cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
FAKTOR- FAKTOR PENYEBAB KEMACETAN LALU- LINTAS DI KEJAPANAN- GEMPOL DZORIFAH, YULFI; MURTINI, SRI
Swara Bhumi Vol 5, No 7 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKemacetan banyak terjadi di kota-kota besar. Salah satu lokasi yang sering terjadi kemacetanyaitu wilayah Kejapanan? Gempol. Lokasi tersebut merupakan persimpangan batas wilayah antaraPasuruan ? Pandaan, baik dari arah Surabaya maupun arah Pandaan. Tujuan penelitian ini untukmengetahui faktor yang menjadi penyebab kemacetan lalu lintas di Kejapanan? Gempol dan untukmengetahui dampak operasi tol Pandaan terhadap kemacetan lalu- lintas di Kejapanan-Gempol.Jenis penelitian adalah survey menggunakan metode deskriptif kuantitaif dengan persentase..Waktu penelitian dilakukan 1 Minggu 24 jam, lokasi penelitian di jalan raya Kejapanan- Gempol. Subyekpenelitian adalah segmen ? segmen jalan raya Kejapanan? Gempol dan objek yang digunakan panjangjalan, lebar jalan, banyaknya persimpangan, daerah pembangkit, jumlah dan jenis kendaraan yangmelintas, kecepatan kendaraan yang melintas.Hasil penelitian ini faktor penyebab kemacetan di Kejapanan? Gempol sebelum dan dampakberoperasi tol Pandaan. Panjang jalan dan lebar jalan tidak mengalami perubahan sepanjang 3,8 Km danlebar jalan 15m. Persimpangan besar 29 % dan persimpangan kecil 71%. Jenis kendaraan yang melintasmobil pick-up, engkel, bis mini dan elf sebanyak 7.61 %, fuso dan truck tangki sebanyak 10.52 %, trontondan tangki trailer sebanyak 6.16 % dan colt diesel besar sebanyak 3.43 %. Kecepatan kendaraan motorkecepatan 52,2 km/jam, pick-up kecepatan kendaraan 39,5 km/jam, colt diesel besar kecepatan kendaraan36 km/jam, fuso/ truk tangki kecepatan kendaraan 21,6 km/jam, tronton dan tangki trailer kecepatankendaraan 10,8 Km/jam. Faktor kemacetan jalan raya di Kejapanan?Gempol sesudah beroperasi jalan tolPandaan menimbulkan dampak mengurangi volume kendaraan di jalan raya Kejapanan-Gempol, sebagaialternatif bagi kendaraan roda 4 atau lebih dalam berkendara, mempersingkat waktu dan biaya dalamberkendaan.Kata Kunci : Kemacetan, faktor penyebab kemacetan,.dampak
PELAKSANAAN KURIKULUM K13 DAN KTSP PADA JENJANG SMA NEGERI DI KABUPATEN BANGKALAN FITRIANINGSIH, EKA; SIGIT WIDODO, BAMBANG
Swara Bhumi Vol 5, No 7 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penyempurnaan kurikulum dari KTSP menjadi K13 dapat memacu pengembangan kompetensi siswa kearah yang lebih analisis dan tuntutan guru agar lebih kreatif dan inovatif. Pelaksanaan kurikulum K13 di SMA Negeri di Kabupaten Bangkalan tidak terlaksana dengan sempurna. Permasalahan yang dihadapi terletak pada kesiapan guru dalam menerapkan K13 pada proses pembelajaran, metode mengajar yang digunakan serta fasilitas belajar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan kurikulum K13 dan KTSP pada jenjang SMA Negeri di Kabupaten Bangkalan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survey menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive sampling dengan menggunakan teknik pengumpulan data angket, wawancara, observasi, dan teknik analisis data deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian pada SMA Negeri di Kabupaten Bangkalan yang menerapkan KTSP dilakukan di SMA Negeri 1 Bangkalan, SMA Negeri 1 Kwanyar dan SMA Negeri 1 Blega, sedangkan SMA Negeri yang menerapkan K13 dilakukan di SMA Negeri 2 Bangkalan, SMA Negeri 3 Bangkalan dan SMA Negeri 4 Bangkalan. Hasil penelitian pada variabel motivasi belajar menunjukkan persentase 67.05% pada KTSP dan K13 menunjukkan persentase 68.73%. Variabel metode mengajar pada KTSP menunjukkan persentase 98.89% dan K13 menunjukkan persentase 100%. Variabel fasilitas belajar pada KTSP menunjukkan persentase 85.31% dan K13 menunjukkan persentase 96,48%. Variabel kemampuan berfikir kritis siswa pada KTSP mencapai 100% dan K13 menunjukkan persentase 87.78%. Variabel komitmen kepala sekolah pada KTSP maupun K13 masing-masing menunjukkan data persentase mencapai 100%. Kata Kunci: kurikulum, kurikulum tingkat satuan pendidikan, kurikulum 2013
ANALISIS ARAH PERKEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN BABAT KABUPATEN LAMONGAN ROSITA, INO; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 7 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKecamatan Babat merupakan kecamatan terbesar kedua di Kabupaten Lamongan setelah Kecamatan Lamongan, melihat potensi yang dimiliki oleh Kecamatan Babat yang menjadi jalur pusat yang strategis dalam perdagangan dan jasa di Kabupaten Lamongan dan juga perkembangan jumlah penduduk, industri dan perkembangan fasilitas sosial dan fasilitas ekonomi di Kecamatan Babat terus mengalami peningkatan pastinya memiliki dampak yang sangat besar bagi perkembangan wilayah khusnya pada desa yang menjadi pusat perdagangan dan jasa di wilayah Kecamatan BabatPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah pada setiap desa di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan yang diklasifikasikan menjadi tiga yaitu tingkat perkembangan wilayah rendah, sedang dan tinggi, setelah mengetahui tingkat perkembangan wilayah pada setiap desa maka akan diketahui arah perkembangan wilayah yang tergolong desa dengan tingkat perkembangan wilayah tinggi yang menandakan bahwa perkembanagan wilayah maju dan di Analisis melui citra multitemporal google earth dan disertai dengan data sekunder. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif mengenai tingkat perkembangan wilayah, dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan keruangan unit analisisnya adalah seluruh desa di Kecamatan Babat yaitu 21 desa dan 2 kelurahan.Hasil penelitian ini adalah tingkat perkembangan wilayah pada setiap desa di Kecamatan Babat hanya terdapat pada satu desa yang memiliki perkembangan wilayah tinggi menandakan wilayah dengan perkembangan yang maju, terdapat satu desa yang memiliki perkembangan wilayah sedang menandakan wilayah yang sedang berkembang, dan 21 desa yang tergolong perkembangan wilayah rendah menandakan wilayah tertinggal. Disimpulkan bahwa arah perkembangan wilayah di Kecamatan Babat mengarah kearah barat yang terdapat pada satu desa memiliki tingkat perkembangan wilayah yang tinggi yaitu terdapat pada Kelurahan Babat dan perkembangan wilayah di Kecamatan Babat cenderung tidak merata karena hanya memusat pada satu desa.Kata kunci: Tingkat Perkembangan Wilayah, Arah Perkembangan Wilayah.
STUDI KOMPARASI POTENSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DI DESA WISATA PETUNG ULUNG DENGAN KWEDEN DALAM UPAYA PENGEMBANGAN SEBAGAI PERWUJUDAN DESA WISATA DI KABUPATEN NGANJUK NUR LAILI, ARUM; MURTINI, SRI
Swara Bhumi Vol 5, No 7 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDesa wisata merupakan wujud pembangunan pariwisata daerah yang sedang populer saat ini, Desa Wisata Petung Ulung dan Desa Wisata Kweden memiliki tingkat persaingan yang tinggi, karena sama-sama mengusung wisata alam sungai, persawahan dan perkebunan dipadukan dengan wisata outbond seperti Tubbing dan Flying Fox, serta penyediaan fasilitas seperti kolam pemancingan, café dan Photobooth. Kweden memiliki tingkat kunjungan lebih banyak daripada Petung Ulung, dalam mempertahankan eksistensi dari kedua desa wisata tersebut perlu dibandingkan untuk mengetahui kondisi masing-masing desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Membandingkan potensi desa wisata 2) Membandingkan partisipasi desa wisata 3) Membandingkan upaya pengembangan desa wisata.Jenis penelitian ini merupakan penelitian survey dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, kuesioner dan dokumentasi. Teknik penentuan sampel digunakan cara purposive sampling untuk responden masyarakat dengan jumlah 65 responden dari Desa Wisata Kweden dan 56 dari Desa Wisata Petung Ulung untuk mencari data partisipasi masyarakat, sedangkan untuk mengukur potensi dilakukan secara observasi dilakukan peneliti dan kuesioner pada wisatawan berjumlah 48 responden tiap desa wisata dengan cara accidental random sampling. Penelitian ini menggunakan teknik skoring, skala likert dan analisis deskriptif.Hasil Penelitian menunjukkan adanya 1) Perbandingan potensi Desa Wisata Kweden memperoleh skor 20, termasuk kategori dengan potensi yang sangat tinggi, sedangkan Desa Wisata Petung Ulung termasuk kategori potensi sedang dengan skor 15, hal tersebut berpengaruh terhadap jumlah wisatawan. 2) Partisipasi masyarakat sekitar Desa Wisata Petung Ulung lebih tinggi daripada Kweden dengan 73% dibanding 70%, akan tetapi partisipasi tidak berpengaruh terhadap jumlah wisatawan 3) Upaya pengembangan di Desa Wisata Petung Ulung dengan Kweden sama-sama sudah selaras dengan komponen pengembangan desa wisata dan masuk kategori pengembangan desa wisata maju. akan tetapi pengembangan Desa Wisata Kweden lebih baik pada aspek pengembangan daya tarik, aksesibilitas, fasilitas umum dan fasilitas wisata, pemasaran dan promosi yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan.Kata Kunci : Potensi, Partisipasi, Upaya Pengembangan, Desa Wisata
KAJIAN TENTANG POTENSI OBJEK WISATA WADUK PACAL DAN TIRTA WANA DANDER DI KABUPATEN BOJONEGORO ANDARA FIRDAYANTI, PRISKA; SUTEDJO, AGUS
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKabupaten Bojonegoro merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Timur yang mempunyai beberapa objek wisata potensial untuk dikembangkan. Objek wisata yang berpotensi untuk dikembangkan adalah wisata alam seperti Waduk Pacal dan Tirta Wana Dander. Kedua objek wisata tersebut merupakan daerah tujuan wisata utama dengan menawarkan keindahan alamnya, namun jumlah pengunjung yang datang di kedua objek wisata tersebut menunjukkan perbedaan yang sangat jauh berbeda dan banyak dari masyarakatnya sendiri kurang mengetahui potensi apa saja yang ada di daerahnya. Potensi pariwisata merupakan hal terpenting dalam hal kepariwisataan yang dapat menentukan jumlah wisatawan yang berkunjung ke objek wisata tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan potensi wisata dan promosi yang dilakukan di Waduk Pacal dan Tirta Wana Dander sehingga menyebabkan perbedaan jumlah pengunjung dari kedua obyek wisata tersebut.Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan di Waduk Pacal dan Tirta Wana Dander. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengunjung Waduk Pacal dan Tirta Wana Dander serta pengelola kedua objek wisata tersebut. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden dengan masing-masing 50 responden pada tiap objek wisata menggunakan teknik accidental sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada hari kerja (Senin dan Jumat) dan pada hari libur (Sabtu dan Minggu). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi kemudian analisis data diperoleh dari teknik skoring dengan menggunakan skala Likert.Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi di Tirta Wana Dander lebih tinggi daripada di Waduk Pacal. Objek wisata Tirta Wana Dander lebih unggul dari segi aksesibilitas, atraksi dan fasilitas penunjang sehingga berdampak pada jumlah wisatawan yang datang. Promosi di Tirta Wana Dander lebih baik daripada promosi di Waduk Pacal. Promosi pada kedua objek wisata ini termasuk dalam kategori sangat baik, namun objek wisata Tirta Wana Dander lebih unggul karena skornya lebih banyak. Tirta Wana Dander lebih unggul dalam hal jenis media promosi yang menggunakan 10 jenis media sedangkan di Waduk Pacal menggunakan 5 jenis media promosi sehingga dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Potensi dan promosi di Tirta Wana Dander lebih baik ini mengakibatkan wisatawan yang berkunjung di Tirta Wana Dander lebih banyak daripada di Waduk Pacal.Kata kunci : akesibilitas, atraksi, fasilitas, promosi, perbedaan jumlah pengunjung
KESUBURAN TANAH BEKAS GALIAN TAMBANG UNTUK TANAMAN PADI DI DESA KARANGLO KECAMATAN MOJOWARNO KABUPATEN JOMBANG KUMALA SARI, INDAH; , RINDAWATI
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMasyarakat di Desa Karanglo Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang sebagian besar bermatapencaharian sebagai pembuat genteng pres. Industri genteng dilakukan secara turun temurun. Bahan baku utama yang digunakan untuk membut genteng pres adalah tanah liat berkualitas bagus agar genteng yang dihasilkan juga berkualitas, jadi masyarakat mengambil bahan baku di sekitar desa. Penggalian sawah yang dilakukan secara terus menerus menyebabkan berkurangnya lahan produktifitas dan hilangnya lapisan top soil sehingga hasil produksi pertanian mengalami penurunan karena hilangnya kesuburan tanah, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesuburan tanah bekas galian tambang di Desa Karanglo Kecamatan Mojowarno Kabupeten Jombang dan upaya yang dilakukan pemilik sawah untuk memperbaiki kesuburan tanah sawah di Desa Karanglo Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang.Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Karanglo Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Sampling Jenuh (Sensus) yaitu sebanyak 36 penduduk. Teknik pengumpulan data melalui observasi, uji laboratorium, dan wawancara. Teknis analisis data menggunakan metode komparasi dan analisis deskriptif.Hasil uji laboratorium diketahui bahwa unsur hara nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) pada > 3 tahun diaktifkannya kembali lahan pertanian setelah diadakan penggalian tanah sawah sebesar 0,20 Nitrogen, 0,05 Fosfor dan 0,24 Kalium. Dua tahun diaktifkannya kembali lahan pertanian setelah diadakan penggalian tanah sawah sebesar 0,15 Nitrogen, 0,05 Fosfor, 0,25 Kalium. Satu tahun diaktifkannya kembali lahan pertanian setelah diadakan penggalian tanah sawah sebesar 0,21 Nitrogen, 0,04 Fosfor, 0,18 Kalium. Upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengembalikan kesuburan tanah yaitu dengan pemberian pupuk organik maupun pestisida.Kata kunci: Kesuburan Tanah sawah, Tanah sawah bekas galian, Uji Laboratorium
DAMPAK INDUSTRI SARANG BURUNG WALET TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI DUSUN TUNGGUN DESA TUNGGUNJAGIR KECAMATAN MANTUP KABUPATEN LAMONGAN SAS BUDIARTA, SIGMI; , MURTEDJO
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakIndustri Sarang Burung Walet PT.Perdana Jaya merupakan satu-satunya industri yang cukup besar dalam pengelolaan sarang Burung Walet di Desa Tunggunjagir Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan. Industri Sarang Burung Walet berlokasi di Kecamatan Mantup yang merupakan daerah dengan hutan yang luas dimana menjadi habitat dari Burung Walet atau Swallow Bird?s.Adanya industri Burung Walet ini berdampak pada kehidupan masyarakat di Desa Tanggunjagir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak yang terjadi pada keadaan sosial ekonomi masyarakat Desa Tanggunjagir dengan menggunakan teori Talcot Parsons, William Ogburn dan Neil Smelser.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Lokasi penelitian ini adalah Desa Tanggunjagir Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, analisis data dilakukan melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dampak industri sarang burung walet di Dusun Tunggun Desa Tanggunjagir memberikan dampak positif dan negatif terhadap masyarakat. Dari segi ekonomi industri sarang burung walet memberikan kontribusi terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Namun di sisi lain terjadi suatu perubahan sosial seperti merenggangnya hubungan sosial dan lunturnya nilai-nilai sosial dalam masyarakat yang disebabkan oleh adanya industri sarang burung walet di Desa Tunggunjagir.Kata kunci: dampak industri, sarang burung walet, perubahan sosial, perubahan ekonomi.
PENGEMBANGAN MEDIA PALUDARIUM PADA MATERI EKOSISTEM HUTAN HUJAN TROPIS MATA KULIAH EKOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA AHMED PATRIA UMMA, ZIAH; PERDANA PRASETYA, SUKMA
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pembelajaran geografi hendaknya didukung dengan media pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa. Seorang guru geografi harus mampu memberikan gambaran atau situasi secara nyata, representatif, dan realistik atas materi geografi yang diajarkan. Pembelajaran geografi yang menggunakan media sebagai sumber belajar maupun alat bantu dalam proses komunikasi, diharapkan kegiatan pembelajaran lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengembangkan media pembelajaran paludarium yang layak digunakan dalam pembelajaran geografi mata kuliah ekologi pada materi ekosistem hutan hujan tropis Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Surabaya 2) Untuk mengetahui respon mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Surabaya terhadap penggunaan media paludarium.Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (R&D) dengan menggunakan model ADDIE, meliputi tahap analisis (Analysis), perancangan (Design), pengembangan (Development), penerapan (Implementation), dan penilaian (Evaluation). Tingkat kelayakan media didasarkan atas penilaian dari ahli media pembelajaran dan materi menggunakan lembar validasi ahli media dan ahli materi. Pengumpulan data respon mahasiswa menggunakan lembar angket respon siswa. Teknik analisis data kelayakan media menggunakan skala likert 4 kategori diadopsi dari Mardapi. Respon mahasiswa dianalisis menggunakan skala likert 5 kategori yang diadopsi dari Sugiyono.Hasil penelitian menyatakan bahwa media paludarium mendapat penilaian kelayakan oleh ahli media pembelajaran dengan rerata nilai 3,75 dan dari ahli materi mendapat 3,80. Berdasarkan skala Likert keduanya termasuk dalam kategori ?sangat layak?. Para mahasiswa memberikan respon ?sangat baik? terhadap media paludarium pada materi ekosistem hutan hujan tropis dengan rerata sebesar 87,64 %.Kata kunci: Media Pembelajaran, Paludarium, Ekosistem, Bioma hutan hujan tropis.
KAJIAN PENGELOLAN INDUSTRI BATU GAMPING DI KECAMATAN PUGER KABUPATEN JEMBER BAGUS JUNIANTO, ADI; , SULISTINAH
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKecamatan Puger merupakan daerah pusat Industri Batu Gamping yang berada di Kabupaten Jember dengan total jumlah 101 Industri tersebar di 3 Desa yakni, Desa Puger Kulon, Desa Grenden, dan Desa Kasiyan. Produktivitas hasil pegolahan gamping pada Industri Batu Gamping di Kecamatan Puger termasuk dalam kategori yang memiliki nilai Produktivitas diatas 100%, perbedaan Produktivitas Industri Batu Gamping pada masing masing Desa memiliki perbedaan yang signifikan. Industri Batu Gamping mempengaruhi perekonomian masyarakat Puger bahkan masyarakat di luar Kecamatan Puger juga meningkat, karena tersedianya lapangan pekerjaan baru. Dampak negatif yang ditimbulkan akibat adanya Industri ini juga banyak seperti masalah Kesehatan, pendidikan yang dibawah standart, bahkan konflik sosial.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Data yang diperoleh dari kuesioner, wawancara, observasi maupun dokumentasi diolah untuk menjawab permasalahan yang ada. Sampel 25 Industi pada Desa Puger Kulon, 15 sample pada Desa Grenden dan 10 sample pada Desa Kasiyan.Hasil penelitian menujukan Kondisi Industri Batu Gamping di Kecamatan Puger termasuk memiliki Produktivitas yang tinggi hasil penelitian menunjukan produktivitas yang mencapai 140% pada Desa Puger Kulon, Desa Grenden 125%, sedangkan Desa Kasiyan 115%. Upah dari buruh Industri Batu Gamping di Kecamatan Puger termasuk dalam kategori Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jember yang berada dalam nilai Rp. 1.625.000,- . rata-rata gaji buruh Industri Batu Gamping berkisar antara Rp.1.700.000,- sampai dengan Rp. 2.000.000,-. Ini tentu merupakan hal positif bagi buruh Industri Batu Gamping di Kecamatan Puger. Limbah yang dihasilkan oleh Industri Batu Gamping yang paling dikeluhkan ialah limbah hasil Pembakaran yakni Debu, selain dapat menyebabkan sakit mata debu hasil pembakaran juga mengakibatkan penyakit organ dalam khususnya paru-paru.Kata Kunci :Produtivitas, Industri, Kondisi Sosial
EKSISTENSI INDUSTRI BATU BATA MERAH DI DESA LEDOK KULON KECAMATAN BOJONEGORO KABUPATEN BOJONEGORO RIZQIA RAHMAWATI S, FITAH; , RINDAWATI
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDesa Ledok Kulon adalah salah satu sentra industri batu bata merah di Kabupaten Bojonegoro yang tetap eksis sampai sekarang meskipun ada pesaing baru batu bata putih yang harganya lebih murah berdasarkan hal tersebut diatas penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi industri batu bata merah di Desa Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro, strategi bertahan industri batu bata merah serta pola pemasaran industri batu bata merah di Desa Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro.Jenis penelitian ini adalah survei, Populasi dari penelitian ini adalah seluruh industri batu bata merah di Desa Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro yaitu sebanyak 75 pengrajin industri batu bata merah, karena jumlah populasi kurang dari 100 yaitu 75 pengrajin maka keseluruhan populasi dijadikan sebagai sampel penelitian, teknik pengambilan sampel dengan menggunakan proporsional random sampling, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, angket/kuosioner, dokumentasi, teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif prosentase.Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor-foktor eksistensi industri batu bata merah adalah : a) bahan baku mudah di dapat b) tenaga kerja berasal dari dalam kecamatan c) modal sebagaian besar berasal dari modal pribadi d) pemasaran dijual di luar wilayah, untuk startegi bertahan industri batu bata dengan cara meminjam modal kepada bank atau tetangga sekitar dan membuat inovasi baru batu bata merah, pola pemasaran industri batu bata merah dengan teknik pemasaran dijual langsung ke konsumen sebesar 73,33%. Jangkauan pemasaran batu bata merah di luar wilayah sebesar 68% .Kata kunci: Eksistensi industri, Pola Pemasaran