cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Analisis Nilai Budaya dalam Serial Animasi Маша и Медведь (Masha and The Bear) Huges Najma Masroora; Yusril Nurul Amri; Hani Sofia Muthmainnah; Nada Aulya Azzahra
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7728

Abstract

The forms of films themselves vary from story films, educational films, and documentaries to films easily liked by children, namely animated films. Animated films can be an effective tool for conveying education to children because of their attractive visual delivery style. This research focuses on interpreting various character behaviors in the animated series Маша и Медведь /Masha i Medved'/ 'Masha and The Bear' to explore the meaning contained therein, especially cultural values. This research uses a descriptive qualitative method of Koentjaraningrat theory analysis.   Koentjaraningrat believes that universal cultural values consist of seven elements, including language systems, knowledge systems, social systems, living equipment and technology systems, livelihood or economic systems, arts, and religious systems. The data collection technique used is observation and data documentation in the form of capturing each scene in the Masha and The Bear animation which is considered by researchers to be a cultural element. The results of this research show that there are cultural values contained in the data with details of language systems totaling five findings, knowledge systems totaling five data, systems of social organization or kinship relationships totaling one finding, living equipment, and technology systems totaling forty-seven findings, eye systems livelihood as many as four findings, religious systems as many as one finds, and art as many as three findings. AbstrakPenelitian ini berfokus pada interpretasi berbagai perilaku tokoh dalam serial animasi Маша и Медведь /Masha i Medved’/ Masha dan Si Beruang untuk menggali makna yang terkandung di dalamnya, khususnya nilai budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis teori Koentjaraningrat.  Koentjaraningrat berpendapat bahwa nilai-nilai budaya universal terdiri dari tujuh unsur, diantaranya adalah sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian atau ekonomi, kesenian, dan sistem religi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi dan dokumentasi data berupa tangkapan layartiap adegan pada animasi Mаша и Медведь /Masha i Medved’/ ‘Masha dan Si Beruang’ yang dianggap oleh peneliti sebagai unsur budaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat nilai budaya yang terkandung dalam data dengan rincian sistem bahasa sebanyak lima temuan, sistem pengetahuan sebanyak lima data, sistem organisasi sosial atau hubungan kekerabatan sebanyak satu temuan, sistem peralatan hidup dan teknologi sebanyak sebelas temuan, sistem mata pencaharian hidup sebanyak empat temuan, sistem religi sebanyak satu temuan, dan kesenian sebanyak tiga temuan.
KAJIAN SEMANTIK ETNOGRAFI PADA CERITA RAKYAT JEPANG WARASHIBECHŌJA Ida Ayu Laksmita Sari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i2.471

Abstract

This study discuss the word and the sentences containing meaning ethnography in Japanese Folklore of Warashibechōja. This study uses the theory of semantic ethnography focusing to the meanings illustrating the local culture system. Through the text story of Warashibechōja data is collected anda analysed using methodes of descriptive qualitative with techniques note. The result of this study is found the word including sonkeigo constituting oral expression which is based on consideration respect towards the interloculator. In addition to, found the culture vacabularies describing Japanese traditional culture, those are wara, miso, furoshiki, uma, and muko. The illustrated Ideology is someone shall try to do from the small thing seriously to get the best result and found also the intention to diffuse religion of Buddhist in Japan.AbstrakPenelitian ini membahas kata serta kalimat yang mengandung makna etnografi pada cerita rakyat Jepang Warashibechōja. Penelitian ini menggunakan teori semantik etnografi yang memfokuskan pada makna-makna yang menggambarkan sistem kebudayaan setempat. Melalui teks cerita Warashibechōja data dikumpulkan dan dianalisis menggunakan metode metode deskriptif kualitatif dengan teknik catat. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya kata yang termasuk sonkeigo yang merupakan ungkapan tingkat tutur yang didasarkan pada pertimbangan rasa hormat terhadap lawan bicara. Selain itu, ditemukan pula kosakata budaya yang menggambarkan kebudayaan tradisional Jepang, yaitu wara, miso, furoshiki, uma, dan muko. Ideologi yang tergambar adalah seseorang harus berusaha dari hal kecil secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan terdapat pula maksud untuk menyebarkan agama Buddha di Jepang.
Disruption of Natural Order in Video Game Dark Souls Mohammad Fahmi Yahya; Pratiwi Retnaningdyah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6025

Abstract

This study discusses the environmental issue distortion of the game Dark Souls using Garrard's ecocriticism theory and uses the qualitative descriptive method to analyze the data. The objectives of the study are to show the disruption of the natural order and its consequences. This study is conducted by gathering data from the game through screenshots and dialogues while also from the video through the narrative. The study shows that the disruption of natural order occurred because the individuals of the Age of Fire did not desire their era to end with them being replaced by the Age of Dark, which would be humanity's era, and thus do whatever is necessary to extend the Age of Fire, despite the fact that involves changing the nature of humanity itself. The consequences of the disruption experienced by every individual as the world grew hostile and dangerous, the world's logic warped, individuals suffering from the world's conflict as many resigned to their ultimate fate. Despite acknowledging environmental problems, few solutions have been formulated, leading to the continued deterioration of nature. AbstrakPenelitian ini membahas isu lingkungan yang menyimpang dari gim (permainan) Dark Souls dengan menggunakan teori ekokritik Garrard dan menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis data. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan gangguan terhadap tatanan alam dan konsekuensi dari gangguan terhadap tatanan alam tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari gim melalui tangkapan layar dan dialog, serta video melalui narasi. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terganggunya tatanan alam terjadi karena individu-individu di Zaman Api tidak menginginkan era mereka berakhir dan digantikan oleh Zaman Kegelapan, yang akan menjadi era umat manusia sehingga mereka melakukan apa saja untuk memperpanjang Zaman Api, meskipun hal itu berarti mengubah sifat dasar dari umat manusia itu sendiri. Konsekuensi dari gangguan yang dialami oleh setiap individu ketika dunia menjadi semakin tidak bersahabat dan berbahaya, logika dunia menjadi bengkok, individu-individu yang menderita akibat konflik dunia banyak yang pasrah pada nasib mereka. Meskipun mengakui adanya masalah lingkungan, hanya sedikit solusi yang telah dirumuskan yang mengarah pada kerusakan alam yang terus berlanjut.
Nilai Sosial pada Novel Ayat-Ayat Cinta 2 dan Potensinya sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA Kelas XII Miftahul Malik; Cantika Maulidiya Hasanah; Misbahudin Misbahudin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8388

Abstract

This study aims to describe the social values in the novel Ayat-Ayat Cinta 2 by Habiburrahman El Shirazy and evaluate its potential as a literary teaching material for grade XII high school students. The analysis of social values includes three main categories, namely compassion, responsibility, and harmony in life. The research method applied is descriptive qualitative with content analysis techniques. Data were obtained from words, phrases, sentences, or paragraphs in the novel text that reflect social values, collected through reading and note-taking techniques, then analyzed through the stages of reduction, presentation, and drawing conclusions. The results show that this novel contains social values that are relevant for character learning, such as empathy, tolerance, cooperation, religiosity, and social concern. These findings indicate that Ayat-Ayat Cinta 2 has high potential as a contextual literary teaching material in the Merdeka Curriculum, which can help students develop social awareness and character according to the Pancasila Student Profile. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai sosial dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2 karya Habiburrahman El Shirazy dan mengevaluasi potensinya sebagai bahan ajar karya sastra bagi siswa kelas XII SMA. Analisis nilai sosial mencakup tiga kategori utama, yaitu kasih sayang, tanggung jawab, dan keserasian hidup. Metode penelitian yang diterapkan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Data diperoleh dari kata, frasa, kalimat, atau paragraf dalam teks novel yang mencerminkan nilai sosial, dikumpulkan melalui teknik baca dan catat, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini mengandung nilai sosial yang relevan untuk pembelajaran karakter, seperti empati, toleransi, kerja sama, religiusitas, dan kepedulian sosial. Temuan ini mengindikasikan bahwa novel Ayat-Ayat Cinta 2 memiliki potensi tinggi sebagai bahan ajar sastra kontekstual dalam Kurikulum Merdeka, yang dapat membantu siswa mengembangkan kesadaran sosial dan karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila.
CINDERELLA COMPLEX PADA TEEN LIT “EIFFEL I’M IN LOVE” KARYA RAHMANIA ARUNITA DAN “FAIRISH” KARYA ESTI KINASIH Tania Intan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1476

Abstract

Cinderella compleks merupakan kecenderungan psikologis [pada perempuan], yang secara konsisten mengalami ketergantungan dan selalu berharap pada perlindungan [dari laki-laki]. Penelitian ini ditujukan untuk mengungkap Cinderella complex yang terinternalisasi pada tokoh perempuan dalam dua teen lit Indonesia yang berjudul Eiffel I’m in Love karya Rahmania Arunita dan Fairish karya Esti Kinasih. Telaah menggunakan pendekatan kritik sastra feminis dan metode deskriptif kualitatif. Konsep teoretis yang diapropriasi adalah psikologi sastra mengenai Cinderella complex dari Dowling, yang dikaitkan dengan gagasan-gagasan posfeminis. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemicu Cinderella complex pada para tokoh perempuan adalah kepribadian yang belum matang, pola pengasuhan otoriter dalam keluarga, dan konsep diri yang rendah. Bentuk Cinderella complex yang terungkap dalam dua novel remaja tersebut di antaranya tokoh perempuan tergantung pada tokoh laki-laki dan mempertahankan sifat manja dan lemah yang diatribusikan sebagai karakter feminin. Dampaknya, tidak terbentuk kemandirian dan kemampuan tokoh perempuan untuk menyelesaikan permasalahan.
A Representation of Education in Film Hindi Medium Tira Nur Fitria
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6048

Abstract

This research describes the representation of education in the film Hindi Medium. This research is qualitative descriptive research. The analysis shows that "Hindi Medium" is a captivating film that offers a poignant representation of the education system in India, particularly through the lens of social class and privilege. In "Hindi Medium," representation plays a pivotal role in dissecting various societal intricacies. Firstly, the film meticulously delineates the socioeconomic chasm, starkly portraying the divide between the affluent and the less privileged, particularly evident in access to education. Secondly, it navigates the intricate terrain of language barriers, emphasizing the significance of English-medium education and the challenges faced by those lacking proficiency in the language. Thirdly, "Hindi Medium" delves into the depths of parental aspirations, vividly depicting the lengths to which parents go to secure their child's educational future, often confronting the complexities of the system and resorting to unconventional means. Fourthly, the film employs satire and humor as its primary tools, effectively critiquing the flaws within the education system and broader societal structures. Fifthly, it touches upon the delicate balance between cultural identity and assimilation, highlighting the tension arising from the prioritization of English-medium education over cultural preservation. Lastly, "Hindi Medium" illuminates the privilege and entitlement entrenched within elite private schools, shedding light on preferential treatment and the disregard for students from less privileged backgrounds. Together, these representations form a comprehensive narrative that prompts reflection on the multifaceted issues surrounding education, social class, and cultural identity in contemporary Indian society. This film can frame criticism of the education system through a satirical comedy-drama that is built from the dialogue and conflicting roles of the characters. Apart from that, this film will make us realize that sometimes school is only a tool for parents to maintain prestige. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan representasi pendidikan dalam film Hindi Medium. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Analisis menunjukkan bahwa "Hindi Medium" adalah film menawan yang menawarkan representasi tajam sistem pendidikan di India, khususnya melalui kacamata kelas sosial dan hak istimewa. Dalam "Hindi Medium", representasi memainkan peran penting dalam membedah berbagai seluk-beluk masyarakat. Pertama, film ini dengan cermat menggambarkan jurang sosio-ekonomi, dengan jelas menggambarkan kesenjangan antara masyarakat kaya dan masyarakat kurang mampu, khususnya terlihat dalam akses terhadap pendidikan. Kedua, panduan ini mengatasi rumitnya hambatan bahasa, menekankan pentingnya pendidikan berbahasa Inggris dan tantangan yang dihadapi oleh mereka yang kurang mahir dalam bahasa tersebut. Ketiga, "Hindi Medium" menggali kedalaman aspirasi orang tua, dengan jelas menggambarkan upaya orang tua untuk menjamin masa depan pendidikan anak mereka, sering kali menghadapi kompleksitas sistem dan menggunakan cara-cara yang tidak konvensional. Keempat, film ini menggunakan sindiran dan humor sebagai alat utamanya, yang secara efektif mengkritik kelemahan dalam sistem pendidikan dan struktur masyarakat yang lebih luas. Kelima, artikel ini menyentuh keseimbangan antara identitas budaya dan asimilasi, menyoroti ketegangan yang timbul dari prioritas pendidikan berbahasa Inggris di atas pelestarian budaya. Terakhir, "Hindi Medium" menyoroti keistimewaan dan hak yang tertanam di sekolah swasta elit, menyoroti perlakuan istimewa dan pengabaian terhadap siswa dari latar belakang yang kurang mampu. Secara keseluruhan, representasi-representasi ini membentuk narasi komprehensif yang mendorong refleksi terhadap beragam isu seputar pendidikan, kelas sosial, dan identitas budaya dalam masyarakat India kontemporer. Film ini dapat membingkai kritik terhadap sistem pendidikan melalui drama komedi satir yang dibangun dari dialog dan konflik peran para karakter. Selain itu, film ini akan menyadarkan kita bahwa terkadang sekolah hanya menjadi alat orang tua untuk menjaga gengsi.
The Construction of Feminine Discourse in the Context of Negotiated Patriarchy in the Religious Series "Para Pencari Tuhan 2025" Kinamin Mutiara Bilkis; Muhammad Hambali
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8587

Abstract

This study aims to analyze the discourse construction of femininity within negotiative patriarchal relations in the digital religious series Para Pencari Tuhan 2025. The study is motivated by the limited research on the representation of women in digital religious series, particularly studies examining the relationship between religious values, patriarchal culture, and the construction of femininity through a critical discourse analysis approach. This research employs a qualitative descriptive method using Teun A. Van Dijk’s critical discourse analysis model. The data consist of all episodes of Para Pencari Tuhan 2025 streamed on the Vidio platform, with data sources including dialogues, narratives, characterizations, and scenes representing femininity. Data were collected through documentation, observation, note-taking, and screenshot techniques and analyzed through the dimensions of text structure, social cognition, and social context. The findings reveal that femininity is constructed through the representation of women as domestic, emotional, and moral supporters of the family, legitimized by religious narratives. In the dimension of social cognition, patriarchal values are internalized in ways that position women in subordinate roles. Meanwhile, the social context dimension reveals a pattern of negotiative patriarchy, in which women are allowed to participate in the public sphere while remaining responsible for domestic roles in accordance with religious values and patriarchal norms. These findings indicate that digital religious series not only represent social reality but also reproduce and negotiate the construction of femininity within contemporary society. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi wacana feminitas dalam relasi patriarki negosiatif pada serial religi digital “Para Pencari Tuhan 2025”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kajian mengenai representasi perempuan dalam serial religi digital, khususnya yang mengkaji keterkaitan antara nilai religius, budaya patriarki, dan konstruksi feminitas melalui pendekatan analisis wacana kritis. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk. Data penelitian berupa seluruh episode “Para Pencari Tuhan 2025” yang ditayangkan melalui platform Vidio dengan sumber data berupa dialog, narasi, penokohan, dan adegan yang merepresentasikan feminitas. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, simak, catat, dan tangkapan layar, kemudian dianalisis melalui dimensi struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa feminitas dikonstruksikan melalui representasi perempuan sebagai sosok domestik, emosional, dan pendukung moral keluarga yang dilegitimasi oleh narasi religius. Pada dimensi kognisi sosial, ditemukan internalisasi nilai patriarki yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Sementara itu, pada dimensi konteks sosial ditemukan pola patriarki negosiatif yang memperlihatkan perempuan dapat berpartisipasi dalam ruang publik, tetapi tetap dituntut untuk menjalankan peran domestik sesuai nilai religius dan budaya patriarki. Temuan ini menunjukkan bahwa serial religi digital tidak hanya merepresentasikan realitas sosial, tetapi juga mereproduksi dan menegosiasikan konstruksi feminitas dalam masyarakat kontemporer.
Struktur dan Corak Novel-Novel Jawa Pra Kemerdekaan Teguh Supriyanto; Esti Sudi Utami
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.368

Abstract

Struktur teks novel- novel Jawa Pra Kemerdekaan dibangun dari arkasemem kota –desa. Kota merupakan tempat yang ideal sementara desa tidak ideal. Dengan demikian, alur cerita umumnya memutar dari kota ke desa dan memutar kembali ke kota menuju ke arah yang ideal. Alur cerita dibangun melalui penerobosan medan semantis yang memenuhi ruang ruang artistik. Medan semantis novel novel tersebut umumnya dikonstruksi melalui pasangan oposisi bangsawan - rakyat, laki- perempuan, tampan/cantik-buruk, kaya–miskin. Bangsawan tinggal di kota. Mereka berada di istana serta rumah-rumah mewah. Sementara desa merupakan tempat para petani dan orang orang biasa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Corak novel Jawa Pra Kemerdekaan umumnya istana sentris dengan gaya bahasa perbandingan seperti metafora dan personifikasi. Romantisisme menjadi corak yang menonjol dengan sebaran ideologi yang berorientasi feodalistik dan romantik.
KAJIAN WACANA SASTRA PASCAKOLONIAL DAN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA Tirto Suwondo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.440

Abstract

This article talks about Indonesia literature postcolonial discourse in relation to characters building (nation). The approaches used are postcolonial and pragmatic. Postcolonial approach is used to study the meaning of texts, while pragmatic is used to study the meaning of contexts. The postcolonial approach proves that Indonesia literature texts indicate the existence of postcoloniality in the form of power relation, double identities, mimicry, and resistence. The pragmatic approach shows that postcoloniality can be used by readers as a reference to various temathical ideas; and those ideas can also be made as a projection for characterized self building (nation). AbstrakArtikel ini membahas wacana pascakolonial sastra Indonesia dalam kaitannya dengan pembangunan karakter bangsa. Pendekatan yang digunakan adalah pascakolonial dan pragmatik. Pascakolonial digunakan untuk membahas makna teks, sedangkan pragmatik digunakan untuk membahas makna konteks. Hasil pembahasan pascakolonial membuktikan bahwa teks-teks sastra Indonesia menunjukkan adanya pascakolonialitas yang berupa relasi kuasa, identitas ganda, mimikri, dan resistensi. Hasil pembahasan pragmatik menunjukkan bahwa pascakolonialitas itu oleh para pembaca dapat digunakan sebagai referensi berbagai gagasan tematis; dan gagasangagasan tematis itu dapat pula dijadikan sebagai proyeksi bagi pembangunan diri (bangsa) yang berkarakter
PENGANTAR REDAKSI DAN DAFTAR ISI Jentera: Jurnal Kajian Sastra Volume 11, No 2, Desember 2022
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract