Articles
37 Documents
Breaking the Intergenerational Cycle of Stunting in Indonesia: A Life-Course and Policy Perspective
Dida Wanti
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i1.247
Stunting remains a persistent public health challenge in Indonesia, threatening the country’s human capital development and long-term economic growth. Although national strategies have emphasized interventions during the first 1,000 days of life, evidence suggests that stunting is rooted in intergenerational and life-course factors that begin long before pregnancy. This article aims to analyze the intergenerational pathways of stunting in Indonesia using a life-course perspective and to assess the alignment of national policies with this framework. A narrative review and policy analysis were conducted using peer-reviewed literature published between 2010 and 2025, as well as key national policy documents related to stunting reduction. The findings indicate consistent evidence linking adolescent anemia, early pregnancy, maternal undernutrition, and low birth weight to increased risk of childhood stunting. Despite strong political commitment, policy implementation remains fragmented, with limited emphasis on preconception and adolescent health interventions. Current strategies tend to focus on downstream interventions rather than upstream prevention. Strengthening integrated, multisectoral policies targeting critical life stages particularly adolescence and preconception is essential to break the intergenerational cycle of stunting. A comprehensive life-course approach is crucial to accelerate sustainable stunting reduction and support Indonesia’s vision for human capital development toward 2045.
Pengembangan Aplikasi "Si Mantan" (Pantauan Mandiri Kesehatan Mental) berbasis Cognitive Behavioral Therapy untuk Menurunkan Gejala Depresi pada Mahasiswa Tahun Pertama
Aisyah Nurul Fadhila;
Bagas Rizky Ananda
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i2.283
Lonjakan kasus depresi pada mahasiswa tahun pertama seringkali dipicu oleh kesulitan adaptasi dari lingkungan sekolah ke perkuliahan. Keterbatasan akses dan stigma terhadap layanan kesehatan mental konvensional menjadi kendala utama dalam penanganan dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi "Si Mantan" (Pantauan Mandiri Kesehatan Mental) berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) serta menguji efektivitasnya dalam menurunkan gejala depresi pada mahasiswa tahun pertama.Metode penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model pengembangan aplikasi dan uji coba efektivitas melalui eksperimen semu (quasi-experiment) dengan desain pretest-posttest control group. Aplikasi "Si Mantan" dirancang dengan fitur-fitur inti CBT seperti jurnal pemikiran harian, identifikasi distorsi kognitif, tantangan pikiran negatif, serta modul relaksasi dan aktivitas perilaku positif.Hasil uji coba menunjukkan bahwa aplikasi "Si Mantan" layak digunakan sebagai media intervensi awal. Terdapat perbedaan skor gejala depresi yang signifikan antara kelompok mahasiswa yang menggunakan aplikasi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kelompok pengguna aplikasi mengalami penurunan tingkat gejala depresi setelah menggunakan aplikasi selama periode tertentu.Kesimpulannya, aplikasi "Si Mantan" berbasis CBT efektif sebagai alat bantu mandiri (self-help tool) untuk menurunkan gejala depresi pada mahasiswa tahun pertama. Aplikasi ini menawarkan solusi yang lebih mudah diakses dan privasi terjaga dalam upaya deteksi dini dan intervensi masalah kesehatan mental di lingkungan kampus.
Efektivitas Intervensi "Positive Deviance" Berbasis Komunitas dalam Meningkatkan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberkulosis Resisten Obat
Elsa Febriyanti;
Fajar Sidik Nugraha
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i2.284
Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) merupakan tantangan serius dalam pengendalian TB secara global. Pengobatan TB RO memerlukan waktu yang lebih lama dan obat dengan efek samping yang lebih berat, sehingga angka kepatuhan pasien seringkali rendah. Kegagalan patuh dalam pengobatan dapat menyebabkan kegagalan terapi, penularan berkelanjutan, dan munculnya resistensi yang lebih luas. Pendekatan konvensional yang berfokus pada edukasi dari petugas kesehatan saja seringkali kurang optimal. Pendekatan Positive Deviance (PD) berbasis komunitas menawarkan solusi dengan mengidentifikasi dan mengadopsi perilaku sukses dari individu atau keluarga dalam komunitas yang memiliki sumber daya terbatas namun berhasil mencapai kepatuhan tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas intervensi Positive Deviance berbasis komunitas dalam meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien Tuberkulosis Resisten Obat.Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest-posttest with control group. Sejumlah sampel pasien TB RO (misalnya: 60 orang) dibagi menjadi dua kelompok secara acak, yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan program pendampingan berbasis PD yang melibatkan pasien berhasil (deviant), kader kesehatan, dan keluarga selama periode tertentu (misalnya: 6 bulan). Kelompok kontrol mendapatkan pengobatan standar dari puskesmas/rumah sakit. Kepatuhan minum obat diukur menggunakan kombinasi Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) dan jumlah kejadian tidak minum obat (berdasarkan laporan dan catatan medis). Data dianalisis menggunakan uji statistik parametrik/non-parametrik (seperti uji t berpasangan atau Wilcoxon) untuk melihat perbedaan dalam kelompok, serta uji t independen atau Mann-Whitney untuk membandingkan efektivitas antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor kepatuhan yang signifikan pada kelompok intervensi setelah diberikan program PD (p < 0,05). Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Perbandingan antar kelompok setelah intervensi menunjukkan bahwa kelompok intervensi memiliki tingkat kepatuhan yang secara statistik lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,05). Pendekatan PD terbukti efektif karena memanfaatkan dukungan sebaya dan solusi praktis yang sudah terbukti berhasil dalam konteks budaya dan sosial yang sama.
Analisis Spasial dan Pemodelan Prediktif Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Berbasis Faktor Iklim Mikro di Permukiman Padat Perkotaan
Intan Permatasari;
Jati Kusuma Wardana
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i2.285
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di perkotaan, terutama pada permukiman padat yang menyediakan habitat ideal bagi vektor Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial kejadian DBD dan mengembangkan model prediktif berbasis faktor iklim mikro di permukiman padat perkotaan. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pemetaan sebaran kasus dan analisis statistik untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel iklim mikro (suhu, kelembaban, curah hujan) dengan insiden DBD. Hasil analisis spasial menunjukkan pola pengelompokan kasus di area dengan kepadatan bangunan tinggi dan sirkulasi udara terbatas. Model prediktif yang dikembangkan mengindikasikan bahwa kelembaban udara dan curah hujan dua minggu sebelumnya merupakan prediktor signifikan terhadap peningkatan kasus. Pemodelan ini menghasilkan peta wilayah risiko yang dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini. Kesimpulannya, integrasi analisis spasial dan faktor iklim mikro efektif untuk memprediksi kejadian DBD, sehingga mendukung upaya pengendalian vektor yang lebih tepat sasaran di permukiman padat perkotaan.
Analisis Risiko Gangguan Muskuloskeletal pada Pekerja "Dark Kitchen" (Virtual Restaurant) Menggunakan Metode REBA
Mochamad Rafi Alamsyah;
Nabila Putri Kusumaningrum
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i2.286
Gangguan muskuloskeletal (MSDs) merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang umum terjadi pada pekerja di industri kuliner, terutama disebabkan oleh postur kerja yang tidak ergonomis dan aktivitas kerja repetitif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko gangguan muskuloskeletal pada pekerja dark kitchen (virtual restaurant) menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keluhan MSDs.Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pekerja yang aktif di dark kitchen X. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi postur kerja menggunakan metode REBA serta wawancara menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) untuk mengidentifikasi lokasi keluhan muskuloskeletal. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan tingkat risiko dan keluhan pekerja.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja di dark kitchen memiliki variasi tingkat risiko berdasarkan metode REBA pada setiap bagian kerja. Bagian persiapan bahan dan bagian memasak menunjukkan skor REBA pada kategori risiko tinggi hingga sangat tinggi, yang mengindikasikan perlunya tindakan perbaikan segera. Keluhan muskuloskeletal paling banyak dirasakan pada bagian punggung bawah, bahu, leher, dan pergelangan tangan. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tingginya risiko meliputi postur kerja statis, gerakan repetitif, desain stasiun kerja yang tidak ergonomis, serta durasi kerja yang panjang.Penelitian ini menyimpulkan bahwa pekerja dark kitchen berisiko mengalami gangguan muskuloskeletal akibat postur kerja yang tidak ergonomis. Rekomendasi perbaikan meliputi redesain stasiun kerja, pengaturan waktu istirahat, dan pelatihan ergonomi bagi pekerja untuk meminimalkan risiko cedera.
Pengaruh Pemaparan Narasi FOMO (Fear of Missing Out) di Media Sosial terhadap Kualitas Tidur dan Kadar Kortisol pada Remaja Akhir
Rezky Amaliah Nur;
Syahrul Ramadhan
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i3.287
Penggunaan media sosial yang masif pada remaja akhir sering memicu Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan akibat perasaan ketinggalan tren atau interaksi online. Paparan konten bernarasi FOMO diduga dapat memicu stres yang berdampak pada kualitas tidur dan peningkatan hormon kortisol.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan narasi FOMO di media sosial terhadap kualitas tidur dan kadar kortisol pada remaja akhir.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan pre-eksperimental. Sebanyak 30 partisipan remaja akhir (usia 18-21 tahun) dipaparkan pada konten media sosial bernarasi FOMO selama 7 hari berturut-turut. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sementara kadar kortisol diukur melalui sampel saliva. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan.Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor kualitas tidur yang signifikan (p<0,05) dan peningkatan kadar kortisol saliva setelah pemaparan narasi FOMO. Remaja yang terpapar intens cenderung mengalami tidur lebih larut dan durasi tidur yang berkurang.Paparan narasi FOMO di media sosial terbukti berpengaruh negatif terhadap penurunan kualitas tidur dan peningkatan kadar kortisol pada remaja akhir. Hal ini mengindikasikan bahwa FOMO dapat menjadi pemicu stres fisiologis yang mengganggu kesehatan.
Pengaruh Intensistas Penggunaan Media Sosial Instagram Terhadap Quarter Life Crisis Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Universitas X
Annisah Lutfia Nur Rahma;
Ima Fitri Sholichah;
Prianggi Amelasasih
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i2.319
Quarter Life Crisis merupakan fase krisis yang rentan dialami oleh individu diusia 18-29 tahun, biasanya ditandai dengan perasaan takut akan masa depan, merasa panik dan tidak berdaya karena dihadapkan dengan ketidakstabilan serta perubahan-perubahan dalam hidup. Instagram merupakan platform media sosial yang memungkinkan pengguna untuk mem-posting foto atau video mengenai kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menguji Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Terhadap Quarter Life Crisis Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Universitas X. Subjek dalam penelitian ini ialah 120 mahasiswa tingkat akhir Universitas X yang tersebar di beberapa program studi. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yang berbentuk skala likert. Alat ukur yang digunakan adalah skala intensitas penggunaan media sosial Instagram yang dibuat oleh peneliti mengacu pada skala intensitas penggunaan media sosial oleh Del Bario (2004). Sedangkan skala quarter life crisis merupakan hasil adopsi dari skala milik Agustin (2012). Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh intensitas penggunaan media sosial Instagram terhadap quarter life crisis sebesar 10,8%. Penilaian diri negatif termasuk dalam dua aspek quarter life crisis yang paling sering dipilih oleh mahasiswa akhir Universitas X pengguna media sosial Instagram.
Efektivitas Obat Generasi Baru (Amylin-based, CagriSema) dalam Mengelola Obesitas sebagai Penyakit Kronis
Yoga Prasetyo;
Zahra Mutiara Salsabila
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i3.365
Obesitas telah diakui sebagai penyakit kronis, multifaktorial, dan rekuren yang memerlukan pendekatan tata laksana jangka panjang. Terapi farmakologi konvensional sering kali memiliki keterbatasan dalam hal efektivitas dan efek samping. Munculnya obat generasi baru berbasis analog amilin serta kombinasi CagriSema menunjukkan potensi dalam mengatasi obesitas melalui mekanisme kerja yang lebih spesifik.Menilai efektivitas obat generasi baru (berbasis amilin dan CagriSema) dalam pengelolaan obesitas sebagai penyakit kronis, terutama terhadap penurunan berat badan, kontrol metabolik, serta profil keamanannya.Studi ini merupakan tinjauan literatur sistematis dari publikasi uji klinis fase 2 dan 3 dalam 5 tahun terakhir (2019–2024) dari database PubMed, Cochrane Library, dan ClinicalTrials.gov. Parameter utama adalah persentase penurunan berat badan, perubahan lingkar pinggang, serta kejadian efek samping gastrointestinal.Obat berbasis analog amilin (seperti pramlintide yang dimodifikasi) menunjukkan penurunan berat badan rata-rata 8–10% dalam 16–24 minggu. CagriSema, kombinasi analog amilin (cagrilintide) dan GLP-1 RA (semaglutide), menunjukkan penurunan berat badan hingga 15–17% dalam 32 minggu, lebih tinggi dibandingkan monoterapi masing-masing komponen. Efek samping paling umum adalah mual dan dispepsia ringan hingga sedang yang bersifat sementara.
Dampak Perubahan Iklim (Suhu Ekstrem) terhadap Perilaku Aktivitas Fisik dan Kesehatan Mental Populasi
Candra Kurniawan;
Dewi Sartika Anggraini
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i3.366
Perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan frekuensi dan intensitas suhu ekstrem memberikan ancaman serius terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk perilaku aktivitas fisik dan kesehatan mental. Suhu yang sangat panas atau sangat dingin dapat membatasi ruang gerak individu dan memicu gangguan psikologis.Abstrak ini bertujuan untuk menganalisis dampak suhu ekstrem akibat perubahan iklim terhadap perubahan perilaku aktivitas fisik serta gangguan kesehatan mental pada populasi umum.Studi ini merupakan tinjauan literatur sistematis dari berbagai penelitian empiris dan laporan kesehatan global (WHO, IPCC) dalam 10 tahun terakhir yang mengkaji hubungan antara paparan suhu ekstrem dengan tingkat aktivitas fisik serta prevalensi gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan stres.Suhu ekstrem (panas >35°C atau dingin <0°C) terbukti secara signifikan menurunkan durasi dan intensitas aktivitas fisik di luar ruangan, meningkatkan perilaku sedentary (diam/terbatas di dalam ruangan), serta mengganggu pola tidur dan regulasi emosi. Secara psikologis, populasi yang terpapar gelombang panas atau dingin ekstrem melaporkan peningkatan gejala kecemasan (hingga 25%), depresi, iritabilitas, dan kelelahan mental. Kelompok rentan (lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, dan populasi berpenghasilan rendah) mengalami dampak paling berat.
Overthinking dan Kesehatan Mental Gen Z: Ancaman Diam di Media Sosial
Sri Yunita Taligansing;
Fahri Aji Firansah;
Fadliyah Arusi;
Sri Rahmawaty;
Al Amin Asuna
MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2026): MUARA KESEHATAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan & Medis
Publisher : CV. Muara Edukasi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.64365/murakes.v2i3.416
Perkembangan media sosial di era digital memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan Generasi Z, baik secara positif maupun negatif. Salah satu dampak yang semakin sering muncul adalah fenomena overthinking, yaitu kecenderungan berpikir secara berlebihan yang berulang dan sulit dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara overthinking dan kesehatan mental pada Generasi Z dalam konteks penggunaan media sosial. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan mengkaji berbagai sumber literatur ilmiah yang relevan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai fenomena yang diteliti. Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran besar dalam memicu overthinking melalui perbandingan sosial, kebutuhan akan validasi, serta paparan informasi yang berlebihan. Kondisi ini berdampak pada kesehatan mental, seperti meningkatnya kecemasan, stres, dan gangguan emosional lainnya. Overthinking yang tidak dikelola dengan baik juga dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup individu. Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif seperti peningkatan literasi kesehatan mental, pengelolaan penggunaan media sosial, serta pengembangan kemampuan regulasi emosi. Kesimpulannya, overthinking merupakan ancaman psikologis yang perlu mendapat perhatian serius, terutama di kalangan Generasi Z, agar kesejahteraan mental tetap terjaga di tengah perkembangan teknologi digital.