cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PERAN DOEL ARNOWO DI SURABAYA TAHUN 1945-1952 INDRAWATI, MITA
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

               Doel Arnowo lahir di kota Surabaya pada tanggal 30 oktober 1904. Pada peristiwa 10 November 1945 ini Doel Arnowo merupakan salah satu tokoh ketua KNI Karasidenan Surabaya dan angggota kontak biro dalam memperjuangkan dan mempertahankan kota Surabaya dari sekutu bersama Gubernur Suryo, Residen Soedirman dan Ruslan Abdulgani. Kemudian tahun 1950 Doel Arnowo diangkat menjadi Walikota Surabaya karena dia dipercaya bisa membangun kembali kota Surabaya.                 Penelitian ini akan membahas mengenai (1) Bagaimana peran Doel Arnowo selama tahun 1945 sampai tahun 1949 di Surabaya ; (2) Bagaimana peran Doel Arnowo selama menjadi walikota Surabaya tahun 1950-1952. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu tahap pengumpulan sumber primer dan sekunder. Sumber dalam penelitian ini didapat melalui wawancara dengan para veteran pejuang 45, beserta literatur pendukung lainnya yang didapat juga melalui Arsip  dan majalah. Tahap kedua adalah kritik sumber yaitu kritik intern menemukan data yang menunjukkan peran  Doel Arnowo periode tahun 1945-1952 di Surabaya. Tahap ketiga adalah interpretasi data. Dari berbagai literatur serta wawancara, dapat diperoleh fakta tentang Peran Doel Arnowo dalam peristiwa 10 November 1945 dan selama menjadi walikota di Surabaya sampai tahun 1952 dengan didukung oleh sumber sekunder. Tahap keempat adalah historiografi untuk menuliskan hasil penelitian karya sejarah secara kronologis sesuai dengan tema penelitian.               Hasil penelitian menjelaskan Doel Arnowo yang terlahir dari ayah bernama Arnowo dengan ibu bernama Djahminah. Nama asli Doel Arnowo yaitu Abdoel Adhiem. Doel Arnowo mulai dikenal dikalangan rakyat dan pemuda Surabaya tahun 1925-1927 pada saat Partai Nasional Indonesia dibentuk pada bulan Juli 1927 oleh Ir. Soekarno. Pada jaman Jepang Doel Arnowo bergaubung dalam barisan PUTERA dan tergabung dalam Panitia Angkatan Muda Indonesia serta dapat menangkap dengan mudah berita kekalahan Jepang. Tanggal 28 Agustus 1945 Doel Arnowo terpilih sebagai ketua Komite Nasional Indonesia daerah Surabaya. Sebagai ketua KNI Karasidenan Surabaya Doel Arnowo membentuk badan-badan perjuangan, kepada para bekas anggota PETA, HEIHO, dan lainnya. Doel Arnowo juga membuat pembentukan Badan Penolong Korban Perang (BPKKP) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk daerah Karasidenan Surabaya. Sebagai ketua KNI Karasidenan Doel Arnowo menugaskan kepada anggotanya dalam masalah-masalah ekonomi dan perbekalan logistik. Menugaskan anggota KNI Karasidenan Surabaya untuk mengurus tawanan Jepang yang ditawan di daerah Kalisosok Surabaya sejumlah 6000 orang Jepang. Dalam perundingan kepada pasukan Inggris Doel Arnowo menjadi anggota pengurus kontak biro dan menyiapkan rumahnya untuk tempat perundingan. Doel Arnowo juga menghimpun seluruh unsur kekuatan dikalangan masyarakat Surabaya dalam memberikan penerangan tentang hasil perundingan. Bahwa telah disepakati adanya gencatan senjata serta mengeluarkan suatu pengumuman yang menjelaskan tentang kejadian di sekitar Gedung Internatio. Doel Arnowo juga melakukan konsultasi dengan Presiden Soekarno tentang usaha perdamaian kepada tentara Inggris, bertindak sebagai penasihat Gubernur Suryo yang selalu mendampingi Gubernur Suryo dalam mengambil sebuah keputusan tentang peristiwa pertempuran tanggal 9 November 1945 tersebut dan  membantu menyusun teks pidato yang akan dibacakan oleh Gubernur Suryo untuk ditujukan kepada semua lapisan masyarakat Surabaya. Pada tahun 1947 Doel Arnowo dipilih sebagai wakil gubernur Jawa Timur. Pada akhir Desember 1949 Pemerintahan Kota Surabaya mengalami perubahan.             Doel Arnowo yang masuk kembali ke Kota Surabaya diangkat sebagai walikota tahun 1950 karena dipercaya bisa membangun kembali kota surabaya. Kebijakan Doel Arnowo selama menjadi walikota di Surabaya. Membangun berbagai infratrukstur kota, pembenahan tata ruang kota dengan menerapkan kebijakan tanah partikelir. Meningkatkan pertumbuhan perekonomian dengan menerapkan kebijakan ekonomi benteng. Pengembangan pasar-pasar tradisional di kota Surabaya dan dibangunkannya Monumen Tugu Pahlawan atas ide dari Presiden Soekarno dengan tujuan supaya masyarakat Surabaya memiliki ingatan yang kuat akan kepahlawanan dan perjuangan arek-arek Surabaya pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kata Kunci:  Peran, Doel Arnowo, Surabaya 
STUDI HISTORIS PRASASTI CUNGGRANG SEBAGAI SUMBER SEJARAH PADA MASA MPU SINDOK TAHUN 929-947 M Widiah, Sri
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerajaan Mataram ini ada dua periode yaitu periode Jawa Tengah dan periode Jawa Timur. Mataran Jawa Tengah dipimpin oleh dinasti Sanjaya dan dinasti Syailendra, sedangkan di Jawa Timur dipimpin oleh dinasti Icana. Dinasti Icana didirikan oleh Mpu Sindok yang bergelar Mpu Sindok Sri Icanatunggadewawijaya  telah  memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur yang disebabkan oleh serangan dari kerajaan Melayu dan juga adanya bencana alam yang mengakibatkan pralaya. Berpindahnya pusat pemerintahan membawa dampak sendiri untuk Mpu Sindok yaitu dengan berkuasanya Mpu Sindok di Jawa Timur berarti telah meluasnya wilayah kekuasaan Mataram dan banyak juga peninggalan-peninggalan sejarahnya. Pada masa pemerintahan Mpu Sindok tak banyak peninggalan sejarahnya. Namun, Mpu Sindok meninggalkan benda bersejarah sebuah prasasti sebagi bukti pemerintahannnya. Kebanyakan prasasti Mpu Sindok berisikan sima atau tanah perdikan, salah satunya prasasti Cunggrang. Prasasti Cunggrang yang berada di dusun Sukci desa Bulusari, Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Prasasti ini berisi bahwa Mpu Sindok memerintahkan rakyat Cunggrang dibawah kekuasaan Wahuta Wungkal untuk menjadi sima bagi pertapaan di Pawitra. Penelitian ini memiliki tujuan penelitian (1) Mengidentifikasi wilayah kekuasaan Mpu Sindok berdasasrkan prasasti Cunggrang tahun 929 M; (2) Mengidentifikasi pemerintahan dan birokrasi pada masa Mpu Sindok berdasasrkan prasasti Cunggrang tahun 929 M; (3) Menganalisis peninggalan-peninggalan bersejarah dan peristiwa sejarah Mpu Sindok sesudah prasasti Cunggrang tahun 929 M. Metode yang digunakan menggunakan metode pendekatan sejarah (historical approach) yang meliputi empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prasasti Cunggrang menjadi landasan sebagai sumber sejarah. Prasasti Cunggrang 929 M memiliki artian penting bagi peninggalan sejarah di lereng gunung Penanggungan. Sebab, dalam prasasti ini disebutkan bahwa Mpu Sindok memberikan perintah kepada rakyat Cunggrang untuk menjadi sima bagi Pawitra (Gunung Penanggungan) dan memelihara pathirtan dan prasada juga memperbaiki Pawitra. Yang dimaksudkan sebagai pathirtan adalah candi Belahan sebab candi Belahan berada disebelah barat lokasi prasasti Cunggrang. Selain itu, dari prasasti Cungrrang dapat direkontruksi kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan religi pemerintahan Mpu Sindok dan dapat diteliti kembali peninggalan-peninggalan Mpu Sindok berupa candi, seperti Candi Belahan, candi Gunung Gangsir, candi Jalatunda, candi Lor, dan candi Songgoriti. Kata Kunci : Mataram Kuno Jawa Timur, Prasasti Cunggrang, Mpu Sindok.  
KESENIAN LUDRUK RRI SURABAYA SEBAGAI MEDIA PROPAGANDA PROGRAM PEMERINTAH PADA DEKADE AKHIR PEMERINTAHAN ORDE BARU (1989-1998) MUKTI W, PRASETYO
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ludruk merupakan drama tradisional yang diperankan oleh sebuah grup kesenian dalam sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari. Pertunjukkannya diselingi dagelan dan diiringi gamelan. Pemerintah Orde baru menaruh perhatian lebih pada kegiatan-kegiatan seni pertunjukan ludruk agar kegiatan ludruk dapat dijadikan sebagai alat propaganda untuk mendukung program pemerintah.Salah satu acara ludruk yang cukup popular adalah acara ludruk ludruk RRI Surabaya yang tayang hampir setiap hari dalam seminggu. Acara ludruk RRI Surabaya cukup popular karena untuk menikmati acaranya tidak perlu keluar rumah dan kumpul di suatu panggung cukup mendengarkanya dari siaran radio yang ada di rumah. Dari uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penulisan adalah (1) Bagaimana kondisi sosial dan budaya masyarakat di Surabaya pada dekade akhir pemerintahan orde baru? (2) Bagaimana peran ludruk RRI Surabaya sebagai media propaganda pendukung program pemerintah pada dekade akhir pemerintahan orde baru? (3) Bagaimana hubungan kesenian ludruk RRI Surabaya bagi suksesnya program pemerintah di Surabaya?. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah meliputi (1) Heuristik, pengumpulan data berupa arsip, koran, buku penunjang, jurnal dan wawancara; (2) Kritik terhadap sumber-sumber yang sudah terkumpul; (3) Interpretasi, menganalisis fakta-fakta yang di temukan dan mencari keterkaitan antara fakta-fakta tersebut; (4) Historiografi sesuai dengan dengan judul yang dipilih yaitu Kesenian Ludruk RRI Surabaya Sebagai Media Propaganda Program Pemerintah pada Dekade Akhir Pemerintah Orde Baru (1989-1998). Hasil penelitian menunjukan bahwa pada tahun 1989 sampai tahun 1998, grup Ludruk RRI Surabaya disetiap pementasannya selalu menyebarkan propaganda program pemerintah orde baru. Dalam menyebarkan propaganda, grup Ludruk RRI Surabaya selalu menyisipkannya pada bagian kidungan, dagelan, maupun dalam lakon ludruk seperti lakon ludruk yang bejudul kakean anak. Propaganda-propaganda yang dilakukan grup ludruk RRI Surabaya dianggap dapat menyukseskan program pemerintah di Surabaya dari tahun 1989 sampai tahun 1998 yang terbukti dari pencapaian yang diraih kota Surabaya dalam berbagai program pemerintah, antara lain prestasi dalam program kebersihan kota dengan dimenangkannya piala adipura pada tahun 1993 sampai tahun 1997, program penurunkan buta aksara juga dianggap sukses dengan rata-rata peningkatan anggota perpustakaan kota surabaya sebesar 5,3% setiap tahunnya, program pengaturan lalu lintas kota juga meraih penghargaan wahana tata nugraha dari tahun 1994 sampai tahun 1997, dalam program transmigrasi terjadi angka kenaikan peserta setiap tahunnya dengan rata-rata kenaikan sebesar 4,5%, dalam program keluarga berencana juga terjadi kenaikan jumlah peserta setiap tahunnya dengan rata-rata kenaikan sebesar 6,1%, program tabanas di Surabaya juga sukses dengan rata-rata kenaikan jumlah tabungan masyarakat sebesar 47,25% setiap tahunnya, selain itu dana yang disumbakan masyarakat untuk program pembangunan selalu meningkat setiap tahunnya dengan rata-rata kenaikan 2,7%.   Kata Kunci : Kesenian Ludruk, Propaganda, Orde Baru
AKTIVITAS PERDAGANGAN DELI MAATSCHAPPIJ DI SUMATERA TIMUR TAHUN 1870-1930 Mariana Sinaga, Dian
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Deli Maatschappij merupakan suatu perusahaan  terbesar yang memproduksi salah satu tanaman terlaris di pasaran Eropa (tembakau, kopi, karet dan teh). Peneliti menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari 4 tahapan, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi dalam menjawab rumusan-rumusan masalah: 1) Bagaimana perkembangan aktivitas perdagangan perusahaan Deli Maatschappij di Sumatera Timur tahun 1870-1930? 2) Bagaimana dampak perdagangan perusahaan Deli Maatschappij bagi wilayah Sumatera Timur tahun 1870-1930?. Hasil yang didapat dari hasil penelitian adalah bahwa kawasan Sumatera Timur khususnya Deli memiliki prospek untuk masa yang akan datang dalam penanaman komoditi perdagangan yang bernilai tinggi. Atas inisiatif J. Nienhuys maka dikembangkanlah budidaya tembakau yang dikenal dengan Tembakau Deli. Sebelum adanya komoditi lain (teh, karet, kopi), tembakau lah yang diproduksi oleh perusahaan Deli Maatschappij. Pada awalnya Nienhuys memperoleh konsesi tanah dengan mengontrak 2.800 ha melalui sewa yang murah selama 20 tahun.. Pada tahun 1865 ia berhasil mengajak 2 (dua) orang pedagang Belanda lainnya untuk bergabung yaitu P.W. Jansen dan C. G. Clemen. Pada tanggal 28 Oktober 1869 Jacobus Nienhuys, P.W. Janssen, dan C. G. Clemen, membentuk suatu perseroan terbatas yang dikenal dengan nama Deli Maatschappij dengan P.W. Janssen sebagai direkturnya. Deli Maatschappij adalah perusahaan pertama di Deli atau di Hindia Belanda yang dikembangkan oleh para pedagang, para pemilik perkebunan.Tidak hanya tembakau, Deli Maatschappij juga melakukan penanaman terhadap tanaman bidang pertanian tropik lainnya, seperti kopi tahun 1880-1891, serta teh pada tahun 1924. Setelah krisis tembakau tahun 1901, Deli Maatschappij mengalihkan perhatiannya pada karet dan mempunyai 20.000 hektar perkebunan karet dalam keadaan menghasilkan. Sebelum adanya kereta api, masyarakat mengangkut hasil produksi menggunakan alat yang masih tradisional seperti perahu-perahu yang melalui jalur sungai dan kuda yang barang tersebut akan dinaikkan keatas punggung kudanya. Meningkatnya perekonomian Deli Maatschappij tidak lepas dari sistem kebijakan dari semua pihak dan kerja keras dari para buruh. Pesatnya perkembangan perekonomian mengubah Deli menjadi pusat perdagangan yang mengubah wilayah Sumatera Timur menjadi pusat pemerintahan di wilayah itu. Keadaan itu tentu saja berpengaruh terhadap perkembangan komposisi demografis di wilayah Sumatera Timur. Satu aspek lagi yang menjadi prasarana pendukung pesatnya perkembangan perkebunan adalah munculnya kota-kota di Sumatera Timur. Medan sebagai pusat administrasi pemerintahan dan ekonomi perkebunan telah berkembang dengan cepat. Kata kunci : Sumatera Timur, Deli Maatschappij, Perdagangan
TARI PENTUL MELIKAN KABUPATEN NGAWI SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER RAHMAWATI, YETI; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Pentul Melikan sebagai media pendidikan karakter sangat penting peranannya karena dalam tari Pentul Melikan banyak sekali pesan-pesan moral yang dapat digunakan sebagai media untuk memupuk kepribadian anak agar memiliki sikap dan perilaku yang mulia. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu (1) Apakah pada Tari Pentul Melikan terdapat nilai-nilai karakter untuk penguatan pendidikan karakter. (2) Apakah makna-makna simbolik tari Pentul Melikan dapat menjadi kurikulum penguatan pendidikan karakter. (3) Bagaimana respon masyarakat di Dukuh Melikan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi terhadap tari Pentul Melikan sebagai media pendidikan karakter.Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa (1) Tari Pentul Melikan didalamnya memuat pendidikan karakter yang dapat dilihat dari gerakan tari Pentul Melikan, gamelan, busana dan warna busana tari Pentul Melikan dan topeng Pentul Melikan. Pendidikan karakter tersebut diantaranya adalah keagamaan, toleransi, disiplin, jujur, kerja keras, cinta tanah air, semangat kebangsaan, gotong royong, tanggungjawab. (2) Tari Pentul Melikan pada dasarnya juga dapat dijadikan sebagai kurikulum penguatan karakter anak yang bisa dimasukkan dalam Kompetensi Inti (KI) kedua dalam kurikulum 2013 dan dapat dimasukkan dalam bahan ajar yang dapat diajarkan secara tidak langsung melalui pembiasaan dan keteladanan. (3) Masyarakat Dukuh Melikan sudah memahami dan mengetahui sejak jaman dahulu jika tari Pentul Melikan digunakan sebagai media pendidikan karakter dan diajarkan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.Kata Kunci : Tari Pentul Melikan, Pendidikan Karakter, Respon Masyarakat
WAYANG SULUH MADIUN TAHUN 1947-1965 SISKAWATI, APRILIA; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada zaman revolusi alat penyebar informasi di Indonesia masih minim. Wayang kemudian menjadi salah satu media penyebaran informasi untuk masyarakat Indonesia karena masih ada keterbatasan masyarakat dalam membaca, memiliki, dan berlangganan surat kabar. Masalah tersebut mengakibatkan masyarakat menjadi hidup sengsara dan pendidikan tidak mampu menjangkau masyarakat kecil, sehingga dapat menyulitkan pemerintah dalam menyebar luaskan informasi mengenai program pemerintah. Wayang suluh oleh Pemerintah melalui Departement Penerangan dianggap mampu memberikan informasi untuk menambah wawasan serta pengetahuan kepada masyarakat Indonesia dalam upaya membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan.Permasalahan penelitian ini yaitu, (1) Bagaimana latar belakang tumbuhnya wayang suluh? (2) Bagaimana ciri-ciri dan fungsi wayang suluh? (3) Bagaimana perkembangan wayang suluh di Madiun pada tahun 1947-1965?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah terdiri dari, (1) Heuristik, mencari sumber sejarah sesuai topik yang akan diteliti (2) Kritik, menganalisis sumber untuk mendapatkan fakta sejarah (3) Intepretasi, menganalisis sumber yang sudah dikritik kemudian diintepretasi sesuai dengan tema penelitian (4) Historiografi, penulisan sumber yang sudah terbentuk rekonstruksi peristiwa sejarah.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wayang suluh tumbuh ketika Pemerintah Indonesia berusaha menanamkan kesadaran masyarakat untuk berbangsa dan bertanah air. Usaha tersebut dilakukan akibat serangan dari Belanda terkait peristiwa Agresi Militer Belanda I dan II yang ingin menguasai kembali Indonesia. Selain peristiwa Agresi Militer Belanda I dan II juga ada peristiwa Madiun tahun 1948 yang mengakibatkan kehidupkan masyarakat Indonesia sengsara. Berdasarkan masalah tersebut wayang suluh kemudian dirancang dan diperkenalkan kepada masyarakat Madiun oleh bapak Sukemi sebagai karyawan Departemen Penerangan Madiun. Wayang suluh pertama kali dipertunjukkan tanggal 10 Maret 1947 di Gedung Balai Rakyat Madiun Jawa Timur.Ciri dan fungsi dari wayang suluh Madiun yaitu tokoh wayang suluh Madiun lebih digambarkan seperti wajah asli tokoh perjuangan di Indonesia dan tokoh yang hidup dalam masyarakat. Lakon yang dibawakan dalam wayang suluh Madiun bercerita seputar peristiwa pada masa revolusi dan program pemerintah. Wayang suluh berfungsi sebagai (1) corong pemerintah dalam menyampaikan informasi; (2) menambah wawasan; (3) meningkatkan rasa nasionalisme masyarakat Indonesia.Dalam perkembangannya wayang suluh Madiun tahun 1947-1965 dibagi menjadi 2 periodisasi, yaitu tahun 1947-1949 dan tahun 1950-1965. Periode tahun 1947-1949 tokoh wayang suluh Madiun digambarkan seperti wajah asli tokoh-tokoh perjuangan Indonesia dan tokoh-tokoh Belanda yang berperan dalam penjajahan. Lakon wayang suluh lebih menceritakan peristiwa pada masa revolusi. Waktu dan durasi pentas dengan durasi 3-4 jam atau selama 6 jam yang dilaksanakan sore atau malam hari. Sorot lampu (blencong) masih menggunakan lampu minyak.Periode tahun 1950-1965 tokoh wayang suluh Madiun lebih menggambarkan tokoh-tokoh atau pelaku yang hidup dalam masyarakat. Sedangkan lakon menceritakan program pemerintah, mengangkat permasalahan pembangunan di Indonesia. Waktu pentas dilaksanakan selama 2-3 jam dimulai pada pukul 20.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB. Sedangkan sorot lampu (blencong) sudah menggunakan blencong berupa lampu petromax.Kata Kunci: wayang suluh, ciri dan fungsi, perkembangannya.
BANJIR DI TULUNGAGUNG TAHUN 1955-1986 ISTIENI, NOFI; , NASUTION
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banjir merupakan permasalah umum yang sering terjadi sehingga diperlukan penanganan khusus bagi daerah rawan banjir. Tulungagung adalah salah daerah di Jawa timur yang daerahnya rawan banjir. Letak geografi Tulungagung sebagai dataran rendah menjadi faktor utama terjadinya banjir dan daerahnya yang dilewati oleh aliran Sungai Brantas menjadikan Tulungagung ketika musim penghujan tiba terjadi banjir. Permasalahan yang dibahas dalam penelitin ini yaitu (1) Bagaiaman latar belakang terjadinya banjir di Tulungagung tahun 1955-1986 (2) Wilayah mana saja yang rawan terjadi banjir dan dampak banjir di Tulungagung tahun 1955-1986? (2) Bagaimana penanggulangan banjir di Tulungagung tahun 1955-1986?. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang memiliki beberapa tahap penelitian, diantaranya (1) heuristik (2) kritik (interprestasi dan (4)historiografi.Hasil dari penelitian yang didapat menunjukkan faktor utama penyebab banjir adalah letak geografi dan topografi daerah rawan banjir yang termasuk dataran rendah, untuk faktor lainnya disebabkan oleh letusan gunung kelud yang menyebabkan pendangkalan Sungai Brantas dan adanya tingkat curah hujan yang tinggi. Faktor tersebut saling berkaiatan dan menyebabkan banyak daerah di Tulungagung yang terendam banjir. Daerah kota, Cluwok, dan Waung adalah daerah yang dianggap rutin terjadi banjir. Banjir telah berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Tulungagung, banjir membawa dampak di bidang sosial, ekonomi, dan kesehatan, seperti keresahan petani akan gagal panen, pemukiman warga yang terendam banjir, dan jalur transpotasi menjadi terganggu. Melihat kondisi tersebut, pemerintah dan masyarakat saling berupaya melakukan penangaan masalah banjir dengan membuat tanggul, merehabilitasi terowongan Tulungagung Selatan, dan membuat bendungan.Kata Kunci: Banjir, Tulungagung, Dampak, Penanggulangan
BENTUK KERUKUNAN ANTARA UMAT BERAGAMA DI VIHARA AVALOKITESVARA CANDIH POLAGAN GALIS PAMEKASAN MADURA TAHUN 1959-1962 RAHMAN, ABDUR; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vihara Avalokitesvara yang terdapat di dusun Candih desa Polagan Galis Pamekasan, merupakan tempat peribadatan Umat Budha dalam wajah penampilan cita-cita Pancasilais. Di komleks Vihara terdapat tempat ibadah Mushallah dan pura. Kerukunan tersebut terpancar ke masyarakat Candih. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Vihara Avalokitesvara di sebabkan oleh kerukunan umat agama dan membawa misi pancasilaisRumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar belakang berdirinya Vihara Avalokitesvara Pamekasamn Madura?, (2) Bagaiman bentuk kerukunan antara umat agama Budha dan agama Islam di Vihara Avalokitesvara?, (3) Apa wujud kerjasama Vihara Avalokitesvara di masyarakat Candih Polgan Galis Pamekasan Madura. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalam metode penilitian sejarah meliputi Heuristik, Kritik, Interpretasi dan histeriografi.Hasil penelitian menunjukan bahwa latar belakang berdirinya Vihara Avalokitesvara dengan ditemukannya tiga buah patung di dusun Candih Polagan Galis Pamekasan. Pemberian nama Vihara Avalokitesvara diambil dari nama salah satu Bodhisattava dalam agama Budha. Patung tersebut akan dikirim ke Proppo tepatnya desa Jamburingin. Namun patung-patung tidak sampai ke desa Jamburingin, sehingga di temukan terbenam di dusun Candih. Bentuk kerukunan umat beragama yang terjalin di masyarakat Candih tercermin dari adanya tempat ibadah umat Budha yaitu Vihara Avalokitesvara yang membawa misi Pancasilais. Dalam komplek bangunan Vihara terdapat tempat ibadah ama lain seperti Mushallah dan Pura. Kerukunan masyarakat Candih terlihat dengan rumah-rumah mereka yang dibangun berselang-seling. Gotong royong selalu dikedepankan baik dalam lingkungan masyarakat maupun masyarakat dengan pihak Vihara Avalokitesvara. eujud kerjasama yang terjalin antara Vihara dengan Masyarakat adalah a) akses jalan sepanjang 1700m dari jalan raya, b) keterlibatan masyarakat Candih dalam setiap perayaan di Vihara AvalokitesvaraKata Kunci : Bentuk, Kerukunan umat beragama, Kerjasama.
KEHIDUPAN KULI PEREMPUAN DI PERKEBUNAN TEMBAKAU DELI SUMATERA TIMUR TAHUN 1870-1930 RAMAYANTI, ANISYAH; , WISNU
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kehidupan kuli perempuan di perkebunan Tembakau Sumatra Timur tahun 1870-1930. Latar belakang perekrutan kuli perempuan dikarenakan perawatan dan pengolahan tembakau pascapanen membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Selain itu, upah kuli perempuan lebih murah sehingga dapat meningkatkan keuntungan perusahaan, serta kuli perempuan dijadikan sebagai penghibur para penduduk perkebunan seperti para pejabat dan kuli. Permasalahan yang diteliti adalah proses perekrutan dan kehidupan kuli perempuan di perkebunan. Metode yang digunakan terdiri dari empat tahapan antara lain, tahap heuristic atau pengumpulan sumber, tahap kritik sumber, tahap interpretasi atau penafsiran fakta-fakta hasil kritik sumber, dan historiografi.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpukan bahwa kehidupan kuli perempuan di perkebunan mengalami ketidakadilan gender yang dilakukan oleh pihak perkebunan maupun sesama kuli. Kehidupan kuli perempuan di perkebunan jauh dari kata layak. Kuli perempuan juga mendapatkan upah lebih rendah dari kuli laki-laki. Kuli perempuan juga mengalami tindak kekerasan seperti hukuman dan pemerkosaan, serta paksaan untuk menjalankan pekerjaan sampingan sebagai pelacur dan gundik.Kata Kunci: Kehidupan, Kuli perempuan, Tembakau, Sumatra Timur
KAWASAN INDUSTRI RUNGKUT TAHUN 1965-1980 ANITA PUTRI, DEVITA; , NASUTION
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surabaya termasuk kota yang besar kedua setelah Jakarta dan juga dikenal sebagai salah satu kota industri. Perkembangan industri di Surabaya tidak lepas dari peran pemerintah R. Soekotjo dan HR. Soeparno sebagai Walikota Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya telah mengambil inisiatif dalam menetapkan suatu lokasi khusus industri yaitu di kawasan Rungkut, yang kini dengan nama PT. Surabaya Industrial Estate Rungkut (PT.SIER). Di kawasan Rungkut Industri terdapat banyak perusahan yaitu Tekstil, Aluminium, dan lain-lain. Berdirinya PT. SIER di Kawasan Industri Rungkut Surabaya dapat memberikan daya tarik bagi masyarakat sekitar yang dulunya mereka hanya bercocok tanam sekarang ingin menjadi tenaga Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga masyarakat yang berasal dari luar daerah ingin melamar pekerjaan menjadi buruh tenaga kerja dan perusahaan yang ingin menyewa lahan untuk kegiatan industri. Rumusan masalah yang digunakan adalah (1) Bagaimana latar belakang dipilihnya rungkut sebagai kawasan industri di Surabaya? (2) Bagaimana perkembangan kawasan industri Rungkut tahun 1965-1980 ?. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui latar belakang dipilihnya rungkut sebagai kawasan industri di Surabaya dan Untuk mengetahui perkembangan kawasan industri Rungkut tahun 1965-1980. Metode yang digunakan adalah penelitian sejarah, seperti heuristik dengan kumpulan sumber tentang pemerintah kota Surabaya yaitu Brigjen R. Soekotjo yang diperoleh melalui wawancara dan penulusuran dokumen. Kritik yang dilakukan untuk memverifikasi sumber yang di dapat dengan cara memperoleh data dan fakta yang sesuai dan dapat diinterprestasikan sesuai dengan tema penelitian.