cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 563 Documents
UJI EKSPERIMENTAL PENGEMBANGAN SUDUT BASIN CONE TERHADAP KINERJA TURBIN REAKSI ALIRAN VORTEX INDAH WAHYU NINGTYAS, NUR; HERU ADIWIBOWO, PRIYO
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi sangat berpengaruh pada kehidupan dewasa saat ini, mengakibatkan penggunaan energi fosil berlebih pada semua bidang, maka perlu diadakannya penelitian tentang sumber energi alternatif, salah satunya adalah air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sudut basin cone terhadap kinerja turbin reaksi aliran vortex. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan memvariasikan 3 variabel, yaitu sudut basin cone, yaitu basin cone sudut 67°, basin cone sudut 58°, basin cone sudut 50°. Hasil dari penelitian adalah variasi sudut basin cone memiliki pengaruh terhadap daya dan efisiensi turbin reaksi aliran vortex, dimana basin cone optimal adalah basin cone sudut 58° dengan daya turbin sebesar 36,6096 Watt pada kapasitas 12,3410 L/s dan efisiensi sebesar 40,8866 % pada kapasitas 12,3410 L/s, diikuti oleh basin cone sudut 50° dan kemudian basin cone sudut 67°, hal ini disebabkan sudut basin cone dapat berpengaruh pada cone sehingga dapat memutar turbin secara maksimal dan mendapatkan torsi dan rpm yang tinggi, efisiensi berhubungan dengan daya turbin dan daya air. Kata kunci: Turbin Vortex, Sudut Basin Cone, Daya dan Efisiensi.
PENGARUH KADAR NACL SEBAGAI MEDIA PENDINGIN PROSES QUENCHING TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN KEKUATAN IMPACT PADA PADUAN AL6061 XAVERIUS, BOBBY; ENDAH PALUPI, AISYAH
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar belakang penelitian berawal dari masalah yang dialami oleh sebuah bengkel UKM di daerah Klampis Ngasem Surabaya yang bergerak di bidang usaha pengecoran alumunium, dimana pada proses pengecoran maupun melting aluminium diberi campuran NaCl, yang ternyata berpengaruh pada nilai kekerasan serta memberikan warna yang lebih kilap pada hasil pengecoran. Dari hal tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh NaCl pada paduan Al6061 sebagai media pedingin perlakuan quenching terhadap nilai kekerasan dan nilai impact.Metode penelitian kekerasan menggunakan standar DIN 50103 dengan alat Rockwell Hardness Tester skala HRB serta metode pengujian impact dengan standar ASTM E23-07a. Material yang digunakan adalah Al6061, proses pengecoran dilakukan dengan meleburkan Al6061 dan aluminium komersil terlebih dahulu, kemudian ditambahkan NaCl dengan variasi massa 18gr, 21gr, dan 24gr. Kemudian diberi perlakuan panas dengan temperatur 500?C dengan waktu tahan selama 30 menit dan didinginkan secara cepat (quenching) dengan media pendingin larutan NaCl dengan kadar 16%; 20%; dan 24% dengan waktu lama pencelupan selama 15 menit.Hasil penelitian menunjukkan nilai kekerasan rockwell tertinggi diperoleh pada spesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 24gr dengan variasi media pendingin sebesar 24% dengan nilai 108,86HRb dan nilai terendah diperolehpada spesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 18gr dengan variasi media pendingin sebesar 96,86 HRb. Hal ini terjadi karena semakin tinggi kadar NaCl dalam media pendingin, maka tingkat kekerasan yang dicapai juga semakin tinggi. Larutan NaCl mempunyai laju pendinginan yang cepat dan menghasilkan nilai kekerasan semakin tinggi. Nilai impact tertinggi terjadi pada spesimen dengan penambahan NaCl sebesar 18gr dengan variasi media pendingin NaCl 16% dengan nilai 0.0099J/mm². Nilai terendah didapatkan pada spesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 24gr dengan kadar NaCl sebagai media pendingin 24% dengan nilai 0,0063J/mm².Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kadar NaCl, maka semakin besar nilai kekerasan. Nilai kekerasan rockwell tertinggi didapatkan dari spesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 24gr dengan variasi media pendingin larutan NaCl 24% dalam 1 liter air dengan nilai kekerasan sebesar 108,86HRb. Nilai impact tertinggi didapatkan pada sepesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 18gr dengan variasi media pendingin larutan NaCl sebesar 16% dalam 1 liter air dengan nilai 0,0099J/mm². Nilai impact tertinggi didapatkan pada sepesimen dengan penambahan kadar NaCl sebesar 18gr dengan variasi media pendingin larutan NaCl sebesar 16% dalam 1 liter air dengan nilai 0,0099J/mm². Saran untuk penelitian selanjutnya adalah agar memberikan variasi media pendingin yang berbeda agar mendapat nilai kekerasan dan impact yang optimal.Kata Kunci: Al6061, Al komersil, quenching, media pendingin, kekerasan, impact. Abstract Background research started from the problems experienced in the workshop Klampis Ngasem Surabaya who runs in the casting aluminium business, where the process of casting and melting aluminium were given a mixture of NaCl, which is influential in the toughness as well as providing a color that is casting gloss on the outcome. It does so for the study is done in an alloy know influence NaCl Al6061 cooling quenching treatment as a medium for the toughness and the impact.The methodology of toughness use standard DIN 50103 with a Rockwell hardness tester Hrb scale as well as a method of testing impact with a standard ASTM E23-07a. Materials used are Al6061, the process of casting is done with blurring Al6061 and aluminium first, commercial then added NaCl with variations of a mass 18gr, 21gr, and 24gr. Then were given heat treatment with the temperature 500?C with time 30 hold for minutes and cooled quickly (quenching) with the cooling solution NaCl with levels of 16%; 20%; and 24% with a long time dyeing for 15 minutes.Results shows the toughness Rockwell highest specimens to get on with the addition of levels of NaCl with variations of 24gr cooling media as much as 24% with 108,86HRb value and the lowest score specimens levels acquired in by the addition of 18gr NaCl with variations of the media as much as 96,86 HRb, cooling this happened because the high levels of NaCl cooling in the media and achieve a level of toughness is getting higher because a solution of NaCl have a rapid rate of cooling that produces the value of the higher. Toughness the value of impact is highest in the specimen with the addition of NaCl with variations of 18gr cooling media NaCl 16% with value 0.0099j/mm². The lowest score on a specimen was obtained by the addition of 24gr levels of NaCl with levels of NaCl as a medium cooling 24% with value 0,0063j/mm².NaCl with variations of the media cooling solution NaCl 24 % in 1 liter of water with the value of violence as much as 108,86hrb. The highest value to get on with the addition of specimen levels as much as 18gr NaCl with variations of the media cooling solution NaCl as much as 16 % in 1 liter of water with the value of 0,0099j/mm². The highest value to get on with the addition of specimens levels as much as 18gr NaCl with variations of the media cooling solution NaCl as much as 16 % in 1 liter of water with the value of 0,0099j/mm². A suggestion for further research is to give a variety of fridge is a different media to get the value of violence and impact that optimal.ssKeywords: Al6061, Al commercial, quenching, cooling media, toughness, impact
SISTEM KONTROL MESIN EGG GRADER BERBASIS BERAT MENGGUNAKAN KONTROLER ARDUINO MEGA 2560 PRIJO BUDIJONO, AGUNG; DIMA DISTYA, YOSHA
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia SNI No. 3926:2008, Berat telur dibagi menjadi 3 ukuran yaitu kecil dengan berat 50g, sedang dengan berat 50gram hingga 60gram dan ukuran besar berat diatas 60gram. Hingga saat ini cara sortir dilakukan secara konvensional hal tersebut menyebabkan hasil sortasi telur tidak konsisten dan lama karena tergantung pada subjek yang melakukan sortasi. Adanya mesin Egg Grader ini akan menjadi solusi akan permasalahan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain dan membuat suatu sistem kontrol otomatis yang dapat mensortasikan berat telur sesuai dengan standart yang telah ditentukan menggunakan kontroler Arduino mega 2560 dengan kelengkapan mekanik mesin Egg Grader telah tersedia. Dalam perancangan ini menggunakan jenis penelitian (R&D) Research and Development atau penelitian pengembangan berbasis eksperimen. Pada kasus ini peneliti melakukan rancang bangun sistem kontrol pada mesin egg grader otomatis. Proses perancang diawali dengan melakukan desain sistem kontrol, kemudian dibuat algoritme berdasarkan desain yang telah di buat. Algoritme digunakan sebagai pemandu saat membuat listing program kemudian tahap akhir adalah uji peforma. pengambilan data peforma sistem kontrol dilakukan dengan beberapa tahap yaitu, pengujian sensor infrared, pengujian sensor berat, pengujian perangkat lunak arduino, pengujian akurasi klasifikasi, pengujian respon time. Hasil penelitian ini adalah mesin sortasi dapat menyortir dengan akurasi 87,93 % dengan kapasitas kurang lebih 15 butir/menit. Respon time dari sensor infrared jenis optocoupler membutuhkan waktu 0,114062 detik. Respon time dari sensor berat dengan driver H711 membutuhkan waktu 0,442057 detik. Mesin Egg Grader menggunakan kontroler Arduino 2560 sebagi prosesor, sensor infrared digunakan sebagai sensor kedatangan, sensor berat loadcell dengan driver HX711 untuk menimbang telur dan menggunakan 4 servo sebagai penggerak gerbang dan lengan klasifikasi dapat berjalan dan berfungsi baik dengan waktu yang dibutuhkan dalam satu kali siklus sortiran membutuhkan waktu 3,806871 detik. Algoritma pekerjaan yang dilakukan dalam memilah kelas telur ayam pada mesin Egg Grader melalui 3 tahap yaitu antrian, menimbang dan memilah. Pada proses antrian sensor infrared dapat mendeteksi keberadaan telur. Kemudian pada tahap menimbang telur ditimbang kemudian telur diklasifikasi beratnya dan sudah terklasifikasi menurut kelas beratnya.
PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU PENCELUPAN PROSES HOT DIP GALVANIZING BAJA ST 41 BENTUK PLAT DAN SILINDER TERHADAP UJI KETEBALAN DAN KEKILAPAN PERMUKAAN ROHMAN FAIZOL, ABDUL; MAHENDRA SAKTI, ARYA
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 41 merupakan baja karbon rendah yang banyak dipakai dalam bidang industri mufaktur dan kontruksi akan tetapi tidak ditunjang dengan sifat mekaniknya yaitu mudah aus dan korosif serta unsur estetika yang kurang memadai. Hal ini diperlukan perlindungan dengan cara melapisi menggunakan metode pelapisan hot dip galvanizing. Proses hot dip galvanizing adalah memanaskan logam pelapis hingga mencair kemudian celupkan baja St 41 sesuai temperatur dan waktu pencelupan yang diinginkan hingga terlapisi dengan sempurna. Proses pencelupan ini dilakukan dengan melapisi baja St 41 dengan seng (zinc) sebagai perlindungannya. Untuk mengetahui pengaruh terhadap hasil ketebalan lapisan dengan standar ISO 1461 : 2009 dan kekilapan sesuai DIN EN ISO 2813 perlu adanya variasi temperatur dan waktu pencelupan pada proses hot dip galvanizing, variasi temperatur yang digunakan adalah 420 °C dan 450 °C serta waktu pencelupan selama 15, 30, dan 45 detik. Pada hasil pengujian ketebalan lapisan nilai tertinggi untuk spesimen plat sebesar 64,2 µm dan untuk spesimen bentuk silinder lapisan tertinggi memiliki ketebalan 59,8 µm, keduanya berada di kombinsi temperatur 420°C dan waktu celup 45 detik. Pengujian kekilapan tertinggi berada dikombinasi temperatur 450°C dan waktu celup 45 detik, untuk spesimen plat sebesar 24,3 GU dan untuk spesimen silinder sebesar 20,4 GU. Hasil penelitian yang sudah memenuhi batas rata-rata minimum standar ISO 1461 : 1999 dan kekilapan sesuai DIN EN ISO 2813 adalah semua spesimen dengan kombinasi temperatur 420 dan 450°C serta waktu celup 30 dan 45 detik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin lama waktu pencelupan semakin tinggi nilai ketebalan dan kekilipannya. Kata kunci : hot dip galvanizing, Baja St 41, temperatur pencelupan, waktu pencelupan, uji ketebalan, uji kekilapan. Abstract ST 41 Steel is low carbon steel that commonly used in manufacture industry and construction yet it is not supported mechanically because it gets easily worn out and corrosive also the aesthetic element is not recommended. This lead into some protection by coating with the Hot Dip Galvanizing process. Hot Dip Galvanizing process is to heat up the coating element till it melted and then dip the ST 41 steel into it within the desire temperature and amount of time until the whole part is fully coated. This immersion process is executed by coating the ST 41 steel with zinc as the coat. To find out the impact of the surface thickness with the ISO standard 1461 : 2009 and the glisten in accordance with DIN EN ISO 2813 variations of temperature and timing immersion is needed during the Hot Dip Galvanizing process, the variations temperature used on this research are 420 °C and 450 °C and the variations amount of time are 15, 30, 45 seconds. The result of examination showed that the highest point of thickness on plate specimen reach 64,2 µm and for the cylinder specimen reach 59,8 µm, both were in combination of temperature 420°C and immersion timing of 45 seconds. The result of examination also showed that the highest point of glisten was reached by the combination of 450°C and immersion timing of 45 seconds, for the plate specimen is 24,3 GU and for the cylinder specimen is 20,4 GU. The result of this research has fulfil the minimum standard requirement ISO 1461 : 1999 and the glisten level is suitable with DIN EN ISO 2813 all the specimen with the combination temperature of 420 and 450°C and also timing immersion of 30 and 45 seconds. To sum up the whole result of this research is the longer the timing immersion is the better for the thickness and glisten. Keywords: hot dip galvanizing, St 41 steel, dying temperature, dipping time, thickness test, glisten test.
ANALISIS KOROSIFITAS EROSI LOGAM PADUAN AL6061 DENGAN VARIASI KADAR AIR GARAM SEBAGAI MEDIA QUENCHING PADA PROPELLER YUSUF ABDI, ALVIAN; ENDAH PALUPI, AISYAH
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakNelayan sering mengalami kendala di propeller kapal miliknya dimana cepat mengalami korosi. Nelayanseringkali membawa cadangan propeller untuk mengganti propeller lamanya yang telah habis tergeruskorosi hanya dalam waktu beberapa minggu saja. Hampir sebagian besar nelayan mempunyai masalah yangserupa sehingga berspekulasi bahwa material propeller kurang bagus akibat kurangnya pengetahuanbengkel UKM yang bergerak dibidang pengecoran aluminium akan kekuatan dan struktur bahan. Maka dariitu melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat khususnya para nelayan, penulis ingin meningkatkankualitas bahan propeller dengan proses quenching menggunakan media air garam dan membandingkannyadengan produk yang ada di pasaran. Metode penelitian ini menggunakan jenis deskriptif kuantitatif dankualitatif. Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah paduan Al6061 yang telah melalui prosesquenching. Pengujian ini menggunakan Uji Mikrostruktur untuk melihat struktur mikro material. Hasilpenelitian nilai laju korosi terendah didapatkan dari quenching dengan penambahan kadar NaCl sebesar24% sebesar 1,1288mmpy menggunakan kecepatan putar 1250 rpm dan lama perendaman 168 jam yangmana pada propeller pasaran laju korosi memiliki besar 1.6777mmpy dengan lama perendaman dankecepatan putar yang sama. Sehingga spesimen hasil perlakuan memiliki tingkat laju korosi 32,71% lebihrendah dari produk pasaran. Laju korosi yang terjadi setelah perlakuan mengalami penurunan akibat prosesAging yang membuat butir kristal pada spesimen mengecil dan jarak antar butir kristal menjadi lebih rapatdisertai proses pendinginan cepat sehingga ketahanan aus pada spesimen yang diberikan perlakuanmengalami kenaikan.Kata kunci: al6061, korosi, quenching, garam (NaCl), struktur mikro.AbstractFishermen often experience problems in their boat propellers which quickly corrode. Fishermen often carrypropeller reserves to replace old propellers that have been eroded by corrosion in just a few weeks. Mostof the fishermen have similar problems so they speculate that the propeller material is not good due to thelack of knowledge of workshops engaged in aluminum casting for the strength and structure of the material.Therefore, seeing the problems that occur in the community, especially the fishermen, the writer wants toimprove the quality of propeller materials by quenching using salt water media and comparing them withproducts on the market. This research method uses quantitative and qualitative descriptive types. Thematerial used in this study is Al6061 alloy which has been through a quenching process. This test uses aMicrostructure Test to see the microstructure of the material. The results of the lowest corrosion rate valuesobtained from quenching with the addition of NaCl levels of 24% by 1.1288mmpy using a rotational speedof 1250 rpm and an immersion time of 168 hours which on the market propeller corrosion rate has a large1.6777mmpy with the same immersion time and rotational speed. So the treated specimens have a corrosionrate of 32.71% lower than the market products. Corrosion rate that occurs after treatment has decreased dueto the Aging process which makes the crystals in the specimen shrink and the distance between the crystalsbecome more closely accompanied by a rapid cooling process so that the wear resistance of the specimensgiven treatment has increased.Keywords: al6061, corrosion, quenching, salt (NaCl), microstructure
EKSPERIMEN PENGARUH VARIASI RASIO PANJANG LEADING EDGE TERHADAP KARAKTERISTIK AERODINAMIKA PADA MOBIL PICK UP RIANTO, ACHMAD; GRUMMY WAILANDUW, A.
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kendaraan pick up memiliki jarak tempuh yang lebih jauh dan membawa beban yang lebih berat dari pada mobil kecil, sehingga penelitian tentang karakteristik aerodinamika pada kendaraan pick up sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar dan meningkatkan keamanan waktu berkendara. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model uji dengan variasi rasio panjang leading edge: standart 0,03(1/30), 0,067(1/15), dan 0,1(1/10) pada Reh = 3,09x104, 5,20x104, 7,15x104. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah distribusi tekanan (CP) pada upper dan lower surface, koefisien drag pressure (CDP), koefisien lift pressure (CLP), profil kecepatan dibelakang kendaraan (VP) dan titik separasi pada kendaraan pick up. Untuk variabel kontrol, model leading edge bodi kendaraan diletakkan 200 mm dari leading edge plat datar. Pengukuran VP dibelakang model uji kendaraan dilakukan pada rasio X/L 0,34; X/L 0,41; X/L 0,49; X/L 0,57 dari leading edge plat datar. Berdasarkan penelitian, didapatkan hasil sebagai berikut: dengan menambah variasi rasio panjang leading edge dapat membuat peningkatan koefisien tekanan(CP) dengan perlahan dan mengurangi kenaikan CP yang tiba ? tiba. Penurunan koefisien drag pressure (CDP) tertinggi terjadi pada variasi rasio panjang leading edge 0,1(1/10) dengan Reh = 3,09 x 104 yaitu 0,57 atau turun 20,53% dari model standart 0,03 (1/30) sehingga dapat dikatakan bahwa dengan melakukan variasi rasio panjang leading edge, dapat membuat efisiensi bahan bakar meningkat. Penurunan nilai CLP paling signifikan pada variasi rasio panjang leading edge 0,1 (1/10) pada Reh 7,15 x 104 yakni 0,28 atau turun sebanyak 41,09% dari model kendaraan standart 0,03 (1/30). Pada pengukuran velocity profile (VP) di belakang model uji didapatkan penurunan defisit momentum aliran pada semua variasi Reh dan rasio X/L. Pada semua variasi Reh titik separasi terjadi pada titik x/l=+0,438 pada model standart 0,03(1/30), x/l=+0,471 pada model dengan variasi rasio panjang leading edge 0,067(1/15), x/l=+0,505 pada model dengan variasi rasio panjang leading edge 0,1(1/10). Kata Kunci: Leading Edge, Karakteristik Aerodinamika, dan Kendaraan Pick Up.
EKSPERIMENTAL PENGARUH VARIASI JUMLAH SUDU BERPENAMPANG PLAT DATAR TERHADAP DAYA DAN EFISIENSI TURBIN REAKSI CROSSFLOW POROS HORIZONTAL PANJI NUGROHO, PEGGY; HERU ADIWIBOWO, PRIYO
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan energi listrik serta menipisnya cadangan bahan bakar fosil, maka keadaan tersebut memaksa manusia untuk mencari energi alternatif (renewable energy) yang dapat diperbaharui yang dapat menggantikan bahan bakar fosil. Turbin air adalah salah satu alat yang dapat mengkonversi daya yang dimiliki air dan mengubahnya menjadi energi gerak sehingga menghasilkan listrik. Namun, daya yang dihasilkan turbin crossflow cenderung rendah sehingga perlu adanya pengembangan pada turbin crossflow dengan menggunakan variasi jumlah sudu plat datar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan memvariasikan jumlah sudu berpenampang plat datar pada turbin crossflow poros horizontal. Jumlah sudu yang digunakan adalah 12, 15 dan 18 yang akan diuji dengan variasi kapasitas air sebesar 12.58 L/s, 11.01 L/s, dan 8.84 L/s dan variasi pembebanan 500 gram, 1000 gram, 1500 gram, dan seterusnya dengan peningkatan pembebanan 500 gram hingga putaran turbin berhenti. Hasil dari penelitian didapatkan turbin dengan jumlah 15 memiliki daya dan efisiensi yang paling optimal dari pada turbin dengan jumlah 12 dan 18. Daya tertinggi dimiliki oleh turbin dengan jumlah sudu 15 yang terjadi pada kapasitas 12.58 L/s dengan pembebanan 7000 gram, memiliki daya sebesar 3,136 Watt. Efisiensi tertinggi juga dihasilkan oleh jumlah sudu 15 pada kapasitas 12.58 L/s dengan pembebanan 7000 gram dengan nilai efisiensi sebesar 58,23%. Hal ini dikarenakan pada jumlah 12 terlalu jauh jarak antar sudunya dan pada jumlah sudu 18 jarak antar sudu terlalu sempit sehingga mengurangi kapasitas penampungan air yang dimiliki untuk mengubah daya air menjadi putaran. Kata kunci: Crossflow, Daya, Efisiensi, Jumlah Sudu, Turbin.
EKSPERIMENTAL PENGARUH VARIASI RASIO SUDU BERPENAMPANG DATAR TERHADAP DAYA DAN EFISIENSI TURBIN REAKSI CROSSFLOW POROS HORIZONTAL WAHDANI INSANTO, MUHAMMAD; HERU ADIWIBOWO, PRIYO
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis energi listrik yang melanda dunia khususnya Indonesia saat ini semakin meningkat. Sumber energi listrik yang digunakan saat ini berasal dari PLN yang mayoritas dihasilkan dan diperoleh dari pembangkit - pembangkit listrik yang masih menggunakan batu bara, minyak bumi, dan gas. Turbin air adalah salah satu alat yang dapat mengkonversi energi yang dimiliki air dan mengubahnya menjadi energi gerak sehingga menghasilkan listrik, namun daya yang dihasilkan turbin crossflow cenderung rendah sehingga perlu adanya pengembangan pada turbin crossflow dengan menggunakan variasi rasio sudu berpenampang datar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan memvariasikan rasio sudu berpenampang datar pada turbin crossflow poros horizontal. Rasio yang digunakan adalah 13/16, 14/16 dan 15/16 yang akan diuji dengan variasi kapasitas air sebesar 12.58 L/s, 11.01 L/s, dan 8.84 L/s dan variasi pembebanan 500 gram, 1000 gram, 1500 gram, dan seterusnya dengan peningkatan pembebanan 500 gram hingga putaran turbin berhenti. Hasil dari penelitian didapatkan turbin dengan rasio 15/16 memiliki daya dan efisiensi yang paling optimal daripada turbin dengan rasio 13/16 dan 14/16. Daya tertinggi dimiliki oleh turbin dengan rasio 15/16 yang terjadi pada kapasitas 12.58 L/s dengan pembebanan 8000 gram, memiliki daya sebesar 3,136 Watt. Efisiensi tertinggi juga dihasilkan oleh rasio 15/16 pada kapasitas 12.58 L/s dengan pembebanan 8000 gram dengan nilai efisiensi sebesar 58,21%. Hal ini dikarenakan pada rasio 15/16 turbin mampu memanfaatkan aliran air dengan baik dan jarak antar lebar turbin dan lebar saluran semakin sempit maka luasan aliran air yang ditampung sudu semakin besar sehingga mampu menghasilkan rpm tinggi serta torsi yang besar, selain itu lebar turbin juga memiliki pengaruh karena semakin lebar turbin maka aliran air yang menuju rongga bilas semakin banyak sehingga kerja dari turbin menjadi lebih berat dan membutuhkan daya yang besar untuk memulai menggerakkan turbin. Kata kunci: Crossflow, Daya, Efisiensi, Rasio, Turbin.
PENGARUH FERRITE MAGNET TERHADAP PERFORMA KENDARAAN FOUR STROKE ENGINE 125 CC DENGAN BAHAN BAKAR PERTALITE DAN PERTAMAX DWI PRATAMA, YAN; YASA UTAMA, FIRMAN
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepeda motor adalah salah satu alat transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia dan jumlahnya semakin meningkat setiap tahunnya. Maka secara tidak langsung jumlah konsumsi bahan bakar pun akan ikut meningkat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan cara lain agar dapat menghemat bakar yang sederhana, bahan relatif murah, dan mudah didapatkan. Salah satu caranya menggunakan ferrite magnet untuk menghemat bahan bakar kendaraan. Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemasangan ferrite magnet pada fuel hose terhadap performa four stroke engine 125 cc yang meliputi torsi, daya efektif, dan konsumsi bahan bakar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan standar SAE J1349 (pengukuran torsi dan daya), dan standar SNI 19-7118.3-2005 (pengukuran konsumsi bahan bakar) yang menggunakan metode pengujian kecepatan berubah dengan katup (throttle) terbuka penuh. Pengujian dilakukan pada putaran 3000-9000 RPM dengan rentang 500 RPM untuk setiap pengambilan datanya. Instrumen penelitian yang digunakan penelitian ini adalah inertia chassis dynamometer, oxygen sensor, tachometer, fuel flow meter, 4 in 1 multi- function environment meter, dan stopwatch. Dari penelitian ini diperoleh bahwa terdapat pengaruh penambahan ferrite magnet pada fuel hose terhadap performa kendaraan 125 cc. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata perubahan torsi sebesar (-0,03 Kgf.m) (pertalite), 1,47 Kgf.m (pertamax), daya sebesar (-0,24 PS) (pertalite), 1,19 PS (pertamax), dan konsumsi bahan bakar sebesar 1,939 liter/jam (pertalite), 4,789 liter/jam (pertamax). Hasil torsi, daya, dan konsumsi bahan bakar tertinggi yang didapatkan adalah sebesar 0,949 Kgf.m, 7,874 PS, dan 1,636 liter/jam dengan presentase perubahan terbesar yang terjadi pada torsi sebesar 5,41%, daya 4,00%, dan konsumsi bahan bakar sebanyak 11,765%.Kata kunci: magnet, ferrite magnet, performa mesin, four stroke engine
RANCANG BANGUN SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK HYBRID SOLAR CELL DAN TURBIN ANGIN VERTIKAL MODEL DARRIEUS TIPE H DI PESISIR PANTAI TAMBAN KABUPATEN MALANG ARIAMUDA MAULANA, VIKY; ANSORI, ARIS
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDi Indonesia permasalahan pada listrik bukan hanya soal menipisnya sumber energi konvensional, tetapi juga soal pendistribusian listrik yang kurang merata dikarenakan sumber daya alamnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan adanya pengembangan pembangkit listrik energi baru terbarukan yang memiliki potensi besar, seperti tenaga matahari, angin , air, gelombanglaut dll, sehingga dapat mengantisipasi keterbatasan energi konvensional dan permasalahan yang ada. Penelitian eksperimental ini akan merancang pembangkit listrik hybrid dengan mengkombinasikan turbin angin vertikal model darrieus tipe H dan solar cell kapasitas 50 WP berdasarkan variasi turbin 4 blade dan turbin 6 blade serta solar-PV tipe monocrystalline pada titik lokasi pemasangan yang berbeda sebagai pembangkit listrik hybrid. Waktu pengambilan data tiap 10 menit dari pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Model hybrid ini menghasilkan total (Pep) selama 1 hari (07.00 ? 16.00) pada masing-masing wilayah pemasangan, yaitu pada turbin angin 4 blade menghasilkan energi listrik sebesar 523,77 Watt/0,53 KW per hari dan untuk turbin angin 6 blade menghasilkan energi listrik sebesar 323,22 Watt/0,32 KW per hari dan total (Psc), yaitu pada solarcell (turbin 4 blade) menghasilkan energi listrik sebesar 937,90 Watt/0,94 KW per hari dan untuk solarcell (turbin 6 blade) menghasilkan energi listrik sebesar 758,74 Watt/0,76 KW per hari. Performa dari pembangkit listrik hybrid solarcell dan turbin angin variasi 4 blade, yaitu menghasilkan efisiensi sebesar 52,01% dalam 1 hari (07.00 ? 16.00) dan untuk performa dari pembangkit listrik hybrid solarcell dan turbin angin variasi 6 blade menghasilkan efisiensi sebesar 51,66% dalam 1 hari (07.00 ? 16.00). Kata kunci : Energi Terbarukan, Hybrid, Turbin Angin darrieus tipe H, Solar Cell.AbstractIn Indonesian, the problem on electrricity not only about the depletion of the source conventional energy, but also about the distribution of electricity is less prevalent due to the source of natural resources, it has not been utilized as a maximum. Premises the development of generating electrical energy new renewable having the potential is great, such as solar, wind, water, and sea waves, etc, So to anticipate the limitation problem of conventional energy and existing problems. Research and experimen will design the hybird electrical plant by clicking combine wind turbines vertical model of Darrieus type H and solar cell capacity of 50 WP is based on variation of the turbine 4 blade and 6 turbine blades and solar - pv type monocrystalline at the point of installation of different locations as hybird plant power. The time of data collection every 10 minutes from 07.00 until 16.00 WIB. The model hybrid is generating total electric power generator (Pep) ever one day (7am ? 4pm) in each area of installation, namely the wind turbines 4 blade generating energy by 523.77 Watt / 0.53 KW one day and for wind turbines 6 The blade produces 323.22 Watt / 0.32 KW one day and the total solar cell (Psc) power, which is the solarcell (turbine 4 blade ) produces 937.90 Watt / 0.94 KW one day and for solarcell ( turbine 6 blade ) generate of 758.74 Watt / 0.76 KW one day . Performance of electricity generation hybrid solarcell and 4 variations of wind turbine blade, which resulted in an efficiency of 52,01% in one day (7am ? 4pm) and to the performance of the power generation hybrid solarcell and variations wind turbine blade 6 generates an efficiency of 51,66 % in one day (7am - 4pm). Keywords : Renewable Energy, Hybrid, Darrieus Wind Turbine type H, Solar Cell .