cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Integration of Character Values Based on Thomas Lickona's Theory in the Berau Folktale Batu Bual as an Innovation for Modern Learning Tita Sabrina Oktavianty; Nia Novita Putri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8576

Abstract

This study aims to analyze the character education values in the Batu Bual folktale from Berau Regency based on Thomas Lickona's theory of character education. The research employs a descriptive qualitative method with content analysis techniques. The primary data source is the book Cerita Rakyat Paser dan Berau (Folktales of Paser and Berau), while the research data consist of textual excerpts containing character education values. Data were collected through library research involving a comprehensive reading and examination of the folktale text. Data analysis followed Miles and Huberman's interactive model, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the Batu Bual folktale contains character education values, including honesty, responsibility, patriotism, healthy competition, harmony, and cooperation. These values are reflected through the characters' attitudes and actions, which embody the aspects of moral knowing, moral feeling, and moral action. Accordingly, the Batu Bual folktale can be utilized as a local wisdom-based medium for character education for younger generations. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter dalam cerita rakyat Batu Bual dari Kabupaten Berau berdasarkan teori pendidikan karakter Thomas Lickona. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Sumber data utama berasal dari buku Cerita Rakyat Paser dan Berau, sedangkan data penelitian berupa kutipan teks yang mengandung nilai pendidikan karakter. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan membaca dan menelaah teks cerita rakyat secara menyeluruh. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Batu Bual mengandung nilai pendidikan karakter berupa kejujuran, tanggung jawab, patriotisme, persaingan yang sehat, harmoni, dan kerja sama. Nilai-nilai tersebut tercermin melalui tindakan dan sikap tokoh yang menunjukkan aspek moral knowing, moral feeling, dan moral action. Dengan demikian, cerita rakyat Batu Bual dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter berbasis kearifan lokal bagi generasi muda.
Antara Ideal dan Utopis dalam Cerpen “Dongeng Tarka dan Sarka”:Telaah Konsep Kebersamaan Jean-Luc Nancy M. Hafidzulloh SM
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2173

Abstract

The discourse about human existence in the world is a form of dasein communality that forms a certain group. The existence of groups then brings human life in the dimension of Being-In-Common. With the concept of Being-In-Common the subject continues to move and proceed towards an ideal situation. This situation become to the concept of Literary Utopia, where the subjects lives continued to share in togetherness. This part of the meaning of life is possible to lead in ideal conditions, a fantasy of a better life for the future with a sense of brotherhood as the key. Meanwhile, the ideal situation is a condition where the community goes to a dimension that has not yet been perfectly translated, so that a series of processes of division into a utopian step. It's no longer towards the ideal, but the mechanism that makes the lives of subjects share meaning. This condition then becomes the navigation’s subject determined in his ideal life, because if there is no dialectics, then life will be finished and no part of the expected meaning. Short story "Tarka and Sarka" by Yanusa Nugroho illustrates the existence of various meanings in the life of the subject. Internalization of religious values embedded in Tarka and Sarka figures is a form of dialectics that functions as a utopia in life. To analyze this, this study uses Jean-Luc Nancy's social philosophy theory. The results of this study are  1). Exploring the concept of life There-In-Togetherness and;  2). The existence of the conception of Literary Utopia as a process for approaching an ideal life for the subject.Keywords: Being-In-Common, Ideal, Utopia, Jean-Luc Nancy.
Piranti Bahasa dan Mistisime Jawa dalam Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono Tjahjono Widijanto dan Sumarlam
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.363

Abstract

Kajian ini adalah ihtiar menganalisis bahasa sekaligus menafsirkan dan menjelajahi konteks sosial budaya puisi-puisi Sapardi Djoko Damono (SDD) yang terhimpun dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni, diterbitkan Gramedia Pustaka Juni 2013. Pijakan awal kajian ini adalah stilistika dengan fokus menggali aspek-aspek kebahasaan seperti ragam bunyi, kata, simbol, imaji dan majas. Dalam kajian ini nampak pusi-puisi SDD didominasi suasana ketertekanan, keheningan, dan kefanaan dengan bersandar pada kekuatan cacphony, gaya paradaksol dengan mempertentangkan kata yang mempunyai dua sifat berbeda, menghadirkan pada diri pembacanya imaji yang membangun ruang-ruang misteri. Pemilihan kata dengan cermat dipilih dengan menggunakan natural symbol dan privat symbol, Puisi-puisi SDD mayoritas menggambarkan dunia misteri kesunyian yang dihadirkan sebagai sesuatu yang tidak ada( flow chart) yang ada hanya degup, suara, warna, dan ide hadir seperti sebuah bayang putih yang membaur dan terasa jauh. Dalam bingkai bahasa itu, di dalam puisi-puis SDD dapat dilacak jejak mistisime Jawa yang mempersoalkan renungan awal akhir (sangkan-paran), kefanaan, kematian dan keheningan khas Jawa (sonya ruri).
EKSNOMINASI POLITIK DALAM NARASI: KONSEPTUALISASI PEMIKIRAN MITOLOGIS ROLAND BARTHES DAN IMPLIKASI METODOLOGISNYA DALAM KAJIAN SASTRA Ikwan Setiawan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.430

Abstract

This article deals with Roland Barthes’ mythological thinking and its methodological implication in literary studies. Its basic thinking is that in various modes of representation exist the dynamics of mythical signification using denotative signification as its basic and aims to address particular message to readers or viewers. Such signification intertwines with the complexity of discourses, histories, knowledge, and problems in the real life. Its final goal is to depoliticize and ex-nominates making something nameless dominant political interest in narrative naturally. Barthes also conceptualizes an idea on second myth that uses (the first) myth as its basis of signifying process to subvert the dominant class’ political interest. For explaining the contributions of these two mythological perspectives in literary studies, I give conceptualize method of analysis using both of them. As concluding remarks, I position Barthes’ mythological thinking as a theoretical framework which can avoid literary studies from over intervention of outside-literary factors political economy, general theories, etc. that make the studies seem losing their narrative base. Because Barthes’ perspective emphasizes on reading of narrative dynamics without negating exploration of discursive richness in signifying process, naturalization of ideological discourses, and ex-nomination of particular political interest.AbstrakTulisan ini membahas pemikiran mitologis Roland Barthes serta implikasi metodologisnya dalam kajian sastra. Inti dari pemikirannya adalah bahwa dalam beragam moda representasi berlangsung dinamika penandaan mitis yang menggunakan penandaan denotatif sebagai basisnya dan bertujuan menyampaikan pesan tertentu kepada pembaca ataupun penonton. Penandaan tersebut berjalin-kelindan dengan kompleksitas wacana, sejarah, pengetahuan, dan permasalahan dalam kehidupan nyata. Tujuan akhirnya adalah untuk mendepolitisasi dan mengeksnominasi menjadikan sesuatu tak bernama kepentingan politik dominan dalam narasi secara alamiah. Barthes juga mengkonseptualisasikan gagasan tentang mitos kedua yang menggunakan mitos (pertama) sebagai basis proses penandaan untuk mensubversi kepentingan politik kelas dominan. Untuk menjelaskan implikasi metodologis kedua perspektif mitologis tersebut dalam kajian sastra, saya mengkonseptuliasikan metode analisis dengan menggunakan keduanya. Sebagai simpulan, saya memosisikan pemikiran mitologis Barthes sebagai kerangka teoretis yang bisa menghindarkan kajian sastra dari intervensi berlebihan dari faktor-faktor di luar sastra faktor ekonomi-politik, teori-teori umum, dan lain-lain yang menjadikan kajian tersebut tampak kehilangan pijakan naratif. Karena perspektif Barthes menekankan kepada pembacaan dinamika naratif dalam kerangka penandaan tanpa mengabaikan eksplorasi kekayaan diskursif dalam proses penandaan, naturalisasi wacana ideologis, dan eks-nominasi kepentingan politik partikular. 
Pengembangan Materi Ajar dengan Analisis Struktur dan Nilai Edukasi dalam Cerita Rakyat Sendang Panguripan dan Asal-Usul Pesanggrahan Langenharjo di Kabupaten Sukoharjo Aninditya Sri Nugraheni; Wiwit Sulistya; Vivin Devi Prahesti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5396

Abstract

The failure of learning literature in schools makes moral damage that is different from the previous generation. This study depicts to provide an analysis of the description of the appropriate literary learning taught to students as education values in educational institutions through the folklore of Sendang Panguripan and the origins of Pesanggrahan Langenharjo in Sukoharjo Regency. This study uses a qualitative approach and uses purposive sampling and snowball sampling in determining the sample. Researcher used three data collection techniques including in-depth interview techniques, direct observation techniques and content analysis techniques. Researcher used triangulation to obtain valid data by using triangulation methods, triangulation of data sources, and review of informants. The data analysis technique used in this study is an interactive model of the analysis technique. This study concludes that the two folk tales have different stories in structure and content, and both have educational values needed by children in learning including religious values (religion), social values, moral values, and cultural values. AbstrakPenelitian ini berusaha memberikan analisis struktur cerita rakyat Sendang Panguripan dan asal-usul Pesanggrahan Langenharjo di Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling dalam penentuan sample. Peneliti menggunakan tiga teknik pengumpulan data diantaranya teknik wawancara mendalam, teknik pengamatan dan teknik analisis isi (content analysis). Peneliti menggunakan triangulasi untuk mendapatkan data yang valid dengan menggunakan triangulasi metode, triangulasi sumber data, dan review informan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis model interaktif (interaktif model of analysis). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua cerita rakyat tersebut memiliki cerita yang berbeda secara struktur isi, dan keduanya memiliki nilai edukasi yang dibutuhkan oleh anak dalam pembelajaran diantranya nilai religius (agama), nilai sosial, nilai moral, dan nilai budaya.
Relasi Sastra dan Sosial: Tinjauan Strukturalisme Genetik dalam Cerpen Sebatang Pohon di Luar Desa Karya Seno Gumira Ajidarma Hilda Septriani; Gilang Januarsyah; Kamelia Gantrisia; Genita Cansrina
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8265

Abstract

This study aims to elaborate the representation of human facts, collective subjects, and worldviews on the surrounding environment depicted in the short story entitled Sebatang Pohon di Luar Desa by Seno Gumira Ajidarma using genetic structuralism and literary sociology approaches. A relevance as an analysis of Goldmann's literary sociology by collecting data sources from the short story Sebatang Pohon di Luar Desa by Seno Gumira Ajidarma. The method in this study is qualitative descriptive with a literary sociology approach. Data was obtained through literature review techniques by reading a short story entitled Sebatang Pohon di Luar Desa as a whole. Data analysis techniques by means of the validity of data obtained from reading sources such as books, journals accompanied by theory triangulation. The results of research from the analysis of the short story Sebatang Pohon di Luar Desa are elaborating on humanitarian facts that are collective subjects and worldviews in recording historical events in realizing independence which are represented very strongly and thick with historical meaning in Timor Timur (now is Timor Leste) at a certain period of time. This research also shows that Seno's short stories do not merely record social realities in life, but also form a critique of symbolic violence and the process of alienation in modern society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi representasi fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia terhadap lingkungan sekitar yang digambarkan di dalam cerpen yang berjudul Sebatang Pohon di Luar Desa karya Seno Gumira Ajidarma dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik dan sosiologi sastra. Suatu relevansi sebagai analisis sosiologi sastra Goldmann dengan cara mengumpulkan sumber-sumber data dari cerpen Sebatang Pohon di Luar Desa karya Seno Gumira Ajidarma. Metode dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Data diperoleh melalui teknik kajian kepustakaan dengan cara membaca cerpen yang berjudul Sebatang Pohon di Luar Desa secara utuh dan keseluruhan. Teknik analisis data dengan cara keabsahan data yang diperoleh dari sumber bacaan seperti buku, jurnal-jurnal disertai triangulasi teori. Hasil penelitian dari analisis cerpen Sebatang Pohon di Luar Desa ini yaitu mengelaborasi fakta kemanusiaan yang bersifat subjek kolektif dan pandangan dunia dalam merekam peristiwa sejarah dalam mewujudkan kemerdekaan yang direpresentasikan dengan sangat kuat dan kental dengan makna historis di Timor Timur (sekarang Timor Leste) pada kurun waktu tertentu. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa cerpen Seno tidak sekadar merekam realitas sosial dalam kehidupan, tetapi juga membentuk kritik terhadap kekerasan simbolik dan proses alienasi dalam masyarakat modern.
Pengaruh Jenis Kelamin Penulis Sastra Anak pada Minat Baca Siswa Laki-Laki Kelas 5 SD Tetum Bunaya Widjati Hartiningtyas; Nur Wulan; Derri Ris Riana; Meita Lesmiaty Khasyar
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6166

Abstract

PIRLS test results in 2007 show that boys have lower reading interests than girls. On the other hand, female authors have recently dominated the children's book industry in Indonesia. The situation raises a question: Does the authors' sex influence 10-12 years old boys’ reading interest? In order to answer the research question, the writers conducted research using a descriptive qualitative approach and analyzed the data using reader-response theory. The population of this study is fifth-grader boys in Tetum Bunaya during the 2022 academic year. The data used in the study is the survey and interview results conducted with fifth-grader boys and fifth-grader class teachers. The objects of the studies are four digital chapter books entitled  Aku Anak Kajang, Candiku yang Terhebat, Dendang Hati Gigih, and Festival Cap Go Meh di Kota Seribu Klenteng. The results of this study indicate that the authors' sex does not significantly influence the reading interest of fifth-grader boys in Tetum Bunaya during the 2022 academic year. Some intrinsic features that also affect boys' reading interest are eye-catching illustrations, historical facts, exciting actions, relatable characters, page-turning plots, conflict and tension, cultural values, and unusual settings. AbstrakHasil Tes PIRLS tahun 2007 menunjukkan bahwa anak laki-laki memiliki minat baca yang lebih rendah dari anak perempuan. Di sisi lain, sastra anak Indonesia banyak didominasi oleh penulis perempuan dalam lima tahun terakhir. Hal ini memicu pertanyaan, apakah jenis kelamin penulis memiliki pengaruh pada minat baca anak laki-laki usia 10-12 tahun? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah teori respon pembaca. Subjek penelitian ini adalah siswa laki-laki kelas 5 di SD Tetum Bunaya tahun ajaran 2022. Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil survei dan wawancara dengan siswa laki-laki kelas 5 dan guru kelas 5 di SD Tetum Bunaya. Objek penelitian adalah empat buku digital yang berjudul Aku Anak Kajang, Candiku yang Terhebat, Dendang Hati Gigih, dan Festival Cap Go Meh di Kota Seribu Klenteng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin penulis tidak secara signifikan memengaruhi minat baca siswa laki-laki kelas 5 di SD Tetum Bunaya pada tahun 2022. Beberapa unsur intrinsik yang turut memengaruhi minat baca anak laki-laki adalah ilustrasi yang menarik, fakta sejarah, aksi yang seru, tokoh yang membuat anak-anak merasa terhubung, alur yang membuat penasaran, konflik dan ketegangan, muatan budaya, serta latar tempat yang tidak biasa.
Representation of Alternative Masculinity in Tere Liye’s Novel "Janji" Annisa Nurhikmah; Alfian Rokhmansyah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8456

Abstract

This research aims to examine in depth the construction of alternative masculinity in Tere Liye’s novel Janji through a sociology of literature perspective, which examines the reciprocal relationship between literature and social reality. This study employs a descriptive qualitative approach. The research data consist of words, phrases, and sentences representing gender elements, with the primary data source being the text of the novel Janji (2021). Data were collected through a literature review and note-taking techniques, followed by in-depth textual analysis to dissect the social dimensions within the text. Data analysis used the Miles and Huberman model, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that the main character, Bahar, represents an alternative masculinity that prioritizes empathy, social solidarity, and moral responsibility, while simultaneously deconstructing the dominance of hegemonic masculinity, typically associated with violence and dominance. The implications of this research contribute to the development of gender studies in Indonesian literature and offer new perspectives in literary education regarding the dynamic nature of gender construction. By applying Connell’s masculinity theory, this research proves that the figure of Bahar represents an alternative masculinity model relevant for integration as progressive Indonesian language and literature learning materials. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konstruksi maskulinitas alternatif dalam novel Janji karya Tere Liye melalui perspektif sosiologi sastra yang meneliti hubungan timbal balik antara sastra dan realitas sosial. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian terdiri dari kata, frasa, dan kalimat yang mewakili unsur gender, dengan sumber data utama berupa teks novel Janji (2021). Data dikumpulkan melalui teknik tinjauan pustaka dan pencatatan, diikuti dengan analisis tekstual mendalam untuk membedah dimensi sosial dalam teks. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama, Bahar, mewakili maskulinitas alternatif yang memprioritaskan empati, solidaritas sosial, dan tanggung jawab moral, sekaligus mendekonstruksi dominasi maskulinitas hegemonik yang biasanya dikaitkan dengan kekerasan dan dominasi. Implikasi penelitian ini berkontribusi pada pengembangan studi gender dalam sastra Indonesia dan menawarkan perspektif baru dalam pendidikan sastra mengenai sifat dinamis konstruksi gender. Dengan menerapkan teori maskulinitas Connell, penelitian ini membuktikan bahwa figur Bahar mewakili model maskulinitas alternatif yang relevan untuk diintegrasikan sebagai bahan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang progresif.
MENGGUGAH IDENTITAS KEBANGSAAN MELALUI PUISI Besse Darmawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.333

Abstract

A good literary works are able to give positive values to human being. This research aims to describe the elements, meaning, and cultural values in the poems that contain positive values for human life. The researcher applies qualitative method through objective and intuitive approaches. The meaning and cultural values of the poems are intuitively gained from the result of the analysis objectively. The data are “Kata Cinta Usia 51”, “Jabatan Yang Hilang” and “Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini.” Objectively, these poems have the themes of belief in worldly life, the excessive mistaken, and the resurrection of life. Intuitively, the meaning of these three poems makes people aware that life is only temporary, so they cannot escape from gratitude, must not feel despair in facing hardships, are not mistaken by the beauty of the world, and strive to achieve a good quality of life. The cultural values of these poems are gratitude, fortitude, faithful, patience, bravery, firmness, and responsibility. These reflect the characters and identities of young generations as their identities, so they are different from other nations, in order to awaken their identity as a dignified Indonesian nation.   ABSTRAKKarya sastra yang baik mampu memberi nilai positif terhadap manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur, makna, dan nilai budaya dalam puisi yang bernilai positif bagi kehidupan manusia. Penulis menerapkan metode penelitian deskriptif kualitatif melalui pendekatan objektif dan intuitif. Makna dan nilai budaya dalam puisi secara intuitif diperoleh dari hasil analisis secara objektif. Data adalah puisi “Kata Cinta Usia 51,” “Jabatan Yang Hilang,” dan “Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini.” Secara objektif, puisi tersebut bertemakan keyakinan terhadap kehidupan duniawi, kekeliruan yang berlebihan, dan kebangkitan hidup. Secara intuitif, makna ketiga puisi tersebut menyadarkan manusia bahwa hidup hanya sementara sehingga tidak terlepas dari rasa syukur, jangan putus asa menghadapi cobaan, jangan keliru dengan keindahan dunia, dan berjuang mencapai kehidupan yang berkualitas. Adapun nilai budaya dari puisi tersebut adalah kesyukuran, ketabahan, keyakinan, kesabaran, keberanian, keteguhan, dan bertanggung jawab. Hal demikian mencerminkan karakter dan identitas anak bangsa sebagai jati diri mereka, sehingga berbeda dengan bangsa lain, dalam rangka menggungah identitas sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat.
Potret Pendidikan dan Kemiskinan di Indonesia dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andre Hirata Rini Widiastuti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.4372

Abstract

This paper will examine and reflect on the relationship between literature and education, by addressing the issues surrounding the development of the education system in Indonesia through Andrea Hirata's Laskar Pelangi "glasses". Andrea Hirata shows through the novel Laskar Pelangi that education is not a place where one seeks knowledge, but how to live it. Significantly, the most prominent problem discussed in the novel Laskar Pelangi is the theme of education in Indonesia, and the author is interested in seeing this problem through the realities of the ups and downs of education in Indonesia. As for this purpose, the author analyzes the problems to be highlighted by using the genetic-structuralism method. The use of this method is based on the reason that education like what is contained in the novel Laskar Pelangi is a reflection of the reality of education in Indonesia. And in order to understand the issue more clearly, the analysis of the novel will not only look at the educational issues as contained in the novel (intrinsic), but also in terms of their references to the real world of Indonesian education (extrinsic).AbstrakTulisan ini akan meneliti dan merenungkan hubungan antara sastra dan pendidikan, dengan menjurus kepada persoalan di sekitar perkembangan sistem pendidikan di Indonesia melalui “kacamata” Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Andrea Hirata menunjukkan lewat novel Laskar Pelangi bahwa pendidikan bukanlah tempat seseorang menuntut ilmu, tetapi bagaimana menjalaninya. Secara signifikan, masalah yang paling menonjol yang dibicarakan dalam novel Laskar Pelangi adalah tema pendidikan di Indonesia dan penulis tertarik untuk melihat masalah tersebut melalui persoalan kenyataan pasang-surut pendidikan di Indonesia. Adapun untuk tujuan tersebut, penulis melakukan analisis atas masalah yang hendak disoroti dengan menggunakan metode genetik-strukturalisme. Penggunaan metode ini didasarkan pada alasan bahwa pendidikan seperti apa yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi adalah refleksi dari suatu realitas pendidikan di Indonesia. Demi memahami persoalan tersebut lebih jelas, maka analisis terhadap novel tersebut tidak hanya dilakukan untuk melihat persoalan pendidikan tersebut seperti apa yang terdapat dalam novel (intrinsik), tetapi juga dalam hal referensinya ke dunia nyata pendidikan Indonesia (ekstirinsik).