cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
PROSA DAN KEHIDUPAN KOTA Ridha al Qadri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i1.390

Abstract

Tulisan ini mengeksplorasi relasi antara karya sastra dan sejumlah fakta sosial di perkotaan Indonesia dalam rentang tiga zaman (normal-khaos-normal) hingga zaman global. Terdapat tiga hal yang dicermati, di antaranya (1) segregasi spasial di perkotaan sepanjang peralihan tiga zaman tersebut, yaitu era kolonialisme hingga kemerdekaan, (2) strategi kelas sosial di ruang perkotaan, khususnya dalam gambaran karya sastra pada zaman yang berubah-ubah tersebut, dan (3) respons parodi-romantik dalam karya sastra atas kontradiksi kota hingga zaman global, yang meliputi krisis keintiman warga kota.
Reaksi Tokoh Perempuan terhadap Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit dalam Novel Bumi Ayu Karya Restiana Purwaningrum: Kajian Ekofeminisme Sastra Muhammad Faiz Hakim Nazri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.3247

Abstract

The novel Bumi Ayu tells how the community in a village called Bayan was affected by the expansion of oil palm plantations and fought back. This research will reveal the impact of oil palm plantation expansion on women and ecological conditions. Also, it aims to find the reactions of female characters to the expansion of oil palm plantations that are in line with the ecofeminism perspective of Vandana Shiva. The research method used in this research is a descriptive-analytic method. The material object of this research is the novel Bumi Ayu by Restiana Purwaningrum. Based on this research, the results of the research can be determined in the form of (1) the discovery of ecological damage around the oil palm plantation development company, namely contamination of air sources; (2) changes in the pattern of women's income sources; (3) resistance reactions from women leaders against the development of oil palm plantation companies. AbstrakNovel Bumi Ayu menceritakan bagaimana masyarakat di sebuah desa bernama Bayan terkena dampak dari ekspansi perkebunan kelapa sawit dan melakukan perlawanan. Penelitian ini akan mengungkap dampak dari ekspansi perkebunan kelapa sawit terhadap perempuan dan keadaan ekologi. Penelitian juga ingin menemukan reaksi tokoh perempuan terhadap ekspansi perkebunan kelapa sawit yang sejalan dengan perspektif ekofeminisme Vandana Shiva. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Objek material dari penelitian ini adalah novel Bumi Ayu karya Restiana Purwaningrum. Atas penelitian tersebut, dapat ditentukan hasil dari penelitian berupa (1) ditemukannya kerusakan ekologi di sekitar pembangunan perusahaan perkebunan kelapa sawit, yakni tercemarnya sumber air; (2) perubahan pola sumber nafkah perempuan; dan (3) reaksi perlawanan dari para tokoh perempuan terhadap pembangunan perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Psikologi Tokoh Utama dalam Cerita Rakyat Cupak Gurantang dan Bawang Merah Bawang Putih: Kajian Sastra Perbandingan Baiq Alvi Ramdantia; Saharudin Saharudin; Murahim Murahim; Agusman Agusman
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7757

Abstract

The folklore of Cupak Gurantang (CG) and Bawang Merah Bawang Putih (BMBP) was born and developed in the community and spread using everyday language. The folklore (CG) and (BMBP) tell about two brothers, but not siblings. Both stories have similarities in the characters and characterization in the story. This study aims to determine the similarities or differences in the classification of the emotions of the main characters in the folklore in terms of character psychology. The study approach used in the study is the study of literary psychology, Krech's classification theory and comparative literature studies. The data analysis technique used is the content analysis technique with the following steps: 1) identifying the emotions of the characters in the stories (CG) and (BMBP), 2) classifying the emotions of the characters based on the characterization of the characters in the story, 3) analyzing the emotions in the stories (CG) and (BMBP) by describing the data that has been obtained using David Krech's emotion classification theory, 4) comparing the emotions of the main characters in the stories (CG) and (BMBP). The results of the study show that the main characters in the folklore (CG) and (BMBP) have similarities and differences in emotions between characters. The characters Cupak and Bawang Merah have similar emotional classifications, namely anger, hatred and failure. The similarities in the emotions of the characters Cupak and Bawang Merah are due to the same character between the two. This is motivated by envy of their younger sibling and the luck that they never got. Thus, the envy that exists within them affects the psychological condition that they must have what their younger sibling has even though they have to do it in a cunning way. Meanwhile, the characters Gurantang and Bawang Putih have different emotions, but have the same character. The similarities in their characters are motivated by a life that demands them to be good and patient people. AbstrakCerita rakyat Cupak Gurantang (CG) dan Bawang Merah Bawang Putih  (BMBP) lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat serta menyebar dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Cerita rakyat (CG) dan (BMBP) menceritakan tentang dua orang bersaudara, namun bukan saudara kandung. Kedua cerita ini memiliki kemiripan pada tokoh dan penokohan dalam ceritanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan atau perbedaan klasifikasi emosi tokoh utama dalam cerita rakyat tersebut pada aspek psikologi tokoh. Pendekatan kajian yang digunakan dalam penelitian adaalah kajian psikologi sastra teori klasifikasi Krech dan kajian sastra banding. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis isi dengan langkah-langkah: 1) mengidentifikasi emosi tokoh dalam cerita (CG) dan (BMBP), 2) mengklasifikasikan emosi tokoh berdasarkan penokohan tokoh dalam cerita, 3) menganalisis emosi dalam cerita (CG) dan (BMBP) dengan mendeskripsikan data yang telah diperoleh menggunaakan teori klasfikasi emosi David Krech, 4) melakukan perbandingan emosi tokoh utama dalam cerita (CG) dan (BMBP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama dalam cerita rakyat (CG) dan (BMBP) memiliki persamaan dan perbedaan emosi antar tokoh. Tokoh Cupak dan Bawang Merah memiliki persamaan klasifikasi emosi yaitu  pada emosi marah, benci dan kegagalan. Persamaan emosi  tokoh Cupak dan Bawang Merah  dikarenakan watak antar keduanya yang sama. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh rasa iri hati terhadap sang adik dan keburuntungan yang tidak pernah mereka dapatkan. Dengan demikian, rasa iri hati yang terdapat dalam diri memengaruhi kondisi psikologis bahwa mereka harus memiliki seperti apa yang dimiliki oleh sang adik meski dengan cara licik agar mereka mendapatkannya. Sedangkan, pada tokoh Gurantang dengan Bawang Putih memiliki perbedaan emosi, tetapi memiliki watak yang sama. Kesamaan watak keduanya dilatarbelakangi oleh kehidupan yang menuntut mereka menjadi pribadi yang baik dan penyabar.
PEREMPUAN DALAM SWARA SESTRA DAN FAKTA PERKAWINAN ENDOGAMI ARISTROKAT JAWA Fajar Wijanarko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.606

Abstract

Abstract: In general, Javanese women are well-imagery and often raised as a form of teaching in literature. However, in the Swara Sěstra text, it is actually metaphorically as a senthe leaves, the allegory of young women who being a co-wife to older women. This issue becomes complicated when the situation occurs in the aristocratic environment of Java. By the discipline of philology with methods of text editing and translation, the phenomenon of women in the text of Swara Sěstra will be expressed. The semiotic study of text through heuristic and hermeneutical readings then becomes an attempt at interpreting the text. At the end of the discussion, it is known that female allegory as a senthe refers to the image of poor Javanese women. Behind the meaning of the text is then found also evidence that this female allegedly dragged historical facts about the rampant endogamy marriage in the nobility. Even the behavior repeatedly happen, especially in the inner court environment.Abstrak: Pada umumnya, perempuan Jawa bercitra baik sehingga kerap dimunculkan sebagai bentuk ajaran dalam sastra. Akan tetapi, dalam teks Swara Sěstra justru dimetaforakan sebagai daun senthe, yaitu alegori perempuan muda yang dimadu dengan perempuan yang lebih tua. Persoalan ini menjadi rumit ketika keadaan tersebut terjadi di lingkungan aristokrat Jawa. Berbekal disiplin filologi dengan metode penyuntingan teks dan penerjemahan, fenomena perempuan dalam teks Swara Sěstra akan diungkapkan. Telaah teks secara semiotik melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik kemudian menjadi upaya dalam menafsirkan teks. Pada akhir pembahasan, diketahui bahwa alegori perempuan sebagai senthe merujuk pada citra perempuan Jawa yang tidak baik. Di balik pemaknaan teks tersebut kemudian ditemukan pula bukti bahwa pengalegorian perempuan ini menyeret fakta sejarah tentang maraknya perkawinan endogami di lingkungan bangsawan. Bahkan perilaku tersebut merupakan hal yang subur, terutama di lingkungan dalam tembok istana.
Conflict of Irish Cultural Identity in Brian Friel’s Translation Ambar Andayani; Edi Pujo Basuki; Ali Mustofa
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6281

Abstract

This research purposes to analyze Irish cultural identity conflict in Brian Friel’s Translation, namely by analyzing why it happens and how it impacts to Irish. The method applied to analyze is descriptive qualitative method by doing content analysis through data collecting technique in the form of library research. From the data source of Brian Friel’s Translation, the researcher does the technique of interpretation by using Homi K. Bhabha’s postcolonialism theory of mimicry concept to identify the conflict of Irish cultural identity found in the literary work. The result of the research shows that the setting in Brian Friel’s Translation is Northern Ireland in the 19th century. Irish people are surrendered to be the British colony. British people colonize Irish in various ways; destroying Irish rights by forcing them to work very hard on potato plantation in the area where they live to fulfill British people food, forbidding Irish to use their own language or do their Catholic religious worship, executing Ordnance survey namely by replacing names of local places in Northern Ireland for the importance of imperialism forcibly. That colonialism causes suffering, starving and poverty. Through the dialogues, it reflects that British people want to abolish Irish language and culture to replace it to British language and culture which is considered more modern. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis konflik identitas budaya bangsa Irlandia dalam drama Translation karangan Brian Friel, yaitu dengan mengupas mengapa konflik itu terjadi, dan bagaimana akibatnya terhadap bangsa Irlandia. Metode yang diterapkan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan menganalisa isi melalui teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan. Dari sumber data drama Translation karangan Brian Friel, peneliti memakai teknik interpretasi melalui teori postkolonialisme konsep mimikri dari Homi K Bhabha untuk mengidentifikasi konflik identitas budaya bangsa Irlandia yang ditemukan pada karya sastra tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seting yang terdapat pada drama tersebut adalah pedesaan Irlandia Utara pada abad 19. Bangsa Irlandia takluk menjadi koloni bangsa Inggris. Bangsa Inggris menjajah dengan berbagai cara, menghancurkan hak-hak bangsa Irlandia dengan memaksa mereka kerja paksa di perkebunan kentang tempat tinggal mereka untuk memenuhi kebutuhan makanan rakyat Inggris, melarang mereka menggunakan bahasa asli atau melakukan ibadah agama Katolik, dan melakukan survei Ordnance yaitu mengganti paksa nama-nama lokal di Irlandia utara ke bahasa Inggris untuk kepentingan imperialisme. Penjajahan tersebut menyebabkan penderitaan, kelaparan dan kemiskinan. Melalui dialog-dialognya tercermin bahwa bangsa Inggris ingin melenyapkan budaya serta bahasa Irlandia, lalu menggantinya dengan budaya dan bahasa Inggris yang dianggap lebih modern.
Fulfilling The Hierarchy of Needs on Female Characters in the Novel Lebih Senyap dari Bisikan by Andina Dwifatma Putu Debby Yolanda; Wiyatmi Wiyatmi; Ary Kristiyani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8438

Abstract

This study aims to describe the fulfillment of the hierarchy of needs in female characters in the novel Lebih Senyap dari Bisikan (Quieter than a Whisper) through the perspective of Jean B. Miller’s feminist psychology and Abraham Maslow’s hierarchy of needs theory. This research employs a descriptive qualitative method. The research instrument used is a human instrument, in which the researcher develops indicators based on Maslow’s concept of the hierarchy of needs. Data were collected through reading, note-taking, and literature review. Then, it was analyzed in stages: data collection, data condensation, data presentation, and conclusion drawing. The validity of the data was ensured through data triangulation, while the consistency of the findings was strengthened using intra-rater techniques. The study focuses on how the female characters fulfill their hierarchy of needs as women, from physiological needs to self-actualization. The findings show that the female characters successfully fulfill these needs: 1) Mami can meet the physiological and safety needs by providing adequate housing and necessities for herself as a single parent and for her daughter; 2) Amara fulfills the need for a sense of belonging and affection from Mami, even though it comes from a single parent; 3) Macan meets her esteem needs through independence and the freedom to determine her life philosophy; 4) Meanwhile, Amara ultimately achieves self-actualization through self-acceptance after experiencing marital conflicts. Overall, the narrative illustrates the efforts of the female characters to meet their basic needs and ultimately achieve self-actualization. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemenuhan hierarki kebutuhan pada diri tokoh-tokoh perempuan dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan dengan menggunakan perspektif psikologi feminis Jean B. Miller dan teori pemenuhan hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah human instrument, yakni peneliti yang menyusun indikator berdasarkan konsep hierarki kebutuhan Maslow. Data dikumpulkan melalui teknik baca, catat, dan studi pustaka. Kemudian, data dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi data, sedangkan konsistensi temuan diperkuat dengan teknik intra-rater. Fokus kajian terletak pada bagaimana tokoh perempuan memenuhi hierarki kebutuhan sebagai perempuan, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh-tokoh perempuan berhasil memenuhi hierarki kebutuhan tersebut: 1) Mami mampu memenuhi kebutuhan fisiologis dan keamanan, dengan menyediakan tempat tinggal layak dan kebutuhan dasar bagi dirinya sebagai orang tua tunggal serta untuk anaknya, Amara; 2) Amara memenuhi kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang dari Mami, meskipun kasih sayang tersebut berasal dari seorang single parent; 3) Macan memenuhi kebutuhan harga diri dengan kemandirian dan kebebasannya menentukan pandangan hidup; 4) sementara Amara pada akhirnya mencapai aktualisasi diri melalui penerimaan diri setelah konflik rumah tangga yang dialami. Secara keseluruhan, cerita memperlihatkan berbagai usaha tokoh perempuan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar mereka hingga mencapai aktualisasi diri.
Transmisi Memori dan Wacana Rekonsiliasi dalam Cerpen “Perempuan Sinting Di Dapur” Karya Ugoran Prasad: Kajian Postmemory Galih Pangestu Jati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 1 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i1.2265

Abstract

This study aims to explain the structure of memory transmission in the short story "Perempuan Sinting di Dapur" by Ugoran Prasad and the reconciliation discourse offered by the author. Overall, this short story raised the 1965 Event in Indonesia. Ugoran Prasad tried to discuss the impact caused by the incident, both in terms of the perpetrators and victims. The theory used is the postmemory theory developed by Marianne Hirsch. The results of this study indicate that the structure of memory transmission in short stories is mediated by behavior and narratives, both from the perspective of victims and perpetrators. Both of these parties turned out to be equally save the deep trauma that was carried throughout his life. Then, through this short story, Ugoran Prasad presented a discourse of reconciliation to those who had a traumatic impact on the 1965 event, both generations who were traumatized and post-generation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur transmisi memori dalam cerpen “Perempuan Sinting di Dapur” karya Ugoran Prasad dan wacana rekonsiliasi yang ditawarkan oleh penulis. Secara keseluruhan, cerpen ini mengangkat Peristiwa 1965 di Indonesia. Ugoran Prasad berusaha membahas mengenai dampak yang ditimbulkan dari peristiwa itu, baik dari segi pelaku maupun korban. Adapun teori yang digunakan adalah teori postmemory yang dikembangkan oleh Marianne Hirsch. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa struktur transmisi memori dalam cerpen dimediasi oleh perilaku dan narasi atau cerita, baik dari perspektif korban maupun pelaku. Kedua pihak ini ternyata sama-sama menyimpan trauma mendalam yang dibawa seumur hidupnya. Kemudian, melalui cerpen ini Ugoran Prasad menghadirkan wacana rekonsiliasi kepada pihak-pihak yang berdampak trauma akan Peristiwa 1965, baik generasi yang mengalami trauma maupun post-generation
Konteks Sosial, Politik, dan Budaya dalam Sastra Drama Tahun 1970-an: Studi Kasus pada “Kisah Perjuangan Suku Naga” Karya W.S Rendra dan “Maaf, Maaf, Maaf” Karya N. Riantiarno M. Yoesoef
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i1.16

Abstract

Pesona kekuasaan, baik di ranah keluarga (domestik) maupun di ranah umum (publik) senantiasa memicu pergolakan di antara anggota keluarga dan masyarakat luas. Dalam pada itu, para birokrat yang mengemban tugas pemerintahan dapat dikatakan sebagai ujung tombak untuk menyejahterakan masyarakat melalui program-programnya. Namun demikian, dinamika di lapangan, selain hal positif juga menimbulkan efek negatif, yang berkaitan dengan perilaku birokrat dalam hal implementasi program-program itu. Hal itu terekam dalam ingatan kolektif masyarakat dan menjadi batu besar yang menghalangi pandangan. W.S. Rendra dan N. Riantiarno melalui karyanya merekam ingatan kolektif itu menjadi sebuah drama yang menyindir dan kritis. Di balik karyanya itu, mereka memberi ingatan kepada kita betapa ekses dari proses pembangunan sepanjang tahun 1970-an menuai opini yang perlu dicermati di masa sekarang ini.Kata kunci: ingatan kolektif, domestik, publik, birokrat
Contemporary Danmei Fiction and Its Similitudes with Classical and Yanqing Literature Aiqing Wang
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3397

Abstract

Danmei, aka Boys Love, is a salient transgressive genre of Chinese Internet literature. Since entering China’s niche market in 1990s, the danmei subculture, predominantly in the form of original fictional creation, has established an enormous fanbase and demonstrated significance via thought-provoking works and social functions. Nonetheless, the danmei genre is not an innovation in the digital age, in that its bipartite dichotomy between seme ‘top’ and uke ‘bottom’ roles bears similarities to the dyad in caizi-jiaren ‘scholar-beauty’ anecdotes featuring masculine and feminine ideals in literary representations of heterosexual love and courtship, which can be attested in the 17th century and earlier extant accounts. Furthermore, the feminisation of danmei characters is analogous to an androgynous ideal in late-imperial narratives concerning heterosexual relationships during late Ming and early Qing dynasties, and the depiction of semes being masculine while ukes being feminine is consistent with the orthodox, indigenous Chinese masculinity which is comprised of wen ‘cultural attainment’ epitomising feminine traits and wu ‘martial valour’ epitomising masculine traits. In terms of modern literature, danmei is parallel to the (online) genre yanqing ‘romance’ that is frequently characterised by ‘Mary Sue’ and cliché-ridden narration. 
Model Authentic Assessment dalam Pembelajaran Sastra Terintegrasi Karakter Multikultural Sri Wahyuni; Ari Ambarwati; NFN Junaidi; Junaidi Ghony; Zulkifli Osman
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4668

Abstract

Character education, incredibly multicultural characters, must be instilled in students significantly to minimize conflict in a society, including the plural and heterogeneous Indonesian society. Planting multicultural characters, especially in academic learning, can be done by integrating these characters in the learning and assessment process. The research goals to develop an assessment activity and an authentic assessment instrument model in academic learning that integrates multicultural characters. The research method is Research and Development (R&D). The research uses ADDIE model developed by Reiser and Molley, namely Analysis, Design, and Development. The results of the research formulates two findings, first, the model of assessment activities in literary learning that integrates multicultural characters can be done through (1) social studies of life in literary works, (2) through appreciation of literary works that contain multicultural values,(3) through role-playing in drama, (4) through a comparison of literary works, and (5) through field experience when appreciating and writing literary works. Second, the authentic assessment instrument model in academic learning that integrates multicultural characters are developed through the techniques of (1) observing multicultural attitudes, (2) self-assessment related to multicultural attitudes, (3) peer assessment related to multicultural attitudes, (4) direct questions about multicultural attitudes furthermore (5) personal reports related to multicultural attitudes. AbstrakPendidikan karakter khususnya karakter multikultural perlu dan penting untuk ditanamkan pada peserta didik terutama untuk meminimalisasi konflik pada suatu masyarakat termasuk masyarakat Indonesia yang majemuk dan heterogen. Penanaman karakter multikultural khususnya dalam pembelajaran sastra dapat dilakukan dengan mengintegrasikan karakter tersebut dalam proses pembelajaran dan asesmennya. Tujuan kajian adalah mengembangkan model kegiatan asesmen dan model instrumen authentic asessment dalam pembelajaran sastra yang mengintegrasikan karakter multikultural. Rancangan penelitian ini adalah Research and Development (R&D). Penelitian menggunakan R & D model ADDIE yang dikembangkan Reiser dan Molley yaitu analisis, desain, dan pengembangan. Hasil penelitian memformulasikan dua temuan, pertama, model aktivitas asesmen dalam pembelajaran sastra yang mengintegrasikan karakter multikultural dapat dilakukan melalui (1) kajian-kajian sosial kehidupan dalam karya sastra, (2) apresiasi karya sastra yang mengandung nilai-nilai multikultural, (3) permainan peran dalam drama, (4) perbandingan karya sastra, dan (5) pengalaman lapangan ketika mengapresiasi dan menulis karya sastra. Kedua, model instrumen authentic assessment dalam pembelajaran sastra yang mengintegrasikan karakter multikultural dikembangkan melalui teknik (1) observasi sikap multikultural, (2) penilaian diri terkait sikap multikultural, (3) penilaian antarteman terkait sikap multikultural, (4) pertanyaan langsung tentang sikap multikultural, dan (5) laporan pribadi terkait sikap multikultural.