cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Kearifan Lokal dalam Dua Novelet Anak Karya Dadan Sutisna Zulfikar Alamsyah; Agus Suherman
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5402

Abstract

This study aims to reveal the value of local wisdom in the two children's stories by Dadan Sutisna, Nu Ngageugeuh Legok Kiara, and Mystery Haur Geulis. After being analyzed using the content analysis method, it was found that these two stories have five values of local wisdom related to the fields of education, social, ethics, culture, and religiosity. In the conclusion of this study, the novellet entitled Nu Ngageugeuh Legok Kiara contains the value of local wisdom related to the relationship between humans and nature. Humans as intelligent beings must be able to live in harmony with nature. Meanwhile, the novellet Mystery of Haur Geulis contains the value of local wisdom related to culture and people's beliefs that must be respected and recognized as our national identity. Therefore, these two children's stories deserve to be used as teaching materials in schools to introduce the local wisdom of the Sundanese people to maintain a local culture in the younger generation.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kedua cerita anak karya Dadan Sutisna yang berjudul Nu Ngageugeuh Legok Kiara dan Misteri Haur Geulis. Setelah dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi konten dan teknik pengkajian isi dokumen, ditemukan hasil bahwa kedua cerita ini memiliki lima nilai kearifan lokal yang berkaitan dengan bidang pendidikan, sosial, etika, budaya, dan religiositas. Kesimpulan dari penelitian ini, novelet berjudul yang Nu Ngageugeuh Legok Kiara mengandung nilai kearifan lokal yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan alam, intinya manusia harus bisa hidup selaras dengan alam, sedangkan novelet Misteri Haur Geulis mengandung nilai kearifan lokal yang berkaitan dengan kebudayaan dan kepercayaan masyarakat yang harus dihormati dan diakui sebagai identitas kebangsaan. Oleh sebab itu, kedua cerita anak ini bisa dijadikan alternatif bahan ajar di sekolah untuk memperkenalkan khasanah sastra daerah dan sekaligus nilai kearifan lokal kepada peserta didik.
Dominasi Lelaki dan Wacana Tubuh: Membaca Maskulinitas dalam Novel The Story of Jan Dara Karya Utsana Phleungtham I Subandrio; Desca Angelianawati; Antonius Maturbongs; Denny Adrian Nurhuda
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.7918

Abstract

This article aims to explore the forms of masculinity and unveils the puspose behind its portrayal in The Story of Jan Dara by Utsana Phleungtham. The research employs a descriptive-qualitative method and a textual approach. The data were collected through library research while data analysis was conducted through repeated readings and interpretation of the novel’s narrative and dialogue. The findings reveal that the concept of masculinity is explicitly depicted and represented through social status, bodily gestures, and power relations based on sexuality, in order to maintain masculine domination and the patriarchal system deeply rooted in society. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk maskulinitas seerta menemukan penggambaran maskulinitias tersebut dalam novel The Story of Jan Dara karya Utsana Phleungtham. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan terhadap teks. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, sementara teknik analisis data dilakukan dengan pembacaan berulang dan interpretasi terhadap narasi dan dialog dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep maskulinitas digambarkan secara gamblang dan direpresentasikan melalui status sosial, gestur tubuh, serta relasi kuasa berbasis seksualitas guna tetap menjaga dominasi maskulin dan sistem patriarki yang telah mengakar dalam masyarakat.
REKONSILIASI TANAH KELAHIRAN DALAM DUA PUISI IMAN BUDHI SANTOSA Yohanes Adhi Satiyoko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.851

Abstract

This research discusses the effort of reconciliation to the Javanese people view to their land of origin as expressed in the poems “Ziarah Tembuni” and “Ziarah Tanah Jawa” by Iman Budhi Santosa. The problem formulation is how social and cultural phenomena portrayed in those poems “Ziarah Tanah Jawa” and “Ziarah Tembuni” and ideology of its creation. The purpose of the research is to show modernity phenomena as faced by Javanese people in common and show the the ideology as the foundation of the poems creation. The discussion of the problem formulation and the purpose of the research use qualitative method with sociology theory by Janet Wolff. The result shows that those two poetic expressions of “Ziarah Tembuni” and “Ziarah Tanah Jawa” sound to ask reconciliation to remind, love, and realize the origin of the kinship of man-nature in the Javanese social construction. The result of the research concludes that kinship can avoid character of selfish and individualistic. Ideally, people face and experience modernity in life but they have to base it on local culture and tradition of their own country. Abstrak: Penelitian ini membahas tentang usaha merekonsiliasi pandangan masyarakat Jawa modern terhadap tanah kelahiran yang diekspresikan dalam puisi “Ziarah Tembuni” dan “Ziarah Tanah Jawa” karya Iman Budhi Santosa. Masalah penelitian tentang fenomena sosial budaya yang tergambar dalam puisi “Ziarah Tanah Jawa” dan “Ziarah Tembuni” serta ideologi yang melandasi kedua karya puisi tersebut. Tujuan penelitian adalah menunjukkan fenomena modernitas yang dijumpai dalam masyarakat Jawa secara umum dan menunjukkan ideologi yang melandasi penciptaan puisi “Ziarah Tembuni” dan “Ziarah Tanah Jawa”. Pembahasan masalah penelitian dan tujuan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan memanfaatkan teori sosiologi Janett Wolff. Hasil penelitian membuktikan bahwa kedua ekspresi puitik dalam“Ziarah Tembuni” dan “Ziarah Tanah Jawa” menjadi ajakan rekonsiliasi untuk mengingat, mencintai, dan menyadari asal-usul kekerabatan manusia-alam dalam konstruksi sosial masyarakat Jawa. Dari hasil penelitian itu dapat disimpulkan bahwa kekerabatan dapat menghindarkan manusia dari sifat egois dan individualis. Diidealkan manusia mengalami modernitas dalam aktivitas kehidupan tetapi tetap berlandaskan pada budaya dan tradisi lokal atau bangsa sendiri.
Nilai Estetika pada Puisi Mantra Sunda di Kecamatan Cilawu Kabupaten Garut Tasya Nur Ilmi; Chye Retty Isnendes; Agus Suherman
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7325

Abstract

Mantra is one of the ancient forms of poetry that holds its own uniqueness in the realm of literature. Its uniqueness lies not only in its linguistic aspects, which are captivating, but also in its perceived magical powers. This study aims to inventory mantras that are still found scattered in Cilawu District, Garut Regency, accompanied by an aesthetic value analysis. The method employed is descriptive analytics with fieldwork techniques including observation, documentation, and interviews. The data collected from the field consists of 50 mantras, comprising 15 asihan mantras, 12 jangjawokan mantras, 5 jampe mantras, 9 singlar mantras, 2 rajah mantras, and 7 ajian mantras. However, for the purpose of this study, 6 types of mantras were sampled for analysis. The aesthetic values embedded in the mantras encompass philosophical aesthetics, language style, and linguistic sound. The philosophical aesthetic values found in the mantra poems encompass moral, social, psychological, historical, and religious values. The language styles employed include metaphor, association, hyperbole, personification, and simile. The linguistic sounds exhibit eight patterns, namely purwakanti pangluyu, purwakanti mindoan kawit, purwakanti laras madya, purwakanti cakraswara, purwakanti rangkepan, purwakanti laras wekas, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, purwakanti laras purwa, and purwakanti mindoan kawit.AbstrakMantra merupakan salah satu bentuk puisi lama yang memiliki keunikan tersendiri dalam khazanah sastra. Keunikan tersebut di samping terletak pada aspek kebahasaannya yang bersifat eksitoris, juga dianggap memiliki kekuatan magis. Kajian ini bertujuan untuk menginventarisasi mantra yang masih tersebar di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, dengan disertai kajian nilai estetika. Metode yang digunakan, yaitu deskriptif analitik dengan teknik kerja lapangan berupa inventarisasi, dokumentasi, dan wawancara. Data yang terkumpul dari lapangan adalah 50 mantra, yang terdiri atas 15 mantra asihan, 12 mantra jangjawokan, 5 mantra jampe, 9 mantra singlar, 2 mantra rajah, dan 7 mantra ajian. Namun, pada penelitian ini diambil sampel 6 jenis mantra untuk dianalisis. Nilai estetika yang terkandung dalam mantra tersebut meliputi estetika filosofis, gaya bahasa, dan bunyi bahasa. Nilai estetika filosofis pada puisi mantra, yaitu nilai moral, nilai sosial, nilai psikologis, nilai historis, dan nilai religi. Gaya bahasa yang digunakan di antaranya majas metafora, majas asosiasi, majas hiperbola, majas personifikasi, dan majas simile. Adapun bunyi bahasa memiliki delapan pola, yaitu purwakanti pangluyu, purwakanti mindoan kawit, purwakanti laras madya, purwakanti cakraswara, purwakanti rangkepan, purwakanti laras wekas, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, purwakanti laras purwa, dan purwakanti mindoan kawit.
Humor in the Novel “From Pesantren with Laugh” by Irvan Aqila: A Study of Humor Irma Irma; Muhammad Ardi Kurniawan; Ida Puspita
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8599

Abstract

This study aims to describe the forms and types of humor in Irvan Aqila's novel From Pesantren with Laugh. Humor in literary works not only functions as entertainment but also as an aesthetic strategy to convey social reality in a light and communicative manner. This study uses a qualitative descriptive method with a literature study technique. Data in the form of narrative excerpts and dialogues containing humorous elements are explained through the stages of reduction, classification, and conclusion. The results of the study show that the humor in this novel is dominated by social humor, with as many as 25 data that appear through dialogues between characters in the form of light delivery, terminology twists, and reversals of meaning. In addition, 7 data of artistic humor were found in the form of literary humor manifested through the use of hyperbole, distorted metaphors, and exaggerated narrative descriptions. Meanwhile, behavioral humor, graphic humor, and personal humor were not found due to the limitations of the novel's medium, which plays an important role in building character traits, strengthening social relationships, and creating a humane and communicative atmosphere of Islamic boarding school life. These findings confirm that Arwah Setiawan's classification is relevant and applicable to analyzing humor in Indonesian literature. They also open up new academic space for the study of humor in Islamic boarding school-themed novels, which reflect the identity and socio-cultural dynamics of Indonesian Muslim youth. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan jenis humor dalam novel From Pesantren with Laugh karya Irvan Aqila. Humor dalam karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai strategi estetik untuk menyampaikan realitas sosial secara ringan dan komunikatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik studi pustaka. Data berupa kutipan narasi dan dialog yang mengandung unsur humor dianalisis melalui tahap reduksi, klasifikasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor dalam novel ini didominasi oleh humor pergaulan, sebanyak 25 data yang muncul melalui dialog antartokoh berupa ejekan ringan, pemelesetan istilah, dan pembalikan makna. Selain itu, ditemukan 7 data humor kesenian dalam bentuk humor literatur yang diwujudkan melalui penggunaan hiperbola, metafora menyimpang, dan deskripsi naratif yang dilebih-lebihkan. Sementara itu, humor lakuan, humor grafis, dan humor personal tidak ditemukan karena keterbatasan medium novel tersebut berperan penting dalam membangun karakter tokoh, mempererat relasi sosial, serta menciptakan. suasana kehidupan pesantren yang humanis dan komunikatif. Temuan ini menegaskan bahwa klasifikasi Arwah Setiawan relevan dan dapat dipakai untuk menganalisis humor dalam karya sastra Indonesia. Temuan ini juga membuka ruang akademik baru untuk kajian humor pada novel berlatar pesantren yang mencerminkan identitas dan dinamika sosial-budaya remaja Muslim Indonesia.
Formula Glorifikasi Pemimpin Dalam Hikayat Banjar Diyah Prilly Upartini
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2829

Abstract

Dalam penciptaan teks sastra kuno Melayu, narator tidak terlepas dari formula-formula sebagai gawai untuk menata sistem kebahasaan dengan gaya-gaya retoris tertentu. Formula-formula penceritaan tersebut merupakan salah satu ciri-ciri adanya jejak tradisi lisan yang ditemukan di dalam naskah tertulis. Hal ini juga terjadi pada penciptaan teks Hikayat Banjar (HB). Sebagai salah satu naskah kanon yang berasal dari kerajaan di Kalimantan, di dalam masyarakat Banjar yang memiliki tradisi lisan yang masih berkembang hingga saat ini, HB memiliki formula-formula khusus dalam penceritaannya yang kemungkinan besar merupakan rekaman jejak sastra lisan masyarakat Banjar. Makalah ini berusaha menjelaskan mengenai formula-formula yang digunakan di dalam HB, khususnya formula yang digunakan untuk mengglorifikasikan pemimpin yang dikisahkan di dalamnya. Elemen-elemen yang berkaitan dengan raja atau pemimpin dikisahkan dengan sarana-sarana retorika seperti enumerasi, paralelisme, dan repetisi, baik repetisi dalam jajaran kata, frase, klausa hingga repetisi dalam bentuk wacana. Penggunaan sarana retorika tersebut untuk menekankan betapa dominan dan istimewanya raja yang digambarkan di dalam teks HB.
Pantun Banjar sebagai Media Pendidikan Karakter Agus Yulianto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i1.351

Abstract

Pantun Banjar adalah sastra lama yang lahir, tumbuh, dan berkembang di masyarakat Banjar. Pantun Banjar dapat memberikan sumbangan dalam pembentukan pola pikir, sikap, dan tingkah laku masyarakatnya. Hal itu berarti pantun Banjar dapat menjadi media pendidikan untuk membentuk karakter masyarakat Banjar itu sendiri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Dengan metode deskriptif nilai-nilai yang dapat membentuk karakterpositif dalam pantun Banjar dapat diketahui, antara lain menjauhi perbuatan dosa, sikap rajin menuntut ilmu agama, jangan bersikap pemalas, dan memperhatikan lingkungan.
POLITIK MASYARAKAT, NEGARA, DAN KESENIAN Aprinus Salam
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.429

Abstract

This paper explores how post-New Order Indonesia has seen a declined emphasis on government legitimization and an increased emphasis on the power of the populace. In this situation, the populace (society) has the opportunity to perform articulation and politicization from a variety of aspects. Society redefines and reidentifies itself through various negotiations of primordiality, locality, nationality, and globality. Many groups take their own initiative and use their own methods to reach their goals and protect their interests. In creating art, society is generally oriented towards art as business or a politicaleconomic act, such that the role of art in promoting social and national development is considered insignificant. The State is impeded in determining its own capacity, competence, and authority. Society acts "without control", or more specifically without control from the State. The numerous dichotomies in society continually create opposition and conflict, which  stunts the development process. The State should be able to diffuse these various dichotomies by utilizing alternative spaces, third spaces - such as art and literature. In these alternative spaces, it is hoped that negotiation and consolidation can be conducted in a more democratic and dignified manner. Abstrak Tulisan ini berusaha menjelaskan bahwa pada masa pasca Orde Baru negara mengalami penurunan legitimasi dan posisi masyarakat menguat. Dalam situasi itu, masyarakat mendapat kesempatan untuk melakukan berbagai artikulasi dan politisasi dalam berbagai aspeknya. Masyarakat mendefinisikan dan mengidentifikasi dirinya kembali dalam berbagai negosiasi primordialitas, lokalitas, nasionalitas, dan globalitas. Banyak kelompok warga mengambil inisiatif dan cara sendiri-sendiri dalam mencapai tujuan dan kepentingannya. Dalam praktik berkesenian, masyarakat mengambil inisiatif lebih dalam orientasi bisnis atau politik-ekonomi sehingga partisipasi kesenian dalam proses peningkatan kualitas bermasyarakat dan bernegara dianggap tidak signifikan. Negara mengalami kegagapan dalam menentukan kapasitas, kompetensi, dan otoritas dirinya. Masyarakat berjalan “tanpa kontrol” yang berarti dari negara. Berbagai dikotomi dalam masyarakat terus memicu berbagai pertentangan dan konflik yang tidak kondusif bagi proses pembangunan. Hal yang selayaknya dimainkan oleh negara adalah mencairkan berbagai dikotomi tersebut dengan memanfaatkan ruang alternatif, ruang ketiga, dalam hal itu ruang kesenian/sastra. Dalam ruang alternatif tersebutlah berbagai negosiasi dan konsolidasi  diharapkan dapat terjadi secara lebih demokratis dan bermartabat. 
Keragaman Kultur Film Kartun “Adit & Sopo Jarwo” dalam Perspektif Analisis Multimoda Ida Nuraeni; Yunidar Yunidar; Ulinsa Ulinsa
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5316

Abstract

Children's cartoons are television shows that are an alternative for children to watch. This audiovisual presentation contains a lot of educational value. This paper aims to describe the cultural diversity contained in the children's cartoon film “Adit & Sopo Jarwo from the perspective of multimodal analysis. The method used in analyzing this cartoon is a qualitative method using content analysis. The content analysis model used is the multimodal analysis model proposed by Teo van Leeuwen. The results showed that the multimodal content in the ASJ film can be seen from the actors, characteristics, social relations, action and reaction, property, and criticality. AbstrakFilm kartun anak merupakan sajian pertelevisian yang menjadi alternatif tontonan bagi anak. Sajian audiovisual ini banyak mengandung nilai edukasi. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan keragaman kultur yang terdapat dalam film kartun anak “Adit & Sopo Jarwo dalam perspektif analisis multimoda. Metode yang digunakan dalam menganalisis film kartun ini adalah metode kualitatif, yaitu analisis konten.  Model analisis konten yang digunakan adalah model analisis multimoda yang dikemukakan oleh Teo van Leeuwen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa multimoda yang terdapat dalam film ASJ dapat ditinjau dari pelaku, karakterisasi, hubungan sosial, aksi reaksi, properti, dan kekritisan.
Representasi Ideologi dan Kekuasaan dalam Film Gadis Kretek: Model Norman Fairclough Riska Damayanti; Jufri Jufri; Mahmudah Mahmudah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8299

Abstract

This study aims to describe the representation of ideology and power in the film Gadis Kretek based on experiential values, relational values, and expressive values. This study is a qualitative study using Norman Fairclough's theory. The data sources in this study are all episodes in the film Gadis Kretek obtained from the online media Netflix. Data collection techniques include listening and note-taking techniques. The results of the study show that there are 24 data containing experiential values, which are dominated by ideological words that are fought for. This finding shows how the main characters in the film represent the social world and ideology through the choice of vocabulary and language structure. There are 22 data containing relational values, which are dominated by imperative words. This confirms that the power relations between characters are built through language structures that reflect social positions and authority. Furthermore, 19 data were found containing expressive values, which are dominated by positive and negative evaluations. This expressive value highlights how the characters in the film express emotional attitudes, resistance, or support for certain power structures and ideological values. These three values synergize to form a discourse that emphasizes emancipation, agency, and strong social criticism in the film. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi ideologi dan kekuasaan dalam film Gadis Kretek berdasarkan nilai eksperiensial, nilai relasional, dan nilai ekspresif. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teori Norman Fairclough. Sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh episode dalam film Gadis Kretek yang diperoleh dari media daring Netflix. Teknik pengumpulan data meliputi teknik simak dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 24 data yang mengandung nilai eksperiensial, yang didominasi oleh kata-kata ideologis yang diperjuangkan. Temuan ini menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh utama dalam film merepresentasikan dunia sosial dan ideologi melalui pilihan kosakata dan struktur bahasa. Terdapat 22 data yang mengandung nilai relasional, yang didominasi oleh kata perintah (imperatif). Hal ini menegaskan bahwa relasi kekuasaan antar tokoh dibangun melalui struktur bahasa yang mencerminkan posisi sosial dan otoritas. Selanjutnya, ditemukan 19 data yang mengandung nilai ekspresif, yang didominasi oleh evaluasi positif dan negatif. Nilai ekspresif ini menyoroti bagaimana tokoh-tokoh dalam film mengekspresikan sikap emosional, resistensi, atau dukungan terhadap struktur kekuasaan dan nilai-nilai ideologis tertentu. Ketiga nilai tersebut bersinergi membentuk wacana yang menegaskan emansipasi, agensi, dan kritik sosial yang kuat dalam film.