cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA DI KABUPATEN PACITAN (STUDI KASUS PENGEMBANGAN POTENSI WISATA GOA GONG) EVITIN, ENI
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objek wisata Goa Gong memiliki keunikan pada keragaman bentuk stalaktit dan stalakmit, penamaan ruang-ruang, penamaan sendang serta mitos yang dipercayai oleh masyarakat menjadikan objek wisata tersebut lebih diminati wisatawan dan varian pengunjung lebih bervariasi, juga banyak dikunjungi oleh wisatawan asing. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang strategi pengembangan potensi wisata Goa Gong sebagai destinasi unggulan di kabupaten Pacitan, dengan sub fokus penelitian yang terkait adalah : a) Analisis kondisi geografi, b) Program dan Strategi pengembangan. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah dari Dinas Pariwisata, pengelola Goa Gong, Kelompok Sadar Wisata, masyarakat dan pengunjung. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan/verifikasi. Teknik pengabsahan data meliputi uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas. Hasil penelitian ini terdiri dari dua hal utama, yaitu : pertama, analisis kondisi geografi. Lokasi Goa Gong cukup strategis karena lokasi tersebut merupakan lokasi yang paling mudah dijangkau jika dibandingkan dengan objek wisata lain dan dilalui oleh jalur-jalur menuju objek wisata lain. Aksesibilitas mudah dijangkau dengan kondisi jalan baik dan disediakan rambu-rambu serta penerangan jalan. Nilai kegunaan sebagai kawasan wisata sejak tahun 1995 dan sebagai daerah pertanian. Konsep ekologis yaitu ketergantungan masyarakat terhadap objek wisata sebagai lapangan kerja. Gerakan wisatawan ada dua, yaitu secara pribadi dan rombongan atau melalui biro perjalanan wisata. Gerakan informasi melalui internet dan media sosial serta papan informasi disetiap lokasi wisata. Kedua, program dan strategi pengembangan. Strategi pengembangan yang diterapkan pada objek wisata Goa Gong adalah strategi formulasi, strategi implementasi dan strategi evaluasi. Ketiganya diterapkan dengan diikuti berbagai program yang dirumuskan oleh Dinas Pariwisata Pemuda & Olahraga. Pemerintah Kabupaten Pacitan membuat Rencana Induk Pengembangan Objek Wisata (RIPOW) dan Rencana Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA), kemudian Disbudparpora menetapkan skala prioritas, promosi dan bekerjasama dengan stakeholder dan biro perjalanan wisata. Kata kunci : strategi, pengembangan, pariwisata. 
PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA URBAN DAN RURAL KABUPATEN LAMONGAN BALQIS SAFIRA, SAYYIDATUL
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak     Pernikahan di bawah  umur  merupakan pernikahan yang belum  matang secara  psikologis dan sangat rentan terhadap masalah-masalah kesehatan reproduksi ,sehingga usia perkawinan ideal harus mencapai usia minimal 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Batasan usia ini dianggap sudah siap baik dipandang dari sisi kesehatan reproduksi maupun perkembangan psikologisnya. Berdasarkan data dispensasi pernikahan di bawah umur yang dilansir dari Pengadilan Agama Kabupaten Lamongan meningkat 10% setiap tahunnya, serta usia pernikahan pertama di Kabupaten Lamongan paling tinggi berada pada Kecamatan Kedungpring sebanyak 106 dan Kecamatan Ngimbang sebanyak 141 berada pada usia di bawah 20 tahun sehingga dapat beresiko terhadap kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Perbedaan pengetahuan kesehatan reproduksi di wilayah urban dan rural (2) Perbedaan sikap kesehatan reproduksi  di wilayah urban dan rural. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan pendekatan cross sectional, populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMAN di wilayah urban sebanyak 1918 dan rural sebanyak 1353.Untuk memudahkan dalam pengambilan sampel digunakan purposive sampling 10 % yang diambil dihitung menggunakan rumus Morgan. Purposive sampling yang diperoleh sampel sebanyak 182 responden yang dibagi atas 92 responden di wilayah urban dan 90 responden di wilayah rural.  Pengambilan responden ditentukan secara randomsampling. Teknik analisis data untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap dalam memahami kesehatan reproduksi dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan uji chi squaredengan bantuan program SPSS 16 for windows. Hasil penelitian mengenai perbedaan pengetahuan dan sikap kesehatan reproduksi remaja  di wilayah  urban dan rural kabuapten lamongan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam memahami kesehatan reproduksi antara siswa di wilayah urban dan rural. Hasil analisis Chi square menunjukkan (p=0,000) jika α=0.05 berarti p<0.05 maka dapat disimpulakn bahwa ada perbedaan pengetahuan antara responden yang ada di wilayah urban dan rural di dalam memahami dan mengetahui kesehatan reproduksi.Sedangakan sikap siswa terhadap kesehatan reproduksi di wilayah urban dan rural menunjukkan (p=0,138) jika α=0.05 berarti p>0.05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan sikap antara responden yang ada di wilayah urban dan rural di dalam menyikapi masalah kesehatan reproduksi   Kata Kunci : Pengetahuan,Sikap, Reproduksi, Remaja, Urban, Rural   Abstract     Early-age marriage is marriage performed by the brides who were not mature and susceptive to the reproduction health problems, therefore the ideal age of marriage is 20 years for woman and 25 years for man. Man who are considered ready  in their reproduction health and psychology. Based on data of early-age marriage reported by Religious Court of Lamongan Regency, it increased 10% per year, and age of first marriage in Lamongan Regency is highest at District of Kedungpring as many as 106 and District of Ngimbang as many as 141, the age are under 20 years, therefore hode were many risks on reproduction health. This research aimed to know (1) the different knowledge of reproduction health at urban zone and rural zone (2) the different attitude of reproduction health at urban zone and rural zone. The method used in this research was survey with cross sectional approach. Population in this research were 1918 students of state high school in urban zone and 1353 students in rural area. To ease sampling, purposive sampling was used, 10% was taken and calculated by using Morgan formula. The purposive sampling obtained samples of 182 respondents that divided in 92 respondents at urban zone and 90 respondents at rural zone. By using random sampling. Data analysis technique to know the difference of knowledge and attitude in understanding reproduction health was analyzed descriptively by using chi square test assisted with SPSS 16 program for windows. The result of the research about the difference of knowledge and attitude of adolescent reproduction health at urban zone and rural zone in Lamongan Regency shows that the difference is exist within understanding of reproduction health between student in urban zone and rural zone. Result of chi square analysis shows (p=0,000) if α=0.05 then p<0.05, thus could be concluded that there are difference of knowledge between respondent in urban zone and rural zone within understanding reproduction health. While student attitude toward reproduction health at urban zone and rural zone shows (p=0,138) if α=0.05 then p<0.05, thus could be concluded that there is no different attitude of respondent at urban zone and rural zone within addressing reproduction health problem.   Keywords: knowledge, attitude, reproduction, adolescent, urban, rural         
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN SYMA QUADCOPTER CAMERA PADA MATERI PENGINDERAAN JAUH UNTUK TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI BAGI SISWA KELAS XII DI SMA NEGERI 16 SURABAYA ANREZA PUTRA, MOCHAMMAT
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Materi pada KD menganalisis citra penginderaan jauh untuk tata guna lahan dan transportasi merupakan materi yang berhubungan langsung dengan analisis citra hasil pemotretan foto udara. Sehingga dalam penjelasannya tidak cukup hanya dengan lisan, namun membutuhkan media yang dapat memvisualisasikan proses pengambilan gambar foto udara sesuai dengan materi penginderaan jauh agar mudah dimengerti oleh siswa. Berdasarkan wawancara dengan guru geografi di SMAN 16 Surabaya, bahwa pembelajaran geografi di kelas XII guru hanya menggunakan metode ceramah dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini dilatar belakangi adanya kejenuhan siswa, kurang aktifnya siswa, kesulitan siswa memahami materi dan kurang efektifnya metode mengajar untuk meningkatkan keaktifan siswa serta tugas-tugas siswa yang masih bergantung pada buku paket atau LKS, hal ini sesuai dengan wawancara dengan guru geografi di SMAN 16 Surabaya. Penggunaan media pembelajaran Syma Quadcopter Camera diharapkan mampu mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran Syma Quadcopter Camera ditinjau dari hasil telaah media dan respon siswa sehingga layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model pengembangan 4D yaitu tahap define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan) dan disseminate (penyebaran), namun karena keterbatasan waktu dan tujuan penelitian ini untuk mengembangkan media berdasarkan uji kelayakan, maka penelitian dilakukan sampai 3D tanpa disseminate (penyebaran). Subjek penelitian adalah 15 orang siswa dari kelas XII IIS 2 yang dipilih secara acak oleh peneliti di SMAN 16 Surabaya. Penelitian diujicobakan secara terbatas dengan menggunakan desain One-Shot Case Study. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain media pembelajaran Syma Quadcopter Camera, lembar telaah media, lembar angket respon siswa, lembar pengamatan siswa, lembar angket gaya belajar siswa dan lembar tugas siswa. Dari hasil penelitian ini, diperoleh bahwa media pembelajaran Syma Quadcopter Camera layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran geografi untuk materi penginderaan jauh berdasarkan penilaian ahli media yang mencapai presentase sebesar 85%. Berdasarkan guru geografi, penilaian media pembelajaran Syma Quadcopter Camera mencapai presentase 80%, sedangkan berdasarkan penilaian respon siswa media pembelajaran Syma Quadcopter Camera mencapai presentase sebesar 93,33%. Kata kunci: Penelitian Pengembangan, Media Pembelajaran Syma Quadcopter Camera dan Penginderaan Jauh.
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN COMPUTER ASSISTED INSTRUCTION (CAI) PADA POKOK BAHASAN MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAM DI KELAS X SMA NEGERI 22 SURABAYA FERGY NOVENTARIA, PATRICIA
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN COMPUTER ASSISTED INSTRUCTION (CAI) PADA POKOK BAHASAN MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAM DI KELAS X SMA NEGERI 22 SURABAYA   Patricia Fergy Noventaria Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya patriciafergy@gmail.com   Dr. Bambang Sigit Widodo S.Pd., M.Pd. Dosen Pembimbing Mahasiswa   Abstrak              Media berbasis multimedia atau media pembelajaran yang dikenal dengan nama pembelajaran dengan bantuan komputer dalam bahasa asing sering disebut Computer Assisted Instruction (CAI) dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 tergolong media yang sesuai dalam proses pengembangan belajar. CAI telah mengembangkan proses pengajaran dan pembelajaran ke arah yang lebih dinamik. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran CAI, untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan media CAI dengan siswa yang tidak menggunakan media CAI, mengetahui aktifitas siswa yang menggunakan media CAI dengan siswa yang tidak menggunakan media CAI, dan mengetahui perbedaan aktifitas guru yang menggunakan media CAI dengan guru yang tidak menggunakan media CAI.              Penelitian pengembangan ini menggunakan perangkat model ASSURE, yang terdiri dari enam tahap pengembangan : Analyze Learner, State Objective, Select Media and Material, Utilize Media and Material, Require Learner Participant, Evaluated and Revise yang diujicobakan pada siswa kelas X peminatan IPS SMA Negeri 22 Surabaya kelas X IPS 3 dan X IPS 4. Media pembelajaran CAI diujicobakan pada dua kelas yakni kelas kontrol dan kelas eksperimen dari keseluruhan populasi sebanyak 4 kelas X peminatan IPS melalui jenis penelitian eksperimental semu (quasi experimental) untuk mengetahui perbedaan hasil belajar. Hasil penelitian ini, diperoleh media pembelajaran CAI layak digunakan sebagai media pembelajaran berdasarkan penilaian ahli media yang mencapai prosentase 82,81%.  Penilaian materi pada media pembelajaran CAI mencapai prosentase 85,55% yang telah dilakukan oleh validator ahli media. Media yang sudah diujicobakan pada dua kelas sampel penelitian, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa kelas kontrol yang tidak menggunakan media belajar CAI dan kelas eksperimen yang menggunakan media belajar CAI. Rata-rata hasil pre-test kelas kontrol dan kelas eksperimen yakni 36,34 dan 37,40 yang keduanya tidak memenuhi nilai ketuntasan pembelajaran geografi yakni 70. Menunjukkan hasil belajar yang signifikan rata-rata hasil post-test kelas kontrol dan kelas eksperimen yakni 75,52 dan 83,92 yang telah mencapai nilai ketuntasan pembelajaran geografi yakni 70. Berdasarkan perhitungan independent sample t-test nilai p = 0.000, hal ini menunjukkan bahwa  ada perbedaan rata-rata nilai post-test di kelas kontrol dan post-test di kelas eksperimen. Rata-rata nilai psikomotor juga menunjukkan perbedaan yakni 66,65 untuk kelas kontrol dan 79,60 untuk kelas eksperimen. Hasil analisis independent sample t-test menunjukkan p =0,048 yang artinya terdapat perbedaan antara hasil belajar ranah psikomotor siswa kelas kontrol dengan kelas eksperimen. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis komputer telah layak dan memenuhi kriteria untuk dijadikan media belajar pada pelajaran geografi pokok bahasan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam.   Kata Kunci : Penelitian Pengembangan, Media Pembelajaran, CAI, ASSURE, Quasi Experimental.   Abstract              Media based on multimedia or learning media using computer known as Computer Assisted Instruction (CAI) in implementing 2013 curriculum is very suitable media for learning development proccess. CAI developed learning and teaching proccess in more dinamic way. The purpose of this research is in order to know the properness  of CAI learning media. Besides that to know the differance in students learning result by using CAI  with the difference learning without using CAI and to know teachers activity in teaching using CAI with the teacher without using CAI.              Developmental research used ASSURE model which consisted of six stages such as to: Analyze Learner, State Objective, Select Media and Material, Utilize Media and Material, Require Learner Participant, Evaluated and Revise applied to the student in grade X  and social class in grade XI of SMAN 22 Surabaya. To know the difference of  Learning Result ,CAI learning Media decided two classes, they are Control Class and Experiment Class. The first grade class of SMA consists of four social parrarel classes.              From this research we know that CAI learning is very suitable to be used as Learning Media. Based on the Expert of Media that it reaches 82,81%. Meanwhile, based on material expert that CAI reaches of 85.55% . Media that has been examined in both classes, there is significant difference result of student study. The average pre-test result of Control Class and Experiment Class  are 36,34 and 37,40,  both of them doesn’t fulfill the need of Passing Grade of 70 in Geography Leraning. To show the result of the test signifikanly the average pos tesrt of Control Class and Experiment Class after treatment is 75,52 and 83,93 which have reached 70 Passing Grade of Geography Learning. the result of value post test in the class experiment and class control showing that the Sig.(2-tailed) as much as 0,00 so that the value ρ < α (0,05) which mean there is a difference average score post test in the experiment class and control class. The average of phycomotor also shows difference, it is 66,65 for Control Class and 80,35 for Experiment class. The result of value psyhcomotor Sig.(2-tailed) as much as 0,048 which means ρ < α (0,05), can be concluded that there are differences study result psychomotor domain experiment class and control class. The result of this research shows that CAI is very suitable to be applied as Geography learning with the subject matter of Mitigasi and to adapt disaster. Key words : Development Research, Learning Media, CAI, ASSURE, Quasi Experimental
EKSISTENSI PASAR INDUK PUSPA AGRO SIDOARJO DALAM TINJAUAN GEOGRAFIS ADININGRAT, MAHARGYO
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pasar induk Puspa Agro merupakan sebuah pasar induk modern agrobis di Jawa Timur. Lokasinya strategis tidak jauh dari jalan raya Surabaya-Mojokerto. Pasar induk Puspa Agro yang diharapkan akan menjadi pasar yang banyak dikunjungi konsumen, tidak sesuai dengan kenyataanya. Pedagang mengaku pasar induk Puspa Agro banyak dikunjungi pengunjung pada hari libur saja, namun pada hari–hari biasa intensitas pengunjung sangat minim. Meskipun pasar induk puspa agro selalu sepi pengunjung serta transaksi jual beli yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan, pasar induk Puspa Agro masih bertahan hingga saat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan eksistensi pasar  induk Puspa Agro kecamatan Taman kabupaten Sidoarjo ditinjau dari konsep lokasi, jarak pasar ke konsumen, dan jarak pasar dari pedagang. Penelitian pasar induk Puspa Agro desa Jemundo kecamatan Taman kabupaten Sidoarjo tergolong gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatifdengan sudut pandang: 1) konsep geografis, 2) Persepsi pedagang, konsumen, dan 3) Pengelola pasar.Sumber data penelitian ini menggunakan kombinasi antara data primer dan sekunder. Sumber data primer yang digunakan  peneliti berasal dari pedagang tetap, konsumen, manajemen di pasar induk Puspa Agro dan pengukuran jarak antar desa yang memiliki akses langsung terhadap pasar induk Puspa Agro. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Sumber data sekunder diperoleh dari data manajemen operasional pasar induk Puspa Agro. Teknik analisis data dengan menggunakan metode reduksi data, penyajian data, verifikasi. Hasil penelitian eksistensi pasar induk Puspa Agro ditinjau dari konsep lokasi mengungkapkan bahwa upaya efisiensi biaya yang dimaksudkan berorientasi pada lokasi pemasaran yaitu dekat dengan pemukiman, sedangkan hasil penelitian ditinjau dari konsep jarak ke konsumen menunjukkan bahwa pasar induk Puspa Agro sangat dekat dengan konsumen karena dapat ditempuh dalam waktu 30–45menit dengan akses keterjangkauan yang tinggi karena pasar induk Puspa Agro tergolong sebagai lokasi yang terbuka dengan jaringan jalan yang ada. Hasil penelitian ditinjau dari konsep jarak dari pedagang mengungkapkan bahwa banyak pedagang yang berdagang di pasar induk Puspa Agro berasal dari tempat yang jauh. Pedagang tetap berdagang di pasar induk Puspa Agro karena merasa pasar induk Puspa Agro lebih dekat dari tempat tinggal dan percaya akan potensi pasar induk Puspa Agro. Eksistensi pasar induk Puspa Agro juga dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu: faktor tindakan perdagangan dan dibentuknya Trading House.  Kata kunci: Eksistensi, pasar induk, konsep.   EXISTENCE OF PUSPA AGRO WHOLESALE MARKET SIDOARJO OVERVIEW OF GEOGRAPHIC Abstrack Central market Puspa Agro is a modern wholesale market agrobusiness in East Java. Strategic location not far from the highway Surabaya-Mojokerto. Central market Puspa Agro is expected to be visited by many consumers, but it is not in line with expectations. Traders claimed intensity of visitors to the central market Puspa Agro more on holiday than a weekday. Although central market Puspa Agro always devoid of visitors and purchase transactions that occur are not as expected, central market Puspa Agro can still survive until today. The purpose of this research was to describe the existence of central market Puspa Agro in the Taman District Sidoarjo Regency in terms of the concept of location, distance to the consumer market, and the distance from the traders. The research of central market Puspa Agro in Jemudo village, Taman Distric Sidoarjo Regency classified the combined of qualitative and quantitative research seen from the point of view: 1) geographical concept, 2) Perception traders, consumers, and 3) The market manager. In this research, data sources using a combination of primary and secondary data. Sources of primary data the researchers used came from fixed traders, consumer, and management in central market Puspa agro as well as measurements of the distance between villages that have direct access to the central market Puspa Agro. Primary data were collected by using observation, interviews, documentation and triangulation.Secondary sources data obtained from the data operational management of central market Puspa Agro. Data were analyzed using methods of data reduction, data presentation, verification. The results of the research the existence of a central market Puspa Agro in terms of the concept of the location show that the cost efficiency oriented of marketing location is close to the settlement, while the results of the research in terms of the concept of distance to the consumer indicates that the central market Puspa Agro very close to the consumer because it can be taken in 30-45 minute with high affordability access as the central market Puspa Agro classified as an open location with the existing road network. The results of the research in terms of the concept of distance from traders revealed that many traders in central market Puspa Agro come from place which far away. However, traders still trade in the central market because they felt the central market Puspa Agro are closer than a place to stay and believe in the potential of central market Puspa Agro. The existence of central market Puspa Agro is also influenced by other factors, such as: trade measures and the establishment of factors Trading House.   Keywords: Existence, the central market, the concept.
KAJIAN KARAKTERISTIK MIGRAN MASUK DI KECAMATAN KENJERAN KOTA SURABAYA Dina Camelia, Syeila
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Kecamatan Kenjeran memiliki data migrasi masuk terbanyak dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Surabaya Utara. Kecamatan Kenjeran memiliki jumlah migrasi penduduk masuk sebanyak 5.162 jiwa dan 36% dari keseluruhan migran berasal dari Madura yaitu sebanyak 1856 Jiwa, oleh sebab itu peneliti tertarik untuk mengetahui karakteristik migran dari Madura di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik migran dan faktor – faktor yang mempengaruhi migran melakukan migrasi masuk di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey dengan metode analisis statistik kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik migran yang melakukan migrasi ke Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya di dominasi oleh migran berusia antara 25 – 29 tahun, laki – laki yang berstatus kawin dengan tingkat pendidikan terakhir SMA. 36 respondent atau 37.90% melakukan migrasi dikarenakan kurangnya lapangan pekerjaan di daerah asal. 44 respondent atau 37.90% migran melakukan migrasi dikarenakan  tersedianya banyak lapangan pekerjaan di daerah tujuan.   Kata Kunci : Karakteristik Migran, Migran Kecamatan Kenjeran   Abstract     Kenjeran district has the most inmigration data than other district in nort surabaya. Kenjeran district has imigrants 1856 people and 36% of all migrant are from Madura island 1856 people, observator to observe characteristics migrant from Madura island in Kenjeran district of Surabaya City. The research are aimed to know the characteristics of migrants do migration in Kenjeran District of Surabaya City. This kind of research is survey observation with methods of analysis quantitative statistics. The result of this research shows that characteristics of migrants who do migration to Kenjeran district of Surabaya City dominated by age between 25 – 29 years, men who are married who have the last graduated level senior high school. 36 respondent or 37.90% do migration because last of jobs in place of origin. 44 respondent or 46.32% do migration because the avalable of job vacancy. 
KAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH PADA TIAP DESA DI KECAMATAN PACIRAN KABUPATEN LAMONGAN ZAKIYAH, ILMIYATUZ
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KAJIAN TINGKAT PERKEMBANAGAN WILAYAH PADA TIAP DESA DI KECAMATAN PACIRAN KABUPATEN LAMONGAN    Ilmiyatuz Zakiyah  Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya ilmigotik@gmail.com   Dr. Nugroho Hari Purnomo., M.T. Dosen Pembimbing Mahasiswa   Abstrak Berdasarkan data Pusat Statistik tahun 2014, desa-desa di Kecamatan Paciran  memiliki perbedaan laju pertumbuhan yang tinggi, khususnya antara wilayah pusat pengembangan dengan daerah belakangnya. Pada fenomena ini perlu diketahui sebab-sebab  terjadinya tingkat perkembangan dengan adanya Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan Pelabuhan ASDP di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) prosentase penggunaan lahan di Kecamatan Paciran dari tahun 1997 - 2013 2) tingkat perkembangan sosial-ekonomi wilayah di Kecamatan Paciran 3) arah perkembangan wilayah tiap desa di Kecamatan Paciran. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif mengenai tingkat perkembangan wilayah, dengan menggunakan metode korelasi keruangan. Jenis pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini yaitu pendekatan keruangan. Pendekatan keruangan dalam penelitian ini berupa  pendeskripsian ruang mengenai identifikasi, inventarisasi dan klasifikasi indikator-indikator dalam menentukan tingkat perkembangan wilayah serta persebarannya dalam ruang geografis, ruang geografis sendiri adalah wilayah Kecamatan Paciran dengan unit analisis 17 Desa Hasil penelitian ini menunjukkan Kecamatan Paciran pada Tahun 1997 sampai Tahun 2013 bertambahnya lahan yang terbangun dari 303 Ha menjadi 526 Ha atau naik sekitar 3.6% hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan perkembangan wilayah dalam penggunaan lahan yang terjadi pada Kecamatan Paciran. Berdasarkan hasil skoring untuk menentukan tingkat perkembangan sosial-ekonomi wilayah pada tiap desa di Kecamatan Paciran yaitu 5 desa dengan tingkat perkembangan tinggi, 2 desa dengan tingkat perkembangan sedang dan 10 desa dengan tingkat perkembangan rendah. Hasil analisi mengenai arah perkembangan wilayah pada tiap desa di Kecamatan Paciran ini menyebar ke arah timur dan barat dari pusat Kecamatan Paciran dan mengacu pada wilayah utara. Perkembangan wilayah pada Kecamatan Paciran memang memiliki pengaruh dengan adanya Wisata Bahari Lamongan dan Pelabuhan Angkutan sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP), tetapi ada juga pengaruh lain yaitu ketersediaan pelayanan pendidikan bagi masyarakat sehingga akan memicu terhadap pelayanan sosial dan ekonomi yang baik pula, karena semakin tinggi tingkat pelayanan pendidikan maka wilayah tersebut akan menjadi pusat aktivitas masyarakat hal itu juga akan berpengaruh terhadap permintaan masyarakat akan pemenuhan   kebutuhan yang bersifat perdagangan dan jasa. Oleh karena itu upaya yang dilakukan dalam pemecahan kesenjangan antar wilayah ini dapat ditempuh dengan meningkatkan sarana dan prasarana untuk membuka keterisolasian wilayah.   Kata kunci : Tingkat perkembangan wilayah.   Abstract Based on statistics data year 2014, the villages in Paciran subdistrict had high difference of growth rate, especially development between central region and backside area. It is, needed to know what the reasons of it is a development Maritime Tourism of Lamongan (WBL) and ASDP harbor in District Paciran, Lamongan Regency. The purpose of this research were to know 1) percentage of land using in District of Paciran from year 1997 to 2013, 2) regional development of social economy rate in District of Paciran, 3) direction of regional development in each villages in District of Paciran. The type of this research is quntitative descriptive about regional development rate, using space correlation method and space approach. Space approach consisted of descriptioning space about identification, inventorization, and classification of indicators that determining regional development rate and its dissemination in geographycal space. The geographycal space was regional in District of Paciran by analysis unit of 17 villages. The result shows that District of Paciran in year 1997 to 2013 increases of building land from 303 Ha to 526 Ha or about 3,6%. It shows there is increasing of regional development for land using in District of Paciran. Based on scoring result to determine regional development of social economy rate in each villages in District of Paciran that 5 villages are in high level, 2 villages are in medium level, and 10 villages are in low level. Analysis result about the direction of regional development in each villages in District of Paciran that deploy east-ward and west-ward from central of District Paciran and according to north-ward. Regional development in District of Paciran has influence with Maritime Tourism of Lamongan (WBL) and ASDP harbor, and the other is availability of education service for public so that causes good social-economy service too. As higher of education service so that region will be central area of public activity. That has an effect on demand of commodity and service to fill the bill. Therefore, solution is needed to solve the interregional imbalanced by increasing facilities and infrastructure to break isolation area.        Keywords: level of development area
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN MENJADI PERUMAHAN DI KELURAHAN BERU KECAMATAN WLINGI KABUPATEN BLITAR SANTOSO, DANI
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sektor pertanian memegang peranan penting dalam pembangunan perekonomian dan berpengaruh terhadap ketahanan pangan bangsa Indonesia. Kabupaten Blitar memiliki lahan subur yang sangat potensial untuk budidaya padi namun banyak lahan sawah yang mengalami alih fungsi lahan ke non pertanian seperti pembangunan perumahan. Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dan permintaan lahan pemukiman menyebabkan degradasi lahan pertanian yang sangat pesat di Kelurahan Beru. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan yaitu faktor internal, eksternal dan kebijakan pemerintah. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan pertimbangan Kelurahan Beru merupakan daerah pertanian yang subur namun mengalami alih fungsi lahan pertanian. Subyek dalam penelitian ini adalah semua petani yang menjual lahan pertaniannya dengan sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Analisis  data diperoleh melalui reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang didapat yaitu faktor lokasi lahan, perubahan perilaku petani, tuntutan ekonomi, pengaruh warga lain, pengaruh pihak swasta, nilai jual lahan, kebutuhan tempat tinggal, pembangunan sarana dan prasarana, kesempatan untuk bekerja di sektor lain, kesempatan membeli lahan lain serta peraturan pemerintah berpengaruh nyata terhadap besarnya alih fungsi lahan sawah di Kelurahan Beru. Saran untuk mengurangi alih fungsi lahan adalah pemerintah harus mempertegas regulasi di bidang perizinan terutama untuk membangun di lahan basah. Pemerintah juga harus memperketat peraturan jual beli lahan terutama lahan pertanian boleh dijual tetapi tetap diperuntukkan untuk lahan pertanian.   Kata kunci: alih fungsi lahan, faktor internal, faktor eksternal, kebijakan pemerintah
KAJIAN FAKTOR-FAKTOR EKS PENDERITA KUSTA MEMILIH TINGGAL DI DUSUN SUMBERGLAGAH DESA TANJUNG KENONGO KECAMATAN PACET KABUPATEN MOJOKERTO AFNI AULYA, NUR
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Penelitian ini diambil berdasarkan fenomena yang ada di Dusun Sumberglagah desa Tanjung Kenongo yang ditempati oleh eks penderita kusta dari berbagai daerah setelah berobat di Rumah Sakit Kusta Sumberglagah.  Semakin banyaknya eks penderita yang menetap di daerah Suberglagah dan anak sampai dengan cucu eks penderita kusta yang ikut serta tinggal di Dusun Sumberglagah, pada jangka panjang akan mengakibatkan pengurangan lahan di Dusun Sumberglagah dan semakin banyak korban penggusuran jika suatu saat lahan milik Dinas Sosial nantinya akan dipakai dan hak pakai lahan diberhentikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui 1) karakteristik eks penderita kusta di Dusun Sumberglagah, 2) faktor eksternal dan faktor internal yang menyebabkan eks penderita kusta memilih tinggal di dusun Sumberglagah, 3) aktivitas eks penderita kusta di Dusun Sumberglagah, 4) persebaran dearah asal eks penderita kusta di Dusun Sumberglagah, 5) persepsi masyarakat sekitar wilayah Sumberglagah mengenai adanya eks penderita kusta, 6) perlakuan masyarakat daerah asal terhadap eks penderita kusta di Dusun Sumberglagah. Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif kuantitatif, yang jumlah populasinya adalah 104 KK yang ada di dusun Sumberglagah. Teknik pengumpulan data mengunakan observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kuantitatif prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik eks penderita kusta adalah sebesar 36.5% eks penderita kusta di Dusun Sumberglagah berumur 51-60 tahun didominasi jenis kelamin laki-laki sebanyak 85.6 %, pekerjaan eks penderita kusta 39.4 % sebagai petani, faktor yang menjadikan eks penderita memilih tetap tinggal di Dusun Sumberglagah adalah karena adanya perhatian pemerintah berupa fasilitas yang disediakan seperti lahan pemukiman, sawah dan sembako. Eks penderita kusta tidak memiliki aktivitas yang dilakukan dengan masyarakat lain dari daerah sekitar Dusun Sumberglagah. Sebanyak 26.9 % eks penderita kusta berasal dari daerah Kabupaten Mojokerto. Masyarakat Daerah sekitar Dusun Sumberglagah tidak terganggu dengan adanya eks penderita kusta di sekitar wilayah mereka karena masyarakat sekitar tidak pernah berkontak langsung dengan eks penderita kusta di Dusun Sumberglagah. Masyarakat daerah asal tempat tinggal eks penderita kusta tidak melakukan pengucilan dan penolakan terhadap eks penderita kusta. Kata Kunci : Eks Penderita Kusta, Faktor Menetap, Persebaran Daerah Asal, Persepsi    Masyarakat
EVALUASI PENGADAAN ANGKUTAN MALAM HARI (AMARI) DI KOTA MOJOKERTO FARIKHAH, ZUMROTUL
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EVALUASI PENGADAAN ANGKUTAN MALAM HARI (AMARI) DI KOTA MOJOKERTO Jumlah penumpang angkutan kota di Kota Mojokerto cenderung menurun dari tahun ke tahun. Pemerintah Kota Mojokerto bersama DISHUBKOMINFO Kota Mojokerto meluncurkan layanan angkutan yang bernama Angkutan Malam Hari (AMARI) gratis. Setelah lebih dari setahun berjalan, layanan angkutan ini masih sepi dari penumpang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui 1) persebaran rute AMARI gratis, 2) pelayanan AMARI gratis di Kota Mojokerto menurut tanggapan sopir AMARI, penumpang AMARI, penumpang umum, dan DISHUBKOMINFO, 3) mengevaluasi pengadaan AMARI di Kota Mojokerto. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel dari penelitian ini adalah 47 sopir, 30 penumpang angkutan yang terdiri dari 15 penumpang umum dan 15 penumpang AMARI, serta pihak DISHUBKOMINFO. Pengumpulan data dilakukan dengan survey, kuesioner, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan rute AMARI melewati beberapa tempat penting di Kota Mojokerto yaitu jalan benteng pancasila, alun-alun kota mojokerto, jalan majapahit, RSUD Wahidin Sudirohusodo, jalan residen pamuji, dan jalan pahlawan. Sebanyak 34% sopir menyatakan bahwa AMARI tidak layak dikarenakan banyak sopir yang tidak sportif. Menurut  penumpang AMARI, AMARI layak dilanjutkan karena memudahkan penumpang bepergian malam dan menghemat pengeluaran. 66.7% penumpang umum menyatakan bahwa AMARI tidak layak dilanjutkan karena alasan faktor keamanan. Menurut DISHUBKOMINFO, pemerintah akan mengkaji ulang kebijakan ini karena belum mencapai tujuan yang diinginkan. Hal yang perlu dievaluasi dari pengadaan Angkutan Malam Hari (AMARI) gratis ini adalah perlu adanya pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah agar tidak terjadi kecurangan oleh sopir yang tidak bertanggung jawab. Perlu kajian ulang mengenai rute dan waktu keberangkatan AMARI. Kata kunci: evaluasi, angkutan umum, AMARI                                                                                                                                                                    The Evaluation Of Free Night Public Transportation (Amari) In Mojokerto                          The number of public transport passenger in Mojokerto tends to decrease year to year. Local government and DISHUBKOMINFO work together to release night public transportation named AMARI for free. In fact, after working  for a year, it  still has less  passenger. The purpose  of this research were  to know 1) the spreads of free AMARI route, 2) the service of free AMARI based on the drivers opinion, passengers opinion, general passengers opinion and DISHUBKOMINFO’s opinion, and 3) evaluate the opinion of AMARI in Mojokerto.                 This research was quantitative descriptive observation. The sample of this research were 47 drivers, 30 pasengers consist of 15 general passengers and 15 AMARI’s passengers, also DISHUBKOMINFO as the government side. The techniquing of data were collected by were survey, questionnare and interview.                 Based on the result of this research, AMARI’s route was through some important places in Mojokerto. Such as Benteng Pancasila street, Mojokerto City square, Majapahit street, Wahidin Sudirohusodo Hospital, Residen Pamuji Street, and Pahlawan Street. 34% drivers said that AMARI was not proper because there were too much drivers who did not work as they should be. In other hand, passenger said that AMARI should be countinued because it relieved passenger in the night trip and economizes the outlay. 66,7% General Passengers said that AMARI should not be continued because of its safety. DISHUBKOMINFO said that government were going to review this policy because it could not receive the goals. The problems of AMARI to be fixed was giving tighter supervision from government to avoid frauds from the drivers, review the route of AMARI, and arrange definite departure time of AMARI. Keyword : evaluation, public transportation, AMARI

Page 11 of 51 | Total Record : 509