teknik komparatif-induktif, kategorisasi, dan inferensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah drama Suto Mencari Bapak merupakan teks konkretisasi hasil resepsi pembaca puisi “Mencari Bapak”. Dalam prosesnya, elemen-elemen yang diresepsi mengalami pengolahan sedemikian rupa berdasarkan horison harapan dan gudang pengalaman pembaca dengan memanfaatkan ruang-ruang terbuka yang terdapat dalam teks puisi. Resepsi produktif elemen-elemen puisi di dalam naskah drama meliputi aspek person, aspek peristiwa, aspek latar, dan aspek tematik. Adapun model resepsi yang ditemukan ada dua. Pertama, model afirmatif dengan varian peminjaman pada sebagian aspek person, peristiwa, dan latar. Kedua, model ekspansi dengan varian penggantian pada sebagian aspek person, peristiwa, dan latar. Varian penggeseran pada sebagian aspek person, peristiwa, latar, dan tematik. Varian penggabungan pada sebagian aspek person. Varian pemadatan pada sebagian aspek person dan peristiwa. Abstract: This study aims to find the relationship between the drama script of Suto Mencari Bapak  creating by M. Ulil Albab and nasrudin Yusuf Reza with W.S. Rendra’s poem Mencari Bapak  and how it relates. This research problem is related about the reader's reaction after reading a work that concretizes their response in the form of a new work. Through the approach of literary receptions and intertextuality research attempts to find the relationship and form of relationship between the two works of literature by comparing its elements. The data were collected by reading and recording which were then analyzed by comparative-inductive, categorization, and inference techniques. The results show that the play script is a concrete text of the receptive reader results of poetry Mencari Bapak. In the process the perceived elements undergo processing in such a way based on the horizon of expectation and the repertoire of the reader's by utilizing the Indeterminate Sections in the poem. The productive receptions of the poetry elements in the drama include personality aspects, event aspects, background aspects, and thematic aspects. While the recipe model found there are two. First, the affirmative model with the borrowing variant on some aspects of person, event, and background. Second, the expansion model with replacement variants on some aspects of person, event, and background. Variants shift in some aspects of person, event, background, and thematic. Variant of combining on some aspects of person. Variant compaction on some aspects of person and event.
Fokalisasi pada Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi: Kajian Naratologi Gerard Genette Mellinda Raswari Jambak; M. Anwar Masadi; Ummi Hasanah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6019

Abstract

Very often, focalization in the study of narratology is neglected in its use in literary works. The point of view in a short story or novel is one of the basics for understanding literary works. Based on this, focalization becomes one of the most important elements in the intrinsic structure of literary works. This study aims to describe the forms of internal and external focalization in the novel Ranah 3 Warna by Ahmad Fuadi. The method used is narrative method and structural approach. The theory used as a knife of analysis is Gerard Genette's theory of narratology. Words, phrases, sentences in the novel Ranah 3 Warna related to relevant theories will be the focus of the study. Data was collected by reading and note technique. The results of this study found three internal focalization data from the novel Ranah 3 Warna which represent other data. Alif describes several figures, namely Rusdi, Wira, and Agam. While on external focalization, Alif received information from several figures, namely Mr. Etek Gindo, Ustad Salman and Asti, his classmate at FISIP AbstrakSering sekali fokalisasi dalam kajian naratologi diabaikan penggunaannya dalam karya sastra. Sudut pandang dalam sebuah cerpen atau novel menjadi salah satu dasar tercapainya pemahaman karya sastra. Berdasarkan hal tersebut, fokalisasi menjadi salah satu elemen terpenting dalam struktur intrinsik karya sastra. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk fokalisasi internal dan fokalisasi eksternal dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi. Metode yang digunakan ialah metode naratif dan pendekatan struktural. Teori yang dipakai sebagai pisau analisis adalah teori naratologi Gerard Genette. Kata, frasa, kalimat pada novel Ranah 3 Warna yang berkaitan dengan teori yang relevan akan menjadi fokus kajian. Data dikumpulkan dengan teknik baca dan catat. Hasil penelitian ini ditemukan tiga data fokalisasi internal dari novel Ranah 3 Warna yang mewakili data-data lainnya. Alif mendeskripsikan beberapa tokoh yaitu Rusdi, Wira, dan Agam. Sedangkan pada fokalisasi eksternal, Alif mendapatkan informasi dari beberapa tokoh yaitu Pak Etek Gindo, Ustad Salman dan Asti kakak kelasnya di FISIP.
ANALISIS EKOLINGUISTIK PADA PANTUN MELAYU DELI Nur Indah Yusari; Dewi Sari Sumitro; Sri Rosmalina Soedjono; Lilik Herawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8485

Abstract

This study analyzes the ecological representation, ecological meaning, and function of Deli Malay pantun through an ecolinguistic approach. The data, consisting of Deli Malay pantun, were examined using content analysis of three linguistic units: lexicon, semantics, and pragmatics. Lexical analysis shows that pantun contains a lexicon of flora, fauna, ecological landscapes, and natural phenomena that reflect the Malay people's closeness to the agrarian environment and tropical forests. At the semantic level, these ecological elements contain symbolic and metaphorical meanings that construct ecological stories, such as hope, vulnerability, and human-nature balance. Pragmatically, pantun functions as an instrument of cultural communication in customs, moral education, and the formation of social ethics. Ecolinguistic synthesis reveals that Deli Malay pantun serves as an ecological cultural archive that stores environmental knowledge while affirming the ecological identity of the Malay people. This study confirms that pantun is not only aesthetically valuable but also serves as a medium for transmitting ecological wisdom relevant to cultural and environmental preservation. Abstrak Penelitian ini menganalisis representasi ekologis, makna ekologis, dan fungsi pantun Melayu Deli melalui pendekatan ekolinguistik. Data berupa pantun Melayu Deli dikaji dengan analisis konten terhadap tiga unit linguistic, yaitu leksikon, semantik, dan pragmatik. Analisis leksikal menunjukkan bahwa pantun memuat leksikon flora, fauna, lanskap ekologis, dan fenomena alam yang mencerminkan kedekatan masyarakat Melayu dengan lingkungan agraris dan hutan tropis. Pada tataran semantik, unsur ekologis tersebut memuat makna simbolik dan metaforis yang membangun ecological stories, seperti harapan, kerentanan, dan keseimbangan manusia–alam. Secara pragmatik, pantun berfungsi sebagai instrumen komunikasi budaya dalam adat, pendidikan moral, dan pembentukan etika sosial. Sintesis ekolinguistik mengungkap bahwa pantun Melayu Deli berperan sebagai arsip ekologis budaya yang menyimpan pengetahuan lingkungan sekaligus meneguhkan identitas ekologis masyarakat Melayu. Penelitian ini menegaskan bahwa pantun tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga menjadi medium pewarisan kearifan ekologis yang relevan bagi pelestarian budaya dan lingkungan.
Mimikri dan Ambivalensi dalam Novel Berpacu Nasib di Kebun Karet Karya M.H. Székely-lulofs Rosliani Rosliani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i2.276

Abstract

Fakta dan fiksi senantiasa pengaruh-memengaruhi sehingga pembaca karya sastra mau tidak mau harus menempatkan kehidupan dalam sastra bersinggungan dengan kehidupan masyarakat yang realistik. Pengungkapan realitas fiksi dan realitas historis untuk melihat dampak kolonialisme yang berbentuk mimikri dan ambivalensi dalam novel BNdKK karya M.H. Székely-Lulofs diteliti dengan teori struktur naratif dan poskolonialisme. Pengaplikasian teori dilakukan metode kualitatif bersifat deskriptif. Hasilnya, dari struktur penceritaan novel BNdKK dan penelusuran sejarah bangsa Indonesia serta riwayat hidup M.H. Székely-Lulofs ternyata novel ini merupakan gabungan realitas fiksi dan realitas historis kehidupan bangsa yang terjajah dan bangsa yang menjajah di Hindia Belanda, khususnya Sumatera Timur. Mimikri dan ambivalensi yang terjadi berupa penggunaan bahasa, budaya dan perilaku kehidupan.Kata kunci: novel, mimikri, ambivalensi, Hindia Belanda
Memori Kolektif dalam Novel Secangkir Teh Melati mohamad akbar pangestu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.2010

Abstract

Penelitiann ini berjutuan mendeskripsikan memori kolektif tentang sejarah Indonesia yaitu tentang peristiwa tentang G30S/PKI hingga orde baru. Sumber data dalam penelitian ini merupakan data primer dari novel Secangkir Teh Melati karya Bunjamin Wibisono. Gambaran realitas sejarah indonesia periode 1949 hingga 1970. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan data yang disajikan dalam bentuk deskriptif sehingga pembaca dapat mudah memahami tujuan analisis ini karena data yang diambil  merupakan kutipan yang mengandung nilai historis  dari novel Secangkir Teh Melati karya Bunjamin Wibisono. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Hasil dari penelitian ini adalah mendeskripsikan memori kolektif sejarah   indonesia pada masa peralihan orde baru ke orde lama yang ada dalam novel novel Secangkir Teh Melati karya Bunjamin Wibisono yang meliputi beberapa aspek, yaitu (1) masa peralihan orde lama ke orde baru, (2) memori kolektif peristiwa G30S/PKI, dan (3) memori kolektif tentang stereotip kaum komunis.
Psychopoetry/Poetry Therapy dalam Puisi “Sulaman Rindu” Karya Achmat Nasihi MT Rini Damayanti; Agung Pranoto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4881

Abstract

Psychopoetry is a form of seni-based therapy that psychologists can use for soul-healing. The purpose of this study is to analyse the essay "Sulaman Rindu" using essay-writing techniques. In this study, the deskriptif analytic method was employed. Using the antologia for the essay "Sulaman Rindu" by Karya Achmad Nasihi MT, we may obtain the entire set of factually accurate data that is present in the essay. Poetry from the anthology "Sulaman Rindu" may be used in psychotherapy. Merely studying sufi puisi-puisi will suffice to sooth Tuhan's heart. The reader will likely give their heart to a transcendental persona. AbstrakPsikopoetry adalah salah satu bentuk terapi berbasis seni yang dapat digunakan psikolog untuk jiwa-penyembuhan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karangan “Sulaman Rindu” dengan menggunakan teknik penulisan karangan. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif analitik. Dengan menggunakan antologia esai "Sulaman Rindu" karya Achmad Nasihi MT, kita dapat memperoleh seluruh rangkaian data yang akurat secara faktual yang ada dalam esai tersebut. Puisi dari antologi "Sulaman Rindu" dapat digunakan dalam psikoterapi. Sekedar mempelajari sufi puisi-puisi saja sudah cukup untuk menyejukkan hati Tuhan. Pembaca kemungkinan besar akan memberikan hati mereka kepada persona transendental.
Eksplorasi Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow dalam Serial Novel Dear Allah Karya Diana Febiantria Santi Oktaviani; Madania Khalifah; Rokiah Rokiah; Agik Nur Efendi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.6414

Abstract

Literary works are a reflection of the nature of society in real life that the author modifies through imaginative power. Writers often raise humanistic issues in literary works. Maslow's humanism illustrates that every individual needs aspects of physical and psychological needs. The novel Dear Allah tells the problem of phenomena that often occur in households, families, friendships, and friendships. This study aims to explore Maslow's hierarchical needs of the main and supporting characters in the Dear Allah novel series. This research uses descriptive qualitative method. The data source in this study is the Dear Allah novel series in the romance genre published in 2018 and 2022. Data collection techniques were carried out by reading the Dear Allah novel series, creating an analysis table, determining Maslow's hierarchy of needs, grouping data based on analysis criteria, and entering into the analysis table. Data analysis techniques include data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Based on the results and discussion, it shows that the characters Naira, Wildan, and Silla succeeded in fulfilling Maslow's hierarchy of needs from the physiological level to self-actualization, such as financial stability, love, and self-acceptance. In contrast, Zulfa fails to achieve her need for security due to emotional and physical conflicts, while Genta achieves self-actualization through the acceptance of unrequited love. The whole story reflects the characters' psychological journey in fulfilling their basic to highest needs according to Maslow's theory. AbstrakKarya sastra merupakan cerminan dari sifat masyarakat dalam kehidupan nyata yang dimodifikasi penulis melalui daya imajinatif. Penulis seringkali mengangkat isu humanistik di dalam karya sastra. Humanistik Maslow memberikan gambaran bahwa setiap individu membutuhkan aspek kebutuhan fisik dan psikis.Novel Dear Allah menceritakan problematika mengenai fenomena yang sering terjadi dalammahligai rumah tangga, keluarga, persahabatan, dan pertemanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kebutuhan hierarki Maslow pada tokoh utama dan pendukung dalam serial novel Dear Allah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah serial novel Dear Allah bergenre romantisme terbitan tahun 2018 dan 2022. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca serial novel Dear Allah, membuat tabel analisis, menentukan hierarki kebutuhan Maslow, mengelompokkan data berdasarkan kriteria analisis, dan memasukkan ke dalam tabel analisis. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dilakukan menunjukkan bahwa tokoh Naira, Wildan, dan Silla berhasil memenuhi kebutuhan hierarki Maslow dari tingkat fisiologis hingga aktualisasi diri, seperti stabilitas finansial, cinta, dan penerimaan diri. Sebaliknya, tokoh Zulfa gagal mencapai kebutuhan rasa aman karena konflik emosional dan fisik, sementara Genta mencapai aktualisasi diri melalui penerimaan cinta yang tidak terbalas. Keseluruhan cerita mencerminkan perjalanan psikologis tokoh dalam memenuhi kebutuhan dasar hingga tertinggi sesuai teori Maslow.
A COMPARATIVE STUDY OF POETRY’S STRUCTURE: ‘NIGHT’ BY BLAKE AND ‘SHE WALKS IN BEUATY’ BY BYRON Ana Rosida
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.435

Abstract

This research presented the comparative study about the structure in two poetries; they are Night and She Walks in Beauty. It focused the theme, the figure of speech and the imagery. It used the qualitative research. It is analyzed the structure by reading the poetry carefully and giving the note for each line that contains theme, figure of speech and imagery. It used the theory of comparative study and structural approach.The result of this research shows that the poet of those poetries use theme, figure of speech and imagery. There are many kinds of figure of speech and imagery in the poetry. In Night, there are only four figure of speeches  namely (a) Simile, (b) Personification, (c) Metaphor and (d) Hyperbole and uses (1) Visual, (2) Auditory, (3) Tactile and (4) Kinesthetic as the imagery. In She Walks in Beauty, Byron uses (a) simile, (b) personification and (c) litotes as figure of speech and its imagery are (1) Visual and (2) Kinesthetic.The poetry Night and She Walks in Beauty appear both differences and similarities with regard to its poet’s writing style. Blake is subjective whereas Byron is objective in writing. Both poets use the nature in different ways to build the theme, the figure of speech and the imagery. Blake uses the nature to describe two contrast place and Byron used the nature to describe a woman character. AbstrakPenelitian ini membahas studi perbandingan tentang struktur dalam dua puisi, yaitu Night dan She Walks in Beauty. Penelitian ini berfokus pada Theme, Figure of Speech dan Imagery. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Pada penelitian ini, struktur dianalisa dengan membaca puisi dengan seksama dan memberikan catatan untuk setiap baris yang berisi Tema, Majas dan Pencitraan. Penelitian ini mengunakan teori Comparative Study dan pendekatan Structural.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyair pada kedua puisi ini menggunakan Tema, Majas dan Pencitraan. Ada banyak jenis majas dan pencitraan dalam puisi tersebut. Pada puisi Night, Majas hanya ada empat yaitu (a) Simile, (b) Personification, (c) Metaphor dan (d) Hiperbole dan menggunakan (1) Visual, (2) Auditory, (3) Tictile dan (4) Kinestethic sebagai pencitraan. Pada puisi She Walks in Beauty, Byron menggunakan (a) Simile, (b) Personification dan (c) Litotes sebagai majas dan pencitraannya adalah (1) Visual dan (2) Kinestethic.Puisi Night dan She Walks in Beauty tampak perbedaan dan persamaan yang berkaitan dengan gaya penulisan penyairnya. Blake adalah penyair yang subjektif sedangkan Byron adalah penyair yang objectif dalam menulis. Kedua penyair tersebut menggunakan alam dengan cara yang berbeda untuk membangun Tema, Majas dan Pencitraan. Blake menggunakan alam untuk menggambarkan dua tempat yang dan Byron menggunakan alam untuk menggambarkan karakter wanita.   
Social and Internal Conflict in Stephenie Meyer’s Novel “Breaking Dawn”: Anthropology Study of Literature Askar Nur; Rahmat Yusuf
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4709

Abstract

This research is about the analysis of social class, including internal and social conflicts in the novel Breaking Dawn by Stephenie Meyer. The objectives of this research are to know the kinds of conflicts and its most dominant one in the novel. The method used in this research is qualitative method by using anthropology of literature, whereas the data resource is the novel Breaking Dawn by Stephenie Meyer which was published in 2007, also some books were used to analyze and support this research. In collecting the data, the writer used note taking as the instrument to get the data. In this research, the researchers found that there are two kinds of conflict existed, i.e. social conflict and internal conflict, and the most dominant one occurs in the first eleven chapters of novel is the internal conflict. AbstrakPenelitian ini membahas analisis kelas sosial termasuk konflik internal dan sosial dalam novel Breaking Dawn karya Stephenie Meyer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis konflik dan jenis konflik yang paling dominan terdapat dalam novel Breaking Dawn karya Stephenie Meyer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah novel Breaking Dawn karya Stephenie Meyer yang diterbitkan pada tahun 2007 serta beberapa buku yang digunakan untuk menganalisis dan mendukung penelitian ini. Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan note-taking sebagai instrumen untuk mendapatkan data. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa ada dua jenis konflik yang ada dalam novel tersebut, yaitu konflik sosial dan konflik internal, sedangkan jenis konflik yang paling dominan terjadi pada sebelas bab pertama novel ini adalah konflik internal.
Tradisi Botram dalam Dongeng Kabayan: Struktur dan Nilai Budaya sebagai Materi Ajar Interkultural BIPA Elvi Zurviana; Tedi Permadi; Yulianeta Yulianeta
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8431

Abstract

This study aims to analyze the narrative structure and cultural values contained in the botram tradition as represented in the Kabayan fairy tale, and examine its potential as an alternative intercultural teaching material in teaching Indonesian for Foreign Speakers (BIPA). Using a descriptive qualitative approach and AJ Greimas' structural analysis, this study explores the relationship between character action patterns, narrative structures, and moral messages embodied in the social practice of botram. Data collection techniques were carried out through text documentation in the form of three relevant Kabayan fairy tales, as well as a search for supporting literature on narrative theory, Sundanese culture, and intercultural learning. The data analysis process included data reduction, coding narrative elements, mapping actant structures and functional schemes, and interpreting cultural meanings based on Kluckhohn's value theory and Sundanese cultural experiences. The results of the analysis indicate that botram not only functions as a narrative element, but also as a symbol of social reconciliation that emphasizes the values of simplicity, solidarity, and balance in Sundanese life. These values serve as a medium for character formation and a means of internalizing collective ethics that are relevant for developing the intercultural competence of BIPA learners. These findings confirm that the integration of local traditions in language learning can enrich the learning process by providing authentic, reflective, and humanistic cultural experiences. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur naratif dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi botram (makan bersama) sebagaimana direpresentasikan dalam dongeng Kabayan, serta menelaah potensinya sebagai alternatif materi ajar interkultural dalam pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis struktural A. J. Greimas, penelitian ini menelusuri hubungan antara pola tindakan tokoh, struktur naratif, dan pesan moral yang diwujudkan dalam praktik sosial botram. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks berupa tiga dongeng Kabayan yang relevan, serta penelusuran literatur pendukung mengenai teori naratif, budaya Sunda, dan pembelajaran interkultural. Proses analisis data meliputi reduksi data, pengkodean elemen naratif, pemetaan struktur aktan dan skema fungsional, serta interpretasi makna budaya berdasarkan teori nilai Kluckhohn dan pengalaman budaya Sunda. Hasil analisis menunjukkan bahwa botram tidak hanya berfungsi sebagai elemen naratif, tetapi juga sebagai simbol rekonsiliasi sosial yang menegaskan nilai kesederhanaan, solidaritas, dan keseimbangan hidup masyarakat Sunda. Nilai-nilai tersebut berperan sebagai media pembentukan karakter dan sarana internalisasi etika kolektif yang relevan untuk pengembangan kompetensi interkultural pemelajar BIPA. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi tradisi lokal dalam pembelajaran bahasa dapat memperkaya proses belajar dengan menghadirkan pengalaman budaya yang otentik, reflektif, dan humanistik.