cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
GENDER BIAS AS REFLECTED ON UPIN & IPIN THE SERIES Herry Nur Hidayat; Wasana Wasana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1642

Abstract

This paper describes gender bias as reflected in Upin & Ipin the series. This study employed qualitative research methods in which the objects were observed repeatedly to construct indicators that reflected gender bias. Then it was followed by analyzing them within sociological and feminist perspectives. It showed that there was an imbalance in gender position within several episodes of Upin & Ipin. As one of the media forms that later on becoming an instructional media, it should posit its position neutrally in the term of gender issues. The content of the gender bias in Upin & Ipin reflected within characters and settings. It reflected as the characters articulate their dialogues and behave in their daily life. There was a tendency to determine the ownership of boys and girls based on colors and things. In this case, pink regarded as to belong to girls. Also, there was a tendency to describe that girls and boys behave differently. For example, girls should be gentle and neat, and boys should be strong and brave. In the term of setting, gender bias reflected in the domination of areas that boys dominate outdoor public space while girls are in the domestic sector (households). Abstrak: Artikel ini memaparkan hasil penelitian terhadap serial animasi Upin & Ipin yang memperlihatkan bias gender dalam beberapa episodenya. Sebagai salah satu bentuk media yang kemudian menjadi media pembelajaran seharusnya bisa berposisi netral dalam hal gender. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Objek material diamati secara berulang untuk memperoleh indikator yang menunjukkan bias gender yang kemudian dianalisis dalam kerangka sosiologi dan perspektif feminisme. Hasil penelitian menunjukkan muatan bias gender dalam Upin & Ipin terdapat dalam tokoh dan penokohan serta pembentukan latar. Dalam tokoh dan penokohan serial animasi ini, melalui dialog dan lakuannya, terdapat kecenderungan “kepemilikkan” warna dan benda tertentu. Dalam hal ini, warna merah muda dianggap sebagai warna “milik” perempuan. Di samping itu, terdapat pula kecenderungan sifat dan perilaku perempuan dan laki-laki. Perempuan harus memiliki sifat lembut dan rapi sementara laki-laki harus keras dan berani. Dalam latar cerita, muatan bias gender muncul sebagai bentuk wilayah dominasi perempuan dan laki-laki. Perempuan dibatasi dalam wilayah domestik rumah tangga sementara laki-laki berada di wilayah luar (publik)..
Lirik Tembang Cianjuran Wanda Panambih dalam Kajian Struktur dan Etnopedagogik Noni Mulyani; Yayat Sudaryat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7317

Abstract

The lyric of Cianjuran Wanda Panambih (Complementary Type) is a kind of lyric that is much inspired by kawih and kesindenan. The use of barels include pelog degung, sorog, salendro, mandalungan, and wisaya.  This research aims to find out and determine the structure of lyric Cianjuran wanda panambih songs based on the structures and ethnopedagogics. In this research, a qualitative approach with a descriptive method is applied. Data is collected through documentation techniques and interview techniques. The source of this research data is the lyrics of Cianjuran song by Mang Bakang.  The results of the research find 33 (thirty-three) lyrics of the song Cianjuran wanda panambih by Mang Bakang, which are observed in terms of structure and ethnopedagogic value. In terms of structure, 10 lyrics are found in the form of pupuh, 18 lyrics in the form of free poetry, and 5 lyrics in the form of insertions. In the lyrics, most images are found, the most dominant theme is humanity, the most dominant tone is educating the reader or reminding the reader, and the most dominant figurative language is the paraphrasing base style. In terms of étnopédagogic, 71 characters are found that refer to the educational value of cultural and national characters based on the Curriculum Center, Research and Development Agency, Ministry of National Education. This research can add insight into the elements of poetry in Cianjuran songs and the emergence of a sense of pride from the community towards Cianjuran songs. AbstrakLirik Tembang Cianjuran Wanda Panambih (Tipe Pelengkap) merupakan tipe lirik tembang yang dipengaruhi oleh kawih dan kepesindenan. Laras yang digunakan meliputi pelog degung, sorog, salendro, mandalungan, dan wisaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memaparkan struktur lirik tembang Cianjuran wanda panambih yang dikaji dari struktur dan etnopedagogik. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan teknik wawancara. Sumber data penelitian ini adalah lirik tembang Cianjuran karya Mang Bakang. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 33 lirik tembang Cianjuran wanda panambih karya Mang Bakang yang dikaji dari segi struktur dan nilai etnopedagogik. Dari segi struktur ditemukan 10 lirik dalam bentuk pupuh, 18 lirik dalam bentuk puisi bebas, dan 5 lirik dalam bentuk sisindiran. Di dalam lirik tersebut, kebanyakan ditemukan imaji rasa; tema yang paling dominan, yaitu kemanusiaan; nada yang paling dominan, yaitu mendidik pembaca atau mengingatkan pembaca; dan bahasa figuratif yang paling dominan, yaitu gaya bahasa parafrase. Dari segi etnopedagogik ditemukan 71 karakter yang merujuk pada nilai pendidikan karakter budaya dan bangsa yang berdasar pada Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional. Penelitian ini bisa menambah wawasan tentang unsur puisi dalam tembang Cianjuran serta timbulnya rasa bangga dari masyarakat terhadap tembang Cianjuran.
REPRESENTASI BUDAYA DALAM NOVEL BOENGA ROOS DARI TJIKEMBANG Syihaabul Hudaa; Ahmad Bahtiar; Novi Diah Haryanti; Winci Firdaus
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3316

Abstract

Novel bukan hanya menyajikan unsur seni, melainkan unsur budaya, sejarah, dan nilai estetik lainnya melalui bahasa. Akan tetapi, tidak semua pembaca menemukan nilai tersebut dan sekadar menikmati cerita yang dituliskan oleh penulisnya. Tujuan penulisan artikel ini untuk menemukan nilai budaya apa saja yang terdapat di dalam novel Boenga Roos dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay yang merupakan keturunan Tionghoa. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis kualitatif deskriptif di mana peneliti memaparkan hasil penelitiannya menggunakan teks secara deskriptif. Kemudian, peneliti menggunakan pendekatan di dalam penelitian berupa analisis isi dengan memfokuskan pada novel dengan melakukan kajian objektif. Kajian objektif dipilih karena peneliti dapat menelaah secara mendalam nilai-nilai yang terdapat di dalam novel tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan unsur kebudayaan Sunda, Jawa, dan Tionghoa dalam novel Boenga Roos dari Tjikembang.
SEKUJANG DI AMBANG HILANG: USAHA PELESTARIAN SASTRA LISAN MELALUI FILM DOKUMENTER Sarwo F. Wibowo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i1.383

Abstract

Sekujang merupakan tradisi tahunan yang diadakan oleh masyarakat Serawai di Kabupaten Seluma untuk mendoakan jemo putus (orang yang putus silislahnya, orang yang mati karena kecelakaan, orang yang mati namun tidak ditemukan mayatnya, dan lain-lain). Tradisi ini dulunya dilaksanakan tidak kurang dari tujuh desa di Kabupaten Seluma dan Kepahiang, namun saat ini hanya desa Talang Benuang saja yang melestarikannya. Penelitian ini merupakan usaha dokumentasi Sekujang sebagai sastra lisan yang terancam punah. Data mengenai sejarah, asalusul, tata cara Sekujang, dan pergeseran nilai yang terjadi dalam sekujang diperoleh melalui wawancara dengan teknik simak cakap. Selain itu juga dilakukan observasi dan dokumentasi untuk merekam dan menunjukkan kondisi sebenarnya dalam ritual Sekujang. Hasil penelitian ini berhasil menggali bahwa hilangnya adat Sekujang di beberapa desa utamanya diakibatkan oleh meninggalnya tetuo Sekujang yang membawa pengetahuan tentang tradisi ini mati bersamanya.Beberapa faktor lain seperti adanya tekanan dari pihak yang mengklaim Sekujang sebagai tindakan syirik, tidak adanya dukungan dari pemerintah, keterbatasan dana, dan persaingan dengan kebudayaan modern makin memberi dorongan bagi Sekujang menuju kepunahannya.Mengingat kondisinya yang sangat kritis, maka pelestarian melalui film dokumenter menjadi jalan keluar terbaik yang memberikan manfaat ganda. Pertama, film dokumenter menjadi upaya dokumentasi visual dan kedua film dokumenter menjadi bagian dalam upaya advokasi dan promosi pelestarian tradisi ini.
Sabai Nan Aluih: dari Kaba Klasik ke Komik Lastry Monika
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.2843

Abstract

The discussion in this paper aims to discuss Sabai Nan Aluih which was originally a classic work which was transformed into a new work in the form of a comic. It happened as a reception of a literary form. Both works are analyzed and interpreted by looking at the relationship between works related to the horizon of hope as stated by Hans Robert Jauss. Based on this theory, the presence (those who are present) and the absence (those who are not present) are stated as a form of respect for the two works that are used as object materials. The results of the analysis show that there are a number of presences and absences between the two works. The presence and absence of the two works can be seen based on the plot, setting of the story, and the choice of words used. The number of attendances and absences occurs because or is intended to be adjusted to the different times of the presence of the two works. However, these two things do not change the main idea of the story of Sabai Nan Aluih. AbstrakPembahasan dalam tulisan ini bertujuan untuk membahas Sabai Nan Aluih yang pada awalnya merupakan karya klasik bertranformasi menjadi karya baru berupa komik. Hal itu terjadi sebagai bentuk resepsi sastra. Kedua karya tersebut dianalisis dan ditafsir dengan melihat hubungan antarkarya yang berkaitan dengan horizon harapan sesuai yang dikemukakan oleh Hans Robert Jauss. Berdasarkan teori tersebut dikemukakan presence (yang hadir) dan absence (yang tak hadir) sebagai wujud dari respesi atas kedua karya yang dijadikan sebagai objek material. Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat sejumlah presence dan absence antarkedua karya. Presence dan absence yang terdapat dalam kedua karya dapat dilihat berdasarkan alur, latar cerita, dan pilihan kata yang digunakan. Adanya sejumlah presence dan absence terjadi dikarenakan atau bertujuan untuk disesuaikan dengan perbedaan zaman hadirnya kedua karya tersebut. Akan tetapi, kedua hal itu secara keseluruhan tidak mengubah gagasan utama dari cerita Sabai Nan Aluih.
KELENTURAN MASYARAKAT BALI-TRADISIONAL TERHADAP MODERNITAS DALAM KUMPULAN CERPEN MANDI API Puji Retno Hardiningtyas
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.444

Abstract

This study analyzes the social dynamics of Balinese culture and intellectual to face tradition and modernization clash by applying the theory of sociology literaryas a scalpel. This researchis is adescriptive study using descriptive qualitative research, descriptive analysis analytic methods, and the theory used of sociology literaryas. Within the scope of the sociallife of the Balinese people, the collection of short stories Mandi Api by Gde aryantha Soethama presentinga local color.This Socio cultural dynamics is combined with ancestor’s social symptoms pressure, namelysocial interaction between communities, social conflict, cultural identity, andhuman relationships that shape the Balinese behavior and culture. The intensityof the social and cultural changes as a result of activity of Balinese life isstrongly influenced by the strength of the values and traditions ofindigenous cultural communities in the social environment of Bali.AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis dinamika sosial budaya dan sikap masyarakat Bali tradisional dalam menghadapi benturan tradisionalitas dan modernitas. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, metode analisis deskriptif analitik, dan teori yang digunakan sosiologi sastra. Hasil yang ditemukan terlihat dalam lingkup kehidupan sosial masyarakat Bali, kumpulan cerpen Mandi Api karya Gde Aryantha Soethama menyuguhkan warna lokal. Dinamika sosial budaya ini dikombinasikan dengan tekanan tradisi nenek moyang menimbulkan gejala sosial, yaitu interaksi antarkomunitas sosial, konflik sosial, identitas budaya, dan hubungan percintaan manusia Bali yang membentuk perilaku dan kultur masyarakat Bali. Intensitas terjadinya perubahan nilai sosial budaya sebagai akibat aktivitas kehidupan masyarakat Bali sangat dipengaruhi oleh kuat lemahnya nilai tradisi dan adat di lingkungan sosial kultural masyarakat Bali.
Realisme Magis dalam Rondontō Karya Natsume Soseki Laily Raff Firdausy; Syahrur Marta Dwisusilo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4653

Abstract

It is said that magical realism first appeared in Germany in the 1920s. However, this also allegedly contained in Natsume Soseki’s Rondontō (published in 1905), way before the concept itself was being established. Rondontō tells about the visit of Japanese student to the Tower of London, where he experienced various irrational things. To prove Rondontō's values as a text with the genre of magical realism, we use five categorizations of magical realism by Wendy B. Faris. with literature review method. We categorize the magical realism characteristic in this text where irreducible elements were found in the form of the presence of spirits, then phenomenal world elements were fouind through the detailed descriptions and the appearance of unusual elements themselfs. In addition, there is also an element of unsettling doubt that is raised through the doubts of the main character in understanding his experience, which is connected to the merging of realms where the two worlds are joined between the fantasy stage and the real world. The main character keeps moving in time and places which indicates the occurrence of space and time disturbances. The presence of these five categorizations of magical realism indicates that Rondontō contains magical realism in it. Therefore, the statement that the concept of magical realism first appeared in Germany in the 1920s can not be said to be fit, but rather focuses only on its development in the west. AbstrakRealisme magis dikatakan muncul pertamakali di Jerman pada tahun 1920-an. Namun begitu, hal ini diduga terkandung pada teks Rondontō karya Natsume Soseki (1905), tahun dimana konsep ini belum dihadirkan. Rondontō bercerita tentang kunjungan mahasiswa Jepang ke Menara London, di mana ia mengalami hal-hal irasional. Untuk membuktikan bahwa cerpen Rondontō termasuk sebagai teks bergenre realisme magis, penulis menggunakan lima kategorisasi karakter genre realisme magis oleh Wendy B. Faris menggunakan metode studi pustaka, di mana unsur irreducible element digambarkan melalui hadirnya arwah masa lalu, lalu unsur phenomenal world melalui penggambaran detail yang amat rinci serta dimunculkannya elemen tidak biasa. Selain itu, terdapat unsur unsettling doubt yang dimunculkan melalui keraguan tokoh utama dalam memahami pengalamannya yang berkaitan dengan unsur merging realms (dua dunia tergabung antara panggung fantasi dan dunia nyata). Tokoh kerap melakukan perpindahan waktu dan tempat yang menandakan terjadinya unsur disruption of time and space. Kehadiran lima kategorisasi realisme magis ini menandakan bahwa cerpen Rondontō termasuk ke dalam teks bergenre realisme magis. Dengan demikian, pernyataan bahwa konsep realisme magis pertama kali muncul di Jerman pada tahun 1920an tidak dapat dikatakan sesuai, melainkan hanya berfokus pada perkembangannya di wilayah Barat.
Nilai Moral dalam Novel Surga Yang Tak Dirindukan Karya Asma Nadia dan Relevansinya dalam Pembelajaran Sastra Indonesia di SMA Novianti Agustina; Salam Salam; Aslan Abidin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8350

Abstract

The purpose of this study is to describe the moral values in the novel Surga yang Tak Dirindukan by Asma Nadia based on James Rachels' ethical perspective, and to explain the relevance of these values in learning Indonesian literature in Senior High Schools. The focus of this study lies in the depiction of the form of moral values such as courage, honesty, loyalty, generosity, forgiveness, good deeds, and gentleness which are represented through the characters and conflicts in the novel, as well as the analysis of their relationship to character education in the context of learning literature. Data collection techniques are carried out through reading techniques and note-taking techniques that are relevant to the focus of the study. The main instrument in this study is the researcher herself as the key instrument, assisted by supporting instruments in the form of data corpus tables. The results of the study indicate that the novel Surga yang Tak Dirindukan is full of moral values that are apparent through the actions and choices of the main characters in facing life's problems, especially in the context of polygamy, family conflict, and social responsibility. These values are in line with ethical principles according to James Rachels, such as acting rationally, considering the interests of others, and upholding justice. In addition, the moral values in this novel are very relevant to be applied in literature learning at the high school level, because they support the strengthening of students' character and contextual learning that is in line with the Independent Curriculum and the Pancasila Student Profile. Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral dalam novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia berdasarkan perspektif etika James Rachels, serta menjelaskan relevansi nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran sastra indonesia di Sekolah Menengah Atas. Fokus penelitian ini terletak pada penggambaran bentuk nilai-nilai moral seperti keberanian, kejujuran, kesetiaan, kemurahan hati, pemaaf, beramal shaleh, dan lemah lembut yang direpresentasikan melalui tokoh dan konflik dalam novel, serta analisis keterkaitannya dengan pendidikan karakter dalam konteks pembelajaran sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan teknik catat yang relevan dengan fokus penelitian. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen kunci, dibantu dengan instrumen pendukung berupa tabel korpus data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Surga yang Tak Dirindukan sarat akan nilai-nilai moral yang tampak melalui tindakan dan pilihan tokoh utama dalam menghadapi permasalahan hidup, terutama dalam konteks poligami, konflik keluarga, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip etika menurut James Rachels, seperti bertindak rasional, mempertimbangkan kepentingan orang lain, dan menjunjung keadilan. Selain itu, nilai-nilai moral dalam novel ini sangat relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran sastra di tingkat SMA, karena mendukung penguatan karakter peserta didik serta pembelajaran kontekstual yang selaras dengan Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila.
CERITA RAKYAT ”AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI” DAN ”PUTRI KARANG MELENU” DARI KUTAI KARTANEGARA (KAJIAN MOTIF INDEKS THOMPSON) Yudianti Herawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.928

Abstract

This paper aims to describe motifs of “Aji Batara Agung Dewa Sakti” and “Putri Karang Melenu” folklores from Kutai Kartanegara Kingdom with the Thompson’s motif index approach. This research uses descriptive-qualitative method,it discusses (1) the historical background, (2) the division of motifs, and (3) the similarities and differences in those two folklores. The result shows that they apply eight Thompson’s motifs index revealing similarities and differences of the folklores. Abstrak: Tujuan penelitian ini mendeskripsikan motif cerita rakyat ”Aji Batara Agung Dewa Sakti” dan “Putri Karang Melenu” yang berasal dari Kerajaan Kutai Kartanegara dengan pendekatan teori motif indeks Thompson. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, sedangkan rumusan masalahnya meliputi (1) bagaimana peristiwa sejarah yang melatar belakangi cerita rakyat; (2) bagaimanakah klasifikasi motif dalam cerita; dan (3) bagaimana pula persamaan dan perbedaan cerita rakyat “Aji Batara Agung Dewa Sakti” dan “Putri Karang Melenu”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif cerita “Aji Batara Agung Dewa Sakti” dan “Putri Karang Melenu” menerapkan motif indeks yang disusun oleh Thompson sehingga kedua cerita rakyat itu memiliki delapan motif cerita. Kedelapan motif tersebut memperlihatkan persamaan dan perbedaan. 
Intertekstualitas dalam Novel “Hati Suhita” Karya Khilma Anis Ixsir Eliya; Ulfah Mey Lida; Veni Nurpadillah; Anita Kurnia Rachman; Rahmad Nuthihar
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.5522

Abstract

This study describes the intertextual relationship between the characters and plot of the novel "Hati Suhita" by Khilma Anis with several characters and plots in the world of wayang (shadow puppetry). The research employs a qualitative descriptive method in relation to text interpretation. Based on the findings, the forms of intertextuality that appear in the novel "Hati Suhita" are in the description of (1) character naming, (2) character traits, (3) character emotions, and (4) suppositions. The intertextuality contained within also serves as evidence that the author uses other works as references in producing her work. The novel "Hati Suhita" is greatly influenced by stories from wayang characters, allowing readers to internalize cultural values and philosophies through the content of the story. Based on this, the novel "Hati Suhita" is not only an interesting novel in terms of its narrative but also serves as a reflection of culture, social criticism, and a literary work rich in moral and spiritual values. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan hubungan intertekstualitas pada karakter dan alur cerita novel “Hati Suhita” karya Khilma Anis dengan beberapa karakter dan alur cerita dalam dunia pewayangan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif  dalam menganalisis hubungannya dengan interpretasi teks. Berdasarkan hasil penelitian, bentuk intertekstualitas yang muncul dalam novel ”Hati Suhita” adalah dalam deskripsi (1) bentuk penamaan tokoh, (2) karakter tokoh, (3) perasaan tokoh, dan (4) pengandaian. Intertekstualitas yang terkandung juga menjadi bukti bahwa pengarang dalam memproduksi karya menjadikan karya lain sebagai referensinya. Novel “Hati Suhita” banyak dipengaruhi oleh kisah-kisah dalam tokoh pewayangan sehingga pembaca juga dapat menginternalisasi nilai-nilai budaya dan filosofi yang terkandung melalui isi cerita. Berdasarkan hal tersebut, novel “Hati Suhita” tidak hanya menjadi novel yang menarik dari segi cerita, tetapi juga sebagai refleksi budaya, kritik sosial, dan karya sastra yang kaya akan nilai moral dan spiritual.