cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
ISSN : 27212882     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 532 Documents
Seorang Wanita 75 Tahun dengan Cedera Otak Sedang dan ICH Sinistra Frida Asfarina Nugraheni; Budi Purwanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perdarahan IntraserebraI (ICH) adaIah perdarahan yang terjadI dI otak yang dIsebabkan oIeh pecahnya (ruptur) pada pembuIuh darah otak. Perdarahan IntraserebraI dapat terjadI dI bagIan manapun dI otak. InsIden perdarahan IntraserebraI berkIsar 10 sampaI 20 kasus per 100.000 penduduk dan menIngkat seIrIng dengan usIa. Secara umum gejaIa kIInIs ICH merupakan gambaran kIInIs akIbat akumuIasI darah dI daIam parenkIm otak sepertI penurunan kesadaran, sakIt kepaIa hebat, dan muntah. Iaporan kasus InI meIaporkan sebuah kasus wanIta berusIa 75 tahun yang dIbawa ke RSUD dr. Harjono Ponorogo dengan keIuhan penurunan kesadaran seteIah keceIakaan IaIu IIntas 3 harI SMRS. PasIen tIdak tIdak sadar seteIah keceIakaan dan tIdak mengIngat kejadIan. PasIen sempat sadar dan mengeIuh sakIt kepaIa terus menerus serta muaI dan muntah.. Pada pemerIksaan CT Scan kepaIa dIdapatkan adanya IesI HIperdens Iobus temporoparIetaIIs sInIstra dengan dIagnosIs kerja cedera otak sedang dengan IntracerebraI hemorage temporoparIetaIIs sInIstra. IntervensI decompressIve cranIectomy dIIaksanakan pada pasIen.
Abses Leher Dalam dengan Riwayat Sakit Gigi: Laporan Kasus Ikhya' Izatus Zahro; Jihan Anisa Biljannah; Serafika Permoni Putri Manyakori
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abses leher dalam merupakan akumulasi pus di ruang potensial antara fasia superfisial dan profunda leher dalam yang terjadi akibat penjalaran infeksi seperti infeksi pada gigi, saluran napas, dan telinga tengah. Jumlah kasus ini di Indonesia masih belum diketahui secara pasti, tetapi riwayat infeksi gigi masih menjadi pencetus terbanyak insiden abses leher dalam. Laporan kasus wanita 62 tahun datang dengan keluhan utama benjolan pada dagu kiri sejak 14 hari yang lalu. Benjolan berawal dari dagu kiri, lalu meluas ke pipi hingga leher kanan-kiri disertai dengan nyeri. Pasien memiliki riwayat sakit gigi bagian rahang kiri bawah. Pemeriksaan rongga mulut didapatkan kebersihan oral yang buruk dan beberapa gigi berlubang. Pemeriksaan kepala leher didapatkan udem pada pipi kiri, fluktuatif, dan kulit tampak nekrotik. Submandibula udem dan fluktuatif. Coli anterior kanan-kiri tampak udem dan terdapat fistula kutan yang mengeluarkan pus. Diagnosis awal medis yaitu abses submandibula, abses bukal, abses coli superficial dengan fistula kutan. Gigi molar kedua dan ketiga kiri bawah merupakan sumber infeksibagi abses leher dalam, karena akarnya meluas ke persimpangan otot milohioid dengan korpus mandibula yang berdekatan dengan ruang submandibula dan parafaring, membuat ruang submandibula menjadi area yang paling sering terdampak dalam kasus ini.
Seorang Anak Laki-Laki Usia 1 Tahun Sindrom Down dengan Hipotiroid Kongenital Suspek Bronkitis : Laporan Kasus Syahna Apriliani; Siti Ariffatus Saroh
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KEMENKES tahun 2019 melaporkan kasus sindrom down di Indonesia meningkat. Hasil riset dilakukan pada tahun 2010 pada anak 24–59 bulan,kasus sindrom down sebesar 0,12%, tahun 2013 meningkat 0,13% dan tahun 2018 menjadi 0,21%. Sindrom down memiliki rongga hidung yang kecil sehingga sulit untuk melawan penyakit infeksi. Selain itu,memiliki klinis kelemahan otot, gambaran wajah datar,bentuk mata keatas,bentuk kuping abnormal, satu garis horizontal telapak tangan, kelenturan sendiri yang berlebihan,jari kelingking terdapat satu sendi, lipatan pada ujung mata, jarak berlebihan antara jempol dan jari telunjuk kaki disertai ukuran lidah yang tidak sebanding dengan mulut. Laporan Kasus:Seorang anak laki-laki umur 1 tahun 1 bulan 9 hari di bawa ke UGD RSUD dr.Sayidiman Magetan dengan keluhan batuk berdahak dan demam terus menerus pada pagi hari lalu sesak pada sore harinya dan dikonsulkan ke bagian Ilmu Kesehatan Anak, diagnosis sindrom down dengan hipotiroid kongenital dan suspek bronkitis, rencana dilakukan pemeriksaan fisik,dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium dan foto thorax.Hasil pemeriksaan fisik didapatkan retraksi subcostal, ruam kemerahan pada tangan dan kaki serta ronki pada kedua lapang paru,pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan TSH.Kesimpulan:sindrom down dengan hipotiroid kongenital menjadi salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan pernafasan.Pemeriksaan dini penting untuk menghindari keterlambatan diagnosis dan intervensi.
Tuberkulosis Paru Terkonfirmasi TCM Lesi Luas Kasus Baru dengan Efusi Pleura Dextra Multilobulated HIV Negatif Vivi Nur Fitriana; Niwan Tristanto Martika
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efusi pleura adalah akumulasi cairan patologis di ruang pleura. Ruang pleura terdapat di antara pleura parietalis pada sisi dinding toraks dan pleura visceralis yang menyelimuti organ paru, pada kondisi normal terdapat 10 hingga 20 cc cairan yang berfungsi sebagai lubrikan di antara dua permukaan ini. Gejala klinis berupa sesak napas, batuk, dan kadang - kadang nyeri dada yang tajam namun tidak menjalar. Dilaporkan kasus seorang laki-laki usia 21 tahun dengan sesak nafas, sesak dirasakan sudah 7 bulan terakhir, batuk berdahak berwarna kuning, lemas, demam, pasien dalam pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Pada pemeriksaan fisik didapatkan pengembangan dada kanan tertinggal dari dada kiri, fremitus kanan lebih lemah dari kiri, pada pemeriksaan perkusi didapatkan dada kanan redup dari SIC VII ke bawah dan kiri sonor, pada auskultasi suara dasar vesukular kanan menurun, dan didapatkan ronki pada kedua lapang paru bagian atas. Gambaran radiologi menunjukkan adanya corakan veskuler yang kasar, infiltrate di kedua lapang paru, basal kanan suram, diafragma, dan sinus kanan suram. Pada pemeriksaan tes cepat molekuler (TCM) dan kultur tuberculosis didapatkan hasil positif, dilakukan PITC dengan hasil negatif. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang menunjukkan adanya efusi pleura dextra yang disebabkan karena tuberculosis. Pada pasien ini kemudian diberikan pengobatan berupa obat OAT.
Anak Laki-Laki Usia 18 Tahun dengan Cerebral Palsy, Pneumonia, Gizi Buruk, dan Anemia: Laporan Kasus Sri Astari Dwi Winarni; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cerebral Palsy merupakan penyakit gangguan motorik yang umumnya terjadi pada masa anak-anak. Cerebral Palsy dikarakteristikan dengan abnormalitas tonus, postur, atau gerakan tubuh. Penyakit ini diklasifikasikan menurut gangguan gerakan yang dominan yaitu spastik hemiplegi, spastik diplegi, spastik quadriplegi, dan ekstrapiramidal atau diskinetik. Laporan kasus tentang seorang anak laki-laki usia 18 tahun yang mengalami cerebral palsy tipe spastik quadriplegi dengan pneumonia, gizi buruk, dan anemia. Faktor yang terlibat antara lain pada masa prenatal yaitu ketuban pecah dini dan pada masa perinatal yaitu premature dan regresi perkembangan. Pasien mengalami gangguan spektrum perkembangan khususnya gross motor function classification system (GMFCS) level 5. Pasien datang dengan keluhan batuk dan demam sejak kurang lebih 6 hari sebelum masuk rumah sakit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan frekuensi nadi 90x/menit, frekuensi pernafasan 21x/menit, suhu 36,6◦C, BB 17 kg, TB 135 cm, kulit kering, baggy pant appearance, dan ronki. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hemoglobin 7,5 g/dL, hemtokrit 26,3 %, MCV 61,3 Fl, MCHC 28,5 g/dL. Pasien didiagnosis dengan cerebral palsy dengan pneumonia, gizi buruk, dan anemia, dan diberikan terapi diazepam, fenobarbital, dan F100 100cc/3 jam. Pasien dirawat di rumah sakit selama 8 hari dan membaik.
Anak Usia 2 Tahun 8 Bulan dengan Kejang Demam Kompleks Sella Felina; Kautsar Prastudia Eko Binuko
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang demam adalah kondisi kejang yang terjadi pada suhu tubuh lebih dari 38C yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium pada anak usia kurang dari 6 tahun, tidak ditemukan infeksi sistem saraf pusatmaupun ganguan metabolik sistemik akut. Kejang demam terjadi pada 2-5% anak berumur 6 bulan hingga 5 tahun. Anak yang didiagnosis dengan kejang demam perlu ditatalaksana segera untuk mencegah kerusakan saraflebih lanjut. Kasus: Anak perempuan usia 2 tahun 8 bulan mengalami demam tinggi dan kejang seluruh tubuh sebanyak 3 kali dalam 24 jam, dengan durasi > 15 menit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, suhu 39C, refleks fisiologis normal, rekfleks patologis dan rangsang meningeal tidak ditemukan. Hasil pemeriksaan laboratorium darah rutin dalam batas normal. Anak-anak dengan infeksi SSP seperti meningitis dan ensefalitis biasanya datang dengan demam dan kejang. Bila ditemukan gangguan kesadaran, ruam petekie, kaku kuduk, tanda kernig, dan tanda brudzinski, dapat menjadi petunjuk diagnosis. Sulit membedakan pada anak dengan usia kurang dari 12 bulan, dikarenakan tanda-tanda meningeal bisa samar atau tidak ada. Simpulan: Pemeriksaan kesadaran pasca kejang dan tanda-tanda rangsang meningeal harus dilakukan pada semua anak dengan kejang dan demam untuk membedakan kejang demam dan infeksi sistem saraf pusat.
Potensi Sinbiotik sebagai Agen Preventif Penyakit Alzheimer melalui Gut-Brain Axis: Literature Review Alfian Novanda Yosanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latarbelakang: Alzheimer merupakan penyakit degeneratif penyebab demensia tersering pada usia lanjut dengan patomekanisme yang kompleks. Penurunan fungsi kognitif, memori, dan perilaku pada penderita alzheimer menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien. Salah satu penyebab tingginya insidensi alzheimer yaitu rendahnya upaya preventif untuk kasus alzheimer. Penelitian terkini menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara bakteri komensal usus dengan kejadian Alzheimer melalui mekanisme gut-brain axis. Tujuan: Menjelaskan potensi sinbiotik sebagai agen preventif terhadap penyakit alzheimer. Hasil: Sinbiotik yang terdiri dari probiotik dan prebiotik dinilai memiliki efek yang lebih unggul dibandingkan probiotik maupun prebiotik itu sendiri. Potensi sinbiotik sebagai agen preventif alzheimer berasal dari kandungan probiotik dan prebiotik di dalamnya. Potensi pertama berasal dari probiotik yang mampu mampu memodulasi sistem imun dan meningkatkan produksi acetylcholine pada otak. Hal ini akan meningkatkan aktivitas clearance plak Aβ. Selain itu, probiotik mampu mampu menstimulasi peningkatan ekspresi reseptor GABA pada korteks otak sehingga mencegah disfungsi sistem GABAergic. Probiotik juga mampu meningkatkan tingkat antioksidan yang akan menurunkan tingkat stres oksidatifdalam otak. Potensi kedua berasal dari prebiotik yang dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas dari probiotik sehingga dapat meningkatkan modulasi gut-brain axis. Kesimpulan: Sinbiotik memiliki potensi dalam mencegah alzheimer dengan berbagai mekanisme.
Gangguan Kognitif dan Depresi: Studi Potong Lintang pada Lansia yang Menjalani Hemodialisis Shella Thea; Monica Sari Devy; Nicholas Hardi
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang dialami oleh pasien hemodialisis tidak terbatas pada gangguan fisik, namun juga gangguan mental. Gangguan Neuropsikiatri umum terjadi pada pasien hemodialisis, dimana gangguan kognitif dan depresi adalah gangguan yang paling sering terjadi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi dan mengidentifikasi hubungan antara gangguan kognitif dan depresi pada lanjut usia (lansia) yang menjalani hemodialisis. Penelitian dilakukan pada 50 lansia yang menjalani hemodialisis selama lebih dari 1 bulan di Ciputra Hospital. Desain yang digunakan adalah potong lintang dan sampel diambil secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yaitu Mini-Mental State Examination (MMSE) dan Geriatric Depression Scale (GDS). Data dianalisa menggunakan SPSS 23 dengan uji komparatif. Didapatkan median usia responden adalah 67 tahun, responden perempuan sebanyak 52%, dan median lama menjalani hemodialisis adalah 19,5 bulan. Sebanyak 17 orang responden (34%) mengalami gangguan kognitif, 25 orang responden (50%) mengalami depresi, dan 13 orang (26%) yang mengalami keduanya. Faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif adalah pendidikan yang rendah (p=0.009), usia yang lebih tua (p=0.006). Selebihnya, didapatkan depresi berhubungan dengan gangguan kognitif (p=0.004), begitu pula sebaliknya (p=0.009). Kesimpulan penelitian ini adalah gangguan kognitif dan depresi terjadi lebih dari sepertiga responden, dan terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan kognitif dan depresi.
Anak Laki-Laki 9 Bulan dengan Severe Dengue: Laporan Kasus Kunanti Anugrah Pawestri; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam dengue merupakan penyakit virus dengan insidensi tinggi di sebagian besar negara berkembang yang disebabkan oleh irus dengue dan ditularkan oleh nyamuk. Kejadian infeksi dengue lebih tinggi pada anak dibandingkan dengan dewasa. Severe dengue berdasarkan kriteria WHO 2009 didefinisikan sebagai dengue dengan satu atau lebih kondisi berikut: kebocoran plasma yang menyebabkan shock (dengue syok) dan atau akumulasi cairan dengan distress nafas, perdarahan berat, dan keterlibatan organ. Laporan kasus seorang anak laki-laki usia 9 bulan datang ke IGD dengan keluhan lemas, tangan dan kaki dingin, tidak mau makan minum dan demam hari ke 5, demam tinggi mendadak dengan intensitas naik turun.. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, kesadaran apatis, tekanan darah 93/59 mmHg, nadi 133x/menit, frekuensi napas 133x/menit, suhu 36,4°C, saturasi oksigen 97% udara bebas, mukosa mulut dan bibir kering, suara dasar vesikuler paru kanan menurun,hepatomegali, akral dingin, CRT > 2 detik, ADP tidak kuat angkat, teraba lemah dan cepat. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hemoglobin 13.2, hematocrit 35.5, leukosit 3.2, dan trombosit 11,000. Pasien diberikan terapi oksigenasi dan resusitasi cairan, dan dirawat diruang perawatan intensif anak.
Evolusi Elektrokardiogram (Ekg) pada ST Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) Inferior Dengan Komplikasi Total Atrioventricular Block Dimas Adjie Yuda Mahendra; Enjang Dwiwuri Yuliani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modalitas elektrokardiogram (EKG) penting untuk diagnosis dan mengetahui perjalanan waktu dari ST-segment elevation myocardial infarction (STEMI). Pada STEMI terjadi evolusi atau perubahan EKG yang menandakan perjalanan infark. Tanpa intervensi terapi, EKG biasanya berevolusi, dimulai dari gelombang T hiperakut, elevasi segmen ST, gelombang Q patologis, inversi gelombang T, dan terakhir yaitu normalisasi segmen ST. Beberapa studi menunjukkan STEMI inferior banyak disertai komplikasi aritmia, salah satunya yaitu AV blok (derajat 1, 2, dan 3) sebanyak 2-20%. Faktor yang mempengaruhi terjadinya AV block yaitu adanya iskemik nodus AV akibat hipoperfusi dari infark yang terjadi sebelumnya. Pada laporan kasus ini akan membahas tentang STEMI inferior yang diikuti dengan munculnya Total Atrioventricular Block (TAVB). Perubahan evolusi EKG yang nyata tampak pada segmen ST yang secara progresif mengalami normalisasi menuju isoelektris. Pada hari pertama dirawat, terlihat adanya TAVB sebagai komplikasi dari STEMI. Seiring dengan perbaikan perfusi otot jantung melalui tatalaksana yang diberikan, terjadi perbaikan AV block dari TAVB menjadi blok AV derajat 2 mobitz 1 hingga tidak terdapat lagi AV block.

Page 4 of 54 | Total Record : 532