cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB BERALIHNYA PEKERJAAN PADA MASYARAKAT DI SEKITAR OBYEK WISATA AIR PANAS PADUSAN KECAMATAN PACET KABUPATEN MOJOKERTO VIVI JAYANTI, ERIKA; MURTINI, SRI
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan obyek wisata Air Panas Padusan berpotensi membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat desa Padusan dalam mencari keuntungan di sekitar obyek wisata Air Panas Padusan. Penduduk desa Padusan banyak yang beralih pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor wisata.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat desa Padusan beralih pekerjaan. Faktor-faktor tersebut meliputi pendapatan, tingkat kebutuhan, lingkungan sosial budaya, motivasi dan kesempatan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di Desa Padusan Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto. Subyek penelitian adalah masyarakat yang beralih pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor wisata. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara,observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan tiga tahapan, yaitu : reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Pengujian keabsahan data ada 4, yaitu : kreadibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian diperoleh dari 13 informan secara acak menunjukkan bahwa penduduk yang sebelumnya mayoritas sebagai buruh tani, petani, kuli bangunan, dan buruh rumah tangga saat ini banyak yang beralih pekerjaan menjadi pedagang, tukang sewa kuda dan makelar villa di sekitar obyek wisata. Pendapatan dan tingkat kebutuhan hidup yang tinggi di sektor wisata jika dibandingkan dengan pendapatan di sektor pertanian menjadi salah satu faktor yang yang mempengaruhi masyarakat beralih pekerjaan. Lingkungan sosial budaya yang dimulai dengan adanya interaksi yang intensif melalui keluarga, teman, tetangga serta tingginya motivasi masyarakat untuk mencari pekerjaan yang lebih baik juga menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan masyarakat beralih pekerjaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi beralihnya pekerjaan masyarakat desa Padusan ke sektor wisata diperoleh bahwa masyarakat yang beralih pekerjaan sebanyak 22,2 % dari jumlah penduduk yang bekerja.Kata Kunci: perubahan pekerjaan, sektor pertanian, sektor wisata
KAJIAN SOSIAL DAN EKONOMI KELUARGA MISKIN DI DESA KARANGPAKIS DAN DESA MANDURO KECAMATAN KABUH KABUPATEN JOMBANG ISMANINGSIH, WINDA; SRI UTAMI, WIWIK
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKesejahteraan merupakan tujuan dari pembangunan nasional. Permasalahan peningkatan kesejahteraan masyarakat masih belum dapat diatasi secara tuntas dan merata di Indonesia. Kondisi ini tercermin pula pada tingginya angka keluarga miskin di Kecamatan Kabupaten yang ada tahun 2016 memiliki angka keluarga miskin tertinggi di Kabupaten Jombang yaitu sebesar 47,72% dengan jumlah 6.775 kepala keluarga. dengan jumlah 6.775 kepala keluarga. Kondisi topografi Kecamatan Kabuh memiliki 2 jenis topografi. Topografi datar dan landai di sebelah selatan dan topografi berbukit di sebelah utara akibat terletak di daerah pegunungan kapur (Pegunungan Kendeng). Mewakili topografi datar yaitu Desa Karangpakis dan untuk mewakili topografi berbukit yaitu Desa Manduro. Penelitian ini bertujuan: 1) untuk mengetahui kondisi sosial masyarakat di Desa Karangpakis dan Desa Manduro Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang 2) untuk mengetahui kondisi ekonomi masyarakat di Desa Karangpakis dan Desa Manduro Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang 3) untuk mengetahui faktor yang menyebabkan perbedaan kemiskinan di Desa Karangpakis dan Desa Manduro Kecamatan Kabuh Kabupaten JombangJenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei, sebagai populasi seluruh kepala keluarga miskin di Desa Karangpakis dan Desa Manduro adalah sebanyak 1131 kepala keluarga sampel penelitian ini berjumlah100 kepala keluarga dengan rincian 42 kepala keluarga dari Desa Karangpakis dan 58 kepala keluarga dari Desa Manduro yang ditentukan menggunakan random sampling atau secara acak. Tehnik pengumpulan data yaitu melalui dokumentasi dan wawancara. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) kondisi Desa Karangpakis dan Desa Manduro sebagai berikut: pendidikan mayoritas di kedua Desa tersebut tidak bersekolah, di Desa Manduro masyarakat yang tidak bersekolah lebih tinggi sebanyak 67,24% dibanding Desa Karangpakis sebanyak 23,81% jenis pekerjaan mayoritas di kedua Desa tersebut sebagai buruh tani, di Desa Manduro lebih tinggi sebanyak 72,41% dibanding Desa Karangpakis sebanyak 71,43%, beban tanggungan mayoritas di kedua desa tersebut berjumlah empat orang (tiga anak satu istri), di Desa Manduro lebih tinggi sebanyak 28,58% dibandingkan dengan Desa Karangpakis sebanyak 18, 97%, dan usia kepala keluarga mayoritas di kedua Desa tersebut 65-69 tahun, di Desa Manduro lebih tinggi sebanyak 17,24% dibandingkan dengan Desa Karangpakis sebanyak 16,67%. 2) Kondisi ekonomi Desa Karangpakis dan Desa Manduro sebagai berikut: pendapatan kepala keluarga mayoritas di kedua desa tersebut Rp.500.000-Rp.599.999, di Desa Manduro lebih tinggi sebanyak 62,07% dibandingan dengan Desa Karangpakis sebanyak 42,86%, pengeluaran keluarga mayoritas di kedua desa tersebut Rp.500.000-Rp.599.999, di Desa Manduro lebih tinggi sebanyak 44,82% dibandingkan dengan Desa Karangpakis sebanyak 42,86%. 3) Faktor yang menyebabkan perbedaan kemiskinan di Desa Karangpakis dan Desa Manduro adalah faktor sosial. Mayoritas di kedua desa tersebut tidak bersekolah, jenis pekerjaannya pun sebagai buruh tani, beban tanggungan mayoritas 4 orang.Kata kunci: Keluarga Miskin, Faktor Sosial, Faktor Ekonomi
PENGARUH PERKEMBANGAN WILAYAH TERHADAP HARGA LAHAN DI DESA KEDANYANG KECAMATAN KEBOMAS KABUPATEN GRESIK TAHUN 2013, 2015, DAN 2017 LIA KURNIAWATI, DWI; HARIYANTO, BAMBANG
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPertumbuhan penduduk di Desa Kedanyang Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 yakni sebanyak 102.851 jiwa semakin meningkat pada tahun 2017 menjadi 105.656 jiwa. Kebutuhan penduduk akan tempat tinggal juga akan bertambah sehingga terjadinya pembangunan perumahan yang semakin luas. Jumlah petani yang semakin menurun pada tahun 2013 sampai 2017 dari 556 jiwa menjadi 547 jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perkembangan terhadap harga lahan di Desa Kedanyang Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik tahun 2013, 2015, dan 2017.Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif kuantitaif dengan metode survei yang menggunakan analisis keruangan yakni perbandingan dari tahun 2013, 2015, dan 2017. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Sampling Jenuh (Sensus) yakni keseluruhan dari populasi. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis perubahan luas lahan terbangun dan tidak terbangun menggunakan teknik overlay. Teknik analisis kondisi ekonomi dan harga lahan responden menggunakan hasil jawaban responden melalui kuesioner.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan wilayah berpengaruh terhadap harga lahan di Desa Kedanyang Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik. Perkembangan lahan tersebut terbukti menggunakan analisis citra google earth. Luas lahan dengan perubahan paling tinggi adalah perumahan tahun 2013 - 2015 bertambah 72298 m². Tahun 2015 - 2017 bertambah menjadi 135838 m². Perubahan penggunaan lahan mempengaruhi kondisi ekonomi responden yakni mata pencaharian dimana tahun 2017 angka responden yang tidak bekerja paling tinggi ialah 24.32%. Persentase tersebut, berkaitan dengan pendapatan terendah paling banyak yakni 35.14%. Perubahan penggunaan lahan juga mempengaruhi harga lahan di Desa Kedanyang dari tahun 2013, 2015, dan 2017 yang semakin meningkat. Berdasarkan penelitian, responden yang menjual lahan di Desa Kedanyang, dapat diketahui bahwa harga lahan tertinggi adalah tahun 2017 dengan harga Rp 960.000,-/m² dan dekat dengan jalan utama. Status lahan yang dekat dengan jalan kolektor semakin mahal karena sarana dan prasarana yang sangat memadai serta aksesbilitasnya yang mudah.Kata kunci: Perubahan, Penggunaan Lahan, Kondisi Ekonomi, Harga Lahan
PRIORITAS UTAMA PENGEMBANGAN OBJEK WISATA BUATAN DI KECAMATAN NGANCAR KABUPATEN KEDIRI DENGAN PENDEKATAN AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) DWI PRASETYOWATI, RIMA; MURTINI, SRI
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKampoeng Anggrek, Taman Agro Margomulyo, Kampung Durian dan Petik Nanas Madu merupakan wisatabaru jenis agrowisata yang berada di sekitar lereng Gunung Kelud tepatnya di Kecamatan Ngancar. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui alternatif utama objek wisata yang akan dikembangkan di Kecamatan Ngancar olehPemerintah Kabupaten Kediri, agar mampu menjadi wisata pendukung keberadaan Gunung Kelud yang eksistensinyasemakin menurun di kalangan masyarakat.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan operasi matematis, dilihat dari kriteria :Atraksi, Aksesibilitas, Sarana dan Prasarana, Promosi, Peluang Kerja dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat. Teknikpengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan kuisioner. Analisis datanya menggunakan teknikanalisis data AHP (Analytical Hierarchy Process) dengan progam Expert Choice.Hasil perhitungan menunjukkan kriteria dengan persentase tertinggi adalah atraksi (52,1%) dan alternatiftertinggi adalah objek wisata Kampoeng Anggrek (38%). Hal ini sangat relevan apabila wisata Kampoeng Anggrekmenjadi urutan pertama yang akan dilakukan pengembangan, karena fokus pemerintah sekarang adalahmengembalikan citra objek wisata Gunung Kelud pasca bencana gunung meletus. Keempat objek wisata baru tersebutyang siap menjadi objek wisata pendukung keberadaan Gunung Kelud ialah Kampoeng Anggrek. Daya tarikKampoeng Anggrek cukup baik tetapi perlu penambahan atraksi seperti wisata edukasi dapat dijadikan pertimbanganagar mampu meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata tersebut.Kata Kunci : Potensi, Agrowisata, AHP.
KAJIAN SOSIAL EKONOMI PENAMBANG BATU KAPUR DI KECAMATAN PALANG KABUPATEN TUBAN (STUDI KASUS TENTANG PERUBAHAN DARI BURUH TANI KE PENAMBANG BATU KAPUR) RIFAI, AHMAD; , MURTEDJO
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKecamatan Palang merupakan daerah perbukitan kapur kendeng utara dengan jumlah sumber daya batu kapur sebesar 331.757.428 ton, dengan adanya sumberdaya batu kapur yang melimpah, membuat pertambangan batu kapur untuk membuat batu kumbung sejenis batu bata putih berkembang pesat, dalam 20 tahun terakhir masyarakat sekitar yang awalnya buruh tani beralih pekerjaan menjadi penambang batu kapur. Beralihnya buruh tani menjadi penambang batu kapur menjadi fenomena menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kondisi sosial ekonomi penambang batu kapur di Kecamatan Palang setelah beralih pekerjaan dari buruh tani.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penentuan informan menggunakan teknik bola salju. Analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, sedangkan untuk keabsahan data menggunakan uji kredibilitas.Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat beralih pekerjaan dari buruh tani menjadi penambang batu kapur karena bertambahnya jam kerja, yang awalnya jam kerja tidak menentu menjadi pasti, yaitu tujuh jam setiap hari dan enam hari kerja dalam satu minggu, sehingga kondisi sosial ekonomi masyarakat mengalami perubahan, antara lain : pendapatan masyarakat mengalami peningkatan cukup signifikan, dari Rp 60.000,00/hari menjadi Rp 80.000,00/hari dan dalam satu bulan mendapatkan pendapatan Rp 2.080.000,00/bulan, pemenuhan kebutuhan keluarga menjadi tercukupi karena memiliki pendapatan pasti, pendidikan anak semakin diperhatikan dan mengalami meningkatan, hubungan sosial lebih intensif karena sering bertemu di tempat kerja, kedudukan dalam masyarakat tetap menjadi masyarakat biasa hanya berubah status pekerjaannya, keadaan tempat tinggal mengalami perubahan dari rumah berdinding anyaman bambu menjadi rumah berdinding batu bata.Kata kunci: perubahan pekerjaan, penambang batu kapur, buruh tani, sosial ekonomi
KAJIAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA KAMPUNG ASI DI KECAMATAN KERTOSONO KABUPATEN NAGNJUK SETYA AGUSTIN, HANIM; MARDIANI ZAIN, ITA
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPemberian ASI eksklusif di Desa Kudu tahun 2015 sampai tahun 2017 mengalami peningkatan. Pencapaian pemberian ASI eksklusif di Desa Kudu tahun 2017 hanya 38,89%, namun pencapaian pemberian ASI ekskusif tersebut belum mencapai target pemerintah yaitu 80%. Pencapaian pemberian ASI eksklusif yang tidak sampai target itulah yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui faktor usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, perilaku terhadap pemberian ASI eksklusif dan faktor apa saja yang paling berpengaruh.Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif kuantatif. Rancangan penelitian menggunakan cross sectional. Pengambilan sampel dengan simple random sampling. Populasi 140 ibu melahirkan tahun 2015 sampai agustus 2017 dengan sampel 104 responden. Teknik pengumpulan data dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan Chi-Square dan Regresi Logistik Berganda.Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap dan perilaku berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif dengan sig. pengetahuan p<0,05 (0,001<0,05), sikap p<0,05 (0,000<0,05) dan perilaku p<0,05 (0,000<0,05). Hasil uji Regresi Logistik Berganda yang paling berpengaruh adalah perilaku (p sig.=0,000). Nilai Odd Ratio (OR) yaitu 0,003, berarti responden yang memiliki perilaku di bawah rata-rata (kurang) kemungkian diberi ASI eksklusif sebesar 0,003 kali lebih besar dibandingkan dengan perilaku di atas rata-rata (lebih).Kata kunci: ASI esklusif,pengetahuan,sikap,perilaku.
PENGARUH USAHA TAMBAK UDANG TERHADAP SERAPAN TENAGA KERJA DI KECAMATAN MADURAN KABUPATEN LAMONGAN ROZAQ KHOIRI, ABD.; HARIYANTO, BAMBANG
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Wilayah Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan mempunyai lahan yang digunakan oleh masyarakat sebagai tambak udang, dalam proses usaha tambak udang memiliki tahapan-tahapan yang dilakukan yaitu dimulai dari persiapan lahan, pengisian air kedalam tambak, penebaran benih, penjagaan kualitas air, pemberian makanan, dan yang terakhir adalah pemanenan. Proses usaha tambak udang tersebut pemilik usaha tambak udang tidak bisa melakukan pekerjaan itu sendiri melainkan membutuhkan bantuan tenaga kerja dari masyarakat sekitar sehingga muncul adanya serapan tenaga kerja dari usaha tambak udang yang menjadikan serapan tenaga kerja sebagai fokus penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh usaha tambak udang terhadap serapan tenaga kerja di Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Kanugrahan dan Desa Turi Banjaran Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan. Populasi petambak pada tiga desa tersebut adalah 120 petambak udang. Pengambilan sampel menggunakan metode random sampling. Peneliti megambil sampel 55 petambak udang. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik perumusan sederhana dengan mendeskripsikan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan serapan tenaga kerja usaha tambak udang di Desa Kanugrahan dan Desa Turi Banjaran didominasi oleh tenaga kerja non keluarga dari luar desa. Presentase Desa Kanugrahan untuk tenaga kerja non keluarga di luar desa sebesar 2,37%, tenaga kerja non keluarga dalam desa 1,35%. Desa Turi Banjaran presentase tenaga kerja non keluarga di luar desa sebesar 2,16%, tenaga kerja non keluarga dalam desa 1,68%. Hasil penelitian rata-rata luas lahan pemilik tambak udang 1-2 ha (44%), banyak panen dalam satu tahun 3 kali (75%), pendapatan dalam satu kali panen Rp11.000.000-Rp20.000.000 (50%), dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin besar usaha tambak udang, maka akan semakin besar serapan tenaga kerja sehingga diharapkan bagi pemilik tambak yang telah memiliki modal yang lebih sebaiknya melakukan perluasan lahan tambak agar serapan tenaga kerja lebih banyak. Kata Kunci : serapan tenaga kerja, usaha tambak udang
KAJIAN OBJEK WISATA GUA NGERONG DAN GUA PUTRI ASIH SEBAGAI DESTINASI WISATA DI KABUPATEN TUBAN YULI ANDRIANI, KIKI; MURTINI, SRI
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakObjek wisata Gua Ngerong dan Gua Putri Asih merupakan objek wisata alam yang berada di Kabupaten Tuban. Objek wisata Gua Ngerong dan Gua Putri Asih memiliki keindahan alam yang dapat menarik wisatawan untuk datang, namun objek wisata ini masih didominasi oleh pengunjung dari Kabupaten Tuban, terlihat dari 100 orang responden yang berkunjung ke Gua Ngerong dan Gua Putri Asih, memiliki frekuensi 36% wisatawan Gua Ngerong yang berasal dari Kabupaten Tuban sedangkan Gua Putri Asih memiliki frekuensi 48%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan karakteristik objek wisata Gua Ngerong dan Gua Putri Asih, serta pengelolaan kedua objek wisata tersebut, sehingga dapat mengetahui apa yang harus di perbaiki dan diterapkan pada objek wisata Gua Ngerong dan Gua Putri Asih.Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian berada di objek wisata Gua Ngerong dan Gua Putri Asih Kabupaten Tuban. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode Accidental Sampling. Peneliti mengambil sampel 100 orang responden. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik skoring dengan skala likert.Hasil penelitian menunjukkan karakteristik objek wisata Gua Ngerong memiliki aksesibilitas, atraksi, fasilitas pengunjung, dan keindahan alam yang baik, sedangkan karakteristik objek wisata Gua Putri Asih memiliki keindahan alam dan strategi promosi yang sangat baik, aksesibilitas dan atraksi yang baik, dengan fasilitas pengunjung. Pengelolaan Objek Wisata Gua Ngerong sudah cukup baik, di lihat dari sarana-prasarana yang cukup lengkap dengan kondisi yang baik, memiliki strategi promosi yang baik, dan sebagian besar yang di rencanakan pengelola telah terlaksana, kecuali beberapa kegiatan yang terkendala oleh pendanaan. Pengelolaan Gua Putri Asih dirasa kurang maksimal dikarenakan masih banyak sarana-prasarana yang kurang layak, terlihat pada perencanaan perbaikan fasilitas pengunjung yang tidak terlaksana karena terkendala oleh pendanaan, hal ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan, wisatawan tidak nyaman untuk berkunjung di Objek Wisata Gua Ngerong meskipun memiliki keindahan alam serta strategi promosi yang baik.Kata kunci: destinasi wisata, karakteristik objek wisata, pengelola wisata,wisata alam.
KAJIAN KASUS PERUBAHAN STATUS KEPEMILIKAN LAHAN PERTANIAN MASYRAKAT PETANI DI DESA SUMURAGUNG KECAMATAN SUMBERREJO KABUPATEN BOJONEGORO ULFA, MARIYA; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nilai lahan tidak hanya sebagai aset yang dapat diolah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,namun juga sebagai aset yang dapat dijadikan sebagai investasi atau tabungan yang relatif aman dan menguntungkan.Perkembangan zaman menyebabkan tanah mulai diperjual belikan, yang kemudian menimbulkan adanya asaspenawaran dan permintaan. Jumlah penduduk dan permintaan akan lahan yang terus meningkat menyebabkan semakinbanyak kasus perubahan status kepemilikan lahan pertanian di Desa Sumuragung. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan adanya perubahan status kepemilikan lahan pertanian di DesaSumuragung.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian dilakukan diDesa Sumuragung Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro. Subyek dalam penelitian ini adalah petani yangmenjual lahan pertaniannya dengan sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan datamenggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan tiga tahapan,yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan status kepemilikan lahan pertanian di Desa Sumuragungdisebabkan karena semakin maraknya penjualan lahan pertanian, sistem bagi waris yang mengharuskan pembagianlahan kepada ahli waris yang ditinggalkan serta adanya wakaf. Faktor yang mempengaruhi perubahan statuskepemilikan lahan pertanian yaitu lokasi lahan, kesempatan membeli lahan lain, tuntutan ekonomi, kebutuhanpendidikan anak, harga lahan yang semakin meningkat, adat dan pengaruh warga lain. Petani Desa Sumuragungsebagian besar melakukan jual beli tanah secara langsung menurut Undang Undang Pokok Agraria (UUPA). Prosesbalik nama pemilikan tanah atau pengurusan sertifikat tanah sebagian besar petani melalui broker jasa pengurusansertifikat tanah dan balik nama pemilikan tanah.Kata kunci : Perubahan, Kepemilikan Lahan, Lahan Pertanian
ANALISIS KERAWANAN PANGAN KABUPATEN BOJONEGORO APRILIA KARTIKA SARI, FIRDA; HARI PURNOMO, NUGROHO
Swara Bhumi Vol 5, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKetahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya kebutuhan gizi serta pangan bagi penduduk di suatu wilayah. Tidak terpenuhinya pangan suatu wilayah akan menyebabkan berbagai masalah pangan salah satunya kerawanan pangan. Kabupaten Bojonegoro merupakan penyumbang beras terbesar nomor 4 di Provinsi Jawa Timur namun berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) Kabupaten Bojonegoro memiliki tingkat sumber daya manusia yang masih rendah dan menjadi kabupaten termiskin diurutan ke 11. Kondisi ini menunjukkan bahwa Kabupaten Bojonegoro masih memiliki gejala kerawanan pangan. Peneliti tertarik untuk melihat kondisi ketahanan pangan berdasarkan indikator kerawanan pangan kronis.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis yang sama dengan Food Security and Vulnerability Atlas of Indonesia (FSVA) 2009. Analisis ini indikator kerawanan pangan kronis terdiri dari 9 indikator kemudian dimasukan kedalam rumus, hasilnya akan dikelompokkan berdasarkan 6 kategori kerawanan pangan serta dibuat peta ketahanan pangan dengan perhitungan hasil indeks komposit dari setiap indikator.Hasil penelitian ini adalah kondisi ketahanan pangan Kabupaten Bojonegoro terdapat satu kecamatan yang termasuk kategori rawan yaitu Kecamatan Gayam dan satu kecamatan pada kategori agak rawan yaitu Kecamatan Tambakrejo. Pada kategori cukup tahan ada 18 Kecamatan dan yang termasuk kategori tahan ada 8 kecamatan. Hal ini menunjukkan pemenuhan kebutuhan pangan Kabupaten Bojonegoro masih terpenuhi dan tahan pangan namun masih membutuhkan perbaikan pada 2 kecamatan lainnya.Kata Kunci : Ketahanan Pangan, Kerawanan Pangan Kronis, Pemetaan